02 Oktober 2006 – 10:24 (Diposting oleh: Editor)
Seri Artikel Write & Grow Rich

Seperti yang saya janjikan dalam artikel sebelumnya, kali ini saya akan membahas dua judul buku yang menurut saya sangat berhasil dalam mengiklankan diri. Buku pertama karya Iip Wijayanto dan yang kedua karya fenomenal Moamar Emka. Bagaimana keduanya mampu merumuskan judul buku yang akhirnya mendongkrak karya mereka jadi laris manis di pasaran? Apa resep mereka? Berikut pembahasannya.

Salah satu contoh pemilihan judul yang unik dari hasil modifikasi atau pemlesetan adalah buku Kampus Fresh Chicken karya Iip Wijayanto. Buku yang bercerita mengenai fenomena seks bebas di kampus itu sempat menjadi buah bibir dan memang laris manis di pasaran.

Apa yang terlintas dalam benak anda saat pertama membaca atau mendengar judul buku itu? Tepat sekali…! Lucu, nakal, seksi, cerdas, dan unik. Mudah sekali mencari tahu dari mana ide itu berasal. Ya… apalagi kalau bukan dari KFC atau Kentucky Fried Chicken. Pemlesetan ini terbilang cerdas mengingat yang diplesetkan adalah sebuah merek dadang yang begitu terkenal di seluruh dunia. Hampir semua orang mengenal jagonya ayam goreng ini, sehingga plesetannya pun punya peluang untuk dikenal oleh banyak orang.

Lihat kreativitas dan kecerdasan Iip; kata “Kentucky” diganti dengan kata “Kampus”. Jelas, ini langsung menohok ke institusi pendidikan yang selama ini diagung-agungkan tetapi ternyata juga menympan banyak penyakit. Lalu kata “Fried” yang bernuansa “hot” diganti dengan “Fresh” yang bernuansa segarrr…. Keduanya frase itu sama-sama menggambarkan kondisi suatu hidangan. Jika “Fried” menggambarkan paha atau dada goreng yang gurih dan lezat, sementara “Fresh”-nya Iip menggambarkan paha atau dada perempuan-perempuan muda yang masih segar-segar. Berikutnya, kata “Chicken” tetap dipertahankan mengingat orang akan dengan mudah mengasosiasikan kata chicken dengan “ayam-ayam kampus”, julukan untuk mahasiswi-mahasiswi yang—menurut istilah band kenamaan Jamrud—menjalankan “wiraswasta tubuh”.

Modifikasi atau pemlesetan kata-kata semacam itu sebenarnya bukan barang baru. Malah, sesuai dengan domisili Iip di Yogya, hal itu sudah menjadi semacam menu keseharian masyarakat di sana. Gaya plesetan tidak saja hidup di panggung-panggung pertunjukan ketoprak atau lawak, tetapi benar-benar bisa ditemui dalam segala medan perbincangan.

Iip tahu betul karakter masyarakat di sana. Untuk mengangkat isu yang sebenarnya cukup sensitif itu, maka digunakanlah judul yang lucu, akurat, sekaligus cerdas. Alhasil, judul itu tetap “gue banget” di kalangan anak muda sehingga menarik mereka untuk membacanya. Pada saat yang sama, isi buku itu tetap pada misi semula, yaitu menohok fenomena buruk di kampus yang tidak lagi bisa ditutup-tutupi.

Apa yang perlu ditiru dari Iip adalah kejelian, kreativitas, dan keberaniannya dalam memlesetkan merek terkenal untuk sebuah buku yang ringan dan ngepop. Dan, hasilnya tidak mengecewakan. Buku Iip itu laris manis di pasaran dan diperbincangkan oleh banyak orang, baik dari sisi positif maupun negatif. Kebetulan pula saat itu merupakan masa keemasan buku-buku yang temanya bersinggungan dengan masalah seks.

