Tags

, ,

Saat artikel ini saya tulis, saya baru saja menyaksikan di televisi bagaimana mahasiswa sedang gebuk-gebukan dengan aparat kepolisian. Persis seperti yang saya duga, kekacauan dan kekerasan dalam demo-demo seperti ini pasti tidak terelakkan. Lebih miris lagi adalah menyaksikan bagaimana para mahasiswa itu babak belur dan berdarah-darah karena dipukuli polisi. Apakah memang kekerasan seperti ini yang mereka inginkan?

Penolakan kenaikan harga BBM atau pengurangan subsidi memiliki implikasi logis yang tak terbantahkan. Mahasiswa tidak setuju ada penyaluran BLT sebesar Rp100 ribu per bulan, beras untuk kaum miskin, dan bantuan-bantuan lainnya, tetapi bersikeras supaya subsidi Rp1-1,2 juta per bulan untuk kaum kaya tetap diberikan.

Kuat bergaung berbagai pertanyaan dalam benak saya. Kalau mahasiswa menolak pengurangan subsidi untuk orang kaya, menolak penyaluran BLT dan bantuan-bantuan lainnya kepada masyarakat miskin yang jelas-jelas lebih berhak, lalu sejatinya mereka itu membela kepentingan siapa? Kalau mahasiswa dalam demo-demonya menyatakan membela rakyat miskin, tetapi arah tuntutannya tetap pada pemberian subsidi bagi kaum kaya, apakah salah kalau kemudian muncul kesimpulan bahwa mereka sejatinya membela kaum berpunya?

Baik, bisa saja mahasiswa tetap menyatakan sedang memperjuangkan dan membela rakyat miskin, tetapi pada saat yang bersamaan juga tidak bisa lepas dari konklusi sedang membela mati-matian subsidi untuk kaum kaya. Adakah penjelasan yang adekuat, logis, dan berperikeadilan untuk paradoks ini? Jika tidak ada, maka dengan berat hati saya harus menarik kesimpulan, bahwa demo-demo mahasiswa itu tak lebih dari aksi-aksi emosional yang tak berlandaskan pada pemihakan kepentingan secara jelas kepada rakyat miskin. Sedih menyadari bahwa, mahasiswa kita sedang kebingungan dan kehilangan orientasi dalam pergerakannya.

Saya sudah mengambil posisi mengkritisi demo-demo mahasiswa terkait rencana kenaikan harga BBM (baca artikel saya di Pembelajar.com: “Percuma Mahasiswa Demonstrasi”). Akhir tulisan saya sebelumnya jelas-jelas mengidentifikasi persoalan lanjutan dari kenaikan harga BBM, yaitu naiknya harga-harga. Itu sudah dibuktikan dan tercatat pada kenaikan harga BBM pada tahun 2005 lalu. Kalau masalah dan akibat lanjutannya bisa teridentifikasi, maka pada akhir tulisan itu pun saya mengajak supaya kita fokus pada upaya mencari pemecahannya. Bukan lagi berkutat pada sesuatu hal yang muskil kita ubah, membatalkan kebijakan kenaikan harga BBM. Sesederhana itulah jalan pikiran saya.

Baik, mari kita gunakan imajinasi dan kreativitas kita. Mari mereka-reka langkah apa saja yang mungkin bisa dilakukan oleh para mahasiswa, seandainya demonstrasi bukan lagi menjadi pilihan untuk menunjukkan kepedulian dan pembelaan kepada rakyat kecil.

Saya percaya pada intelektulitas, energi, dan idealisme para mahasiswa yang di atas rata-rata itu. Sungguh, itu semua merupakan potensi luar biasa yang tinggal menunggu pemanfaatannya secara positif dan konstruktif. Makanya, saya tidak khawatir kalau hal-hal positif yang saya sampaikan ini mungkin saja tidak praktis dan tidak sempurna. Sebab, saya yakin pada kekuatan pikir para mahasiswa kita yang pasti bisa menyempurnakan ide-ide sederhana ini.

Sebagian dari langkah-langkah yang saya kemukakan di bawah ini tampak mudah dilakukan, bahkan lebih mudah ketimbang demonstrasi di jalanan. Sebagian lagi membutuhkan curahan energi dan pemikiran yang lebih besar karena bersifat sangat strategis. Dan, saya pun yakin tawaran langkah-langkah berikut juga tidak kalah menantang dari heroisme demonstrasi jalanan.

