16 Oktober 2006 – 14:22   (Diposting oleh: Editor)

Saat ini, semakin banyak saja pengusaha yang membagikan pengalamannya melalui buku. Tidak harus menunggu hingga jadi konglomerat dulu baru membuat buku. Yang terpenting bukan lagi ukuran bisnis, tetapi lebih pada semangat berbagi pengalaman serta nilai-nilai entrepreneurship yang digaungkan. Terlebih, penerbit juga sudah memberi keleluasaan kepada banyak calon penulis yang berlatar belakang pengusaha untuk unjuk karya. Maklum, medan persaingan penerbitan buku semakin ketat. Alasan lain, buku-buku entrepreneurship punya penggemar tersendiri. Bahkan, tak sedikit dari buku-buku jenis ini yang sangat digemari oleh pembaca serta meraih predikat best seller.

Masbukhin Pradhana adalah salah satu di antaranya. Pengusaha yang bergelar Raja Voucher ini baru saja meluncurkan buku berjudul Cara Brilian Menjadi Karyawan Beromzet Miliaran (Elexmedia Komputindo, 2006). Judul buku yang sangat menggoda, memang. Terlebih bagi para orang gajian yang benar-benar ingin mandiri, punya penghasilan lebih, punya bisnis sendiri, dan akhirnya sungguh-sungguh jadi pengusaha.

Masbukhin lahir di Gresik, Jawa Timur, pada 23 Agustus 1974. Sejak SD dia sudah mencicipi rasanya menjadi “wirausaha”, misalnya dengan beternak ayam, jualan lilin dan kembang api, dan buka toko kelontong di rumah orangtuanya. Sampai saat kuliah dan menjadi pegawai negeri sipil di Malang, dia tetap suka berwirausaha. Gagal dan bangkit lagi, itulah tabiat pengusaha. Akhirnya, nasib membawanya menjadi karyawan sebuah perusahaan otomotif di Jakarta.

Masih sambil menekuni bidangnya sebagai karyawan bidang Teknologi Informasi, bersama istrinya dia melanjutkan kegemaran menjalankan berbagai bisnis atau usaha sampingan. Ternyata, bisnisnya jalan, terutama bisnis grosir voucher. Hingga akhirnya, dia berhasil memiliki enam gerai grosir voucher di berbagai lokasi dengan 17 karyawan, jadi mentor di sebuah komunitas bisnis, sambil sesekali menularkan ilmunya melalui artikel.

Dalam pandangan Masbukhin, saat yang tepat untuk membuka usaha justru pada saat orang masih jadi karyawan. “Sebab, kita bisa memanfaatkan tabungan untuk modal. Kalau bisnis belum jalan, kita masih punya gaji. Kalau bisnis sudah jalan, hasilnya bisa ditambahkan ke modal usaha. Atau gaji bisa dijadikan tambahan modal,” jelasnya.

Tepat ketika artikel-artikelnya diterbitkan menjadi buku pada Agustus 2006 lalu, Masbukhin mengundurkan diri sebagai karyawan. Kini, dia menekuni bisnis vouchernya, menjadi mentor bisnis, dan merambah dunia public speaking. Bukunya pun langsung cetak ulang pada bulan kedua peredarannya. Berikut petikan wawancara Edy Zaqeus dari Pembelajar.com dengan Masbukhin yang berlangsung di Plaza Semanggi, Jakarta.

Apa motif penulisan buku Cara Brilian Menjadi Karyawan Beromzet Miliaran ini?
Pertama, saya orangnya suka sharing. Sharing berdasar pengalaman. Kedua, banyak orang yang mulai berbisnis itu harus jungkir balik. Termasuk saya. Saya mulai berbisnis itu beberapa tahun selalu jungkir balik. Karena tidak pernah sharing pengalaman. Nggak gampang, karena saya harus mencari sendiri. Hasil pengalaman saya sendiri digabung dengan pengalaman bisnis beberapa senior, ternyata bisa mempercepat proses pencarian jati diri bisnis kita. Nah, saya tidak ingin masa coba-coba saya yang beberapa tahun itu dialami oleh orang yang masih dalam proses pencarian bisnisnya. Lahirlah buku ini. Mungkin, kalau saya dulu coba-cobanya tujuh tahun, mungkin bagi pemula yang membaca pengalaman kami bisa cuma satu atau dua tahun untuk mendapatkan bisnisnya yang cocok.

Seberapa banyak karyawan yang minat jadi orang kaya melalui wirausaha?
Saya lihat banyak sekali. Saya tidak bisa omong angka karena belum riset. Yang jelas, kalau kita lihat kondisi di luar, siapa sih orang yang kaya itu? Kebanyakan pengusaha, kan? Entah 80 persen atau 90 persen adalah pengusaha. Sekarang dibalik pertanyaannya, apa pun statusnya apakah karyawan atau masih mahasiswa, “Apakah Anda ingin kaya?” Pasti jawabnya ya, pingin, pingin dapat duit banyak. Tapi kalau ditanya lebih lanjut, “Anda mau nggak jadi pengusaha?” Jawabnya, “Oh, ntar dulu!” Ada yang alasannya tidak punya bakat, tidak punya modal, banyak alasanlah ya. Banyak alasan untuk tidak terjun ke dunia bisnis. Tapi mereka berminat jadi kaya.

