Tags

Cacuk Wibisono

Cacuk Wibisono

Anda suka bingung mencari tayangan televisi yang berkualitas pada hari Minggu pagi? Cobalah sesekali mengarahkan saluran televisi Anda ke stasiun Trans 7 pada pukul 10.00 wib. Anda akan temukan sebuah program berlatih bahasa Inggris bertajuk Walk the Talk dengan host “bule gile” Jason Daniels. Inilah salah satu program berlatih bahasa asing yang kini jadi favorit pemirsa televisi, baik dari kalangan dewasa sampai remaja dan anak-anak.

Ya, mungkin Anda sudah pernah atau sesekali menonton tayangan sarat nilai edukasi sekaligus sangat menghibur tersebut. Tahukah Anda, siapa otak di balik program edutainment televisi yang belakangan mendapat apresiasi dari berbagai kalangan tersebut? Sang kreator, anak muda itu bernama Cacuk Wibisono, Direktur PT Paradigma Visi Gracia, yang pernah menjadi penulis skenario sejumlah sinetron laris seperti Jin & Jun, Tuyul & Mbak Yul, Catatan Si Boy, Istana Impian, Ada-Ada Saja, dll.

Lahir pada 20 Desember di Jakarta, dan dari keluarga seniman, Cacuk memang selalu dihantui kerinduan untuk menghasilkan karya-karya yang punya pengaruh dan berkesan di benak khalayak. Sejak kecil cacuk memang bercita-cita jadi penulis, maka tak heran pula bila kariernya cukup mulus di dunia penulisan naskah sinetron. Namun, industri televisi yang membesarkannya pun telah mengusik hatinya untuk membuat karya-karya yang tidak semata-mata mengabdi pada kepentingan modal. Ada kerinduan untuk menghasilkan program televisi yang langsung dirasakan manfaatnya oleh pemirsa. “Saya tertantang,” ujar suami dari Rugun Sibarani ini.

Berawal dari sebuah sayembara pendanaan program pendidikan bahasa melalui televisi oleh Kedubes AS di Indonesia, Cacuk dan timnya mengadu untung dengan ide kreatif mereka. Ternyata, proposal atau pilot program mereka diterima dan mengalahkan sejumlah production house besar. Lebih membanggakan lagi, program Walk the Talk—jenis program edukasi yang biasanya kurang mampu bersaing di televisi—ternyata kini disambut antusias oleh masyarakat dan mendapat apresiasi positif dari media massa. Semangat pun terpacu untuk terus mencari dukungan agar program ini berlanjut dan terus dapat mendatangkan manfaat bagi publik.

Nah, mungkin Anda adalah salah satu dari “sedikit” pemirsa kita yang masih merindukan tayangan-tayangan televisi berkualitas. Walk the Talk adalah tawaran Cacuk dan kawan-kawannya untuk menghibur, mendidik, sekaligus menekankan betapa pentingnya masyarakat kita menguasai bahasa Inggris sebagai bahasa pergaulan dunia. Dukungan bisa Anda berikan dengan menonton, mengomentari, atau memberikan usulan melalui website mereka yang beralamat di www.walkthetalk-indonesia.com. Berikut apresiasi AndaLuarBiasa.com terhadap program tersebut, yang dihadirkan dalam petikan wawancara tertulis Edy Zaqeus (Editor) dengan Cacuk belum lama berselang:

Sebenarnya, apa latar belakang pembuatan program Walk the Talk ini?

Sebuah kerinduan untuk melihat program yang terasa manfaatnya bagi pemirsa secara langsung. Saya sering mendengar bahwa pemirsa tidak suka program yang berat. Mereka ingin tertawa, mereka ingin relaks…. Nah, saya tertantang… Sekalipun tertawa dan relaks, tetapi ada value-nya. Begitulah hasrat saya. Program ini ingin menumbuhkan kerinduan untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris kepada pemirsa.

Ada idealisme tertentu?

Saya menganut prinsip berikan kepada viewers apa yang mereka perlu. Dan bukan apa yang mereka mau. Walk the Talk memberikan apa yang masyarakat perlu. Sementara, banyak acara televisi lebih memberikan apa yang masyarakat mau.

