18 Juli 2006 – 06:52 (Diposting oleh: Editor)
Seri Artikel Write & Grow Rich

Bagi para penulis pemula, tampaknya masih sering terjadi kebingungan, apa yang harus dilakukan terhadap naskah buku yang sudah jadi? Walau tampak sepele, tetapi kebingungan atau ketidak tahuan langkah berikut setelah naskah rampung ditulis, sering menjadikan begitu banyak naskah hanya tersimpan rapi di rak atau dilaci penulisnya. Kasus seperti ini beberapa kali saya jumpai. Alasannya bisa bermacam-macam, ada yang tidak tahu harus dikemanakan, tidak tahu memilih penerbit yang cocok, atau merasa tidak percaya diri (PD) untuk mengirimkan naskahnya ke penerbit.

Tapi sebelum membahas soal bagaimana cara mencari dan memilih penerbit, lebih dulu akan saya bahas soal naskahnya itu sendiri. Sebab, ada jenis naskah buku yang sudah seratus persen rampung dan komplit, ada yang baru sebagian dan tidak komplit. Nah, naskah yang sudah rampung dan komplit tentunya sudah dilengkapi dengan semua syarat yang menjadikan naskah tersebut layak disebut draft buku. Syarat itu adalah: memiliki judul (dan sub judul bila perlu), pendahuluan, daftar isi, bab-bab isi, penutup atau kesimpulan, profil penulis, daftar pustaka, dan lampiran-lampiran.

Selain itu, naskah yang sudah rampung dan komplit itu adalah naskah yang sudah diedit dengan baik. Dalam pengertian paling minimal, naskah sebisa mungkin sudah bebas dari kesalahan-kesalahan ketik atau kesalahan EYD. Saya masih sering melihat naskah-naskah yang dikirim ke penerbit mengabaikan soal ini sehingga tak jarang naskah yang bagus sekalipun kadang harus kembali sekali dua kali dulu ke penulisnya supaya diperbaiki. Apalagi kalau ada kesalahan-kesalahan substansial atau dari struktur kalimat dan bahasa.

Beberapa buku juga membutuhkan kelengkapan seperti ilustrasi, grafik atau tabel, foto-foto, dll. Tak sedikit pula penulis-penulis kreatif yang juga menyertakan ide kaver atau lay out bukunya, sekalipun itu tidak wajib. Sementara belakangan ini, hampir semua naskah buku yang menarik diimbuhi dengan kata pengantar dan/atau endorsement dari sejumlah tokoh yang punya nama. Kita bahas tuntas soal ini dalam artikel lainnya.

Naskah yang belum rampung atau tidak komplit pastinya ya bab-bab yang ditulis belum selesai serta tidak memiliki kelengkapan sebagaimana saya sebutkan di atas. Dari pengamatan dan praktik di lapangan, saya menganjurkan supaya setiap penulis melengkapi terlebih dahulu semua materinya sebelum menghubungi penerbit. Cara ini akan mempermudah kerja penerbit dan mempercepat proses penerimaan atau penerbitan naskah menjadi buku. Bayangkan, betapa merepotkannya kalau kita harus bolak-balik melengkapi kekurangan-kekurangan kecil naskah kita, sementara kita sangat sibuk dengan kegiatan sehari-hari.

Memang, praktik di luar negeri misalnya, khususnya untuk buku-buku fiksi, seorang penulis bisa saja hanya menyerahkan outline, satu atau dua bab tulisan, dan kemudian menghubungi penerbit melalui agen. Jika penerbit berminat, si penulis pun akan diikat kontrak untuk proses penulisan dan penerbitan buku tersebut. Hanya saja, cara ini kurang umum di Indonesia karena penerbit-penerbit di sini lebih menyukai naskah jadi. Mengapa, karena berurusan dengan naskah yang belum jadi sering menyita waktu dan penuh ketidakpastian. Pasalnya, siapa sih yang bisa mengukur konsistensi mood seorang penulis?

