Tags

Endang Setyati atau juga dikenal dengan Ibu Habibie

Endang Setyati atau juga dikenal dengan Ibu Habibie

Semua orang mengakui, bukan hal yang mudah membesarkan anak berkebutuhan khusus atau cacat. Tantangannya bukan sekadar tantangan fisik, finansial, namun juga mental dan spiritual. Itulah yang dialami oleh sebagian orang tua di dunia ini, yang mungkin tidak “seberuntung” kebanyakan orang tua lainnya yang dikaruniai anak-anak yang sehat dan tak kekurangan apa pun. Namun, di antara sedikit orang yang harus menanggung tantangan tersebut, ada nama Endang Setyati atau juga dikenal dengan sebutan Ibu Habibie, yang mampu memandirikan Habibie anaknya dan menjadi inspirasi bagi banyak orang.

Sama seperti para orang tua pada umumnya, yang merasa harus menanggung beban sangat berat karena dikaruniai anak berkebutuhan khusus. Dalam benak perempuan kelahiran Yogyakarta, 17 Desember 1951 ini, bahkan sempat pula muncul pertanyaan kepada Tuhan, “Apakah ini adil bagi kami?” Namun, berbekal hasil didikan orang tua, semangat yang pantang meredup, serta hasrat sangat besar untuk memandirikan sang anak, pensiunan Perum Perhutani ini pun sanggup menanggung semua beban tersebut. Bahkan, akhirnya ia melihat kenyataan bahwa semangatnya untuk membimbing anak dengan hati dan cinta itu pun telah menumbuhkan semangat baru di antara sekian banyak orang di negeri ini.

Tak ayal lagi, ketika orang melihat keberhasilan Habibie dengan bisnis online-nya, serta karya-karya website-nya maupun buku yang dia tulis, orang tetap tidak bisa mengabaikan peran sang ibu. Seperti kisah-kisah lainnya tentang anak penuh keterbatasan tetapi sanggup melakukan hal yang luar biasa, selalu saja figur seorang ibu juga hadir di balik itu semua. Dan ternyata, untuk kasus Ibu Habibie ini, kuncinya adalah pada sikap ikhlas, rasa bersyukur, kesanggupan untuk terus menempa dan mengembangkan diri, belajar tanpa kenal lelah, dan berpikir optimistis menghadapi masa depan.

Barangkali Anda pernah melihat penampilan Ibu Habibie dan sang anak di sejumlah seminar atau di berbagai talkshow di radio maupun televisi. Mungkin juga, ada banyak pertanyaan tentang rahasia keberhasilan perempuan tangguh ini dalam mendidik dan menjadikan anaknya pribadi yang mandiri. Untuk itulah Edy Zaqeus dari AndaLuarBiasa.com mewawancarai Ibu Habibie. Berikut petikan wawancaranya yang dilakukan melalui pos-el belum lama ini:

Sebenarnya, apa bisnis yang dijalankan Habibie itu?

Habibie mengawali bisnis online sebagai affiliate di Amazon.com, suatu perusahaan online terbesar di Amerika. Menjualnya di Amerika, pembelinya juga orang Amerika, tetapi Habibie mengelola usahanya dari Indonesia. Dari hasil penjualan produk tersebut, Habibie mendapat komisi penjualan. Besar komisinya jika terjual produk elektronik 4 persen, jika nonelektronik antara 6,5 persen. Kurang lebih selama 1,5 tahun, komisi yang terkumpul 5.986 dollar AS.

Sampai sekarang masih fokus sebagai affiliate Amazon.com?

Ya, tapi sejak awal semester tahun 2008 kan terjadi krisis ekonomi di Amerika. Dan, diprediksi akan berlangsung lama, setidaknya sampai akhir 2011. Makanya, penghasilan di Amazon.com mengalami penurunan drastis. Karena itu, Habibie mencoba mencari peluang pasar dalam negeri. Jadi, mulailah bisnis online di dalam negeri awal tahun 2008. Produknya ebook hasil penulisan pengalaman belajar dan bisnis di Amazon, bisnis properti online, memasarkan ponsel dengan konten utamanya Alquran dan handphone GSM dengan double SIM-ON. Lalu juga memasarkan dan memberikan pelayanan ibadah haji maupun umroh, dan memasarkan madu murni dari Pusbahnas Perum Perhutani.

