hartati-nurwijaya & poseidonasSiapa bilang ibu rumah tangga tidak bisa mengembangkan talenta dan minatnya, sampai kemudian dapat mengembangkan karier sebagai penulis buku? Itulah pengalaman riil Hartati Nurwijaya, mantan wanita karier yang memutuskan jadi ibu rumah tangga, tetapi kemudian berhasil mengembangkan diri dan aktivitasnya sebagai seorang penulis buku.

Lahir di Yogyakarta tahun 1968, Tati, demikian panggilan akrabnya, sudah punya minat di bidang menulis sejak masih SD. Namun, pekerjaan yang kemudian ditekuni alumnus Jurusan Sosiologi, Fisipol, UGM tahun 1993 ini, justru tidak mengarah ke profesi kepenulisan. Sebaliknya, Tati tercatat pernah bekerja sebagai staf peneliti di Litbang Departemen Kesehatan dan Litbang Perum Pegadaian. Kariernya terus tumbuh, sampai kemudian pernah menjadi konsultan PT Pertamina hingga menjadi Kepala Seksi BDD Lippo Karawaci Real Estate.

Namun, perjalanan cinta cucu dari pujangga Nur Sutan Iskandar ini membawanya ke Megara, Yunani. Menikah dengan Papafragos pada tahun 2003, Tati pun boyongan ke negeri para filsuf tersebut, dan sekarang sudah dikaruniai tiga putra-putri. Hari-harinya diisi untuk mengasuh ketiga anaknya, menjadi guide untuk turis-turis asal Indonesia yang berlibur ke Yunani, serta satu lagi yaitu mengembangkan kemampuannya dalam menulis.

Tercatat sangat aktif mem-posting berbagai tulisan di sejumlah mailing list (milis), salah satunya milis PenulisBestseller, akhirnya Tati menuai hasil proses pembelajarannya. Oktober 2007 lalu, Tati meluncurkan karya perdananya berjudul Perkawinan Antar Bangsa-Love and Shock!. Lalu, setahun persis, yaitu awal November 2008 ini, Tati meluncurkan karya keduanya berjudul Hidangan Favorit ala Mediterania (Hikmah).

Pertanyannya, mengapa dari semula menulis tema perkawinan antarbangsa, kok kemudian beralih ke tema kuliner? Rupanya, itu merupakan bagian dari positioning strategy Tati untuk menang bersaing, dengan selalu menampilkan buku dengan tema-tema baru. Bukan hanya baru, ia juga membidik tema-tema khas yang tidak dilirik penulis lain, atau memang tema yang mungkin tidak terpikir akan ditulis oleh penulis lainnya.

Nah, bagaimana proses kreatif penulisan buku terbaru Tati, serta alasan apa saja yang melandasinya menulis buku menu hidangan ala Eropa tersebut, simak petikan wawancara Tati dengan Edy Zaqeus dari Bornrich Consulting, melalui email belum lama ini:

Lagi sibuk apa sekarang di Yunani?

Sibuk terus mengurus tiga anak, satu usia sepuluh tahun, dan dua orang balita. Ketiganya sekolah, di sini sekolah gratis, lho…! Saya agak lega bisa mengecek email atau menulis hingga mereka pulang jam dua siang.

Kesibukan lain?

Saya juga sedang belajar food fotography. Disambi menjadi local guide bagi turis Indonesia, Malaysia, dan Singapura, yang datang ke Yunani. Lumayanlah hasilnya buat beli buku.

Saat ini, lagi musim makanan apa di sana, atau adakah tren makanan tertentu menjelang akhir tahun 2008?

Sejak zaman manusia diciptakan, Tuhan memberikan manusia agar punya selera untuk makan. Nabi Adam dan Hawa keluar dari surga gara-gara makan buah… Makanan pada intinya trend-nya sama saja. Hanya menjelang akhir tahun, semua keluarga di sini mulai heboh, memikirkan membuat menu hidangan Tahun Baru.

Apa yang spesial dari menu-menu masakan Mediterania sehingga membuat Anda tertarik membukukannya?

Hasil penelitian WHO tahun 1950, yang dilakukan selama sepuluh tahun oleh Profesor Ancel Keys, menemukan bahwa menu Mediterania adalah menu yang paling sehat di seluruh dunia. Penelitian itu tentang kebiasaan makan dan hidangan yang disantap oleh orang Finlandi, Italia, Yunani, Belanda, Jepang, Amerika, dan Yugoslavia. Makanan dari Yunani dan Italia, Mediterania, yang paling sehat. Masyarakatnya yang terkena penyakit jantung koroner rendah sekali. Sementara, tingkat usia harapan hidup sangat tinggi. Banyak lansia berusia hingga 90-100 tahun. Spesialnya lagi, menu Mediterania mudah diolah dan bahannya selalu yang segar.

Bisa Anda perinci, judul dan isi buku Anda?

Judul awal yang saya berikan ke penerbit adalah “Hidangan Sehat ala Mediterania”. Namun, oleh redaksinya diganti menjadi Hidangan Favorit ala Mediterania. Isinya rahasia sehat ala Mediterania, piramida makanan, keterangan tentang manfaat dan khasiat bahan yang dipakai dalam mengolah hidangan, dan menu dari lima negara. Hidangan ini terdiri dari menu yang komplit, maksudnya hidangan pembuka, hidangan utama, hingga hidangan penutup. Semuanya berasal dari Yunani, Turki, Spanyol, Perancis Selatan, dan Italia.

Apakah selera Mediterania bisa masuk ke lidah orang Indonesia, yang katanya sangat suka makanan bercita rasa kuat?

