Agung Praptapa: Controlling people is my area!

Agung Praptapa: Controlling people is my area!

Sebagai akademisi, menulis artikel atau makalah untuk jurnal-jurnal ilmiah adalah “kewajiban akademik” yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Nah, yang tidak kalah penting, menurut Agung Praptapa, adalah menulis buku yang kelak bisa diwariskan kepada generasi terbaik di negeri ini. Dengan semangat itulah, Agung meluncurkan buku perdananya yang berjudul The Art of Controlling People pada acara Writer Schoolen Gathering II (Sabtu, 3 Oktober 2009) di JDC, Jakarta.

Sesuai kompetensinya, Agung membedah berbagai pendekatan pengendalian manusia dalam organsisasi dengan tujuan mendapatkan hasil-hasil sesuai yang ditargetkan. Menurut Agung, sebuah organisasi akan sukses manakala perilaku anggotanya dapat dikontrol sesuai dengan tujuan-tujuan dan target organisasi. Walau begitu, bukan hal yang mudah mengontrol individu-individu dengan beragam latar belakang, sifat, karakter, tujuan, dan kepentingan.

“Mengontrol itu tidak sama dengan mengekang!” tegas Agung, alumnus University of Central Arkansas, USA, dan University of Wollongong, New South Wales, Australia. Yang terbaik menurut Agung, orang harus bisa dikontrol tanpa dia merasa dikontrol. Makannya, pengendalian orang butuh seni yang pas agar tidak terjadi konflik, namun goal organisasi maupun individu juga bisa dicapai secara efektif dan optimal.

Sehari-hari, pria kelahiran di Semarang tahun 1963 ini berprofesi sebagai dosen di Fakultas Ekonomi Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Ia juga menjabat sebagai Direktur Program Magister Manajemen universitas yang sama periode 2006-2009, dan sekarang menjadi pengelola Program Pascasarjana MM-MSi di universitas yang sama. Selain itu, ia juga mendirikan sekaligus menjabat direktur kantor konsultan AP Consulting sejak 1995. Dan, sejak menekuni dunia kepenulisan, suami dari Restu Wardhani yang sudah dikaruniai dua putri bernama Handini Audita dan Nadila Anindita ini, juga menjadi Kolomnis Tetap di situs motivasi AndaLuarBiasa.com. Berikut petikan wawancara Edy Zaqeus dari AndaLuarBiasa.com dengan Agung Praptapa melalui chating di internet.

Bagaimana perasaan Anda setelah buku pertama ini terbit?

Waduh, rasanya seperti saat kelahiran anak pertama…. Iya, menjadi penulis adalah obsesi saya sejak kecil. Dan, baru kali ini saya ada bukti bahwa saya sudah menjadi penulis. Jadi plong rasanya. Dalam setiap kesempatan, saat ditanya cita-cita Anda apa… saya kok selalu menjawab mau menjadi penulis. Tetapi, sampai umur saya kepala empat kok enggak ada produk tulisan. Nah, sekarang lahir bayi pertama. Saya akan bikin bayi-bayi berikutnya. Enak tomantep to… hehehe.…

Apa hebatnya jadi penulis itu?

Hebatnya jadi penulis? Kita seperti meninggalkan “sesuatu” seperti amal jariyah. Yang sampai mati pun akan tetap terus mendapatkan pahala selama masih dimanfaatkan orang.

Apa manfaat lainnya dari aktivitas berbagi ilmu dengan menulis?

Yang jelas, saya bisa membangun personal branding. Kebetulan pekerjaan utama saya kan dosen, yang bidang konsentrasinya adalah management control system. Maka, dengan adanya buku tersebut, saya lebih mantap menyatakan kepada publik bahwa control is my area!

Launching buku "The Art of Controlling People

Launching buku "The Art of Controlling People

Dalam proses penulisan buku pertama tadi, apa bagian tersulit dan termudahnya?