Apakah hasil bisnis tersebut sungguh menghasilkan seperti yang diharapkan?

Alhamdulillah, hasil di bisnis online-nya sudah bisa menutupi kebutuhan atau biaya hidup sehari-hari. Penghasilan per bulan rata-rata tidak kurang dari Rp 5 juta. Dari amazon, sejak April 2007 sampai dengan Agustus 2008, selama 16 bulan itu telah mencapai  5.986 dollar AS. Penjualan ebook misalnya, sejak 27 Mei sampai 31 Juli 2008 yang dilakukan secara manual, ada 107 pembeli masing-masing seharga Rp 150.000,-. Yang pembayarannya melalui rekening BCA, terakumulasi Rp 16.050.000,-, dan yanng via PayPal sebesar 580 dollar AS. Penghasilan tadi belum termasuk dengan honor-honor yang diterima sebagai pembicara di seminar-seminar, atau undangan lain sebagai bintang tamu di stasiun TV.

Sejauh ini, di mata Anda, apa saja prestasi yang sudah dihasilkan oleh Habibie?

Sejalan dengan kemandirian Habibie, dia juga banyak membantu UMKM untuk membuat toko online untuk produk-produk mereka. Juga dengan semangat berbagi yang dimilikinya, dia banyak men-support dan memberdayakan teman-teman senasib. Mencari potensi yang dimiliki untuk dikembangkan. Itu sebagai upaya untuk memerdekaan diri dari ketergantungan pada orang tua, saudara, dan orang lain.

Dengan hasil bisnis tersebut, Anda melihat Habibie sudah berhasil meraih sisi kemandiriannya?

Tentu saja, untuk kebutuhan primer, seperti sandang, pangan, biaya belajar atau seminar, dia bisa membiayai sendiri. Untuk kebutuhan lainnya seperti sarana kerja, akses internet setiap bulannya dia bayar sendiri. Laptop dan perangkat-perangkat lain untuk menunjang bisnis online-nya, seperti beli domain, hosting, dll, sampai merawat giginya dengan bekhel yang tidak murah, juga dibiayai sendiri. Alhamdulillah, semua sudah bisa ditutup dari penghasilannya.

Habibie yang semakin lemah fisiknya, tetapi semakin menyala semangatnya

Habibie yang semakin lemah fisiknya, tetapi semakin menyala semangatnya

Mari flashback sebentar. Ketika tahu kondisi anak Anda berkebutuhan khusus, apa yang pertama kali sempat terlintas dalam benak Anda?

Awalnya, dalam hati tidak percaya dan berharap diagnosis dokter salah. Kan sering terjadi kesalahan pada diagnosis, kan? Namun demikian, masih berpikir juga mungkin dokter benar. Tidak seorang dokter pun gegabah mendiagnosis pasiennya. Pikiran saya saat itu, ya boleh dibilang tidak keruan, ya kacau, bingung, percaya dan tidak percaya bercampur jadi satu. Sekalipun dalam ketidakpastian, apa kata dan perintah dokter yang merawatnya selalu saya ikuti. Berapa pun biaya pemeriksaan dan perawatan saya bayar, saya tidak pernah hitung-hitung. Dan bahkan, saya merasa royal untuk kepentingan pemeriksaan dan tindakan demi kesehatan dan kesembuhan Habibie.

Saya bermaksud, paling tidak selama masa balita, saya harus berjuang keras dan semaksimal mungkin. Siapa tahu Habibie masih bisa tertolong? Saya tidak berani membayangkan kelak, kalau sudah besar Habibie tidak bisa berjalan. Bahkan, sampai pada kelumpuhan fisik….

Seperti ibu-ibu pada umumnya bila menghadapi situasi semacam itu, Anda diganggu bayangan-bayangan negatif?

Ya, namun pikiran-pikiran seperti itu selalu saya usir jauh-jauh. Dalam bayangan dan pikiran saya, kelak Habibie bisa jalan, entah kapan, saya masih punya harapan besar.

Pasti ada saat-saat paling menekan…?

