JURUS JITU MENULIS BUKU UNTUK ORANG SIBUK

“Percakapan memiliki sejenis pesona. Sesuatu yang tidak langsung dan terpendam yang memancarkan rahasia, tepat seperti cinta atau minuman keras.”
Lucius Annaeus Seneca
(Pengarang Romawi)

Anand Krisna patut dicontoh. Sebelumnya tidak ada pikiran dibenaknya untuk menjadi penulis yang begitu produktif menghasilkan karya-karya spiritualis. Puluhan bukunya diawali dari transkrip atas rekaman ceramah-ceramahnya. Semula transkrip ceramah-ceramah itu diterbitkan sebagai buku dalam bahasa Inggris dan khusus untuk kalangan peminat saja. Ternyata ada yang melirik potensi tulisan Anand dan mengusulkan supaya diterbitkan dalam bahasa Indonesia. Di luar dugaan, buku pertama Anand berjudul Kehidupan (1997) disambut hangat oleh pasar. Maka, mulailah Anand tersadar bahwa ceramah-ceramahnya memiliki kekuatan sebagai buku. Sejak itu, mengalirlah buku-buku Anand dan hampir semuanya disambut baik oleh pasar.

Memang, jika anda tidak ingin kehilangan ide, alat perekam akan sangat membantu, terutama sekali untuk menampung ide-ide yang muncul sekilas atau kalau kita terbiasa lancar berolah gagasan secara verbal.

Orang-orang tertentu memiliki kemampuan wicara (public speaking) yang sangat bagus. Alur berpkirnya logis dan runtut, argumen-ergumennya mendalam, contoh-contohnya menyegarkan, intonasinya antusias dan memotivasi orang lain, dan gaya bahasanya mudah dimengerti orang awam. Namun, tak jarang orang seperti ini mempunyai kesulitan menuliskan gagasannya. Di sinilah teknik merekam pembicaraan sangat membantu dalam menyediakan bahan mentah tulisan.

Bisa jadi, menulis memang pekerjaan paling sulit dan asing bagi anda. Tapi dengan merekam pembicaraan, bahan baku tulisan akan tersedia dengan sangat cepat dan mudah. Keistimewaan dari teknik ini adalah kesempatan bagi anda untuk menuangkan gaya bicara ke dalam tulisan. Jika gaya bahasa anda puitis, maka gaya penulisan anda pun bisa dengan mudah mengikutinya. Begitu pula jika gaya bicara anda sangat kuat di sisi argumentasi, maka tulisan-tulisan anda akan penuh dengan paparan-paparan berdasar alur logika yang kuat dan argumentatif. Hal yang sama juga bisa terwujud untuk gaya bicara yang persuasif dan naratif.

Jadi jurus yang satu ini sederhana sekali. Ungkapkan setiap jengkal ide anda, lalu uraikan butir-butir ide tersebut dalam bentuk pemaparan, argumentasi, analisis sebab akibat, atau eksplanasi, lalu rekamlah! Gunakan pertanyaan-pertanyaan sebagai stimulator jawaban-jawaban anda. Dan anda pun tak perlu kaget kalau nantinya mendapati betapa kayanya khasanah pemikiran anda. Lihat saja setelah hasil rekaman itu ditranskrip.

Hal prinsip dari teknik ini adalah mencegah gagasan-gagasan terbaik anda hilang begitu saja. Topik-topik ceramah atau pembicaraan tertentu lebih bagus jika bisa direkam. Semisal anda adalah seorang pembicara publik yang sering mengisi berbagai seminar. Mungkin anda sering mengalami bahwa saat anda presentasi anda mampu berimprovisasi dengan melahirkan pesan-pesan segar di luar bahan yang telah dipersiapkan. Tak sedikit improvisasi-improvisasi itu berisi ilham bernas atau gagasan brilian yang seolah datang begitu saja dari negeri antah berantah. Bagaimana supaya ide-ide tadi tidak hilang? Rekam seminar anda.

Rekaman pembicaraan anda bisa menjadi sumber mentah tulisan. Asal, isinya bukan sekadar pengulangan dari materi-materi sebelumnya. Yang menarik, tak jarang buku-buku bagus lahir dari gagasan-gagasan yang tereksplorasi melalui aktivitas seperti pidato, ceramah, atau kotbah-kotbah keagamaan. Kadang dilakukan pengolahan yang memadai, kadang hanya hasil transkrip semata lalu dibukukan.

