Anang Y.B.: Memperkenalkan profesi geografer

Anda pernah tahu atau mendengar tentang profesi sebagai geografer? Barangkali, ini bukan profesi yang sering Anda dengar, walau mungkin Anda bisa mereka-reka bidang kerjanya karena namanya. Profesi geografer memang benar ada dan penghasilannya pun lumayan. Kebetulan, nama profesi ini diciptakan serta ditekuni oleh Anang Tri Nugroho, seorang bloger atau ‘pabrik blog’ yang lebih dikenal dengan nama pena Anang Y.B.

Anang Y.B. lahir pada 4 Februari 1970 di Bantul, DIY, dan lulusan tercepat Fakultas Geografi, UGM. Ia mengawali kariernya sebagai staf konsultan pemetaan selama lima tahun dan setelah itu memutuskan menjadi tenaga ahli geografi secara self employed. Di sinilah, suami dari Tjandra Susi (yang bekerja di sebuah surat kabar nasional) dan ayah dari Geofani Nerissa Arviana (10 tahun) dan Justin Ananta (5 tahun), ini mengembangkan profesinya sebagai seorang geografer.

“Saya bisa masuk dalam tim studi AMDAL. Bisa juga menjadi tenaga penilai lapangan untuk EKOLABEL produk kehutanan. Bisa juga masuk dalam tim perencanaan tata ruang,” jelas Anang tentang profesinya. Menurut Anang, melalui profesi geografer yang ditekuninya dengan berkantor di rumah itu, ia bisa mendapatkan penghasilan rata-rata Rp 9 jutaan per bulan. Tentu saja, di sela-sela itu, Anang masih bisa menekuni hobinya yang lain, yaitu menjadi “pengembang blog” dan menjalankan internet marketing.

Bukan itu saja, buah dari ketekunannya menulis di sejumlah blog sejak 2001, Anang sampai memiliki lebih dari 500 posting tulisan. Hasilnya, kini tulisan-tulisan tersebut bisa dikemas ulang untuk diterbitkan menjadi buku. Dan, dalam lima bulan terakhir ini saja, Kolomnis Tetap AndaLuarBiasa.com ini telah menelurkan empat judul buku. Jadi, hampir sebulan sekali Anang menerbitkan buku baru. Untuk penulis pemula di dunia perbukuan, ini cukup membanggakan juga.

Nah, untuk mengetahui lebih detail tentang apa itu profesi geografer serta proses kreatif Anang dalam melahirkan buku-bukunya, Edy Zaqeus dari AndaLuarBiasa.com mewawancarai Anang melalui chating beberapa waktu lalu. Berikut petikannya:

Bagaimana deskripsi profesi atau pekerjaan sehari-hari Anda?

Saya suka menyebut diri saya sebagai seorang geografer. Istilah ini unik, dalam arti tidak banyak yang mau memakai. Geografer dalam artian orang yang mencari duit dengan mengurusi manusia, lingkungan, dan hubungan keduanya. Profesi ini saya tekuni sejak 2001, hingga saat ini. Untuk satu semester terakhir ini, profesi ini sedikit saya rem, karena saya menemukan keasyikan baru, menjadi penulis naskah buku.

Contoh pekerjaan yang Anda lakukan sebagai geografer apa?

Geografer adalah profesi generalis. Dosen saya menyebutnya profesi Rhemason. Dia bisa mengobati mulai dari sakit kepala, salah urat, hingga asam urat. Saya bisa masuk dalam tim studi AMDAL. Bisa juga menjadi tenaga penilai lapangan untuk EKOLABEL produk kehutanan. Bisa juga masuk dalam tim perencanaan tata ruang. Tapi, rata-rata positioning serang geografer adalah sebagai seorang analis keruangan berbekal peta dan foto satelit.

Kalau misalnya saya mau buka tambang atau perkebunan yang luas, perlukah seorang geografer?