Ya. Kadang kalau saya sedang sedih memikirkan nasib Habibie kecil, saya suka menangis sendiri. Yang sering sih menangis dalam hati. Apalagi kalau sedang salat malam, tahajud. Sering kalau Habibie sedang tidur, saya pandangi tidurnya sampi puas. Dan akhirnya, saya pun tertidur tanpa sadar. Saya sering bertanya pada Allah SWT, mengapa nasib Habibie dan nasib saya jadi begini, ya Allah? Apa yang kurang pada diri saya? Oh, mungkin saya kurang dekat pada-Nya….  Itu jawaban yang ada.

Anda terus berusaha mencari kesembuhan bagi Habibie?

Ya, pada tahun 1990, saat itu Habibie berusia sekitar 2 tahun, saya berangkat melaksanakan ibadah haji ke Tanah Suci. Ingin sekali rasanya saya memohon rida Allah untuk kesembuhan Habibie. Yah, tentu saja mohon mukjizat-Nya, Allah Aja wa Jalla. Selama di Tanah Suci, pikiran saya kacau karena saat saya mau berangkat, Habibie sedang sakit dan dirawat di RS St Carolus sampai dua kali dalam sebulan. Hampir saja saya memutuskan tidak jadi berangkat haji. Tidak tega rasanya meninggalkan Habibie dalam kondisi sakit dan dirawat inap.

Tidak semua orangtua bisa serta merta menerima begitu saja, atau menerima dengan ikhlas, atas kondisi tersebut. Pandangan Anda?

Saya rasa itu manusiawi. Pasti semua orang—termasuk juga saya—merasa sulit menerima hal ini. Kita semua selalu menginginkan segala sesuatu, apalagi anak, pasti ingin yang sempurna. Cantik, bagus, cakap, pandai, dam semua tangan, kaki, jari-jari utuh dan komplit. Tapi ternyata Allah tidak memberi apa yang saya harapkan. Namun, apa pun dan bagaimanapun, pemberian Allah harus kita terima, tidak mungkin saya menolak.

Saya sadar, inilah rida Allah pada saya. Saya harus ikhlas menerima amanah-Nya. Walaupun sudah lama saya ingin melahirkan dan  punya anak sendiri, saya tidak boleh kecewa atas pemberian dan amanah ini. Saya harus bisa menerima amanah ini dengan ikhlas. Saya sendiri tidak berani berharap banyak pada anak saya Habibie. Namun, apa pun dia, dan bagaimanapun dia, saya akan dan tetap mencintai, menyayangi, memerhatikan, mengasuh, merawat dia, dan juga mendidik dia sebaik-baiknya, dan semaksimal yang bisa saya lakukan.

Apakah ada perasaan semacam…. ya rendah diri atau malu, semisal pergi bersama Habibie?

Jujur ya, saya ini enjoy saja dengan Habibie. Saya tidak canggung tampil di depan umum, di mana pun saya berada. Saya tidak pernah merasa rendah diri atau pun malu kalau saya punya anak yang berkebutuhan khusus atau cacat. Belajar dari lingkungan, saya sering melihat kejadian orang tua yang tidak siap mental menerima anaknya yang berkebutuhan khusus. Saya sering kecewa melihat sikap orang tua yang tampak menolak anaknya. Dan, saya sangat sedih dan iba melihat anak yang diperlakukan tidak adil, bahkan terkesan diperlakukan semena-mena oleh orang tuanya.

Kasihan anak ini, dia akan mengalami penderitaan ganda. Di satu pihak dia sudah sangat menderita batin atas ketidaksempurnaanya, di lain pihak dia juga harus menderita terhadap ketidakberpihakan dan penolakan orang tuanya. Rasanya, saya bahagia dan bersyukur kalau melihat orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus namun mau menerima dan memperlakukan anaknya dengan baik. Jadi, anak tersebut akan tetap mendapatkan kebahagiaan yang utuh dari kedua orang tuanya. Dia juga akan terbebas dari perasaan tertekan atas ketidaksempurnaannya itu.

Bagaimana kemudian Anda bisa menerima hal tersebut dengan sepenuhnya. Bahkan, kemudian bergerak memberikan perhatian dan bimbingan konstruktif pada Habibie?

