SEBELAS FAKTA PENTING BUKU BESTSELLER

Jika tidak ada aral melintang, maka pertengahan Desember 2007 ini saya akan meluncurkan cetakan ketiga atau edisi revisi buku saya yang berjudul Resep Cespleng Menulis Buku Bestseller (RCMBB). Banyak informasi terbaru saya tambahkan dalam buku yang terbit perdana tahun 2005 tersebut. Tak kurang dari 11 bab baru saya masukkan (semula hanya 17 bab kini menjadi 28 bab) untuk menambah bobot buku ini. Saya memang memaksudkan RCMBB edisi revisi ini sebagai sebuah ‘masterpiece’, hasil metamorfosis dari fast book yang begitu sederhana.

Sementara, untuk ‘aksesoris’—yang ini juga tidak kalah penting—sekitar 39 testimoni saya lampirkan di halaman depan. Mayoritas testimoni ini datang dari para pembaca buku RCMBB edisi perdana yang kemudian berhasil menulis buku pertamanya. Atau, testimoni juga datang dari para penulis yang terinspirasi untuk semakin produktif menulis gara-gara buku tersebut.

Nah, dua tahun berlalu sejak pertama kali buku ini terbit, rasanya tambah banyak pula informasi dari perkembangan dunia perbukuan nasional yang perlu dicermati. Salah satu tema yang tetap saja menyedot perhatian saya adalah soal misteri mengapa sebuah buku bisa meledak di pasaran atau menjadi bestseller. Masalah inilah yang coba saya kupas tuntas dalam buku RCMBB edisi revisi tersebut.

Dalam tulisan ini, saya akan coba simpulkan temuan-temuan saya selama ini perihal mengapa dan bagaimana sebuah buku bisa jadi bestseller. Berikut pemaparannya.

Pertama, tema buku yang unik, baru, dan menarik, biasanya punya kans untuk jadi bestseller. Apakah semua tema yang semacam itu selalu jadi bestseller? Tidak juga. Tapi, tema-tema buku dengan keunggulan seperti saya sebut tadi, biasanya selalu jadi langganan bestseller. Ambil contoh buku True Power of Water karya Masaru Emoto yang benar-benar menyuguhkan sebuah fenomena baru yang menarik. Karena isi bukunya memang cukup unik, sangat menarik, dan baru—atau paling tidak semakin meneguhkan fenomena lama berdasarkan bukti-bukti baru—maka larislah buku terjemahan tersebut.

Untuk kasus nasional, tengok sukses buku Quantum Ikhlas karya Erbe Sentanu. Mungkin kita sudah sering mendengar istilah-istilah kuantum (quantum) yang digandengkan dengan berbagai konsep lainnya, seperti quantum leadership, quantum writing, atau quantum learning, dll. Tapi, begitu muncul lagi istilah baru dan unik, quantum ikhlas, orang tertarik pula. Terlebih karena isi bukunya juga menarik dan relatif menyajikan alternatif baru.

Kedua, tema-tema yang sejatinya tergolong lama ternyata bisa meledak lagi jika dikemas ulang secara lebih cerdas. Contoh, apalagi kalau bukan buku terjemahan The Secret: Mukjizat Berpikir Positif. Rhonda Byrne, si penulisnya, pun mengakui hal ‘ketidakbaruan’ isi bukunya itu. Kombinasi antara kecerdasan pengemasan ulang serta dampak publikasi medialah yang mendukung kesuksesan buku tersebut.

Untuk kasus nasional, lihat sukses Jakarta Undercover karya Moamar Emka. Mungkin Anda pernah baca buku Remang-Remang Jakarta yang terbit tahun 1980-an. Temanya sama, tapi kemasan, kasus, serta cara penulisannya yang agak berbeda sehingga mendatangkan hasil yang berbeda pula.

Ketiga, kemasan bernuansa religius bisa menjadi magnet tersendiri. Lihat saja, sebelumnya buku-buku pengembangan diri dan cara berpikir positif didominasi oleh penulis-penulis Barat yang identik dengan nonmuslim. Begitu muncul buku pengembangan diri terjemahan bernuansa islami semacam La-Tahzan Jangan Bersedih karya Aidh Al Qarni, maka meledaklah buku tersebut.

Mirip dengan itu, lihat saja tema emotional and spiritual quotient. Ini bukan barang baru di Barat sana. Namun, ketika di sini dikemas dalam nilai-nilai islami, lahirlah buku ESQ dan ESQ Power karya Ary Ginanjar yang sukses spektakuler. Lihat saja nanti, pasti akan lahir lebih banyak buku yang membahas teori-teori atau konsep-konsep populer secara islami. Pasar untuk buku-buku populer bernuansa religius semacam ini pasti makin membengkak dari tahun ke tahun.

Keempat, tema-tema buku yang menguak suatu rahasia atau misteri juga terus menyedot perhatian. Terlebih bila misteri itu sempat menjadi perhatian publik secara luas. Contoh mudahnya yang masuk kategori ini ya The Secret atau Jakarta Undercover. Tapi, contoh lain yang tak kalah menarik adalah larisnya buku Intel-Menguak Tabir Intelijen Indonesia karya Ken Conboy, Membongkar Jamaah Islamiyah karya Nasir, atau sukses buku IPDN Undercover dan IPDN Uncensord keduanya karya Inu Kencana.

Lalu, lihat sukses buku Sukarno File karya Antonie C.A. Dake dan Detik-detik yang Menentukan karya mantan presiden B.J. Habibie. Sampai kapan pun, yang namanya misteri pasti akan menarik perhatian. Makanya, ini bisa jadi petunjuk menarik bagi siapa pun yang ingin sukses dalam penulisan.

Kelima, judul kontroversial tetap saja menarik perhatian, walau tidak menjamin kesuksesan. Mengapa demikian? Ya, karena yang aneh-aneh, yang unik, yang lain daripada biasanya, yang menentang arus, semuanya menarik perhatian kebanyakan orang. Mau bukti? Lihat buku saya Kalau Mau Kaya Ngapain Sekolah! yang sejak terbit tahun 2004 hingga sekarang sudah 12 kali cetak dan kemudian terbit pula edisi khususnya (alias cetakan ke-13). Contoh lain, lihat buku Ternyata Akherat Tidak Kekal karya Agus Mustofa atau Jangan Mau Seumur Hidup Jadi Orang Gajian karya Valentino Dinsi.

Keenam, cara penyajian yang populer tetap lebih menarik perhatian pembaca pada umumnya ketimbang buku-buku yang disajikan secara ketat atau berstandar ilmiah tinggi. Simak bagaimana masalah-masalah marketing yang serba teoretis jadi enak mengalir bila yang menuliskannya adalah Hermawan Kartajaya yang sukses dengan Marketing in Venus.

