JURUS JITU MENULIS BUKU UNTUK ORANG SIBUK

“Saya kenal dengan banyak orang yang tidak bisa ketika mereka mau, karena mereka tidak melakukannya ketika mereka bisa.”
Francois Rabelais
(pengarang Perancis)

Apa yang membuat saya tergerak menulis artikel ini? Tak lain adalah sebuah perbincangan hangat di ruang tamu Gedung Kompas-Gramedia lt.4 pada akhir 2003 lalu. Saya bertemu dua teman lama yang berprofesi sebagai peneliti, dan berdiskusi mengenai situasi ekonomi-politik menjelang Pemilu 2004. Sungguh, rasanya tak sejengkal isu pun bakal terlewat jika sedang diskusi seperti ini. Sangat antusias, sambung-menyambung, dan sangat menarik diikuti. Dalam diskusi itu mendadak mengalir begitu banyak ide tulisan maupun ide tema buku politik.

Ada ide membuat buku track record politisi-politisi kondang dalam lima tahun terakhir, buku rapor merah partai-partai besar, buku catatan pemilu dari tahun ke tahun, buku humor politik, sampai buku tentang pariwisata klenik. Antusiasme diskusi membuat segalanya terasa begitu menggairahkan dan seolah mudah diwujudkan. Tentu saja saya sambut hangat ide-ide teman-teman saya ini. Maklum, keduanya setiap hari bergelut dengan informasi terbaru, akses datanya tak terbantahkan, penguasaan metodologi penelitian bisa diandalkan, dan menulis sudah merupakan kegiatan keseharian mereka.

Namun beberapa menit setelah antusiasme kami berhasil mengeksplorasi ide-ide itu lebih jauh, mulailah tersembul segala ‘hambatan’ yang mereka ciptakan sendiri, yang akhirnya mengubur sendiri keinginan membuat buku-buku menarik tersebut. Tidak ada waktu, sibuk kuliah lagi, tidak bisa konsentrasi, data kurang, data belum tersedia, bayangan rumitnya menyusun buku, pernah macet saat mencoba, sampai perasaan terlalu berat jika harus menuangkan ide-ide itu dalam bentuk buku.

Pemandangan seperti di atas sering sekali saya temui, terutama dalam situasi-situasi atau forum-forum yang memungkinkan munculnya sebuah diskusi mendalam dan lahirnya ide-ide menarik. Saya pernah menjumpai seorang pemasar properti dan agen asuransi senior yang sangat sukses yang ingin sekali membukukan kisahnya. Seorang presiden direktur perusahaan direct selling yang ingin membuat buku tentang penjualan. Seorang wakil presiden direktur yang ingin membuat buku marketing. Seorang sekretaris yang ingin membukukan kisah cintanya. Seorang trainer yang ingin membuat buku tentang kreatifitas, dan masih banyak lagi.

Hampir semua orang yang saya singgung di atas adalah orang-orang yang sangat sibuk dalam kesehariannya sekaligus sangat berhasrat menuangkan ide-idenya ke dalam buku. Sukses orang-orang sibuk seperti Hermawan Kartajaya, Ary Ginanjar, Gede Prama, Andrias Harefa, Anand Krishna, Handi Irawan, Roy Sembel, dll, dalam menulis buku sering menjadi contoh yang menggoda atau bahkan memprovokasi mereka untuk mewujudkan impian menulis buku sendiri.

Ketika sampai pada tahap mewujudkan ide-ide ke dalam buku, hambatan waktu memang sangat sulit dipecahkan oleh orang-orang sibuk umumnya. Seorang penjual sukses misalnya, mengaku tak pernah bisa konsentrasi menulis karena seringnya ia menerima telepon dari pelangganya. Sementara seorang direktur mengaku urusan rapat dengan manajemen dan mitra bisnisnya seperti tak ada habisnya, sehingga ruang-ruang bebas untuk menulis serasa hampir mustahil didapat. Bagaimanapun, urusan bisnis adalah prioritas pertama bagi orang bisnis. Menulis bukan prioritas. Itulah hambatan pokok mengapa orang-orang sibuk yang berkeinginan dan mampu menulis buku akhirnya menunda menulis.

Yang lain mengaku, menulis adalah hal yang benar-benar asing baginya, sekalipun orang ini sangat berminat menuliskan sendiri gagasan-gagasan menyangkut profesi yang ditekuninya. Manajer sukses ini –sama dengan beberapa yang lain– merasa menulis bukan menjadi bidang atau bakatnya, sekalipun ia tidak menolak kalau teknik menulis bisa dipelajari dan dilatih. Namun persepsi bahwa menulis bukan merupakan bakat atau bidangnya toh tetap lebih dominan dan menghalanginya untuk mencoba mulai menulis.

