16 Maret 2007 – 06:24 (Diposting oleh: Editor)
Seri Artikel Write & Grow Rich

Satu perangkat lagi untuk menjadikan buku kita best seller adalah dengan menyeminarkan atau melokakaryakan buku tersebut. Berbeda dengan book launching, kegiatan ini merupakan pengimplementasian dari materi buku kita. Jika buku kita terlahir melalui riset, uji coba, dan persiapan yang matang, membuat forum-forum seperti seminar, lokakarya, atau pelatihan tak lagi menjadi masalah yang terlalu merepotkan.

Saya harus katakan, langkah ini merupakan langkah andalan bagi buku-buku nonfiksi khususnya jenis how to. Sesuai dengan jenis dan sifatnya, buku how to berisi panduan strategi, metode, atau cara melakukan sesuatu pekerjaan. Tidak jarang, buku-buku semacam ini digunakan untuk memperkenalkan konsep-konsepnya saja, sementara detail aplikasinya secara riil membutuhkan pelatihan khusus.

Jika kita berhasil menulis buku jenis ini, sesungguhnya kita telah melahirkan seekor “angsa yang bertelur emas”. Emasnya adalah produk-produk turunan dari buku tersebut, yaitu seminar, workshop, atau pelatihan-pelatihan yang materinya berbasis pada strategi, metode, cara, dan aplikasi yang kita paparkan dalam buku tersebut. Sebagai si penulis buku, otomatis kita bisa memfungsikan diri sebagai pembicara atau trainer yang membeberkan pengimplementasiannya.

Khusus untuk materi lokakarya atau pelatihan, ada baiknya kita berkonsultasi dengan lembaga-lembaga konsulting yang memiliki reputasi bagus serta berpengalaman dalam mendesain program-program pelatihan. Ini supaya materi pelatihan kita bisa terorganisir dengan baik dan memiliki bobot atau standar mutu tertentu. Kita juga perlu waktu persiapan yang cukup sebelum meluncurkan program tersebut. Tak ada salahnya kita melakukan uji coba gratis dan menganalisis feedback yang diperoleh dari uji coba tadi.

Nah, buku yang isinya bisa diaplikasikan dalam programn-program pelatihan sebenarnya mampu menjadi batu loncatan bagi karir kita, bahkan bisa memberikan karir dan tantangan baru. Buku yang bagus dan praktis bisa membuka peluang kita untuk menjadi konsultan atau trainer dalam bidang yang sama. Banyak contoh seperti ini.

Contoh sukses aplikasi buku dalam program-program pelatihan maupun seminar adalah buku ESQ karangan Ary Ginanjar. Buku itu berisi teori-teori, dan konsep terbaru mengenai emotional and spiritual quotient, terutama dikaitkan dengan ajaran dan nilai-nilai agama Islam. Karena konsep ESQ masih merupakan barang baru waktu itu, maka seminar, lokakarya, atau pelatihan-pelatihan yang digelar Ary Ginanjar dan lembaga konsultingnya menuai sukses. Buku dan aktivitas-aktivitas turunannya bisa menjadi cara cerdas untuk memperluas audiens.

Seorang klien saya, praktisi MLM yang sangat concern dengan pelatihan, berhasil menyusun sebuah naskah buku mengenai bidang tersebut. Mengapa dia menulis buku? Salah satu sasarannya adalah membidik potensi pelatihan di industri DS/MLM. Ia tahu persis,segmen tersebut selama ini terabaikan. Dan, dia yakin dengan formula pelatihan yang ditemukannya bakal menggairahkan industri ini. Jadi, dia menulis naskah buku untuk kemudian membuat modul-modul pelatihan. Nilai plusnya, dia adalah praktisi dan sudah mendapatkan manfaat langsung dari pendekatannya. Sementara klien saya yang lain—yang baru saja mendirikan sebuah lembaga pelatihan leadership—akan meluncurkan sebuah buku terjemahan bertema kepemimpinan visioner pada pertengahan April 2007 ini. Tidak tanggung-tanggung, penulisnya didatangkan dari luar negeri dan dibuatkan seminar khusus yang membedah pokok-pokok isi buku tersebut. Sudah bisa ditebak, materi buku itulah yang nantinya akan lebih diperinci lagi dalam bentuk modul-modul pelatihan yang diselenggarakan oleh lembaga bersangkutan.

Nah, apakah seminar dan pelatihan itu nantinya bisa mengatrol penjualan bukunya? Bisa saja, terlebih bila disertai dengan usaha-usaha lain seperti sudah saya uraikan dalam tulisan-tulisan sebelumnya. Yang pasti, buku Stephen Covey, terutama yang berjudul 7 Habbits of Higly Effective People, juga bagus penjualannya karena dukungan seminar dan kelas-kelas pelatihan.

Memang, tidak semua audiens atau peserta seminar, lokakarya, dan pelatihan-pelatihan sudah membaca atau memiliki buku sebuah buku bagus. Maka, forum semacam itu bisa menjadi medium penjualan buku yang sangat potensial. Kalau forum-forum itu bisa kita selenggarakan secara reguler di berbagai kota, maka dampak penjualan langsung dari buku tersebut akan sangat-sangat berarti. Ok, selamat menyeminarkan buku Anda. Salam best seller![ez]

* Edy Zaqeus adalah penulis buku-buku best-seller, konsultan penulisan & penerbitan, editor Pembelajar.com, dan trainer di Sekolah Penulis Pembelajar (SPP). Ia juga mendirikan Bornrich Publishing dan Fivestar Publishing yang berhasil menerbitkan sejumlah buku best-seller. Nantikan workshops Edy Zaqeus tentang “Membuat Blog Menjadi Buku”, “Cara Gampang Menerbitkan Buku Sendiri”, dan “Cara Gampang Menulis Buku Best-Seller” pada November-Desember 2007 ini (Info selengkapnya, hubungi SPP di 021-7828044). Edy dapat dihubungi di: https://ezonwriting.wordpress.com atau edzaqeus@gmail.com.