Baru-baru ini saya “dipaksa” untuk membuat sebuah weblog (selanjutnya disingkat blog saja). Gara-garanya, pada awal November 2007 ini saya harus mengisi dua sesi workshop Sekolah Penulis Pembelajar (SPP) yang bertema “Membuat Blog Menjadi Buku”. Bagian yang akan saya presentasikan sebenarnya soal kiat-kiat mengubah isi blog menjadi naskah buku. Satu lagi adalah soal bagaimana para blogger bisa menembus penerbit.

Sebenarnya, urusan mengkreasikan segala jenis materi tulisan menjadi naskah buku, itu bukan barang baru bagi saya. Termasuk soal kiat-kiat supaya naskah kita mudah tembus ke penerbit umumnya. Tetapi kalau soal nge-blog, nah…. ini “mahluk aneh” yang harus saya “gauli” seakrab dan seintim mungkin, dalam beberapa hari ini dan ke depannya. Masak mau bicara blog kok tidak punya blog, tak mungkin, kan?

Ternyata, membuat blog itu mudah. Semudah yang pernah diceritakan oleh teman-teman saya yang sudah lebih dulu nge-blog. Dalam hitungan menit, saya sudah punya blog yang bernama “Ezonwriting” (Edy Zaqeus on Writing) dan beralamat di https://ezonwriting.wordpress.com. Bingung mau diisi apa, akhirnya saya ambil jalan pintas, yaitu membongkar semua artikel kepenulisan saya di Pembelajar.com.

Alhasil, dalam dua hari saja blog saya sudah penuh dengan tulisan-tulisan saya, yang terbaru maupun yang saya tulis 2-3 tahun sebelumnya. Dan, dalam kurun waktu kurang dari lima hari, blog saya ini sudah ikutan nampang kalau nama “Edy Zaqeus” di-search di Google. Promosi via milis serta pencantuman dalam profil singkat di setiap artikel saya tampaknya telah memberikan hasil.

Bagi pembaca yang jeli mengamati tulisan-tulisan saya itu, pasti akan tahu bahwa sebagian di antara artikel-artikel tersebut merupakan cikal bakal buku laris saya yang berjudul Resep Cespleng Menulis Buku Best Seller (Gradien, 2005), yang saat ini tengah dalam proses revisi untuk cetakan ke-3. Sementara, tulisan-tulisan terbaru lainnya sedang saya pertimbangkan untuk masuk sebagai materi pengaya edisi revisi buku tersebut.

Sebenarnya, yang ingin saya garis bawahi adalah soal potensi blog sebagai wadah untuk memublikasikan sekaligus menabung tulisan. Untuk publikasi tulisan, blog membebaskan si pemilik untuk mengisinya dengan model tulisan apa pun. Mau diisi jurnal, artikel, kritik atau komentar, kliping, foto, atau segala jenis tulisan dan ekspresi, semua boleh-boleh saja.

Karena sifatnya yang bebas inilah, maka blog terbukti berhasil merangsang para blogger (sebutan untuk orang yang aktif nge-blog) untuk lebih eksploratif dalam mengekspresikan segala gagasan, aspirasi, pengalaman, maupun kreativitasnya. Karena sifat ini pula, blog menjadi media komunikasi yang berpotensi lebih maju beberapa langkah dibanding media konvensional lainnya. Tak mustahil bila suatu saat nanti, blog berkualitas akan jadi alternatif pembanding bagi analisis dan pemberitaan media massa.

Cobalah kunjungi blog para blogger kenamaan di negeri ini, seperti blog-nya Priyadi Iman Nurcahyo, Enda Nasution, atau Fatih Syuhud. Anda akan temukan beberapa posting tulisan atau catatan yang cukup berisi, reflektif, peka terhadap fenomena terkini, kritis, dan—dalam derajat tertentu—berfungsi sebagai kontrol sosial layaknya peran media konvensional. Sementara, jika Anda kunjungi sejumlah link di blog mereka, Anda pun akan temukan dengan mudah sejumlah blog dengan karakter dan kualitas isi yang tidak jauh berbeda.

Menurut Kompas (30 Oktober 2007), jumlah blogger di Indonesia mencapai 130.000-an. Untuk ukuran masyarakat Indonesia yang dianggap agak tertinggal dalam hal akses internet, ini jelas jumlah yang sangat besar. Nah, dari jumlah bloger tersebut, saya berani saja asal tebak, minimal ada 10 persen alias 13.000 blog berkualitas yang ditekuni oleh para blogger. Bayangkan, betapa besarnya potensi dari jumlah 13.000 blog tersebut.

