16 September 2007 – 13:29 (Diposting oleh: Editor)
Seri Artikel Write & Grow Rich

“Betapa pun buku how to acapkali ‘dicaci’, ia pun tetap banyak dicari. Secara lugas, kehadiran buku genre ini menunjukkan bahwa problema manusia modern harus dicarikan solusi yang praktis.”
~ A.M. Ali Hisyam
(Pustakawan & Editor)

Apa artinya fast book? Ini istilah rekaan saya sendiri yang artinya kurang lebih adalah buku cepat saji. Mirip dengan istilah fast food atau makanan cepat saji. Fast book atau buku cepat saji sebenarnya hanyalah julukan untuk buku-buku saku (pocket book) yang tidak terlalu tebal, isinya ringan, populer, mudah dimengerti, dapat dibaca ‘sekali duduk’, dan harganya cukup miring. Buku cepat saji ini biasanya seukuran novel, yaitu ukuran 11×18 cm (paling banyak dipakai), 10,5×17 cm, 10×14,5 cm, 11×15,5 cm, atau 14×16 cm. Ciri lain dari buku cepat saji ini adalah fokus pada satu tema tertentu. Gaya penyajiannya populer, namun padat dan ringkas. Kebanyakan buku-buku cepat saji ini merupakan buku jenis how to, motivasi, self-help, kumpulan tulisan, keagamaan, kata-kata bijak, atau tema-tema spesifik lainnya.

Yang menarik adalah fakta bahwa banyak sekali buku cepat saji yang laris manis di pasaran. Ini ditunjukkan dengan gejala larisnya buku-buku panduan, buku keagamaan, dan buku-buku motivasi yang diluncurkan dalam format seperti ini. Contohnya, buku best-seller karangan Hermawan Kartajaya berjudul Marketing Yourself. Juga buku-buku best-seller karangan Anand Krishna, Andrias Harefa, Moamar Emka, Safir Senduk, Iip Wijayanto, Paulus Winarto, dan juga kedua buku best-seller saya, semua tampil dalam format buku cepat saji.

Dan, ada satu fakta menarik di sini. Gradien, salah satu penerbit baru dari Yogyakarta, ternyata sangat sukses dengan format ini. Hampir semua buku yang diterbitkan Gradien mengambil format buku cepat saji dan lebih dari 90 persen di antaranya mengalami cetak ulang. Cerita sukses serupa dialami juga oleh banyak penerbit Islam di Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta, yang menerbitkan buku-buku panduan islami. Salah satunya adalah MQ Publishing di Bandung, yang 70 persen buku-buku saku terbitannya menjadi best-seller. Format fast book benar-benar menjadi alternatif bagi penerbit. Selain keunggulan yang disebutkan di atas, buku cepat saji meringankan penerbit karena lebih murah biaya cetaknya, tidak terlalu makan tempat di gudang, plus lebih enteng timbangannya sehingga meringankan biaya ekspedisi.

Sesungguhnya tidak ada yang istimewa dari format buku cepat saji ini. Hanya saja, dengan ciri-ciri sebagaimana saya sebutkan di atas, ternyata format ini berhasil menembus dominasi format buku yang lebih besar. Dari pengamatan saya, ternyata ada faktor-faktor psikologis yang mempengaruhi minat beli dan minat baca konsumen buku. Semisal, saya seringkali mendapati komentar bahwa buku cepat saji memang mudah dibawa ke mana-mana, bahasanya relatif mudah dipahami, cepat selesai kalau dibaca, dan biasanya miring pula harganya. Memang, ada buku-buku cepat saji yang dipasang dengan harga cukup tinggi, tapi itu bukan arus besarnya.

Berbeda dengan buku-buku tebal (biasanya terjemahan) yang mengambil ukuran 14×23 cm atau 15×24 cm. Buku-buku besar dan tebal ini biasanya membahas tema-tema dengan sangat dalam, banyak teorinya, lengkap datanya, dan langsung menimbulkan kesan sangat serius. Sekalipun temanya menarik, banyak orang yang saya temui berkomentar, “Wah… bukunya tebal banget…!”, “Berat juga baca buku setebal ini…!”, “Nanti kalau pas libur saja bacanya….” Apakah kesan yang saya tangkap itu hanya ada pada segelintir orang atau pada kebanyakan orang, saya tidak tahu. Yang pasti, banyak pula rekan penggemar berat buku sekalipun, yang sering gagal merampungkan bacaannya dalam waktu singkat. Alasannya klise tapi nyata, baca buku-buku berat dan tebal ini butuh banyak energi dan waktu.

