28 Agustus 2006 – 10:59 (Diposting oleh: Editor)
Seri Artikel Write & Grow Rich

Beberapa waktu lalu kita sudah bahas soal bagaimana mendapatkan endorsement. Kali ini, mari berandai-andai kalau kita sebagai penulis yang dimintai endorsement atau kitalah yang menjadi endorser. Saya sendiri, saat artikel ini ditulis, baru saja mendapat kehormatan memberikan komentar singkat atau endorsement (dua di antaranya kata pengantar) untuk selusin lebih naskah buku. Uniknya, saya dimintai endorsement untuk berbagai jenis naskah, seperti naskah motivasi, bisnis dan manajemen, entrepreneurship, kumpulan puisi, filsafat populer, psikologi, sampai naskah ringan semacam e-journal yang dibukukan.

Sebenarnya, apa sih yang perlu dibahas lagi menyangkut endorsement? Kan, mudah saja memberikan endorsement? Memang memberikan endorsement itu mudah. Kita bisa memberikan endorsement sama seperti kalau memberikan komentar biasa terhadap buku yang kita baca. Tapi mendapatkan manfaat terbesar dari aktivitas memberi endorsement itu yang mungkin belum banyak diketahui para penulis.

Pertama, yang harus kita sadari adalah, endorsement yang kita berikan secara gratis kepada penulis yang meminta kepada kita, sejatinya adalah “iklan” atau “promosi”. Kalau kita memberi endorsement, sadar atau tidak, kita sebenarnya sedang menjadi “tenaga PR” atau bahkan “juru iklan” bagi karya yang kita endorse. Jika dilihat dari sisi kita sebagai endorser, maka aspek pertama endorsement adalah tindakan memberi. Dan jika Anda baca buku Jennie S. Bev (beredar September 2006) yang berjudul Rahasia Sukses Terbesar, dan Anda mau memberi endorsement kepada pemohon, berarti Anda sudah menemukan rahasia sebagaimana dimaksud oleh Jennie dalam buku tersebut.

Kedua, mengapa endorsement buku biasanya diberikan secara gratis, ini karena ada aspek menerima dari sisi kita sebagai endorser. Selain mengiklankan atau mempromosikan karya seseorang melalui komentar positif, sesungguhnya kita juga sedang diiklankan atau dipromosikan oleh buku tersebut. Melalui endorsement itulah akhirnya orang tahu siapa kita dan apa karya kita, dan ini berarti ada fungsi branding i sini. Efek lain, kita sebagai endorser entulah akan dipersepsi sebagai orang yang mampu atau mempunyai kualifikasi tertentu (di bidang kita), sehingga layak dimintai endorsement dan diperhatikan komentarnya. Bukankah endorsement hanya dimintakan kepada orang-orang tertentu saja?

Ketiga, permohonan endorsement kepada kita sejatinya merupakan sebuah pengakuan terhadap keberadaan atau karya kita, apa pun bidang garap yang kita tekuni. Jadi, selain dari sisi iklan atau promosi, endorsement juga merupakan salah satu bentuk penghormatan dari pemohon terhadap calon endorser sebagai sosok yang dianggap memiliki nilai tambah tertentu. Jadi, apabila kita cukup halus rasa, maka tidak ada alasan untuk mengabaikan permohonan endorsement, dari manapun dia berasal.

endorsement atau menjadi endorser bisa mendatangkan manfaat lebih. Terlebih bila kita mampu merumuskan sebuah endorsement yang tidak saja mewakili kepentingan pemohon, tapi juga memberikan nilai tambah bagi kita. Oleh sebab itu, kiat-kiat berikut pantas untuk dipertimbangkan saat merumuskan atau memberikan endorsement: Saya sarikan kiat-kiat ini berdasarkan pengalaman saya saat membantu klien-klien dan para penulis (yang menerbitkan bukunya di Bornrich Publishing) untuk mendapatkan maupun memberikan endorsement.

Pertama, berikan endorsement yang unik dan lain daripada yang lain. Memberikan sembarang komentar itu mudah, tapi membuat komentar yang khas itu tidak gampang. Jadi, jangan ragu-ragu untuk keluar dari model kalimat formal. Sesekali gunakan kalimat-kalimat yang lebih ngepop, cair, dan jangan gunakan kata-kata klise (kecuali pemohon endorsement menghendaki demikian). Semakin unik dan menarik endorsement kita, maka peluang untuk tampil di kaver belakang buku semakin besar pula. Ingat, pemohon endorsement yang cerdas tidak hanya mempertimbangkan nama besar, tapi juga kualitas endorsement-nya.

endorsesement untuk buku saya yang berjudul Resep Cespleng Menulis Buku Best Seller (Gradien, 2005) dan Orang Gajian Bisa Kaya (Bornrich, 2006), saya memberikan sedikit catatan kepada para calon endorser. Bunyinya, “Semakin nyleneh endorsement-nya semakin baik dan saya makin suka.” Catatan ini saya berikan supaya para calon endorser tidak takut-takut merumuskan kalimat yang lebih segar dan kreatif. Hasilnya, saya “digila-gilain” dan dibilang “nyleneh” oleh beberapa endorser. Tapi, dari situ pula, saya juga mendapatkan beberapa endorsement yang sangat menggigit atau sangat kuat dari segi rasa bahasa.

