02 Juni 2007 – 07:49 (Diposting oleh: Editor)
Seri Artikel Write & Grow Rich

Dalam Bab 6 buku Resep Cespleng Menulis Buku Best Seller (Gradien, 2005), secara khusus saya bahas soal kelebihan format buku yang berasal dari kumpulan tulisan atau artikel-artikel pendek. Selain relatif mudah disusun dan lebih instan sifatnya, format ini juga sangat membantu para penulis yang tidak punya keleluasaan waktu dalam menuangkan gagasan. Format ini pun bisa jadi alternatif yang pas bagi para penulis pemula.

Dan memang, tak sedikit contoh buku kumpulan tulisan yang ternyata mampu sukses di pasaran. Sebut misalnya buku-buku Andrias Harefa, Renald Kasali, Gede Prama, Bondan Winarno, Hermawan Kartajaya, dan masih banyak lagi yang lainnya. Rasanya, hampir semua kolumnis di media massa punya buku jenis kumpulan tulisan.

Kedua penerbitan saya—yang baru saya rintis dalam dua tahun terakhir ini—pun berhasil menerbitkan sejumlah buku motivasi yang berasal dari kumpulan tulisan. Sebut misalnya buku Psikologi Duit (Rab A. Broto), Kalau Mau Kaya Ngapain Takut Ngutang (Didik Darmanto), Rahasia Sukses Terbesar (Jennie S. Bev), dan Anda Luar Biasa!!! (Eni Kusuma). Boleh dikata, rata-rata buku tersebut mendapat sambutan yang lumayan bagus di pasaran. Ini menandakan bahwa potensi pasar untuk buku kumpulan naskah itu lumayan.

Belakangan, penerbitan saya juga menerima pengajuan beberapa naskah yang berasal dari kumpulan tulisan. Banyak ragam tema artikel di dalam naskah tersebut. Untuk sebuah naskah buku kadang bisa berisi antara 30-40 tulisan atau artikel, kadang malah lebih. Tema yang diangkat memang beragam, bahkan kadang agak berjauhan satu sama lain. Tapi, karena tulisan-tulisan tersebut umumnya pernah dipublikasikan di suatu media, kualitas tata bahasa dan editingnya terbilang lumayan.

Namun, saya temukan beberapa kelemahan tipikal dalam naskah-naskah jenis ini. Pertama, tema yang terlalu beragam. Ini merupakan akibat dari konstruksi awal tulisan-tulisan tersebut, yang biasanya memang tidak ditujukan untuk disusun menjadi buku. Penyusunan kumpulan tulisan itu menjadi buku di kemudian hari, umumnya dilatari oleh kesadaran bahwa ada ide-ide bermanfaat yang perlu dilestarikan.

Kedua, pembahasan yang terkesan instan dan kurang mendalam di setiap tulisan. Tak bisa dimungkiri, banyak tulisan atau artikel pendek di media massa itu lahir karena proses berpikir dan refleksi spontan atas suatu masalah yang sedang menghangat. Konstrain waktu sering membuat penulis sulit menghasilkan tulisan yang lebih komprehensif. Di sisi lain, artikel harus segera ditulis karena “kehangatan” suatu isu tidaklah bertahan lama.

Ketiga, akibat memencarnya tema atau topik yang dibahas, naskah menjadi kehilangan kekhasan atau keunikannya. Gagasan utama dalam naskah menjadi tidak fokus pada satu titik dan ini membuat naskah terasa mengambang. Naskah yang mengambang atau tidak berkarakter pasti akan kehilangan kekuatan dan daya tariknya, baik di mata calon penerbit maupun pembaca umumnya.

Para penulis yang personal brand-nya bagus (seperti saya sebut dimuka), kadang relatif bisa “berkelit” dari tiga kelemahan tipikal tadi. Karena pengalaman dan kepiawaian dalam membuat tulisan, maka kelemahan-kelemahan yang saya sebut tadi bisa ditambal oleh personal brand mereka. Kualitas tulisan mereka pun biasanya memang tidak bisa diabaikan. Maklum, tatarannya adalah pakar yang sudah diakui masyarakat. Makanya, tidak ada penerbit yang keberatan menerbitkan naskah kumpulan tulisan itu menjadi buku.

