16 Oktober 2006 – 14:28 (Diposting oleh: Editor)
Seri Artikel Write & Grow Rich

Pada artikel yang lalu saya sudah membahas soal judul buku yang saya anggap sangat berperan dalam menarik perhatian calon pembaca. Kali ini, saya akan membahas sebuah buku yang—selain kreatif dan inovatif dari segi judul—juga inovatif dari segi konsep atau gagasan yang diusung kepada pembaca. Buku itu berjudul Marketing in Venus karya Hermawan Kartajaya. Bukan sekadar mengandung konsep baru dan provokatif, tetapi buku tersebut ternyata juga menangguk sukses di pasaran.

Dalam hal marketing, barangkali tidak ada yang meragukan kepakaran Hermawan Kartajaya. Seminar, lokakarya, pelatihan, kolom-kolom, dan analisis-analisis pendiri MarkPuls&Co itu selalu ditunggu-tunggu oleh para praktisi pemasaran dan penjualan. Kepiawaiannya memetakan tren dunia pemasaran tidak diragukan. Hermawan memang telah memang menjadi ikon marketing di Indonesia. Bahkan namanya sangat dikenal dalam komunitas para teoritisi marketing internasional.

Oleh sebab itu, ketika dia memunculkan sebuah paradigma baru tentang marketing, orang akan langsung tersedot perhatiannya. Itulah yang terjadi saat Hermawan dan kawan-kawannya menerbitkan buku berjudul Marketing in Venus (Gramedia Pustaka Utama). Buku yang berisi 18 prinsip pemasaran di era venus tersebut laris manis di pasaran. Gara-gara buku itu pula, gaung konsep metroseksual maupun experiential marketing lebih membahana. Tak heran jika buku tersebut segera saja cetak ulang beberapa kali dalam setahun dan masuk kategori buku best seller.

Nah, apa kunci kesuksesan buku Marketing in Venus? Dalam pandangan saya, buku itu sukses karena ditulis oleh pakar yang sungguh-sungguh mumpuni di bidangnya. Kedua, buku itu sukses karena kekuatannya dalam membuka pemahaman dunia pemasaran di Tanah Air, khususnya tentang tren dan paradigma baru dalam menjual produk. Hermawanlah satu-satunya pakar marketing di Indonesia yang waktu itu tegas-tegas menyatakan adanya pergeseran perilaku konsumen, dari perilaku rasional (manusia Mars) menjadi perilaku emosional (manusia Venus). Itu saja saripati dari ke-18 prinsip pemasaran di era Venus.

Nah, faktor ketiga ada pada pilihan judul yang menurut saya menunjukkan kejeniusan Hermawan dan kawan-kawannya. Pertama kali mendengar judul Marketing in Venus, saya sempat bertanya-tanya, apa maksud penulisnya? Apa hubungan antara konsep pemasaran dengan nama sebuah planet? Tapi, pertanyaan lugu saya itu segera sirna ketika saya teringat dengan sebuah judul buku best seller internasional, Mars and Venus karya John Gray. Inilah salah satu buku psikologi-komunikasi populer yang paling banyak dibaca orang. Bahkan, ketika saya mengikuti pendidikan pranikah (yang diselenggarakan oleh gereja), buku ini pula yang direkomendasikan untuk dibaca oleh si psikolog yang mengajar kami waktu itu.

Hermawan jenius karena paham betul dengan popularitas buku tersebut. Kebetulan, dia melihat bahwa ada kecenderungan tren teori-teori pemasaran yang bukan lagi bersandar pada pilihan-pilihan rasional (dalam buku John Gray, ini merujuk pada pilihan kaum laki-laki di dunia Mars). Sebaliknya, paradigma pemasaran mulai bergeser kepada teori-teori pemasaran yang bersentuhan dengan unsur emosi, unsur hati, yang mana ini merupakan pilihan-pilihan dunia Venus (kaum perempuan). Gayung bersambut. Konsep Venus yang lebih “perempuan” diambil dan dipasangkan dengan teori pemasaran. Langkah jenius ini diambil supaya mempermudah kaum pemasar memahami teori baru yang inovatif tersebut.

