05 Juni 2006 – 08:42   (Diposting oleh: editor)

Kehadiran Andrea Hirata Seman, penulis novel debutan Laskar Pelangi (Bentang, 2005) tampaknya cukup memberi warna jagad sastra dan pernovelan di Indonesia. Novel yang bercerita tentang kehidupan sekitar sepuluh anak-anak dalam memperjuangkan sekolahnya itu seolah memberi setitik kesegaran di tengah-tengah dahaganya pembaca terhadap karya-karya bermutu. Banyak orang memuji novel memoar tersebut karena jalinan ceritanya yang memang begitu sekaligus penuh muatan nilai moral. “Menyentuh…” kata Garin Nugroho. “Mengharukan…” kata Korrie layun Rampan. “Menarik…” komentar Sapardi Djoko Damono. “Kemelaratan yang indah…” tulis Tempo. ”Novel tentang dunia anak-anak yang mencuri perhatian…” puji Gatra.

Andrea mengaku heran juga dengan sambutan publik yang begitu antusias atas novelnya yang sudah mengalami cetak ulang ke-3 dalam waktu tujuh bulan tersebut. Untuk ukuran novel “serius”, angka penjualan ini tentu menempatkannya dalam deretan buku best seller. Padahal, mungkin novel itu tidak akan pernah sampai ke tangan pembaca jika tidak ada seorang temannya yang diam-diam mengirimkan memoarnya tersebut ke sebuah penerbit. Tak heran jika novel Andrea ini dibilang “beruntung” oleh sebagian kalangan.

Namun, tak adil jika kelarisan novel bujangan kelahiran Belitong 24 Oktober ini, disebut hanya karena faktor beginner’s luck. Pujian dari sejumlah kalangan di atas sudah menjadi bukti bahwa novel ini benar-benar membekas di benak pembaca. Sebagai hadiahnya, buku ini ramai diperbimcangkan, diresensi, diulas di berbagai milis, dan akhirnya laris di pasar. Keseriusan Andrea dalam proses penulisan juga patut diperhatikan. Bagi pegawai PT Telkom Bandung yang alumnus (S-2) Sheffield Hallam University, Inggris dan Universite de Paris Sorbonne, ini menulis punya tujuan mulia. “Penulis yang sukses bagi saya adalah penulis yang mampu menggerakkan pembacanya untuk melakukan hal-hal yang luhur setelah membaca bukunya,” kata Andrea dalam wawancara tertulisnya dengan Edy Zaqeus dari Pembelajar.com. Berikut petikannya:

Sejumlah pembaca Laskar Pelangi mengaku novel ini menyegarkan sekaligus mengharukan. Ide apa yang melatarbelakangi penulisan novel ini?
Buku Laskar Pelangi (LP) pada awalnya bukan untuk diterbitkan. Niat saya untuk menulis buku ini sudah ada sejak saya kelas 3 SD, ketika saya demikian terkesan pada jerih payah kedua guru SD saya Ibu Muslimah dan Bapak Harfan Effendi, serta 10 sahabat masa kecil saya, yang disebut Kelompok “Laskar Pelangi”. Buku LP saya tulis sebagai ucapan terimakasih daan penghargaan kepada guru dan sahabat-sahabat saya itu. Seorang teman, tidak sengaja menemukan draft buku itu di kamr kos saya, dan diam-diam mengirimkannya pada penerbit. Sampai hari ini saya masih heran ternyata buku LP masih merupakan buku laris, dan telah dicetak tiga kali dalam waktu tujuh bulan. LP adalah novel pertama saya.

Dalam Laskar Pelangi terdapat lebih dari sepuluh karakter tokoh. Bukankah tidak mudah mengeksplorasi seluruh karakter tersebut?
Banyaknya karakter dalam LP merupakan salah satu kesulitan terbesar dalam menulis buku itu. Terutama memberi peran yang seimbang untuk setiap karakter. Karena karakter sahabat-sahabat saya yang unik. Saat ini saya sudah didekati beberapa produser untuk memfilmkan LP. Namun banyaknya karakter ini juga merupakan kesulitan bagi mereka. Barangkali berhubungan dengan budget. Saya rasa, saya dapat mengatasi persoalan menyeimbangkan peran setiap karakter dengan fokus kepada karakter Lintang dan Mahar.

Soal latar belakang dan lokasi kejadian, Anda cukup detail dalam novel ini… Semua nyata?
LP adalah sebuah memoar, oleh karena itu semua karakter dan kejadiaanya adalah nyata. Cara menulis saya memang cenderung detail, karena saya tertarik memberi gambaran yang filmis pada para pembaca.