Menurut Anda, apakah benar program-program televisi yang bernuansa pendidikan saat ini sudah jauh berkurang? Atau, memang tidak pernah cukup?

Masyrakat terus berkembang…. Perubahan demi perubahan terjadi. Dalam situasi seperti ini, program pendidikan harus juga berkembang. Coba kita tengok program 2 Pendidikan yang ditayangkan di TVRI. Apa kesan pertama yang mampir di kepala kita? Terasa lampau, ya? Terutama dalam sentuhan gambar dan kreatifnya. Jadi, memang harus terus dilakukan pengembangan, baik jumlah maupun kualitasnya.

Episode Walk the Talk

Episode Walk the Talk

Bagaimana prosesnya sampai program ini lahir?

Awalnya sebuah fax berisi tawaran sayembara dari US embassy untuk membuat program pemasyarakatan bahasa Inggris kepada masyarakat. Lalu, saya mengajak dua orang staf cameraman untuk membuat sebuah pilot. Kisah pembuatan pilot ini juga lucu. Sejak semula, saya memang sudah mengenal Jason, host program ini. Dan, setelah saya tahu bahwa dia sedang di Bandung, saya bersama tim kecil ke Bandung juga untuk membuat pilot saya. Seperti biasa, saya menunda memikirkan konsep. Saya pikir, “Ah… sambil jalan ke Bandung saja, deh…!” Sampai di Bandung, saya belum juga memiliki ide, blank! Kami kemudian memutuskan makan siang saja karena hari memang sudah siang saat itu. Nah, ketika makan siang itulah saya melihat ada seorang bapak, Pak Nanang namanya, yang memiliki wajah lucu. Secara naluriah saya minta izin melakukan interview singkat. Pertanyaannya, “Apa kata dalam bahasa Inggris yang Bapak tahu…?”

Apa jawaban si Bapak itu?

Jawaban si Bapak itu salah-salah dan sangat lucu, dengan guyon khas orang Bandung. Tetapi, sorot matanya itu yang begitu menancap di benak saya. Sorot mata yang penuh kesungguhan dan senang karena diberi kesempatn “praktik” berbahasa Inggris. Dia bilang juga kalau dipenuhi penyesalan karena tidak belajar Inggris dengan serius. Daar!!! Eureka!!! Saya tertawa, namun juga terharu. Saat itulah saya menyadari, program bahasa Inggris ini harus dilakukan dengan straight talk, bicara langsung. Karena begitu segar, begitu jujur, begitu tulus….

Akhir dari perjalanan kami di Bandung menjadi mudah dan menyenangkan. Karena sudah ide yang membara di dalam pikiran. Saya bertemu Jason di Bandung siang itu dan menuju Dago untuk pembuatan pilot. Sebagai penghargaan kepada orang yang telah menyulut ide Walk the Talk, saya ajak Pak Nanang ikutan shooting sorenya, dan malam hari kamu sudah di editing room di Jakarta. Tiga hari kemudian saya sudah menyerahkan pilot ke US Embassy.

Dan, pilot Anda sukses memenangkan sayembaranya?

Ya, kira-kira seminggu US Embassy menghubugi kami dan memberitahukan bahwa kami memenangkan sayembara, dan kami mendapatkan dana produksi untuk memproduksi program ini. Kami menyisihkan 50 kontestan lainnya. Banyak di antara para kontestan adalah raksasa dalam bidang program televisi.

Lalu, dari mana ide nama program Walk the Talk?

Nama Walk the Talk sendiri berasal dari hasil pengamatan saya terhadap orang-orang yang kami temui dan interview. Kebanyakan mereka mengatakan penyesalannya karena tidak belajar bahasa Inggris dengan serius. Nah, mulai sekarang mereka akan serius belajar bahasa Inggris. Itu kan tekad? Nah, Walk the Talk berarti “mari wujudkan kata-katamu” atau tekadmu. Jadi, Walk the Talk itu bukan berarti berjalan dan berbincang, lho! itulah sebabnya kami di Paradigma, jika menegur sesama kami yang sedang lesu, kami berteriak, “KEEP WALKING THE TALK!”