Masalah apa yang biasa dihadapi karyawan yang baru terjun ke dunia wirausaha?
Pertama adalah waktu. “Wah, waktu saya habis untuk kantor, ndak mungkin saya mulai!” Kedua, soal modal, “Wah, modal saya ndak cukup untuk memulai suatu bisnis.” Yang ketiga, “Saya ndak punya bakat, ndak punya ilmunya, ndak punya pengalaman.”

Pengalaman Anda, bagaimana memulai usaha sambil tetap jadi karyawan?
Tadi ada tiga masalah ya. Misalnya kendala pengalaman, saya sudah memiliki sedikit pengalaman. Lalu saya ikut mentoring, belajar bisnis pada orang yang sudah berpengalaman. Bisa ke orangnya langsung, bisa belajar dari buku-buku, seminar. Kedua soal waktu, ya kita harus investasi waktu untuk memulai bisnis itu sendiri. Apakah mulai dari Sabtu dan Minggu. Misalnya sore hari juga bisa. Makanya saya berusaha tinggal dekat kantor, sehingga waktu tempuh pun singkat, kan? Sehingga saya punya waktu untuk mengontrol bisnisnya. Ketiga soal modal. Justru karena kita jadi karyawan, kan kita dapat gaji. Bisnis yang baru dimulai jarang yang langsung untung. Perlu proses. Di sinilah, kita sebagai karyawan diuntungkan. Karena ketika bisnis itu belum menguntungkan, cash flow belum positif, kita masih mendapatkan gaji. Paling nggak untuk nutup kekurangan. Syukur-syukur kalau kita sudah punya tabungan. Masak sih sudah bekerja dua tahun misalnya, kita ndak punya tabungan sama sekali? Dari tabungan itu bisa kita pakai buat modal usaha. Dan dari situ tiap bulan kita tambahkan modalnya.

Kuncinya, karyawan harus punya modal tertentu untuk memulai usaha?
Betul. Bisnis apa pun perlu duit. Berapa pun besarnya, itu tergantung bisnisnya. Cuman, duit modal ini bukan selalu punya kita. Kalau kita punya ide bisnis, dan kita mampu menjual ide tersebut kepada orang yang punya duit. Maka, kita bisa memulai bisnis ini bersama. Orang lain yang punya duit sebagai investor, kita bisa menjalankan operasionalnya.

Berarti minatnya yang harus besar dulu, bukan selalu soal modal?
Minatnya, betul! Minat itu berasal dari mana, tentu dari mindset kita, kan? Mindset itu dari mental, sehingga mentalnya harus dibentuk dulu. Mental pengusaha dengan mental karyawan itu beda, kan?

Saat masih jadi karyawan dan baru terjun ke bisnis, kesulitan-kesulitan apa yang Anda alami?
Awalnya saya mulai bisnis toko kelontong eceran itu. Tapi, kok untungnya sedikit. Lalu saya tambahi lagi, usaha yang lain. Sehingga setelah itu saya punya empat unit usaha, tapi tidak tahu profit terbesarnya dari mana. Nah, seiring berjalannya waktu saya semakin ngerti, oh ini effort-nya besar dapatnya besar. Yang ini effort-nya kecil hasilnya kecil, tapi bisa dikembangkan lagi menjadi lebih besar. Jadi saya harus memilih dan ada yang saya amputasi.

Waktu menghadapi kendala di awal merintis bisnis, apa yang Anda lakukan?
Saya berproses. Waktu saya sudah menjadi karyawan di Jakarta, saya patungan bisnis dengan teman-teman di daerah. Sayang bangkrut. Bikin bisnis lagi, restoran soto betawi, patungan berlima, tapi nggak ngangkat juga. Lalu saya analisis, mengapa tidak berhasil? Akhirnya saya harus ngerti, saya harus bisa, yaitu bisnis yang sekarang saya jalankan.

Sekarang Anda sudah sampai pada tahap berbagi pengalaman kepada orang lain. Oke, bagaimana ceritanya kok ada ide menulis buku ini?
Tadinya saya tidak kepikiran mau bikin buku. Dulu waktu kecil sih pernah bercita-cita jadi penulis. Waktu itu saya lihat, seorang penulis itu pasti orang yang betul-betul sekolah, terpelajar. Misalnya, yang nulis buku itu profesor. Keren banget, kan? Tapi, saya tidak punya keahlian ke sana. Walau saya punya background pers kampus dan nulis-nulis artikel. Tapi beda dengan Anda yang seorang wartawan misalnya, pasti menulis itu mahir sekali. Jadi, dalam menulis saya itu hanya bercerita tentang pengalaman saya. Sharing melakukan ini-itu dalam artikel-artikel kecil. Lama-lama saya kumpulin kok lumayan banyak, ya? Ada yang usul, jadikan buku saja. Lalu saya kelompok-kelompokkan, masing-masing kelompok saya kembangkan lagi, lalu disistematisasi menjadi sebuah buku.

