BTN Writers Community: Workshop Writing Skill for Executives & Managers 8-9 Agustus 2009, Menara Peninsula, Jakarta

BTN Writers Community: Workshop Writing Skill for Executives & Managers 8-9 Agustus 2009, Menara Peninsula, Jakarta

Oleh: Edy Zaqeus*

“Inti dari upaya menjaga kegairahan pascapelatihan menulis adalah berinteraksi secara langsung maupun virtual dengan para mentor dan rekan-rekan sesama peminat bidang kepenulisan.”
~ Edy Zaqeus

Dua hari ini (8-9 Agustus 2009) saya mengisi pelatihan menulis bertema Writing Skills for Executives and Managers di BTN Writer’s Community. Acara yang diikuti para staf dan manajemen Bank BTN Jakarta ini berlangung penuh gairah dan memperlihatkan ada talenta-talenta istimewa dalam komunitas ini. Hampir semua peserta sesungguhnya punya modal yang cukup untuk menjadi penulis-penulis andal. Bahkan, beberapa di antaranya memang sudah jadi penulis duluan.

Kegairahan menulis dalam setiap pelatihan menulis memang berlimpah-ruah. Masalahnya, bagaimana mempertahankan kegairahan tersebut pascapelatihan? Tema ini saya angkat mengingat berdasarkan pelatihan-pelatihan yang saya isi maupun yang saya kelola selama ini, soal pasang surut kegairahan atau mood menulis sering menjadi problema tersendiri bagi para peserta pelatihan.

Saya ada beberapa kiat praktis untuk mengatasi masalah di atas. Berikut penjelasannya dan semoga ada manfaatnya:

Pertama, ikutlah bergabung dan aktif dalam forum-forum yang dibentuk pascapelatihan. Ada beragam jenis forum pascapelatihan. Yang paling umum adalah mailing list khusus alumni atau kelompok-kelompok diskusi lanjutan. Mailling list sering dianggap lebih mudah diikuti karena tidak mengharuskan kehadiran secara fisik dalam setiap diskusi-diskusi yang diadakan. Sementara diskusi-diskusi kelompok, sekalipun memiliki efektivitas tersendiri namun membutuhkan komitmen waktu yang lebih banyak. Kadang ini mempersulit alumni pelatihan yang sehari-harinya memiliki kesibukan tinggi.

Belakangan kita dikenalkan dengan Facebook sebagai media jejaring yang sangat bermanfaat. Setiap orang yang memiliki account Facebook dapat berinteraksi langsung maupun tidak langsung secara lebih intensif dan atraktif. Ada fasilitas chating, email, termasuk forum berdiskusi/berkomentar dengan tampilan foto. Ini jelas lebih menarik sehingga Facebook bisa diandalkan untuk memelihara jaringan atau komunitas.

Kedua, aktiflah menulis untuk media-media publik seperti media massa cetak, media massa online, website kepenulisan/motivasi, media internal, blog atau website pribadi, atau minimal mem-posting tulisan dalam note Facebook. Untuk pemula, kadang memang terasa sulit sekali menembus media massa. Akan tetapi, tetaplah berusaha menulis dengan standar media massa. Kemudian bila dikirim ke media massa tetapi tidak dimuat, Anda toh masih bisa membidik media-media massa online yang memberikan ruang bagi tulisan-tulisan pembacanya (kanal citizen journalism).

Semisal Anda sulit menembus media nasional seperti Kompas, maka jangan ragu-ragu untuk mengirim ke media nasional lain atau media lokal. Kalau itu juga tidak dimuat, jangan patah arang karena tulisan Anda tetap masih bisa dibagikan ke publik melalui note Facebook atau memasukkannya ke kanal-kalan public blog seperti Kompasiana.com, blog Detik.com, atau kanal jurnalisme warga di Vivanews.com, Kompas.com, Okezone.com, Inilah.com, dll.

Anda pun juga bisa membidik sejumlah website motivasi yang kredibel seperti AndaLuarBiasa.com, Pembelajar.com, dan Andriewongso.com. Web-web ini sudah dikelola secara profesional, dikenal luas, dan tak sedikit kolomnisnya yang aktif menulis di sana telah melahirkan buku. Memang tidak ada honor pemuatan tulisan di sana. Tetapi, efek branding yang diperoleh berdasarkan penayangan tulisan rasanya cukup bermanfaat.

