– 16 September 2007 – 12:49   (Diposting oleh: Editor)

Anak muda yang satu ini bisa dibilang merupakan contoh sukses di bidang penulisan. Fokus dalam penulisan buku-buku komputer menjadikan Gregorius Agung seorang penulis buku komputer terkemuka di Tanah Air. Bukan itu saja, ia bahkan mampu mendirikan Jubilee Enterprise, sebuah perusahaan media content provider yang memasok penerbit dengan naskah-naskah buku komputer terbaru. Tak kurang dari 12 karyawan/penulis dipekerjakannya di bisnis tersebut. Dan, dalam kurun tiga bulan terakhir (Mei-Agustus 2007) tak kurang dari 40 judul buku telah ditulis untuk penerbit buku.

Di saat banyak penulis jatuh pesimis dengan dunia penulisan dan penerbitan—yang antara lain ditandai dengan “keyakinan” bahwa mustahil penulis bisa hidup dari hanya menulis, Gregorius Agung maju dengan bantahan yang konkrit. Greg, demikian nama panggilannya, justru mampu menjadikan dunia tulis-menulis sebagai sebuah industri yang benar-benar menguntungkan. Itu sebabnya, dia yakin seratus persen, setiap penulis mampu melakukannya.

Greg, yang beristrikan Mona Sondakh dan telah dikaruniai seorang putera bernama Vincentio Rexel Sultandhani, ini memulai karir menulisnya sejak masih berstatus mahasiswa Jurusan Psikologi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Sukses dengan buku pertamanya, Membuat Homepage Interaktif dengan CGI/Perl, Greg seperti “kesetanan” dalam menulis buku komputer. Sejak itu, enam hingga delapan buku berhasil dia tulis tiap bulannya…. Luar biasa! Greg membuktikan, menulis bisa memberikan kesejahteraan. Sesuatu yang masih sering dianggap mustahil di Indonesia. Berikut petikan wawancara Edy Zaqeus dari Pembelajar.com dengan Gregorius Agung via email baru-baru ini:

Bisa diceritakan proses belajar menulis Anda, belajar dari siapa, mulai kapan, dan bagaimana caranya?
Kebetulan, saya punya guru SMA yang sangat saya kagumi. Nama beliau St. Kartono, yang saat itu menjabat Wakil Kepala Sekolah SMU Kolese De Britto. Dari didikan beliaulah saya memiliki minat yang tinggi tentang dunia penulisan. Gaya mengajarnya menyenangkan. Pernah saat saya duduk di kelas 1, ketika itu di tahun 1994, guru saya tersebut menyuruh kami semua menulis karangan deskripsi tentang dirinya. Pas karangan saya diperiksa, mendadak dia berdiri dan memberi aba-aba untuk menenangkan seluruh kelas yang agak ribut. “Coba dengar tulisan yang dibuat si Greg. Jika Pak Kartono berjalan, langkahnya cepat dan lebar…,” kata guru saya yang juga penulis artikel di media massa tersebut, mengulangi tulisan deskripsi yang saya tulis.

“Kalau saya berjalan seperti ini,” Pak Kartono pun memperagakan orang yang melangkah cepat dan kakinya melangkah maju ke depan, “…maka itu disebut, langkahnya cepat dan…” Sekejap kelas pun terhening, “Panjaannng…,” sambungnya. “Kalau Greg menulis langkahnya cepat dan lebar, maka jalannya seperti ini…,” Pak Kartono pun memeragakan orang yang terkena ambeien atau baru sunatan sedang berjalan mekangkang! Seluruh kelas pun terbahak!

Waktu saya mengambil karangan tersebut, Pak Kartono tersenyum sinis sambil mewanti-wanti,”Kalau pilih kata yang hati-hati ya…!” Dari sinilah, saya menarik benang merah bahwa menulis itu menyenangkan dan bisa bikin satu kelas riuh rendah.

Kapan pertama kali menulis untuk tujuan komersial?
Sejak artikel pertama saya di Kedaulatan Rakyat dimuat, saat itu tujuan sebenarnya sudah komersial. Tapi puncaknya dimulai pada tahun 1999 ketika masih semester awal di perguruan tinggi. Saya punya keberanian untuk menulis buku komputer pertama kali yang langsung ditujukan ke PT Elex Media Komputindo. Saat itu, internet masih fresh from the oven dan tema buku yang saya buat berkaitan dengan pemrograman internet.