Selain dari pengalaman sendiri, dari mana saja Anda mendapat ide untuk menulis artikel-artikel tersebut?
Saya kan jadi owner dua mailing list (milis). Yang paling gede itu Bisnis-Smart 850 member dan Voucher Grosir 350. Dan, sinergi dalam milis itu hebat sekali, tidak hanya dengan saya. Tapi antar member, saling memberikan support, saling memberikan semangat. Sampai ada orang Indonesia yang di luar negeri itu mengerti soal saya. Dia percaya saya dan sekarang dia jadi investor saya. Ndak pernah saya ketemu orangnya. Begitu dahsyatnya komunitas itu.

Sebelum jadi buku, artikel-artikel Anda terbit di mana saja?
Kebanyakan di komunitas maya. Ada di Purdiechandra.com, Swa.co.id, Usahaku.net, Pembelajar.com juga ada, dan terbanyak di situs saya sendiri, Masbukhin.com. Dulu ada juga artikel saya di majalah Bisnis Kita (Sudah berhenti terbit, red), majalah Duit, lalu tabloid Bisnis Uang (Sudah berhenti terbit, red), saya sebagai narasumbernya, juga tabloid Peluang Usaha.

Kendala dalam penulisan?
Waktu, konsentrasi, dan mood. Kadang-kadang kalau kita pas ngambek, itu nulisnya juga ndak nyambung. Waktu ya masalahnya, karena saya juga masih jadi karyawan, dan harus juga ngurusin bisnis. Kalau saya berpikir buku itu harus sesempurna mungkin, mungkin buku itu ndak akan terbit-terbit ya ha ha ha… Makanya saya perlukan seorang editor untuk finishing.

Bagaimana perasaan Anda setelah buku pertama terbit?
Saya surprise sekali! Saya tidak pernah membayangkan hasilnya akan sehebat itu. Memang, sejak awal saya memvisualisasikan, kalau punya buku akan begini-begini. Ternyata hasilnya lebih bagus. Kaver bagus. Dari segi editing jadinya juga lebih halus. Dan lebih terstruktur, karena ada grouping dan tugas-tugas untuk para pembaca. Bahasanya sederhana, bisa diikuti orang lain, dan saya yakin bisa. Buku ini isinya adalah pengalaman saya yang bisa ditiru orang lain. Kenapa saya sekarang keluar dari karyawan? Karena saya akan konsentrasi di bisnis saya. Tapi untuk memulai bisnis, ndak usah nunggu keluar dulu atau pensiun. Mulai saja sekarang. Tapi kalau Anda berpikir bisnis Anda sudah bagus, untuk masa depan Anda sudah cukup dan Anda ingin konsentrasi di situ, lalu Anda keluar ya tidak masalah.

Tanggapan keluarga atau rekan-rekan bisnis?
Kalau teman-teman di milis, buku ini sudah dinanti-nantikan. Gembar-gembornya sudah tiga sampai empat bulan yang lalu. Istri senang sekali. Teman-teman juga pada komentar karena melihat foto saya di buku itu dan sudah ada di toko-toko. Mereka semua ikut senang.

Sekarang Anda merambah dunia public speaking. Apa yang ingin Anda raih?
Saya orangnya memang suka tampil di depan umum. Ditambah dengan semangat saya untuk sharing, ditambah dengan pengalaman bisnis saya. Saya lihat, banyak juga orang yang butuh sharing langsung. Lewat buku saja tidak cukup. Sisi yang lain, masih banyak juga masyarakat yang malas baca. Ada tiga hal prioritas, saya sebagai entrepreneur, saya sebagai public speaker, dan ketiga saya sebagai penulis buku. Prioritas saya sebagai seorang entrepreneur. Misalnya, ada yang membutuhkan saya untuk sharing pengalaman, ya saya tidak akan menolak. Saya juga kepikiran, apakah memungkinkan membuat semacam sekolah bisnis. Itu akan menciptakan sebuah bisnis yang baru lagi.

Sudah merencanakan buku berikutnya?
Kalau buku yang pertama kan saya bicara kapan saat yang tepat untuk keluar kerja. Sambil mendalami mindset sebagai karyawan yang berbeda dengan menjadi pengusaha. Buku berikutnya, mungkin akan membuat lebih detail lagi langkah-langkah persiapan untuk mundur jadi karyawan dan menekuni bisnis. Baru kemudian bicara tentang prospek bisnis-bisnis yang ada saat ini.[ez]