16 November 2006 – 10:41   (Diposting oleh: Editor)

Dalam jagad perbukuan dan penerbitan, nama Bambang Trim mungkin sudah tidak asing lagi. Bambang memang kenyang dengan pengalaman penulisan buku, editing, dan mengelola penerbitan. Dari tangan dingin Bambang pula, lahir racikan buku-buku bestseller terbitan MQS Publishing, seperti Aa Gym Apa Adanya, Setengah Kosong Setengah Isi, dan belakangan The True Power of Watter, yang telah terjual lebih dari 50.000 eksemplar dalam waktu kurang dari setahun.

“Dari awal menjadi pemimpin di penerbitan MQ saya sudah menetapkan visi dan misi yang menjadi mimpi saya di dunia buku,” ungkap Bambang. “Saya ingin membuktikan betapa penerbitan berbasis spiritual juga bisa tampil profesional dan menerapkan prinsip-prinsip yang benar tentang penerbitan buku,” jelasnya lagi. Tak heran bila dalam kendalinya, MQS Publishing kini tumbuh menjadi salah satu penerbitan baru yang cukup diperhitungkan kiprahnya.

Selain sebagai editor karier, Bambang Trim juga dikenal sebagai penulis yang produktif. Tulisannya tersebar di berbagai media massa, seperti Mitra Desa, Hikmah, Hoplaa, Republika, Pikiran Rakyat, Kompas Matabaca, Medan Bisnis, dan Galamedia. Buku yang ditulisnya tak kurang dari 50 judul buku untuk berbagai penerbit. Ia pernah meraih Juara I Lomba Penulisan Buku Cerita Keagamaan Depag RI pada 2002, jadi Juara I Lomba Penulisan Artikel Perbukuan 50 Tahun IKAPI, dan banyak lagi prestasi lainnya.

Selain itu, Bambang juga aktif dalam menggerakkan dunia penulisan dan perbukuan. Ia sering mengadakan pelatihan-pelatihan penulisan, editing, dan penerbitan. Bambang punya visi yang maju perihal bidang yang ia geluti saat ini. Sebagai bukti atas visi dan komitmennya untuk memajukan dunia perbukuan dan penerbitan di Tanah Air, dalam waktu dekat ini, ia menggagas berdirinya Forum Editor Indonesia (FEI). Rencananya, FEI akan dideklarasikan di Bandung pada 18 November 2006 nanti. Inilah wadah pertama—dan mungkin satu-satunya—yang akan berperan aktif dalam merangsang dan memajukan peran para editor di Indonesia.

Berikut petikan perbincangan Edy Zaqeus dari Pembelajar.com dengan Bambang Trim, tentang kisah suksesnya mengelola MQS Publishing, serta pandangannya terhadap situasi perbukuan akhir-akhir ini:

Bagaimana sejarah berdirinya MQ Publishing (MQP)?
MQ Publishing awalnya didirkan pada 2003 yang kemudian dimerger dengan PT Mutiara Qolbun Saliim yang sebelumnya bergerak dalam bidang distribusi, pada 6 Agustus 2003. Jadilah kemudian nama yang digunakan adalah PT MQS Publishing. Nah, MQ Publishing kemudian menjadi salah satu lini penerbitan PT MQS. Core business PT MQS kemudian diubah menjadi book publishing.

Jelaskan, jenis buku-buku apa saja yang awalnya dibidik oleh MQSP?
Awalnya MQS menerbitkan buku dengan basis manajemen qolbu. Terbanyak adalah buku-buku pengembangan diri serta Islam yang ringan seperti halnya konsep dakwah KH Abdullah Gymnastiar (Aa Gym). Soalnya penerbit ini memang dibangun dari komunitas Pesantren Daarut Tauhiid dan awalnya berada dalam naungan MQ Corporation milik Aa Gym.

Apakah dalam perjalanan berikutnya ada pengembangan-pengembangan segmentasi dan jenis buku yang diterbitkan?
Dalam perjalanannya MQS memang mengembangkan beberapa imprint atau lini penerbitan, seperti Khansa untuk buku remaja dan kewanitaan, MQ Kecil untuk buku anak, Khas MQ untuk buku-buku bertema manajemen qolbu dari civitas Daarut Tauhiid, serta KOLBU untuk buku keterampilan dan wacana baca-tulis. Sesuai dengan blue print business plan-nya, MQS memang menargetkan punya varian produk yang lengkap hingga 2010, termasuk menggagas buku pendukung pelajaran, buku referensi, serta Quran.