Apakah paradigma yang diusung Hermawan benar-benar baru? Jika diteliti, sebenarnya tidak ada substansi baru dalam teori-teori marketing umumnya. Yang ada adalah pengolahan tesis-tesis dasar lama yang ditata sedemikian rupa sehingga dapat muncul dalam kemasan baru. Hanya begini saja? Tentu tidak. Justru dalam pengemasan ulang itulah—setelah didukung oleh penelitian dan data-data terbaru—sering muncul paradigma atau konsep-konsep baru yang lebih matang dan tajam, baik sebagai pisau analisis maupun perangkat pemasaran yang cukup praktis. Dan inilah yang dilakukan oleh Hermawan dan timnya di MarkPlus&Co. Memunculkan paradigma kemasan baru secara kreatif dan inovatif, baik dari sisi judul maupun isi.

Pelajaran yang bisa diambil? Ya, lakukan proses kreatif atas teori-teori atau konsep-konsep lama. Lalu, amati tren yang tengah berlangsung atau prediksi tren yang akan datang. Kemudian, buatlah simulasi konsep atau teori baru. Ini benar-benar proses kreatif. Jika konsep, teori, dan analisis kita tampaknya bisa berfungsi sebagai perangkat analisis, prediksi, dan proyeksi ke depan, maka berbahagialah karena kita baru saja menemukan paradigma “baru”. Mungkin saja. Tapi jangan sekadar bagus di tataran isi dan konsep yang ditawarkan dalam sebuah buku. Buku itu juga membutuhkan judul yang sama jeniusnya dengan isinya. Kombinasi keduanya mungkin bisa membuat buku kita best seller.

Problemnya, banyak penulis yang tidak memiliki ide-ide baru namun berusaha mengolah konsep-konsep lama menjadi sebuah kemasan yang lain. Sayangnya, mengemas sesuatu dengan kreatif dan inovatif itu bukan pekerjaan yang segampang diduga oleh banyak orang. Apabila kemas ulang hanya berupa ringkasan atas teori-teori atau hasil pikiran pakar-pakar sebelumnya, dan tidak diperkaya oleh hasil analisis yang adekuat, interpretasi baru, data-data terbaru, maka tidak akan ada karya baru yang kreatif dan inovatif.

Alhasil, konsep-konsep baru yang lebih kaya pasti sulit muncul dari proses semacam itu. Pembaca yang sudah pernah membaca isi buku jenis ini dalam karya orang lain, pasti dibuat bosan karenanya. Nah, penulis-penulis best seller yang jempolan pasti tidak ingin pembacanya bosan. Mereka tahu persis, pembaca haus akan hal baru. Oleh sebab itu, penulis-penulis jempolan selalu berusaha menghasidrkan hal-hal baru yang dapat memperkaya wawasan pembacanya. Sekalipun, hal baru itu dikemas dari segala bahan yang sudah ada. Itulah pelajaran dari buku Marketing in Venus. Salam best seller![ez]

* Edy Zaqeus adalah penulis buku-buku best-seller, konsultan penulisan & penerbitan, editor Pembelajar.com, dan trainer di Sekolah Penulis Pembelajar (SPP). Ia juga mendirikan Bornrich Publishing dan Fivestar Publishing yang berhasil menerbitkan sejumlah buku best-seller. Nantikan workshops Edy Zaqeus tentang “Membuat Blog Menjadi Buku”, “Cara Gampang Menerbitkan Buku Sendiri”, dan “Cara Gampang Menulis Buku Best-Seller” pada November-Desember 2007 ini (Info selengkapnya, hubungi SPP di 021-7828044). Edy dapat dihubungi di: https://ezonwriting.wordpress.com atau edzaqeus@gmail.com.