24 April 2006 – 08:07 (Diposting oleh: Editor)

Siapa yang tidak pernah mendengar kata soulmate? Kata ini sedemikian populernya, terutama bagi setiap perempuan atau laki-laki yang sedang mencari belahan jiwa yang sejati. Kata penuh magnet inilah yang dengan cerdas telah dimanfaatkan Jessica Huwae sebagai judul novel debutannya: Soulmate.com (GPU, 2006). Novel percintaan yang dikemas dalam genre metropop (sebuah istilah yang coba dipopulerkan oleh penerbit GPU) tersebut ternyata disambut antusias oleh pasar. Buktinya, hanya dalam waktu 20 hari peredarannya, novel ini sudah masuk cetakan kedua.

Jessica yang kelahiran Jakarta, 17 Juli 1979 ini memulai karier kepenulisannya secara serius sejak SMP. Dengan seorang teman, dia memelopori berdirinya majalah indie di sekolah bernama tabloid WOW. Bukan untuk gaya-gayaan, akan tetapi Jessica remaja merasa saat itu lagi butuh suatu media berekspresi, terutama lewat medio tulisan. Majalah indie itu sekaligus menjadi gerakan pemberontakannya terhadap eksklusifitas mading (majalah dinding) sekolah yang tidak cukup mengakomodir keinginannya untuk berkarya.

Selepas menamatkan pendidikannya di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, Jurusan Sastra Inggris, Jessica bekerja sebagai reporter di tabloid Cita Cinta (sekarang majalah). Kini, Jessica bekerja sebagai senior Editor di majalah SPICE! (MRA Printed Media), termasuk menjadi konsultan untuk majalah indie. Di luar pekerjannya di bidang jurnalistik dan susastra, penggemar karya-karya Paulo Coelho dan Nukila Amal ini mendirikan perusahaan one stop entertaintment bernama Moreideas, bersama dua orang temannya, Sarah Silaban (musisi/penulis lagu/penyanyi) dan Zeki Siregar. Moreideas merupakan suatu wadah yang menaungi ide-ide segar anak muda terutama dalam bidang seni musik, film, susastra, event organizing, dan artist management.

Berikut perbincangan Edy Zaqeus dari Pembelajar.com dengan Jessica Huwae mengenai proses kreatif penulisan novel Soulmate.com dan khasanah pernovelan umumnya:

Secara garis besar, apa isi novel soulmate.com?
Novel soulmate.com berkisah tentang pencarian cinta Nadya Samuella, wanita muda berusia 25 tahun. Di atas kertas dia memiliki segalanya. Namun, ternyata dia harus menghadapi banyak masalah dan rintangan dalam menemukan orang yang dia yakini adalah “soulmate-nya”.

Hal baru apa yang anda tawarkan dalam novel ini?
Dari segi cerita, memang tidak baru, kisah cinta sifatnya universal. When you love someone but he doesn’t love you back, or when you love someone but then he thinks that you’re not the one. Things like that. Namun saya memasukkan banyak unsur penulisan di dalamnya. Seperti memasukan kutipan, blog, ym, sms, email. In short ini suatu kisah cinta yang dibalut dengan aktivitas manusia modern yang sangat dekat dengan teknologi.

Dari mana ide penulisan novel ini datang dan kenapa tertarik menovelkannya?
Dari pengalaman pribadi dan some circle of friends saja. Tuntutan hidup sekarang membuat kita seperti kekurangan waktu untuk bertemu dengan “the significant other” di luar komunitas kita. Hidup sepertinya terpusat untuk kerja, sedikit kehidupan sosial, menjalankan hobi, dst. Lantas kapan dong peluang menemukan soulmate itu ada? Untungnya sekarang sudah ada teknologi internet yang membuat perbedaan ruang dan waktu itu sudah tidak terasa lagi. Banyak banget cerita seru yang terjadi di dunia cyber ini. Salah satunya, ya… upaya menemukan “pasangan nyata” di dunia maya. Buat saya, soulmate.com mewakili keresahan wanita-wanita muda seumuran saya. Tentang mencari belahan jiwa. Nggak heran kalau banyak pembaca saya yang kemudian mengirimi saya email dan bilang pengalaman membaca soulmate.com is like reading her own diary.

