01 Agustus 2006 – 06:00 (Diposting oleh: Editor)
Seri Artikel Write & Grow Rich

Bagaimana memilih dan menguhubungi penerbit merupakan salah satu pertanyaan yang paling banyak ditanyakan oleh member milis Penulis Best Seller (penulisbestseller@yahoogroups.com) yang saya asuh bersama sejumlah penulis. Perkara memilih dan menghubungi penerbit ini sering menjadi problem tersendiri, terutama bagi penulis buku pemula. Memang, walau tampak sepele, masalah ini kadang juga membebani sejumlah penulis senior sekalipun. Problemnya bukan sekadar soal diterima atau tidak diterimanya naskah mereka, tetapi lebih pada urusan setelah kontrak perjanjian penerbitan ditandatangani dan ada sejumlah masalah di sana.

Namun untuk melokalisir pembahasan, artikel ini akan fokus pada cara memilih dan menguhubungi penerbit saja. Ada beberapa hal yang bisa dijadikan acuan untuk menentukan pilihan penerbit, di antaranya adalah:

Pertama, image atau brand. Kalau image atau brand penerbit menjadi pertimbangan utama untuk mengepaskan positioning karya kita, maka pilihan agak terbatas. Dalam artian, kita harus memilih penerbit-penerbit mapan yang sudah punya nama besar. Contoh, jika karya kita membidik segmen kelas bisnis atau menengah ke atas, maka penerbit-penerbit yang punya tipikal produk seperti itulah yang harus kita bidik. Alhasil, kita harus memilih penerbit-penerbit mapan semacam Gramedia Pustaka Utama, Kanisius, Elex Media Komputindo, Buana Ilmu Populer, Mizan, Grasindo, Gema Insani Pers, Andi Offset, GagasMedia, dll. Sebab, pertimbangannya adalah representasi citra karya kita.

Problemnya, penerbit-penerbit mapan memiliki sistem kerja yang sudah baku, sehingga waktu sering menjadi kendala bagi sebagian penulis yang ingin karyanya cepat diterbitkan. Perkiraan saya, mulai dari menghubungi penerbit, mengatur pertemuan dan negosiasi, penandatanganan kontrak penerbitan buku, sampai buku itu terbit dan beredar di pasaran, bisa memakan waktu secepat-cepatnya antara tiga hingga enam bulan. Sulit untuk bisa memaksa penerbit besar memproduksi buku lebih cepat dari itu, kecuali untuk kasus-kasus yang amat spesifik dan pertimbangan subyektif penerbit.

Kedua, kecepatan. Apabila kecepatan proses menjadi alasan utama, maka memanfaatkan kelincahan penerbit kecil atau independen bisa jadi alternatif. Karena faktor modal, volume produksi dari penerbit kecil dan independen biasanya tidak besar. Itu sebabnya mereka mampu memproses buku hanya dalam waktu sebulan hingga dua bulan. Terlebih bila naskah kita benar-benar sudah komplit dan secara teknis tidak sulit untuk diproses, kadang malah bisa terbit lebih cepat lagi. Hanya saja, mengingat sifat penerbit kecil atau independen juga terbatas modal maupun kapasitas produksinya, maka hukum prioritas juga tetap berlaku di sini.

Ketiga, soal bonafiditas penerbit. Penerbit-penerbit mapan mempunyai kelebihan dalam hal sistem yang sudah baku, sehingga segala hal yang diatur dalam kontrak perjanjian dan menjadi ikatan hukum akan diikuti dengan baik. Dalam beberapa kasus, kejelasan perikatan hukum ini tidak terdapat pada sejumlah penerbit kecil dan independen. Akibatnya, masalah muncul ketika buku sudah diterbitkan, tapi soal pembayaran royalti, jumlah cetakan, serta jumlah buku yang laku tidaklah transparan. Biasanya, ini akibat lemahnya manajemen penerbitan kecil dan independen sehingga penulislah yang dirugikan. Namun, kasus semacam bisa juga terjadi pada penerbit mapan karena soal-soal yang sifatnya human error atau kemandekan komunikasi.