Lihat pula bagaimana masalah-masalah keuangan yang serba rumit bisa terasa renyah dibaca bila yang menulis adalah Safir Senduk yang sukses dengan Siapa Bilang Jadi Karyawan Nggak Bisa Kaya? dan Buka Usaha Nggak Kaya Percuma. Jangan pula lupa, soal filsafat pendidikan, leadership, dan pembelajaran jadi begitu mudah dicerna ditangan Andrias Harefa dalam karyanya Menjadi Manusia Pembelajar.

Ketujuh, fakta bahwa pendatang baru atau orang yang baru pertama kali menulis buku pun sangat mungkin bisa langsung menjadi penulis bestseller. Ini jelas kabar baik bagi semua penulis yang baru mau menerbitkan buku untuk pertama kalinya. Tidak peduli apakah seorang penulis itu sudah punya nama atau belum, tapi walau baru sekali menerbitkan buku, bisa saja bukunya langsung meledak. Mau contohnya? Kita bisa sebut penulis seperti Ary Ginanjar, Valentino Dinsi, atau Raditya Dika dengan KambingJantan-nya, bahkan Eni Kusuma dengan Anda Luar Biasa!!!-nya.

Kedelapan, penulis ber-mindset ‘penjual’ punya peluang lebih besar dalam menjadikan bukunya bestseller. Simak lagi artikel saya yang berjudul “Menjadi Sales Writer”. Penulis yang berani bekerja keras mempromosikan bukunya, baik dalam bentuk seminar, peluncuran buku, diskusi, talk show, wawancara dengan media, termasuk menjual langsung bukunya, pasti punya kans besar untuk sukses. Orang-orang seperti Ary Ginanjar, Andrie Wongso, Andrias Harefa, Tung Desem Waringin, dan Safir Senduk adalah kategori penulis ber-mindset penjual. Terbukti, buku-buku mereka jadi bestseller.

Kesembilan, bahwa iklan, promosi, dan liputan media massa sungguh berperan dalam mendorong sebuah judul buku jadi bestseller. Intinya adalah penampakan (visibility) melalui berbagai instrumen komunikasi massal, bisa lewat iklan, resensi atau pembahasan media, atau bahkan termasuk penampakan di bagian-bagian strategis di toko buku.

Apakah semua buku yang diiklankan, dipromosikan besar-besaranm serta dikupas habis media bisa jadi laris? Tidak juga. Buktinya, lihat saja buku-buku bertema berat yang sering diiklankan di harian Kompas, yang tidak serta merta laris di pasaran. Walau tidak otomatis laris, namun iklan, promosi, atau liputan media massa tetap berpengaruh.

Kesepuluh, distribusi sangat berpengaruh bagi laris tidaknya sebuah buku. Bisa saja bukunya unik, menarik, judulnya kontroversial, iklannya dan promosi juga besar-besaran, namun buku tidak ditemukan di toko mana pun. Ya, sama juga bohong. Makanya, di sinilah peran sentral rantai distribusi dalam mengantarkan produk kepada konsumen akhir. Jika rantai distribusi macet, maka sebesar apa pun potensinya, lupakan mimpi jadi bestseller.

Kesebelas, buku-buku nonfiksi populer relatif lebih bisa diprediksi keberhasilannya ketimbang buku fiksi. Jauh lebih sulit mengkreasikan atau bahkan sekadar meramal akankah sebuah karya fiksi bisa menjadi bestseller. Lihat saja karya-karya fiksi yang menang penghargaan (karena biasanya pasti dianggap bagus dan bermutu) dan kemudian diburu penerbit untuk diterbitkan. Harapan penerbit, pasti karya-karya berkualitas itu bisa laris di pasaran. Makanya, treatment-nya pun pasti berbeda dari buku terbitan yang lainnya, termasuk dalam hal promosi. Tapi, apakah karya fiksi berkualitas itu selalu laris di pasaran? Tampaknya tidak.

Ini beda dengan buku-buku nonfiksi populer yang seirama dengan suatu tren tertentu. Jauh lebih mudah meramal buku Financial Revolution karya Tung Desem Waringin akan sukses di pasaran ketimbang, misalnya, meramal sebuah novel yang menang penghargaan akan mengalami hal serupa. Lebih mudah pula meramal karya Andrias Harefa, Andrie Wongso, dan Safir Senduk akan laris ketimbang karya penulis-penulis fiksi lainnya.

Nah, fakta kesebelas tersebut sekaligus merupakan kabar baik bagi para penulis nonfiksi pada umumnya. Mereka bisa merancang buku sedemikian rupa sehingga potensi untuk jadi bestseller relatif lebih besar. Beberapa variabel yang dibahas di artikel ini pun bisa dijadikan sebagai area kontrol untuk memaksimalkan potensi bestseller.

Jadi, teruslah kreatif dan bersemangat menulis buku. Manfaatkan temuan-temuan di atas untuk merangsang pikiran dalam menemukan ide-ide baru serta meramunya menjadi karya yang berpotensi besar untuk jadi bestseller. Selamat berkarya. Salam bestseller![ez]

* Edy Zaqeus adalah editor Pembelajar.com, trainer SPP, konsultan penulisan dan penerbitan, pendiri Bornrich Publishing dan Fivestar Publishing, dan penulis buku “Resep Cespleng Menulis Buku Bestseller”. Jangan lewatkan workshopnya bersama Andrias Harefa dengan judul “Cara Gampang Menulis Buku Best-Seller” pada 8-9 Februari 2008 nanti. Info selengkapnya di 021-7828044. Kunjungi pula blog Edy Zaqeus on Writing di http://ezonwriting.wordpress.com atau hubungi dia via email: edzaqeus@gmail.com.

5 KEBIASAAN PRODUKTIF PENULIS BESTSELLER

- 17 Oktober 2007 – 03:36 (Diposting oleh: Editor)
Seri Artikel Write & Grow Rich

Beberapa hari lalu, seorang sahabat penulis mengirimkan SMS kepada saya. Bunyinya demikian, “Selamat siang Mas Edy. Saya mau membentuk kebiasaan menulis. Boleh tahu lima kebiasaan Mas Edy yang dirasakan efektif mendukung menjadi seorang penulis produktif bestseller? Terima kasih.”

SMS tersebut menggelitik saya untuk menuliskan artikel ini. Sebenarnya, saya sendiri tidak sepenuhnya yakin, apakah saya sungguh-sungguh memiliki kebiasaan-kebiasaan yang dia maksud. Tetapi, kalau boleh bercerita di sini, saya memang memiliki sejumlah kebiasaan dalam proses kreatif penulisan. Sebagian di antaranya memang benar-benar sudah jadi kebiasaan saya saban hari, sementara yang lain merupakan proses yang tampaknya menuju ke arah terciptanya kebiasaan baru.

Nah, mungkin saja kebiasaan-kebiasaan itulah yang membuka peluang saya untuk tetap produktif menulis. Mungkin pula, kebiasaan-kebiasaan itulah yang—langsung atau tidak langsung—ikut berpengaruh dan menjadikan buku-buku saya bestseller. Apa saja kebiasaan tersebut? Ini dia ceritanya.

