Saya memiliki dua adik perempuan yang masih sekolah. Yang pertama kuliah di sebuah universitas swasta dan saat ini memasuki semester lima. Sementara, yang kedua baru saja lolos seleksi PBUCM (Penelusuran Bibit Unggul Calon Mahasiswa) di universitas negeri di Yogyakarta. Kebetulan keduanya mengambil jurusan Ilmu Psikologi, dan kebetulan juga di lingkaran keluarga, sayalah yang “ketiban sampur” untuk memberi mereka beasiswa sepenuhnya.

Adik perempuan pertama saya tampaknya memang bakatnya jadi anak sekolahan. Sejak SD dia gila belajar sehingga sering mendapatkan ranking yang bagus. Makanya, lepas SMA tawarannya hanya pilih kuliah di mana dan jurusan apa. Sebenarnya waktu tes SPMB dua tahun lalu, dia diterima di sebuah fakultas di UGM. Tapi, atas kesadarannya sendiri dia memilih kuliah di universitas swasta dengan mengambil jurusan Psikologi.

Adik perempuan kedua saya punya karakter yang agak berbeda dengan kakaknya. Mulai dari SD sampai lulus sekolah madrasah—menurut kabar yang saya terima dari kampung—sebenarnya bukan tipe doyan belajar. Kabarnya, dia sedikit ada “bakat” dagang, walau saya tidak begitu yakin. Makanya, lepas dari madrasah saya tawarkan dua pilihan, mau wiraswasta dengan bantuan modal atau kuliah seperti kakaknya. Mungkin karena melihat kakaknya enak kuliah, dan kebetulan dia lolos tanpa tes ke universitas pilihannya, maka pilihan berwiraswasta pun tak dilirik.

Tampaknya tidak ada yang istimewa dari cerita saya di atas. Sepertinya, mereka akan menempuh masa studi sebagaimana layaknya mahasiswa lainnya. Tapi, saya akan tunjukkan betapa kedua adik perempuan saya itu akan dan sedang kuliah bak sambil duduk di kursi panas. Sangat tidak nyaman, penuh target dan tuntutan, butuh ketahanan mental di atas rata-rata, dan sangat mungkin mereka gagal di tengah jalan. Mulai tertarik dengan cerita selanjutnya? Baik, saya akan beberkan dalam tahapan-tahapan diskusi sebagai berikut.

Pertama, saya gugah kesadaran adik-adik saya ini bahwa sebagai mahasiswa mereka mendapatkan suatu kesempatan emas untuk belajar dan mengembangkan diri. Kesempatan emas? Ya, pasti! Sebab, pada saat yang bersamaan, mungkin ada jutaan lulusan SMA atau rekan-rekan seusia mereka yang tidak mendapatkan kesempatan belajar di perguruan tinggi. Mereka ini—karena impitan ekonomi atau sebab-sebab lain—terpaksa harus langsung terjun ke masyarakat, berjuang untuk survive dengan bekal apa adanya. Mereka ini sudah langsung harus bertanggung jawab pada kehidupannya sendiri.

Bagaimana dengan mahasiswa? Mereka umumnya—dalam jangka tiga sampai lima tahun ke depan—masih dibiayai sepenuhnya oleh orangtua, mulai dari uang sekolah, pondokan, biaya makan, sampai soal beli pulsa dan biaya nonton bareng pacar. Memang ada sebagian mahasiswa yang nyambi cari penghasilan atau berusaha mandiri, tapi itu bukan arus besar di negeri ini. Pada titik, seharusnya mahasiswa sangat bersyukur bisa belajar sembari mendapatkan jaminan kehidupan dari orangtua. Makanya kalau mau fair, seharusnya para mahasiswa bersikap lebih bertanggung jawab atas amanah atau tugas belajar yang dibebankan oleh orangtua mereka.

Kedua, saya wajibkan adik-adik saya lulus tepat waktu. Dengan kerangka pemahaman seperti poin pertama, saya tegaskan supaya mereka tidak menyia-nyiakan waktu belajar dan mereka harus selesai kuliah tepat waktu. Bila perlu, mereka harus menorehkan banyak kemajuan bagi rintisan masa depan mereka sendiri. Semakin molor waktu studi, semakin banyak biaya dikeluarkan, dan itu berarti pemborosan biaya serta waktu-waktu produktif mereka.

Soal lulus tepat waktu ini, saya tegaskan kepada adik-adik saya bahwa mereka harus berjuang keras supaya bisa lulus dalam waktu 3,5 tahun! Saya juga peringatkan bahwa beasiswa alias seluruh pembiayaan kuliah maupun biaya hidup akan saya hentikan persis 3,5 tahun setelah mereka masuk kuliah. Entah mereka sudah lulus atau belum, yang pasti anggaran belajar mereka hanya untuk 3,5 tahun. Jika studi mereka molor, konsekuensinya mereka harus cari sendiri biayanya.

