JURUS JITU MENULIS BUKU UNTUK ORANG SIBUK

“Kalau ada seseorang yang ingin menulis dengan gaya yang jelas, lebih dulu dia harus jelas dalam pemikirannya.”
J.W. von Goethe
(Pengarang Jerman)

Ini jurus terpenting bagi para penyibuk yang sedang menggarap sebuah buku. Jika anda sedang mengalir, jangan pernah berhenti! Jika ide sudah tergambar di kepala, segeralah tulis dengan cepat sampai aliran ide itu habis tuntas. Pertahankan semangat, irama antusiasme menulis, dan jangan pernah menyimpan aliran ide untuk ditulis kemudian. Ini tidak bisa ditawar-tawar lagi. Mengapa?

Alasannya, jika sudah mulai menulis, berarti anda berperang dengan waktu yang sedemikian terbatas. Akan lebih menguntungkan jika anda mengefektifkan waktu yang tersedia sekalipun itu sangat pendek, dibanding misalnya anda menunda menulis demi menunggu datangnya waktu yang lebih longgar. Penantian ini sia-sia! Ide-ide lama akan segera terlindas oleh ide-ide baru yang lebih memikat, dan apa yang ingin anda tulis sebelumnya hanya tinggal seonggok ide usang. Mengapa usang? Bisa jadi dalam waktu yang tidak terlalu lama anda menemukan buku dengan tema serupa dengan ide anda, namun ditulis oleh pengarang lainnya.

Yang namanya mood sering berubah-ubah dalam tempo yang sangat cepat. Ayu Utami, novelis yang melejit dengan novelnya Saman, tegas-tegas menyatakan, mood harus didisplinkan, dijaga, dan dibangun. Novelis yang sebelumnya adalah seorang wartawawati ini mengaku bisa membangun mood-nya saat pagi atau malam hari. Nah, apakah waktu-waktu senggang anda yang sedikit memungkinkan pembangkitan mood seperti itu? Anda harus menemukan dan membangkitkan sendiri.

Seperti saya singgung di artikel sebelumnya, buku pertama saya Kontekstualisasi Ajaran I Ching yang tebalnya 205 halaman lebih itu berhasil saya selesaikan draft-nya hanya dalam waktu 36 hari. Memang, pemolesannya makan waktu hampir setengah bulan mengingat saya lebih percaya diri mengajukan naskah ke penerbit dengan kesalahan redaksional sesedikit mungkin. Belajar dari pengalaman inilah saya benar-benar menekankan arti penting menulis cepat saat anda berhasil mendapatkan kondisi flow. Kondisi mengalir ini benar-benar berharga!

Contoh lain, Nova Rianti Yusuf, penulis novel laris Mahadewa Mahadewi yang sehari-hari berprofesi sebagai dokter itu. Novel yang menarik itu ternyata diselesaikannya hanya dalam waktu dua minggu! Hebatnya lagi, novel itu ditulis dan diselesaikan saat si Nova sedang terserang gejala tipes. Luar biasa! Apa kuncinya? Tak lain dan tak bukan adalah menulis cepat tanpa henti selagi ada aliran gagasan. “Ide sudah menggumpal sehingga bisa menulis cepat….” katanya pada Republika (25/5/03). Selain itu, hasrat untuk segera menyelesaikan tulisan juga membuat Nova Rianti menulis bak kesurupan. Menurut istilahnya, jika sudah “disambar petir” maka ide seperti tak berhenti mengalir dan menulis bisa cepat seperti lagi kesurupan.

Jadi, tugas berat anda adalah keharusan menangkap aliran ide berharga, mempertahankan kondisi flow, menuliskannya dengan cepat sampai menjadi bab demi bab yang utuh, dan menjaga keselarasan dan konsistensi penuangan gagasan. Untuk apa, ini supaya buku anda sanggup menampilkan pemikiran yang komprehensif, sekalipun bentuknya kumpulan tulisan. Saya pikir, hal ini berlaku untuk hampir semua jenis pengarang buku.

Dalam konteks para penyibuk, cara paling efektif adalah dengan fokus sepenuhnya pada proses menulis dalam porsi waktu yang telah diluangkan. Saat ide mengalir deras, menulislah dengan cepat. Jangan takut salah menulis, jangan koreksi kesalahan ketik, jangan terlalu dini menilai tulisan, dan jangan hiraukan gangguan-gangguan kecil yang mungkin datang. Usahakan bisa konsentrasi penuh menuliskan bab demi bab ke dalam tulisan-tulisan pendek, namun sekaligus sanggup menunjukkan suatu pemikiran yang utuh. Pilihan bentuk tulisannya adalah kolom singkat dan padat, sekaligus eksploratif.

Menulis kolom dengan cepat seperti ini secara psikologis tidaklah terlalu membebani. Pijakan anda adalah outline yang bisa disikapi secara kreatif. Jika anda mampu membuat pointers yang cukup detail untuk sebuah bab, penulisannya pun akan relatif lebih mudah dan cepat. Saya berhasil menyusun seri artikel ini dengan cepat, pertama-tama karena outline yang saya susun cukup lengkap dengan pointers di tiap topiknya. Tidak selalu lengkap pada tahap awal. Bahkan separoh lebih dari topik-topik yang belum lengkap pointers-nya, ide pointers-nya justru saya dapat saat saya sedang menulis artikel lainnya dengan cepat.