Pertama, saya selalu menyukai tema-tema tulisan yang saya prediksi bakal menarik minat serta sungguh-sungguh bermanfaat bagi saya sendiri maupun pembaca. Saya pun selalu membaca tulisan-tulisan—yang menurut saya sendiri—sangat menarik perhatian saya. Nah, kebiasaan untuk selalu intens dengan hal-hal menarik dan bermanfaat inilah yang kemudian mendorong saya untuk terus berusaha menulis tema-tema pilihan.

Contoh, ketika saya melihat dan mendengar bahwa tema-tema wirausaha begitu digemari oleh masyarakat, saya pun mencoba mempelajari dengan detail dan berusaha menuliskannya. Tulisan semula hanya berwujud rajutan kiat-kiat berwirausaha, dan di lain waktu saya kembangkan menjadi tulisan yang lebih lengkap. Ketika dikompilasi, hasilnya adalah buku laris Resep Cespleng Berwirausaha (Gradien, 2004). Pola ini juga terjadi pada kasus artikel-artikel atau buku-buku saya lainnya.

Kedua, saya selalu mencatat setiap ide tulisan di sebuah “buku bank ide” dalam bentuk judul. Mengapa dalam bentuk judul? Sebab, inilah kebiasaan saya untuk memampatkan atau mengkristalkan gagasan-gagasan—yang mungkin saja panjang lebar—ke dalam bentuk yang simpel, mudah diingat, dan yang terpenting memotivasi/memprovokasi saya untuk mengelaborasinya menjadi naskah buku.

Minimal, ide-ide dalam bentuk judul itu sudah menggambarkan adanya tabungan ide kreatif saya. Makanya, dalam beberapa kesempatan saya sampaikan bahwa saya sampai memiliki lebih dari 700 judul tema buku atau artikel. Namun, yang tak kalah penting adalah tindak lanjut atau kreasi berikutnya atas bank ide tersebut. Dan ternyata, saya sangat terbantu oleh bank ide tersebut dalam setiap proses penulisan dan penyuntingan. Baik untuk keperluan pribadi, penerbitan, maupun saat menangani klien-klien saya.

Ketiga, saya menjadikan aktivitas menulis sebagai sebuah kesenangan yang menantang. Apa kesenangannya dan apa pula tantangannya? Kesenangannya adalah bahwa saya bisa menjadikan aktivitas menulis sebagai sesuatu yang memberikan dampak finansial. Saya teramat sadar dan meyakini bahwa seorang penulis dapat hidup layak dari pekerjaan atau profesinya sebagai penulis. Asalakan, dia mampu memanfaatkan kemampuan menulis itu dengan baik.

Aktivitas menulis menjadi begitu menyenangkan bagi saya karena bisa memberikan penghasilan dalam bentuk honor, professional fee, maupun royalti. Dengan kemampuan menulis yang baik (termasuk di dalamnya kemampuan editing), membuat hari-hari saya dipenuhi oleh pekerjaan yang berkutat pada soal tulis-menulis dan penerbitan. Tapi yang tak kalah penting, aktivitas ini memberikan sumber penghidupan yang amat memadai.

Tantangannya, saya selalu terdorong untuk menghasilkan karya yang lebih baik, lebih banyak lagi, serta lebih diterima oleh para pembaca. Tantangan ini membuat saya tidak mau berhenti belajar untuk terus meningkatkan kemampuan menulis. Saya bahkan belajar kepada klien-klien yang saya tangani, yang notabene banyak di antaranya yang baru pertama kali belajar menulis. Setiap pengalaman, peristiwa, atau situasi yang berbeda bisa menjadi inspirasi yang kaya bagi dunia kepenulisan saya maupun proses pengembangan diri saya sendiri.

Keempat, saya menjadikan aktivitas menulis sebagai salah satu komponen utama dalam proses pengembangan diri saya. Aktivitas menulis tidak akan lepas dari proses belajar. Dan, belajar adalah intisari proses pengembangan diri. Maka, jika kita belajar atau sedang menulis, maka sesungguhnya kita sedang mengembangkan atau mengaktualisasikan potensi-potensi dalam diri kita, supaya kemudian ada progress dalam kehidupan kita.

Saya temukan bahwa ketika kita menulis, sejatinya—dalam bahasa Stephen R. Covey—kita sedang mengembangkan realitas kita. Dalam menulis pula, sejatinya—dalam bahasa Wallace D. Wattles—kita sedang menjadikan ide mewujud menjadi peristiwa, realitas, atau materi. Makanya, memupuk kebiasaan menulis, dalam pandangan saya, sama saja artinya untuk membuktikan kebenaran teori-teori para penulis-motivator legendaris tersebut.

Hari demi hari saya semakin yakin bahwa menulis merupakan instrumen pengembangan diri yang luar biasa. Sebab, saya alami sendiri, saya temukan, dan saya ikut bersinggungan langsung dalam serangkaian proses perubahan hidup sejumlah orang yang kemudian menjadi penulis. Makanya tidak ada keraguan lagi, manakala kita mulai membiasakan diri untuk menulis, maka satu pintu perubahan hidup sudah ada di depan kita.

Kelima, saya selalu berusaha memublikasikan tulisan-tulisan yang sudah saya selesaikan. Bagi saya, menulis itu ada misinya tersendiri, yaitu untuk menanamkan pengaruh tertentu kepada pembaca. Sementara, hanya tulisan yang “hidup” saja yang bisa mempengaruhi orang. Namun, tulisan baru “hidup” atau “punya nyawa” jika sudah dibaca oleh orang lain. Nah, untuk menghidupkan tulisan atau memberinya nyawa, jalan satu-satunya adalah dengan memublikasikan tulisan tersebut.

Waktu SD dulu, “media” saya untuk memublikasikan tulisan saya adalah buku tulis bergaris, dan pembacanya adalah keluarga sendiri atau teman-teman sekelas. Waktu SMP, pantun saya pernah dimuat di koran mingguan Sinar Pagi Minggu (sehingga “mempengaruhi” seorang mahasiswa untuk berkorespondensi dengan saya he he he…). Waktu SMA, mading (majalah dinding) adalah media ekspresi saya. Saat kuliah di Yogyakarta, saya mulai dari memublikasikan tulisan di majalah kampus Balairung, surat pembaca di majalah Tempo, sampai kemudian mampu merambah media massa seperti Kedaulatan Rakyat dan Bernas. Ketika menjadi wartawan, saya sudah tidak lagi dipusingkan dengan urusan mencari wadah untuk publikasi tulisan-tulisan saya.

Kini, saat saya menjalankan profesi sebagai editor, penerbit, dan penulis buku, ruang untuk menghidupkan tulisan itu terasa berlimpah. Tapi, saya pikir saat ini semua penulis atau siapa pun yang baru belajar menulis, sesungguhnya mempunyai ruang berlimpah untuk memublikasikan tulisannya. Kita bisa lirik mailing list, blog, maupun website umum yang relevan serta memang mau menampilkan tulisan kita.