Ini beda dengan naskah kumpulan tulisan karya para penulis pemula, atau misalnya para kolumnis yang belum punya nama atau lemah personal brand-nya. Entah mengapa, kelemahan dan kekurangan terasa begitu muda dilihat oleh penerbit. Lain soal bila si penulis pemula itu punya latar belakang yang cukup unik. Semisal, kasus Eni Kusuma yang menulis buku motivasinya selagi menjadi TKW di Hong Kong. Penerbit mana pun—asal jeli melihat peluang—pasti mau menerbitkan karyanya. Terbukti, buku Anda Luar Biasa!!! karya Eni yang awalnya dicetak 3.000 eksemplar itu sudah cetak ulang pada bulan kedua sebanyak 5.000 eksemplar.

Nah, apa solusi bagi para penulis yang tidak memiliki “investasi” personal brand yang siap dipanen atau latar belakang yang unik? Saya ada beberapa saran yang saya sarikan dari pengalaman sendiri maupun sahabat-sahabat penulis sukses lainnya sebagai berikut.

Pertama, biasakan untuk menulis artikel pendek dalam koridor-koridor tema yang berpotensi menjadi buku atau kita proyeksikan jadi buku. Contoh, suatu saat kita ingin membuat buku motivasi, keuangan, atau wirausaha. Maka, sejak awal biasakan untuk selalu menuliskan artikel-artikel yang sejalur, senafas, dan memerinci gagasan-gagasan pada tema-tema motivasi, tema keuangan, atau tema wirausaha tersebut.

Lalu, kurangi atau kalau bisa hindari saja menuliskan artikel di luar tema-tema tersebut. Kalau pun hasrat menulis itu tak bisa direm, anggap saja penulisan di luar koridor tema yang kita tetapkan itu sebagai “rekreasi penulisan”. Siapa tahu minat kita berkembang, dan itu bisa menjadi tema garapan berikutnya?

Yang penting, upayakan untuk bisa fokus pada pilihan tema. Ini penting diperhatikan oleh para penulis generalis atau kolumnis yang tertarik menulis apa saja, asal tulisan itu bisa menjadi sarana mengaktulaisasikan diri.

Kedua, setelah menetapkan koridor-koridor tema, beranikan pula untuk menyusun butir-butir (pointers) topik yang hendak ditulis menjadi artikel. Syukur-syukur kalau bisa membuat outline buku sekalian. Jangan hiraukan apakah butiran-butiran topik itu jadi ditulis atau tidak. Yang penting, ketika kita sedang dalam kondisi berlimpah ide (flow), inventarisir saja topik-topik itu supaya tercatat dan terdokumentasi. Manakala kita butuh topik yang hendak ditulis dan relevan dengan situasi atau peristiwa yang sedang menghangat, kita tinggal menuliskannya.

Tak kalah penting, arahkan butiran-butiran ide artikel tersebut dalam suatu alur yang memfokus pada tema besar calon buku kita. Kalau kita tidak terbiasa mengorganisasikan gagasan, ini lumayan menantang untuk dilakukan. Tapi, tetap upayakan untuk bisa membawa butiran-butiran ide tersebut—termasuk proses penulisannya—dalam koridor tema besarnya. Langkah ini akan sangat membantu manakala kita harus mengedit ulang tulisan-tulisan dijadikan buku yang utuh.

Lalu, bagaimana dengan penulis yang sudah menuliskan puluhan atau bahkan ratusan artikel, namun tidak mempersiapkan diri seperti yang saya sarankan di atas? Saya juga punya saran—yang moga-moga saja ada manfaatnya.

Pertama, lakukan penyortiran artikel atau tulisan pendek sejeli dan seteliti mungkin. Hanya pilih tulisan yang benar-benar berkualitas dan mengandung gagasan-gagasan segar. Jangan tergoda untuk hanya menambah banyak jumlah tulisan, tapi mengabaikan relevansi atau benang merah secara keseluruhan. Satu saja muncul tulisan yang tidak relevan, maka itu bisa menjadi biang kelemahan naskah kita.

