24 April 2006 – 08:02 (Diposting oleh: Editor)
Seri Write & Grow Rich

Belum lama ini saya mendapatkan email dari seorang sahabat yang juga penulis, dari Yogyakarta. Shabat saya ini menyatakan kegelisahannya saat hendak menulis buku. “Rasanya semua segmen (maksudnya tema buku: ez) sudah ditulis orang? Kira-kira apalagi ya yang menarik untuk ditulis jadi buku best seller?” Begitu kira-kira pertanyaan sahabat yang baru saja memasuki dunia penulisan buku ini. Dan ternyata, saya juga mendapatkan pertanyaan serupa dari beberapa rekan lain yang baru bermaksud menulis sebuah buku.

Gara-gara pertanyaan-gara itu, saya jadi berpikir, apakah banyak penulis merasakan hal yang sama? Segera saja saya teringat dengan diskusi menarik bersama rekan-rekan saya di JW Club (Jakarta Writers Club) mengenai topik yang sama. Waktu itu muncul pertanyaan yang nadanya sama, namun cara penyampaiannya berbeda. Terhadap pertanyaan semacam di atas, saya punya jawaban yang paten!

Menurut saya, yang namanya topik atau tema buku itu tidak mungkin bisa dikatakan “sudah habis” digarap oleh para penulis. Dengan kata lain, topik atau tema buku itu tidak pernah habis, sekalipun sudah ada penulis, bahkan mungkin beberapa penulis, yang menulis tema buku tersebut. Itu sebabnya, saya selalu menyemangati rekan-rekan yang punya kegelisahan semacam itu untuk tidak kecil hati apabila, misalnya, tema yang hendak digarap ternyata sudah ada yang menulis lebih dulu.

Mengapa tidak perlu takut menulis tema yang sudah ditulis penulis lain? Banyak alasannya. Pertama, jelas, tidak ada yang namanya monopoli tema buku. Wah, apa pula ini? Maksud saya, hanya karena penulis lain sudah pernah menulis tentang tema tersebut, maka berikutnya tidak ada lagi yang boleh menyentuh tema tersebut. Kalau logika ini diikuti, maka setelah Bung Arswendo menelurkan buku Mengarang Itu Gampang, pasti buku-buku tentang menulis karangan Mas Hernowo, Andrias Harefa, Naning Pranoto, Bambang Trim, A.S. Laksana, Gola Gong, dll, bakalan nggak pernah ada di hadapan kita. Menurut saya, tidak ada aturan semacam ini dalam dunia kreatif dan penulisan.

Kedua, tema boleh sama, tapi tujuan penulisan, cara dan gaya pemaparan, sudut pandang yang diambil, segmen yang dituju, kualitas penulisan, kasus yang diangkat, dan isi secara keseluruhan, bisa saja berlainan. Ruang-ruang inilah yang disediakan bagi proses kreatif penulis-penulis umumnya. Sehingga, masing-masing penulis dapat memberikan buah karya dengan rasa dan nuansa yang berbeda. Dalam ilmu marketing (ceileh…!), ini namanya differentiation. Analoginya, banyak orang bisa sama-sama membuat mi instan, tapi bentuk minya, mereknya, rasanya, kemasan, cara promosinya, dan harganya, bisa berbeda-beda.

Dengan logika yang sama, maka kita semua sama-sama tahu, mengapa Mie Sedap bisa menggerus dominasi kelompok Indomie (saya dengar, market share Indofood anjlok drastis gara-gara penetrasi luar biasa dari produsen mi sedap), sementara Mie Selera Rakyat tetap saja terengah-engah di pasaran sekalipun sudah banting harga habis-habisan. Itu sebabnya, tidak pernah ada kata berhenti untuk sebuah jenis produk. Selalu ada yang baru dan baru lagi.

Ketiga, menghindari tema-tema yang sudah pernah ditulis oleh penulis lain, rasanya justru akan membelenggu proses kreatif kita sebagai penulis. Lha, kok? Iya, dong! Kalau kita, misalnya, ngebet banget pingin menulis buku bertema “Bagaimana Cara Menulis Skenario Yang Huebat!”, lalu niat kita surut gara-gara di pasar sudah ada bukunya Mas Sony Set, Gola Gong, atau bahkan Richard Krevolin. Wah, bakalan patah hati dong…

Menurut saya, keberadaan buku-buku yang setema dengan buku yang hendak kita garap, seharusnya malah menjadi pemicu dan pemacu supaya kita membuat tulisan yang jauh lebih bagus dari yang sudah ada. Kalaulah tidak lebih bagus, minimal ada taste yang berbeda. Setelah buku selesai dan beredar, ya biarkan pasar atau pembaca yang jadi hakimnya.

Keempat, nah… ini alasan pragmatis (seperti biasa, ini menu yang perlu dipertimbangkan juga he he he), bahwa dipandang dari sisi market, maka menulis tema yang pernah digarap penulis lainnya mendatangkan keuntungan tersendiri. Bagi penulis-penulis baru, tidak usah takut mengambil langkah ini. Wah, bagaimana bisa?

