JURUS JITU MENULIS BUKU UNTUK ORANG SIBUK

“Pertama, kamu memerlukan semangat atau dorongan melakukan yang kamu sukai. Semangat adalah tenaga yang membakar hasrat mencipta.”
Teresa Amabile
(Pakar kreatifitas)

Entah mengapa, sejak SD saya suka mengerjakan soal ulangan dari soal-soal yang paling mudah dikerjakan. Saya juga teringat saat UMPTN (sekarang SPMB), total soal-soal yang saya kerjakan selalu dari yang paling mudah dulu. Bahkan saya suka iseng-iseng mengerjakan soal dengan cara dibalik, yaitu mulai mengerjakan dari nomor paling belakang. Kadang saya kerjakan dengan cara di-clong-clong (istilah jawa) atau di acak nomornya. Ternyata, kebiasaan ini lumayan membantu saya dalam dunia penulisan, yaitu memberi variasi pilihan.

Untuk media yang saya tangani, tak jarang saya menulis laporan atau menganalisis berita mulai dari bagian yang paling inti, baru disusul kemudian bagian penjelas dan terakhir pengantar atau penutup. Semisal, saya pernah menulis tiga seri tulisan kolom tentang bagaimana meningkatkan kreatifitas. Saya tidak memulai tulisan itu dari definisi dan teori kreatifitas, tapi dari kiat-kiat dan contoh-contoh aktivitas kreatif. Usai memaparkan inti tulisan, saya merasa mudah memberi pengantar berupa kutipan-kutipan konsep kreatif, berikut pengantar dan penutupnya. Proses menulis jadi mengalir, begitu mudah dikerjakan dan lancar penyelesaiannya.

Buku pertama saya Kontekstualisasi Ajaran I Ching (Grassindo, 2004) juga saya tulis dengan cara diclong-clong. Buku setebal 205 halaman lebih itu terdiri dari pengantar, isi (64 bab pendek), dan tanya jawab. Semula saya mulai dari bab 1-6, tiba-tiba saya merasa agak jenuh melanjutkannya. Lalu saya coba mulai dari bab 64 jalan mundur sampai bab 50. Lalu dari depan lagi, bab 7-15, begitu seterusnya, selang-seling. Ternyata cara ini mempercepat proses penulisan, menghilangkan rasa jenuh karena ada variasi, dan membuat saya mampu menyelesaikan draft buku ini hanya dalam 36 hari! Apakah hal ini juga sering terjadi pada penulis lain? Sepertinya banyak juga yang begitu.

Tidak ada aturan yang mengharuskan anda menulis buku mulai dari kata pengantar, lalu batang tubuh atau isi, baru diakhiri dengan kesimpulan atau penutup. Anda bebas memilih di mana bisa memulainya. Banyak kasus membuktikan, memulai dari bab yang paling kita suka dan kita kuasai jauh lebih memotivasi dan memperlancar proses menulis secara keseluruhan. Andrias Harefa dalam bukunya Agar Menulis-Mengarang Bisa Gampang (Gramedia, 2002) menegaskan hal yang sama. Menurutnya, bagi penulis pemula, memulai dari hal-hal yang paling mudah ditulis akan menumbuhkan rasa percaya diri dalam menyelesaikan karangan.

Saya sendiri punya tiga alasan, mengapa jurus memulai dari bab yang paling disukai dan paling dikuasai itu bermanfaat. Pertama, menulis sesuatu yang disukai menimbulkan energi dan antusiasme lebih besar dibanding dengan menulis topik yang tidak disukai. Ini seperti melakukan sesuatu yang menjadi hobi kita, sehingga mood maupun keasyikan yang didapat dalam proses menulis itu luar biasa. Menulis bisa menjadi proses yang mengalir dengan cepat dan tak jarang malah dipenuhi ide-ide segar.

Tahukan anda? Saya memulai seri artikel ini dari seri artikel nomor 9, yang berjudul “Menggali dengan Teknik Wawancara”, lalu seri 8, melompat ke seri 10, begitu seterusnya dan terakhir adalah seri 1. Mengapa mulai dari seri 9? Sebab, inilah topik yang sangat saya kuasai, sering saya lakukan untuk membantu klien-klien saya, serta teknik inti dari keseluruhan isi buku ini. Cara ini membuat saya dapat melanjutkan menulis artikel demi artikel dengan sangat cepat. Dan percaya atau tidak, draft seri artikel ini bisa saya selesaikan hanya dalam waktu 20 hari!

Lalu alasan kedua, penulis bisa merasa lebih bebas berekspresi. Bayangkan setelah berhasil menyusun outline atau kerangka buku, lalu anda memaksa diri menulis secara urut dari pengantar hingga penutup. Jika tiba-tiba mood anda buruk dan anda mentok di Bab 1, maka bisa dipastikan anda akan kesulitan menyelesaikan bab-bab berikutnya. Kalau bab pertama saja gagal diselesaikan dengan cepat dan baik, besar kemungkinan motivasi anda akan melemah dengan cepat. Makin ruwet dan menekan secara psikologis, anda pun mulai mengkritisi sendiri topik yang anda angkat. Kesangsian demi kesangsian bisa berlanjut, antusiasme menghilang, kreatifitas mampet, dan buku pun makin tidak menarik untuk diselesaikan.

