19 Juni 2006 – 04:25 (Diposting oleh: Editor)
Seri Artikel Write & Grow Rich

Hampir semua penulis buku maupun penerbitnya selalu berharap bukunya diterima oleh pembaca dan laris di pasar. Tetapi bagi saya, harapan saja tidak cukup. Menginginkan saja tidak cukup. Mimpi saja juga tidak cukup. Semua penulis buku memiliki harapan semacam itu, tetapi tidak semua mampu meraihnya oleh karena pendekatan atau cara yang dilakukan berbeda-beda. Seorang penulis buku yang sukses pasti memiliki visi yang kuat, hasrat 100 persen, dan komitmen yang tegas untuk selalu menghasilkan buku-buku best seller.

Buku adalah produk dan tidak bisa mengelak dari hukum-hukum pasar. Buku yang diterima dan laris di pasar pasti mendatangkan banyak keuntungan, baik keuntungan finansial, popularitas, kredibilitas, image, dan tentu saja bagus bagi personal branding si penulis. Sebaliknya, buku yang tidak diterima pasar sesungguhnya merupakan buku yang gagal. Pengaruhnya bisa mengurangi daya jual penulisnya di mata penerbit.

Bagi saya, setiap penulis buku, apalagi bagi mereka yang baru pertama kali menulis dan menerbitkannya, harus punya tujuan utama membuatnya best seller. Mengapa demikian? Karena, baik membuat buku best seller maupun buku yang biasa-biasa saja (tegasnya buku yang gagal), pada dasarnya membutuhkan energi dan biaya yang sama besarnya. Nah, kalau capeknya sama, mengapa memilih menulis buku yang biasa-biasa saja?

Asal anda tahu, banyak buku bagus gagal di pasar dan sebaliknya banyak buku yang biasa-biasa saja isinya ternyata suskes di pasar. Ada buku yang digagas dan dibuat dengan sangat sempurna tetapi tetap tidak mendapat sambutan seperti yang diinginkan. Ada pula buku yang sangat sederhana tetapi di luar dugaan pasar malah menyambutnya dengan antusias. Kesannya, dunia buku kok begitu misterius…

Misteri-misteri itulah yang mestinya dipecahkan oleh setiap penulis buku maupun penerbit. Saya sendiri tidak merasa telah berhasil sepenuhnya memecahkan semua misteri menyangkut sukses atau gagalnya buku di pasar. Tetapi dari pengamatan, penelusuran, dan pengalaman sendiri, saya temukan sejumlah petunjuk yang menarik untuk diperhatikan. Di luar usaha-usaha pemasaran, faktor-faktor yang berpengaruh itu antara lain menyangkut pilihan target pembaca, desain kaver, promosi kaver belakang, dan terutama sekali menyangkut kreativitas dalam memberi atau memilih judul buku.

Jika temuan-temuan itu kita perhatikan dan dipadukan dengan kiat-kiat penyusunan buku seperti yang sudah tulis di buku Resep Cespleng Menulis Buku Best Seller (Gradien, 2005), saya yakin peluang kegagalan bisa diperkecil. Sebaliknya, jika langkah-langkah yang dianjurkan itu diikuti dan dikombinasi dengan langkah-langkah strategis seperti akan saya jelaskan dalam tulisan-tulisan berikutnya, maka buku best seller adalah target yang sangat-sangat beralasan untuk dimiliki setiap penulis buku.

Mengapa buku gagal di pasar?
Sudah jelas, tanpa saya minta pun anda pasti tidak mau mencontoh buku-buku yang gagal di pasar. Tetapi anjuran yang ditegaskan lagi di atas ada maksudnya. Jelasnya begini. Di toko-toko buku akan mudah anda temukan buku-buku bagus yang terus teronggok di rak dan tak pernah disentuh calon pembeli. Padahal jika anda cermati, tak jarang buku-buku yang kesepian itu punya kemasan, kaver, dan isi yang bagus pula. Kadang, buku-buku itu malah ditulis oleh atau mengenai tokoh ternama, diterbitkan oleh penerbit besar, dan bentuk fisiknya pun oke sekali.