Bagian tersulit adalah memulai menulis dengan gaya bahasa yang seperti saya angankan. Saya kan sudah terlanjur biasa menulis untuk kalangan akademik. Padahal, saya pingin tulisan saya bisa dibaca orang banyak, baik dari kalangan akademisi mapun praktisi. Nah, saat memulai masih terseok-seok. Kalimat pertama bisa gauleh, lama-lama kembali lagi ke bahasa jurnal ilmiah. Bagian termudahnya adalah mengisi tulisan, terutama pada bagian-bagian yang saya ambil dari pengalaman pribadi. Terutama dalam memberikan jasa konsultasi manajemen. Di situ rasanya mengalir karena saya alami, saya resapi, dan saya yakini akan bermanfaat kalau saya sharing-kan.

Apa kiatnya sehingga Anda bisa keluar dari jerat bahasa akademik dan masuk ke bahasa popular?

Pertama, saya selalu membayangkan sedang berbicara kepada publik, yang terdiri dari berbagai kalangan. Yah, membayangkan seperti sedang memberi training atau kuliah umum. Saya bayangkan bahwa saya sedang bercanda, sedang meyakinkan, sedang memberikan contoh supaya mereka mudeng, sedang ditanya, sedang menjawab…. Pokoknya, bayangan sedang bicara yang lancar, santai, dan bermanfaat. Bukan membual, tetapi berbagi dengan ikhlas. Tentu saja, saya juga belajar dari tulisan-tulisan yang saya anggap pas dengan gaya penulisan yang saya bayangkan. Saya belajar dari tulisan orang lain. Yang jelas, dalam setiap kalimat harus ada “nada”-nya… Harus mengandung “gairah” supaya orang membacanya nyaman.

Garis besar isi buku The Art of Controlling People ini?

Pada prinsipnya tentang bagaimana kita mengendalikan diri kita dan orang lain agar kita mendapatkan apa yang kita mau, sekaligus mendapatkan apa yang dimaui oleh organisasi.

Apa manfaat yang bisa dipetik pembaca dari buku ini?

Seperti yang saya sajikan di dalam Pendahuluan. Setelah membaca buku tersebut, diharapkan pembaca memiliki perspektif baru tentang bagaimana mengajak orang-orang yang berada dalam organisasi atau perusahaan, untuk bersama-sama membawa sukses bagi perusahaan maupun orang-orang yang berada dalam perusahaan. Pembaca akan lebih memahami bagaimana peran manusia dan peran sistem pengendalian manajemen di dalam membawa sukses perusahaan.

Umumnya, bukankah setiap individu itu adalah pendamba kebebasan alias tidak suka dikontrol?

Nah, ini kuncinya. Mengontrol bukan berarti mengekang! Mengontrol adalah membawa orang menuju apa yang kita maui. Kalau saya mau menjadi penulis bestseller, kemudian Anda bisa mengendalikan semangat saya, memberikan arahan, mendorong, memberi sarana, dan kemudian saya benar-benar menjadi penulis bestseller, berarti Anda berhasil mengendalikan saya untuk bisa menjadi penulis bestseller.

Agung dalam sebuah acara musik di televisi

Agung dalam sebuah acara musik di televisi

Persepsi umum atau respon otomatis orang kebanyakan terhadap kata ‘kontrol’ adalah penghilangan kebebasan. Bagaimana menghilangkan persepsi itu, supaya pendekatan controlling people efektif?

Seperti kita mengendalikan kuda, kudanya juga senang kok kalau kita kendalikan ke sana dan kemari. Makanya, saya menggunakan istilah “the art“ supaya kata “kontrol” yang kesannya keras bisa menjadi lunak.

Apakah kontrol yang efektif terhadap orang itu bisa memberikan hasil-hasil yang tinggi presisinya dalam organisasi seperti perusahaan?

Kontrol yang efektif adalah yang memberikan jaminan tertinggi bahwa apa yang kita inginkan akan kita dapatkan. Untuk itu, di dalam buku ini disajikan berbagai strategi pengendalian, seperti result control, action control, dan people control. Kontrol yang efektif pada suatu jenis pekerjaan belum tentu efektif bila diterapkan pada jenis pekerjaan lain. Yang efektf untuk tipe-tipe orang tertentu belum tentu efektif bila diterapkan pada orang dengan tipe yang lain. Jadi, melakukan kontrol itu penuh dengan “art“. Bisa keras, bisa lembut, bisa ketat, bisa longgar….

