Alexandra Dewi

Alexandra Dewi

Awalnya, Alexandra Dewi Aryani Hermanus, begitu nama lengkapnya, tidak cukup percaya diri untuk menganggap coretan-coretannya sebagai tulisan. Maklum, semula ia merasa tulisan-tulisan itu hanya curhatan perempuan pada umumnya. Semata merupakan tulisan-tulisan lepas hasil olah perasaan di sela-sela kesibukan bisnisnya. Tetapi, seorang rekan kerja memperlihatkan karyanya tersebut ke sejumlah rekan. Ternyata, tidak seorang dua orang yang menganggap tulisan Dewi punya “isi”, ada yang khas, merekam realitas masyarakat, dan tentu saja ada nilai jualnya.

Tidak meleset. Debutnya diawali dengan menerbitkan buku nonfiksi bersama Cynthia Agustina berjudul I Beg Your Prada (GPU, 2006) cukup mendapat sambutan publik, sehingga buku itu sempat cetak ulang. Tak lama berselang, Dewi meluncurkan buku kedua yang ditulisnya sendiri berjudul Queen of Heart (GPU, 2007). Ini buku kiat-kiat bagi para lajang untuk mendapatkan pasangan idaman, sekaligus sambil tetap mempertahankan jati diri sebagai perempuan yang elegan, berkelas, dan bermartabat. Kini, Dewi segera hadir dengan karya ketiga berjudul The Heart inside the Heart (GPU, 2009), yang akan diluncurkan pada 23 April 2009 ini di Jakarta.

Apa pesan yang dibawa perempuan kelahiran Jakarta, 11 Mei 1974, dalam buku terbarunya ini? Ternyata, isinya merupakan “kelanjutan” dari buku sebelumnya, Queen of Heart. Kalau di buku sebelumnya banyak bercerita tentang bagaimana cara menemukan pasangan sejati, maka buku terbaru ini berkutat pada masalah menjaga keutuhan rumah tangga. Pesannya sangat jelas, kehidupan perkawinan ternyata tidak selalu seindah yang dibayangkan. “Banyak masalah muncul, dan mungkin kita tidak memikirkan itu sama sekali, dulu waktu memutuskan menikah,” tutur Dewi yang menikah sepuluh tahun yang lalu dengan Peter Chen.

Singkat kata, membangun, merawat, dan mempertahankan biduk rumah tangga itu sungguh-sungguh perlu kerja keras suami-istri. “Seperti berdansa, masing-masing harus tahu kapan maju dan kapan mundur, supaya tidak saling injak,” kata alumnus American College for the Applied Arts, Los Angeles, California, USA, yang kini menjadi Managing Director PT Sun Hope Indonesia itu. Dewi seperti hendak mengingatkan para pasangan muda yang hendak menikah, supaya sejak awal mau memberi porsi lebih banyak memikirkan berbagai kemungkinan problem rumah tangga ke depannya. Harapannya, mereka bisa menjadi lebih realistis dalam mengarungi perkawinan atau menghadapi terpaan beragam persoalan nantinya.

Tetap sibuk mengurus perusahaan bersama sang suami, mengurus kedua putra-putrinya Elizabeth Jessie Chen dan Joseph Mason Chen, dan mengembangkan sebuah butik, Dewi masih sempat aktif menulis untuk sejumlah website, seperti website motivasi www.andaluarbiasa.com, www.curhat.com, dan www.kabarindo.com. Berikut adalah petikan wawancara Edy Zaqeus dari AndaLuarBiasa.com dengan Alexandra Dewi melalui pos-el belum lama ini:

AD: Menjalin persahabatan di mana saja

AD: Menjalin persahabatan di mana saja

Apa judul buku terbaru Anda dan secara garis besar apa isinya?

Judulnya The Heart inside the Heart. Isinya apa saja yang perlu diketahui wanita sebelum menikah. Soal selingkuh, soal bercerai. Secara garis besar tentang kehidupan pernikahan yang realistis, dan berbagai macam dinamika atau liku-liku kehidupan berumah tangga.

Mengapa tertarik menggunakan judul tersebut?

Buku saya sebelumnya, Queen of Heart, garis besarnya berisi dinamika wanita ketika masih single serta tahap mencari pacar atau calon suami. Sedangkan The Heart inside the Heart ini soal dinamika yang lebih dalam. Karena masa kencan atau pacaran jauh berbeda dengan kehidupan berumah tangga. Banyak orang menghabiskan waktunya untuk memikirkan pesta pernikahannya. Tapi, tidak banyak yang berpikir soal kematangan dan kesiapan mental untuk menjalankan kehidupan rumah tangga, yang idealnya untuk seumur hidup. Sementara, pesta pernikahan hanya satu hari saja, kan?

