22 Mei 2006 – 07:49 (Diposting oleh: Editor)
Seri Artikel Write & Grow Rich

Seorang anggota milis Penulis Best Seller pernah mengeluh kepada saya, “Sulit ya mencari penerbit yang mau menerbitkan buku seperti ini?” Saya tersenyum saja mendapati keluhan semacam ini sekaligus juga terheran-heran. Betapa tidak, hari gini susah cari penerbit… ha ha ha. Seperti saya tulis dalam artikel sebelumnya, hasil pengamatan saya menunjukkan, sekarang bukan lagi eranya penulis memburu penerbit, tapi sebaliknya, penerbitlah yang memburu para penulis buku. Ah, bagaimana bisa? Bisa saja!

Coba bayangkan kasus ini. Jika di Yogyakarta dulu (era 80-90-an awal) hanya ada puluhan penerbit mapan dan penerbit kecil yang dengan sangat selektif menerima naskah dari penulis. Saat itu, iklim perbukuan belum sebergairah sekarang. Penerbit tidak banyak, penulis juga masih sedikit, dan topik-topik buku tertentu bisa saja membawa seseorang masuk ke hotel prodeo. Jelas, dalam situasi seperti itu, penerbit tidak mau sembarangan menerima naskah dari penulis. Penulis pun juga deg-degan kalau mau menulis tema-tema yang agak nyeleneh.

Sekarang situasi berbalik 180 derajat. Semua orang boleh menulis dan menerbitkan apa saja. Menurut Kompas belum lama ini, penerbit indepenpen di Yogyakarta saja jumlahnya sekarang hampir 500-an. Dengan jumlah penerbit sebanyak itu, bagaimana mungkin penulis kesulitan mencari penerbit? Yang terjadi justru sebaliknya, penerbitlah yang aktif berburu para penulis baru yang hendak diorbitkan. Mereka para penerbit itu sadar sepenuhnya, bahwa keberadaan penulis-penulis buku berbakat di kota-kota pendidikan semacam Yogyakarta itu sebenarnya ibarat jamur di musim penghujan. Mereka tersebar di mana-mana, siap dipanen, dan dikemas menjadi produk yang layak jual.

Apakah suasana perburuan penulis oleh penerbit hanya terjadi di Yogyakarta saja? Menurut saya tidak. Itu terjadi di mana saja, baik di dunia offline maupun online, terutama sejak komunikasi melalui internet sudah sebegitu gampangnya dilakukan oleh siapa saja. Buku harian di internet (e-journal) atau yang lebih dikenal dengan blog, sekarang saja diburu oleh penerbit untuk dijadikan buku. Setahu saya, Blog Tinneke Carmen (Gradien, 2006) misalnya, adalah buku yang diterbitkan berdasarkan hasil olahan tulisan-tulisan di sebuah blog. Dan saya yakin, ini akan segera diikuti oleh blog-blog lain dan dengan tema yang lebih menarik dan beragam.

Mungkin Anda sering berkunjung ke situs-situs sastra, hobi, bisnis, dan pengembangan diri, yang mana ada beberapa kolomnis yang mengisi rubrik tertentu di dalamnya. Sama saja, cobalah tanya apakah para kolomnis itu pernah dihubungi penerbit yang berminat menerbitkan tulisan-tulisan mereka dalam bentuk buku. Situs Pembelajar.com yang menampilkan sejumlah kolomnis tetap –yang nota bene adalah para penulis buku best seller—mungkin merupakan ajang paling menarik bagi perburuan semacam itu. Silakan tanya pada para kolomnis seperti Andrie Wongso, Andrias Harefa, Andrew Ho, Jennie S. Bev, Paulus Winarto, Adi W. Gunawan, dll, apakah mereka pernah “dirayu” oleh penerbit. Saya yakin, hampir semuanya pernah dihubungi, bahkan tak jarang berkali-kali dihubungi.

Hal yang hampir sama juga bisa Anda dapati manakala membaca buku-buku yang laris di pasaran. Cobalah iseng-iseng menghungungi email pengarangnya dan tanyakan apakah mereka pernah dihubungi penerbit lain yang berminat menerbitkan karya mereka berikutnya. Hampir pasti, pengarang-pengarang yang bukunya laris di pasaran pasti menjadi incaran sejumlah penerbit, terlebih penerbit-penerbit independen yang memang lebih agresif. Apabila dibandingkan dengan penerbit-penerbit mapan, yang terakhir ini memang berani bersaing dari sisi persentase royalti, kecepatan penerbitan buku, diskon untuk pembelian tunai, dan berbagai kemudahan lain yang umumnya sulit mereka dapat dari penerbit mapan.