Penerapan prinsip-prinsip dalam buku itu lebih condong untuk karakter organisasi apa saja, profit dan nonprofit?

Keunggulan konsep yang ditawarkan dalam buku ini bisa diterapkan oleh organisasi profit maupun nonprofit. Bahkan, bisa pula diterapkan bagi individu. Gampangnya, para istri yang ingin sukses mengontrol suaminya juga perlu membaca buku ini… hehehe.…

Untuk organisasi nonprofit, apa yang bisa dipakai untuk mengikat individu-individu itu dalam suatu sistem kontrol, manakala tidak ada reward material yang pasti?

Itulah apa yang disebut dengan goal congruency, yaitu kita harus menyelaraskan tujuan organisasi dengan tujuan individu. Dan sebaliknya, kita menyelaraskan tujuan individu dengan tujuan organisasi. Makanya, diperlukan suatu sistem agar keselarasan tersebut terjaga. Dengan demikian, sistem kontrol yang baik justru akan menjamin proses demokrasi di organisasi. Di samping itu, juga meritocracy, yaitu suatu sistem yang memberikan penghargaan yang tinggi bagi siapa saja yang berprestasi.

Pernah menangani kasus yang mana ada resistensi terhadap upaya-upaya controlling people dalam organisasi?

Tentu saja sudah pernah, karena itu tugas utama saya. Beberapa pengalaman berpraktik sebagai konsultan manajemen juga saya sajikan dalam buku ini. Coba baca bab yang membahas tentang pengendalian melalui kompensasi. Di situ saya berikan contoh bahwa sistem kompensasi yang tidak tepat akan menimbulkan resistensi. Setelah sistem kompensasi saya sarankan untuk diubah… wow… dukungan karyawan luar biasa. Sampai-sampai produktivitasnya meningkat 300 persen!

Agung bersama rekan-rekan kolomnis AndaLuarBiasa.com

Agung bersama rekan-rekan kolomnis AndaLuarBiasa.com

Baik, kita singgung sedikit soal birokrasi. Anda pasti setuju dengan penilaian umum bahwa birokrasi kita belum sepenuhnya efektif di era reformasi ini. Apakah Anda juga mencium aroma lemahnya hal controlling people di sini?

Iya, tetapi mohon dipahami bahwa ada bentuk kontrol negatif, dan ada pula bentuk kontrol positif. Bentuk kontrol yang negatif ada unsur mengekang dan membatasi. Sedangkan bentuk kontrol positif mengandung unsur mendorong atau encouraging, memotivasi, dan memberikan jalan atau enabling. Nah, di birokrasi kita masih tidak berimbang antara kontrol positif dan negatif. Yang lebih ditekankan adalah kontrol negatif. Sehingga, orang lebih cenderung… “dari pada salah, mendingan tidak berbuat”. Ini yang membuat birokrasi menjadi beban!

Untuk menjadi efektif, birokrasi sering berhadapan dengan sikon lemahnya resources SDM, finansial, dll. Lalu, pada titik mana bisa ditumpukan harapan supaya organisasi tetap bisa berfungsi efektif?

Sistem kontrol harus memerhatikan aspek cost and benefit. Jadi, tidak pada tempatnya kita membuat sistem kontrol yang rumit dan mahal, bila kondisi resource tidak memungkinkan. Sistem pengendalian tidak selalu harus mahal. Bisa dibentuk melalui kultur organisasi, dan juga contoh atasan. Memang, sistem kontrol akan meliputi mekanisme dan peralatan yang mendampinginya. Sesuaikan saja. Mengapa di negara maju orang patuh terhadap peraturan, yang artinya terkendali? Apakah karena mereka lebih kaya? Apakah karena mereka lebih pintar? Apakah karena sistemnya lebih canggih? Tidak, kan? Tetapi, karena mereka hidup dalam kultur taat aturan.

