22 Mei 2006 – 07:58 (Diposting oleh: Editor)

Jagad pernovelan di Tanah Air belakangan benar-benar dimeriahkan oleh hadirnya pengarang-pangarang muda berbakat yang bila dilihat dari sisi produktivitas maupun variasi temanya, ternyata lumayan mencengangkan. Jumlah penulis-penulis bergenre teenlit (teen literatur) yang baru muncul, serta produktivitas mereka dalam menghasilkan karya, boleh dibilang agak meninggalkan rekan-rekan senior mereka yang bergerak di genre chiklitatau novel-novel dewasa lainnya.

Ade Kumalasari adalah satu di antara puluhan penulis baru di jagad penulisan novel-novel remaja ini. Baru-baru ini Mala, demikian panggilan akrabnya, meluncurkan novel keduanya yang berjudul Dengerin Dong, Troy! (Gramedia, 20067). Sebelumnya, alumnus MIPA UGM (2004) ini telah meluncurkan novel perdananya berjudul I’m Somebody Else (Kata-Kita, 2005). Mantan Pemimpin Redaksi koran kampus mingguan Bulaksumur Pos ini memandang bahwa pasar remaja memang sangat menantang untuk dimasuki. Ia juga menyambut baik banyaknya penulis remaja yang ikut meramaikan segmen ini. “Sekarang remaja jadi pelaku budaya, bukan penikmat saja,” komentar Mala.

Dalam wawancara dengan Edy Zaqeus dari Pembelajar.com, Mala yang kelahiran Muntilan 11 Desember 1979, ini membeberkan suka dukanya sebagai penulis baru. Salah satunya adalah perjuangannya dalam mengalahkan penyakit macet alias malas. Penulis yang mengaku tidak memiliki “darah menulis” ini punya kiat unik dalam mengatasi kemacetan, yaitu jauhi buku-buku bagus! Alasannya, itu akan semakin membuat kita frustasi manakala merasa tidak bisa menghasilkan karya “bagus”. Berikut petikan wawancara dengan ibu dari seorang anak ini:

Secara garis besar, apa isi novel terbaru Anda?
Dengerin Dong, Troy! berkisah tentang Cahaya Lintang, seorang ketua OSIS cewek, yang harus menghadapi banyak masalah menjelang peringatan lustrum sekolahnya. Mulai dari kegelisahannya karena belum pernah ada satu pun cowok yang naksir dia –kata sobatnya, karena Lintang terlalu pintar– sampai cara menghadapi Troy, si komandan peleton inti di sekolahnya, yang ngotot mengadakan lomba baris berbaris yang potensial memicu tawuran sesudahnya.

Ide penulisan dari mana?
Tema besar tentang tawuran pelajar saya angkat dari pengalaman pribadi saya ketika menjadi ketua OSIS di SMA, dulu banget. Tapi ternyata tema tersebut masih relevan dengan kondisi sekarang. Masalah tawuran memang menjadi salah satu keprihatinan saya.

Berapa lama menggarap novel ini?
Sekitar tiga bulan, mulai dari menentukan tema besar, merancang tokoh-tokoh dan alur, menulis, sampai sentuhan akhir. Ini sudah termasuk ngambeknya juga loh!

Dikaitkan dengan proses penulisan, apa beda novel ini dengan novel sebelumnya?
Bedanya ada pada penokohan, sudut pandang atau point of view penceritaan dan tema. Novel saya terdahulu I’m Somebody Else tokohnya seorang artis remaja yang kuliah tingkat awal. Saya samapi harus baca-baca tentang gaya hidup remaja perkotaan sekarang dari majalah-majalah. Sementara tokoh novel saya yang baru adalah remaja biasa saja, dan dari desa. Ini sih bisa diingat-ingat dari kehidupan remaja saya dulu. Untuk penokohan, saya biasanya mengambil modeling tokoh tertentu di dunia nyata. Atau gabungan beberapa tokoh untuk lebih memudahkan menghidupkan sang tokoh dalam imajinasi.

Kalau dari sudut penceritaan, bedanya?
Saya memakai sudut pandang orang ketiga untuk novel pertama dan sudut pandang orang pertama atau aku untuk novel kedua. Masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. Di novel pertama, saya bebas mengeksplorasi kejadian-kejadian yang menimpa tokoh-tokoh lain selain tokoh utama. Tapi eksplorasi perasaan si tokoh utama kurang maksimal. Sementara di novel kedua, saya bisa dengan detil menggambarkan pikiran dan perasaan tokoh utama. Tapi kejadian-kejadian yang tidak dialami langsung oleh tokoh utama jadi kurang tergarap.