Gagasan anda sendiri tentang soulmate itu seperti apa?
Soulmate = myth + destiny. Tergantung hasil akhir dari pencarian soulmate itu sendiri. Kalau gagal maka semua orang akan ramai-ramai mennyerukan bahwa ideas about soulmate is completely rubbish. Dan buat yang beruntung? Congratulations, mereka baru saja menemukan takdir mereka.

Berapa lama anda menggarap novel ini?
Penulisannya sendiri hanya memakan waktu empat bulan, ditambah dengan revisi, mungkin sekitar enam bulan.

Apa hambatan yang paling sering anda temui saat menyelesaikan novel ini?
Waktu. Bekerja dengan jam kerja yang sangat panjang kadang membuat saya sering kehabisan energi untuk masuk dalam arena “naik-turun emosi” atau “gurun kesunyian” yang sangat diperlukan seorang penulis untuk melahirkan karya-karya yang soulful.

Benarkah kemacetan merupakan problem utama penulis?
Mungkin juga. Tapi kalau bagi saya yang jadi kendala adalah soal waktu. Kadang rasanya sudah meledak-ledak ingin menuangkan semua ide yang menggenang di kepala. Tapi, ya kembali ke waktu tadi. Yang paling selama ini saya lakukan adalah mencatat dulu remah-remah pikiran saya itu ke notes untuk tabungan cerita kapan-kapan.

Punya kiat-kiat khusus untuk mengatasi kemacetan?
Go out and have some fun! Saya nggak percaya kalau menjadi penulis itu harus jadi orang introvert yang lantas mengurung diri dalam dunianya sendiri. Meet people, going to places, try new things. Pengalaman-pengalaman itu bisa jadi tabungan cerita yang nggak akan ada habisnya!

Bisa anda ceritakan, apakah sebagai penulis pemula dulunya anda kesulitan mendapatkan penerbit?
Tidak sama sekali. Saat naskah soulmate.com selesai, saya diperkenalkan oleh teman saya Syahmedi Dean yang juga adalah penulis (LSDLF & JPVFK) kepada editornya. Kelar presentasi selama tujuh menit, Mbak Rosi Simamora (editor saya) meminta waktu dua minggu untuk membaca seluruh draft. Dan seperti yang Anda lihat, dalam beberapa bulan saja novel ini sudah berada di tangan Anda. I think getting your book published is about how to be in the right link. That’s all. But I’m one of lucky soul, I can tell.

Penulis-penulis muda bermunculan, terutama penulis chiklit, teenlit, dan terbaru adalah metropop. Bagaimana anda memaknai fenomena tersebut?
No problem. Itu kan hanya pemberian label saja. Saya pikir banyak orang yang terlalu meributkan genre suatu buku sampai-sampai melupakan esensi dari pengalaman membaca suatu karya itu sendiri. Apa pun labelnya, tidak jadi masalah selama itu bisa membuat seseorang duduk dan membaca!

Anda bisa perjelas, maksud dari jenis atau genre metropop itu sebenarnya apa?
Metropop adalah label yanjg diberikan pada buku-buku karya Gramedia yang berlatarkan kehidupan di kota metropolitan. And my novel, is one of those.

Apakah peluang dan pangsa pasar untuk novel-novel jenis ini masih lumayan?
Tentu saja. Entertainment industry never dies, and book is one of those. Bila pertanyaannya apakah pangsa pasarnya tetap ada, buku cetakan pertama saya habis terjual hanya dalam waktu 20 hari. Dan sekarang sedang memasuki tahap cetakan ke-2.

Karya-karya apa lagi yang sedang dan hendak anda garap saat ini?
Saya sedang berkolaborasi dengan seorang penyanyi atau song writer. Belum bisa bilang sekarang, yang jelas kolaborasi ini belum pernah ada. Tunggu saja bulan Juni ya!

Hal apa yang paling memotivasi anda untuk terus menulis atau menghasilkan karya?
Kalau motivasi menulis selalu ada dan sepertinya akan terus ada because I was born to it. Tapi kalau motivasi untuk mempublikasikan karya biasanya datang dari sahabat-sahabat baik, dan pembaca-pembaca saya yang rajin “meneror” saya dengan email, “Ayo Jess kapan dong nerbitin buku lagi?”[ez]