Dalam sebulan, berapa banyak naskah yang masuk ke MQSP?
Naskah yang masuk ke MQS setiap bulannya rata-rata 10-20 naskah. Umumnya MQS sudah memprogramkan naskah (solicited) sehingga naskah yang masuk dalam arti kiriman insidental (unsolicited) memang bukan prioritas utama.

Apa kriteria-kriteria dasar naskah yang bisa diterbitkan di MQSP?
Kriteria umum tentu yang tidak bertentangan dengan asas keislaman, gagasan orisinal dan menarik atau bentuk lain gagasan yang lebih inovatif, ditulis dengan bahasa yang gamblang atau mudah untuk dicerna serta dinalar, dan terutama marketable.

MQSP berhasil meluncurkan buku-buku yang laris di pasaran, seperti “Aa Gym Apa Adanya”, “Setengah Kosong Setengah Isi”, dan terakhir buku “The True Power of Water”. Apa trik dan strateginya?
Buku-buku laris itu bisa lahir dari intuisi, bukan selalu mengikuti tren yang ada. Pendekatan spiritual memang bisa digunakan dalam kancah bisnis penerbitan seperti ini. MQS selalu melihat potensi dua hal terkait dengan naskah: pertama, potensi gagasannya; dan kedua, potensi penulisnya. Dua hal ini coba disatukan, lalu didiskusikan bagaimana potensinya bisa dioptimalkan sehingga menjadi buku yang powerful. Trik utama adalah selalu membuat perbedaan (diferensiasi), membawa isu menjadi gebyar, dan menggunakan kemampuan public speaking dari penulis atau orang yang ‘dipinjam’ untuk itu guna menyentuh hati para calon pembaca.

Contoh: Buku Aa Gym Apa Adanya adalah buku autobiografi yang disusun dengan ide buku autobiografi Muhammad Ali. Konsep dakwah Aa yang relatif sederhana dan mengena sangat cocok diterapkan dalam bentuk autobiografi per episode mirip penulisan feature singkat. Lalu, buku ini dipilihkan judul Aa Gym Apa Adanya yang menunjukkan kebersahajaan serta anak judul Sebuah Qolbugrafi sebagai eye catcher. Alhasil, buku ini pun muncul sebagai autobiografi yang lain daripada yang lain serta ditunggu orang yang ingin tahu riwayat da’i fenomenal ini.

Kami menerapkan konsep 4 C untuk suksesnya sebuah buku, yaitu Content, Context, Creativity, dan Community.

MQSP tampaknya sangat diuntungkan oleh popularitas Aa Gym. Benarkah demikian?
MQS adalah perusahaan penerbitan yang didirikan oleh Aa Gym. Popularitas Aa Gym secara langsung maupun tidak langsung pasti berimbas pada larisnya penerbitan MQS. Namun, yang sebenarnya dilakukan adalah optimalisasi potensi Aa Gym dalam dakwah oleh MQS. Dalam hal ini MQS pun tidak sepenuhnya menggantungkan penerbitan pada figur Aa Gym sehingga tetap dicari terobosan-terobosan baru.

Belakangan MQSP juga mengeluarkan buku-buku dengan kemasan yang lebih eksklusif. Apa sasarannya?
Sasarannya tentu kelas menengah Indonesia yang lebih smart dan perlu context (kemasan) yang meyakinkan. MQS tentu ingin memberikan kontribusi pengetahuan kepada kelas menengah Indonesia. Di samping itu, MQS juga punya komitmen membangun brand image sebagai penerbit profesional yang patut diperhitungkan.

MQSP juga rajin mengeluarkan buku-buku co-writing antara Aa Gym dengan beragam tokoh. Apa maksud strategi ini?
Kalau satu sudah powerful ditambah satu tentu semakin berdaya. Aa Gym tokoh yang sampai saat ini bisa diterima oleh berbagai kalangan dan multitalent. Sebagai salah satu program optimalisasi potensi Aa Gym maka kami pun mencoba menggabungkan ketokohan Aa Gym dengan tokoh lainnya. Yang sudah berjalan yaitu Aa Gym dan Hermawan Kartajaya serta Aa Gym dan Andrew Ho.