1. Menjadi teladan dalam hal menghemat pemakaian BBM dan energi lainnya.

Ini penting sekali, karena salah satu akar permasalahan kelangkaan sumber energi adalah cara pemakaian yang tidak pada tempatnya. Sebuah langkah kecil bisa dilakukan oleh semua orang untuk setidaknya mengurangi tekanan masalah BBM, yaitu menghindari pemborosan dan berusaha melakukan penghematan. Nah, mahasiswa bisa bergerak lebih maju lagi dalam hal ini, yaitu selain berkampanye hemat BBM dan energi lainnya, mereka juga bisa menunjukkan keteladanan dalam hal ini. Bukan lagi demo anti kenaikan harga BBM, tapi demo mengajak masyarakat berhemat BBM.

Apakah langkah ini ada dampaknya? Pasti ada. Bayangkan, kalau di Indonesia ini ada 10 juta pelajar maupun mahasiswa yang bersemangat memberi teladan supaya orang-orang di sekeliling mereka mau berhemat satu liter bensin per minggunya. Maka, dalam sebulan kita bisa berasumsi akan terjadi penghematan sekitar 80 juta liter bensin. Kalau untuk setiap liter bensin ada penghematan subsidi sebesar Rp4.000, maka akan ada Rp80 miliar per bulan atau Rp960 miliar per tahun yang bisa dialokasikan ke pos-pos pemberdayaan rakyat miskin. Apakah angka ini sangat berarti? Sangat!

2. Awasi penggunaan kartu kendali subsidi minyak supaya jangan sampai dimanfaatkan oleh mereka yang tidak berhak.

Kenaikan harga BBM memang menyakitkan semuap pihak. Syukurnya, pemerintah masih memikirkan supaya dampaknya bisa dikurangi, salah satunya dengan memberikan kartu kontrol subsidi BBM kepada pihak-pihak yang dianggap paling berhak menerima subsidi. Sekalipun diragukan dan dianggap tidak menyelesaikan masalah, namun dalam derajat tertentu kebijakan semacam ini tetap perlu dan layak didukung. Bagaimana caranya? Ya, mahasiswa dapat berperan nyata dengan ikut mengawasi penggunaan kartu kontrol tersebut. Aparat pemerintah saja tidak akan mampu mengawasi sepenuhnya pelaksanaan kebijakan ini. Butuh peran masyarakat secara lebih luas dan di sinilah para intelektual muda itu dapat berperan.

Mengapa perlu diawasi? Karena, hampir pasti akan ada penyimpangan-penyimpangan dalam pelaksanaannya. Kalau penyimpangan dibiarkan, maka pemborosan subsidi akan mengancam. Jangan sampai tujuan dasar menghilangkan 70 persen subsidi yang dinikmati oleh kamu kaya itu meleset dari sasaran. Jika sudah seperti ini, maka semua pihak akan dirugikan, terlebih lagi masyarakat yang semestinya paling berhak mendapatkan subsidi.

3. Awasi penyaluran BLT dari kecurangan dan korupsi.

Pada kenaikan harga BBM tahun 2005 lalu, pemerintah juga mengeluarkan kebijakan penyaluran Bantuan Langsung Tunai (BLT). Sekalipun oleh para pengamat dan politisi BLT dikritik sebagai kebijakan yang tidak tepat sasaran, toh masyarakat yang menerima BLT menyatakan sangat terbantu. Rupanya, lain pengamat lain pula masyarakat yang mengalami kesusahan. Diakui pemerintah, 5 persen BLT tahun 2005 bocor ke tangan yang tidak berhak. Seharusya, di sinilah semua komponen masyarakat, terutama mahasiswa, dapat ikut mengamankan dan menekan angka kebocoran tersebut.

Potensi korupsi dan kekisruhan tetap membayang sehingga mestinya semua pihak bisa mengambil pelajaran dari sini. Bahkan, tersiar berita sejumlah pimpinan lokal dan aparat birorkasi menyatakan menolak BLT. Lepas dari potensi masalah konflik yang membayang, tindakan semacam itu sama artinya dengan menyabotase hak rakyat miskin yang berhak menerima BLT. Lain soal kalau rakyat sendiri yang menolak.