Oh, ya. Klien saya selain dari sektor kehutanan, juga dari pertambangan dan perkebunan. Setiap kali mereka akan memulai usaha, pastilah mereka akan melakukan feasibility study. Mereka perlu seorang analis keruangan. Mereka butuh informasi mengenai jenis penggunaan lahan yang ada sekarang. Berbatasan dengan milik siapa? Apakah peruntukannya sesuai dengan tata ruang? Apakah jenis tanahnya sesuai? Apakah lerengnya ideal untuk membuka usaha? Dan lai-lain. Semua itu bisa dikaji dengan melakukan overlay atau tumpangsusun peta-peta tematik. Trennya, mereka akan membeli foto satelit untuk mengetahui kondisi terkini dari lokasi yang akan diusahakan. Di sinilah peran seorang geografer bisa masuk.

Profesi sebagai geografer cukup menantang dan penghasilan pun lumayan

Kalau awam mungkin bertanya, kan sudah ada Google Earth untuk foto satelit gratis?

Foto satelit di Google Earth (GE) sebagian besar menggunakan citra bernama QUICKBIRD. Karena gratisan, maka yang muncul di GE adalah versi lawas. Tertinggal sekitar dua tahunan, dan resolusinya sudah diturunkan. Dalam versi berbayar Anda bakal melihat kedetailan yang lebih tajam, dan umur foto satelit yg lebih baru. Bila mau, Anda bisa memesan untuk dipotretkan Istana Negara dalam tampilan terkini dengan resolusi 60 cm. Artinya, mobil pun bakal tampak jelas, padahal pemotretan dilakukan ribuan kilometer di angkasa sana.

Sebagai seorang geografer, Anda juga berperan sebagai konsultan yang memberikan solusi dalam bidang tersebut? Atau hanya menjual data-data semata?

Dua-duanya saya lakoni karena dua-duanya menghasilkan duit hehehe…. Kedua-duanya juga saya jalani secara self employed.

Bagaimana penghasilan profesi ini?

Karena proyek-proyek yang saya terima bergantung pada proyek pemerintah, maka pasti ada masa pacekliknya. Biasanya instansi pemerintah merealisasikan proyek pada periode Juli hingga Desember. Pada masa itulah kontrak biasanya berdatangan. Periode Januari hingga Juni tak banyak pekerjaan. Biasanya saya isi dengan mengadakan pelatihan survei dan pemetaan. Penghasilan cukup lumayan. Bisa buat bantu-bantu istri cari nafkah. Sebetulnya, penghargaan untuk seorang tenaga ahli yang ditetapkan Bapenas cukup tinggi, bisa sekitar Rp 9 jutaan per bulan untuk yang mengantongi pengalaman kerja 9 tahunan. Kalau kita beruntung mendapat pekerjaan dari pemberi kerja yang jujur dan konsultannya jujur, kita bisa memperoleh angka sekitar itu per bulan dari satu pekerjaan.

Dan, itu Anda lakukan dengan berkantor di rumah atau di dunia maya saja?

Ya, menjadi konsultan self employed dari rumah. Mengandalkan kartu nama, laptop, akun email, weblog, pengalaman kerja, dan tentunya nama baik.

Bagaimana caranya supaya seorang alumni jurusan geografi bisa menjadi seorang geografer seperti Anda?

Pertama, jangan lama-lama menjadi karyawan. Di perusahaan konsultan, seorang geografer berada pada kasta yang relatif rendah dibandingkan seorang sarjana teknik maupun programer. Kalau mau dihargai, jadilah seorang freelancer saat Anda sudah memiliki bekal cukup. Kedua, upgrade ilmu Anda. Saat saya lulus th 1996, kemampuan mengoperasikan GPS dan software SIstem Informasi Geografis adalah sebuah keunggulan. Sekarang tidak. Anak SMA pun sudah bisa. Kita mesti selangkah di depan soal keahlian. Ketiga, jalin relasi dengan siapa pun. Jangan cuma dengan alumni, sebab geografer bakal dapat kerja justru dari bidang ilmu lain. Keempat, bangun personal branding sebaik mungkin. Keempat, jujur dan profesional.

Seorang geografer sering menjelajahi berbagai pelosok medan

Rupanya, pengalaman pribadi inilah yang mendorong Anda menulis buku Kerja di Rumah Emang ‘Napa?, ya?