Artikel sebelumnya menjelaskan manfaat mulai menulis lebih dulu bab yang anda sukai dan anda kuasai. Cara ini membuat proses menulis anda menjadi lebih enjoy karena anda bebas memilih bagian mana yang perlu dirampungkan dulu. Proses menulis harus bisa dinikmati sebagai sebuah aktivitas batin yang membangun sekaligus menyenangkan. Menulis adalah aktivitas yang menghanyutkan perjalanan batin, suatu keadaan ekstasi.

Setelah satu bab rampung, anda akan merasa lebih percaya diri. Pasti! Anda akan lebih optimis melanjutkan ke bab berapa pun. Bisa ke bab berikut secara kronologis, atau bisa di-clong-clong sesuai stok gagasan yang hendak dituangkan. Saya punya keyakinan, begitu setengah atau tiga perempat outline bisa anda selesaikan dengan cepat, maka anda tidak akan mau menunggu lebih lama lagi untuk menyelesaikan buku tersebut. Energi akan berlipat karena motivasi dan kepercayaan diri bertambah.

Menurut saya, ada tiga aturan besi dalam mempertahankan ritme menulis cepat seperti ini. Pertama, anda dilarang menjejalkan data-data penguat argumentasi, misalnya dalam bentuk kutipan-kutipan panjang maupun pendek, terlebih lagi catatan kaki. Kedua, sepanjang tidak ada inkonsistensi logika berpikir, anda dilarang melakukan evaluasi tulisan. Ketiga, pengkayaan dan evaluasi harus dilakukan setelah keseluruhan bab tersusun lengkap.

Para akademisi yang terbiasa menulis dengan menyertakan kutipan dan catatan kaki akan sangat tidak setuju dengan jurus yang satu ini. Bagaimana bisa mereka dipaksa untuk mengabaikan sementara pakem tulisan ilmiah yang selama ini menjadi paradigma berpikir mereka? Jika anda adalah penyibuk yang bisa meluangkan waktu banyak, tak apalah mengikuti cara-cara penulisan ilmiah yang sangat ketat. Tapi untuk menulis efektif dan efisien, cara tersebut tersebut kurang mendukung. Cara itu bisa membuat anda disibukkan dengan urusan membolak-balik literatur, mengecek keakuratan sebuah teori, konsep, atau proposisi, yang bisa mengganggu mood dan memperpanjang waktu menulis.

Karena itulah, jangan heran jika kebanyakan akademisi kita produktif menulis artikel kolom, opini, atau esai refleksi yang lebih instan sifatnya. Namun, hanya sedikit dari mereka yang mampu menulis buku dengan pendekatan ilmiah yang sangat ketat. Kalau pun menulis buku, tak sedikit yang berbentuk kumpulan tulisan pendek yang pernah dimuat di media masa. Seperti saya tegaskan sebelumnya, ini tak masalah, bahkan saya mengajukannya sebagai alternatif. Namun dari fakta ini saja tergambar, pendekatan akademis tak akan membantu anda dalam menulis cepat.

Ada fakta menarik yang dicatat Museum Rekor Indonesia (MURI) Februari 2002 lalu. Profesor Dr. F.G. Winarno, Guru Besar IPB berusia 64 tahun, mampu menulis 50 judul buku hanya dalam waktu 4 bulan, atau per judul buku diselesaikannya rata-rata dalam 2,5 hari! Sang Guru Besar ini menumbangkan rekor Drs. Sunarto yang “hanya” mampu menulis 20 judul buku dalam waktu yang sama.

Asal tahu saja, Winarno ini berulang kali memperoleh penghargaan dalam berbagai lomba penulisan dan penelitian. Salah satunya, Award Follow International Academy Of Food Science and Technology yang merupakan pengukuhan dirinya sebagai ahli pangan terkemuka di dunia (4 Oktober 1999). Winarno adalah orang Indonesia pertama yang menerima penghargaan bergengsi tersebut. Nah, silahkan berspekulasi, apakah dalam merampungkan 50 judul buku tadi Winarno menggunakan metode menulis cepat, ataukah metode ilmiah yang sangat ketat?[ez]

(Bersambung ke artikel berikutnya: Memoles Buku)

* Edy Zaqeus adalah penulis buku-buku best-seller, konsultan penulisan & penerbitan, editor Pembelajar.com, dan trainer di Sekolah Penulis Pembelajar (SPP). Ia juga mendirikan Bornrich Publishing dan Fivestar Publishing yang berhasil menerbitkan sejumlah buku best-seller. Nantikan workshops Edy Zaqeus tentang “Membuat Blog Menjadi Buku”, “Cara Gampang Menerbitkan Buku Sendiri”, dan “Cara Gampang Menulis Buku Best-Seller” pada November-Desember 2007 ini (Info selengkapnya, hubungi SPP di 021-7828044). Edy dapat dihubungi di: https://ezonwriting.wordpress.com atau edzaqeus@gmail.com.