Sayang, dari hasil pengamatan saya, tampaknya masih banyak (mungkin mayoritas) blogger yang belum menyadari potensi blog mereka. Sebagai media berekspresi, berkreasi, berkolaborasi, serta menyampaikan gagasan maupun refleksi melalui tulisan, blog sudah diakui kekuatan dan efektivitasnya. Tapi, blog yang sudah jadi, atau blog yang saat dibuat sengaja diproyeksikan menjadi buku, mungkin tak banyak jumlahnya.

Saya lihat, kategori blog gaul dan menghibur—yang digarap oleh anak-anak muda—tampak bergerak lebih maju dalam memanfaatkan potensi dan peluang. Lihat saja contoh-contoh sukses blog yang dibukukan, seperti “trilogi” buku blog Raditya Dika berjudul KambingJantan, Cinta Brontosaurus, dan Radikus Makankakus (Gagas Media). Lihat pula buku blog Dewi berjudul Blog Tristania-Angina (Gradien), buku blog Albertina S. Calemens berjudul Blog Tinneke Carmen (Gradien), atau yang terbaru dan kabarnya lagi hot di pasaran adalah buku blog Yenny Lesly berjudul Gokilmom (Gradien).

Blog gaul yang menghibur memang sangat dekat dengan—bahkan mungkin sudah menjadi roh baru—budaya pop saat ini. Kondisi itu pula yang tampaknya membuat blog jenis ini mudah masuk ke industri buku nasional. Selain daripada itu, pembukuan blog gaul nan menghibur ini juga merupakan hasil kreativitas para editor berpengalaman. Mereka berani menciptakan tren baru di dunia perbukuan nasional.

Kalau kita berselancar mengunjungi dunia blog Indonesia, maka selain blog jurnal anak-anak muda yang kreatif dan menghibur itu, kita juga bisa temukan beragam blog hobi, blog fotografi, blog wisata, blog puisi dan sastra, blog resensi buku, blog tulisan opini atau artikel, blog komunitas, sampai blog opini politik, blog bisnis dan kewirausahaan, serta blog marketing. Pertanyaannya, dari sekian banyak blog dan beragam spesifikasinya, mengapa hanya beberapa gelintir blog saja yang bisa dibukukan?

Besar dugaan saya, pertama, kebanyakan blog memang tidak diniatkan untuk jadi buku. Kedua, karena tidak diniatkan jadi buku, maka penggarapan, pengisian, dan penataannya pun biasanya jauh dari kerangka sebuah buku. Ketiga, mayoritas blog memang masih difungsikan sebagai ajang curhat ringan atau berbagi pengalaman sehari-hari. Keempat, memang tidak banyak blog—yang dari segi kedalaman, kelengkapan data, dan ketajaman analisis—memenuhi syarat untuk dibukukan.

Bagi saya, sebenarnya fungsi weblog hampir sama dengan website biasa, semacam Pembelajar.com yang saya gawangi bersama Andrias Harefa. Apabila Pembelajar.com sebagai ajang publikasi tulisan akhirnya bisa melahirkan banyak penulis baru, saya pikir blog pun punya potensi yang sama. Bedanya, Pembelajar.com hanya bisa menampilkan tulisan dalam jumlah yang terbatas (sesuai space yang tersedia). Website sejenis ini juga tidak banyak jumlahnya. Sementara, blog jumlahnya ribuan kali lipat, dan bisa dibuat oleh siapa saja dan dengan space yang berlimpah ruah.

Jadi, dari ladang blog yang berlimpah ruah ini pula, seharusnya bisa lahir ribuan, bahkan puluhan ribu penulis maupun judul buku baru. Akankah ini menjadi kenyataan di negeri ini? Saya kok optimis, bahwa era “penguasaan” buku blog akan segera datang. Dan sekali lagi, era ini akan memenangkan Indonesia—dibanding negara-negara Asia Tenggara lainnya—dalam hal pertumbuhan penulis, buku, dan penerbitan.

Nah, Anda mau ambil bagian?[ez]

* Edy Zaqeus adalah penulis buku-buku best-seller, konsultan penulisan & penerbitan, editor Pembelajar.com, dan trainer di Sekolah Penulis Pembelajar (SPP). Ia juga mendirikan Bornrich Publishing dan Fivestar Publishing yang berhasil menerbitkan sejumlah buku best-seller. Nantikan workshops Edy Zaqeus tentang “Membuat Blog Menjadi Buku”, “Cara Gampang Menerbitkan Buku Sendiri”, dan “Cara Gampang Menulis Buku Best-Seller” pada November-Desember 2007 ini (Info selengkapnya, hubungi SPP di 021-7828044). Kunjungi blog Edy di: https://ezonwriting.wordpress.com atau email: edzaqeus@gmail.com.