Kedua, jangan lupa memberikan keterangan yang tepat di bawah endorsement kita. Selain nama, kita perlu mencantumkan branding, institusi, dan karya kita. Jika sedang mem-brand diri sebagai motivator atau trainer misalnya, sertakan keterangan tersebut di bawah nama kita. Ingat, branding bukan sekadar keterangan mengenai pekerjaan dan siapa diri kita. Branding adalah upaya untuk mengangkat merek diri kita supaya mendapatkan awareness publik sebagaimana yang kita kehendaki. Contoh: Edy Zaqeus, Editor Pembelajar.com, Penulis Buku Resep Cespleng Menulis Buku Best Seller.

Ketiga, berikan endorsement yang jujur. Artinya, jangan melebih-lebihkan karya yang biasa saja, tapi juga jangan “membuat biasa” karya yang sebenarnya luar biasa (yang beginian biasanya sudah pasti tidak dicantumkan). Memang, kadang ada karya yang terlalu biasa untuk diberi endorsement. Tapi daripada menolak, hanya memberikan endorsement yang biasa-biasa saja, atau malah tidak jujur dengan melebih-lebihkannya, sebaiknya kita mau sedikit berusaha keras menemukan kelebihan atau keunikan naskah tersebut. Sekecil apa pun kelebihan dan keunikan itu, dari sanalah kita berangkat. Lalu dengan sedikit kreativitas, kita pasti bisa merumuskan endorsement yang jujur, sekaligus menaruh hormat pada karya orang lain, sekalipun karyanya memiliki kelemahan.

Keempat, kadang karena alasan kualitas tulisan atau karena ketidakrelevanan temanya, dengan terpaksa kita tidak bisa memberikan endorsement. Bagaimanapun, kita pasti tidak mau jadi “tampak bodoh” atau dianggap mengada-ada karena meng-endorse buku yang memang tidak layak di-endorse. Dalam hal ini, kita bisa menolaknya dengan halus dan bijaksana. Caranya, kita bisa memberikan komentar perbaikan seperlunya atas naskah tersebut, dan menyatakan kemungkinan untuk memberikan endorsement pada karya berikutnya.

Memang ada beberapa penulis yang sangat ketat dan selektif dalam memberikan endorsement. Jika tema buku yang diajukan sedikit saja menyimpang dari bidang garap, kompetensi, atau branding yang sedang mereka kembangkan, maka bisa dipastikan mereka akan menolak permintaan si pemohon endorsement. Ini memang wajar, terlebih untuk tokoh-tokoh penulis yang telah berjuang keras membangun brand mereka, dan tidak mau brand tersebut jadi tidak fokus atau malah kabur gara-gara endorsement yang “salah alamat”. Hal ini sangat bisa dimaklumi.

Tapi, saya sendiri lebih suka mengambil posisi yang moderat. Saya bisa memberikan endorsement kepada hampir semua jenis buku. Apalagi saya diuntungkan oleh profesi saya sebagai publishing consultant dan branding saya sebagai penulis buku best seller. Tentu saja, saya memanfaatkan kiat-kiat di atas dalam hal perumusan endorsement. Dengan cara tersebut, saya tidak terpenjara oleh branding yang saya ciptakan, dus masih bisa memberikan support atau dukungan moril kepada penulis yang karyanya saya endorse.

Hingga detik ini, baru sekali saya menyatakan tidak bisa memberikan endorsement untuk sebuah naskah buku. Alasannya, saya mendapatkan naskah yang kualitas editingnya lemah dan dari segi isi tidak ada yang baru atau kurang mencerminkan semangat judulnya. Sayang sekali memang. Tetapi sebagai calon endorser, kita memang berhak penuh untuk menolak atau memberikan endorsement berdasarkan alasan-alasan yang kuat.

Nah, semoga artikel singkat ini cukup membantu Anda dalam memberikan endorsement. Saya sangat yakin, memberikan endorsement memiliki banyak manfaat bagi endorser. Jadi, ayo ramai-ramai memberikan dukungan bagi karya sahabat-sahabat penulis lainnya. Selamat meng-endorse naskah buku! Salam Best Seller![ez]

* Edy Zaqeus adalah penulis buku-buku best-seller, konsultan penulisan & penerbitan, editor Pembelajar.com, dan trainer di Sekolah Penulis Pembelajar (SPP). Ia juga mendirikan Bornrich Publishing dan Fivestar Publishing yang berhasil menerbitkan sejumlah buku best-seller. Nantikan workshops Edy Zaqeus tentang “Membuat Blog Menjadi Buku”, “Cara Gampang Menerbitkan Buku Sendiri”, dan “Cara Gampang Menulis Buku Best-Seller” pada November-Desember 2007 ini (Info selengkapnya, hubungi SPP di 021-7828044). Edy dapat dihubungi di: https://ezonwriting.wordpress.com atau edzaqeus@gmail.com.