JURUS JITU MENULIS BUKU UNTUK ORANG SIBUK

“Ilham datang dari kerja setiap hari.”
Charles Pierre Baudelaire
(penyair Perancis)

Sebagai jurnalis dan penulis profesional, saya sering menemukan dua situasi cukup unik saat berbincang dengan narasumber, klien, maupun rekan-rekan seprofesi. Situasi pertama, ada di antara mereka yang ingin sekali menulis buku, tapi merasa tidak memiliki ide tema menarik yang menurut mereka layak ditulis. Situasi kedua, ada beberapa orang yang dengan lincahnya mampu menambang ide tema buku yang menarik, namun mereka tak pernah beranjak untuk mewujudkannya menjadi buku. Yang pertama merasa seolah blank, tidak tahu tema apa yang sebaiknya mereka garap. Sementara yang kedua lebih dipenuhi oleh keragu-raguan.

Saya sendiri percaya, bahwa yang namanya ilham, inspirasi, atau ide-ide menarik itu berlimpah adanya. Kadang semua hal tadi seolah seperti ladang di sekeliling kita yang siap dipanen oleh siapa saja. Bahkan dengan sedikit dipancing melalui pertanyaan saja, maka tampak sekali kalau kebanyakan dari kita itu berlimpah ide. Persoalannya, sering kita sudah cukup puas dan bangga jika punya ide. Padahal, keberanian dan hasrat 100% untuk mewujudkan ide-ide adalah kata kuncinya. Ini berlaku pada proses kreatif menulis buku.

Tak terbantahkan, kamar mandi adalah sumber ide. Anda barangkali juga sering mengalami mendapat ide-ide segar di sini, misalnya saat gosok gigi, saat keramas, saat menikmati guyuran air di kepala, saat bersenandung, saat berendam di bak mandi atau bersantai dengan pelampung di kolam renang. Yang lain barangkali pernah menemukan eureka! saat meditasi, saat menikmati perjalanan, melihat pemandangan alam, menikmati musik, film, karya seni, acara televisi, saat berselancar di internet, berdiskusi, brainstorming, bercanda dengan teman, atau saat mengamati sesuatu yang menarik perhatian.

Yang unik, dan saya berulang kali mengalami hal ini, ide-ide bagus bahkan bisa muncul saat seseorang sedang konsentrasi bekerja. Inilah situasi yang oleh Profesor Mihaly Csikszentmihalyi, pengarang buku Creativity – Flow and the Psychology of Discovery and Invention, digambarkan sebagai keadaan flow atau sedang mengalir. Dalam situasi ini, kita biasanya sedang asyik-asyiknya mengerjakan sesuatu dengan sepenuh hati. Lalu ide-ide tertentu mendadak muncul tanpa kita mengundangnya. Sekelebat, tapi sering memikat perhatian, sehingga kita seperti sedang mengalami jeda sejenak, terhanyut oleh kilasan inspirasi yang masih berbentuk khayalan.

Pada situasi flow ini, inspirasi atau gagasan bisa mengalir begitu derasnya. Jika berhasil mempertahankan keadaan ini, terkadang ide yang didapat bisa komplit dan detail. Kalau kita sedang bagus mood-nya, tubuh segar bugar, antusiasme tinggi, dan apa yang dikerjakan itu membuat kita senang melakukannya, menarik perhatian kita, maka kita pun akan mudah sekali mencapai flow.

Yang menarik, disadari atau tidak, umumnya kita pernah atau bahkan sering mengalami kondisi flow. Bahkan saya sendiri sering mengalami situasi-situasi yang agak unik. Tahukah anda, ide outline artikel bersambung ini saya dapatkan justru pada saat saya dikejar deadline dua buletin internal yang sedang saya tangani. Hebatnya, aliran ide buku ini muncul seperti gambar-gambar film di kepala saya, yang memberitahukan bagaimana serial artikel ini bisa disusun. Komplit mulai dari judul besar sampai isi artikel demi artikel, dari pengantar hingga penutup, semua mengalir begitu saja!

Dan ternyata, ini bukan kasus eksklusif saya. Rupanya beberapa rekan saya suka mendadak mendapat ilham jutsru saat sedang disibukkan oleh suatu pekerjaan. Pada saat menulis berita, saat mengaudit keuangan perusahaan, saat menganalisis proposal bisnis, saat antusias berargumentasi, bahkan pada saat bicara di depan panggung! Tak jarang ilham yang didapat sama sekali tidak ada relevansinya dengan apa yang sedang dikerjakan saat itu.