Nah, Mahasiswa dapat berperan aktif dengan menjadi pemantau atau pengawas kebijakan mulia tersebut. Mereka bisa bekerjasama dengan LSM untuk membentuk task force yang khusus memantau supaya BLT tidak diselewengkan oleh pihak penyalur. Sambil mengawasi, mereka bisa menjaga supaya antrian pengambilan BLT berjalan tertib, membantu mengarahkan warga, atau menyediakan pos-pos pelayanan kesehatan bila perlu.

4. Ikut mengontrol saluran-saluran distribusi barang untuk mencegah adanya penimbunan barang dan permainan harga.

Kenaikan BBM tahun 2005 dan sebelum-sebelumnya memberikan pelajaran, saat harga-harga akan naik, tiba-tiba saja sembako atau barang-barang vital lainnya menghilang dari pasaran. Pemerintah biasanya selalu menyatakan, stok barang yang dilempar ke pasaran jumlahnya memadai. Tapi faktanya, masyarakat sulit mendapatkannya. Ternyata, selalu saja ada penyakit penimbunan yang dilakukan oleh segelintir spekulan atau sejumlah distributor dan pedagang yang menguasai rantai distribusi.

Kembali, pada lapangan inilah sebenarnya mahasiswa beserta komponen masyarakat lainnya dapat ikut andil dalam pengawasan. Kita tahu, sebagian mahasiswa memiliki keterampilan riset yang bagus, mampu melakukan observasi lapangan, dan tak sedikit pula yang bisa berperan layaknya market inteligent. Peran pengawasan mereka bisa sangat bermanfaat dalam menekan atau mengurangi praktik-praktik para spekulan di atas. Tampak berat? Ya, tapi juga tidak lebih berat dari demo-demo di jalanan yang kadang nyawa juga taruhannya. Bermanfaat bagi masyarakat? Pasti!

5. Aktif memantau pemberlakuan tarif tarnsportasi umum yang tidak sesuai aturan.

Sebagian besar wahana transportasi diusahakan oleh swasta yang sudah pasti berorientasi keuntungan. Sebagian angkutan massal dikelola oleh perusahaan-perusahaan yang relatif lebih bisa dikontrol. Tetapi di sejumlah kota, angkutan massal seperti angkutan kota dimiliki oleh perorangan secara lepas (ada yang berizin ada pula yang tidak), sisanya tergabung dalam wadah koperasi. Kadang, jenis kepemilikan angkutan seperti inilah yang relatif lebih sulit dipantau pergerakan tarifnya.

Sudah jadi rahasia umum, setiap kali ada kenaikan harga BBM, angkutan umum selalu lebih dulu menaikkan tarif mendahului kebijakan pemerintah daerah. Kadang kenaikan tarifnya sangat tidak proposional. Misal, BBM naik 30 persen, tapi pada jarak tempuh dan tingkat konsumsi BBM yang sama, tarif bisa dinaikkan antara 20-50 persen. Jika dihitung dengan cermat, besaran kenaikan tarif yang demikian itu jelas sangat mencekik konsumen dan sangat tidak proporsional. Sebab, ongkos yang diterima dari pengguna angkutan jelas akan jauh lebih besar ketimbang pertambahan biaya BBM yang harus dikeluarkan.

Apa artinya? Mereka memang cari untung dan enaknya sendiri. Jika tidak dipenuhi, mereka akan mogok, menelantarkan para penumpang, bahkan tak jarang melakukan kekerasan kepada sopir maupun penumpang yang tidak mau ikut-ikutan mendukung demo mereka. Di sinilah sesungguhnya mahasiswa dapat menjadi pengawas atau kelompok penekan untuk menghindarkan masyarakat terbebani secara berlebihan akibat kenaikan tarif angkutan yang tidak proporsional. Apakah peran ini bermanfaat bagi masyarakat dan mahasiswa sendiri? Sangat bermanfaat!

6. Aktif mengalang dan menyalurkan bantuan dari para donatur dengan mengadakan pasar-pasar sembako murah.

Saya pernah mendapatkan pernyataan bahwa tidak sedikit orang kaya, perusahaan, atau lembaga-lembaga donor yang ingin menyalurkan bantuan kepada masyarakat miskin, tetapi mereka cenderung tidak percaya lagi kepada institusi-institusi yang selama ini bertugas menyalurkan bantuan tersebut. Lihat bagaimana bantuan-bantuan beras murah yang diselewengkan di berbagai tempat. Atau, lihat pula bantuan-bantuan sembako politik yang dilakukan oleh parpol-parpol yang punya pamrih politik.