Sejak saya mulai memilih menulis buku kuliner, saya juga masuki milis-milis kuliner. Ada sekitar tujuh milis; detikfood, jalansutra, teraskuliner, resepmasakan, bangaumania, natural cooking club, dan foodcombingindonesia. Saya melihat gejala, bahwa orang Indonesia saat ini, yang kelas menengah ke atas terutama, semakin sadar akan gaya hidup sehat. Mereka banyak yang sudah menggunakan minyak zaitun. Mereka juga melakukan pilihan terhadap makanan yang akan dikonsumsi. Jadi, tidak asal kenyang saja. Saya rasa, menu Mediterania cocok dengan lidah orang Indonesia kelas menengah ke atas. Sebab, mereka sudah biasa mencicipi hidangan menu asing di restoran terkenal di Jakarta ataupun di hotel-hotel berbintang.

Bagaimana dengan bahan-bahan untuk membuat masakan mediterania ini?

Bahannya sebagain besar yang saya pilih adalah bahan yang mudah didapatkan dan harganya tidak mahal bagi target market buku ini.

Selain soal cita rasa, Anda menekankan pentingnya kuliner sehat dan bergizi, penjelasannya?

Di awal buku ada bagian penjelasan mengenai rahasia sehat bangsa Mediterania. Itu paparan berdasarkan hasil-hasil penelitian para ahli. Juga penjelasan tentang khasiat dan manfaat bahan yang banyak digunakan dalam memproses hidangan. Tapi, saya tidak menulisnya dengan gaya Profesor Hembing.

Menurut penilaian Anda sendiri, apa kelebihan buku ini dibanding buku-buku kuliner yang sudah ada?

Sebelum saya menulis buku ini, saya banyak mengadakan riset melalui website penerbit buku terbesar di Indonesia. Saya melihat, buku-buku resep bestseller justru buku yang menulis tentang resep sehat. Namun, buku yang khusus membahas wilayah kuliner Mediterania belum ada. Sehingga, saya memilih menulis buku ini. Kalau hanya menulis buku tentang resep Yunani saja, pembelinya sedikit. Sebab, Yunani identik dengan negara kuno.

Anda tinggal di Yunani, lalu aktivitas apa yang bisa Anda lakukan untuk memacu promosi dan penjualan buku ini?

Saya selalu berusaha menjual buku yang saya tulis dengan gaya saya sendiri. Saya lakukan cyber marketing melalui artikel, blog, atau saya rajin posting artikel di koran online seperti Kompas.com di citizen journalism. Kalau di Google.com, ini sudah banyak artikel saya. Juga ada di Andriewongso.com, Pembelajar.com juga ada. Menulis artikel tidak harus vulgar sebagai promosi buku. Sebab, pembaca lebih memilih baca posting-an yang ada manfaatnya. Jadi, saya selalu tekankan manfaat atau keuntungan buku saya itu jika dibaca oleh target market.

Anda tampaknya tipe penulis yang mau berlelah-lelah membantu mempromosikan buku Anda. Anda yakin ini akan mendongkrak penjualan buku Anda?

Tentu saja! Love and Shock buktinya. Saya cek per telepon ke tiap-tiap Gramedia. Sudah habis. Dan, jujur saya izinkan penerbit Restu Agung cetak ulang 1000 eksemplar tanpa harus bayar royalti.

Sekarang dibalik, bagaimana komentar orang Yunani, katakanlah suami atau mertua Anda yang asli sana, tentang kuliner Indonesia?

Kuliner Indonesia di Yunani kurang dikenal. Tidak sama dengan di Belanda yang sangat banyak resto Indonesianya. Indikatornya, ada resto Mexican buka di Athena dan Megara, malah bangkrut dan tutup karena jarang orang Yunani yang suka masakan pedas.

Anda pasti setuju, khasanah kuliner Nusantara itu luar biasa kayanya. Ada pikiran untuk lebih memperkenalkan kekayaan kuliner tersebut ke Yunani atau masyarakat Eropa umumnya?

Kalau khusus Yunani, saya kira bisa saja. Tapi, memang saya sudah menyiapkan naskah dalam bahasa Inggris, dengan fotografer cewek andal yang jagoan food styling dari Spanyol. Dia keturunan Hongkong, dan pernah tinggal di Singapura. Saya memilih dia karena, dari banyak fotografer, hasil fotonya sangat bagus. Dia bahkan dapat award. Tapi, memang harga fotonya mahal. Naskah ini untuk ditawarkan ke US dulu, sebab saya sudah ada kenalan penerbit di sana.

Baik, Anda sedang mengembangkan sebuah brand sebagai penulis buku yang temanya selalu baru. Anda yakin ini bisa memperkuat positioning Anda di dunia perbukuan Indonesia?

Tentu saja! Sebab, saya melihat banyak sekarang buku itu ditulis asal-asalan, atau malah isinya mencontek buku laris yang sudah ada di luar negeri. Tapi, justru buku yang begitu laris di Indonesia. Diharapkan, buku saya dapat memperkaya wawasan bangsa kita. Saya yakin, nama saya mulai dikenal, karena membuat acara buku selalu gratisan dan dapat makan hehehe… Nanti kita lihat hasilnya setelah launching buku kedua ini. Sebab, mulai banyak stasiun radio dan televisi yang melirik ke acara di Blizt ini.

Usai buku kuliner ini diluncurkan, sudah punya bayangan tentang tema buku berikutnya?

Sudah ada, buku tentang bahaya alkohol, tapi dikemas secara populer. Jadi, ada bagian yang mengisahkan sejarahnya, hingga jenis-jenisnya. Bahkan, kasus serta cara mengatasi orang yang alkoholik juga dibahas.

Ok, thanks wawancaranya. Sukses ya Mbak Tati…[ez]