Bagaimana ceritanya sampai Anda terjun menjadi penulis spesialis buku-buku komputer?
Buku pertama saya berjudul Belajar Sendiri Membuat Homepage Interaktif dengan CGI/Perl, diterbitkan kalau tidak salah Mei 1999. Uniknya, saat saya mengajukan proposal penulisan buku tersebut, redaksi Elex langsung setuju. Setelah diterbitkan, dua bulan langsung ludes. Padahal, cetakan pertama saat itu 5.000 eksemplar. Jadilah buku tersebut bestseller. Dari situ, saya menemukan dunia penulisan buku komputer yang kemudian saya sambung dengan menulis buku Frontpage 2000 Webbot yang juga diterbitkan oleh Elex Media.

Sering menemui kendala-kendala dalam menulis buku-buku komputer?
Sejauh ini tidak.

Sampai sekarang, berapa banyak buku sudah Anda tulis?
Sudah tidak terhitung lagi. Jubilee Enterprise sendiri sudah menerbitkan 40 judul buku baru dalam rentang Mei 2007 sampai Agustus 2007. Belum judul-judul yang telah diterbitkan sebelumnya. Wah, tak terhitung lagi deh.

Buku mana yang paling mengesankan Anda?
Buku pertama sangat mengesankan, bukan saja karena buku tersebut adalah debut awal, tapi tingkat penjualannya yang fantastis membuat arah penulisan saya menjadi lebih jelas. Selanjutnya, proses penulisan buku menjadi lebih mengalir karena menjadi sudah terbiasa dengan dunia komputer.

Dari royalti buku-buku Anda, rata-rata rupiah Anda terima setiap semesternya?
Syukurlah, sampai sekarang saya dan Jubilee Enterprise masih menampuk pemegang royalti terbesar untuk kategori buku komputer dari penerbit Elex Media. Dari royalti tersebut, saya bisa mempekerjakan 12 pegawai yang hanya berkonsentrasi di dunia penulisan saja. Jadi kira-kira bisa dibayangkan sendiri, berapa yang kami dapat he he he.

Anda benar-benar yakin bisa hidup layak dari menulis?
Yakin seratus persen. Ada sentilan yang unik ketika saya selesai mengisi acara Kompas Gramedia Fair pada bulan Mei 2006 lalu. Saat itu, saya ditraktir oleh Manajer dan Redaksi Elex Media di Starbucks Coffee. Sembari menyeruput kopi yang menurut saya agak aneh rasanya, saya berdiskusi dengan Mas Arie, Manajer Redaksi, tentang dunia buku. Saat itu, beliau sempat berkata bahwa selama ini dia belum menemukan contoh kasus di mana orang bisa hidup layak hanya dari menulis saja. Ketika saya dan Jubilee Enterprise melakukan agresi penulisan buku, beliau ikut-ikutan yakin bahwa hidup makmur dari menulis bisa diraih.

Seorang Jenar Maesa Ayu sekalipun, dalam sebuah tayangan televisi, menyatakan, “Sulit bisa hidup hanya dari menulis.” Komentar Anda?
Kalau bicara tentang kemampuan diri sendiri, sepertinya pernyataan di atas sungguh tepat. Terlebih jika ia adalah penulis buku yang membidik segmen pasar yang sangat spesifik, misalnya sastra idealis atau buku anak-anak. Tetapi kalau kita berkolaborasi dengan orang lain untuk membuat buku, maka ceritanya bisa lain. Kita ambil contoh, seorang penulis sastra bisa pula menulis buku manajemen dan laku keras! Bagaimana caranya? Gampang saja. Ajak orang yang pintar teori atau praktik manajemen, dan tulislah pengalaman atau buah pikirannya itu. Kemudian, tawarkan ke penerbit.

Tapi bukan berarti teknik ini jauh dari risiko. Tantangannya menjadi sangat berbeda. Biasanya, penulis adalah pekerjaan yang individualistis. Sementara kalau bekerja sama dengan orang lain, otomatis sudah menjadi pekerjaan tim. Ini tidaklah mudah karena masing-masing punya ego, cara bekerja, dan pandangan yang berbeda yang acapkali di lapangan, perbedaan itu mudah mengancam jalannya proses penulisan buku. Tapi kalau berhasil, pendapatan dari penjualan buku sangatlah tinggi dan dia bisa hidup makmur dari metode di atas. Jika teknik di atas diulang ratusan kali, maka pernyataan “sulit bisa hidup hanya dari menulis” bolehlah dikoreksi.