Lagi-lagi cinta jadi tema utamanya, ya?
Saya selalu berusaha mengangkat tema yang tidak melulu soal cinta. Kisah cintanya tetap ada karena memang ini menjadi ‘bumbu wajib’ novel remaja. Tapi harus ada tema besar lain. Di novel pertama saya mengangkat masalah pencarian jati diri, sementara di novel kedua tentang tawuran pelajar.

Hambatan saat menyelesaikan novel-novel ini?
Seperti umumnya para penulis lain, saya kira adalah mengalahkan rasa malas! Kadang saya merasa “blank”, nggak tahu apa yang harus saya tulis selanjutnya. Tapi mestinya perasaan seperti itu harus dilawan.

Problem utamanya tetap kemacetan?
Ya, kalau boleh saya bilang sih, kemacetan sama dengan kemalasan. Ini saya nggak nyindir siapa-siapa, lho. Saya sendiri sering banget mengalami kemacetan.

Cara mengatasinya?
Saya punya trik begini. Biasanya kalau lagi macet atau malas menulis, saya membaca buku-buku. Satu, baca buku-buku bagus untuk mendapatkan inspirasi cara menulis atau bercerita dengan baik. Dua, baca buku-buku “jelek” untuk membangkitkan semangat, “Ah, kalok cuman gini sih, saya juga bisaaa!!!” Biasanya sih mood langsung bangkit lagi. Apalagi kalau buku yang dibaca bener-bener “cemen”. Saran saya sih, jangan cuma membaca buku-buku bagus saja. Nantinya malah semakin membuat frustasi bahwa Anda tidak bisa menulis sebagus itu. Lebih bagus kalau Anda bisa menemukan karya orang-orang yang Anda kenal. Misalnya, karya teman masa kecil Anda yang sama sekali nggak punya “potongan” untuk jadi penulis, waktu itu, sehingga bisa membuat Anda “kebakaran”.

Ada trik lain?
Masih banyak kok! Kalau bosan membaca, saya menonton film. Menonton gosip seleb atau surfing di internet. Ide novel pertama saya berawal dari nonton acara gosip, lho! Intinya, kita tidak bisa hanya diam dan menunggu ide, atau menunggu kata-kata bagus muncul. Kata-kata itu sebenarnya sudah beterbangan di udara, kok. Kita tinggal memaksakan diri untuk menangkapnya saja. Nasihat penting, terutama untuk diri saya sendiri, jangan memberi makan pada rasa malas!

Sebagai penulis pemula, apa dulunya kesulitan mendapatkan penerbit?
Alhamdulillah, saya tidak bermasalah dengan penerbit. Naskah pertama saya, begitu saya kirim, selang sehari kemudian langsung mendapat tanggapan positif dari penerbit. Mungkin karena saat itu belum banyak saingan, ya. Naskah kedua saya di penerbit besar ‘hanya’ sebulan masuk daftar tunggu. Malah, menurut saya, kesulitannya adalah masalah mental. Dulu, sebelum naskah saya selesai, saya sulit sekali menepis anggapan-anggapan: “Apa ada yang mau nerbitin karya saya ya?” “Ah, jangan-jangan naskahku ini jelek.” Penulis yang berkutat dengan perasaan negatif seperti itu nggak akan pernah selesai menulis.

Tanggapan Anda terhadap munculnya penulis-penulis muda di genre chiklit dan teenlit?
Saya senang sekali dengan munculnya banyak penulis-penulis muda sekarang ini. Semakin banyak malah semakin bagus. Munculnya karya-karya populer seperti ini sangat bagus untuk merangsang budaya membaca di kalangan anak-anak muda. Bahkan sekarang, enggak cuma membaca, tapi juga menulis. Akhirnya sekarang ini para remaja bisa menjadi pelaku budaya, bukan cuma penikmat saja.

Banyak sekali karya-karya lokal bermunculan. Apakah peluang pasar untuk novel-novel jenis ini masih lumayan?
Ya, saya rasa pasar untuk novel-novel remaja masih terbuka lebar. Saya termasuk orang yang optimis. Tapi untuk bisa bersaing dengan karya yang bergenre sama memang harus dibarengi dengan kualitas tulisan, serta tema yang menarik dan baru.