Lalu bagaimana menemukan alamat penerbit? Mudah sekali. Kita bisa berkunjung ke toko-toko buku, kemudian buka saja buku-buku contoh yang tersedia. Dalam setiap buku selalu dicantumkan alamat dan kontak penerbit. Kita tinggal pilih mana yang cocok, tentunya dengan berbagai pertimbangan di atas. Yang pasti, dari buku-buku contoh tersebut kita sudah bisa mengetahui karakteristik penerbitnya. Misalnya, jenis dan tema buku apa saja yang bisa mereka terbitkan. Dari pengenalan karakteristik ini, kita bisa menghindari kesalahan kirim naskah.

Cara yang hampir sama, silakan mendatangi ekspo-ekspo atau pameran-pameran buku yang rutin diselenggarakan oleh IKAPI maupun perkumpulan komunitas perbukuan lainnya. Pada event itulah berkumpul puluhan bahkan ratusan penerbit dari berbagai jenis konsentrasi usaha. Ada penerbit yang konsentrasi usahanya pada buku agama, buku anak-anak, buku bisnis, buku sastra, buku pelajaran, buku kamus, ensiklopedi, bahkan buku-buku alternatif, dan masih banyak lagi. Selain dapat langsung mengetahui jenis-jenis buku yang mereka terbitkan, kita juga mudah sekali mendapatkan contact person yang nantinya bisa dihubungi jika kita ingin menawarkan naskah. Tak jarang para editor mereka juga sudah siap menjelaskan berbagai prosedur penerimaan naskah dan proses penerbitan buku umumnya.

Sejumlah penulis juga berani melelang naskahnya di milis-milis perbukuan. Mereka mengajukan penawaran naskah melalui milis dengan cara memposting sinopsis atau keterangan singkat mengenai naskahnya. Selanjutnya, para penulis itu mengundang penerbit mana saja yang berminat untuk menghubungi mereka. Jika ada yang berminat, penulis biasanya mengirimkan beberapa bab naskah, sistematika, atau sekadar abstraksi yang menggambarkan isi naskahnya. Entah efektif atau tidak cara-cara seperti ini, yang pasti cara ini bisa jadi salah satu alternatif. Asalkan, seperti yang saya bahas dalam artikel sebelumnya, kita sebagai penulis harus mampu mengamankan dulu naskah kita.

Nah, dalam hal penerimaan naskah, penerbit-penerbit mapan umumnya masih mensyaratkan prosedur formal. Mizan misalnya, sampai pernah mengeluarkan sebuah buklet tentang prosedur pengiriman naskah yang menjelaskan detail perlengkapan naskah yang harus dipenuhi sebelum dikirim. Penerbit Kharisma maupun Kanisius, kalau tidak salah, juga memiliki panduan tersendiri soal ini. Dan penerbit Gramedia Pustaka Utama (Gramedia.com) malah menyediakan panduan penerimaan naskah berupa artikel yang ditulis sendiri oleh Wandi S. Brata (Manajer Produksi GPU).

Namun, prosedur pengiriman naskah di penerbit mapan umumnya juga tidak terlalu rumit. Kita cukup mengirimkan 1-2 kopi naskah cetak, disertai surat pengantar yang menjelaskan posisi naskah kita, dan kemudian tinggal menunggu kontak dari penerbit, atau kita sendiri yang ambil inisiatif mengontak mereka. Apabila penerbit berminat, mereka akan undang kita untuk presentasi dan membicarakan penandatangan kontrak. Bagi kita yang di luar kota, biasanya ada surat-menyurat, mulai dari pemberitahuan naskah akan diterbitkan sampai penandatangan kontrak.

Dari beberapa kali memfasilitasi penulis (klienn saya) presentasi di depan editor sejumlah penerbit, maka metode presentasi langsung memang lebih meyakinkan. Dalam artian, kita bisa secara langsung menyampaikan semua kelebihan dan potensi naskah kita kepada editor, hal mana bisa saja tidak akan ter-cover bila hanya mengandalkan penjelasan tertulis.