Yap, saya ingin berbagi. Saya sadar, mungkin pilihan dan jalan yang saya tempuh bukan yang paling ideal. Tapi, di luar sana masih banyak rekan lain yang belum cukup beruntung. Bukan karena mereka tidak pintar atau kurang berusaha. Tapi karena belum ada yang menunjukkan bahwa di luar jalur yang biasa dilalui orang, masih ada “jalan-jalan tikus” dan jembatan kecil yang bisa dititi untuk memperoleh hasil yang lebih baik.

Sudah berapa buku yang Anda tulis?

Sudah empat buku yang diterbitkan dalam lima bulan ini. Pertama buku biografi berjudul Santo Arnoldus Janssen Abdi Yesus Yang Setia, terbit Juli 2009 oleh OBOR. Kedua, buku rohani popular berjudul Sandal Jepit Gereja, terbit Agustus 2009, juga oleh OBOR. Ketiga, buku internet berjudul 88 Mesin Uang di Internet, terbit September 2009 oleh Best Publishing. Dan keempat, Kerja di Rumah Emang Napa?, terbit November 2009, oleh Gramedia Pustaka Utama.

Hebat. Bagaimana seorang geografer bisa seproduktif itu. Apa rahasianya?

Mungkin ada saatnya ide saya akan kering walau saya tidak mengahrapkan itu terjadi. Tiga dari empat buku tersebut saya gali dari kehidupan dan keseharian saya. Betul-betul saya alami dan tinggal copy-paste dari harddisk di otak saya. Saya beruntung memiliki blog www.jejakgeografer.com dan www.anangyb.blogspot.com. Kedua blog ini telah memiliki 500 posting dan merupakan harta karun saya. Memori saya yang sudah melemah karena faktor usia hehehe… terbantu dengan catatan sejarah yang tertulis di dalam kedua blog tersebut.

Cara Anda meramu tulisan-tulisan yang sudah siap olah menjadi naskah buku itu bagaimana?

Tulisan di blog memang mesti diolah, karena ditulis secara spontan dan sangat kontekstual dengan issue yang ada. Panjang pendeknya pun sesukanya. Agar menjadi sebuah naskah buku yang layak, saya awali dengan menentukan frame naskah. Sudut pandang penceritaan, apakah sebagai “aku/subjek” atau sebagai orang lain. Ini harus disamakan. Panjang pendek juga mesti disamakan. Kalau terlalu pendek, saya akan menambahkan paragraf baru yang relevan, atau kalau memungkinkan, saya akan gabungkan dua posting di blog menjadi satu bab.

Mengenai produktivitas Anda dalam menulis di blog. Apa yang memacu atau memicu Anda sehingga selalu punya tema tulisan?

Jujur saja, masih ada sekitar lima atau bahkan lebih tema buku yang mendesak otak saya untuk segera dituangkan. Bahkan, outline yang saya buat semasa mengikuti pelatihan di ‘Writer Schoolen’ belum juga saya garap. Sejauh ini, ide dan tema belum menjadi persoalan buat saya. Mengenai produktivitas, saya bersyukur karena mengenal sosok Indari Mastuti lewat paparan profil di web ini. Demikian pula dengan misalnya Gregorius Agung, pemilik Jubilee Enterprise. Produktivitas kedua orang inilah yang melecut saya untuk terus menulis. Tentu saja saya membuat strategi agar dapat menyelesaikan naskah secara rutin dan cepat.

Anang bersama keluarga tercinta

Bisakah dibagi strateginya?

Saya berkaca dari buku-buku saya yang sudah beredar. Buku pertama yang berjudul Santo Arnoldus bisa saya kebut dalam waktu sepuluh hari. Sedangkan buku 88 Mesin Uang di Internet, karena lebih tebal dan mesti cari gambar, ‘baru selesai’ dalam waktu 14 hari. Artinya, kalau mau, sebulan saya bisa bikin dua naskah. Dari sinilah akhirnya saya membuat time schedule naskah apa yang saya mau selesaikan setiap bulannya. Time schedule ini saya lengkapi dengan judul buku, jumlah halaman, dan target penerbit yang mau saya todong. Tidak tanggung-tanggung, sengaja saya buat target yang musykil: sebulan membuat dua naskah buku. Mengapa dua naskah? Ya, kalaupun saya sangat malas dan hanya mampu memenuhi separuh target, maka saya sudah menghasilkan satu naskah dalam satu bulan!