Bagaimana dengan Moamar Emka yang sukses besar dengan Jakarta Undercover-nya? Lain Iip, lain pula Emka yang pandai mengendus kebutuhan masyarakat metropolitan akan bacaan-bacaan yang seksis dan menghibur.

Menurut saya, sukses Emka dengan Jakarta Undercover-nya memang spektakuler. Ini merupakan contoh sukses buku bila ditilik dari semua sudut, termasuk dari sisi judulnya. Dai judulnya saja, Jakarta Undercover langsung membuat orang membayang-bayangkan aneka aktivitas “biru” yang tidak tampak di permukaan Jakarta. Aktivitas-aktivitas yang tersembunyi, yang rahasia, yang tidak terpikirkan oleh banyak orang, yang bikin penasaran, tetapi benar-benar berlangsung dengan begitu intensif.

Judul yang menyiratkan suatu rahasia seperti itu selalu menarik perhatian dan mengundang rasa penasaran. Apalagi yang diangkat adalah isu kehidupan seks bebas yang terjadi di sebuah kota metropolitan seperti Jakarta. Isu atau informasi-informasi yang sensitif sekaligus seksis ini diam-diam sangat diminati oleh segala lapisan masyarakat dengan kadar dan variasinya masing-masing. Yang dipermainkan adalah emosi kita, sehingga kesan-kesan yang hendak ditanamkan terasa begitu mudah membekas di benak kita.

Pendek kata, inilah judul buku yang—disadari atau tidak oleh penulisnya—sangat pas dalam menerapkan prinsip AIDA dalam khasanah perjudulan buku. Pemberitaan media massa, gunjingan dari mulut ke mulut, sudah pasti mengundang perhatian (attention), mampu menarik minat (interest), disusul dengan hasrat yang menggoda untuk sekadar tahu atau bahkan membacanya (desire), dan kemudian diikuti dengan tindakan mencari atau membeli buku tersebut (action).

Sukses Jakarta Undercover jelas bukan sekadar dari judulnya saja. Efek buzz atau gunjingan dari buku yang diceritakan dengan gaya panas ini juga luar biasa. Saat itu, di mana-mana orang membicarakan buku ini, atau lebih tepat lagi membicarakan isinya. Ada yang merasa jijik, ada yang jadi penasaran dan ingin tahu lebih banyak, ada juga yang tersipu-sipu malu karena pernah mengalami apa yang dibeberkan di dalam buku itu.

Saya tak bisa membayangkan apakah jika buku ini diganti judulnya, misalnya menjadi “Remang-remang Malam Jakarta”, “Seks Bebas ala Jakarta”, “Birunya Jakarta”, maka buku itu akan tetap laris. Tetapi judul Jakarta Undercover terasa langsung menohok, lugas, dan deklaratif. Tampaknya, hanya judul itu yang paling pas untuk buku mega best seller yang kabar terakhir sudah menembus cetakan di atas 25 kali.

Kesimpulan saya, judul buku yang sifatnya mengungkap suatu hal yang ditutup-tutupi, dirahasiakan, terlarang, terpendam, tak terdeteksi, atau yang dianggap tabu, dipastikan punya kans besar untuk menyedot perhatian khalayak. Inilah salah satu resep judul pilihan penulis-penulis best seller. Bagaimana dengan judul buku Anda? Salam best seller! [ez]

* Edy Zaqeus adalah penulis buku-buku best-seller, konsultan penulisan & penerbitan, editor Pembelajar.com, dan trainer di Sekolah Penulis Pembelajar (SPP). Ia juga mendirikan Bornrich Publishing dan Fivestar Publishing yang berhasil menerbitkan sejumlah buku best-seller. Nantikan workshops Edy Zaqeus tentang “Membuat Blog Menjadi Buku”, “Cara Gampang Menerbitkan Buku Sendiri”, dan “Cara Gampang Menulis Buku Best-Seller” pada November-Desember 2007 ini (Info selengkapnya, hubungi SPP di 021-7828044). Edy dapat dihubungi di: https://ezonwriting.wordpress.com atau edzaqeus@gmail.com.