Prinsip yang saya tekankan kepada semua penulis, yang terpenting adalah jangan sampai menjadikan tulisan kita seperti “mumi”. Tulisan yang diperlakukan seperti “mumi” ini—yang dibungkus, disimpan rapi, atau malah disembunyikan—tidak akan pernah “hidup” dan memberikan pengaruh. Jadi, beri nyawa pada tulisan kita dengan memublikasikannya.

Apakah hanya lima kebiasaan ini saja? Ya, karena diminta lima kebiasaan, jadi yang saya tulis ya lima saja he he he… Mungkin ada yang lain, tapi saya belum terpikir sama sekali atau malah tidak menemukannya. Yang pasti, hampir semua penulis sukses memiliki kebiasaan yang umum alias standar, tapi ada juga kebiasaan-kebiasaan yang unik atau khas. Namun, semuanya bermuara pada hasil atau prestasi yang mereka raih.

Bagi sahabat saya yang menanyakan soal kebiasaan-kebiasaan menulis saya ini, saya tekankan bahwa yang terbaik adalah menemukan dan menumbuhkan kebiasaan sendiri. Artinya, boleh saja kita berkaca pada sekian banyak kebiasaan penulis sukses. Tapi, itu semua hanya “makanan tambahan” alias inspirasi saja bagi proses kreatif kita. Jadi, kalau bermaanfaat, ya ambil, kalau malah jadi beban, ya tinggal saja. Sebab, yang lebih penting adalah menemukan kebiasaan sendiri, yang paling efektif dan paling disukai. Karena, muara kita tetap pada produktivitas dan kualitas karya.

Selamat menumbuhkan kebiasaan menulis yang terbaik. Dan, salam bestseller.[ez]

* Edy Zaqeus adalah penulis buku-buku best-seller, konsultan penulisan & penerbitan, editor Pembelajar.com, dan trainer di Sekolah Penulis Pembelajar (SPP). Ia juga mendirikan Bornrich Publishing dan Fivestar Publishing yang berhasil menerbitkan sejumlah buku best-seller. Nantikan workshops Edy Zaqeus tentang “Bagaimana Membuat Blog Menjadi Buku”, “Bagaimana Cara Menerbitkan Buku Sendiri”, dan “Cara Gampang Menulis Buku Best-Seller” pada November-Desember 2007 ini (Info selengkapnya, hubungi SPP di 021-7828044). Edy dapat dihubungi di: http://ezonwriting.wordpress.com/ atau edzaqeus@gmail.com.

BAGAIMANA PENULIS BERPIKIR ALA PENERBIT?

- 02 Oktober 2007 – 13:45 (Diposting oleh: Editor)
Seri Artikel Write & Grow Rich

Belum lama berselang seorang penulis buku dan pembaca seri artikel Write & Grow Rich di Pembelajar.com bertanya kepada saya soal cara menguhubungi penerbit. Penulis buku ini baru saja menyelesaikan naskah yang menarik dan diyakininya akan menjadi gebrakan khusus dalam dunia perbukuan. Kalau tidak salah, buku ini dia prediksi akan disambut baik oleh pasar karena belum pernah ada buku dengan format seperti yang dia gagas. Dengan catatan: itu akan terjadi apabila ide-ide dia untuk sekaligus membidani atau menjadi sutradara penerbitan buku tersebut diamini oleh pihak penerbit.

Hal semacam ini memang jamak terjadi. Saya juga baru saja menerima naskah dari seorang konsultan, yang bermaksud menerbitkan bukunya dalam format tertentu. Hampir sama dengan penulis di atas, konsultan ini menginginkan bukunya diformat sedemikian rupa sehingga bisa membawa dampak positif bagi karirnya sebagai konsultan. Selain itu, ia berharap supaya tampilan bukunya tampak lebih anggun, tidak terkesan murahan, dan punya pengaruh di kalangan profesional di mana dia berkecimpung selama ini.

Sekali lagi, harapan penulis buku seperti itu memang sah-sah saja. Saya sendiri pada awal-awal menekuni dunia penulisan buku, juga suka punya pandangan-pandangan dan harapan seperti tadi. Saat itu, saya selalu punya keyakinan penuh bahwa ide-ide sayalah yang terbaik dan sungguh-sungguh saya percayai akan memberi hasil terbaik pula. Namun, bersamaan dengan semakin banyaknya informasi yang bisa saya timba, langsung dari para penerbit dan editor senior, pengalaman sendiri sebagai penulis dan penerbit, termasuk pengalaman sejumlah penulis buku laris, saya mulai punya perspektif yang lebih lengkap.

Akhirnya saya berkesimpulan, bahwa penting bagi seorang penulis untuk bisa berpikir ala penerbit, terutama penerbit komersil. Sama seperti polisi yang ingin sukses menangkap seorang kriminal, polisi itu harus tahu cara berpikir atau logika orang yang dia buru. Jika tidak, bisa-bisa si polisi itu hanya mengejar angin, karena salah asumsi dan hanya menduga-duga ke mana si kriminal bersembunyi.

Nah, bagaimana penerbit berpikir terhadap setiap naskah buku yang dia terima? Bagaimana penerbit berpikir mengenai buku yang dia produksi? Inilah kisi-kisi logika penerbit bila dikaitkan dengan pasar:

Pertama, penerbit komersil tidak mau menerbitkan karya yang dia prediksi bakal jeblok di pasar. Penerbit hanya mau menerbitkan karya yang bermutu dan mendatangkan keuntungan. Dalam bahasa Wandi S. Brata (GM Produksi Gramedia Pustaka Utama), buku yang tinggi mutunya dan diprediksi bakal laku keras di pasaran adalah primadona penerbit. Naskah akan langsung dapat “lampu hijau” (baca artikelnya di: http://www.gramedia.com).

Mengapa demikian? Sebab, penerbitan buku adalah sebuah bisnis, sebuah industri, yang mana berlaku pula hukum-hukum ekonomi dan pasar. Jadi, dengan segala kemampuan teknis dan pengalamannya, biasanya penerbit akan berusaha keras mendapatkan naskah-naskah bermutu yang mereka prediksi akan sukses di pasaran.

Bagaimana dengan buku yang bermutu namun tampak kurang menarik di pasaran? Buku seperti ini pasti kena “lampu kuning”. Namun, memang ada sebagian penerbit yang bersedia menerbitkan naskah-naskah semacam ini. Terlebih bila naskah tersebut sesuai dengan visi, misi, dan nilai-nilai idealisme penerbit (ingat, tidak semua penerbit komersil mengabaikan sisi nilai dan idealisme). Akan tetapi kita harus sadar sejak awal, ruang untuk penerbitan buku jenis ini tidaklah lebar. Prasyarat mutu, kompetensi, kredibilitas dan popularitas penulis, barangkali akan semakin dituntut penerbit. Sementara persetujuan atau percepatan proses penerbitannya hanya bisa didapat manakala si penulis mampu meyakinkan idealismenya kepada penerbit, dan pihak penerbit pun harus merasa satu visi dengan si penulis.