Soal dana program, apakah tidak ada pesan-pesan sponsor?

Pesan sponsor dari US Embassy boleh dibilang tidak ada. Semua diserahkan kepada kami. Hanya satu yang dititipkan kepada kami, yaitu bahwa segmen dari program ini adalah adult learner. Namun, suatu ketika saya mengamati setiap episode Walk the Talk, dan menangkap sebuah pesan yang halus…. Kok ada bule mau ngomong dan ngajarin orang dengan spontan? Tiba-tiba perasaan saya menjadi hangat. Mudah-mudahan perasaan saya ini dirasakan juga oleh setiap pemirsa.

Cacuk: Kehidupan "orang kecil" selalu menginspirasi

Cacuk: Kehidupan "orang kecil" selalu menginspirasi

Ide dasar kemasan program ini sebenarnya seperti apa?

Saya ini orang yang suka bercanda dan humor. Jadi, sejak semula saya tidak ingin membuat program yang kaku dan formal. Nah, ketika membuat pilot, saya menyadari bahwa format semi reality adalah bentuk terbaik dari program ini. Jadilah Walk the Talk seperti saat ini. Namun, saya sepenuhnya menyadari bahwa program televisi adalah sebuah dialektika antara pembuat program dan pemirsa. Dari minggu ke minggu kami mencoba mengerti apa yang diinginkan oleh pemirsa. Dan, kami men-develop apa yang kami rasa “diperlukan” oleh pemirsa kedalam bentuk yang pemirsa inginkan. Sebuah usaha yang tidak pernah berhenti. Menarik namun menguras banyak energi. Terkadang air mata, dan tentu saja keringat. Namun, ini sebuah usaha yang layak.

Sasaran pemirsa program ini?

Adult learner karena segmen inilah yang biasanya melupakan bahasa Inggris, yang dulu mungkin pernah mereka perlajari. Iya, kan? Setelah kita lulus sekolah atau kuliah, begitu masuk dunia kerja, kebanyakan dari kita tidak lagi mendapatkan kesempatan mempraktikkan bahasa Inggris.

Tapi tampaknya Walk the Talk juga oke buat anak-anak?

Ya, lucunya program ini ternyata juga sangat menarik bagi anak-anak dan remaja. Sementara, penonton dari kaum wanita juga banyak sekali. Ada e-mail yang masuk kepada kami dari seorang ibu. Dia menceritakan betapa bahagianya dia karena untuk pertama kalinya bisa menyuruh anaknya nonton Walk the Talk. Biasanya, dia melarang keras anaknya nonton televisi.

Sejauh yang sudah Anda pantau, bagaimana respon masyarakat terhadap acara ini?

Respon terhadapada acara ini bagus sekali. Rata-rata share adalah 3,2, sementara rating 0.5. Saya melihat ke mana pun kami pergi dan shooting, ternyata masyarakat mengenali program ini. Kami pun mendapat banyak supprort melaui Facebook, dan dari hit di website kami juga tampak minat yang besar terhadap program ini. Kompas dan Tempo memuat program ini dalam liputan mingguan mereka. Hal ini menujukan bahwa proram ini menarik dan bagus.

Apa pengalaman-pengalaman paling menarik saat menggarap episode-episode Walk the Talk?

Saya tidak bisa mengingat pengalaman tidak menarik saat shooting. Cobalah ikut bersama Tim Paradigma saat shooting. Setiap orang akan terkesan, karena memang begitu menarik. Suatu ketika terjadi dialog seperti ini di sebuah taman di RT 07, Sawo Ujung, Cipete. Sekelompok ibu sedang menyiram tanaman, Anda bisa saksikan adegan ini di episode Farmer. Begini dialognya:

Jason, memegang jahe, “Apa ini, Bu?”

Si Ibu sambil berpikir, “Ooo…”

Jason menggigit daun jahenya, “It taste like ginger…!