Sebagian orang di sekitar saya, termasuk ibu saya sendiri, menganggap cara saya membimbing adik-adik ini terlalu keras. Bahkan, ada juga yang berkomentar, “Wah, terlalu sadis….!” Menurut saya, target kelulusan 3,5 tahun bukan mengada-ada karena saya lihat sudah banyak contohnya. Dan sepengetahuan saya, dengan strategi tertentu (antara lain seperti diungkap dalam buku Fani Kartikasari-Ingin Cumlaude Harus Smart) lulus tepat waktu itu benar-benar bisa diupayakan.

Adik-adik saya sempat protes. Tapi, saya kembali memaksa supaya mereka melihat rekan-rekan seusianya yang tidak beruntung mereka, yang pada bersamaan harus berjuang untuk tetap hidup. “Jadi soal semangat bekerja keras, malu sekali kalau kalian lebih lembek dari mereka!”

Ketiga, saya tuntut adik-adik saya bahwa mereka harus lulus dengan IPK di atas 3,0. “Kejam sekali…?!” Memang iya, tapi semua ada maksud konstruktifnya. Berdasarkan pengalaman saya, tuntutan nilai yang baik adalah semacam password atau tiket masuk ke dunia kerja. Sekarang ini, nilai bagus menjadi syarat seleksi pertama untuk hampir semua posisi kerja. Semakin bergengsi bidang atau tempat kerja yang dituju, nilai bagus sudah merupakan kewajiban. Jika nilai rendah, hampir pasti lulusan perguruan tinggi mana pun akan tereliminasi pada tahap yang paling awal.

Apakah mendapatkan IPK di atas 3,0 sulit? Bisa iya, bisa tidak. Sulit kalau mahasiswa belajar asal-asalan tanpa strategi yang tepat. Bisa mudah kalau mereka berani bekerja keras dan menerapkan cara dan strategi belajar yang tepat. Dua semester pertama kuliah saya dulu, indeks prestasi saya selalu di bawah 2,5. Itu karena saya teledor dan tidka tahu cara belajar yang tepat. Tapi, begitu saya temukan strateginya, semester keempat dan seterusnya langsung melejit dan selalu di atas 3,0. Padahal, saya kuliah di fakultas atau jurusan yang terkenal pelit memberikan nilai bagus kepada mahasiswa.

Dalam mengejar target nilai tersebut, saya minta adik-adik saya supaya berempati terhadap kaum pekerja atau orangtua pada umumnya yang sehari-hari membanting tulang untuk membiayai sekolah mereka. Kalau para orangtua dari pagi hingga sore, bahkan malam, terfokus perhatiannya pada pekerjaan, maka tak salah bila mahasiswa pun dituntut untuk fokus pada proses belajarnya. Meraih angka bagus memang tidak mudah, tapi jelas tidak sesulit mencari penghasilan, bukan?

Keempat, saya wajibkan adik-adik saya mengembangkan potensi diri. Nilai bagus itu wajib, standar minimal pencapaian, tapi keterampilan atau pengalaman lain yang relevan juga tak kalah pentingnya. Pertama saya minta mereka supaya terus mengembangkan potensi diri serta belajar keras untuk bisa mandiri. Saya ingatkan, betapa soft skill itu vital peranannya dalam dunia kerja atau bidang apa pun yang akan mereka geluti nantinya. Saat menjadi mahasiswalah mereka berkesempatan luas untuk mengasahnya.

Apa yang saya maksud soft skill di sini? Macam-macam, mulai dari keterampilan berbahasa dan berkomunikasi, menjalin relasi, kemampuan berorganisasi, mengenal team work, mengasah kemampuan analisis, observasi, brainstorming, membuat perencanaan dan target pencapaian, mengambil keputusan sendiri, mengembangkan ide-ide kreatif, menulis opini, dll. Saya juga terus ingatkan supaya mereka berusaha keras mengembangkan rasa percaya diri untuk tampil di depan umum dan mampu menjalin hubungan atau mengenali variasi karakter orang.

Nah, sambil terus mengembangkan potensi diri serta mengasah soft skill tersebut, saya juga dorong mereka supaya memanfaatkan setiap kesempatan mengikuti beragam perlombaan atau kompetisi. Misalnya berkompetisi mendapatkan beasiswa dari lembaga tertentu (yang biasanya menuntut syarat prestasi bagus). Kalah atau menang bukan tujuan utama, tetapi pengalaman bersaing itulah yang lebih penting. Sebab, lepas dari bangku kuliah nanti mereka langsung bersaing dengan lulusan lainnya. Jika tidak mencuri start persiapan sejak dini, bagaimana bisa menang?

Kelima, saya larang adik-adik saya unjuk rasa, tapi saya dorong mereka untuk unjuk prestasi. Saya tegas-tegas melarang mereka demonstrasi turun ke jalan. Kalau sampai ketahuan demonstrasi, saya akan mainkan “politik anggaran”, yaitu langsung mencabut beasiswa yang saya berikan. “Otoriter sekali…!?” Memang, otoriter banget. Saya melarang mereka demonstrasi khususnya untuk isu-isu yang bersinggungan dengan politik dan SARA, atau isu apa pun yang mengatasnamakan kepentingan rakyat.