Saya ini seorang ibu yang telah ikhlas dan sabar mengasuh maupun merawat kakak-kakak Habibie, bawaan dari suami sebanyak tujuh orang. Terus, saya sendiri dengan suami dikaruniai seorang anak saja. Masak sih saya tidak urus dan tidak rawat dia baik-baik? Saya akan merasa berdosa kalau saya sampai menelantarkan anak kandung saya sendiri. Apalagi dia dalam kondisi lemah. Siapa yang akan peduli pada Habibie kalau ibunya sendiri tidak memerhatikan?

Sejak Habibie kecil, saya sudah bertekad untuk menyayangi dia dengan sepenuh hati, tanpa alasan. Dokter yang merawat dia, Profesor Teguh Asaat Ranakusuma, juga pernah mengatakan pada saya, bahwa penyakit Habibie ini tidak ada obatnya. Pesan beliau, “Limpahi kasih sayang.” Saya pikir, ya kasih sayang inilah obatnya. Berbekal kasih sayang inilah saya mendidik Habibie, layaknya anak normal. Bukan kasih sayang yang memanjakan, karena memanjakan anak bisa jadi racun dalam hidupnya. Habibie harus mendapat pendidikan yang utuh dari kedua orang tua, dalam kondisi rumah tangga yang tenteram, damai, bahagia, dan harmonis.

Apa yang Anda ajarkan pada Habibie?

Kami mengajarkan tentang penegakan iman dan Islam. Dari kecil dia telah belajar mengaji dan salat. Selama ini, dia lebih banyak belajar di lingkungan anak-anak normal. Tentu saja hal ini tidak mudah. Dia harus berani bersaing dengan anak-anak normal. Bisa dibayangkan bagaimana dengan tingkah polah yang aneh-aneh dari anak-anak sebayanya.

Anda tidak perlakuan istimewa pada Habibie?

Tidak ada perlakuan istimewa pada Habibie! Yang istimewa, sehari-hari di sekolah dia selalu didampingi pengasuh di luar kelas. Yang selalu siap kapan saja dipanggil untuk membetulkan duduknya maupun kebutuhan-kebutuhan lainnya.

Pendidikan Habibie sampai jenjang apa?

Terakhir Habibie hanya sampai SMA. Namun, saya juga tidak rela kalau dia hanya  menghabiskan waktu untuk bermain yang didak ada jluntrungan-nya. Saya ingin dia punya kegiatan yang positif dan produktif, sebagai bekal hidupnya kelak. Saya tidak rela melihat dia direndahkan atau diremehkan oleh orang lain maupun saudara-saudaranya. Biasanya, anak-anak dan orang-orang cacat itu suka dianggap sebagai “sampah masyarakat”.

Nah, saya ingin membekali Habibie dengan ilmu, bukan dengan harta. Hanya orang-orang yang berilmu yang akan mampu mengelola hartanya. Karena tanpa ilmu, berapa pun harta yang diberikan akan habis. Dengan ilmu dia akan menjadi manusia yang produktif dan mandiri. Dengan ilmu dia akan mampu memiliki harkat dan martabat dalam masyarakat. Sebenarnya, saya juga tidak banyak harta yang bisa saya berikan dan saya tinggalkan untuk Habibie.

Kompak dalam mengembangkan diri dan memacu prestasi

Kompak dalam mengembangkan diri dan memacu prestasi

Anda tampaknya lebih terfokus pada sisi-sisi kelebihan anak ketimbang pada kelemahannya. Bagaimana bisa sampai pada sikap seperti itu?

Lha, iyalah… Saya lebih fokus pada masa depan. Saya, dulu waktu Habibie masih kecil, pernah berjuang keras untuk kesembuhan dia. Saya rasa itu sudah cukup. Saya langsung mengubah pikiran saya, lebih baik saya berjuang keras dan cerdas untuk masa depannya. Selama ini, saya berharap masih ada kekuatan yang tersisa yang masih dimiliki Habibie. Karena, yang saya tahu kelemahannya lambat laun akan menggerogoti otot-ototnya, yang sudah lemah menjadi semakin lemah. Kekuatannya yang masih ada inilah yang ingin saya kembangkan untuk bekal hidupnya kelak, jika saja Allah SWT memberikan umur panjang padanya.