Kedua, fokuskan pada satu tema yang spesifik. Karena, ini akan menjadi kekuatan naskah kumpulan tulisan serta memudahkan kita dalam memolesnya. Terlebih bila proyeksinya adalah fast-book (buku cepat saji), jangan memperlebar temanya.

Memang ada juga buku kumpulan tulisan yang terdiri dari beberapa bagian—di mana setiap bagiannya berisi tulisan-tulisan yang dikelompok-kelompokkan—sambil tetap berusaha mempertahankan keterhubungan antar-bagiannnya. Ini boleh-boleh saja. Asal, tulisan-tulisan dalam setiap bagian itu tetap bisa memfokus pada tema besar yang terjaga spesifikasinya.

Ketiga, daripada memaksakan relevansi naskah dengan membuat beberapa bagian dan memperbanyak jumlah tulisan yang disertakan, lebih baik memecahnya menjadi beberapa naskah yang lebih fokus. Artinya, kita bisa punya beberapa naskah buku dari yang semula hanya satu naskah buku.

Ini contoh naskah yang baru saja masuk ke penerbitan saya. Naskah kumpulan tulisan ini berisi 46 artikel dan terbagi dalam tiga bagian: 1) Baca-Buku-Tulis (11 tulisan), 2) Pendidikan-Kurikulum-Belajar (19 tulisan), dan 3) Motivasi-Cerdas-Kreatif-Siswa (16 tulisan). Kalau diterbitkan, naskah ini akan menjelma menjadi buku yang cukup tebal. Sayangnya dari sisi tema, naskah ini terlalu melebar. Akan lebih strategis bila naskah ini dipecah saja menjadi tiga naskah buku dengan memperhatikan langkah selanjutnya.

Keempat, setelah memecah naskah yang melebar menjadi naskah yang lebih fokus, lakukan pengayaan atau elaborasi. Teliti ulang setiap tulisan dan cari kelemahan maupun kekuatannya. Perhatikan betul-betul apakah gagasan-gagasan yang kita ungkap itu unik dan baru, atau malah sering diungkap oleh banyak penulis sebelumnya. Pikirkan pula apakah tulisan itu masih bisa lebih dielaborasi lagi dengan beragam contoh yang aktual.

Bila perlu, tambahkan tulisan-tulisan baru yang mampu menambah kelengkapan, kefokusan, maupun kekomprehensifan naskah. Cari pula peluang untuk menambah kekuatan naskah kita dibanding naskah-naskah yang sudah ada. Pendek kata, sekalipun tema naskah kita mungkin sama atau pernah digarap penulis lain, kita harus mampu menyusun naskah baru yang memiliki kelebihan maupun kekuatan tersendiri.

Kelima, buat judul baru yang fokus pada tema serta memiliki efek-efek promosional tinggi. Bila perlu, lakukan survei atas pilihan judul yang dirumuskan. Khusus untuk teknik membuat judul, saya sudah bahas dalam tulisan-tulisan sebelumnya. Terpenting di sini, jangan serta merta menjadikan judul bagian pada naskah sebelumnya menjadi judul naskah yang baru hasil pemecahan.

Nah, melalui langkah-langkah yang saya sarankan di atas, semoga Anda para penulis generalis, penulis artikel opini, kolumnis, atau penulis pemula, sudah mulai dapat menata strategi penulisan. Bagi Anda yang sudah mempunyai stok tulisan bejibun dan tinggal memanen hasilnya, semoga pula saran-saran saya ini bisa membantu Anda bersiap sebelum memasukkan naskah ke penerbit. Tetap semangat menulis, sukses untuk kita semua, dan salam best-seller.[ez]

* Edy Zaqeus adalah editor Pembelajar.com, penulis buku-buku best-seller, penerbit buku, dan konsultan penerbitan. Ia mendirikan Bornrich Publishing dan Fivestar Publishing yang melahirkan buku-buku laris. Ia juga telah membantu banyak klien dalam melahirkan buku-buku bestseller dan mendirikan penerbitan mandiri. Edy dapat dihubungi di: https://ezonwriting.wordpress.com atau edzaqeus@gmail.com.