Ketiga, teruslah berkomunikasi dengan mentor-mentor atau trainer yang telah melatih Anda. Cara terbaik adalah dengan selalu terhubung dalam jejaring online semacam mailing list atau Facebook. Khusus untuk Facebook, setiap kali mem-posting tulisan dalam note, jangan lupa men-tag mentor/trainer Anda, juga teman-teman alumni, atau sahabat-sahabat lain yang memiliki minat membaca maupun mengapresiasi tulisan Anda.

Satu hal yang saya amati, bahwa komunikasi dengan mentor lumayan bisa menjaga kegairahan alumni pelatihan dalam melanjutkan proses belajar menulis maupun meningkatkan kemampuan kepenulisan. Sementara, forum-forum diskusi di mailing list maupun di Facebook juga sangat membantu dalam mendapatkan feedback secara on the spot. Yang menarik, segala macam komentar atas tulisan kita, baik dari mentor maupun rekan-rekan lainnya, biasanya cukup menyuntikkan semangat untuk terus menulis artikel-artikel berikutnya.

Keempat, teruslah produktif menghasilkan tulisan apa pun bentuknya. Seperti halnya keterampilan teknis lainnya, sesungguhnya keterampilan menulis juga akan meningkat sejalan dengan frekuensi aktivitas menulis itu sendiri. Semakin jarang diasah—khususnya untuk pemula—semakin sulit berkembang pula kemampuannya. Bahkan, penulis-penulis senior pun, apabila terlalu lama tidak menulis, kadang perlu re-conditioning lagi supaya mampu menulis secara cepat dan efektif.

Ada jenis penulis yang suka menulis tema apa saja karena memiliki multi-minat. Ini boleh-boleh saja. Walau begitu, saya menyarankan supaya Anda mencoba mencari fokus tema dalam setiap artikel yang Anda tulis. Semisal, apabila Anda sudah menghasilkan lima hingga sepuluh artikel tentang financial planning, maka tidak ada salahnya Anda mulai fokus menghasilkan tulisan-tulisan dengan tema yang sama tetapi dengan stressing yang lebih bervariasi.

Kelima, punyai target kepenulisan yang lebih tinggi. Produktivitas menulis perlu dibarengi dengan visi untuk membuat karya yang lebih tinggi atau lengkap sifatnya. Misalnya, dari semula hanya menulis artikel, tidak ada salahnya kemudian ditingkatkan ke arah penulisan sebuah naskah buku. Dengan tambahan visi atau target semacam itu, aktivitas berlatih atau meningkatkan kemampuan menulis mungkin bisa lebih menggairahkan lagi.

Dari pengamatan saya, ada penulis-penulis artikel produktif menuliskan artikelnya, tetapi tidak terpikir untuk menulis buku. Padahal, menulis artikel dan menulis buku bisa menjadi suatu aktivitas yang sifatnya setali tiga uang. Maksudnya, sambil menulis artikel demi artikel pun sebenarnya kita juga bisa menulis buku. Lebih jelasnya, kita bisa menempatkan artikel-artikel yang terpisah itu sebagai bakal naskah buku kita. Kiat lengkapnya bisa Anda baca di buku saya yang berjudul Resep Cespleng Menulis Buku Bestseller (2008)

Inti dari upaya menjaga kegairahan pascapelatihan menulis adalah berinteraksi secara langsung maupun virtual dengan para mentor dan rekan-rekan sesama peminat bidang kepenulisan. Semakin jauh jarak kita dengan mereka, kemungkinan semakin jauh pula energi atau motivasi kita dalam menulis. Semakin dekat jarak kita dengan mereka, kemungkinan semakin mudah pula kita teraliri motivasi yang hidup dalam diri orang-orang seminat dan seperjuangan. Jadi, berkaryalah, berinteraksilah, dan tetap semangat menulis![ez]

* Edy Zaqeus adalah penulis buku-buku bestseller, writer coach, trainer, dan konsultan penulisan dan penerbitan. Ia adalah pendiri dan editor website motivasi AndaLuarBiasa.com dan BukuKenangan.com. Tulisan-tulisan maupun wawancara-wawancara Edy tentang kepenulisan dapat dilihat di blog: http://ezonwriting.wordpress.com. Ia dapat dihubungi melalui pos-el: edzaqeus@gmail.com atau telepon: 021-59400515/Hp: 08159912074.

Note:

1) Artikel ini saya selesaikan dalam waktu 25 menit, berbarengan dengan saat peserta pelatihan penulisan sedang mengerjakan tugas menulis artikel.
2) Ikuti pelatihan “Cara Cerdas Menulis Buku Bestseller Batch XI” pada 14-15 Agustus 2009 di Hotel Menara Peninsula pkl 08.00-17.00 wib. Info selengkapnya baca di iklan workshop di blog ini.