Benar lho, saya masih tetap berharap anak saya panjang umur dan bahagia. OK, otot-ototnya akan menggerogoti tubuhnya yang makin melemah. Tapi, semangatnya harus saya jaga agar tetap kuat. Saya berikan energi-energi positif melalui seminar-seminar pembelajaran, motivator, dan inspirator. Ya, saya selalu ke mana-mana berdua, saling menyemangati satu sama lain. Alhamdulillah, tampak ada hasilnya. Habibie makin tegar dan percaya diri menatap masa depannya yang cerah, secerah sinar matahari pagi dan senyumnya.

Apa sejak awal Anda sudah melihat semangat, bakat-bakat, serta potensi Habibie untuk bisa berkembang dengan baik?

Ya, tentu saja tidak. Semua ini hanya bagian dari upaya dan perjuangan menjadikan Habibie lebih baik saja. Prinsip saya adalah satu keharusan buat saya, ibunya, untuk berjuang keras mengatar Habibie meraih masa depan lebih baik. Itu saja…sederhana, kan? Karena, saya tidak bisa berharap pada orang lain. Sekalipun itu ayahnya maupun saudara-saudaranya. Mungkin orang lain melihat kelemahan Habibie ini suatu hal yang mustahil untuk bisa diberdayakan dan mandiri. Bahkan, eyang-eyangnya semua mencemaskan masa depannya. Tapi, tidak demikian dalam pikiran saya. Saya masih punya harapan besar dan rasa optimistis. Andai saja saya mau berjuang dan mengorbankan waktu, tenaga, dan biaya, saya yakin Habibie bisa berprestasi. Tapi, saat itu saya juga masih malu untuk mengatakan Habibie bisa sukses. Ada keraguan walau hanya sedikit.

Sejak kapan Anda mulai membina mental Habibie?

Saya menanamkan disiplin pada Habibie sejak dia masih kecil, kurang lebih usia 2 tahunan. Setiap sore saya membiasakan Habibie duduk di kursi dan meja untuk anak TK, yang sengaja saya beli untuk melatih dia. Melatih disiplin setiap sore harus selalu belajar, dan juga bermain bersama dengan saya dan kakak-kakaknya. Main lempar bola untuk melatih otot-ototnya, dan bermain plorotan di tempat tidurnya. Harapan saya, semoga kebiasaan ini akan menjadi kebiasaan dia sehari-hari. Di tahap ini saya memang sedang mencari bakatnya di mana. Saya berikan kerta-kertas folio, crayon, atau sepidol warna untuk mencari bakat menggambar. Ternyata, dia tidak punya bakat menggambar, karena dia hanya bisa membuat benang ruwet. Gambarnya tidak pernah memiliki bentuk yang spesifik, walau sudah diberikan contoh-contoh.

Pernah mengarahkan Habibie ke pendidikan agama?

Dalam hati kecil, saya pernah ingin mengarahkan Habibie ke arah agama. Barangkali suatu saat dia bisa jadi kyai atau ustaz. Caranya dengan memberi dia kesempatan belajar mengaji pada guru ngaji di sebelah rumah maupun mengundang guru ngaji ke rumah. Kita semua seisi rumah mengaji bersama supaya lebih semangat belajarnya. Sering saya diskusi dengan seluruh keluarga tentang apa sih sebetulnya yang menjadi cita-cita masing-masing anak. Saya bilang, “Kalau nanti Habibie gede, jadi kyai saja, ya?”

Dan, jawaban Habibie….?

“Dede enggak mau, Dede mau jadi pocici aja…” Waktu kecil dia memang senang kalau melihat mobil polisi patroli dengan lampu blizt dan sirine. Saya sering ngledekin dia dengan canda, “Mau jadi polisi yang berdiri di pojok jalanan—maksud saya patung polisi—atau polisi tidur?” Jawabnya, “Pocici tidung.”

Kabarnya Anda menggembleng semangat Habibie melalui game?

Ya, sejak usia 3 atau 4 tahun, Habibie telah biasa bermain game watch, kemudian Nitendo. Saya tidak pernah membatasi dia bermain. Kapan saja dia boleh bermain, pokoknya sesuka hatinya saja. Bahkan, kalau perlu saya undang teman-temannya untuk bermain bersama di rumah. Nitendo, kemudian Play Station 1 dan 2, ini adalah mainan yang cocok untuk Habibie, karena permainan ini memerlukan kerja sama yang baik antara mata, kekuatan otot tangan, pemikiran, atau olah pikir untuk saling memenangkan pertandingan. Nitendo, PlayStation, dan Internet Game ini tidak jauh beda dengan orang menyetir mobil. Semua indera bersinergi dari mulai telinga, mata, tangan, dan pikiran bekerja dalam tempo yang hampir bersamaan.

