16 Desember 2006 – 11:15 (Diposting oleh: Editor)
Seri Artikel Write & Grow Rich

Suatu kali saya bertemu guru, mentor, dan sahabat saya Andrias Harefa di sebuah seminar yang dibawakan oleh Andrie Wongso. Rupanya, ia sudah mendengar bahwa buku saya Kalau Mau Kaya Ngapain Sekolah! jadi bestseller karena masuk cetakan ke-6 hanya dalam 4 bulan peredaran (sekarang sudah cetakan ke-11). “Wah, Edy ini sekarang julukannya penulis buku bestseller lho! Bukan sembarangan dia.. ha..ha..ha..,” canda penulis buku-buku bestseller ini di hadapan rekan-rekan eksekutif lainnya.

Sebagai penulis, terus terang saya merasa amat tersanjung. Saat itu juga saya berpikir, “Wah, saya sudah sah nih menyandang ‘gelar’ sebagai salah satu penulis buku bestseller di Indonesia? Apalagi setelah buku ketiga saya Resep Cespleng Berwirausaha juga laris di pasar…” Dan, ternyata gelar itu nantinya akan menjadi sebuah brand baru bagi karir saya sebagai penulis buku.

Memang, seorang penulis buku perlu sekali membangun reputasi, kredibilitas, popularitas, dan merek diri (personal brand) yang unik. Buku itu sendiri sesungguhnya merupakan alat yang tepat untuk membangun personal brand. Namun, selain branding melalui buku yang menarik dan populer, branding perlu juga dibangun melalui publikasi di berbagai media.

Ada banyak media untuk membangun brand seseorang, di antaranya adalah televisi, koran, majalah, tabloid, buletin, maupun website. Formatnya bervariasi. Di televisi, orang bisa terangkat merek dirinya dengan menjadi host tetap pada acara dengan topik tertentu, diwawancarai dalam event khusus, terlibat dalam talk show, acara konsultasi, dan acara-acara interaktif lainnya.

Andrie Wongso contohnya. Setelah hampir setengah tahun menjadi host pemutaran serial film Sun Tzu di Metro TV, Motivator No.1 Indonesia ini muncul dan dinobatkan sebagai pakar strategi Sun Tzu. Akhirnya, ketika sejumlah institusi bermaksud membuat seminar spektakuler mengenai topik tersebut, nama Andrie Wongso—dengan segala keunikannya—menjadi pilihan pertama.

Di media cetak, artikel atau kolom merupakan medium yang ampuh untuk mencipta, membangun, mengangkat, dan memperkuat merek seseorang. Artikel atau kolom biasanya merupakan wadah yang disediakan bagi para pakar atau mereka yang memang benar-benar ahli di bidangnya. Hermawan Kartajaya, Gede Prama, Renald Khasali, Bondan Winarno, Roy Sembel, Andrias Harefa, Handi Irawan, Safir Senduk, dan banyak lagi pakar lainnya, semua membangun brand melalui artikel-artikel mereka di berbagai media massa.

Andrie Wongso membangun mereknya terutama melalui seminar-seminar motivasi dan siaran rutin di sebuah radio swasta nasional. Anand Khrisna membangun mereknya melalui kursus-kursus meditasi dan berlanjut dengan lusinan buku yang laku di pasaran. Jennie S. Bev, seorang penulis ebook yang berhasil, juga membangun merek dirinya melalui ratusan artikel di media online dan websitenya sendiri. Dan, lihat saja sejumlah paranormal membangun brand melalui rubrik konsultasi di sejumlah media massa.

Pertanyaannya kemudian, apakah orang harus membuat buku dulu baru membangun brand secara simultan, ataukah menunggu brand kuat dulu baru kemudian menulis buku? Keduanya sah-sah saja. Sekali lagi, membuat buku sejatinya merupakan medium untuk mencipta, membentuk, membangun, mengembangkan, sekaligus memperkuat brand. Banyak konsultan menggunakan buku sebagai alat untuk mengembangkan brand. Anda yang berhasil, ada yang sangat berhasil, namun ada pula yang sedikit saja berhasil atau malah gagal sama sekali.

Namun, ada tak sedikit pula kasusnya dibalik. Ada sejumlah tokoh yang membentuk, membangun, mengembangkan, sekaligus memperkuat brand dulu. Baru setelah brand-nya terbentuk, brand awareness cukup tinggi, dan dia menjadi tokoh yang populer, baru kemudian menulis buku. Andrie Wongso, Tung Desem Waringin, James Gwee, mungkin adalah sejumlah tokoh yang lebih dulu populer dan memiliki brand kuat sebelum menulis buku. Bahkan, SBY pun baru ditulis biografinya beberapa saat sebelum kampanye pemilihan presiden dimulai. Dia sudah punya brand sebelum buku tentang pemikiran-pemikirannya ditulis.

Contoh lain, lihat misalnya Ratih Sanggarwati, Krisdayanti, Melly Guslow, Angelina Sondakh, Tamara Geraldine, atau Adrie Subono. Mereka sudah populer lebih dulu, lalu membuat buku untuk memperkuat brand sekaligus mendapatkan benefit finansial yang berarti. Hasilnya? Buku mereka laris manis di pasaran. Sementara, buku yang ditulis pun menambahkan value tersendiri bagi brand mereka.

Jadi, semisal kita bukanlah tokoh populer dan belum punya brand, mulailah sekarang juga, jangan ragu untuk mengatur strategi mengembangkan merek diri. Kita bisa memanfaatkan berbagai saluran media. Jika perlu, manfaatkan tenaga konsultan yang profesional untuk membantu kita. Sebaliknya, jika kita merasa sudah populer dan punya banyak fans, ya tinggal mengintensifkan strategi lainnya sambil menulis buku.[ez]

* Edy Zaqeus adalah penulis buku-buku best-seller, konsultan penulisan & penerbitan, editor Pembelajar.com, dan trainer di Sekolah Penulis Pembelajar (SPP). Ia juga mendirikan Bornrich Publishing dan Fivestar Publishing yang berhasil menerbitkan sejumlah buku best-seller. Nantikan workshops Edy Zaqeus tentang “Membuat Blog Menjadi Buku”, “Cara Gampang Menerbitkan Buku Sendiri”, dan “Cara Gampang Menulis Buku Best-Seller” pada November-Desember 2007 ini (Info selengkapnya, hubungi SPP di 021-7828044). Edy dapat dihubungi di: https://ezonwriting.wordpress.com atau edzaqeus@gmail.com.