Jadi mulai sekarang, sudah saatnya anda selalu ditemani oleh sebuah alat perekam. Saat presentasi bisnis, berdiskusi, brainstorming, menjadi pembicara di seminar, pidato, kampanye, talk show di televisi, diwawancarai wartawan, atau debat calon presiden sekalipun, jangan lupa merekamnya. Setiap event tersebut merupakan peluang untuk menguji gagasan-gagasan anda, mendapatkan feedback, sekaligus membuka kemungkinan datangnya ide-ide baru. Setiap butir-butir pikiran yang berhasil keluar melalui aneka forum tersebut merupakan bahan-bahan terbaik dari buku anda.

Bukan melulu merekam pembicaraan di depan umum. Silahkan mencoba berpidato, mendongeng, presentasi, atau berdebat dengan diri sendiri di depan cermin sambil direkam. Jika kemampuan wicara anda sangat hebat, anda punya bahan mentah yang komprehensif, mudah diorganisasikan, dan mudah dijabarkan. Jika penampilan anda biasa-biasa saja, dan jangan berkecil hati, maka minimal anda mendapatkan butir-butir pemikiran (pointers) dari praktek semacam itu.

Berikutnya, putar ulang hasil-hasil rekaman anda. Dengarkan dan cari benang merahnya. Dari proses ini saja anda berpeluang menemukan inspirasi baru yang mungkin bermanfaat untuk mempertajam ide besar anda. Materi rekaman tadi harus ditranskrip, dan ini bisa makan waktu. Minta bantuan sekretaris anda untuk menyediakan hasil transkripnya.

Hasil transkrip seperti ini umumnya berisi konsep awal atau gagasan-gagasan mentah yang berserakan. Di sinilah anda dituntut untuk mampu mengorganisasikan konsep dan gagasan tersebut menjadi sebuah alur pemikiran yang logis dan terstruktur. Jika anda sudah memiliki outline atau peta ide, jadikanlah itu sebagai dasar pengorganisasiannya. Outline ini akan mempermudah anda menyusun bangunan pemikiran ke dalam bab-bab yang sudah anda rencanakan.

Mari kembali kepada kisah produktivitas Anand Krishna. Apa yang membuatnya mampu menulis hingga lebih dari 40 buku spiritualitas? Pada mulanya, Anand rajin diminta mengajarkan meditasi dan memberi ceramah mengenai spiritualitas oleh orang-orang asing di Jakarta. Kebetulan ada seorang perempuan asal Amerika yang rajin merekam ceramah-ceramah Anand. Ketika si perempuan itu pulang ke negaranya tahun 1994, ia menyerahkan semua rekaman itu ke Anand dan meminta supaya ceramahnya dibukukan. Kemudian ceramah itu ditranskrip, diedit seperlunya, dan akhirnya jadilah buku-buku Anand yang digemari masyarakat. Setidaknya, lima buku pertama Anand adalah hasil transkrip dari ceramah-ceramahnya pada tahun 1992-1997.

Penggunaan teknik rekam ini sangat bagus untuk menangkap ritme pembicaraan, dialek, gaya bahasa, intonasi, dan suasana atau emosi pembicaraan. Nantinya, anda bisa dengan detail menggambarkan ekspresi sedih dan gembira seseorang, bahkan menulis dengan menggunakan emosi yang mendalam. Dengan teknik ini, seorang penulis fiksi pemula bisa sangat terbantu saat mengeksplorasi karakter tokoh-tokohnya.

Nah, gampang bukan menggali ide sendiri? Mulai sekarang, jangan biarkan ide-ide anda berkelebat tak terarah. Rekamlah dan dapatkan bahan-bahan tulisan yang kaya dan tak ternilai harganya.[ez]

(Bersambung ke artikel: Menggali dengan Teknik Wawancara)

* Edy Zaqeus adalah penulis buku-buku best-seller, konsultan penulisan & penerbitan, editor Pembelajar.com, dan trainer di Sekolah Penulis Pembelajar (SPP). Ia juga mendirikan Bornrich Publishing dan Fivestar Publishing yang berhasil menerbitkan sejumlah buku best-seller. Nantikan workshops Edy Zaqeus tentang “Membuat Blog Menjadi Buku”, “Cara Gampang Menerbitkan Buku Sendiri”, dan “Cara Gampang Menulis Buku Best-Seller” pada November-Desember 2007 ini (Info selengkapnya, hubungi SPP di 021-7828044). Edy dapat dihubungi di: https://ezonwriting.wordpress.com atau edzaqeus@gmail.com.