Mengapa memilih game, padahal kebanyakan orang tua justru takut membebaskan anaknya bermain game?

Dunia anak adalah bermain. Karena bermain inilah dia juga sambil belajar. Belajar bergaul dengan teman sebaya, belajar jujur, dan bisa juga curang dengan sesama teman. Dia juga bisa belajar berargumentasi dan menyampaikan pendapatnya. Bahkan, dia juga belajar berantem untuk mempertahankan pendapat dan kebenarannya.

Dari game itu pula mungkin terpupuk semangat Habibie untuk berkompetisi?

Ya, jadi sejak kecil Habibie sudah terbiasa dan terlatih untuk berkompetisi dalam hidupnya. Di sekolah pun dia sudah harus berkompetisi berat melawan teman-temannya yang sehat. Selama dia belajar bersama anak-anak sehat, dia menunjukan prestasi yang gemilang dalam belajar. Paling tidak the Best 3 selalu diraihnya. Prestasi paling jelek diraih Habibie ada diposisi the Best 5. Setelah lulus dari SMA, perjuangan Habibie malah lebih berat lagi karena dia harus berani berbaur belajar dengan kelompok yang lebih berat lagi. Mereka umumnya sudah mengantongi gelar S1, dan bahkan ada yang S2. Bahkan, untuk lulusan D3 dan SMA itu sedikit sekali, bisa dihitung dengan jari.

Terakhir, dia belajar di Asia Internet Academy awal Maret 2007 dengan peserta sebanyak 130 orang. Instrukturnya Mr. Fabian Lim dengan bahasa Inggris, sementara dia sendiri tidak pernah belajar bahasa Inggris secara khusus. Alhamdulillah, dia bisa melanjutkan ketingkat advance bersama 15 orang peserta. Prestasi yang diraih Habibie selama belajar, yaitu sering disebut sebagai The First Affiliate Amazon.com from Indonesia.

Membesarkan, membimbing, dan mendidik anak berkebutuhan khusus jelas bukan perkara yang mudah. Bisa Anda ceritakan tantangan-tantangan terberatnya?

Pastinya memang sangat berat, bahkan saya katakan sejujurnya saja berat sekali. Terutama masalah mobilitas. Habibie ini ke mana-mana harus pakai kursi roda dan seumur hidupnya mesti harus ada pendamping atau pengasuh. Kondisi kesehatan yang rapuh, mudah sakit, pokoknya perlu perwatan prima. Biaya hidupnya mahal, makannya harus cukup gizi, obat-obatan rutin untuk merangsang syaraf, juga vitamin dan mineral. Lalu, kontrol dokter, pemeriksaan laboratorium. Belum lagi masalah pendidikan, ke sekolah juga harus pakai mobil antar jemput. Terus urusan fisioteraphy, pernah beberapa kali pengaobatan alternatif, sampai jasa para normal.

Alhamdulillah, Allah kasih saya semangat yang menggebu-nggebu, tidak mudah capai, dan tidak mudah menyerah. Juga kesehatan yang prima buat saya. Subhanallah, Allah melimpahkan rezeki yang cukup, hampir tidak pernah kekurangan sampai parah seperti masa kecil saya. Hanya saja, saya harus kerja keras, pagi kerja kantoran di Perum Perhutani, di rumah juga mesti harus cari tambahan. Terus terang saja, kalau tidak ada tambahan pengahasilan, di rumah saya pernah buka warung tegal. Sampai sekarang saya masih buka warung sembako. Pokoknya, apa saja saya lakukan untuk menambah penghasilan. Sampai pernah juga kalau ke kantor sambil nenteng dagangan lontong sayur.

Ibu Habibie bersama Andi F. Noya

Ibu Habibie bersama Andi F. Noya

Apa rahasianya sehingga Anda mampu menaklukkan tantangan tersebut?