Nah, kembali kepada soal kelengkapan naskah buku kita. Naskah yang baik pasti sudah memenuhi kelengkapan untuk diajukan ke penerbit. Oleh sebab itu, ada baiknya kita periksa sekali lagi apakah naskah kita sudah rampung dan lengkap. Jika sudah, maka langkah berikutnya adalah mempersiapkan materi yang hendak di bawa ke penerbit. Soal cara menghubungi penerbit akan kita bahas pada artikel berikutnya. Tetapi untuk persiapannya, maka kita bisa siapkan beberap hal berikut ini:

Pertama, setelah naskah jadi dan semuanya lengkap, siapkan minimal satu print out naskahnya dan satu lagi kopinya untuk kita pegang sendiri. Kopi naskah print out itulah yang nantinya kita kirim ke penerbit atau editor yang kita hubungi.

Kedua, siapkan pula soft file (format MS Word), yaitu CD atau disket yang berisi naskah buku kita. Sekalipun soft file ini tidak langsung dikirimkan ke penerbit, ini bisa kita siapkan sebelum menghubungi penerbit. Maksudnya, jika sewaktu-waktu penerbit memintanya, kita sudah siap dan tidak buang-buang waktu untuk menyiapkannya. Selain itu, file naskah ini menjadi arsip penting yang harus kita amankan.

Ketiga, siapkan pula soft file dalam format PDF (jika perlu). File PDF ini bisa disetel sedemikian rupa sehingga aman dan tidak bisa diutak-atik oleh tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab. Sebab, kita bisa memberikan password untuk naskah tersebut dan membuatnya tidak bisa diekstrak atau dikopi. Untungnya, cukup dengan soft file semacam ini, beberapa penerbit dan editor bersedia memberikan penilaian awal naskah buku kita. Bahkan dalam banyak kasus, naskah buku kita secara prinsip sudah bisa disetujui untuk diterbitkan kalau dalam penilian lewat soft file ini sudah oke.

Nah, satu catatan penting yang harus diperhatikan oleh setiap penulis adalah supaya tidak sekali-kali melepaskan naskahnya ke orang lain (teman, editor, atau penerbit), tanpa menyertakan data diri, nomor kontak dan alamat kita. Naskah yang tidak mencantumkan data diri penulisnya sama seperti naskah yang “tidak bertuan”. Keteledoran penulis buku seperti ini kadang bisa menyakitkan akibatnya. Masalahnya, penerbit atau editor tidak bisa mengolah naskah yang tidak bertuan ini, sehingga hanya keranjang sampah yang mau menampungnya.

Tapi yang lebih membahayakan adalah adanya tangan-tangan jahil yang ingin memanfaatkan naskah tak bertuan tersebut. Bisa saja, ada orang yang tidak bertanggung jawab yang kemudian menerbitkan naskah tersebut dengan nama pengarang lainnya atau bahkan fiktif. Sekalipun kasus seperti ini agak jarang, namun kasus seperti ini beberapa kali terjadi dan umumnya menimpa penulis-penulis baru yang teledor serta rendah bargaining position-nya.

Beberapa penulis agak kurang menghargai karyanya sendiri dengan bertindak asal-asalan. Saya mengkhawatirkan sikap seperti ini karena tanpa disadari yang bersangkutan, sikap itu bisa merugikan dirinya dan proses kreatifnya. Menurut saya, setiap naskah yang kita hasilkan itu ada harga dan maknanya sendiri. Siapa tahu, bisa jadi naskah yang kita anggap sepele itu ternyata dianggap luar biasa dan punya prospek tersendiri di mata penerbit. Jika itu yang terjadi, maka naskah kita bisa menjadi breakthrough factor bagi kehidupan kita. Jadi, jangan teledor dengan naskah kita.[]

* Edy Zaqeus adalah penulis buku-buku best-seller, konsultan penulisan & penerbitan, editor Pembelajar.com, dan trainer di Sekolah Penulis Pembelajar (SPP). Ia juga mendirikan Bornrich Publishing dan Fivestar Publishing yang berhasil menerbitkan sejumlah buku best-seller. Nantikan workshops Edy Zaqeus tentang “Membuat Blog Menjadi Buku”, “Cara Gampang Menerbitkan Buku Sendiri”, dan “Cara Gampang Menulis Buku Best-Seller” pada November-Desember 2007 ini (Info selengkapnya, hubungi SPP di 021-7828044). Edy dapat dihubungi di: https://ezonwriting.wordpress.com atau edzaqeus@gmail.com.