JURUS JITU MENULIS BUKU UNTUK ORANG SIBUK

“Apa pun yang bisa anda lakukan, atau anda impikan bisa anda lakukan, mulailah. Keberanian mempunyai kejeniusan, kekuatan, dan keajaiban di dalam dirinya.”
J.W. von Goethe
(Pengarang Jerman)

Judul artikel di atas muncul saat saya berkelakar dengan teman yang banyak ide-ide menarik, tapi tak jua mampu menelorkan sebuah buku pun. Kami teringat Arswendo Atmowiloto yang justru mampu menikmati hari-harinya di penjara karena bisa terus menuangkan gagasan, dan akhirnya terbitlah bukunya Menghitung Hari – Hikmah Kebijaksanaan dalam Rumah Tahanan/Lembaga Pemasyarakatan (juga dijadikan sinetron). Kami juga teringat Rahardi Ramelan yang tersangkut kasus korupsi Bulog yang menerbitkan kisah pembelaan dirinya dalam buku berjudul Jalan Terjal Menegakkan Kebenaran tahun 2002 lalu.

Mengapa mengambil contoh-contoh tersebut? Ini merupakan salah satu bentuk mengkritisi kemalasan sendiri atau berbagai excuse untuk tidak menulis buku dengan alasan tidak ada waktu. Hampir semua orang sibuk mengatakan tidak punya waktu untuk membaca, apalagi menulis. Tapi jika kita berani menghitung secara persis waktu efektif yang kita gunakan untuk bekerja, sesungguhnya selalu ada sisa waktu untuk menulis. Bahkan, ternyata waktu yang tersedia sangat berlimpah.

Bagaimana mengukur kita punya waktu atau tidak? Pertama, harus ditegaskan apakah kita itu tipe orang yang sibuk total; Kedua, orang sibuk yang hanya punya waktu luang sedikit dan menghabiskannya untuk aktivitas rekreatif; atau ketiga, jenis orang yang sibuk dan punya waktu luang sedikit, tetapi malas mengisi waktu luang itu untuk kegiatan produktif. Orang yang totaly and extremely busy tak bisa disalahkan sama sekali jika malas membaca dan menulis. Jenis kedua dan ketiga inilah yang sebenarnya berkemungkinan besar menulis bukunya sendiri. Asal ada hasrat besar, mampu mengatur dan memanfaatkan waktu, dan punya teknik yang tepat.

Teknik yang saya ajukan berikut ini bukanlah cara untuk merampok waktu-waktu produktif atau waktu rekreasi anda. Justru yang saya tawarkan adalah pemanfaatan waktu secara simultan antara proses kreatif menulis buku dengan segala kesibukan anda yang tak mungkin ditinggalkan. Prinsipnya adalah mengajak anda melakukan dua aktivitas pada saat yang sama atau hampir bersamaan, berikut menyediakan waktu khusus dan terprogram untuk menuntaskan apa yang anda peroleh dari aktivitas sebelumnya.

Ok, sekarang sediakan selembar kertas dan pensil untuk mengikuti evaluasi waktu efektif anda sehari-hari. Cobalah untuk menghitung rata-rata penggunaan waktu untuk setiap contoh item pertanyaan berikut ini:

1. Jam berapa anda bangun pagi?
2. Berapa banyak waktu anda habiskan untuk olah raga sebelum masuk ke kamar mandi?
3. Berapa banyak waktu yang anda pakai untuk duduk di toilet dan mandi pagi?
4. Berapa banyak waktu anda pakai untuk sarapan pagi di rumah?
5. Berapa lama perjalanan anda dari rumah ke kantor?
6. Apa yang biasa anda lakukan selama dalam perjalanan tersebut?
7. Berapa lama anda gunakan waktu untuk pemanasan di kantor sebelum benar-benar mengerjakan pekerjaan anda?
8. Berapa lama waktu anda gunakan untuk memimpin rapat-rapat?
9. Berapa lama waktu anda habiskan untuk istirahat makan siang dan mengobrol dengan rekan kerja?
10. Berapa lama waktu anda gunakan untuk lembur di kantor?
11. Jam berapa anda tiba di rumah?
12. Jam berapa anda pergi ke kamar tidur?
13. Lalu, hitung berapa jam anda tidur dalam semalam?

Nah, silahkan mengevaluasi sendiri, apakah anda merasa waktu anda sudah terkelola secara efektif dan maksimal. Coba teliti lebih jauh, apakah anda menemukan celah-celah waktu senggang dalam berbagai aktivitas tersebut, sekalipun itu hanya lima menit. Teliti lagi, apakah seluruh aktivitas tersebut menuntut konsentrasi hanya pada pekerjaan anda. Saya menantang anda untuk menemukan celah-celah waktu tersebut, lalu coba akumulasikan jika celahnya lebih dari satu. Nah, itulah waktu yang tersedia buat aktivitas menulis anda.

Lalu, periksa waktu libur anda, sabtu dan minggu. Pasti ada yang lembur pada hari sabtu, ada yang ke gereja atau berlibur bersama keluarga di hari minggu. Atau malah perjalanan dinas ke luar kota pada hari libur. Hal biasa untuk orang sibuk. Tapi kembali anda saya tantang untuk menghitung berapa banyak celah waktu bisa anda dapatkan dalam aktivitas-aktivitas tersebut. Nah, itulah waktu yang tersedia untuk aktivitas menggali ilham, membuat butiran ide, menggali bahan, lalu menuliskannya.

