08 Mei 2006 – 05:32 (Diposting oleh: Editor)
Seri Artikel Write & Grow Rich

Belakangan ini, ada sebuah fenomena bergairahnya dunia perbukuan dan penerbitan di Indonesia. Sungguh, pasca reformasi politik saat ini merupakan masa-masa kegairahan yang luar biasa bagi dunia buku. Ribuan judul buku diterbitkan, banyak sekali penulis baru bermunculan, begitu juga penerbit-penerbit independen atau penerbitan sendiri juga sama menjamurnya. Boleh dikata, sejak 1998 jumlah judul, penulis, dan penerbit yang bermunculan mungkin mengalami grafik yang meningkat tajam. Sayang belum ada data pasti mengenai hal ini, namun dari pengamatan di lapangan, banyak orang akan setuju dengan kesimpulan di atas.

Nah, saya ingin sedikit mengungkap geliat para entrepreneur di bidang perbukuan yang sejauh ini sering lepas dari pengamatan kita semua. Tentu saja pembahasan akan dikaitkan dengan perspektif saya yang menyatakan bahwa keberanian mencoba merupakan benih-benih entrepreneurship yang bisa jadi membawa seseorang ke pilihan hidup yang sangat menantang ini.

Selama ini, mungkin kita hanya mengenal adanya penulis-penulis yang sepenuhnya menggunakan jalur konvensional dalam penerbitan karya-karyanya. Artinya, seorang penulis akan fokus pada usahanya menghasilkan karya yang menarik dan bermutu, disukai penerbit, dan diharapkan akan diterima pasar. Biasanya, setelah naskah diselesaikan, dimulailah aktivitas mencari penerbit yang dikenal dan menawarkan naskah tersebut. Apabila naskah diterima, selanjutnya diadakan perjanjian penerbitan, dan penulis tinggal menunggu karyanya diterbitkan dan beredar di toko, serta menerima laporan royalti setiap semester. Begitulah proses yang selama ini paling banyak ditempuh oleh para penulis umumnya.

Seiring berlangsungnya reformasi di berbagai bidang, rupanya semakin luas pula peluang masyarakat untuk menerbitkan karyanya dengan warna politik dan kepentingan apa saja. Lebih menarik lagi, proses penerbitan buku juga terasa jauh lebih mudah dibanding pada era Orde Baru. Kini, untuk menerbitkan buku cukup dilakukan dengan menyediakan naskah siap cetak, bisa mengurus ISBN (itu pun kalau dibutuhkan), bisa menciptakan nama penerbitan (badan hukum bisa menyusul), bisa memilih percetakan buku, dan tentu saja menyediakan ongkos cetaknya. Setelah buku tercetak, kita tinggal memilih dan menghubungi distributor mana yang akan dipilih dan berbagi diskon dengan mereka dengan kisaran 45-50 persen. Setelah itu, ya tinggal menunggu laporan hasil penjualan per bulannya dan menanti transfer pembayaran.

Melihat mudahnya proses penerbitan buku, maka tak heran jika sejumlah penulis mencoba menguji nyali dengan memberanikan diri menerbitkan karya-karyanya sendiri. Sebagian penulis membongkar tabungan sendiri, sebagian lagi cari pinjaman sana-sini, ada yang saweran modal di antara teman-teman, ada yang bekerjasama dengan LSM dengan memanfaatkan funding luar negeri, dan tak sedikit pula yang memanfaatkan royalti buku sebagai dana awal penerbitan mandiri mereka. Dengan proses seperti dipaparkan di atas, para penulis ini mulai menguji keberaniannya untuk mencicipi dunia kewirausahaan dengan segala risikonya.

Pada awalnya, mungkin yang dominan adalah idealisme. Tak bisa dimungkiri, munculnya self/independent publishing yang menjamur itu salah satunya disebabkan oleh “ditolaknya” sejumlah karya mereka oleh penerbit-penerbit mapan. Misalnya, buku-buku yang terlalu berbau kiri, buku-buku bertema seksualitas, naskah hasil penelitian, atau naskah-naskah buku yang oleh penerbit mapan dianggap tidak bakal laku di pasaran. Namun, setelah mencoba dan menguji sendiri bagaimana selera dan potensi pasar, para penulis yang menjadi penerbit mandiri ini mulai jeli memanfaatkan peluang. Terlebih setelah bisnis penerbitan ini mengenalkan kepada mereka cara bekerjanya sistem kapital, keuntungan-keuntungan yang bisa mereka dapatkan dari mekanisme ini, maka orientasi pasar pun menjadi acuan utama.

Pada titik ini, benih-benih keberanian mencoba telah menautkan pikiran mereka pada elan entrepreneurship. Apabila sebelumnya hanya menerbitkan satu dua buku, maka setelah break event point(BEP) dan mendapat untung, buku yang diproduksi pun bertambah banyak. Berikutnya, para knowledge entrepreneur ini mulai selektif menerbitkan naskah, dan berusaha tetap kreatif menciptakan produk-produk yang diminati pasar sekaligus masih memenuhi idealisme mereka.

Mereka agresif sekali memburu naskah dari penulis-penulis baru maupun penulis yang sudah mapan. Setiap kali mendengar ada naskah yang ditolak penerbit besar, serta merta mereka menawarkan diri untuk menerbitkannya. Tak heran jika penerbit-penerbit independen ini sering menerima ‘durian runtuh’ ketika berhasil dengan buku yang sebelumnya ditolak penerbit mapan.