Problem lain, kebanyakan dari penyibuk tadi merasa ngeri dengan keruwetan proses penulisan buku, mulai dari penggalian bahan sampai ke penerbitannya. Tema-tema apa saja yang layak dibukukan? Bagaimana menggali bahannya? Bagaimana mengorganisasikan ide-ide yang tercerai-berai? Bagaimana menuliskan ide-ide dalam bahasa yang efektif? Bagaimana dan dari mana mulai menulis buku? Bagaimana supaya tidak kehabisan ide saat menulis? Siapa yang bisa membantu mereka menulis? Buku apa yang lebih mudah ditulis? Penerbit mana yang mau menerbitkan? Dan masih banyak lagi.

Sebagaimana yang akan diulas dalam bab-bab selanjutnya, sesungguhnya proses menulis buku tidak serumit atau sesulit yang dibayangkan kebanyakan orang. Bahkan kalau meminjam model judul buku Mengarang Itu Gampang karya Bung Arswendo Atmowiloto, sebenarnya menulis atau mengarang buku itu memang gampang. Gampang banget, malah! Apa buktinya? Simak saja nama-nama penulis buku yang sudah disinggung di atas. Memang cukup mengherankan mengapa orang-orang sibuk seperti mereka masih mampu menulis dan menyusun buku-buku yang bagus. Sesungguhnya, rahasianya terletak pada beberapa pilihan teknik menulis buku yang bisa dipilih dan dilakukan oleh siapa pun. Alhasil, kesibukan sesungguhnya bukan penghalang utama bagi orang yang ingin menulis buku.

Barangkali anda pernah mendengar sang mega bintang seperti Madonna masih mampu meluangkan waktu menulis buku untuk anak-anak berjudul The English Roses dan Mr. Peabody’s Apples. Atau seorang sopir taksi dari Inggris bernama Mus Mustafa yang sukses dengan In A Year of A London Cabbie: Everyone Has A Story. Dari negeri sendiri, ada Rachmania Arunita pengarang novel Eiffel I’m in Love, yang menyelesaikan novel best seller itu saat ia masih di bangku SMU. Ada Profesor Dr. F.G. Winarno, 64 tahun, yang mampu menulis 50 judul buku hanya dalam waktu 4 bulan (2,5 hari per judul). Ada pula Mashuri, 40 tahun, penulis buku-buku paranormal yang mampu menghasilkan 83 judul buku hanya dalam 92 bulan (33 hari per judul). Atau simak si gadis cilik Sri Izzati yang berhasil menyelesaikan novel setebal 145 halaman berjudul Powerful Girls saat usianya baru 8 tahun. Begitu mudahnya menulis buku!

Apa pun profesi anda saat ini, apa pun latar belakang kehidupan anda, dan apa pun yang saat ini anda lakukan, selalu ada sisi-sisi kemanusiaan atau hal unik lainnya yang bisa anda bagikan kepada orang lain. Buku adalah jembatan untuk berbagi secara lebih utuh. Itulah yang sudah ditunjukkan oleh contoh-contoh di atas.

Persoalannya, untuk mewujudkan impian menulis buku tersebut, pertama-tama anda harus menyingkirkan aral mental yang beranggapan bahwa menulis buku itu terlalu sulit untuk dilakukan. Singkirkan pula hambatan mental yang menyatakan bahwa anda butuh bakat khusus untuk menulis buku, hambatan bahwa anda miskin ide. Sejak saat ini miliki keyakinan terlebih dahulu, bahwa anda punya bakat, anda mampu mengatur waktu, anda bisa menggali ide, dan anda berani berlatih untuk itu.

Nah, yang terpenting di sini adalah anda harus memiliki motivasi yang tinggi untuk menulis dan berani mengalokasikan waktu, sesedikit apa pun itu. Anda harus mengetahui teknik menggali ide dan berlatih membuat outline tulisan yang sangat membantu penggalian bahan maupun proses penulisan. Anda pun harus tahu dari mana memulai, bisa memilih bentuk buku yang pas dengan misi dan visi anda, serta mau berlatih atau membiasakan diri menuangkan gagasan dengan cepat. Intinya hanya itu, dan semuanya memang mudah dilakukan.

Tak sabar mengetahui caranya? Ikuti artikel saya berikutnya![ez]

(Bersambung ke artikel: Perlukah Bakat Menulis?)

* Edy Zaqeus adalah penulis buku-buku best-seller, konsultan penulisan & penerbitan, editor Pembelajar.com, dan trainer di Sekolah Penulis Pembelajar (SPP). Ia juga mendirikan Bornrich Publishing dan Fivestar Publishing yang berhasil menerbitkan sejumlah buku best-seller. Nantikan workshops Edy Zaqeus tentang “Membuat Blog Menjadi Buku”, “Cara Gampang Menerbitkan Buku Sendiri”, dan “Cara Gampang Menulis Buku Best-Seller” pada November-Desember 2007 ini (Info selengkapnya, hubungi SPP di 021-7828044). Edy dapat dihubungi di: https://ezonwriting.wordpress.com atau edzaqeus@gmail.com.