Kalau penerbit-penerbit kecil atau independen, prosedurnya lebih informal. Mereka tidak keberatan bila kita cukup mengirimkan soft copy naskah melalui email. Kadang kita kontak langsung melalui telepon dan memberitahukan garis besar naskah kita juga bisa. Biasanya, cara kontak langsung ini akan disambung dengan pengiriman naskah via email sebagai penentuan apakah naskah bisa diterbitkan atau tidak. Berikutnya penerbit akan meminta kelengkapan naskah serta draft kontrak penerbitan buku.

Saat ini, sejumlah editor penerbit besar juga mulai lebih fleksibel dengan cara-cara seperti itu. Bahkan, seperti saya singgung dalam artikel “Eranya Penerbit Memburu Penulis”, tak sedikit editor senior dari penerbit-penerbit mapan yang aktif menghubungi, menjalin relasi, mencari naskah, atau malah memesan naskah dari para tokoh maupun penulis potensial. Saat ini, semua editor berlomba-lomba mendapatkan naskah bermutu dan berprospek bagus di pasar.

Berapa lama penerbit akan merespon kiriman naskah kita? Tidak ada standar pasti, namun bisa berkisar antara dua minggu hingga dua bulan. Kadang ada yang lebih lama lagi. Apabila kita mengenal editor sebuah penerbit, prosesnya bisa lebih cepat. Respon pertama biasanya soal pemberitahuan bahwa naskah diterima dan nantinya akan diterbitkan. Berikutnya adalah tahap penandatanganan kontrak penerbitan buku yang bisa dilakukan dengan pertemuan langsung atau melalui korespondensi. Setelah itu, penulis memasuki masa-masa menunggu giliran naskahnya diterbitkan dan bukunya beredar di toko-toko buku.

Ada sebuah kasus yang terungkap di milis Penulis Best Seller, yang mana seorang rekan yang bekerja di Hongkong dan bukunya dijanjikan akan diterbitkan oleh sebuah penerbit di Jawa Timur. Rupanya, si penulis ini tidak mendapat kejelasan kapan bukunya akan diterbitkan sekalipun dia sudah menyerahkan naskahnya. Dia bahkan sudah punya kesan bahwa penerbitnya sengaja menggantung naskahnya. Akibatnya, dia resah apakah akan tetap menunggu atau menawarkan naskahnya ke penerbit lain. Pasalnya, si editor sudah wanti-wanti supaya naskah itu tidak dibuka atau dikirimkan ke pihak lain.

Terhadap masalah ini saya tekankan kepada rekan-rekan penulis bahwa apa yang membatasi gerak kita adalah kontrak perjanjian penerbitan. Apabila naskah yang kita kirim ke penerbit itu belum diikat dalam sebuah kontrak perjanjian (kita akan bahas lebih lanjut dalam artikel lainnya), maka sebagai penulis kita masih berhak penuh untuk berhubungan dengan pihak lain. Memang, etikanya kalau kita sudah bersepakat secara lisan atau tertulis (namun belum tandatangan kontrak), sebaiknya kita tidak ‘main mata’ dengan pihak lain. Tapi apabila penerbit sendiri bersikap tidak jelas dan tidak segera melanjutkan proses ke penandatanganan perjanjian, si penulis berhak untuk pindah haluan. Tentu saja, kepindahan ini pun akan lebih baik kalau dikomunikasikan supaya tidak menimbulkan kesalahpahaman nantinya.(ez)

* Edy Zaqeus adalah penulis buku-buku best-seller, konsultan penulisan & penerbitan, editor Pembelajar.com, dan trainer di Sekolah Penulis Pembelajar (SPP). Ia juga mendirikan Bornrich Publishing dan Fivestar Publishing yang berhasil menerbitkan sejumlah buku best-seller. Nantikan workshops Edy Zaqeus tentang “Membuat Blog Menjadi Buku”, “Cara Gampang Menerbitkan Buku Sendiri”, dan “Cara Gampang Menulis Buku Best-Seller” pada November-Desember 2007 ini (Info selengkapnya, hubungi SPP di 021-7828044). Edy dapat dihubungi di: https://ezonwriting.wordpress.com atau edzaqeus@gmail.com.