02 November 2006 – 06:42 (Diposting oleh: Editor)
Seri Artikel Write & Grow Rich

Judul artikel di atas mungkin agak aneh atau malah tidak baku dari segi tata bahasa. Tapi tidak mengapa, yang penting judul itu dapat menjembatani maksud utama gagasan saya, bahwa seorang penulis seharusnya juga merupakan seorang penjual gagasan yang andal. Dalam penutup buku saya Resep Cespleng Menulis Buku Best Seller (Gradien, 2005), saya sudah menyatakan bahwa, “Seorang penulis yang unggul dan berhasil haruslah seorang pemasar yang ulung pula.” Saya ingin mempertegas gagasan tersebut dalam artikel berikut ini.

Satu kelemahan paling mendasar dari para penulis buku umumnya adalah keengganan mereka untuk memasarkan, mempromosikan, atau menjual buku mereka sendiri. Hanya sedikit penulis yang mau kreatif dan berkeringat memasarkan serta menjual bukunya. Mayoritas penulis menyerahkan sepenuhnya urusan tersebut kepada penerbit. Di tengah persaingan yang makin ketat, pola lepas tangan itu tidak strategis lagi.

Kita harus tahu, umumnya penerbit menerbitkan puluhan hingga ratusan judul buku setiap tahunnya. Sementara, hampir semua penulis yang bukunya diterbitkan itu pastilah menghendaki adanya promosi yang maksimal atas buku mereka. Faktanya, kemampuan penerbit sangatlah terbatas. Anggaran promosi per judulnya rata-rata hanya 3-5 persen dari keseluruhan ongkos produksi. Jadi, kemungkinan besar prioritas promosi hanya dinikmati oleh buku-buku yang diprediksi bakal laris di pasaran. Untuk buku-buku semacam itu, bisa saja penerbit menggenjot promosi habis-habisan. Bagaimana nasib buku yang lainnya? Selebihnya diserahkan pada pasar. Syukur-syukur penulisnya mau membiayai sendiri promosinya atau patungan dengan penerbit.

Melahirkan buku tak ubahnya melahirkan seorang “anak”. Sukses kita diawali oleh keberhasilan kita dalam melahirkan si anak tersebut. Selanjutnya, supaya masa depannya sukses, berikan dia makanan yang bergizi serta pakaian, perawatan, perhatian, pendidikan, dan lingkungan terbaik. Jadi, jangan sia-siakan dia. Jangan biarkan dia tumbuh liar dan tanpa masa depan yang pasti. Begitulah perumpamaannya.

Oleh sebab itu, setiap judul buku yang kita hasilkan dengan susah payah haruslah di-backup dengan strategi pemasaran yang kuat. Tinggalkan anggapan penulis buku tidak layak mempromosikan, memasarkan, atau bahkan menjual bukunya sendiri. Sebaliknya, mari tanamkan keyakinan bahwa sukses buku kita tergantung pada bagaimana kita mampu memasarkan dan menjual buku tersebut.

Nah, menjual dan memasarkan buku ini luas pengertiannya. Di sini kita dituntut untuk melakukan serangkaian inisiatif kegiatan, baik berupa aktivitas pemasaran, iklan, public relations (baca: soft selling), maupun kegiatan menjual secara langsung kepada target market kita (hard selling).

Ketika dalam seminar-seminarnya Hermawan Kartajaya berulang kali menyebutkan judul bukunya yang jadi best seller, sesungguhnya dia sedang menjual bukunya. Ketika Andrias Harefa mengutip buku-buku best seller-nya dalam tulisan-tulisan maupun buku-buku berikutnya, dia juga sedang menjual buku-bukunya. Saat dalam siaran-siaran di sebuah radio Tung Desem Waringin menyebut hadiah-hadiah untuk pembelian buku Financial Revolution secara inden, sebenarnya dia juga sedang berpromosi sekaligus menjual bukunya. Saat Jennie S. Bev memutuskan mendonasikan semua perolehan royalti atas bukunya yang berjudul Rahasia Sukses Terbesar, sebenarnya dia tengah menjalankan pula strategi public relations yang sangat jitu. Dan ketika Masbukhin Pradhana—penulis buku Cara Brilian Menjadi Karyawan Beromzet Miliaran—menulis dan mengabarkan terbitnya buku tersebut di berbagai mailing list, sebenarnya dia pun sedang beriklan secara gratis di media internet. Langkah-langkah semacam ini penting sekali bagi buku kita.

Saya punya keyakinan yang amat kuat, bahwa sukses sebuah buku tidak semata ditentukan oleh kualitas buku itu saja. Kompetensi penulis, formulasi judul, kaver, kualitas isi, kualitas kertas, kualitas kemasan, semuanya merupakan titik awal suksesnya sebuah buku. Tetapi faktor promosi, iklan, dan aktivitas-aktivitas below the line yang menghasilkan publisitas media massa juga sangat berpengaruh. Khusus di Indonesia, publisitas media massa sungguh-sungguh sanggup mempengaruhi keputusan beli para penggemar buku.

Mungkin kasus terakhir yang bisa kita rujuk adalah sukses buku Soekarno Files dan buku biografi karangan mantan Presiden RI BJ Habibie. Sudah lama buku-buku biografi dan buku sejarah kurang mendapat perhatian masyarakat. Namun, kedua buku tersebut menjadi kontroversi serta mendapat publisitas yang sangat luas melalui media elektronik maupun media cetak. Alhasil, penggemar buku berbondong-bondong memburu buku-buku tersebut.

Jika saya ditanya mengapa kedua buku tersebut laris manis, jawaban saya hanya terfokus pada satu hal, yaitu publisitas media massa. Entah publisitas itu merupakan efek samping atas popularitas dan kontroversi tokoh-tokoh yang terlibat di dalamnya—atau hasil kreasi para pekerja buku di balik penerbitan buku-buku tersebut—yang pasti media massa berandil besar. Reportase mereka atas sebuah judul buku sejatinya merupakan “iklan” bagi buku tadi. Perhatian kita tidak akan cukup terusik sampai saat media massa membicarakan masalah tersebut.

Nah, apa yang bisa dilakukan oleh para penulis buku supaya bukunya disambut baik oleh pasar? Ada beberapa langkah pemasaran dan penjualan yang bisa ditempuh. Kita akan bahas dalam artikel-artikel saya berikutnya. Yang terpenting saat ini, kita harus punya mindset bahwa sebagai penulis kita harus ngeh dulu dengan soal promosi, pemasaran, dan penjualan. [ez]

* Edy Zaqeus adalah penulis buku-buku best-seller, konsultan penulisan & penerbitan, editor Pembelajar.com, dan trainer di Sekolah Penulis Pembelajar (SPP). Ia juga mendirikan Bornrich Publishing dan Fivestar Publishing yang berhasil menerbitkan sejumlah buku best-seller. Nantikan workshops Edy Zaqeus tentang “Membuat Blog Menjadi Buku”, “Cara Gampang Menerbitkan Buku Sendiri”, dan “Cara Gampang Menulis Buku Best-Seller” pada November-Desember 2007 ini (Info selengkapnya, hubungi SPP di 021-7828044). Edy dapat dihubungi di: https://ezonwriting.wordpress.com atau edzaqeus@gmail.com.