Banyak juga yang menikah karena alasan alasan lain, di luar sebab saling mencintai. Mungkin menikah karena tekanan sosial. Mungkin juga terlalu terbuai fantasi soal indahnya kehidupan berumah tangga, seperti yang ada di filmfilm itu. Realitasnya, pernikahan yang bahagia butuh proses dan kerja keras.

Dari buku tentang gaya hidup kelas menengah-atas, lalu ke kiat-kiat untuk para lajang. Sekarang, terjun ke buku perkawinan. Ada kaitannya satu sama lain?

Secara tema buku, kaitannya memang tidak ada. Ini cuma hasil pengamatan saya terhadap kehidupan di sekitar kita. Gaya hidup kelas menengah atas, perjuangan para lajang untuk menemukan “soul mate”, yang mana menurut saya pribadi tidak ada itu yang namanya soul mate. Semua pasangan, terutama yang baru saja jatuh cinta, rasanya pasti seperti menemukan soul mate. Tapi, setelah beberapa tahun, kok malah memilih bercerai?

Buat saya, lebih realistis kalau kita jatuh cinta lalu kalau memutuskan menikah dan meraih bahagia. Sementara, awetnya pernikahan itu tidak segampang mengetik kata soul mate. Tapi, benar-benar butuh proses. Ya, proses belajar kompromi, proses mengerti artinya pernikahan, dan yaitu tadi, lagilagi kerja keras.

Dapat dorongan dari mana sehingga Anda mau menulis buku ini?

Temanteman saya di sekitar saya. Bahkan, yang jauh lebih muda, ratarata pada sudah menikah. Dan, ketika kami saling tukar pikiran secara jujur, menikah itu ternyata ada enak dan tidaknya. Ada suka dukanya. Dan, banyak hal harus dihadapi, yang mana tidak pernah terlintas di benak kami sebelum memutuskan menikah dulu. Kalau waktu masih single dulu sih, kami samasama mengakui kok. Walaupun kami sudah mencoba realistis, sudah pacaran bertahuntahun sebelum menikah, di tengahtengah pernikahan, ada saja ‘kejutan’-nya. Itu baru kami alami ketika sudah menjadi suami istri. Dan, di zaman sekarang ini, cerai sudah merupakan hal yang lumrah. Begitu juga soal penyebabnya. Yang tidak mengherankan lagi, ya soal pihak ketiga itu. Atau, sebabsebab lainnya yang saya tuangkan di buku ini.

AD berlibur ke Eropa

AD berlibur ke Eropa

Dari mana Anda gali sumber-sumber penulisannya?

Tentunya dan utamanya adalah pengalaman pribadi. Karena, kebetulan saya sudah menikah sepuluh tahun lamanya. Sisanya, ya dari bertanya kepada siapa saja yang rela menjawab. Atau tanya sama siapa saja yang mau cerita, ya dari temanteman, juga segala persoalan temanteman mereka juga. Kadang bahan juga saya dapat dari pertanyaan-pertanyaan yang masuk ke saya melalui www.curhat.com. Jadi ya, semua ditulis berdasarkan bahan atau cerita nyata.

Sejauh yang Anda amati, sebenarnya persoalan-persoalan pokok apa saja yang siap menghadang setiap perkawinan?

Tergantung di usia ke berapa pernikahannya? Juga berapa lama pacarannya? Dan, tentu ke individu masingmasing, persoalannya akan berbeda-beda. Ada yang masalah utamanya mertua, ada yang susah menyatukan dua hati, dua pikiran, dan dua keinginan menjadi satu. Dan, tidak sedikit yang ribut karena masalah uang atau rasa saling percaya soal ini. Yang lain soal kejenuhan terhadap pasangan, atau harapan terhadap pasangan yang tidak terpenuhi.

Padahal, kalau kita terlalu berharap dapat kebahagiaan dari sarana eksternal, walaupun itu suami atau istri sendiri, mood kita akan menjadi sangat tidak stabil. Karena, kita itu hampir tidak mungkin mempunyai remote control terhadap apa yang orang lain lakukan atau rasakan.

Masalah orang ketiga sering jadi faktor pengganggu yang paling menakutkan. Anda sendiri memandangnya bagaimana?

Yah, menikah itu mudah, kalau hanya untuk mencari status menikah. Tapi lagi-lagi, membangun pernikahan yang bahagia itu justru tantangan sesungguhnya. Nah, namanya saja tantangan, tentu kedua belah pihak, baik suami dan istri, harus fokus seratus persen untuk mendapatkannya. Itu saja, sudah tantangan tersendiri, kan? Kalau ditambah dengan kehadiran orang ketiga, kita semua bisa bayangkan…. Tingkat kesuksesannya akan bagaimana? Apalagi kalau salah satu pihak, atau bahkan duaduanya hanya ada separuh di dalam pernikahan hitu. Ya, karena separuh hatinya sudah ada di hati orang lain, misalnya.

