02 Maret 2007 – 11:48 (Diposting oleh: Editor)
Seri Artikel Write & Grow Rich

Sahabat saya, seorang penulis buku senior, memberikan alasan penting mengapa ia lebih memilih penerbit-penerbit besar yang sudah punya nama untuk menerbtkan buku-bukunya. Sekalipun ia mampu menjadi self publisher, ia tidak melakukan hal tersebut. Alasannya? “Pertama, mereka bisa menjamin distribusi. Kedua, mereka memiliki kemudahan di kelompok usahanya untuk mengiklankan buku-buku terbitannya. Itu fasilitas yang pantas untuk dimanfaatkan,” ujar sahabat saya tadi.

Memang benar. Penerbit besar, apalagi yang memiliki grup usaha penerbitan (koran, majalah, atau tabloid) memang berani mengiklankan sejumlah buku yang mereka prediksikan bakal laris di pasaran. Dan, iklan memang sangat berpengaruh terhadap penjualan buku.

Umumnya iklan buku dilakukan oleh penerbit. Tetapi bisa saja penulisnya bekerja sama dengan penerbit untuk menanggung biaya promosi dan iklan, atau malah menanggung sendiri biaya iklannya. Makanya jika kantong kita tebal, sementara penerbit yang kita pilih ternyata tidak ada anggaran untuk iklan, tapi kita sendiri sangat yakin dengan prospek buku itu, maka jangan ragu-ragu beriklan.

Tetapi sebelum memutuskan beriklan, cek ulang apakah distribusi buku kita itu cukup menyebar ke semua wilayah di mana media tempat beriklan tadi mampu mengkavernya.

Salah satu kelebihan penerbit-penerbit besar adalah karena sebagian di antara mereka mengembangkan customer relations management (CRM) dengan bagus. Mereka memiliki klub pembaca, mengedarkan buletin, memiliki website resmi yang banyak pengunjungnya, serta dalam beberapa hal memang memberikan nilai tambah tertentu. Memilih penerbit-penerbit besar tersebut akan membuka kemungkinan bagi buku kita untuk diiklankan di situ. Dan, ini akan sangat membantu penjualan buku kita.

Ada hal lain yang perlu kita pertimbangkan sebelum memilih mengiklankan buku yang kita tulis. Iklan buku sesungguhnya tidak semata-mata mengiklankan buku itu sendiri. Iklan buku itu juga sekaligus mengangkat personal brand kita, mengangkat imej institusi di belakang kita, dan tentu saja memiliki gengsi tersendiri. Iklan buku juga membuat publik aware dengan kompetensi, concern, dan keahlian kita. Bagi mereka yang bergerak di dunia consulting firm, pelatihan SDM, dan sedang mengembangkan merek bisnis, atau ingin membuat terobosan personal branding, iklan semacam ini bisa menjadi investasi yang cukup strategis.

Contoh konkret dari manfaat iklan buku adalah pengiklanan novel-novel Andrei Aksana seperti Abadilah Cinta, Cinta Penuh Air Mata, Lelaki Terindah, dan Cinta 24 Jam oleh Gramedia Pustaka Utama. Lihat pula iklan buku 15 Wisdom & Success karya Andrie Wongso yang diiklankan oleh Elex Media Komputindo. Atau, lihat buku bestseller Andrias Harefa Menjadi Manusia Pembelajar oleh Penerbit Kompas yang diiklankan beberapa kali di Kompas. Dan yang terbaru serta cukup fenomenal dampaknya adalah iklan buku Financial Revolution karya Tung Desem Waringin, yang mencatat rekor Muri karena terjual di atas 10.000 eksemplar lebih pada hari pertama peluncurannya. Iklannya benar-benar berhasil.

Sejumlah penulis buku—yang kebetulan seorang public speaker dan sering mengisi berbagai media—memiliki kesempatan berlimpah untuk mempromosikan bukunya. Tidak semuanya promosi atau iklan tersebut harus menguras kocek si penulis. Dalam sejumlah kasus, semumlah penulis buku yang juga memiliki jam tayang di media tertentu—talkshow, rubrik tanya jawab, kapsul renungan, dan sejenisnya—berkesempatan mengiklankan bukunya melalui media tersebut secara gratis. Ini tergantung deal mereka dengan pihak media yang bersangkutan.

Yang menarik adalah contoh promosi atau iklan buku Tung Desem Waringin melalui sebuah radio swasta di Jakarta (yang siarannya juga dipancarkan di sejumlah kota besar lainnya). Selang beberapa bulan sebelum buku Financial Revolution selesai cetak dan beredar di toko-toko buku, Tung sudah berulang kali menyebut buku tersebut dalam setiap kesempatan talkshow-nya di radio tadi. Alhasil, karena siarannya sendiri juga didengar banyak orang, dus iklan di media massa hingga beberapa kali, maka dampaknya pun benar-benar bisa dirasakan.

Nah, buku-buku yang diiklankan itu laris manis di pasar. Selain itu, brand penulisnya pun ikut terangkat secara drastis. Misalnya, sejumlah penggemar novel-novel percintaan mulai kenal dan akhirnya mengidolakan Andrei Aksana. Dia pun muncul sebagai sebuah merek metropolis, yaitu sebagai penulis yang romantis, flamboyan, dan metroseksual. Lalu, Andrias Harefa melejit sebagai pemikir masalah pembelajaran, dan bahkan disebut sebagai “manusia pembelajar”. Ia berhasil melepas julukan sebelumnya, yaitu sebagai pemerhati dan penulis buku-buku MLM. Andrie Wongso pun semakin terkenal sebagai penutur dongeng-dongeng kebijaksanaan yang sangat memotivasi. Sementara Tung, tak sedikit yang kini menyebut dia sebagai motivator finansial terbaik di negeri ini.

Jadi, bila mampu beriklan, tak ada salahnya memanfaatkan medium ini untuk mengatrol penjualan buku kita. Namun jangan salah, iklan saja tidak cukup. Faktor-faktor lain juga mempengaruhi, semisal tema buku serta tingkat penyebarannya. Apabila iklan sudah lumayan menjual, namun buku tidak tersedia di toko tepat pada waktu orang mencarinya, ya hilanglah kekuatan iklan tersebut. Sementara, sejumlah buku humaniora, kajian-kajian teoretis, atau gampangnya buku-buku yang tidak banyak peminatnya, kadang tetap tidak terangkat oleh iklan (bahkan yang intensif sekalipun). Itulah misterinya, namun itu pula tantangan yang harus ditaklukkan oleh si penulis buku dan penerbitnya. Salam best seller!(ez)

* Edy Zaqeus adalah penulis buku-buku best-seller, konsultan penulisan & penerbitan, editor Pembelajar.com, dan trainer di Sekolah Penulis Pembelajar (SPP). Ia juga mendirikan Bornrich Publishing dan Fivestar Publishing yang berhasil menerbitkan sejumlah buku best-seller. Nantikan workshops Edy Zaqeus tentang “Membuat Blog Menjadi Buku”, “Cara Gampang Menerbitkan Buku Sendiri”, dan “Cara Gampang Menulis Buku Best-Seller” pada November-Desember 2007 ini (Info selengkapnya, hubungi SPP di 021-7828044). Edy dapat dihubungi di: https://ezonwriting.wordpress.com atau edzaqeus@gmail.com.