Kedua, penerbit suka sekali naskah yang mudah atau sudah siap diproduksi. Maksudnya, jangan sekali-kali memasukkan naskah yang masih mentah, belum lengkap, atau amburadul editingnya. Ini akan membebani penerbit dengan cost tertentu serta memperlambat proses kerja mereka. Khususnya penerbit-penerbit besar dan mapan, setiap bulannya mereka bisa menerima ratusan naskah. Namun, tidak semua naskah tersebut siap diproduksi akibat kekurangan-kekurangan yang saya sebut tadi. Alhasil, hanya naskah yang mudah dan siap produksi saja yang biasanya dipilih.

Itu sebabnya, saya selalu menyarankan kepada para penulis buku maupun klien yang berkonsultasi kepada saya, untuk sabar dalam mempersiapkan naskahnya. Lebih baik mengalokasikan waktu yang cukup untuk merapikan dan melengkapi naskah, ketimbang mengirim naskah apa adanya. Dari sekian banyak kasus yang saya tangani, penerbit benar-benar menyukai naskah yang sudah lengkap, rapi, mudah dan siap diproduksi. Jadi, bila kita ingin naskah kita mudah masuk atau diterima penerbit, berpikirlah sebagaimana penerbit akan memandang dan memperlakukan naskah tersebut. Jangan percaya dengan pandangan bahwa asal naskah kita kualitasnya bagus, otomatis penerbit akan mau berlelah-lelah untuk memprosesnya.

Ketiga, tak peduli penerbit besar maupun kecil, mereka lebih menyukai naskah-naskah buku yang ditulis oleh para penulis yang punya branding yang kuat. Gampangnya, penerbit suka dengan nama-nama yang populer karena ini punya efek terhadap promosi buku yang nantinya akan mereka produksi. Jadi, jangan berkecil hati bila penulis-penulis beken atau yang punya nama, atau tokoh-tokoh non-penulis yang populer sekali yang memnyusun buku, pasti dapat tempat.

Lalu, bagaimana dengan kita yang belum punya branding tertentu? Ya, mulailah mem-branding diri dengan aktif menulis di berbagai media atau saluran. Masuk media massa lebih strategis. Kalau pun belum bisa, masuki dunia internet dengan aktif di website-website populer atau membuat blog. Pokoknya, minimal kalau kita klik Google nama kita ada di sana.

Keempat, penerbit suka dengan penulis yang mau bahu-membahu menjual atau mempromosikan bukunya bersama penerbit. Sebab, anggaran penerbit untuk mempromosikan buku biasanya terbatas. Maklum, mereka banyak menerbitkan buku. Makanya, mereka pasti suka dengan penulis yang mau mempromosikan atau bahkan beriklan di media massa.

Jadi, jika kita memiliki kemampuan untuk mempromosikan buku kita nantinya, baik melalui iklan, promosi seminar, mailling list, iklan di website atau blog pribadi, termasuk melakukan penjualan langsung, sampaikan saja itu semua ke penerbit. Ini benar-benar disukai penerbit.

Nah, pertanyaannya kemudian, bagaimana dengan kita yang memiliki keterbatasan resourches untuk memenuhi pikiran-pikiran penerbit tersebut? Kalau logika mereka seperti itu, bagaimana dengan misi-misi idealisme penerbit? Apakah sudah hilang sama sekali?

Jawaban saya, kita punya banyak pilihan penerbit. Memang, kebanyakan penerbit mapan akan menggunakan logika tersebut dalam menerima naskah. Maklum, ini juag semacam sistem seleksi untuk memudahkan cara kerja mereka serta untuk mendapatkan hasil maksimal. Lagi-lagi ingat, mereka adalah institusi bisnis yang menjadikan profit sebagai kiblatnya.

Namun, tidak semua penerbit memiliki logika semacam itu. Tak sedikit penerbit yang sungguh-sungguh idealis dan mau berlelah-lelah untuk mempertimbangkan naskah bagus, tapi masih memiliki sejumlah kekurangan. Walau begitu, saya tetap punya keyakinan, bahwa penerbit idealis sekalipun pasti lebih senang bila para pemasok naskahnya mau berpikir ala penerbit komersil.[ez]

* Edy Zaqeus adalah penulis buku-buku best-seller, konsultan penulisan & penerbitan, editor Pembelajar.com, dan trainer di Sekolah Penulis Pembelajar (SPP). Ia juga mendirikan Bornrich Publishing dan Fivestar Publishing yang berhasil menerbitkan sejumlah buku best-seller. Nantikan workshops Edy Zaqeus tentang “Bagaimana Membuat Blog Menjadi Buku”, “Bagaimana Cara Menerbitkan Buku Sendiri”, dan “Cara Gampang Menulis Buku Best-Seller” pada November-Desember 2007 ini (Info selengkapnya, hubungi SPP di 021-7828044). Edy dapat dihubungi di: http://ezonwriting.wordpress.com atau edzaqeus@gmail.com.

MENJADI “SALES WRITER”

- 02 November 2006 – 06:42 (Diposting oleh: Editor)
Seri Artikel Write & Grow Rich

Judul artikel di atas mungkin agak aneh atau malah tidak baku dari segi tata bahasa. Tapi tidak mengapa, yang penting judul itu dapat menjembatani maksud utama gagasan saya, bahwa seorang penulis seharusnya juga merupakan seorang penjual gagasan yang andal. Dalam penutup buku saya Resep Cespleng Menulis Buku Best Seller (Gradien, 2005), saya sudah menyatakan bahwa, “Seorang penulis yang unggul dan berhasil haruslah seorang pemasar yang ulung pula.” Saya ingin mempertegas gagasan tersebut dalam artikel berikut ini.

Satu kelemahan paling mendasar dari para penulis buku umumnya adalah keengganan mereka untuk memasarkan, mempromosikan, atau menjual buku mereka sendiri. Hanya sedikit penulis yang mau kreatif dan berkeringat memasarkan serta menjual bukunya. Mayoritas penulis menyerahkan sepenuhnya urusan tersebut kepada penerbit. Di tengah persaingan yang makin ketat, pola lepas tangan itu tidak strategis lagi.

Kita harus tahu, umumnya penerbit menerbitkan puluhan hingga ratusan judul buku setiap tahunnya. Sementara, hampir semua penulis yang bukunya diterbitkan itu pastilah menghendaki adanya promosi yang maksimal atas buku mereka. Faktanya, kemampuan penerbit sangatlah terbatas. Anggaran promosi per judulnya rata-rata hanya 3-5 persen dari keseluruhan ongkos produksi. Jadi, kemungkinan besar prioritas promosi hanya dinikmati oleh buku-buku yang diprediksi bakal laris di pasaran. Untuk buku-buku semacam itu, bisa saja penerbit menggenjot promosi habis-habisan. Bagaimana nasib buku yang lainnya? Selebihnya diserahkan pada pasar. Syukur-syukur penulisnya mau membiayai sendiri promosinya atau patungan dengan penerbit.

