01 Pebruari 2007 – 08:24 (Diposting oleh: Editor)
Seri Artikel Write & Grow Rich

Banyak cara untuk mengundang perhatian media massa dalam acara peluncuran buku. Sebut misalnya peluncuran di toko buku, seminar di hotel-hotel berbintang, di kafe-kafe, klub-klub buku, gedung kesenian, atau di kampus-kampus.

Yang paling umum adalah melalui seminar, misalnya seperti yang dilakukan penerbit Elex Media ketika meluncurkan buku best seller internasional Who Move My Cheese beberapa tahun yang lalu. Sejumlah pembicara dan tokoh ternama diundang untuk membahas, seperti Gede Prama, Indra Gunawan, dan Hari Darmawan dari Matahari Group. Dengan berbagai cara dan gayanya masing-masing, semua tokoh tadi menjadi endorser langsung karena memuja-muji buku tersebut. Hasilnya, buku itu memang benar-benar jadi best seller di Indonesia.

Cara yang lebih kreatif dilakukan oleh Dewi Lestari (Dee)—yang sudah menjadi cerita klasik di dunia perbukuan kita—dalam peluncuran novel pertamanya Supernova. Sebagai self-publisher waktu itu, Dee menggandeng sebuah perusahaan event organizer untuk mengadakan serangkaian peluncuran, diskusi buku, penandatanganan, dan penjualan langsung di sejumlah kampus dan komunitas buku. Diskusi melalui internet pun berkembang demikian marak. Tak ayal lagi, baik media serius maupun media-media pop begitu gencar memberitakan novel tersebut. Meskipun novel-novel berikutnya seperti Akar dan Petir tidak segempar novel sebelumnya, tapi keduanya juga jadi novel best seller. Popularitas Dee sebagai selebritis, jelas punya nilai jual tersendiri.

Dan, salah satu peluncuran buku paling kreatif adalah yang dilakukan oleh Tung Desem Waringin dengan bukunya Financial Revolution. Bukan launching buku di toko atau di seminar-seminar, tapi Tung meluncurkan bukunya dengan menenteng poster kaver buku sambil menunggangi kuda di sepanjang Jalan Sudirman, Jakarta. Lebih unik lagi, Tung mengenakan baju ala Pangeran Diponegoro, yaitu dengan jubah dan blankon. Peluncuran unik in diliput lumayan panjang lebar oleh sebuah majalah di Ibu Kota. Dan, peluncuran tersebut melengkapi promosi melalui radio dan iklan di surat kabar besar, sekitar sebulan hingga dua bulan sebelum bukunya beredar di pasaran.

Bukan itu saja. Cara yang ditempuh Tung memang beda dibanding peluncuran buku-buku umumnya, bahkan mungkin yang pertama di Indonesia. Tung bekerjasama dengan penerbitnya menjajal cara pembelian inden. Gimmick-nya, pemesan buku (kira-kira sebulan sebelum buku terbit) akan mendapatkan hadiah menarik berupa dua CD audio book (Financial Revolution dan Sales Magic) serta tiket gratis untuk menghadiri seminarnya. Alhasil, peluncuran yang unik, iklan dan promosi yang intensif, serta tawaran-tawaran hadiahnya, membuat buku Financial Revolution terjual 10.115 eksemplar pada hari pertama peredarannya dan langsung masuk catatan Museum Rekor Indonesia (Muri).

Cerita lain datang dari Paulus Winarto yang meluncurkan bukunya dalam sebuah penerbangan pesawat. Dalam kesempatan itu dia mengadakan sebuah seminar motivasi sekaligus meluncurkan bukunya. Karena kreatif dan baru pertama kali dilakukan, maka prestasinya itu dicatat di Muri.

Satu lagi yang tak boleh dilupakan adalah peluncuran sebuah buku yang dilakukan oleh Dodi Mawardi (editor dan penulis sejumlah buku wirausaha) di atas KRL jurusan Bintaro-Jakarta. Buku yang berisi seribu satu kisah kehidupan di atas kereta api listrik itu diluncurkan dan dijajakan hanya di atas KRL. Jadi, sangat spesial sifatnya. Hebatnya lagi, si penulislah yang meluncurkan dan menjual sendiri bukunya, termasuk menjadi self-publisher.

