– 27 Maret 2006 – 06:22 (Diposting oleh: Editor)

Awal Maret lalu, sebuah buku berjudul Seks, Es Krim, dan Kopi Susu (Jagadnita Publishing, 2006) karya Clara Kriswanto diluncurkan di Jakarta. Judul buku yang ringan dan menggelitik itu ternyata justru berisi pemikiran-pemikiran baru mengenai pendidikan seksualitas anak. Clara mengajukan pendekatan baru, yaitu agar pendidikan seksualitas anak bisa dilakukan sejak dini serta dengan perspektif yang tepat. “Pendidikan seksualitas harus diawali dari rumah, oleh orangtua sendiri, serta dengan perspektif yang tepat, yaitu citra diri positif. Pendekatan berlangsung sejak anak lahir hingga usia remaja akhir,” tegas Clara kepada Edy Zaqeus dari Pembelajar.com. Memang, belakangan masalah pendidikan seksualitas anak semakin relevan untuk dibicarakan, baik di rumah maupun di sekolah. Pasalnya, kita semakin sering saja mendengar berita-berita mengenai perilaku seksual menyimpang di kalangan anak dan remaja. Apa akar permasalahnnya? Clara punya tesis, bahwa satu di antaranya adalah minimnya bekal pendidikan seksualitas yang diberikan oleh orangtua kepada anak-anak mereka. “Jika kita ingin menyelematkan masa depan anak-anak kita, kita harus segera berbenah dan lebih peduli lagi dengan masalah ini,” tegas Clara. Sebagai psikolog keluarga dan parent coach, alumnus Fakultas Psikologi Universitas Indonesia dan Goldsmiths College University of London, ini memang telah matang oleh pengalaman. Clara tercatat pernah aktif sebagai relawan di sejumlah LSM di Inggris maupun di Jakarta. Ia adalah pendiri maupun relawan aktif di LSM Bentara Kasih – Kelompok Insan Peduli HIV/AIDS. Ibu dari empat orang anak ini pun aktif memberikan seminar-seminar mengenai tema-tema keluarga. Tulisan dan ulasan mengenai kiprahnya sebagai psikolog keluarga tersebar di berbagai media masa cetak maupun elektronik. Clara juga mengadakan acara seminar bulanan, seperti Ngedugem (Ngertiin Dunia Gaul Remaja) dan parenting class. Untuk mengetahui betapa pentingnya masalah pendidikan seksualitas anak dan remaja saat ini, berikut petikan wawancara Edy Zaqeus dengan peraih penghargaan Indonesian Quality and Development Award ini: Apa alasan terpenting Anda sehingga mengangkat masalah pendidikan seksualitas sejak dini ini? Dari pengalaman pendampingan saya selama ini, saya melihat mereka yang tidak terbuka membicarakan tentang seksualitas di dalam keluarga, biasanya juga rentan terhadap pengaruh-pengaruh negatif. Misalnya saja, rentan terhadap ajakan untuk melakukan hubungan seksual pra nikah, free-sex, penyalahgunaan kecanggihan teknologi masa kini, dll. Mereka sama sekali tidak pernah membicarakan masalah-masalah seputar bagaimana sebaiknya bersikap sebagai perempuan dan laki-laki, dan bagaimana mengembangkan sikap menghargai diri sendiri maupun lawan jenis. Beberapa dari mereka memang pernah diajak berbicara sedikit tentang kewanitaan. Misalnya pas mereka mengalami menstruasi. Namun, itu pun tidak banyak eksplorasinya. Selanjutnya, mereka biasanya harus mencari-cari informasi sendiri, yang kadangkala sumbernya tidak benar atau kurang pas. Seberapa krusialnya dampak perilaku seksual yang tidak terarah seperti seks bebas dan sejenisnya? Angka HIV/AIDS makin meningkat dari tahun ke tahun. Angka aborsi yang dilakukan oleh remaja-remaja mulai usia 15 tahunan makin meningkat. Juga makin mudah terpengaruhnya nilai-nilai hidup kaum muda menjadi kebarat-baratan dan ’tidak terkendali’. Menurut Anda, bagaimana cara pandang orangtua dan masyarakat kita saat ini mengenai pendidikan seksualitas anak? Sebagian orangtua masih menganggap bahwa pendidikan seksualitas itu adalah mengajarkan tentang organ-organ seks dan cara berhubungan seksual. Akibatnya, mereka tidak setuju untuk memberitahukan kepada anak-anak mereka, karena menurut mereka itu akan memicu perilaku seksual yang tidak sehat. Mereka memilih membiarkan anak-anak mencari tahu sendiri di ’luar sana’ jika saatnya untuk tahu sudah tiba. Sebagian lagi sudah menyadari bahwa pendidikan seks tidak sekedar seputar organ daktivitas aktivitas seksual, tetapi lebih kepada bagaimana membantu anak memahami keperempuanan atau kelaki-lakiannya, sesuai dengan tahap-tahap perkembangan dirinya. Tetapi sayangnya, masih banyak yang tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya. Penyebabnya, mereka dulu tidak mendapatkan hal yang sama dari orangtuanya. Atau juga ada sebagian dari orangtua yang sudah merasakan pentingnya pendidikan seks, tetapi mereka belum merasa nyaman untuk membicarakannya. Karena