Menurut pendapat Anda, siapa saja yang paling berperan dalam suksesnya sebuah penerbitan?
Penerbitan merupakan perusahaan yang unik karena di dalamnya banyak profesi yang terlibat. Untuk bahan baku naskah berkualitas saja dibutuhkan kerja serius dari profesi penulis/pengarang. Jadi, sukses sebuah buku adalah keberhasilan sebuah tim, yang intinya adalah para penulis, editor, layouter/desainer, serta marketer. Kekompakan komponen profesional ini akan meniscayakan sukses sebuah buku.

Seperti apa sih idealnya peran seorang editor dalam sebuah penerbitan?
Editor semestinya profesi yang serbabisa dalam sebuah penerbit. Ia semestinya punya kemampuan sebagai problem solver, decision maker, public speaker, serta effective people. Di tangannya perencanaan sukses sebuah buku seharusnya terpetakan. Karena itu, peran editor sangat esensial dalam sebuah penerbitan. Sayangnya peran ini belum terdefinisikan jelas karena minimnya pengetahuan publishing science maupun editologi di lingkungan penerbit sendiri.

Bagaimana Anda memandang tren dunia perbukuan dewasa ini?
Tren atau kecenderungan perbukuan di Indonesia sangat dinamis dan cepat berganti. Setelah muncul sastra Islami, kemudian muncul tren teenlit dan chicklit, lalu entah apa lagi. Namun, yang pasti buku kontroversi tetap jadi primadona di Indonesia, seperti terjemahan The Da Vinci Code ataupun buku karya Habibie. Bahkan, MQS pun sempat mencoba kontroversi air lewat The True Power of Water yang telah terjual 50.000 eksemplar lebih dalam waktu kurang dari setahun.

Bagiamana pandangan Anda terhadap munculnya banyak sekali self/independent publishing?
Self-publishing di Amerika adalah tradisi yang mencerminkan kemajuan intelektual masyarakatnya. Kalau di Indonesia muncul tren self-publishing tentu itu hal yang baik asal diimbangi dengan pengetahuan yang memadai tentang book publishing—jadi tidak hanya semangat ingin menerbitkan. Semakin banyak penerbit berbiak tentu masyarakat semakin terjamin mendapatkan varian bacaan. Akan tetapi, tantangannya kerapkali self-publisher di Indonesia tidak paham betul proses sesungguhnya penerbitan buku sehingga persoalan kualitas menjadi abai. Lebih parah lagi kalau penerbitannya mulai menabrak-nabrak pakem copyright. Jadi, terkadang berdirinya self-publishing bukan menjadi berkah, melainkan menjadi mudharat yang merugikan banyak pihak.

Apakah kemunculan mereka bisa menjadi ancaman bagi penerbit-penerbit mapan?
Self-publisher boleh jadi lebih sukses dari perusahaan penerbit yang lebih besar. Kalau sukses, tentu lambat laun self-publisher juga akan menjadi perusahaan. Persaingan adalah hal yang tidak bisa dihindari. Namun, melihat pembinaan yang kurang terhadap self-publisher ini, kemunculan mereka belumlah menjadi ancaman yang berarti. Kecuali para self-publisher membuat semacam asosiasi seperti IKAPI, lalu serius melakukan pembinaan SDM dan profesionalitas penerbitannya. Saya yakin para self-publisher juga bisa menggoyang eksistensi penerbit mapan.

Dari segi dampak terhadap perkembangan industri perbukuan?
Industri perbukuan, dengan kehadiran self-publisher, tentu akan semakin bergairah. Namun, jika tidak terkontrol dalam soal kualitas, masyarakat pembaca bisa protes dan ini merugikan penerbit secara keseluruhan. Indonesia tampaknya memang sudah perlu memiliki Menteri Perbukuan Nasional untuk menangani produksi buku bagi 200 juta lebih umat Indonesia ini, he.. he.. he…(ez)