Tags

Nani Sakri: Top model era 1970-an sekarang melukis

Nani Sakri: Top model era 1970-an sekarang melukis

Tahun 1970-an, orang sering menyaksikan lenggak-lenggok sosok ini di atas catwalk yang glamour nan gemerlap. Namun belakangan, orang acapkali menyaksikan kepiawaian sosok ini saat tangannya asyik menari-nari dan berimajinasi dengan kuas di atas kanvas. Dialah seorang perempuan yang lahir di Yogyakarta, pada 25 Maret 1948, sang empunya nama lengkap Nani Prihatani Sakri Soenarto, atau lebih dikenal dengan nama Nani Sakri.

Ya, pada tahun 1970-an, Nani Sakri berkibar sebagai seorang peragawati papan atas, dan nama maupun fotonya sering kali nampangd di berbagai media. Namun, sejak tahun 1996, ia mulai memainkan imajinasinya dalam kombinasi cat, kuas, dan kanvas. Pada tahun 1998, Nani mulai serius menekuni dunia lukisan, dan sejak saat itulah lahir banyak karya lukis yang khas dari tangannya. Tak kurang dari 15 pameran lukisan tunggal maupun bersama, di dalam maupun di luar negeri, telah memajang karya-karya Nani yang memiliki corak khusus. Orang mengenal pelukis ini suka menggambarkan nuansa keelokan perempuan, batik, buah, dan binatang dalam sajian yang simple.

Sekalipun kini publik mungkin lebih mengenal namanya sebagai pelukis dan mantan model ternama, namun dunia keperagawatian atau modelling tetap saja merupakan domain seorang Nani Sakri. Penguasaannya akan pengalaman langsung dan pengetahuan atas perkembangan dunia keperagawatian Indonesia sempat mengantarkannya menjadi konsultan media maupun penulis kolom-kolom fashion di sejumlah media massa. Hingga kini, selain aktif melukis dan berpameran, mengembangkan usaha, dan mengajar di sejumlah universitas, Nani juga masih sering menerima undangan untuk hadir maupun tampil di berbagai peragaan busana. Dunia catwalk tidak sepenuhnya lenyap dari genggamannya, sekalipun generasi yang lebih muda telah menggantikannya.

Bagi Anda yang demen menjelajahi dunia Facebook, Anda akan dengan mudah menjumpai dan berkomunikasi dengan Nani Sakri, melihat sebagian dari hasil karyanya, dan mengenal jejak dunia modelling yang pernah dikuasainya. Nani memang seorang figur yang telah mewarnai panggung sejarah fashion Indonesia, dan kini terus menorehkan karya di dunia seni lukis. Selain ingin menjadi pelukis yang mumpuni dan diakui oleh masyarakat seni, saya juga ingin menulis buku tentang perjalanan sejarah industri fashion Indonesia,” ungkap Nani kepada Edy Zaqeus dari AndaLuarBiasa.com, dalam sebuah wawancara melalui pos-el dan dilanjutkan dengan komunikasi via Facebook. Berikut adalah petikannya:

Bagaimana gambaran dunia modeling atau keperagawatian dulu pada masa-masa awal Anda berkiprah di era 1960-1970-an?

Pada saat itu, model belum dikenal sebagai profesi. Jadi, kami merupakan perintis yang masih harus membuktikan, bahwa model itu sama dengan profesi-profesi lainnya, seperti dokter, wartawan, sekretaris, dll.

Siapa saja peragawati dan fashion designer paling top pada periode tersebut?

Rima Melati, Sumi Hakim, Elly Schaefer, dan Titi Qadarsih. Perancang busananya adalah Non Kawilarang, Ibu dari Rima Melati, lalu Peter Sie, Iri Supit, dan kemudian Prayudi.

Apakah tren fashion dunia juga berpengaruh sekali di negeri kita saat itu?

Saya rasa, hingga kini pun tren fashion di Indonesia masih terpengaruh oleh fashion internasional. Karena, busana yang kita kenakan memang busana modern, yang awalnya dari Barat.

nanisakri-alb3

Nani Sakri: Malam Dana Galunggung Hotel Hilton

Akhir tahun 1960-an terasa sekali arus pengaruh Barat yang membanjir sesudah era Presiden Soekarno. Di saat itulah, industri fashion mulai tumbuh. Pada era Soekarno, segala sesuatu yang berbau Barat, hingga ke musiknya pun, dilarang untuk ditiru maupun didengar.

Sebagian orang yang beranggapan, dunia keperagawatian selalu memiliki “sisi gelap” di balik sisi glamour yang tampak dari luar. Pandangan Anda, dengan konteks masa tersebut?

Saya rasa, sisi gelap itu ada di mana-mana, tergantung dari manusianya. Tetapi, karena profesi model masih sangat baru, anggapan itu jadi sangat lekat dengan peragawati di saat itu.

Pada zaman itu, susah enggak mencapai posisi peragawati terkenal itu. Apa ada jalan pintas atau apa?

Tentu, lebih sulit dari sekarang, karena industrinya masih baru. Lapangan pekerjaan tidak sebanyak sekarang. Jalan pintas? Mungkin memiliki hubungan baik dengan perancang busana, istilah ini pun masih baru. Disiplin yang tinggi sangat diperlukan.

Bekal-bekal apa saja yang harus dimiliki oleh seorang peragawati?

Kemahiran bersikap luwes dan anggun, terutama di atas catwalk. Selain itu, kita juga harus mahir menata rias wajah dan rambut sendiri. Karena, industri make up dalam negeri masih sedikit sekali.

Anda sendiri, belajar di mana sampai kemudian bisa menjadi peragawati terkenal?