Anda butuh survei data untuk penulisan novel ini?
Tentu saja, tetapi saya terbantu karena LP adalah memoar, artinya saya sudah memiliki informasi yang mengendap di kepala saya. Riset yang paling intensif adalah saya harus mengkonfirmasikan lagi beberapa hal yang berkenaan dengan Biologi, Fisika, dan Kimia waktu mendeskripsikan karakter Lintang yang jenius. Juga ketika mendeskripsikan anatomi kandungan material tambang di Belitong.

Menurut Anda, apakah sosok-sosok seperti Lintang ini banyak jumlahnya dalam kehidupan nyata?
Saya kira banyak … tetapi tidak terdeteksi, ter-manage, dan terabaikan.

Sejumlah pembaca Laskar Pelangi mengaku merasa kurang puas dengan ending novel ini. Sosok Lintang yang jenius hanya berakhir sebagai seorang pekerja kasar. Penjelasan Anda?
Saya mengerti pembaca menginginkan ‘pahlawan’, dan pembaca menginginkan ‘pahlawan’nya selalu menang dan hepi. Itulah kecenderungan orang terhadap fiksi atau karya-karya khayal. Tetapi LP adalah memoar. Dan itulah hidup dalam dunia nyata. Saya rasa pembaca dapat membedakan hal ini. Nasib Lintang begitulah adanya ….

Sekarang soal proses penulisan novel perdana Anda ini. Berapa lama Anda selesaikan novel ini?
Tiga minggu. Meskipun banyak yang mempertanyakan hal tersebut. Sampai dalam suatu forum milis dikatakan saya menulis dalam keadaan trance, di luar kemampuan saya. Apalagi mengingat novel itu sangat tebal 529 halaman. Dan saya tidak memiliki latar belakang sastra. Ini merupakan novel saya yang pertama. Namun kembali saya ingatkan LP adalah sebuah memoar. Oleh karena itu, setiap lembarnya sudah ada di kepala saya sejak lama.

Kapan saat-saat paling menyenangkan untuk menulis?
Kapan saja di luar jam kerja saya sebagai seorang pegawai BUMN. Saya saat ini bekerja di TELKOM. Dan saya berusaha mendidik diri saya sendiri untuk tidak tergantung pada mood. Saya kadang-kadang beranggapan bahwa mood adalah excuse bagi kemalasan.

Sekali duduk, biasanya berapa lembar bisa ditulis?
Bisa mencapai puluhan lembar. Saya kesulitan untuk berhenti jika sudah mulai menulis. Menulis menjadi kawan insomnia saya…

Apa hambatan terbesar yang Anda temui?
Keterbatasan waktu dan kondisi fisik yang tidak mampu menampung membludaknya ide dalam kepala saya.

Cara mengatasinya?
Saya mulai belajar untuk me-manage waktu dengan baik.

Bagaimana Anda menempatkan peran imajinasi dalam novel ini?
Novel adalah sebuah karya sastra, dan sastra tidak dapat dipisahkan dengan imajinasi. Imajinasi dalam LP tidak dimanifestasikan dalam bentuk mereka-reka karakter dan kejadian, tetapi di dalam cara menceritakan.

Ini novel debutan Anda. Menurut Anda, hal mendasar apa yang harus dikuasai oleh seorang penulis pemula saat membuat sebuah novel?
Saya orang yang belajar untuk menghargai semua genre tulisan sastra. Baik itu apa yang orang sebut chiklit, atau teenlit. Karena saya tahu menulis itu tidak mudah. Maka saya tidak punya pandangan tentang hal mendasar dalam teknis menulis. Pandangan saya adalah mengenai apresiasi. Dalam hal ini saya rasa karya dari seorang penulis bukan hanya persoalan bagaimana masyarakat akan menghargai tulisannya, tapi bagaimana ia sebagai penulis akan menghargai dirinya sendiri. Artinya, jika ia menghargai dirinya sendiri, hendaknya ia menulis sesuatu yang memiliki integritas. Tidak melulu patuh pada tuntutan pasar.

Apakah penulis pemula sudah harus menemukan ciri khasnya sendiri atau malah meniru penulis yang sudah sukses?
Menemukan ciri dalam menulis bukan persoalan gampang. Bahkan penulis yang sudah kawakan tak jarang tak kunjung memiliki identitas. Apalagi penulis yang baru. Namun penting sekali bagi seorang penulis untuk tidak meniru-niru orang lain.

Menurut Anda, definisi penulis yang sukses itu seperti apa?
Penulis yang sukses bagi saya adalah penulis yang mampu menggerakkan pembacanya untuk melakukan hal-hal yang luhur setelah membaca bukunya.

Saat ini sedang menggarap novel apa lagi?
Saya baru saja menyelesaikan novel kedua dari empat karya tetralogi Laskar Pelangi.

Kira-kira kapan novel tersebut terbit?
Novel kedua saya sedang dalam proses editing di penerbit. Insya Allah akan beredar bulan depan.[ez]

* Andrea Hirata dapat dihubungi melalui: pelangilintang@yahoo.com.