Yah, pokoknya spirit saya, saya ingin melihat Habibie bisa mandiri. Sebuah tantangan memang, tetapi tantangan ini kan harus kita hadapi, bukan malah kita hendari ya. Maka, saya lebih suka mencari solusi untuk mengatasi masa-masa sulit, barang kali suatu saat dia datang menghampiri kehidupan kami. Mungkin ini bagian dari tindakan preventif, makanya saya dan Habibie menggali potensi diri untuk dikembangkan bersama.  Alhamdulillah, saya bertemu dengan kawan, sahabat, guru, juga penerbit besar yang sangat memberi dukungan. Banyak fasilitas dan support hebat. Nah, makin bersemangatlah kami.

Anda tampaknya tipe orang tua yang pantang menyerah untuk memberikan yang terbaik bagi anak-anak Anda?

Dari kecil hidup saya sudah ditempa oleh banyak kesulitan, berkubang dalam kemiskinan. Latar belakang kehidupan yang pahit sekali ini yang membuat saya kuat menghadapi tantangan. Dan, karena itulah saya merasa pasti memliliki semangat juang lebih. Tekad pantang menyerah ini mungkin, dan hampir pasti, yang mengantarkan saya menjadi ibu yang kuat menghadapi berbagai masalah pelik. Biasanya, orang atau anak-anak yang hidup dalam zona kritis, dia akan lebih kreatif dan lebih tahan bantingan. Berbeda kalau orang dan anak-anak yang biasa hidup dalam berkecukupan. Seperti hidup selalu dalam ketenangan, tanpa pergolakan, pasti semangat tempurnya ya kurang seru. Apalagi ditambahi dengan menipisnya iman, bisa jadi putus asa itu sahabat karibnya.

Banyak orangtua seperti menyerah kalah ketika menghadapi tantangan-tantangan dan kesulitan dalam membesarkan anaknya. Padahal, keadaan anak-anak mereka barangkali jauh lebih ‘beruntung’ ketimbang Habibie misalnya. Pesan Anda untuk mereka?

Harapan saya pada ibu-ibu dan bapak-bapak, para orang tua: Jadikanlah diri kita orang tua yang pantas dan layak sebagai panutan, teladan, atau contoh nyata bagi putra-putri kita. Mendidik anak sejak dari dalam kandungan dan buaian. Orang tua adalah guru dan pendidik terbaik bagi putra-putri sendiri. Guru, ustaz, dll, adalah pendidik kedua setelah orang tuanya. Mendidiklah dengan hati, bukan dengan emosi dan ambisi. Dekatkan hati orang tua pada putra-putrinya, agar jangan sampai putra-putri kita dididik atau diambil alih oleh lingkungan yang negatif. Berikan hak-hak dasar anak seperti, anak berhak memperoleh kasih sayang, pendidikan, dan perhatian. Berikan hak hidup, berkembang, dan kembangkan diri anak dengan adil. Jangan memandang atau membedakan gender. Berikan hak yang sama kepada anak kita, baik yang sehat maupun yang cacat. Perlakukan anak sesuai dengan fase-fase usianya, dan hargai anak sesuai dengan apa yang kita harapkan darinya. Jangan lupa memberikan penghargaan apabila putra-putri kita berprestasi.

Ibu Habibie: Ketegaran dan ketekunan itu membuahkan hasil nyata

Ibu Habibie: Ketegaran dan ketekunan itu membuahkan hasil nyata

Anda bersama Habibie sangat suka mendatangi kegiatan-kegiatan seperti seminar atau pelatihan pengembangan diri, termasuk pelatihan menulis. Apa yang sesungguhnya Anda cari dari forum-forum semacam itu?

Yang pasti ada sesuatu yang saya cari dari forum-forum yang saya datangi. Terutama dalam seminar-seminar dan pelatihan pengembangan diri. Karena, saya sedang menggali potensi yang dimiliki Habibie, juga potesi yang ada pada diri saya. Saya ingin bersinergi antara ibu dan anak, untuk saling menyukseskan satu sama lain. Di samping itu, kami juga memerlukan banyak ilmu yang akan bermanfaat dalam hidup kami.