Gaya kepemimpinan, apakah juga menentukan result dari sebuah sistem kontrol? Termasuk, apakah itu juga bisa jadi solusi efektivitas birokrasi?

Iya, gaya kepemimpinan juga sangat berpengaruh dalam pola pengendalian. Tetapi, yang perlu ditekankan di sini adalah “pemimpin yang baik harus bisa membawa suskes organisasi maupun sukses orang-orang yang berada dalam organisasi”. Jadi, kalau organisasinya saja yang sukses tetapi orangnya gagal, kecewa, tidak sukses, itu sama saja tidak sukses.

Agung bersama para mentor dan peserta Proaktif Writer Camp

Agung bersama para mentor dan peserta Proaktif Writer Camp

Kalau begitu, kita bisa menumpukan solusi efektivitas organisasisalah satunyapada soal rekrutmen pemimpin atau pola suksesinya?

Dua-duanya. Pilih orang yang tepat untuk posisi yang tepat. Berikan posisi yang tepat untuk orang yang tepat. Right man in the right place, and right place for the right man. Tadi maksudnya right man for the right place and right place for the right man.

Mari singgung sedikit soal birokrasi di kampus, yang jelas tidak kekurangan SDM. Bagaimana Anda melihat persoalan efektivitas mereka, apakah ada potensi masalah yang sama?

Hahaha…. Mengendalikan orang kampus juga ada keunikannya sendiri, terutama dosen. Birokrasi kampus harus dirancang untuk mengelola orang pintar dan independen, jangan seperti mengelola birokrasi pemerintahan. Tidak akan klop. Maaf, kalau saya katakan bahwa jenis manusianya berbeda. Orang kampus lebih berani SAY NO dari pada orang-orang dalam birokrasi pemerintahan. Kalau menggunakan konsep strategi pengendalian yang saya tawarkan dalam buku saya tersebut, mengendalikan orang kampus sebaiknya lebih condong ke result control daripada action control. Kebetulan saya juga sedang menulis tentang managing smart people, why different? yang akan saya publikasikan melalui Andaluarbiasa.com. Maaf, bukan berarti orang kampus selalu smart, mohon jangan dipelintir kaya wartwan koran… hahaha…

Kasih bocoran dikit dong…!

Para profesional yang yakin akan kemampuan dirinya tidak akan suka dikontrol tindakannya dari langkah satu ke langkah berikutnya. Mereka lebih result oriented dari pada sekadar menjalankan tugas. Kalau dikaitkan dengan orang kampus atau dosen, mereka akan lebih bergairah kalau diberi target menulis satu buku setiap tahun, daripada misalnya dikontrol dengan cara diharuskan masuk jam delapan dan pulang jam empat.

Terakhir, sudah terpikir untuk melanjutkan buku-buku berikutnya?

Ada tiga buku yang sedang saya selesaikan hehehe…. Kok jadi nafsu begini, ya…? Yang pertama adalah Local Wisdom Global Action, yang sebagian besar sudah saya publikasikan melalui Pembelajar.com, yang ke dua adalah Managing Yourself yang sebagian sudah saya publikasikan melalui Andaluarbiasa.com, dan yang ketiga adalah The New Art of Controlling People yang merupakan pengembangan dari buku pertama saya ini. Saya bisa bergairah menulis ini juga antara lain karena dukungan dan bimbingan Edy Zaqeus, yang terbukti berhasil mengontrol saya untuk menulis… hehehe.…

Terakhir lagi, anjuran untuk rekan sesama dosen, terkait dengan kepenulisan dan buku?

Dosen ya harus menulis…. Menulis di jurnal itu sudah pasti enggak bisa ditawar. Tetapi, menulis buku tidak kalah penting. Ini warisan untuk putra-putri terbaik di negeri ini. Daripada “omong doang” mendingan “nulis doang” hehehe….[ez]

Agung bersama para mahasiswa

Agung bersama para mahasiswa

Foto-foto: Dokumentasi pribadi, koleksi Vina Tan, dan Maria Agatha Catursari.