Apa kiatnya sehingga setiap naskah yang Anda selesaikan selalu disambut baik oleh penerbit?

Apa ya? Keberuntungan? Bisa jadi. Kebaikan hati penerbit? Bisa juga. Tapi bisa jadi juga karena kebiasaan menjual diri saat menjadi konsultan, yang membuat saya menyodorkan naskah dalam kondisi dan tampilan yang terbaik. Setiap naskah yang saya sodorkan selalu dalam kondisi siap baca dan lengkap. Setiap naskah juga mesti saya beri kaver full colour. Saya pun belajar membuat layout naskah sehingga biarpun masih berupa dummy book, tapi saya pingin editor atau redaksi merasa nyaman, senyaman membaca buku yang sudah jadi. Saya juga membekali diri dengan terus membaca ilmu editor. Di luar itu, saya pasti menyertakan surat pengantar yang saya buat secara serius.

Sekarang mengenai buku 88 Mesin Uang di Internet, garis besar isinya apa?

Buku tersebut berisi review sekumpulan situs internet yang menjanjikan penghasilan kalau kita bergabung di dalamnya. Bedanya dari buku-buku sejenis, cara bertutur yang saya pakai adalah story telling agar tidak kering dan membuat pembaca bosan. Kebetulan saya cukup aktif dalam bisnis internet sehingga punya beberapa kiat dan trik untuk bisa, paling tidak, meraih sejuta dua juta rupiah dengan mengikuti program peraup dollar di internet. Saya lampirkan juga foto anak saya yang tersenyum lebar sambil merentangkan kiriman cek dollar yang saya terima dari program Google Adsense.

Bisnis internet bak rimba raya yang belum baku bahkan belum ada rambu-rambunya. Bagaimana menghindari penipuan di internet yang berkedok bisnis?

Banyak bergaul, itu kuncinya. Rajin-rajinlah menyambangi blog pelaku bisnis internet yang sudah sukses dan punya reputasi/nama baik yang baik. Ikutlah forum diskusi online. Yang paling praktis, gunakan Google untuk mengetahui apakah program yang mau kita ikuti tersebut sekadar omong kosong atau tidak. Tuliskan saja nama program dan ikuti dengan kata scam dalam mesin pencari Google. Kita bakal dapat referensi dari sana. Yang pasti, saya cenderung tidak mengikuti program yang musti menyetor uang atau menuntut kita untuk memasukkan nomor kartu kredit.

Anang dalam sebuah acara diskusi buku "Sandal Jepit Gereja"

Sekarang, hampir semua orang bisa akses internet. Bagi awam kadang mudah sekali tergiur oleh iklan-iklan bisnis online yang sangat menggiurkan. Komentar Anda?

Itu baik kalau kita lihat dari terbukanya mata orang bahwa cari uang tidak mesti dilakoni dengan berangkat pagi dan pulang petang. Banyak orang sudah sukses walau banyak juga yang akhirnya frustrasi, dan lantas mengeluarkan fatwa pribadi: ‘bisnis internet adalah omong kosong’. Sekali lagi, banyaklah bergaul dan cari referensi dari sumber terpercaya. Kalau mau lebih cepat sukses, carilah mentor atau pembimbing. Ada beberapa pelaku bisnis internet yang menawarkan program mentoring. Ini sekadar alternatif saja agar tidak keblinger.

Kalau buku terakhir, kiat-kiat apa yang anda sodorkan ke pembaca supaya bisa mencari penghasilan dari rumah?

Kalau sudah berkeluarga, tanyalah siapa dari suami dan istri yang paling siap untuk bekerja di rumah? Papa atau mama? Jangan takut juga untuk bekerja yang tidak sesuai gelar pendidikan kita. Bila kesulitan modal, rangkullah orang lain atau pihak lain untuk berkolaborasi. Pertajamlah kemampuan bernegosiasi sebab bekerja di rumah menuntut Anda untuk menjadi panitia tunggal. Jujurlah selalu dan jadilah seorang rekan bisnis yang menyenangkan.