Si Ibu, “Oh, no….no danger… mister…

Atau lihat contoh dialog Jason dengan penjual parcel yang terjadi di Pasar Cikini dalam episode Entrepreneur.

Jason, “Bapak bisa bicara bahasa Inggris?”

Penjual parcel, “No…little…sedikit…”

Jason tanya lagi, “Apa kalimat bahasa Inggris yang Bapak tahu?”

Penjual parcel menjawab, “Saya enggak tahu… Yang saya tahu cuma… I want to kiss you!!”

Jason sontak menjawab, “Oh, no… I don’t want to kiss you!

Sebagai seorang penulis, saya takjub dengan keindahan dialog yang begitu fresh dan tidak terduga ini. Saya seperti sedang disuguhi adegan-adegan ciptaan sang maestro penulis, setiap kali shooting. Bagi saya pribadi, proses shooting Walk the Talk adalah sebuah pertunjukan drama manusia yang indah. Ikutlah sekali-sekali….

Cacuk bersama Rugun sang istri dan Jason Daniels

Cacuk bersama Rugun sang istri dan Jason Daniels

Kalau tema-tema yang diangkat dalam program ini, ide-idenya dari mana?

Tema-tema di setiap episode memang dibuat dengan alasan strategis, yaitu bagaimana menjangkau dan memperluas segmen. Itulah sebabnya setiap topik selalu adalah topik yang dekat dengan kehidupan masyrakat. Ide-ide setiap tema datang dari saya sendiri, dan saya menyusunnya sebelum Walk the Talk dimulai. Menyenagkan karena tema-tema yang sudah disusun terasa actual di masyarakat.

Kalau tema-tema wisata dan budaya apa digarap, kan menarik juga?

Wisata dan kebudaayaan selama ini saya lekatkan dengan setiap tema. Contohnya dalam episode mingu ini. Kami bisa realisasikan, dan Jason selalu memuji keindahan setiap kota. Oh ya, kami juga mendengar berbagai masukan dari pemirsa. Misalnya, ada yang minta lebih banyak vocabulary. Kami aplikasikan dengan menempatkan stickies di pojok kiri. Atau, ada juga pemirsa yang meminta daerahnya didatangi, dan kami senang saja melayaninya. Jadi, dialektika ini sudah tercipta.

Sejauh ini, tema apa saja yang sudah digarap?

Yang sudah ditampilkan tentang transportasi, guru, extreme sport, green life style, coffee, farmer, film industry, small medium enterprise, antique, dan minggu ini globalisasi!

Profesi-profesi yang sifatnya membangkitkan semangat, kreativitas, dan inovasi masyarakat, seperti yang dijalankan para motivator dan trainer, juga menarik….?

Itu yang sedang masuk ke benak saya. Profesi-profesi yang menarik, yang kontemporer, yang tidak terpikirkan 20 tahun lalu. Mudah-mudahan di season kedua kami bisa merealisasikannya.…

Tim Paradigma dengan Merah Putih di dada mereka

Tim Paradigma dengan Merah Putih di dada mereka

Mengenai pemilihan Jason Daniels, ‘si bule’ sebagai host, bagaimana ceritanya?

Jason adalah sosok yang buat saya penuh dengan “kontradiksi”. Pertama, dia tidak cakep. Kedua, dia itu “kampungan” hahaha…. Ketiga, he is very smart. Ketiga hal ini membuatnya pas untuk membawakan karakter host Walk the Talk yang–sama seperti jiwa saya—kampungan, blusak-blusuk ke mana-mana. Saya begitu terkesan dengan kemampuan alamiah Jason dalam menghacurkan pemisah, yang biasanya tercipta antara bule dan orang Indonesia… Bukan saya saja, seluruh isi Paradigma jatuh cinta sama bule yang satu ini. Dia mengajar bahasa Inggris di Seskoad. Saya yakin, dengan Jason sesuatu bisa jadi seru, dan itulah kenyataannya.

Berdasar pantauan Anda, bagaimana tingkat penerimaan pemirsa terhadap penampilannya?