Memang, tidak banyak penulis buku yang beruntung dibuatkan acara peluncuran buku secara eksklusif oleh penerbit. Pertimbangan-pertimbangan bisnis penerbit berperan dominan di sini, semisal menyangkut kemungkinan buku laris di pasaran, ketersediaan anggaran promosi, atau ada tidaknya sponsor. Jika buku kita diterbitkan oleh penerbit, dan kita yakin buku itu perlu acara peluncuran ke pasar, maka ada baiknya kita mendiskusikan kemungkinan bekerjasama dengan penerbit.

Jika kita menjadi self-publisher dan tidak ada pengalaman dalam penyelenggaraan acara peluncuran buku, ada baiknya kita menggunakan jasa event organizer berpengalaman. Klub-klub buku, kafe, atau forum-forum yang kita kelola sendiri bisa menjadi pilihan. Yang penting, sesuaikan lokasi dan forum dengan target pasar kita. Lebih penting lagi, undang para pembahas yang cakap, peresensi ternama, serta tokoh-tokoh yang bersedia menjadi endorser buku kita. Undang pula para wartawan yang kita kenal dan persiapkan diri untuk wawancara yang mengesankan mereka.

Kalau kita tidak memiliki anggaran untuk peluncuran buku semacam itu, manfaatkan segala macam forum yang relevan dan beraudiens besar. Saya punya pengalaman menarik dengan buku kedua saya Kalau Mau Kaya Ngapain Sekolah!. Waktu itu, saya diundang oleh sebuah perusahaan yang merupakan klien saya untuk meliput acara konferensi mereka. Seorang pembicara publik dan motivator yang sangat saya kenal dengan baik juga hadir di situ. Tahu bahwa saya akan bertemu dengan beberapa orang penting di forum itu, saya bawa beberapa buku sampel dari penerbit. Lalu, saya berikan buku-buku itu secara spesial kepada mereka.

Di luar dugaan, di tengah-tengah acara utama, saya diundang ke panggung oleh COO perusahaan tersebut untuk diperkenalkan ke audiens. Saya juga diberi kesempatan mempromosikan buku saya itu di hadapan ratusan orang. Kesempatan emas di atas panggung yang hanya dalam hitungan detik itu saya manfaatkan betul untuk secara resmi meluncurkan buku saya. Hebatnya lagi, tuan rumah pun ikut menambah bobot promosinya.

Hari itu sangat bersejarah bagi saya. Karena, sekalipun buku itu belum selesai dicetak dan belum beredar, saya sudah dapat pesanan langsung 350 eksemplar. Nah, 350 eksemplar buku pesanan itu akhirnya jatuh ke tangan para sales force berprestasi dari perusahaan klien saya. Asal tahu saja, para sales force itu masing-masing memiliki jaringan atau grup, sehingga gema buku itu pun semakin membahana. Alhasil, langsung atau tidak langsung, penjualan buku di toko-toko pun ikut terdongkrak. Memang tidak terlalu mendapat publisitas di media massa, tapi hasil penjualan di lapangan toh sangat tidak mengecewakan.

Jadi inti pesannya, jika buku kita diterbitkan, cobalah untuk mengadakan book launching, baik atas dukungan penerbit ataupun usaha sendiri. Mengapa, karena tidak semua buku mendapat biaya promosi yang cukup dari penerbit. Dus, tidak semua penerbit mau atau mampu mengadakannya.

Namun, ada banyak cara dan saluran untuk melakukan peluncuran-peluncuran simbolik, sebagaimana saya contohkan di atas. Cara lain, bisa lewat syukuran kecil-kecilan, diluncurkan melalui mailing list, dengan menyebar press realese ke sejumlah media massa, membuat talkshow di radio, mengadakan wawancara dengan media. Bisa juga dengan membuat forum-forum diskusi, seminar, mengumumkannya saat memberikan kuliah atau mengisi sebuah pidato, dll. Semua saluran bisa digunakan sesuai kemampuan kita. Asal ada audiens, di sana kita bisa melakukan peluncuran buku. [ez]

* Edy Zaqeus adalah penulis buku-buku best-seller, konsultan penulisan & penerbitan, editor Pembelajar.com, dan trainer di Sekolah Penulis Pembelajar (SPP). Ia juga mendirikan Bornrich Publishing dan Fivestar Publishing yang berhasil menerbitkan sejumlah buku best-seller. Nantikan workshops Edy Zaqeus tentang “Membuat Blog Menjadi Buku”, “Cara Gampang Menerbitkan Buku Sendiri”, dan “Cara Gampang Menulis Buku Best-Seller” pada November-Desember 2007 ini (Info selengkapnya, hubungi SPP di 021-7828044). Edy dapat dihubungi di: https://ezonwriting.wordpress.com atau edzaqeus@gmail.com.