Saya hanya menolerir bila mereka ikut demonstrasi damai untuk menganjurkan perang terhadap narkoba, gerakan menghijaukan bumi, menyadarkan masyarakat atas dampak pemanansan global, gerakan hemat energi, atau isu-isu lingkungan lainnya. Tetapi tetap dengan catatan, mereka harus bisa mengukur dan menjaga diri terhadap setiap risikonya.

Walau masih menolerir unjuk rasa, saya tetap menekankan bahwa yang terbaik adalah unjuk karya atau prestasi. Semisal mereka terdorong untuk berbuat sesuatu yang sifatnya menunjukkan kepedulian atas isu tertentu, saya akan minta supaya mereka melakukan tindakan konkret yang bermanfaat langsung. Misalnya, jika ingin menyuarakan isu pemanasan global, jangan hanya turun ke jalan berdemonstrasi. Lebih baik adakan seminar, lokakarya, pelatihan penulisan isu terkait, atau gerakan penyadaran yang langsung turun ke lapangan. Tindakan kecil lebih bermakna daripada hanya berteriak-teriak di jalanan.

Keenam, saya tantang sekaligus anjurkan adik-adik saya untuk belajar berwiraswasta. Mengapa? Karena tidak ada jaminan bahwa setelah lulus nanti mereka bisa langsung mendapatkan pekerjaan sesuai keinginan mereka. Itu berarti, alternatif usaha sendiri harus dipersiapkan. Ingat, saingan para lulusan baru bukan saja sesama yang baru lulus, tapi juga lulusan-lulusan sebelumnya (ingat, ada setengah juta sarjana nganggur saat ini) atau mereka yang sudah bekerja tapi ingin pindah kerja. Jadi, makin keraslah persaingan di dunia kerja nantinya. Semakin minim bekal bersaing, semakin kecil peluang menang.

Saya sangat salut pada para mahasiswa yang sembari kuliah sudah mau bekerja mencari uang atau menjalankan usaha sendiri. Mereka berjualan bubur, jualan hamburger, ngojek, nyambi jadi pemulung, buka warung makan murah, buka atau kerja di warnet, membuat usaha laundry, membuat toko online, tukang servis, mengajar les privat atau bimbingan belajar, menulis untuk media massa, menjadi tenaga survei, asisten peneliti, dll. Apabila ditekuni, usaha-usaha kecil tersebut bisa saja berkembang dan memberikan hasil memadai.

Mahasiswa-mahasiswa semacam inilah yang sejatinya sungguh-sungguh belajar untuk hidup di masyarakat sembari kuliah. Mereka pasti sangat paham akan makna kemandirian serta arti waktu. Saya teramat yakin, pengalaman berwiraswasta seperti itu kelak akan memberikan alternatif solusi bila mereka tidak memilih jalur sebagai pekerja formal/karyawan. Dan ingat, jalur wiraswasta adalah salah satu jalur yang banyak memberikan contoh-contoh sukses.

Nah, enam hal tersebut benar-benar saya tekankan kepada adik-adik saya, dan saya anggap merupakan “kesepakatan” yang harus dipenuhi selama mereka kuliah. Apakah mereka tidak protes? Oh, protes banget! Maklum, mereka belum lama beranjak dari zona nyaman remaja di masa SMA. Begitu menjadi mahasiswa, dan langsung saya asumsikan sudah seharusnya jadi dewasa, mulailah mereka dibebani dengan serangkaian tanggung jawab yang lebih dibanding sebelumnya. Itu konsekuensi dari jenjang studi serta perkembangan usia mereka.

Kadang ada pertanyaan yang tak diungkapkan, bagaimana soal kepedulian kepada masyarakat? Saya paham pertanyaan ini karena begitu mereka menjalani orientasi pengenalan kampus, pasti akan diindoktrinasi oleh seniornya untuk peduli kepada masyarakat. Bahkan, seperti yang saya alami dulu, kami mahasiswa baru sudah diajari berdemosntrasi di jalanan sejak pertama kali masuk kuliah. Luar biasa! Tapi, bagi saya sederhana saja cara melihatnya. Jumlah pengangguran terdidik yang setengah juta lebih itu jelas-jelas berimplikasi bahwa para mahasiswa itu sejatinya adalah calon-calon penganggur. Lebih keras lagi, mayoritas dari mereka sedang menunggu giliran untuk menambah statistik tersebut serta berubah status menjadi beban masyarakat.

Dari premis itu saya tegaskan bahwa pilihan paling bijak dan bertanggung jawab bagi para mahasiswa itu adalah untuk tidak menjadi beban masyarakat nantinya. Bagaimana caranya? Ya, jadilah sarjana-sarjana yang siap dan bisa bekerja, atau lebih baik lagi bisa membuka lapangan kerja, dan bukannya menambah jumlah angka pengangguran. Dan, semua itu bisa dirintis dan dipersiapkan sejak pertama kali mereka masuk ke bangku kuliah.[ez]

* Edy Zaqeus adalah seorang konsultan, trainer, editor, penerbit, dan penulis buku bestseller. Ia dapat dihubungi melaui email: edzaqeus@gmail.com.