Saya mengatakan kepada Jason, untuk meninggalkan kesan “bule gile” yang menancap di pemirsa , dan menjadi seorang dengan image “educator”. Dia sangsi karena menurutnya orang sudah menyukai dia gila-gilaan. Tetapi, kini dia malah berterimakasih. Karena, belum pernah dalam kariernya di televisi, dia menerima begitu banyak respon positif. Jika kami mengajak Jason ke mal, maka banyak ibu atau bapak yang mendorong anaknya untuk berbicara bahasa Inggris ke Jason. Penerimaan masayarakat atas Jason sungguh membesarkan hati.

Target-target apa yang hendak Anda capai dari program ini?

Sungguh naïf ya bila mengatakan dengan menonton program ini orang akan bisa berbahasa Inggris. No! Program ini bertujuan menumbuhkan motivasi kepada setiap penonton, betapa pentingnya meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris, dalam segala skala. Bahkan, jika hanya passive atau patah-patah sekalipun, berbahasa Inggris bisa membuka peluang.

Inilah yang kami ingin share kepada pemirsa. Yang kedua, yang kami lihat dari shooting atau off air, betapa senangnya masyarakat berkesempatan bicara dengan Jason dalam bahasa Inggris. Jadi, kami memperbanyak street talk untuk memberikan pengalaman berbahasa Inggris kepada orang biasa. mereka mendapat kesempatan ngobrol dengan bule. Saya yakin, ini akan berkesan mendalam. Dan, suatu ketika anak mereka minta uang untuk kursus bahasa Inggris, mereka akan merestui, karena mereka menyadari kepentingannya.

Langkah-langkah apa saja yang sudah dijalankan oleh tim Anda supaya program ini terus mendapat dukungan dan apresiasi masyarakat?

Kami sudah mendatangi beberapa pihak dan juga meminta waktu untuk beraudisi dengan Departemen Pendidikan Nasional. Begini, lho… saya tuh malu, karena pihak-pihak dalam negeri sendiri enggan atau belum mau membiayai program-program semacan ini. Sejauh ini, usaha kami masih kecil sekali hasilnya. Dan, untuk season 2, jika tidak ada pihak dalam negeri yang mau mebantu, kami terpaksa baru bisa memulainya di bulan Desember 2009. Sayang sekali.

Baik, Anda punya mimpi apa dengan program ini?

Saya memimpikan program ini bisa bertahan pada skala rating dan share yang tinggi sehingga para brand mau memasang iklan di program ini. Saya juga memimpikan program pindah jam tayang ke jam sore, 18.30 wib. Ini untuk mendapatkan pemirsa yang lebih banyak. Saya berharap suatu ketika program ini tidak diperlukan lagi. Karena masyarakat sudah menyadari pentingnya meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris mereka. Impian yang terakhir inilah yang saya begitu rindu melihat perwujudannya.

Ada pesan untuk target pemirsa Anda?

Walk the Talk adalah sebuah kalimat yang berat, satu kata dengan perbuatan. Ini juga jadi masalah di kepemimpinan nasional kita, kan? Pesan saya, ayo kita terus belajar bahasa Inggris. Biar sedikit, biar enggak sempurna belajarnya, ayo kita terus bersemangat. Dan, terapkan bahasa Inggris kapan pun, di mana pun.

Kalau pesan atau harapan untuk sesama kreator program-program pertelevisian?

Waduh… berat nih pertanyaannya…! Oke, sebagai kreator program, kami diberi previledge untuk menuntun masyarakat. Sehingga, memang kita seharusnya mebuat program yang selalu bernilai positif. Pesan kedua, mari terus berkarya dan belajar, dan ciptakan program dari hati….

Ok, makasih wawancaranya dan sukses ya….

Baik, terima kasih. Saya sangat menghargai kesempatan ini. Mudah-mudahan bermanfaat dan membuka wawasan. Salam Walk the Talk! Sukses untuk Anda![ez]

Walk the Talk digemari oleh orang dewasa, remaja, hingga anak-anak

Walk the Talk digemari oleh orang dewasa, remaja, hingga anak-anak

Foto-foto: Dokumentasi Paradigma.