03 Januari 2007 – 06:51 (Diposting oleh: Editor)
Seri Artikel Write & Grow Rich

Dalam karir jurnalistik saya, tak jarang saya temukan tokoh-tokoh atau pribadi yang enggan atau bahkan agak menghindari wartawan. Perilaku ini wajar mengingat adanya pengalaman-pengalaman yang tidak mengenakkan saat berhubungan dengan pers. Semisal, pemelintiran keterangan, wawancara yang memojokkan dan hanya mencari-cari kesalahan, atau yang lebih parah lagi pemerasan oleh wartawan-wartawan gadungan yang tak bertanggung jawab.

Walau begitu, mayoritas yang pernah saya temui adalah para narasumber yang sadar betul akan pentingnya positive public expose sehingga mereka memanfaatkan betul kesempatan wawancara dengan wartawan. Apa yang mereka peroleh dari wawancara itu? Yang utama adalah, peluang menjadi humas, baik bagi institusi maupun diri mereka sendiri.

Sebuah wawancara yang dipersiapkan dengan baik biasanya menghasilkan hasil yang baik pula. Jika kita memperoleh kesempatan diwawancarai oleh wartawan media cetak, televisi, atau wartawan online, kita harus bisa memanfaatkannya dengan sebaik mungkin. Apalagi jika itu merupakan wawancara profil yang eksklusif, bukan wawancara investigatif. Seorang narasumber bisa mengemukakan visi-visi terdalam, gagasan dan pandangannya, serta menyampaikan solusi atas permasalah yang disampaikan. Di sela-sela itu, kesempatan untuk “berpromosi” atau “nge-brand” selalu ada.

Contoh jenis wawancara profil dapat kita temui di harian Kompas,Jawa Pos, Investor Daily, Sinar Harapan, Eksekutif, MARKETING, Prospektif, Kontan, Pengusaha, dll. Untuk televisi, kita bisa dapati dalam banyak acara talkshow. Di sejumlah stasiun radio swasta di Jakarta, tersedia juga acara radio talk yang menarik, seperti yang diadakan oleh Smart FM, Delta FM, 68H, dll. Sementara untuk website, kita dapat temukan seperti di Pembelajar.Com, Tokoh.Com, Islamlib.Com, dan beberapa website lain yang menyediakan rubrik wawancara.

Khusus media online ada kelebihan tersendiri dibanding media lainnya. Hasil wawancara kita dapat terpampang dalam jangka waktu lama. Jika website tersebut ramai pengunjungnya, usia wawancaranya pun lebih panjang dan filenya akan tersimpan di search engine semacam Google atau Yahoo. Berikutnya, sejumlah blogs, mailing list, email pribadi, atau website lainnya juga sangat mungkin ikut-ikutan menampilkan wawancara kita tersebut.

Jika hasil wawancara yang kita lakukan benar-benar menarik, kita bisa menciptakan semacam buzzatau gema di dunia maya. Dampaknya, search result atas nama kita bisa tinggi jumlahnya. Ini berarti, kita sedang membangun merek diri melalui media online. Dan ingat, sejumlah survei sudah mulai menggunakan search result di Google atau Yahoo sebagai indikator popularitas merek diri seseorang. Baru-baru ini dilaporkan, mega bintang pop Britney Spears menduduki ranking tertinggi dalam survei berdasarkan pencarian di mesin pencari online. Menurut Google, setiap hari tak kurang dari 24 ribu pencarian berita atau informasi tentang selebritis kontroversial ini.

Saya sendiri, ketika ingin mengetahui latar belakang calon-calon klien editing saya, atau ingin mengetahui background tokoh yang ingin saya profilkan di website Pembelajar.com, selalu memanfaatkan search results di internet sebagai bahan informasi awal. Bila namanya belum pernah ”kedengaran” di internet, maka memang si tokoh ini minim publikasi atau mungkin kiprahnya kurang nyaring terdengar. Terdengar tidaknya nama si tokoh di dunia maya memang menjadi bahan pertimbangan, walau bukan satu-satunya faktor.

Tom Peters mengingatkan, sekarang adalah eranya personal branding. Peter Montoya belakangan semakin menegaskan hal tersebut. Ketika kita berhasil menyusun sebuah buku, sebuah peluang membangun personal brand yang kuat telah terhampar di hadapan kita. Besar kemungkinan media akan melirik nama kita untuk diwawancarai.

Jadi, bila sebagai penulis kita mendapatkan peluang untuk diekspose oleh sebuah media, maka kita perlu memanfaatkan kesempatan itu sebaik mungkin. Wawancara eksklusif, posting artikel di website, keterlibatan dalam forum-forum diskusi online, atau sekadar posting email di milis, semua ada manfaatnya. Semuanya dapat meninggalkan bekas di dunia maya. Dan, itu penting sekali bagi seorang penulis. Apa pun lapangan tulisan yang dibidi. Memang, internet adalah medium yang umumnya paling mudah diakses oleh banyak orang, bahkan terkadang dijadikan sebagai referensi untuk mengetahui kiprah kepenulisan seseorang.

Namun ada catatan menyangkut hal ini. Kita harus berhati-hati dalam memasukkan tulisan atau apa saja menyangkut berita, aktivitas, pandangan, atau sikap kita. Sebaiknya kita menghindari materi publikasi yang berpotensi “merusak” atau menurunkan kekuatan dan kualitas upaya branding. Jika tidak hati-hati, maka setiap informasi yang sudah terpasang di internet itu akan selalu menkadi “label” atas diri kita, tak peduli itu positif atau negatif.[ez]

* Edy Zaqeus adalah penulis buku-buku best-seller, konsultan penulisan & penerbitan, editor Pembelajar.com, dan trainer di Sekolah Penulis Pembelajar (SPP). Ia juga mendirikan Bornrich Publishing dan Fivestar Publishing yang berhasil menerbitkan sejumlah buku best-seller. Nantikan workshops Edy Zaqeus tentang “Membuat Blog Menjadi Buku”, “Cara Gampang Menerbitkan Buku Sendiri”, dan “Cara Gampang Menulis Buku Best-Seller” pada November-Desember 2007 ini (Info selengkapnya, hubungi SPP di 021-7828044). Edy dapat dihubungi di: https://ezonwriting.wordpress.com atau edzaqeus@gmail.com.