Saya mengikuti kursus modelling di PAPMI, asosiasi Perancang Busana Indonesia yang pertama, selama tiga bulan, dan lulus dengan nilai terbaik.

Baik, kita bedah dunia keperagawatian masa kini. Menurut Anda, apakah masa sekarang lebih kondusif situasinya?

Jelas. Industri fashion dalam negeri sudah sangat maju, selain membanjirnya produk luar negeri yang berkaitan dengan gaya hidup. Sehingga, lapangan pekerjaan bagi model menjadi semakin luas.

Apakah Anda melihat sekarang ada kesinambungan antara era-era sebelumnya sekarang? Atau, justru ada missing link?

Mungkin para pelaku fashion, baik perancang, produsen maupun modelnya tidak kenal siapa pendahulu-pendahulu mereka. Dan, mungkin juga karena pengetahuan tersebut tidak dianggap perlu.

Soal peragawati muda, siapa-siapa saja yang menurut Anda ada di posisi puncak saat ini?

Banyak sekali. Tapi, yang saya tahu hanya Luna Maya, Catherine Wilson, Karenina, dan Aline.

Nani Sakri: World Trade Center 1980, busana Iwan Tirta

Nani Sakri: World Trade Center 1980, busana Iwan Tirta

Dibanding era Anda dulu, apa kelebihan dan kekurangan para peragawati muda sekarang ini?

Kelebihannya ada di posture yang jauh lebih memenuhi syarat, dibanding zaman kami dulu. Mereka memiliki tinggi badan dan proporsi yang lebih bagus, karena gizi yang lebih baik. Tetapi, dari sisi kepribadian dan style-nya, saya rasa lebih menonjol model era terdahulu, karena model-model dulu dituntut untuk lebih berjuang dan bertahan di puncak.

Menurut Anda, mengapa peragawati kita sedikit sekali atau bahkan nyaris tidak ada yang sukses ketika go international? Kita belum punya catatan bahwa peragawati asal Indonesia bisa jadi ikon model internasional…?

Bekerja di dunia fashion internasional itu dituntut untuk tahan banting secara fisik. Harus rajin audiensi, sehingga disiplin tinggi merupakan syarat mutlak. Baik dalam waktu maupun menjaga kondisi tubuh.

Apakah para desainer muda sekarang ini jumlahnya cukup memadai untuk mendorong perkembangan dunia fashion dan keperagawatian di Indonesia?

Ya.

Ekonomi kreatif sedang naik daun saat ini. Bagaimana Anda melihat peluang dan tantangannya dilihat dari kacamata pelaku dunia keperagawatian yang Anda geluti sejauh ini?

Selama promosi masih dibutuhkan, lahan pekerjaan bagi seorang model akan selalu ada.

Anda punya pandangan atau aspirasi menyangkut peran pemerintah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif, tentu saja dari sisi industri Anda sendiri?

Saya rasa, dari masa ke masa pemerintah sudah banyak membantu industri fashion. Akan tetapi, bantuan tersebut lebih banyak salah tempat. Salah pengelolaan dan juga disalahgunakan, baik oleh oknum-oknum pemerintahnya maupun yang menerima bantuan.

Converse the Heritage

Converse the Heritage

Baik, kalau ditanya, apa yang sejauh ini Anda dapat dari dunia keperagawatian, jawaban Anda?

Banyak sekali. Selain popularitas, yang masih saya nikmati hingga sekarang, yang memudahkan saya memperoleh pekerjaan lain. Profesi ini juga mengantar saya berkunjung ke tempat-tempat indah dan menarik, baik di dalam maupun di luar negeri. Selain itu, saya juga banyak menimba ilmu dari dunia fashion-nya sendiri.

Belakangan Anda menekuni dunia seni lukis dan seni batik. Mengapa belok ke situ?

Dulu, saya memang tercatat sebagai mahasiswa seni rupa ITB. Walaupun bukan jurusan seni lukis. Dan, saya memang sangat suka menggambar sejak kecil. Saya selalu bercita-cita untuk melukis, walau hanya sekadar hobby. Akan tetapi sesudah saya lakukan, ternyata saya langsung jatuh cinta sehingga memutuskan untuk terjun total sebagai seniman. Bahkan, hingga kuliah lagi untuk mengambil S-1 di IKJ, jurusan seni lukis, yang baru saya tuntaskan tahun 2007 yang lalu. Batik sudah saya kenal sejak kecil. Karena, dulu Ibu saya adalah pembuat dan pembaharu batik yang cukup terkenal di era Soekarno, seangkatan dengan Ibu Bintang Soedibyo, nenek dari perancang busana Carmanita. Akan tetapi, membuat batik sudah diwariskan kepada adik saya, dan saya sendiri cukup puas dengan memakai corak batik di atas karya lukis saya. Karena, corak batik Indonesia itu memiliki kandungan filosofi yang tinggi…

Ada hal lain yang masih ingin Anda lakukan ke depannya?

Selain ingin menjadi pelukis yang mumpuni dan diakui oleh masyarakat seni, saya juga ingin menulis buku tentang perjalanan sejarah industri fashion Indonesia. Karena, banyak perintisnya sudah tiada. Tante Non Kawilarang misalnya, selain seorang perancang busana, beliau juga mempunyai peran penting atas tumbuhnya lapang pekerjaan bagi para peragawati dan peragawan. Tante Non lah yang pertama membuka agen model di Indonesia, Indonesia Model Agency, sekaligus memberi arahan-arahan pada anggotanya agar bersikap profesional. Jerih payahnya merupakan hal yang patut dicatat dan diketahui masyarakat fashion.[ez]

Foto-foto: Dokumentasi pribadi.

Catatan: Artikel wawancara ini juga dimuat di http://www.andaluarbiasa.com.