Melahirkan buku tak ubahnya melahirkan seorang “anak”. Sukses kita diawali oleh keberhasilan kita dalam melahirkan si anak tersebut. Selanjutnya, supaya masa depannya sukses, berikan dia makanan yang bergizi serta pakaian, perawatan, perhatian, pendidikan, dan lingkungan terbaik. Jadi, jangan sia-siakan dia. Jangan biarkan dia tumbuh liar dan tanpa masa depan yang pasti. Begitulah perumpamaannya.

Oleh sebab itu, setiap judul buku yang kita hasilkan dengan susah payah haruslah di-backup dengan strategi pemasaran yang kuat. Tinggalkan anggapan penulis buku tidak layak mempromosikan, memasarkan, atau bahkan menjual bukunya sendiri. Sebaliknya, mari tanamkan keyakinan bahwa sukses buku kita tergantung pada bagaimana kita mampu memasarkan dan menjual buku tersebut.

Nah, menjual dan memasarkan buku ini luas pengertiannya. Di sini kita dituntut untuk melakukan serangkaian inisiatif kegiatan, baik berupa aktivitas pemasaran, iklan, public relations (baca: soft selling), maupun kegiatan menjual secara langsung kepada target market kita (hard selling).

Ketika dalam seminar-seminarnya Hermawan Kartajaya berulang kali menyebutkan judul bukunya yang jadi best seller, sesungguhnya dia sedang menjual bukunya. Ketika Andrias Harefa mengutip buku-buku best seller-nya dalam tulisan-tulisan maupun buku-buku berikutnya, dia juga sedang menjual buku-bukunya. Saat dalam siaran-siaran di sebuah radio Tung Desem Waringin menyebut hadiah-hadiah untuk pembelian buku Financial Revolution secara inden, sebenarnya dia juga sedang berpromosi sekaligus menjual bukunya. Saat Jennie S. Bev memutuskan mendonasikan semua perolehan royalti atas bukunya yang berjudul Rahasia Sukses Terbesar, sebenarnya dia tengah menjalankan pula strategi public relations yang sangat jitu. Dan ketika Masbukhin Pradhana—penulis buku Cara Brilian Menjadi Karyawan Beromzet Miliaran—menulis dan mengabarkan terbitnya buku tersebut di berbagai mailing list, sebenarnya dia pun sedang beriklan secara gratis di media internet. Langkah-langkah semacam ini penting sekali bagi buku kita.

Saya punya keyakinan yang amat kuat, bahwa sukses sebuah buku tidak semata ditentukan oleh kualitas buku itu saja. Kompetensi penulis, formulasi judul, kaver, kualitas isi, kualitas kertas, kualitas kemasan, semuanya merupakan titik awal suksesnya sebuah buku. Tetapi faktor promosi, iklan, dan aktivitas-aktivitas below the line yang menghasilkan publisitas media massa juga sangat berpengaruh. Khusus di Indonesia, publisitas media massa sungguh-sungguh sanggup mempengaruhi keputusan beli para penggemar buku.

Mungkin kasus terakhir yang bisa kita rujuk adalah sukses buku Soekarno Files dan buku biografi karangan mantan Presiden RI BJ Habibie. Sudah lama buku-buku biografi dan buku sejarah kurang mendapat perhatian masyarakat. Namun, kedua buku tersebut menjadi kontroversi serta mendapat publisitas yang sangat luas melalui media elektronik maupun media cetak. Alhasil, penggemar buku berbondong-bondong memburu buku-buku tersebut.

Jika saya ditanya mengapa kedua buku tersebut laris manis, jawaban saya hanya terfokus pada satu hal, yaitu publisitas media massa. Entah publisitas itu merupakan efek samping atas popularitas dan kontroversi tokoh-tokoh yang terlibat di dalamnya—atau hasil kreasi para pekerja buku di balik penerbitan buku-buku tersebut—yang pasti media massa berandil besar. Reportase mereka atas sebuah judul buku sejatinya merupakan “iklan” bagi buku tadi. Perhatian kita tidak akan cukup terusik sampai saat media massa membicarakan masalah tersebut.

Nah, apa yang bisa dilakukan oleh para penulis buku supaya bukunya disambut baik oleh pasar? Ada beberapa langkah pemasaran dan penjualan yang bisa ditempuh. Kita akan bahas dalam artikel-artikel saya berikutnya. Yang terpenting saat ini, kita harus punya mindset bahwa sebagai penulis kita harus ngeh dulu dengan soal promosi, pemasaran, dan penjualan. [ez]

* Edy Zaqeus adalah penulis buku-buku best-seller, konsultan penulisan & penerbitan, editor Pembelajar.com, dan trainer di Sekolah Penulis Pembelajar (SPP). Ia juga mendirikan Bornrich Publishing dan Fivestar Publishing yang berhasil menerbitkan sejumlah buku best-seller. Nantikan workshops Edy Zaqeus tentang “Membuat Blog Menjadi Buku”, “Cara Gampang Menerbitkan Buku Sendiri”, dan “Cara Gampang Menulis Buku Best-Seller” pada November-Desember 2007 ini (Info selengkapnya, hubungi SPP di 021-7828044). Edy dapat dihubungi di: http://ezonwriting.wordpress.com atau edzaqeus@gmail.com.

MELADENI PEMBACA YANG HAUS HAL-HAL BARU

- 16 Oktober 2006 – 14:28 (Diposting oleh: Editor)
Seri Artikel Write & Grow Rich

Pada artikel yang lalu saya sudah membahas soal judul buku yang saya anggap sangat berperan dalam menarik perhatian calon pembaca. Kali ini, saya akan membahas sebuah buku yang—selain kreatif dan inovatif dari segi judul—juga inovatif dari segi konsep atau gagasan yang diusung kepada pembaca. Buku itu berjudul Marketing in Venus karya Hermawan Kartajaya. Bukan sekadar mengandung konsep baru dan provokatif, tetapi buku tersebut ternyata juga menangguk sukses di pasaran.

Dalam hal marketing, barangkali tidak ada yang meragukan kepakaran Hermawan Kartajaya. Seminar, lokakarya, pelatihan, kolom-kolom, dan analisis-analisis pendiri MarkPuls&Co itu selalu ditunggu-tunggu oleh para praktisi pemasaran dan penjualan. Kepiawaiannya memetakan tren dunia pemasaran tidak diragukan. Hermawan memang telah memang menjadi ikon marketing di Indonesia. Bahkan namanya sangat dikenal dalam komunitas para teoritisi marketing internasional.

Oleh sebab itu, ketika dia memunculkan sebuah paradigma baru tentang marketing, orang akan langsung tersedot perhatiannya. Itulah yang terjadi saat Hermawan dan kawan-kawannya menerbitkan buku berjudul Marketing in Venus (Gramedia Pustaka Utama). Buku yang berisi 18 prinsip pemasaran di era venus tersebut laris manis di pasaran. Gara-gara buku itu pula, gaung konsep metroseksual maupun experiential marketing lebih membahana. Tak heran jika buku tersebut segera saja cetak ulang beberapa kali dalam setahun dan masuk kategori buku best seller.