Ada beberapa kemungkinan yang menyebabkan buku-buku itu gagal di pasar. Kemungkinan pertama, topiknya asing atau memang kurang digemari pembaca. Kedua, buku itu salah membidik pangsa pasar dan memilih jalur distribusi. Ketiga, kemasan atau kavernya tidak menarik minat pembaca. Keempat, buku-buku itu gagal memanfaatkan kekuatan judul. Mari kita bahas secara singkat.

Buku yang temanya asing atau tidak populer memang sulit menarik pembeli. Bisa jadi, buku-buku ini mengandalkan keunikan topik atau sengaja mengangkat sesuatu yang terlewatkan oleh penulis-penulis lain. Tetapi mengangkat topik yang unik atau asing tanpa usaha-usaha lain seperti iklan, mengundang peresensi, dan pemasaran yang bagus, hasilnya pasti tidak bisa diandalkan. Apalagi jika topik itu tidak cukup kuat menarik minat media massa untuk mendiskusikannya.

Berikutnya, kesalahan membidik pasar dan jalur distribusi juga bisa fatal akibatnya. Jika seorang penulis buku memilih pangsa pasar yang sangat segmented, maka keliru jika dia mengandalkan jalur distribusi melalui toko-toko buku. Lebih tepat jika dia menjual bukunya secara langsung dalam komunitas atau aktivitas-aktivitas dari segmen yang dibidik. Pemasaran juga harus ditopang dengan iklan di media-media khusus dan direct marketing bisa dijalankan.

Sebab ketiga, kemungkinan kemasan atau kaver bukunya kurang menjual. Sekalipun tidak ada jaminan buku yang dikemas dan berkaver bagus selalu laris, tetapi kita harus paham dengan perilaku penggemar buku umumnya. Bahwa pandangan pertama calon pembeli memang berpengaruh. Jika sekilas secara fisik buku itu kurang menarik, tidak eye catching, kebanyakan orang akan segera beralih ke buku-buku yang lain. Sampul buku-buku pelajaran atau diktat-diktat kuliah adalah contoh yang paling membosankan. Juga sampul buku-buku sejumlah penerbit yang kesannya seragam dan monoton (walau mungkin maksudnya adalah memberi identitas ).

Dan mirip dengan persoalan ketiga, banyak buku yang gagal memanfaatkan kekuatan judul sebagai pemicu minat (trigger) atau penimbul rasa penasaran (teaser). Begitu kuatnya pengaruh judul dalam membangun kesan pertama dan memancing rasa penasaran orang. Tetapi sedikit penulis yang berani kreatif dari sisi yang paling strategis ini. Akibatnya, buku-buku yang tidak berani kreatif dalam hal judul, kecil peluangnya untuk menarik minat pembaca. Butuh usaha ekstra untuk mengangkat buku-buku yang judulnya mendem alias tenggelam oleh ribuan judul lainnya.[ez]

* Edy Zaqeus adalah penulis buku-buku best-seller, konsultan penulisan & penerbitan, editor Pembelajar.com, dan trainer di Sekolah Penulis Pembelajar (SPP). Ia juga mendirikan Bornrich Publishing dan Fivestar Publishing yang berhasil menerbitkan sejumlah buku best-seller. Nantikan workshops Edy Zaqeus tentang “Membuat Blog Menjadi Buku”, “Cara Gampang Menerbitkan Buku Sendiri”, dan “Cara Gampang Menulis Buku Best-Seller” pada November-Desember 2007 ini (Info selengkapnya, hubungi SPP di 021-7828044). Edy dapat dihubungi di: https://ezonwriting.wordpress.com atau edzaqeus@gmail.com.