Apakah novel-novel yang muncul belakangan bakal sanggup menembus angka raihan novel-novel terdahulu seperti Eiffel I’m in Love, Fairish, atau Delaova?
Saya rasa ketiga novel tersebut bisa menembus angka penjualan yang spektakuler karena kasus khusus. Eiffel I’m in Love dan Dealova adalah novel-novel lokal remaja yang pertama memasuki pasar. Waktu itu belum ada saingan dan novel-novel jenis ini belum semeriah sekarang. Praktis mereka membukukan penjualan yang tinggi. Ditambah lagi efek dari popularitas film dan sinetron.

Kalau ingin benar-benar menembus angka penjualan yang tinggi memang tidak semudah novel-novel tersebut. Tapi saya rasa masih bisa, asalkan temanya benar-benar menarik, baru, dan didukung oleh promosi yang bagus.

Akan tahan berapa lama lagi tren novel-novel jenis ini?
Menurut saya, novel-novel jenis ini akan tetap ada sampai tahun-tahun mendatang. Karena memang ada kebutuhan bacaan untuk remaja. Yang berbeda mungkin bentuk dan temanya saja. Kita ingat dulu tahun 1980-an, remaja kita gandrung dengan serial Lupus dan juga novel-novel karya Gola Gong yang lebih “laki-laki”. Sekarang ini yang sedang booming adalah novel-novel yang “cewek banget”. Siapa tahu nantinya akan kembali lagi tren novel petualangan untuk cowok. Mengingat sekarang ini remaja cowok enggak punya bacaan. Alangkah mengerikan kalau mereka malah membaca bacaan pria dewasa. Atau mingkin tren bergeser ke arah novel grafis yang akan digencarkan oleh salah satu penerbit besar di sini. Tapi, pasar untuk bacaan remaja tetap akan ada.

Bagaimana dengan peluang novel metropop?
Novel metropop punya pangsa pasar tersendiri, yaitu para perempuan, dan sedikit laki-laki mungkin, yang sudah beranjak dewasa dan sudah mempunyai penghasilan sendiri. Peluang novel jenis ini masih terbuka lebar, terutama untuk para penulisnya. Karena memang belum banyak penulis lokal yang terjun ke novel jenis ini. Dari data lomba penulisan novel metropop di salah satu penerbit, peserta yang mengirim karya hanya seperlima dari peserta lomba penulisan novel remaja.

Kabarnya Ada juga menyasar novel anak. Seberapa prospektif segmen ini?
Pangsa pasar buku anak-anak punya keunikan tersendiri. Anak-anak mungkin punya pilihan sendiri, tapi yang menentukan untuk membeli adalah orang tuanya. Di pasaran saat ini, saya menemukan banyak novel anak yang ditulis orang dewasa, yang berkesan ingin menggurui, mengarahkan, dan memberi pesan moral. Memang orangtua punya kecenderungan untuk menasihati, ya? Saya tidak yakin anak-anak akan senang membaca novel-novel seperti itu. Saya rasa peluang untuk novel anak masih terbuka lebar, untuk cerita-cerita yang lebih imajinatif, misalnya petualangan. Lebih segar dan yang memberi pesan tanpa harus terkesan menggurui.

Sedang menggarap karya apa sekarang?
Sementara ini saya masih berkonsentrasi dengan novel remaja karena memang gaya penulisan saya cocok dengan jenis novel ini. Tapi saya juga bercita-cita untuk menulis skenario dan beranjak ke novel-novel “serius”. Setiap orang kan punya tahapan untuk berkembang. Sekarang ini saya masih dalam tahap belajar menulis. Suatu saat saya pasti akan sampai ke sana.

Terakhir, apa yang paling memotivasi Anda untuk terus menulis?
Yang paling memotivasi adalah momen ketika melihat orang-orang yang saya cintai membaca ucapan terima kasih di buku saya dan tersenyum bangga. Juga momen ketika saya membaca surat yang mengatakan, “Aku jadi semangat menulis karena terinspirasi tulisan Kak Mala.” Itulah hal yang paling saya inginkan dalam hidup: menjadi berarti, untuk diri sendiri dan untuk orang lain.[ez]

Catatan: Ade Kumalasari dapat dihubungi di: cikelin@yahoo.com atau blognya di: http://www.adekumalasari.com.