Nah, jika para mahasiswa bisa menangkap aspirasi tersebut, dan mau benar-benar bekerja keras, kenapa mereka tidak berusaha menjadi penyalur bantuan yang bisa dipercaya? Dengan dana-dana bantuan itu, para mahasiswa dapat mengadakan basar-basar sembako murah kepada masyarakat miskin yang langsung tertekan oleh imbas naiknya harga-harga sembako. Ini adalah bentuk kepedulian dan aksi konkret yang bisa meringankan beban masyarakat. Lihat saja, kalau masyarakat ditanya, pilih melihat mahasiswa demo gebuk-gebukan dengan aparat atau pilih mahasiswa yang dengan sukarela menggelar bazar-bazar sembako murah? Saya yakin, yang kedualah yang dipilih.

7. Melakukan kajian-kajian dan memberikan usulan-usulan konkret menyangkut pemanfaatan dana BLT untuk tujuan produktif. Dampingi dan bimbing masyarakat dalam memanfaatkan dana BLT produktif.

Saat ini kencang disuarakan supaya pemerintah tidak saja memberikan BLT untuk tujuan konsumsi, tapi juga BLT yang sifatnya merangsang aktivitas wirausaha atau padat karya. Ini gagasan yang sangat bagus dan membutuhkan gagasan-gagasan pelaksanaan selanjutnya. Di sini pula semestinya para mahasiswa kembali dapat berperan secara riil di tengah-tengah masyarakat. Caranya, mereka bisa mendampingi masyarakat miskin untuk menggunakan bantuan dana tersebut ke aktivitas-aktivitas produktif. Pola Kuliah Kerja Nyata (KKN) bisa diaplikasikan di isni, namun harus dengan berbagai modifikasi.

Kemitraan antara masyarakat dengan mahasiswa seperti ini sangat strategis sifatnya. Di satu sisi para mahsiswa dapat terjun langsung dan mengamalkan ilmunya untuk masyarakat. Di sisi lain, masyarakat dapat merasakan langsung aktivitas positif para mahasiswa. Tapi yang terpenting bagi mahasiswa sendiri, selain teori di bangku kuliah, mereka akan mendapatkan bekal pengalaman langsung yang sangat berharga dari masyarakat.

Kalaupun langkah-langkah konkret itu belum bisa segera dijalankan, toh para mahasiswa ini bisa berimajinasi untuk menyuguhkan gagasan-gagasan kreatifnya. Dan, saya sangat yakin, dengan energi sebagai orang muda, mereka pasti punya potensi krativitas serta inovasi yang luar biasa besar. Saya saja sangat antusias membayangkan, andai subsidi sebesar Rp256, 6 triliun per tahun atau Rp727,6 miliar per hari itu diberikan kepada mahasiswa untuk dikelola demi kemaslahatan rakyat. Kira-kira mau dipakai untuk apa ya? Saya benar-benar menantikan pikiran kreatif meraka saat ini.

8. Aktif dan berinisiatif melakukan riset-riset energi alternatif.

Belum lama ini, saat krisis energi mulai membayang, muncul berita-berita tentang berbagai penemuan energi alternatif. Di antaranya adalah pemanfaatan kincir anging atau aliran air untuk menghasilkan listrik, pemanfaatan kotoran ternak untuk menghasilkan gas, bahkan yang terbaru adalah penemuan bahan bakar yang dihasilkan dari bahan hidrogen (BBM berbahan air). Tak jarang penemuan-penemuan itu dihasilkan oleh petani-petani atau peternak kecil sederhana yang tidak pernah mengenal mewahnya pendidikan di kampus.

Ini luar biasa dan menunjukkan betapa sebagian dari anggota masyarakat kita tidak pernah menyerah untuk bisa menemukan solusi bagi permasalahan di sekeling mereka. Tapi sayangnya, tak satu pun kita dengar penemuan-penemuan penting itu datang dari para intelektual muda kita. Itulah sebabnya, jika mau sungguh-sungguh berperan di tengah beragam persoalan masyarakat, tak ada salahnya para mahasiswa kita itu menjadi garda depan penelitian-penelitian untuk menghasilkan energi alternatif. Dengan segala perangkat atau resourches yang mereka miliki, tak salah kalau kita berharap akan muncul lebih banyak lagi penemuan dari mereka. Rakyat menunggu!