Nah, apa kunci kesuksesan buku Marketing in Venus? Dalam pandangan saya, buku itu sukses karena ditulis oleh pakar yang sungguh-sungguh mumpuni di bidangnya. Kedua, buku itu sukses karena kekuatannya dalam membuka pemahaman dunia pemasaran di Tanah Air, khususnya tentang tren dan paradigma baru dalam menjual produk. Hermawanlah satu-satunya pakar marketing di Indonesia yang waktu itu tegas-tegas menyatakan adanya pergeseran perilaku konsumen, dari perilaku rasional (manusia Mars) menjadi perilaku emosional (manusia Venus). Itu saja saripati dari ke-18 prinsip pemasaran di era Venus.

Nah, faktor ketiga ada pada pilihan judul yang menurut saya menunjukkan kejeniusan Hermawan dan kawan-kawannya. Pertama kali mendengar judul Marketing in Venus, saya sempat bertanya-tanya, apa maksud penulisnya? Apa hubungan antara konsep pemasaran dengan nama sebuah planet? Tapi, pertanyaan lugu saya itu segera sirna ketika saya teringat dengan sebuah judul buku best seller internasional, Mars and Venus karya John Gray. Inilah salah satu buku psikologi-komunikasi populer yang paling banyak dibaca orang. Bahkan, ketika saya mengikuti pendidikan pranikah (yang diselenggarakan oleh gereja), buku ini pula yang direkomendasikan untuk dibaca oleh si psikolog yang mengajar kami waktu itu.

Hermawan jenius karena paham betul dengan popularitas buku tersebut. Kebetulan, dia melihat bahwa ada kecenderungan tren teori-teori pemasaran yang bukan lagi bersandar pada pilihan-pilihan rasional (dalam buku John Gray, ini merujuk pada pilihan kaum laki-laki di dunia Mars). Sebaliknya, paradigma pemasaran mulai bergeser kepada teori-teori pemasaran yang bersentuhan dengan unsur emosi, unsur hati, yang mana ini merupakan pilihan-pilihan dunia Venus (kaum perempuan). Gayung bersambut. Konsep Venus yang lebih “perempuan” diambil dan dipasangkan dengan teori pemasaran. Langkah jenius ini diambil supaya mempermudah kaum pemasar memahami teori baru yang inovatif tersebut.

Apakah paradigma yang diusung Hermawan benar-benar baru? Jika diteliti, sebenarnya tidak ada substansi baru dalam teori-teori marketing umumnya. Yang ada adalah pengolahan tesis-tesis dasar lama yang ditata sedemikian rupa sehingga dapat muncul dalam kemasan baru. Hanya begini saja? Tentu tidak. Justru dalam pengemasan ulang itulah—setelah didukung oleh penelitian dan data-data terbaru—sering muncul paradigma atau konsep-konsep baru yang lebih matang dan tajam, baik sebagai pisau analisis maupun perangkat pemasaran yang cukup praktis. Dan inilah yang dilakukan oleh Hermawan dan timnya di MarkPlus&Co. Memunculkan paradigma kemasan baru secara kreatif dan inovatif, baik dari sisi judul maupun isi.

Pelajaran yang bisa diambil? Ya, lakukan proses kreatif atas teori-teori atau konsep-konsep lama. Lalu, amati tren yang tengah berlangsung atau prediksi tren yang akan datang. Kemudian, buatlah simulasi konsep atau teori baru. Ini benar-benar proses kreatif. Jika konsep, teori, dan analisis kita tampaknya bisa berfungsi sebagai perangkat analisis, prediksi, dan proyeksi ke depan, maka berbahagialah karena kita baru saja menemukan paradigma “baru”. Mungkin saja. Tapi jangan sekadar bagus di tataran isi dan konsep yang ditawarkan dalam sebuah buku. Buku itu juga membutuhkan judul yang sama jeniusnya dengan isinya. Kombinasi keduanya mungkin bisa membuat buku kita best seller.

Problemnya, banyak penulis yang tidak memiliki ide-ide baru namun berusaha mengolah konsep-konsep lama menjadi sebuah kemasan yang lain. Sayangnya, mengemas sesuatu dengan kreatif dan inovatif itu bukan pekerjaan yang segampang diduga oleh banyak orang. Apabila kemas ulang hanya berupa ringkasan atas teori-teori atau hasil pikiran pakar-pakar sebelumnya, dan tidak diperkaya oleh hasil analisis yang adekuat, interpretasi baru, data-data terbaru, maka tidak akan ada karya baru yang kreatif dan inovatif.

Alhasil, konsep-konsep baru yang lebih kaya pasti sulit muncul dari proses semacam itu. Pembaca yang sudah pernah membaca isi buku jenis ini dalam karya orang lain, pasti dibuat bosan karenanya. Nah, penulis-penulis best seller yang jempolan pasti tidak ingin pembacanya bosan. Mereka tahu persis, pembaca haus akan hal baru. Oleh sebab itu, penulis-penulis jempolan selalu berusaha menghasidrkan hal-hal baru yang dapat memperkaya wawasan pembacanya. Sekalipun, hal baru itu dikemas dari segala bahan yang sudah ada. Itulah pelajaran dari buku Marketing in Venus. Salam best seller![ez]

* Edy Zaqeus adalah penulis buku-buku best-seller, konsultan penulisan & penerbitan, editor Pembelajar.com, dan trainer di Sekolah Penulis Pembelajar (SPP). Ia juga mendirikan Bornrich Publishing dan Fivestar Publishing yang berhasil menerbitkan sejumlah buku best-seller. Nantikan workshops Edy Zaqeus tentang “Membuat Blog Menjadi Buku”, “Cara Gampang Menerbitkan Buku Sendiri”, dan “Cara Gampang Menulis Buku Best-Seller” pada November-Desember 2007 ini (Info selengkapnya, hubungi SPP di 021-7828044). Edy dapat dihubungi di: http://ezonwriting.wordpress.com atau edzaqeus@gmail.com.

Pilih Buku Laris atau Buku Gagal?

- 19 Juni 2006 – 04:25 (Diposting oleh: Editor)
Seri Artikel Write & Grow Rich

Hampir semua penulis buku maupun penerbitnya selalu berharap bukunya diterima oleh pembaca dan laris di pasar. Tetapi bagi saya, harapan saja tidak cukup. Menginginkan saja tidak cukup. Mimpi saja juga tidak cukup. Semua penulis buku memiliki harapan semacam itu, tetapi tidak semua mampu meraihnya oleh karena pendekatan atau cara yang dilakukan berbeda-beda. Seorang penulis buku yang sukses pasti memiliki visi yang kuat, hasrat 100 persen, dan komitmen yang tegas untuk selalu menghasilkan buku-buku best seller.