Karier seorang istri, yang misalnya jauh lebih melejit ketimbang sang suami, juga bisa jadi biang keretakan rumah tangga. Menurut Anda?

Pastinya akan jadi masalah. Itu kalau keduanya tidak tahu artinya bersyukur. Si Istri akan merasa lebih superior, dan si suami akan merasa tertekan, atau harga dirinya turun. Sedangkan si istri, tanpa disadari akan lupa bagaimana rasanya dilindungi. Rasanya menjadi seorang wanita. Tanpa dia sadari, bisa saja wanita itu yang membuat rasa itu datang. Caranya, dengan merendahkan suaminya. Jadi, seperti lingkaran setan. Istri dominan, suami tertekan dan kehilangan wibawa. Dari situ istri merasa tidak ada yang melindungi. Dan, dari situ pula sudah ada suatu hubungan yang disfungsional. Si istri merasa jadi suami, dan suami merasa terpaksa jadi istri.

Saya kenal seorang teman, yang juga seorang istri yang kariernya jauh lebih baik dari suaminya. Tapi, dia tetap hormat kepada suaminya. Karena, si istri merasa bahwa tidak penting siapa yang bawa income. Yang penting mereka berdua bisa bersyukur ada income yang baik untuk rumah tangga mereka. Tetap saja, si suami dalam hatinya masih tidak bisa make a peace dengan kenyataan itu. Bukan karena tingkah laku si istri, tapi karena tekanan sosial, yang standarnya menuntut seorang suami harusnya lebih sukses kariernya dibanding si istri.

AD bersama keluarga

AD bersama keluarga

Masalah lain, kalau karier kedua pihak sama-sama bagusnya, tapi sayang waktu untuk keluarga jadi minim. Itu juga bisa merusak keharmonisan rumah tangga, kan?

Betul! Kalau keduanya samasama super sibuk. Apalagi tidak ada dorongan untuk memelihara connection antara suami istri. Tentu, akhirnya bisa seperti room mate belaka. Tinggal satu atap, tapi kok sudah tidak menemukan rasa kebersamaan. Orang yang saling mencintai itu, bukan berarti seharian bermesramesraan melulu, lalu melihat satu sama lain seperti masa honey moon stage. Tapi, saling mencintai itu kalau mereka melihat ke arah yang sama terhadap masa depan keluarga.

Saya berpendapat, salah satu sumber masalah utama rumah tangga, yang mungkin jarang terdeteksi, adalah sulitnya menekan ego. Akibatnya, muncul perilaku mau menang sendiri dan tidak peka terhadap pandangan pasangan. Menurut Anda?

Kalau kita sudah menikah dan ingin bahagia , mau tidak mau kita harus belajar mengontrol ego. Saya setuju, kalau istri atau suami masih tidak bisa saling kompromi dan belajar “berdansa di pernikahan, tentu akan saling menyakiti. “Berdansa maksudnya adalah, kadang istri mundur, suami maju. Dan sebaliknya, ketika istri maju, suami belajar melangkah mundur, seperti pasangan berdansa. Mana ada yang bisa dansa kalau duaduanya melangkah maju? Yang ada saling menginjak kaki lawan dansanya, kan? Jadi, kalau sudah saling kenal, irama dan ritme dansa pernikahansama seperti dansa yang kita lihat di televisi itu, akan terlihat kompak dan berasa sekali indahnya.

Ada yang berpendapat, masa kritis perkawinan suka muncul pada dua atau tiga tahun pertama perkawinan. Menurut pengalaman Anda, atau apa yang Anda tulis di buku ini?

Setiap pasangan berbeda situasinya. Tidak bisa disamakan. Ada yang baru pacaran enam bulan kemudian menikah. Ini beda dengan yang sudah pacaran enam tahun, lalu baru menikah. Begitu juga faktor usia ketika menikah. Kalau untuk saya pribadi, masa kritis perkawinan itu terjadi kalau salah satu sudah mulai mempersiapkan surat cerai, atau pisah ranjang, atau pisah rumah. Karena itulah, saya tulis di buku ini, saya pantang bilang mau cerai sebelum saya yakin sekali. Mudahmudahan saja saya tidak harus mengalami masa kritis itu. Kebetulan suami saya orangnya santai , kalau perlu mundur 3 langkah dia akan lakukan itu karena dia tahu saya tidak akan mendorong nya mundur mundur terus sampai namanya bukan dansa lagi tapi jajahan.

Anda membuat buku ini supaya pasangan-pasangan muda siap dengan segala konsekuensi perkawinan mereka. Bagaimana kalau karena buku ini, malah banyak pasangan yang justru enggan menikah?