Cara berikutnya adalah mensinkronkan aktivitas keseharian yang sangat menyibukkan tersebut dengan proses kreatif mencari ide penulisan buku. Caranya? Sebut misalnya anda sedang berdiskusi dengan rekan-rekan kerja mengenai proyek ke depan. Nah, jika tiba-tiba terlintas gagasan untuk membuat buku dengan tema yang relevan, atau anda sudah bersiap dengan ide yang didapat di perjalanan sebelumnya, coba dapatkan feedback mereka pada saat jeda atau setelah usai diskusi. Gunakan pendekatan informal dengan menanyakan pendapat mereka selintas saja.

Anda bisa memakai cara yang sama misalnya saat dalam satu mobil dengan rekan bisnis, bertemu pelanggan baru di cafe, saat berjalan menuju lift, menghabiskan rokok di pojok-pojok ruang merokok, saat beramah-tamah pada jamuan makan malam, saat ngobrol santai di pesta perkawinan kolega, di mana saja anda bisa membahasnya. Sopan-santun dalam dunia bisnis memungkinkan anda melemparkan topik-topik yang mudah sekali menarik minat orang di sekitar anda untuk mengomentarinya.

Sambil mendengarkan pendapat orang-orang di sekitar anda, proses kreatif bisa berlangsung pula. Anda tinggal mengolah atau mencernanya dengan ide-ide anda sendiri. Anda mendapatkan bahan tulisan gratis, berkesempatan menguji gagasan sendiri, dan yang pasti tidak kehilangan waktu kerja efektif anda. Menguji gagasan itu sangat penting. Terlepas feedback yang didapat nyambung atau tidak, namun aktivitas simultan ini benar-benar bisa merangsang proses kreatif anda.

Nah, jika anda mampu menjadikan segala medan, waktu, dan orang sebagai stimulator proses kreatif, yang bisa berjalan bersamaan secara selaras, maka menulis buku menjadi hal yang sangat mudah diwujudkan. Yang dibutuhkan kemudian adalah menetapkan waktu-waktu khusus, katakanlah satu 1-2 jam setiap harinya, untuk fokus menyusun bahan dan menuliskannya. Mulailah dengan sedikit ‘memaksa diri’ untuk menyelesaikan minimal satu halaman tulisan per kesempatan menulis. Ada beberapa teknik penggalian ide, mengkonkretkannya dalam butir-butir pemikiran, menyusunnya menjadi outline (kerangka) buku, pilihan bentuk buku, penggalian bahan tulisan, dan teknik penulisan cepat yang terbukti bisa mempermudah anda membuat buku.

Eep Saefulloh Fatah, kolumnis yang sangat produktif dan telah menghasilkan beberapa buku tersebut suka menggunakan waktu perjalanan untuk menuangkan gagasannya. Ia biasa meminta istrinya (sayangnya… sekarang mantan) yang ada di sebelahnya untuk mengetik ide-idenya saat ia harus menyetir mobil. Dalam satu perjalanan ide bisa mengalir lancar hingga membuahkan sebuah tulisan. Ide-ide pemicunya pun bisa didapat saat itu juga, seperti saat mendengar berita terbaru dari radio atau melihat demo di jalanan.

Sementara penulis produktif Anand Krishna –mantan pengusaha yang kini menekuni dunia meditasi dan spiritualitas– memilih untuk mendisiplinkan diri, yaitu selalu menyediakan waktu selama empat sampai lima jam setiap harinya untuk menulis. Ia biasa menulis antara jam 10 malam hingga dini hari. Kadang pagi pun ia gunakan untuk menulis. Hasilnya, tak kurang dari 40 buku telah diselesaikannya dan buku-buku tersebut ternyata disambut baik oleh pasar. Bahkan Anand berhasil menciptakan pasar tersendiri bagi buku-bukunya, yaitu mereka yang haus akan spiritualitas. Beberapa bukunya yang sempat menghebohkan antara lain adalah 99 Nama Allah bagi Orang Modern, Membuka Pintu Hati: Surah Al-Fatihah bagi Orang Modern, Telaga Pencerahan di Tengah Gurun Kehidupan: Apresiasi Spritual terhadap Taurat, Injil, dan Al-Quran, Islam Esetoris: Kemuliaan dan Keindahan, dan Isa: Hidup & Ajaran Sang Mahisa.

Nah, sesibuk apa pun anda, rasanya selalu ada celah waktu untuk menulis. Kini yang perlu digembleng adalah motivasi anda, kedisiplinan berlatih mengeksplorasi ide dan menuliskannya, berikut menyusun buku dengan teknik-teknik yang mudah dan praktis.[ez]

(Bersambung ke artikel berikutnya: Anda Berlimpah Ide).

* Edy Zaqeus adalah penulis buku-buku best-seller, konsultan penulisan & penerbitan, editor Pembelajar.com, dan trainer di Sekolah Penulis Pembelajar (SPP). Ia juga mendirikan Bornrich Publishing dan Fivestar Publishing yang berhasil menerbitkan sejumlah buku best-seller. Nantikan workshops Edy Zaqeus tentang “Membuat Blog Menjadi Buku”, “Cara Gampang Menerbitkan Buku Sendiri”, dan “Cara Gampang Menulis Buku Best-Seller” pada November-Desember 2007 ini (Info selengkapnya, hubungi SPP di 021-7828044). Edy dapat dihubungi di: https://ezonwriting.wordpress.com atau edzaqeus@gmail.com.