Saya sendiri pernah mengalami hal seperti itu saat hendak menyusun buku tentang bisnis direct selling. Saya berhasil membuat sebuah outline buku yang sangat lengkap, terdiri dari 14 bab dan total 115 sub bab. Saya terobsesi untuk membuat sebuah masterpiece, sebuah buku yang sangat komplit dan terbaik pada pengalaman pertama menulis buku! Memang sangat tidak realistis kedengarannya. Saat saya pertunjukkan outline itu kepada Andrias Harefa (penulis buku-buku best seller itu), ia bertanya pendek, “Berapa tahun kamu mau selesaikan buku itu?”

Waktu itu saya tidak ambil pusing dengan komentar pesimisnya itu. Saya tetap bersemangat menulis mulai dari pengantar, Bab 1, dan seterusnya. Ternyata ramalan Andrias benar. Saya macet di Bab 4, sampai sekarang! Mungkin hanya dengan cara memecah-mecah bab itu menjadi bab yang sederhana dan mudah ditulis, maka buku impian saya itu bakal terwujud. Hanya saja, jika memikirkan kembali tema buku itu, saat ini saya belum bisa membangkitkan semangat menulis setinggi waktu dulu. Beberapa ide tema buku baru yang muncul belakangan ternyata lebih menantang untuk cepat diselesaikan.

Saya juga mendapati banyak teman yang mencoba menulis buku fiksi maupun non fiksi yang macet di tengah jalan. Sering, sebab utamanya adalah karena kegagalan di bab-bab awal dan topik yang belakangan semakin tidak memotivasi sang penulis itu sendiri untuk menyelesaikannya.

Nah, alasan ketiga, memulai dari bab yang dikuasai memungkinkan seorang penulis berkonsentrasi penuh pada gagasan-gagasan paling inti. Jika gagasan-gagasan paling inti dari buku itu tereksplorasi dengan baik pada tahap awal, anda tidak akan kehilangan momentum untuk mendapat ide-ide paling bernas atas tema yang anda angkat. Cara seperti ini lebih menguntungkan dibanding, misalnya, jika memilih berasyik-asyik dulu pada uraian-uraian pengembangan, yang sebenarnya bisa digali belakangan pada saat memoles draft buku.

Ide-ide terbaik biasanya datang pada saat mood anda bagus. Dan, seringkali ini muncul di tahap awal saat anda sedang semangat-semangatnya menulis. Untuk orang sibuk, menemukan momentum seperti ini sangat vital artinya. Jika gagasan fundamentalnya sudah didapat, maka pengembangan tulisan berikutnya tentu relatif lebih mudah karena sifatnya lebih pada melengkapi dan memperkuat bangunan ide besar sebelumnya. Kalau pun anda harus meninggalkan sejenak proses penulisannya karena kesibukan, anda toh sudah berhasil menggali intisari tema buku tersebut. Anda terhindar dari kemungkinan kehilangan gagasan-gagasan besar.

Saya masih punya alasan lain untuk menganjurkan cara ini, walau mungkin ini relatif sekali sifatnya. Cara ini menghindarkan anda untuk tidak terlalu mudah beralih ke tema lain (judul baru) di luar tema pokok yang sudah disusun dalam outline. Bagaimana bisa? Begini, naluri ingin beralih tersebut sebenarnya sudah dilayani oleh kebebasan anda memilih bab-bab mana yang ingin anda tulis lebih dulu. Lagi pula, sangat mungkin anda merasa sayang jika harus meninggalkan sama sekali tema tulisan yang sangat anda kuasai dan pernah ingin anda kembangkan dengan sangat antusias.

Jadi, segera olah bahan-bahan anda mulai dari bab yang paling anda sukai dan anda kuasai. Menulis buku memang sebuah proses yang harus bisa anda nikmati sepenuhnya.[ez]

(Bersambung ke artikel berikutnya: Menulis Cepat)

* Edy Zaqeus adalah penulis buku-buku best-seller, konsultan penulisan & penerbitan, editor Pembelajar.com, dan trainer di Sekolah Penulis Pembelajar (SPP). Ia juga mendirikan Bornrich Publishing dan Fivestar Publishing yang berhasil menerbitkan sejumlah buku best-seller. Nantikan workshops Edy Zaqeus tentang “Membuat Blog Menjadi Buku”, “Cara Gampang Menerbitkan Buku Sendiri”, dan “Cara Gampang Menulis Buku Best-Seller” pada November-Desember 2007 ini (Info selengkapnya, hubungi SPP di 021-7828044). Edy dapat dihubungi di: https://ezonwriting.wordpress.com atau edzaqeus@gmail.com.