Dalam hati, saya tidak rela kalau anak saya hanya sekolah sampai tingkat SMA saja, seperti Emaknya. Sudahlah, cukup saya saja yang bodoh, tapi anak saya harus pintar. Badan Habibie saat ini makin melemah, tidak mungkin dia kuat tiap hari harus pergi kuliah. Saya ingin memberikan pendidikan yang yaman tapi enjoy buat anak saya, belajar sambil bermain, dan cari rezeki. Pendidikan atau pembelajaran ini bukan saja transfer ilmu, melainkan juga transfer energi-energi positif buat Habibie. Makanya, saya lebih senang datang ke seminar-seminar motivasi dan inspirasi.

Apa dampak riil yang dirasakan Habibie dari forum-forum inspiratif semacam itu?

Pada kenyataannya, semangat Habibie memang luar biasa! Bergabung dengan orang-orang yang berkualitas dan bersemangat tinggi yang ada di negeri ini, ternyata telah memacu andrenalinnya untuk melawan penyakit yang menggerogoti syaraf dan otot-ototnya.

Siapa tokoh-tokoh yang menginspirasi Anda dalam mendidik anak?

Ibu dan kakek saya. Kakek saya seorang tua yang moderat, impiannya tinggi, dan tercapai. Keenam putranya tidak ada yang miskin, kecuali Ibu saya satu-satunya yang termiskin. Kelima putranya semua sukses dan kaya. Sementara, Ibu saya yang lahir tahun 1922 dan meninggal tahun 2006 dalam usia 84 tahun, adalah seorang ibu yang cerdas walau sekolahnya rendah. Pemikirannya jauh ke depan. Cara mengasuh dan mendidik putra-putrinya bagus. Keras, disiplin, tapi penuh kasih sayang dan menanamkan budi-pekerti luhur pada putra-putrinya. Beliau selalu memotivasi kami semua untuk belajar dan bekerja keras. Berangkat dari cara pengasuhan dan pendidikan Ibu saya itulah, saya menyontek pola dan cara-cara pendekatan emosional  dan kasih sayang.

Tokoh lainnya?

Ada cerita True Story yang sebelumnya sering saya baca dan saya dengar diradio SmartFM, tentang Nancy Elliot Matheus, ibunda Thomas Alfa Edison yang telah berhasil mendidik puteranya menerangi dunia. Edison divonis oleh gurunya bahwa dia adalah anak yang bodoh, bahkan dikatakan berotak udang. Ibu mana yang tidak meradang jika putranya dikatakan seperti itu? Maka, sejak saat itu Nancy menarik putranya keluar dari sekolah, lalu berusaha dan berjuang mendidik putranya di rumah, karena kebetulan Nancy ini adalah seorang pendidik. Hasilnya, pola pendidikan dan pengasuhan dengan hati itu telah melahirkan seorang anak genius dan sukses besar.

Anda juga ingin menulis buku? Apa temanya kira-kira?

Ya, betul. Kira-kira dua tahun yang lalu Habibie meminta saya menuliskan pengalaman saya mendidik dia sampai sukses. Habibie meminta saya menulis sebuah buku fisik agar tulisan saya bermanfaat untuk orang lain. Dia minta judulnya “Pengalamanku Mengasuh Anak Cacat jadi Sukses.” Sampai sekarang, saya baru sempat membuat konsepnya saja. Ada misi yang lebih indah dan istimewa dari sekadar menerbitkan sebuah buku. Harapan agar umur saya dan Habibie akan panjang ya dari karya buku dan situs-situs saya.

Harapan Anda untuk masa depan Habibie?

Biarlah dia menjadi manusia yang pandai memanfaatkan sisa umurnya dengan baik, menjadikan umur yang bermanfaat untuk dirinya sendiri, dan bermanfaat untuk orang lain. Kami orang tua hanya bisa berdoa dan memberikan dukungan total lahir dan batin. Habibie sendiri menyatakan, awalnya harapan dan cita-cita dia sangatlah sederhana. Dia hanya ingin memenuhi kebutuhannya sendiri, dengan hal yang bisa dia kerjakan, ingin bisa mandiri. Itu telah tercapai, tapi dia tidak mau merasa puas. Dia harus membangun cita-cita yang lebih besar lagi, bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk orang lain, dan terutama memberikan kebanggaan kepada orang tua dan keluarga. Dia juga ingin mendirikan yayasan yang bisa memperdayakan orang-orang yang berkebutuhan khusus.[ez]

Foto-foto: Dokumentasi pribadi.