Nah, bagi kita yang ingin membuat buku praktis, apalagi bila menulis buku merupakan pengalaman pertama, format buku cepat saji bisa menjadi alternatif. Alasan utamanya karena sifat pembuatannya yang relatif lebih mudah dibandingkan buku-buku masterpiece umumnya. Mengapa dikatakan lebih mudah? Dilihat dari sisi ketebalan halaman, sifat bahasanya yang ringan dan populer, serta fokusnya pada tema-tema yang spesifik, buku cepat saji memang relatif mudah dan lebih cepat ditulis. Ini dibuktikan dengan produktivitas penulis-penulis best-seller seperti yang saya sebutkan di depan.

Saya pernah membaca draft buku yang ditulis seorang profesional yang sangat padat kegiatannya. Tampaknya, profesional ini ingin sekali membuat sebuah karya yang lengkap dan menyeluruh pada kesempatan pertama. Sayangnya, antara keinginan membuat masterpiece dengan waktu yang dialokasikan untuk menulis tampaknya kurang sinkron. Akibatnya, draft buku itu tidak tergarap dengan baik dan terkesan hanya berisi kumpulan kutipan dari berbagai literatur atau seminar-seminar yang pernah diikutinya. Banyak tema-tema besar dan materi penting yang akhirnya hanya dibahas sekilas saja. Padahal, jika satu tema saja dibahas secara mendalam, maka tema itu sudah layak dijadikan buku tersendiri.

Beberapa kali saya menangani klien yang sangat sibuk sekaligus ingin menulis buku masterpiece dalam waktu singkat. Pengalaman menunjukkan, buku-buku masterpiece membutuhkan waktu pengumpulan bahan, data, dan penulisan yang sangat panjang. Bahkan, penulisan buku-buku seperti ini membutuhkan dedikasi, energi, dan curahan biaya yang tidak kecil. Solusi dari problem seperti ini jelas, yaitu mereka harus membentuk sebuah tim penulis yang bisa membantu mereka untuk mengumpulkan bahan-bahan dan data yang dibutuhkan.

Solusi lain, biasanya saya menyarankan agar tema buku masterpiece dipecah-pecah dan masing-masing pecahan tema itu ditulis dalam format buku cepat saji. Beberapa kali terbukti teknik ini membantu orang-orang sibuk yang ingin menulis buku. Semisal, saat saya menangani klien-klien pembicara publik yang sering melakukan seminar-seminar dengan beragam topik menarik. Dari semula menginginkan sebuah buku masterpiece, akhirnya mereka tertarik untuk membukukan tema-tema seminarnya dalam format buku cepat saji. Alhasil, di tengah-tengah kesibukan yang sangat menyita waktu, mereka tetap berhasil menyusun buku-buku cepat saji dalam waktu relatif singkat.

Satu hal yang sering terlupakan oleh kita bahwa dalam setiap artikel, kolom, materi presentasi, seminar, diskusi, ceramah, dan artikel wawancara kita, sesungguhnya terkandung potensi bagi lahirnya sebuah buku. Kalau bukan potensi menjadi buku masterpiece, minimal ada kandungan buku format cepat saji. Sayang sekali jika potensi tersebut tidak diwujudkan dalam bentuk buku. Ingat, buku cepat saji yang bagus pasti mendapat tempat di hati masyarakat dan tentu saja membawa banyak manfaat bagi si penulis.

Pada saat menulis buku ini, saya sedang menangani seorang klien yang mempunyai layanan konsultansi lengkap dengan produk-produk seminar. Hebatnya, topik-topik seminarnya sangat beragam, semuanya menarik, dan terbukti diminati publik. Saya membantu klien ini untuk mengeksplorasi ragam dan kekayaan bahan tulisan yang dia miliki. Lalu, saya perkenalkan format fast book, serta saya tunjukkan betapa banyak potensi buku yang bisa dia garap dalam setahun ini. Menyadari potensi yang besar itu, klien ini akhirnya memilih untuk menulis beberapa buku cepat saji. Bukan itu saja, dia juga berkeputusan untuk membuat independent publishing yang diproyeksikan akan menopang bisnis konsulting yang dibangunnya. Pilihan yang cerdas bukan?[ez]

Catatan: artikel ini merupakan bagian dari buku Resep Cespleng Menulis Buku Best Seller yang sedang memasuki tahap cetakan ketiga (edisi revisi).

* Edy Zaqeus adalah penulis buku-buku best-seller, konsultan penulisan & penerbitan, editor Pembelajar.com, dan trainer di Sekolah Penulis Pembelajar (SPP). Ia juga mendirikan Bornrich Publishing dan Fivestar Publishing yang berhasil menerbitkan sejumlah buku best-seller. Edy dapat dihubungi di: https://ezonwriting.wordpress.com atau edzaqeus@gmail.com.