JURUS JITU MENULIS BUKU UNTUK ORANG SIBUK

“Revisi adalah salah satu kesenangan yang sangat elok dalam menulis”
Bernard Malamud

Jika anda berhasil menulis bab demi bab dengan sangat cepat, sebenarnya anda telah menjalankan teknik yang sangat praktis. Kalau dengan teknik itu anda berhasil menyusun buku yang sangat detail, maka anda layak berbangga dan percaya diri. Kalau pun anda merasa hasil tulisan itu belum memadai, anda tak perlu berkecil hati. Minimal anda mampu menuliskan garis besar gagasan-gagasan anda. Sehingga langkah berikutnya adalah mengoreksi, memoles, dan memperkaya isinya.

Saya suka menggunakan rumus dasar logika penyusunan karangan yang umumnya terdiri atas perumusan masalah, pendekatan yang digunakan (dasar teori, proposisi, asumsi-asumsi, kerangka berpikir), analisis masalah (penjabaran, data), dan kesimpulan (jawaban atas masalah). Menurut saya, rumusan ini cukup aplikabel pada hampir semua jenis karangan atau tulisan. Adapun perbedaannya hanya pada panjang pendeknya masing-masing bagian tersebut serta bentuk atau cara penyampaiannya.

Rumusan tersebut juga bisa anda gunakan untuk menilai bab demi bab yang anda tulis, atau sebaliknya sejak awal anda gunakan sebagai acuan pengembangan tulisan. Dengan kerangka ini, anda tak mungkin hanya berpanjang-lebar pada salah satu aspek saja, semisal mengeksplorasi aspek permasalahan tapi melupakan bagaimana menganalisis masalah itu supaya dapat dipecahkan dengan data-data yang anda miliki. Rumusan ini bisa digunakan secara ketat jika anda hendak membangun argumentasi yang solid untuk jenis-jenis buku ilmiah populer.

Setelah menuliskan keseluruhan bab, anda pun akan relatif lebih mudah menilai apakah alur tulisan anda sudah sesuai dengan outline. Jika ada perkembangan di luar outline, misalnya ada perluasan pembahasan, anda pun bisa mengetahui apakah alur penulisannya tetap sejalan dengan ide dasarnya atau malah menyimpang. Anda juga bisa mengevaluasi apakah bab demi bab yang anda tulis telah mampu menjelaskan solusi yang anda tawarkan.

Jika ada kekurangan di sana-sini, misalnya menemukan gagasan yang terlalu lemah karena kurangnya dukungan data, informasi yang dijadikan dasar argumentasi sudah ketinggalan, perlu menambah kutipan-kutipan, memperbanyak contoh-contoh, memperbanyak variasi solusi, menambahkan gaya bahasa yang khas, termasuk mendapati kesalahan-kesalahan redaksional, maka sekaranglah saat yang tepat untuk memperbaiki atau melengkapinya.

Terkadang, dalam proses memoles ini anda menemukan lubang dalam susunan bab buku anda. Jika memang membutuhkan tambahan bab baru, anda pun bisa menambahkannya. Namun hati-hati dengan langkah ini. Fungsi bab tambahan hanyalah memperkuat, bukannya membuat buku anda semakin melebar atau bercabang pembahasannya. Tidak perlu menambah bab baru jika hanya untuk mempertebal buku anda, karena bab baru itu justru bisa melemahkan keseluruhan bangunan buku anda. Kecuali, penambahan bab memang punya tujuan strategis dan matang penggarapannya.

Mengenai penambahan bab ini, ada sebuah tip khusus dari Tom dan Marilyn Ross pengarang The Complete Guide to Self-Publishing. Menurut mereka sebuah bab khusus bisa diciptakan untuk membidik segmen pasar tertentu. Semisal buku anda secara umum berbicara masalah pembelajaran sales people dan menyinggung soal agen asuransi. Daripada sekadar menyinggung sekilas, akan lebih menjanjikan jika anda membuat pembahasan tentang aplikasi teori-teori pembelajaran tersebut di dunia asuransi dalam sebuah bab tersendiri. Dalam bab tadi anda bisa mengulas tuntas aspek-aspek pembelajaran agen-agen asuransi. Keuntungannya, bab khusus itu bisa menjadi apresiasi tersendiri bagi dunia asuransi dan ini berpeluang untuk menggaet minat para penggerak bidang asuransi. Tentu saja, bab tambahan ini akan semakin punya kekuatan jika mendapat back up data-data atau informasi terbaru.