Menurut pengalaman Anda, apa saja yang harus disiapkan, dilakukan, dan dibiasakan agar penulis bisa hidup layak dari menulis?
Pertama-tama, ubahlah mindset bahwa menulis hanyalah profesi sampingan. Jadikan menulis sebagai profesi utama sehingga pikiran kita selalu fokus untuk mencari ide-ide baru yang brilian dan marketable. Keuntungan fokus lainnya adalah, jika kita dihadang masalah, maka otak kita hanya seratus persen digunakan untuk menghancurkan atau mengatasi masalah itu. Dan yang terpenting, kita bisa menemukan cara kerja yang paling praktis untuk membuat buku secara konsisten. Saat ini, saya belum menemukan penulis, terutama buku komputer, yang concern terhadap penulisan buku saja. Kebanyakan, mereka masih menyambi sebagai dosen atau pengajar.

Pandangan Anda terhadap statement bahwa seorang penulis harus mampu “menjual” diri dan gagasannya?
Menjual gagasan sangat penting karena buku adalah gagasan kita. Kalau gagasannya jelek, bukunya nggak ada yang mau beli. Untuk yang satu ini, tidak perlu dibahas lagi karena core buku adalah ide atau gagasan. Sedangkan kalau bisa “menjual” diri, itu relatif. Jika ingin sukses, “menjual” diri itu penting baik dengan cara menjadi pembicara seminar, pengajar, atau konsultan. Tapi di dunia buku komputer, fenomenanya agak nyentrik. Orang beli buku komputer karena butuh. Jadi, walaupun si pengarang ngetopnya bukan main, tapi kalau bukunya nggak dibutuhkan, maka penjualannya pun tidak terdongkrak. Tapi mengenai hal ini, sifatnya masih bisa diperdebatkan karena belum ada penelitian yang spesifik.

Selain keuntungan royalti, hal apa saja yang Anda raih dari menulis?
Buku yang saya tulis bisa diibaratkan “kartu akses” untuk memasuki “wilayah” tertentu. Saya ambil contoh, beberapa bulan yang lalu saya berkeinginan mengajar Photoshop level advance di salah satu lembaga kursus paling top dan bergengsi yang kebetulan buka cabang di Yogyakarta. Karena saya sudah membuat banyak sekali buku Photoshop, maka tidak butuh surat lamaran, referensi, fotokopi ijazah, dan atribut-atribut lamaran lainnya untuk bergabung menjadi pengajar di lembaga kursus tersebut. Malah untuk honornya, bisa dinegosiasi he he he. Selain itu, saya juga punya kenalan orang-orang perbukuan dan pihak-pihak yang bergerak di industri software. Pernah ketika mengadakan seminar di UPH, salah satu petinggi Microsoft mentraktir kami makan siang sambil membahas kecanggihan Office 2007. Ini merupakan pengalaman yang menarik.

Bisa Anda tambahkan tentang Jubilee Enterprise?
Jubilee Enterprise merupakan hasil dari konsep industrialisasi penulisan yang telah saya pikirkan sejak lama. Awalnya, Jubilee Enterprise bergerak di bidang web design karena saat didirikan tahun 1999, era dotcom sedang seru-serunya. Tapi karena merasa bahwa bidang ini tidak menantang, maka saya ubah menjadi media content provider yang tujuan akhirnya adalah membuat buku-buku komputer secara massal lewat SOP yang saya ciptakan sendiri.

Berkaitan dengan menulis, adakah obsesi yang masih tersisa?
Dunia penulisan itu sangat luas. Saat ini saya memang berkonsentrasi di buku komputer. Tapi obsesi saya, saya atau Jubilee Enterprise harus memiliki kapabilitas untuk menulis materi non-TI, seperti buku manajemen atau skenario film. Kita sudah mengarah ke sana. Jika terwujud, ada dua efek yang terjadi. Pertama, ada banyak orang yang bisa saya pekerjaan lagi sehingga sedikit-sedikit membantu mengatasi masalah pengangguran. Kedua, slogan Jubilee Enterprise benar-benar akan terpenuhi. Ingin tahu slogan tersebut? Sederhana kok. “Explore Everything”![ez]