9. Aktif mengawasi gerakan hemat energi di kalangan birokrasi pemerintahan.

Pemerintah sudah mencanangkan gerakan penghematan energi. Instansi-instansi pemerintah diharapkan menjadi teladan gerakan penghematan energi tersebut. Nah, inilah yang perlu diawasi secara khusus oleh para mahasiswa kita. Di Indonesia ini ada ribuan kantor instansi pemerintah beserta aparatnya. Mereka dituntut menjadi teladan sehingga mahasiswa bisa berperan dalam pengawasan tersebut. Boleh dikata pengawasan di kota-kota besar, di mana kontrol masyarakat lebih kuat, relatif bisa berjalan lebih baik. Tetapi bagaimana dengan di daerah-daerah yang jauh dari pusat kekuasaan? Siapa yang mau menjadi sukarelawan untuk pengawasan tersebut? Kita berharap ada kelompok-kelompok mahasiswa yang bersedia menjadi sukarelawan dengan menjalankan fungsi tersebut.

10. Awasi secara khusus perilaku anggota DPR dalam hal penggunaan BBM dan energi lainnya.

Satu lagi objek pengawasan, yaitu perilaku anggota dewan yang terhormat menyangkut penghematan BBM dan energi lainnya. Selama ini merekalah yang tampak vokal mengkritisi hampir semua kebijakan pemerintah. Mereka pula yang suka menangkap bola-bola liar yang dilempar para demonstran untuk menjadi produk (baca: issue) politik demi kepentingan kelompoknya sendiri. Akan sangat ironis bila rakyat miskin harus menanggung beban ekonomi yang sangat berat, sementara mereka ini masih menikmati berbagai fasilitas mewah serta subsidi yang mestinya menjadi hak rakyat miskin. Maknya, pengawasan melekat harus digalakkan supaya anggota-anggota DPR ini tidak abai dengan nasib rakyat miskin. Selain LSM, pers, dan kelompok-kelompok masyarakat lainnya, mahasiswa adalah pihak yang paling tepat untuk ikut mengawasi mereka ini.

Demikianlah, sepuluh langkah yang saya anggap positif dan bisa menjadi alternatif lain selain demonstrasi di jalanan. Saya berharap, para mahasiswa kita saat ini bisa lebih kreatif dan imajinatif lagi dalam menjalankan perannya. Saya sendiri yakin akan efektivitas dan manfaat langkah-langkah tersebut guna mengurangi beban masyarakat kita pada umumnya, dan rakyat miskin pada khususnya. Ide-ide tersebut hanya perlu sentuhan-sentuhan akhir di sana-sini dan kemudian bisa segera dijalankan.

Tetapi apakah para mahasiswa kita mau meliriknya, saya tidak sepenuhnya optimis. Pasti mereka yang sudah memilih turun ke jalan akan tetap meneruskan aksinya. Saya hanya berharap supaya demo-demo tersebut tidak meningkat eskalasinya sehingga membuka peluang atau bisa memicu kekisruhan seperti yang terjadi sepuluh tahun yang lalu. Tidak ada satu pun di antara kita yang mengehendaki berulangnya sejarah kelam kerusuhan Mei 1998.

Walau begitu, saya tetap yakin, bahwa dari sekian juta pelajar dan mahasiswa kita, pasti ada sebagian di antaranya yang sepakat dengan ide-ide tersebut, atau bahkan diam-diam sedang menjalankannya. Saya angkat topi setinggi-tingginya pada mereka ini. Dengan mereka inilah kita masih bisa mendiskusikan dan mengambil langkah-langkah bersama untuk perbaikan bangsa ini. Dan, selamat memperingati Hari Kebangkitan Nasional Ke-100.[ez]

* Edy Zaqeus adalah Editor Pembelajar.com, konsultan penulisan dan penerbitan, pendiri Bornrich & Fivestar Publishing, penulis beberapa buku bestseller. Ia dapat dihubungi di edzaqeus@gmail.com.