Nah, bagaimana mendapatkan data-data terbaru mengenai topik yang kita angkat? Anda bisa merujuk pada buku-buku, artikel-artikel, analisis, atau berita-berita terbaru yang relevan. Sumber klasik untuk keperluan ini adalah buku-buku terbaru, atau informasi-informasi lain dari koran, majalah, jurnal, atau internet. Kini, hampir seluruh penulis sangat mengandalkan internet untuk mendapatkan data-data terbaru mereka.

Jika tema buku anda kebetulan agak langka dan sulit dicari referensi pembandingnya, memanfaatkan informasi dari internet akan sangat membantu pengayaan buku anda. Dengan memanfaatkan fasilitas search engine (mesin pencari), anda bisa menemukan hampir semua informasi yang anda butuhkan. Sesibuk apa pun anda, sempatkan diri untuk mencari informasi-informasi tambahan dari internet. Sebab, meriset di internet pun bisa menjadi aktivitas yang merangsang kreatifitas anda. Namun jika anda kesulitan meriset sendiri, gunakan tenaga profesional untuk membantu anda. Sahabat saya, Jennie S. Bev, adalah seorang konsultan bisnis, pengusaha, sekaligus penulis ebook yang sangat produktif, mengaku memiliki sejumlah staf yang membantunya melakukan riset di internet serta mengedit karya-karyanya. Dengan cara ini, dia bisa lebih konsentrasi mengeksplorasi gagasan-gagasannya,s ementara hal-hal yang sifatnya sangat teknis dia serahkan kepada para stafnya.

Apa saja yang bisa didapatkan dari internet? Dengan memanfaatkan mesin pencari semacam Google atau Yahoo, anda bisa menemukan berita-berita, artikel, analisis pakar, hasil jajak pendapat, tips, e-book, ilustrasi, dan masih banyak lagi. Jika mengunjungi website koran seperti Kompas (www.kompas.co.id), Jawa Pos (www.jawapos.co.id), Gatra (www.gatra.com), dll, anda pun bisa menemukan kembali arsip berita lama yang mungkin bermanfaat. Semua bisa anda manfaatkan sebagai pembanding atau pelengkap, tentu saja dengan memperhatikan kaidah-kaidah perlindungan hak cipta jika anda kutip sebagian atau keseluruhan.

Satu hal yang perlu anda perhatikan di sini, kalau anda menulis buku-buku minat khusus yang kental nuansa teorinya, berhati-hatilah pada godaan menggunakan gaya bahasa yang terlalu teknis-akademis. Bagi sebagian penulis, kadang gaya seperti ini memang menaikkan rasa percaya diri, menumbuhkan kebanggaan, serta menunjukkan penguasaannya atas materi yang ditulis. Buku-buku yang sangat teoritis dan formal memang diminati sejumlah kalangan, misalnya kaum intelektual atau mahasiswa jurusan-jurusan tertentu. Namun bagi khalayak umum, gaya penulisan seperti itu terlalu berat dan sangat melelahkan. Orang bisa malas membaca karenanya. Dari pengamatan saya, buku-buku yang ringan dan populer merupakan buku yang paling disukai oleh mayoritas pembaca.

Nah, jika buku anda mengupas tentang bidang-bidang atau minat khusus semacam buku how to atau buku panduan, jangan lupa untuk menyajikan bab-bab buku anda dengan gaya bahasa yang sederhana dan mudah dipahami. Untuk sasaran pembaca umum, jangan gunakan istilah-istilah teknis tanpa penjelasan yang cukup. Kelompok sasaran ini menyukai buku-buku yang tidak terlalu tebal, enak gaya bahasanya, isi buku mudah dicerna, dan buku bisa dibaca dalam waktu relatif singkat. Penyajian yang sederhana sesungguhnya merupakan kekuatan buku anda.

Nah, selain cara-cara memoles buku seperti di atas, anda juga bisa menggunakan kriteria-kriteria yang ditetapkan oleh penerbit. Soal ini akan saya bahas pada kesempatan lain.[ez]

(Bersambung ke artikel: Menulis Bersama Profesional)

* Edy Zaqeus adalah penulis buku-buku best-seller, konsultan penulisan & penerbitan, editor Pembelajar.com, dan trainer di Sekolah Penulis Pembelajar (SPP). Ia juga mendirikan Bornrich Publishing dan Fivestar Publishing yang berhasil menerbitkan sejumlah buku best-seller. Nantikan workshops Edy Zaqeus tentang “Membuat Blog Menjadi Buku”, “Cara Gampang Menerbitkan Buku Sendiri”, dan “Cara Gampang Menulis Buku Best-Seller” pada November-Desember 2007 ini (Info selengkapnya, hubungi SPP di 021-7828044). Edy dapat dihubungi di: https://ezonwriting.wordpress.com atau edzaqeus@gmail.com.