dulu itu, ada ’pembekalan’ dari orangtuanya bahwa seks itu tabu. Apakah ada yang salah dengan cara mengenalkan pendidikan seksualitas di dalam keluarga dan di sekolah? Karena masih adanya rasa kurang nyaman membicarakan masalah seksualitas ini, maka walaupun misalnya sudah cukup terbuka, tetapi masih terkesan buru-buru atau informasi yang diberikan hanya seadanya. Misalnya di sekolah sang guru terkesan hanya memberi pengajaran sesuai materi pelajarannya, namun tidak dikembangkan dengan mengaitkan pada aspek-aspek moral dan nilai-nilai hidup. Padahal, di sini sebetulnya guru dan orangtua bisa berperan banyak untuk mengembangkan nilai-nilai positif dari pandangan hidup si anak atau siswanya. Solusi apa yang Anda tawarkan untuk masalah ini? Solusinya adalah orangtua atau guru pertama-tama harus mau membuka diri dan banyak belajar tentang seksualitas. Dengan demikian, mereka bisa merasa nyaman dan percaya diri untuk membagikannya kepada anak-anak didiknya. Memang, idealnya pendidikan seksualitas ini diterapkan sejak dini, secara alamiah, sesuai dengan perkembangan kognitif, mental, dan emosional anak. Sehingga, proses tersebut dapat mewarnai pola asuh orangtua atau pola pendekatan guru supaya keterbukaan itu sudah dapat terjalin sejak dini pula. Maka, kapan pun si anak atau siswa punya pertanyaan, atau kebingungan seputar masalah seksualitas, orangtua atau guru punya rasa percaya diri bahwa mereka mampu membantu anak-anak tersebut. Hal baru dalam buku Anda adalah menempatkan perspektif citra diri positif sebagai dasar utama pendidikan seksualitas. Bisa dijelaskan mengapa? Kita percaya bahwa seseorang akan berperilaku buruk bila konsep dirinya buruk pula. Bagaimana seseorang bisa menghargai dan menjaga dirinya sendiri kalau konsep dirinya buruk? Maka, di sini pentingnya pembentukan konsep citra diri positif, yaitu agar memacu si individu untuk berperilaku positif pula, serta mampu menilai bahwa dirinya berharga. Dirinya adalah Anugerah, dan untuk itu dia harus menjaganya sebaik-baiknya. Saya yakin, mereka akan lebih punya pertahanan diri terhadap pengaruh-pengaruh negatif dari lingkungan sekitarnya. Kapan paling tepat untuk memulai pendidikan seksualitas anak? Dengan konsep citra diri positif itu, menurut saya sedini mungkin lebih baik, sehingga memang sejak dia lahir atau bahkan sejak dalam kandungan anak tahu bahwa dia dicintai, berharga, merupakan anugerah, dan segala hal baik lainnya yang akan membantu terbentuknya citra diri yang positif pula. Tampaknya Anda sangat menekankan bahwa peran keluarga atau rumah sangat-sangat penting dalam hal pendidikan seksualitas anak. Mengapa? Ya, tentu saja karena orangtualah yang paling mengenal anak-anaknya sendiri. Bagaimana dengan kendala-kendala yang sifatnya komunikatif apabila orangtua harus memberikan pendidikan seksualitas sendiri di rumah? Kembali di sini yang terpenting adalah kenyamanan orangtua untuk membicarakan tentang seksualitas tersebut. Juga tidak kalah pentingnya adalah kejujuran orangtua. Misalnya, jujur menjawab bila memang tidak tahu dan berjanji untuk mencari tahu atau mengajak mencari tahu bersama. Sedapatnya jangan sampai menunda atau mengalihkan pertanyaan-pertanyaan anak. Apakah ada panduan tentang bagaimana orangtua dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan anak mengenai seksualitas? Panduan-panduan tentang menjelaskan kesehatan reproduksi sudah banyak di pasaran. Tetapi, yang menekankan konsep citra diri positif sebagai dasar pengembangan konsep menghargai diri sendiri, sebagai pelindung diri dari pengaruh-pengaruh negatif, rasanya kok belum banyak ya. Makanya saya mencoba mengisi kekosongan tersebut. Bagaimana dengan peran guru-guru di sekolah? Guru perlu juga membekali diri untuk bisa bersikap nyaman dan demi anak-anak didiknya mau bersikap terbuka dan bersahabat. Termasuk juga dalam hal membicarakan masalah seksualitas ini. Sehingga, anak didik dapat bertanya pada mereka serta tidak mencari-cari informasi dari sumber-sumber yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Dalam hal ini memang diperlukan kerjasama antara guru dan orangtua agar maksimal hasil pendampingannya. Sudah merencanakan untuk menerbitkan karya-karya berikutnya? Memang, saya sedang mempersiapkan buku-buku berikutnya. Masih seputar keluarga, yaitu tentang bagaimana menjadi parent coach bagi anak demi mengoptimalkan EQ anak. Juga buku panduan tentang bagaimana menjadi keluarga yang bahagia, sesuai dengan layanan saya di http://www.keluargabahagia.com.[ez]