Buku adalah produk dan tidak bisa mengelak dari hukum-hukum pasar. Buku yang diterima dan laris di pasar pasti mendatangkan banyak keuntungan, baik keuntungan finansial, popularitas, kredibilitas, image, dan tentu saja bagus bagi personal branding si penulis. Sebaliknya, buku yang tidak diterima pasar sesungguhnya merupakan buku yang gagal. Pengaruhnya bisa mengurangi daya jual penulisnya di mata penerbit.

Bagi saya, setiap penulis buku, apalagi bagi mereka yang baru pertama kali menulis dan menerbitkannya, harus punya tujuan utama membuatnya best seller. Mengapa demikian? Karena, baik membuat buku best seller maupun buku yang biasa-biasa saja (tegasnya buku yang gagal), pada dasarnya membutuhkan energi dan biaya yang sama besarnya. Nah, kalau capeknya sama, mengapa memilih menulis buku yang biasa-biasa saja?

Asal anda tahu, banyak buku bagus gagal di pasar dan sebaliknya banyak buku yang biasa-biasa saja isinya ternyata suskes di pasar. Ada buku yang digagas dan dibuat dengan sangat sempurna tetapi tetap tidak mendapat sambutan seperti yang diinginkan. Ada pula buku yang sangat sederhana tetapi di luar dugaan pasar malah menyambutnya dengan antusias. Kesannya, dunia buku kok begitu misterius…

Misteri-misteri itulah yang mestinya dipecahkan oleh setiap penulis buku maupun penerbit. Saya sendiri tidak merasa telah berhasil sepenuhnya memecahkan semua misteri menyangkut sukses atau gagalnya buku di pasar. Tetapi dari pengamatan, penelusuran, dan pengalaman sendiri, saya temukan sejumlah petunjuk yang menarik untuk diperhatikan. Di luar usaha-usaha pemasaran, faktor-faktor yang berpengaruh itu antara lain menyangkut pilihan target pembaca, desain kaver, promosi kaver belakang, dan terutama sekali menyangkut kreativitas dalam memberi atau memilih judul buku.

Jika temuan-temuan itu kita perhatikan dan dipadukan dengan kiat-kiat penyusunan buku seperti yang sudah tulis di buku Resep Cespleng Menulis Buku Best Seller (Gradien, 2005), saya yakin peluang kegagalan bisa diperkecil. Sebaliknya, jika langkah-langkah yang dianjurkan itu diikuti dan dikombinasi dengan langkah-langkah strategis seperti akan saya jelaskan dalam tulisan-tulisan berikutnya, maka buku best seller adalah target yang sangat-sangat beralasan untuk dimiliki setiap penulis buku.

Mengapa buku gagal di pasar?
Sudah jelas, tanpa saya minta pun anda pasti tidak mau mencontoh buku-buku yang gagal di pasar. Tetapi anjuran yang ditegaskan lagi di atas ada maksudnya. Jelasnya begini. Di toko-toko buku akan mudah anda temukan buku-buku bagus yang terus teronggok di rak dan tak pernah disentuh calon pembeli. Padahal jika anda cermati, tak jarang buku-buku yang kesepian itu punya kemasan, kaver, dan isi yang bagus pula. Kadang, buku-buku itu malah ditulis oleh atau mengenai tokoh ternama, diterbitkan oleh penerbit besar, dan bentuk fisiknya pun oke sekali.

Ada beberapa kemungkinan yang menyebabkan buku-buku itu gagal di pasar. Kemungkinan pertama, topiknya asing atau memang kurang digemari pembaca. Kedua, buku itu salah membidik pangsa pasar dan memilih jalur distribusi. Ketiga, kemasan atau kavernya tidak menarik minat pembaca. Keempat, buku-buku itu gagal memanfaatkan kekuatan judul. Mari kita bahas secara singkat.

Buku yang temanya asing atau tidak populer memang sulit menarik pembeli. Bisa jadi, buku-buku ini mengandalkan keunikan topik atau sengaja mengangkat sesuatu yang terlewatkan oleh penulis-penulis lain. Tetapi mengangkat topik yang unik atau asing tanpa usaha-usaha lain seperti iklan, mengundang peresensi, dan pemasaran yang bagus, hasilnya pasti tidak bisa diandalkan. Apalagi jika topik itu tidak cukup kuat menarik minat media massa untuk mendiskusikannya.

Berikutnya, kesalahan membidik pasar dan jalur distribusi juga bisa fatal akibatnya. Jika seorang penulis buku memilih pangsa pasar yang sangat segmented, maka keliru jika dia mengandalkan jalur distribusi melalui toko-toko buku. Lebih tepat jika dia menjual bukunya secara langsung dalam komunitas atau aktivitas-aktivitas dari segmen yang dibidik. Pemasaran juga harus ditopang dengan iklan di media-media khusus dan direct marketing bisa dijalankan.

Sebab ketiga, kemungkinan kemasan atau kaver bukunya kurang menjual. Sekalipun tidak ada jaminan buku yang dikemas dan berkaver bagus selalu laris, tetapi kita harus paham dengan perilaku penggemar buku umumnya. Bahwa pandangan pertama calon pembeli memang berpengaruh. Jika sekilas secara fisik buku itu kurang menarik, tidak eye catching, kebanyakan orang akan segera beralih ke buku-buku yang lain. Sampul buku-buku pelajaran atau diktat-diktat kuliah adalah contoh yang paling membosankan. Juga sampul buku-buku sejumlah penerbit yang kesannya seragam dan monoton (walau mungkin maksudnya adalah memberi identitas ).

Dan mirip dengan persoalan ketiga, banyak buku yang gagal memanfaatkan kekuatan judul sebagai pemicu minat (trigger) atau penimbul rasa penasaran (teaser). Begitu kuatnya pengaruh judul dalam membangun kesan pertama dan memancing rasa penasaran orang. Tetapi sedikit penulis yang berani kreatif dari sisi yang paling strategis ini. Akibatnya, buku-buku yang tidak berani kreatif dalam hal judul, kecil peluangnya untuk menarik minat pembaca. Butuh usaha ekstra untuk mengangkat buku-buku yang judulnya mendem alias tenggelam oleh ribuan judul lainnya.[ez]

* Edy Zaqeus adalah penulis buku-buku best-seller, konsultan penulisan & penerbitan, editor Pembelajar.com, dan trainer di Sekolah Penulis Pembelajar (SPP). Ia juga mendirikan Bornrich Publishing dan Fivestar Publishing yang berhasil menerbitkan sejumlah buku best-seller. Nantikan workshops Edy Zaqeus tentang “Membuat Blog Menjadi Buku”, “Cara Gampang Menerbitkan Buku Sendiri”, dan “Cara Gampang Menulis Buku Best-Seller” pada November-Desember 2007 ini (Info selengkapnya, hubungi SPP di 021-7828044). Edy dapat dihubungi di: http://ezonwriting.wordpress.com atau edzaqeus@gmail.com.