Apa yang ingin saya tegaskan adalah bahwa kesibukan kita pada suatu obyek tertentu sama sekali tidak menutup kemungkinan berlangsungnya proses kreatif di otak kita pada saat itu juga. Konsentrasi pada satu pekerjaan, bahkan pada situasi-situasi yang cenderung menekan sekalipun, ternyata tidak selalu menghentikan katup-katup sumber kreatifitas kita. Fakta ini menegaskan efektifitas teknik menggali ide dalam waktu bersamaan (simultan) dengan aktivitas lainnya seperti yang saya singgung di artikel ke-3. Jadi ide tema buku sesungguhnya bukan barang langka. Ini pun berlaku pada anda para penyibuk. Persoalannya kemudian, apakah ide-ide tersebut cukup layak untuk dikreasikan menjadi buku? Pendapat saya, sebuah ide tema layak dikembangkan menjadi buku jika secara garis besar isinya bisa menambah ketrampilan pembaca dalam memecahkan masalah, membangkitkan motivasi, menumbuhkan semangat belajar, menstimulasi gagasan baru, menghibur, atau melayani minat khusus lainnya. Apakah ini menarik minat penerbit, itu soal lain yang akan dibahas artikel seri ke-14.

Satu tip sederhana buat anda yang suka bersibuk ria. Setiap kali terlintas ide tema buku, cobalah tangkap garis besarnya. Sebisa mungkin, coretkan ilham atau ide tadi ke secarik kertas, di laptop, PDA, atau di menu pesan handphone anda. Nah, setiap ada kesempatan jeda dari kesibukan, misalnya saat ngopi di cafe bareng rekan bisnis, saat menunggu pemberangkatan kereta api atau pesawat, saat di lift, saat di mobil, cobalah anda renungkan ulang. Bisa juga anda mencari komentar dari orang di sekeliling anda tentang ide tersebut. Tak perlu detail. Yang penting, anda bisa mengira-ira apakah topik tadi cukup menarik perhatian mereka. Jadikan ragam komentar itu sebagai katalisator untuk mempertajam ide tema buku anda!

Saya sendiri selalu mencatat, minimal mengingat-ingat ide tema buku yang terlintas di mana saja atau saat saya melakukan apa saja. Hasilnya? Kini saya memiliki lebih dari 500 ide tema buku yang tertempel di dinding kamar kerja saya. Apa gunanya? Tak jarang judul-judul itu lahir menjadi artikel pendek, kadang sekadar terpakai sebagai variasi judul laporan-laporan di buletin, dan bahkan bisa saling berkaitan dengan judul-judul lainnya sehingga lahir menjadi buku sungguhan. Yang pasti, lahirnya sebuah ide tema atau judul buku pun sanggup memotivasi anda untuk menuliskannya dalam sebentuk buku.

Mulai sekarang, hargailah setiap ide yang terlintas saat anda melakukan pekerjaan, menekuni profesi atau hobi anda, atau saat menemukan pengalaman-pengalaman menarik yang begitu mengesankan. Tuliskan, endapkan, renungkan, dan kembangkan pada saatnya. Jangan terlalu prematur mengadili ide-ide anda sebelum anda memberi kesempatan ide-ide tersebut berkembang cukup matang.[ez]

(Bersambung ke artikel berikutnya: Yang Paling Mudah Ditulis).

* Edy Zaqeus adalah penulis buku-buku best-seller, konsultan penulisan & penerbitan, editor Pembelajar.com, dan trainer di Sekolah Penulis Pembelajar (SPP). Ia juga mendirikan Bornrich Publishing dan Fivestar Publishing yang berhasil menerbitkan sejumlah buku best-seller. Nantikan workshops Edy Zaqeus tentang “Membuat Blog Menjadi Buku”, “Cara Gampang Menerbitkan Buku Sendiri”, dan “Cara Gampang Menulis Buku Best-Seller” pada November-Desember 2007 ini (Info selengkapnya, hubungi SPP di 021-7828044). Edy dapat dihubungi di: https://ezonwriting.wordpress.com atau edzaqeus@gmail.com.