Bukan bersikap pasif menerima naskah seperti penerbit-penerbit mapan, para penerbit kecil ini juga memotivasi siapa saja untuk menulis buku, mendorong orang-orang berbakat untuk melahirkan karya, dan mengajak para penulis untuk terus produktif menghasilkan karya. Beberapa di antaranya mengadakan lomba penulisan naskah kecil-kecilan, terus mengumumkan penerimaan naskah melalui milis-milis perbukuan, dan mencari bibit-bibit baru dengan pelatihan-pelatihan penulisan. Itu sebabnya, saya menganggap bahwa sekarang ini terjadi pembalikan situasi. Jika dulu penulis yang bersusah payah mencari penerbit, maka sekarang adalah eranya penerbit yang memburu penulis!

Jika penerbit-penerbit mapan sangat kaku dengan persentase royalti 10 persen, penerbit-penerbit kecil ini berani memberikan royalti di atas itu. Mereka juga memberikan tawaran diskon yang lebih menarik apabila si penulis membeli buku dalam jumlah tertentu.

Yang terjadi kemudian, banyak sekali penerbit independen yang dioperasikan dari rumah-rumah kontrakan di gang-gang kecil atau kos-kosan mahasiswa. Kebangkitan para knowledge entrepreneur baru ini menjadi fenomenal sekali, seperti yang terjadi di Yogyakarta, Bandung, Jakarta, Malang, Surabaya, dan kota-kota lain yang umumnya menjadi sentra pendidikan. Bahkan, profesi sebagai penulis atau penerbit buku independen ini bisa menjadi lahan pilihan menarik bagi para sarjana yang baru diwisuda, yang punya kemampuan menulis atau editing, namun belum punya pekerjaan tetap.

Akhirnya, ratusan penerbit independen bermunculan. Ada yang eksis dan membesar dengan menerbitkan puluhan hingga ratusan judul, namun ada yang sekali terbit lalu mati. Ada yang berhasil menerbitkan buku-buku bagus, mendapat suntikan modal dan kemudian mendirikan badan hukum, namun ada pula yang tetap menjadi small publishing dengan satu dua judul per bulannya.

Yang lebih menarik lagi, iklim maraknya self/independent publishing semacam ini belakangan juga merambah ke institusi-institusi lain, terutama lembaga-lembaga consulting yang dimiliki oleh para public figur atau public speaker. Sedikit contoh, Dewi Lestari pertama kali bereksperimen dengan novel perdananya yang berjudul Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh (2001), yang sukses besar melalui penerbitan sendiri bermerek Truedee Books. Lalu Hermawan Kartajaya, yang semula rajin bekerjasama dengan sebuah penerbit besar di Jakarta, belakangan mendayagunakan potensi MarkPlus-nya untuk menerbitkan sendiri sejumlah fast book (buku saku).

Cara yang sama juga ditempuh Aa Gym yang mendirikan MQ Publishing, Andrie Wongso dengan AW Publishing, Clara Kriswanto dengan Jagadnita Consulting, dan yang sudah lebih dulu sukses adalah Ary Ginanjar dengan self publishing-nya yang menerbitkan buku ESQ yang selama lima tahun terjual hingga 390.000 kopi. Tren semacam ini akan terus berlanjut dan bisa menjadi ancaman serius bagi penerbit-penerbit mapan yang enggan melakukan terobosan.

Apa yang bisa kita pelajari dari fenomena di atas adalah nilai dari setitik benih entrepreneurship yang disirami oleh adanya peluang dan tantangan. Kebangkitan penerbit-penerbit kecil dan independen ini tidak akan terjadi apabila tidak ada yang namanya keberanian mencoba sesuatu yang mungkin baru bagi mereka. Begitu lahan usaha yang dicoba itu memberikan hasil, maka yang namanya mimpi-mimpi untuk meraih perkembangan dan hasil yang jauh lebih besar pasti segera muncul.

Bila dengan satu atau dua judul buku saja mereka sudah bisa memutar modal puluhan juta rupiah, maka bukan mustahil kalau berikutnya mereka menginginkan perputaran modal ratusan juta rupiah dengan belasan judul buku. Kalau ratusan juta sudah berputar, maka jangan coba-coba hentikan mimpi-mimpi mereka untuk menargetkan angka miliaran hingga ratusan miliar rupiah sebagai target-target jangka menengah atau panjang mereka. Dalam perkiraan saya, bila dengan satu judul ESQ saja penerbitan independen Ary Ginanjar bisa mencapai omset Rp17,550 miliar dan meraih profit Rp5,265 miliar, maka target-target puluhan atau ratusan miliar jelas bukan sesuatu yang menakutkan lagi.

Saya menduga, saat ini mungkin banyak knowledge entrepreneur dari dunia independent/self-publishing ini yang jangan-jangan malah sudah punya visi “1 Triliun” melalui bisnis penulisan dan penerbitan buku.

Salam Best Seller![ez]

* Edy Zaqeus adalah penulis buku-buku best-seller, konsultan penulisan & penerbitan, editor Pembelajar.com, dan trainer di Sekolah Penulis Pembelajar (SPP). Ia juga mendirikan Bornrich Publishing dan Fivestar Publishing yang berhasil menerbitkan sejumlah buku best-seller. Nantikan workshops Edy Zaqeus tentang “Membuat Blog Menjadi Buku”, “Cara Gampang Menerbitkan Buku Sendiri”, dan “Cara Gampang Menulis Buku Best-Seller” pada November-Desember 2007 ini (Info selengkapnya, hubungi SPP di 021-7828044). Edy dapat dihubungi di: https://ezonwriting.wordpress.com atau edzaqeus@gmail.com.