16 Pebruari 2007 – 05:17 (Diposting oleh: Editor)
Seri Artikel Write & Grow Rich

Faktanya, tidak semua buku bagus diresensi oleh peresensi. Sebalikinya, tidak semua buku yang mutunya diangga “kurang bagus” tidak diresensi. Banyak peresensi yang menulis kajian bukunya setelah diminta oleh penerbit atau penulis. Sementara, peresensi yang menulis atas inisiatif dan pilihannya sendiri kabarnya tidak terlalu banyak jumlahnya. Kalau saya tidak salah, yang model begini banyak dilakukan oleh teman-teman mahasiswa yang ingin berlatih mengasah kekuatan analisisnya. Plus, mereka yang suka mencari tambahan uang saku. Sebagian lagi dilakukan oleh para kritikus buku yang memang benar-benar sangat mencintai dunia buku dan concern dengan perkembangan dunia perbukuan.

Jika buku yang kita tulis berkategori berat di teori, biografi, karya sastra, kajian-kajian kebudayaan, filsafat, atau buku yang bersifat analisis, maka kita harus berusaha menjadikan buku tersebut menarik perhatian media massa atau peresensi.

Cara paling praktis adalah meniru apa yang dilakukan penerbit umumnya, yaitu meminta seseorang peresensi menulis resensinya untuk buku kita itu. Sebagian penerbit memberikan insentif berupa uang ala kadarnya bagi peresensi yang resensi bukunya dimuat di media massa. Besarnya bervariasi, tapi umumnya tidak terlalu besar.

Tapi perlu diingat pula, penerbit tidak memintakan semua buku yang diterbitkannya diresensi. Jadi, sebagai penulis buku kita harus berani menjual buku kita sendiri kepada peresensi. Jika kita kenal dengan sejumlah peresensi, itu lebih bagus lagi. Kita juga bisa meminta rekan seprofesi atau mereka yang concern dengan kajian buku untuk meresensinya. Kalau kita tidak memiliki kenalan semacam itu, cukup kita hubungi penerbit atau media massa lain untuk meminta daftar nama dan alamat persensi.

Cara lain, kita bisa mengirimkan sampel buku, lengkap dengan surat pengantar, ringkasan isi (sinopsis), beserta pembahasannya, ke sejumlah koran, majalah, tabloid, atau buletin yang relevan dengan isi buku kita. Tidak ada jaminan buku itu akan diresensi. Tetapi, cara ini cukup simpatik untuk mengundang para wartawan atau redaktur buku untuk menulis resensi. Minimal, buku kita masuk dalam daftar buku baru mereka di media mereka.

Kompas, Jawa Pos, Koran Tempo, Republika, Pikiran Rakyat, Sindo, Matabaca, Marketing dan Investor Daily adalah sebagian kecil media massa yang menyediakan ruang seperti ini. Untuk pemuatan itu, kita tidak perlu bayar. Memang, media-media berkualitas umumnya menyediakan ruang seperti galeri buku untuk ikut merangsang minat baca masyarakat.

Khusus untuk resensi media ini, adanya para endorser berkualitas dalam buku kita sedikit banyak juga membawa pengaruh. Apabila buku kita di-endorse oleh tokoh-tokoh yang berpengaruh dan relevan, penulis-penulis kenamaan atau penulis best seller, punya personal brand sangat kuat, maka insan media pun relatif lebih mudah untuk diusik minatnya. Tidak ada jaminan memang, tetapi endorsement atau kata pengantar yang bagus dapat menjadi satu titik pembuka bagi minat para peresensi.

Nah, kita juga bisa menemukan nama-nama peresensi buku di sejumlah website yang menyediakan kolom resensi buku. Karena aturan di sejumlah website tidak terlalu kaku seperti di media cetak, maka kita pun bisa berinisiatif mengirimkan ringkasan atau kata pengantar buku, lengkap dengan kaver, data seperti pengarang, penerbit, tahun terbit, ISBN, ukuran buku, jumlah halaman, dan harganya. Jika pendekatan kita cukup simpatik dan buku kita memang layak didiskusikan, mereka tidak akan keberatan memuat resensinya.

Saya harus akui, khusus untuk buku-buku how to memang kurang begitu menarik perhatian peresensi. Sifatnya sebagai buku panduan yang ringan memang sangat menarik bagi pembaca umumnya, tetapi dianggap “kurang berbobot” bagi para peresensi. Jika Anda penggemar atau berencana menulis buku jenis how to, Anda tidak perlu berkecil hati. Biarkan pasar yang menilai karya Anda. Jika buku Anda laris, itulah pengakuan pasar yang sesungguhnya. Buku Anda tidak hidup dari pujian para pengkritik, tetapi dari penyerapan pasar.

Tambahan lagi, jika launching buku kita bagus, brand equity kita juga bagus, otomatis itu akan menarik media untuk membahasnya. Jadi, terus lakukan pendekatan yang simpatik ke semua pihak yang relevan. Itu saja kuncinya.

Pertanyaannya kemudian, apa resensi buku punya dampak bagi penjualan? Jawabnya, punya sekali! Tapi, kadarnya berbeda-beda. Banyak orang menjadikan resensi buku sebagai panduan pertama dalam memilih buku. Resensi juga menjadi semacam “lilin penerang” bagi calon pembaca di tengah ratusan buku lainnya yang terbit pada waktu yang sama.

Sejumlah buku populer yang diresensi di beberapa media bisa mengatrol penjualan buku. Terlebih bila buku tersebut digunjingkan di mana-mana. Bisa-bisa, resensi dan gunjingan itulah yang menjadi daya dorong orang untuk membelinya.

Namun, tak sedikit buku-buku yang sudah diresensi di mana-mana, penjualannya tetap saja seret. Ini bisa terjadi karena segmentasi bukunya yang memang sangat terbatas. Buku-buku humaniora, filsafat, minat khusus serta buku-buku teori umumnya mendapat tempat dalam resensi. Tapi penjualannya biasa-biasa saja karena segmennya yang memang terbatas. Walau begitu, resensi tetap mempunyai kekuatan dalam berbagai bentuknya. Jadi, kalau buku kita berpotensi untuk diresensi dan diapresiasi, mengapa tidak berupaya untuk mendapatkannya? Salam best seller!.[ez]

* Edy Zaqeus adalah penulis buku-buku best-seller, konsultan penulisan & penerbitan, editor Pembelajar.com, dan trainer di Sekolah Penulis Pembelajar (SPP). Ia juga mendirikan Bornrich Publishing dan Fivestar Publishing yang berhasil menerbitkan sejumlah buku best-seller. Nantikan workshops Edy Zaqeus tentang “Membuat Blog Menjadi Buku”, “Cara Gampang Menerbitkan Buku Sendiri”, dan “Cara Gampang Menulis Buku Best-Seller” pada November-Desember 2007 ini (Info selengkapnya, hubungi SPP di 021-7828044). Edy dapat dihubungi di: https://ezonwriting.wordpress.com atau edzaqeus@gmail.com.