Jika Anda bertemu dengan para trainer, pembicara publik, business coach, konsultan dari berbagai bidang, atau bahkan artis sekalipun, coba tanyakan apakah mereka pernah ditanya, dihubungi, atau didorong oleh editor sebuah penerbit untuk menulis buku. Saya yakin, kebanyakan atau mungkin hampir semua dari mereka pernah mendapatkan pertanyaan dan dorongan untuk menulis buku. Apa artinya ini? Ya, penerbit sedang berburu calon-calon penulis baru yang bisa dijadikan “angsa bertelur emas”.

Orang-orang yang tingkat visibility-nya (penampakan) di muka publik itu tinggi –baik melalui media offline maupun online—biasanya dianggap memiliki nilai pasar tersendiri oleh penerbit. Ya, memang beginilah hukum popularitas. Semakin sering tampak di area publik, diasumsikan semakin populer juga mereka. Popularitas ini pastinya nyambung juga dengan prinsip-prinsip pemasaran dan branding. Produk apa pun yang dikawinkan dengan orang yang kuat branding-nya, pasti memiliki dampak tertentu di benak publik. Jadi, menerbitkan buku-buku tentang atau oleh top branded person ini sudah mengamankan salah satu pilar pemasaran dalam bisnis buku. Alhasil, penerbit yang cerdas pun memburu orang-orang seperti itu.

Pertanyaanya kemudian, apakah penulis-penulis baru tidak punya kesempatan seperti mereka yang sudah bagus branding-nya atau mereka yang punya visibility tinggi? Saya masih yakin, penulis-penulis baru sesungguhnya sama diburunya dengan penulis-penulis yang sudah eksis. Ingat, penerbit tahu persis bahwa banyak cerita-cerita ajaib yang berhasil diukir oleh para penulis debutan seperti kasus Dee dengan Supernova, Ayu Utami dengan Saman, Estie Kinasih dengan Fairish, Rachma Arunita dengan Eiffel I’m in Love. Begitu juga dengan sukses spektakuler Ary Ginanjar dengan ESQ, Andrie Wongso dengan 15 Wisdom & Success, dan Tung Desem Waringin dengan Financial Revolution.

Dunia perbukuan tak ubahnya dunia hiburan, ada situasi-situasi yang nyaris sama. Seperti kata Anggun C. Sasmi, penyanyi kita yang go international itu, kadang seorang pendatang baru bisa dengan mudah menggedor pasar. Tapi untuk eksis atau bertahan di tengah persaingan itulah yang sulit. Begitu juga dengan penulis baru yang karya pertamanya meledak di pasaran, belum tentu karya-karya berikut sama larisnya dengan karya terdahulu. Ini menjadi alasan mengapa penerbit tetap wellcome dengan penulis baru, dan bahkan banyak pula yang memburu penulis baru berbakat.

Nah, jika di mata penerbit peluang penulis baru sejatinya juga sama besarnya dengan penulis terkenal, lalu bagaimana supaya naskah kita mudah menembus atau bahkan diburu penerbit? Tentu saja, bukan sembarang naskah akan diburu oleh penerbit. Ingat, dalam hal standar kualitas sesungguhnya nyaris tidak ada perbedaan antara penerbit mapan dengan penerbit kecil/mandiri. Jadi, soal kualitas atau syarat-syarat basic haruslah dipenuhi oleh seorang penulis.

Tapi, kadang memenuhi syarat-syarat basic saja tidak cukup. Penulis yang cerdas dan kreatif harusnya tahu persis naskah-naskah seperti apa yang paling diinginkan oleh kebanyakan penerbit. Kalau begitu, cara paling strategis supaya kita mudah menembus penerbit adalah dengan berpikir ala penerbit, yaitu mengetahui logika-logika dan harapan-harapan mereka. Saya akan bahas soal ini dalam artikel berikutnya. Salam best seller![]

* Edy Zaqeus adalah penulis buku-buku best-seller, konsultan penulisan & penerbitan, editor Pembelajar.com, dan trainer di Sekolah Penulis Pembelajar (SPP). Ia juga mendirikan Bornrich Publishing dan Fivestar Publishing yang berhasil menerbitkan sejumlah buku best-seller. Nantikan workshops Edy Zaqeus tentang “Membuat Blog Menjadi Buku”, “Cara Gampang Menerbitkan Buku Sendiri”, dan “Cara Gampang Menulis Buku Best-Seller” pada November-Desember 2007 ini (Info selengkapnya, hubungi SPP di 021-7828044). Edy dapat dihubungi di: https://ezonwriting.wordpress.com atau edzaqeus@gmail.com.