JURUS JITU MENULIS BUKU UNTUK ORANG SIBUK

“Banyak orang yang gagal menjadi pemikir besar hanya karena ingatannya terlalu bagus.”
Friedrich Wilhelm Nietzsche
(Filsuf Jerman)

Segala sesuatu dimulai dari ide. Pada tahap awal hampir semua penulis buku membuat coretan-coretan ide di atas secarik kertas. Jika anda ingin menulis buku, mulailah dengan membuat coretan-coretan seperti ini untuk membuat ide-ide yang berserakan dan abstrak di kepala menjadi suatu rangkaian gagasan konkrit yang siap dikembangkan. Sebelum anda menuliskan ide itu dalam bentuk coretan, butir-butir pemikiran, atau peta ide, maka ide-ide itu belum berwujud. Jadi, langkah pertama yang harus anda lakukan adalah membuat ide abstrak menjadi wujud nyata.

Mungkin saat kita sibuk melakukan sesuatu, tiba-tiba tersembul ide menulis buku tentang topik yang menarik. Bisa saja ide itu muncul berbentuk judul yang provokatif. Semisal seperti yang saya alami saat mendapatkan ide untuk menulis artikel ini. Waktu itu saya sedang sibuk menyelesaikan beberapa tulisan untuk sebuah buletin yang akan tampil dengan format baru. Saat sedang asyik-asyiknya menulis artikel untuk rubrik Self-Development, mendadak muncul pertanyaan bagus seperti ini; bagaimana sih cara orang sibuk bisa menulis buku?

Tiba-tiba, sejenak perhatian saya terseret ke pertanyaan itu. Lalu tanpa diperintah, di kepala ini seperti ada bioskop yang memutar ulang film tentang teman-teman saya atau para profesional dan eksekutif yang ingin sekali menulis buku, tapi menemui banyak hambatan untuk mewujudkannya. Teringat beberapa narasumber penting yang pernah saya wawancarai, yang juga ingin membuat kenang-kenangan berupa buku bagi kolega dan keluarganya. Teringat sejumlah pesohor yang meskipun sangat sibuk toh akhirnya mampu menyusun buku. Juga teringat buku-buku best seller yang ditulis para penyibuk, tetapi sangat produktif dalam menulis judul-judul buku baru.

Hanya dalam hitungan menit, ide itu makin mengkristal melalui proses mengingat-ingat, melamun, membayangkan, dan terus bertanya apa, mengapa, bagaimana, kapan, dan di mana. Tarikan ide tadi begitu kuatnya sehingga saya rela menunda beberapa menit proses menulis artikel sebelumnya, kemudian dengan cepat beralih ke selembar kertas. Lalu saya menulis butir-butir pemikiran kilat tersebut dalam bentuk kalimat-kalimat pendek. Isinya, pertanyaan-pertanyaan (rumusan masalah), fakta-fakta di lapangan, asumsi-asumsi awal, bayangan pemecahan masalah, serta contoh-contoh yang relevan. Begitu muncul di kepala semua langsung saya tulis, tidak beraturan, dan benar-benar hanya merupakan catatan atas kilasan ide dalam bentuk kalimat pendek. Bentuknya belum beraturan, tapi gagasan dasarnya sudah didapatkan.

Usai menyelesaikan pekerjaan sebelumnya, barulah saya fokuskan perhatian pada coretan-coretan tadi. Saya analisis sekilas, mana ide-ide yang saling berdekatan, yang satu mendukung yang mana, apakah yang ini menjadi penghantar yang itu, apa ide ini menjawab permasalahan itu, begitu seterusnya. Ada semacam proses saling mengkaitkan ide-ide, mengelompokkannya, mencari sebab akibatnya, mencari benang merah di antara gagasan-gagasan tersebut, dan mencari kesimpulan-kesimpulan atau jawaban sementara. Dari proses inilah saya mampu menghasilkan outline kerangka sebuah buku yang kemudian saya tulis menjadi serial artikel pendek ini. Begitu outline tersusun, saya langung bisa mimilih kira-kira judul-judul artikel mana yang akan saya tulis lebih dulu.

Dari pemaparan di atas, hal terpenting dalam proses awal menulis buku adalah membuat ide abstrak di kepala menjadi bentuk kongkrit di atas kertas atau medium lainnya. Sebaiknya di tahap awal ini anda berkonsenstrasi pada eksplorasi bagian-bagian paling menarik dari ide-ide anda. Cara ini akan membuat anda lebih bergairah dalam menggali gagasan anda sendiri. Berikutnya, anda harus segera mendapatkan garis besar dari ide-ide tersebut, mendapatkan pemahaman yang utuh, dan kemudian memikirkan detail pointers-nya (butir-butir pemikiran).