Ini logika sederhana saya. Buku yang sudah lebih dulu terbit sesungguhnya bisa kita anggap sebagai alat tes pasar. Kalau buku itu disambut baik, berarti tema itu memang punya segmen pembacanya. Kalau buku itu laris manis, berarti tema itu disukai pembaca. Nah, kalau kita jeli, kan kita tidak perlu ‘babat alas’ dengan tema yang asing (sekalipun ini juga menantang). Ikuti saja tema tersebut, bikin yang lebih dasyat, dan biarkan pembaca yang menentukan pilihan.

Jadi, kita tinggal menggarap segmen pasar yang sudah diuji oleh produk sebelumnya. Saya tidak tahu, apakah logika ini masuk dalam logika rekan-rekan sekalian. Tentu saja, penggunaan rumus ini ada batasannya. Namun, yang pasti ketika saya menulis buku Resep Cespleng Menulis Buku Best Seller (Gradien, 2005), saya benar-benar mempertimbangkan segmen yang selama ini sudah digarap oleh Mas Wendo, Mas Hernowo, Mas Andrias, Mbak Naning, Mas Bambang, dll.

Ternyata benar, saya mendapatkan banyak pembaca yang rata-rata juga membaca atau mengoleksi buku-buku mereka. Saya dapatkan puluhan email dan komentar (beberapa di antaranya dapat Anda lihat di bagian komentar iklan buku saya itu di Pembelajar.com) yang mengindikasikan hal tersebut. Plus, saya dapatkan segmen baru yang berhasil saya kreasikan berdasarkan positioning buku saya, yaitu untuk para eksekutif dan penyibuk yang hendak menulis buku. Berdasarkan laporan dari penerbitnya, buku tersebut juga lumayan laris.

Masih ada satu lagi manfaat dari sisi branding saya sebagai penulis buku best seller. Dampak pemunculan buku tersebut bagi profesi saya sebagai publishing consultant ternyata juga sangat signifikan. Selama beberapa bulan semenjak buku itu terbit, saya sampai memiliki waiting list untuk calon klien yang ingin naskahnya saya edit, termasuk beberapa di antaranya menggunakan jasa konsultansi saya untuk mendirikan independent publishing. Satu lagi rahasia kecil, namun ini masih hipotetikal sifatnya. Sebagai pembaca, umumnya kita punya perilaku yang mudah ditebak. Begini, jika kita suka buku-buku tentang cara menulis misalnya, maka kita cenderung menambah koleksi buku mengenai topik tersebut. Jika kita suka dengan buku-buku finance, maka sebagai makhluk intelektual, kita seperti tergoda untuk selalu menambah koleksi buku mengenai tema tersebut. Entah untuk dibaca dan dijadikan referensi, sekadar dikoleksi dan disimpan di rak, untuk gengsi-gengsian, untuk mengetahui kekuatan lawan, untuk dikritik dan dicari jeleknya, untuk memotivasi atau memacu diri, atau biar nggak ketinggalan isu terbaru, banyak lagi dah alasannya.

Ssstttt… tapi ada juga lho, katanya, yang profesinya penulis misalnya, tapi tidak tertarik membeli buku tentang bagaimana cara menulis karya orang lain, karena menganggap dirinya lebih mampu dari si penulis itu. Ah, tapi ini mah pikiran negatif ya… nggak usah dipikirin. Lewat…!

Nah, rekan sekalian, tampaknya dunia penulisan buku akan tetap hidup. Selalu ada proses perbaikan dan penyempurnaan dalam setiap karya. Dan memang ada ruang-ruang kreatif yang bisa dimasuki oleh siapa saja. Sekalipun tema cinta sudah digarap oleh para penulis besar sejak ribuan tahun yang lalu, tetap saja hingga detik ini ada yang menulis tema tersebut. Sekalipun sudah ada buku-buku bagus dan sangat bagus mengenai cara menulis buku, tapi lihat saja, nanti pasti ada lagi buku-buku mengenai tema tersebut.

Dan melalui tulisan ini, saya pun berharap akan ada buku-buku baru mengenai bagaimana cara menulis atau menghasilkan buku best seller. Bagaimanapun, kita semua masih harus banyak belajar, bukan?

Salam Best Seller![ez]

* Edy Zaqeus adalah penulis buku-buku best-seller, konsultan penulisan & penerbitan, editor Pembelajar.com, dan trainer di Sekolah Penulis Pembelajar (SPP). Ia juga mendirikan Bornrich Publishing dan Fivestar Publishing yang berhasil menerbitkan sejumlah buku best-seller. Nantikan workshops Edy Zaqeus tentang “Membuat Blog Menjadi Buku”, “Cara Gampang Menerbitkan Buku Sendiri”, dan “Cara Gampang Menulis Buku Best-Seller” pada November-Desember 2007 ini (Info selengkapnya, hubungi SPP di 021-7828044). Edy dapat dihubungi di: https://ezonwriting.wordpress.com atau edzaqeus@gmail.com.