Buat saya, menikah itu harus dilandasi oleh rasa saling mencintai. Hari gini… menemukan orang yang kita cintai, dan yang balik mencintai kita, itu lebih susah dari cari uang, lho hahaha…. Jadi, kalau sudah menemukan pasangannya, yang bisa membuat mereka merasa menemukan soul mate, walau ditakuttakuti seperti apa pun, tetap saja mau menikah. Apalagi kalau proses menemukan pasangannya ditempuh dengan segala macam rintangan. Pasti, mereka akan tetap mau menikah. Yang takut menikah itu, justru kemungkinan besar pada dasarnya memang belum ketemu dengan yang pas hahaha… Atau, sederhana saja, mungkin mereka memang belum siap menikah, atau malah sudah nyaman hidup single.

AD bergaya di sebuah gereja di Eropa

AD bergaya di sebuah gereja di Eropa

Berapa lama Anda menyelesaikan penulisan buku ini?

Proses menulisnya kirakira dua bulan saja. Tapi, banyak tambahan pikiran dan cerita, sehingga makan waktu keseluruhan sekitar enam bulan, termasuk editing-nya, membuat cover, persiapan cetak, dan juga launching.

Anda sudah disibukkan dengan berbagai aktivitas bisnis. Ternyata Anda sudah menghasilkan tiga buku dan menulis kolom di berbagai website secara rutin. Bagaimana cara Anda membagi waktu?

Saya baru mulai menulis ketika perusahaan yang saya kelola bersama suami sudah melewati masa 10 tahun. Saya juga beruntung, di kantor saya mendapatkan tim kerja yang sudah tahu apa tanggung jawab mereka. Tahu apa yang harus dilakukan, walau misalnya saya harus sering bepergian keluar negeri. Jadi, kalau hanya meluangkan waktu menulis hari minggu, atau malam hari ketika belum mengantuk, rasanya tidak akan banyak menggangu kegiatan lainnya.

Ini juga yang kadang membuat saya heran sendiri. Biasanya, kok malah ibuibu atau wanita yang bekerja itu yang suka ditanya soal bagaimana membagi waktu. Kaum pria yang berkarier, sepertinya jarang ditanyakan bagi waktu ini. Kalau wanita, mungkin selain berkarier dia juga harus memandori rumah tangga, kan? Hahaha….

Kalau soal variasi tema yang Anda tuliskan. Dari mana Anda memanen ide-ide sehingga sepertinya Anda selalu bisa menulis tanpa kehabisan tema?

Dalam kehidupan ini, kalau kita mau mendengar, mau memerhatikan, coba mengerti perasaan orang lain, dan juga belajar mengerti diri sendiri, saya rasa kita tidak akan kehabisan tema. Kita manusia ini, sebenarnya kompleks. Karena, dari kecil sampai sekarang, kita hidup bersosialisasi dengan orang lain. Bergaul, bermasyarakat, pastinya otak kita akan menyerap berbagai informasi. Dan, itu semua menerbitkan emosi. Dari sana pula bisa ada ide. Masalahnya, tinggal apakah kita mau menuangkannya ke dalam tulisan atau tidak.

Pandangan Anda terhadap pengusaha atau pebisnis perempuan yang juga menulis buku. Apa sih kenikmatannya menulis buku itu?

Menulis buku pastinya soal kepuasan batin. Dari sana saya belajar dari orang lain. Karena, informasinya kan kumpulan pengalaman orang lain juga? Tapi, ketika kita berbagi lewat tulisan, kita seperti berbagi kepada diri kita sendiri juga. Mau percaya atau tidak, jawaban dari masalah kita banyak ditemukan dari dalam diri kita sendiri. Bukan dari di luar sana. Walaupun, punya sahabat dekat, di mana kita bisa menjadi diri sendiri, itu juga merupakan anugerah yang tidak bisa dinilai dengan uang.

Baik, buku-buku berikutnya apa sudah Anda siapkan?

Buku yang berikutnya adalah tentang fashion. Sama seperti buku pertama, buku berikut saya tulis bersama seorang teman. Judul sementaranya “Little Pink Book of Fashion”. Dan, isinya soal dunia belanja dan tiptip mengenai fashion. Seperti buku kuning”, tapi dengan twist dan tips. Setelah buku itu diterbitkan, kalau Tuhan mengizinkan, saya mau coba menulis sebuah novel, yang buat saya adalah tantangan yang luar biasa. Karena, sampai saat ini saya adalah penulis nonfiksi. Tapi, saya tidak mau terlalu banyak rencana. Lebih baik saya mengucapkan syukur dulu saat ini, detik ini, buku ini sudah selesai.[ez]

Foto-foto: Dokumentasi pribadi.