Melihat kesibukan anda dan terbatasnya waktu luang, maka begitu anda mendapatkan ide tema buku, anda harus segera menuliskannya. Secara psikologis ini menguatkan anda, karena anda akan langsung melihat hasil olah pikir tadi. Sebagian penulis memang memiliki kemampuan mengingat ide-ide dengan sangat bagus, tapi saya menganjurkan supaya anda memiliki kebiasaan menuliskan ide begitu ide-ide mengalir deras. Selain untuk mempertahankan kondisi flow, ini memperkecil risiko ide terbaik anda menguap begitu saja.

Jika anda tergolong orang yang suka menggunakan otak kanan, lebih tertantang oleh hal-hal visual, anda tidak perlu membuat pointers dalam bentuk kalimat-kalimat. Tapi cukup dengan peta ide atau peta pemikiran seperti dicontohkan dalam buku-buku mengenai sistem kerja otak karangan Tony Buzan. Anda cukup menuliskan butir-butir ide anda dalam bentuk kata-kata inti, yang kemudian anda hubung-hubungkan dengan kata-kata inti lainnya, membentuk sebuah gambaran pemikiran yang saling terkait dan komprehensif.

Peta ide ini bukan saja berfungsi untuk merekam ide-ide anda, namun juga bisa difungsikan sebagai metode untuk mengeksplorasi ide-ide, untuk menggambarkan logika atau alur berpikir, menemukan keterkaitan antar ide, menemukan hubungan sebab akibat, dan tentu saja sebagai model yang mudah sekali diingat. Peta ide ini juga bisa dipakai sebagai pijakan membuat outline buku anda.

Nah, bagaimana membuat outline yang baik? Mudah sekali dan banyak contohnya. Buka saja daftar isi buku-buku yang bagus dan cukup detail, itulah outline dalam bentuk yang sangat sederhana. Sebenarnya, jika anda sudah memiliki ide tema buku yang akan digarap, dan tahu bentuk buku apa yang anda inginkan, menyusun outline pun akan terasa lebih mudah.

Saya sendiri menyukai outline yang langsung bisa menggambarkan apa masalahnya, bagaimana pendekatannya, bagaimana analisis datanya, dan apa saja solusinya. Awalnya ada masalah sebagai pengantar, ada batang tubuh sebagai ruang penyajian analisis atas data, dan ada bagian penutup berupa solusi yang anda tawarkan. Nah, logika yang sama juga bisa anda terapkan dalam setiap isi bab. Sesederhana itulah!

Outline yang baik harus bisa membantu membimbing anda menjabarkan pikiran-pikiran anda dan mudah dikembangkan menjadi tulisan yang utuh. Pada tahap awal penyusunan outline, kadang orang ingin membuatnya menjadi sedemikian lengkap. Akibatnya, bukannya outline menjadi detail, tapi malah melebar permasalahannya dan terlalu luas cakupannya. Jika ini merupakan pengalaman pertama anda, hati-hati dengan obsesi membuat buku yang super lengkap. Anda bisa sangat terbebani oleh outline yang terlalu luas cakupannya.

Sebab itu, bijaksana jika anda cukup membuat outline sederhana namun detail. Kalau pun belum bisa detail pada kesempatan pertama, tak usah berkecil hati. Saat anda mulai menggali bahan-bahan tulisan atau menuliskan bab demi bab nantinya, sangat mungkin ide-ide pelengkap akan bermunculan, termasuk ide pelengkap outline. Jadi, mulailah membuat outline sekarang juga![ez]

(Bersambung ke artikel berikutnya: Ingin Mudah, Rekam! )

* Edy Zaqeus adalah penulis buku-buku best-seller, konsultan penulisan & penerbitan, editor Pembelajar.com, dan trainer di Sekolah Penulis Pembelajar (SPP). Ia juga mendirikan Bornrich Publishing dan Fivestar Publishing yang berhasil menerbitkan sejumlah buku best-seller. Nantikan workshops Edy Zaqeus tentang “Membuat Blog Menjadi Buku”, “Cara Gampang Menerbitkan Buku Sendiri”, dan “Cara Gampang Menulis Buku Best-Seller” pada November-Desember 2007 ini (Info selengkapnya, hubungi SPP di 021-7828044). Edy dapat dihubungi di: https://ezonwriting.wordpress.com atau edzaqeus@gmail.com.