Bagi sebagain orang, kerja di rumah tidak ada gengsinya….!?

Benar. Seorang calon mertua pun bakal berpikir ulang bila calon mantunya tidak punya kantor yang bukan rumah. Ini soal kultur. Ini juga soal mindset. Serasa belum diakui bekerja kalau belum bersepatu dan menuntun motor keluar rumah setiap pagi. Dalam kalimat yang membosankan, orang lebih cenderung memilih keamanan finansial. Aman secara duit dan aman dari sisi citra diri di mata tetangga. Tapi sepanjang kita bisa membuktikan bahwa kita bisa berpenghasilan layak dengan berusaha dari rumah, why not? Di kota-kota besar kesadaran ini sudah muncul, dan bahkan menjadi impian. Sedikit kerja, sedikit keluar rumah, rapi penghasilan oke. Tanyalah orang-orang yang sudah terbius oleh kata-kata manis Robert Kiyosaki. Mereka pasti setuju soal ini.

Anda juga menulis buku agama atau renungan agama. Apa tujuan atau idealisme menulis buku-buku sejenis itu?

Tidak peduli apakah buku saya bertema agama maupun bukan. Saya memiliki satu kesadaran bahwa talenta menulis yang saya genggam berasal dari Sang Ilahi. Jadi, sudah sepantasnya talenta itu saya gunakan dan kembalikan untuk-Nya. Semua yang saya tulis adalah cerita keseharian saya. Menjadi seorang internet marketer, menjadi pekerja rumahan, dan menjadi bagian dari komunitas agama. Saya mesti adil berbagi cerita untuk semua sisi kehidupan saya. Bila pada akhirnya, ada bisikan dari-Nya untuk menuangkan tulisan bertema religi, pastilah itu juga karena kemaun Dia. Saya bersyukur menjadi kepanjangan tangan-Nya. Moga-moga maunya Dia menjadi kenyataan lewat tulisan saya.

Jenis atau tema buku apa yang masih mengganggu pikiran Anda untuk menuliskannya suatu saat nanti?

Belum tahu. Saya masih pemula banget. Belum setengah tahun saya menekuni profesi sebagai penulis. Saat ini saya nekat untuk menulis semua tema yang saya bisa. Saya juga berusaha menembus sebanyak mungkin penerbit yang berbeda. Itulah sebabnya dari empat buku saya yang sudah terbit, memiliki tema yang beragam, dan diterbitkan oleh tiga penerbit yang berbeda. Saya masih hijau dan terlalu memalukan untuk buru-buru mengambil spesialisasi. Bukankah seorang dokter mesti khatam dulu di strata satu sebelum berhak mengambil spesialisasi? Namun bila saya ditanya, buku apa yang sulit dan menantang untuk ditulis, maka jawaba saya adalah buku yang mesti ditulis dengan teknik wawancara. Saya paling grogi menanyai orang. Itulah sebabnya, untuk calon buku kelima, yang bertema kisah nyata, saya mesti memaksa istri saya untuk selalu menelepon nara sumber hehehe….

Ke depan Anda akan terus mengawinkan profesi sebagai geografer dengan penulis, atau menceraikannya dan memilih salah satunya?

Profesi penulis tampaknya mesti jalan terus. Konon usia empat puluh adalah titik balik untuk memperoleh jati diri yang sesungguhnya. Berhubung bulan Februari nanti saya genap berkepala empat, maka predikat sebagai penulis akan saya jadikan sebagai jati diri saya yang baru. Menjadi geografer semoga saja dapat terus jalan juga. Semoga kecakapan saya masih layak jual. Ide menulis pun banyak mengalir saat saya menjelajahi pelosok Tanah Air ketika menjalani profesi sebagai seorang geografer. Jadi, selama bisa “rangkap profesi” saya akan menjalaninya secara paralel.[ez]

Catatan: Foto-foto dokumentasi pribadi.