Tags

Wilson Arafat: Meraih lebih dari 10 penghargaan menulis

Wilson Arafat adalah seorang Corporate Governance and Corporate Culture Specialist, penulis buku-buku manajemen, dan professional writer. Sekarang, pria kelahiran Palembang, 21 Maret 1972, yang sehari-hari bekerja di BTN ini semakin sering memberikan pelatihan-pelatihan tentang GCG di berbagai perusahaan, termasuk birokrasi pemerintahan. Belakangan ini, selain sedang bersemangat memberikan seminar-seminar dan pelatihan mengenai pentingnya penerapan GCG, Wilson juga terus menelurkan konsep-konsep dan model-model aplikasi GCG, baik dalam format ratusan artikel, paper atau makalah ilmiah, dan buku popular.

“Sepuluh tahun terakhir saya ber-‘asyikmasyuk’ dengan GCG. Dan, saya melihat hal ini penting untuk dibumikan di negeri ini,” jelas Wilson dalam sebuah wawancara online. Selain demi menyongsong ketatnya persaingan global, Wilson melihat urgensi penerapan GCG adalah untuk menciptakan keseimbangan di antara berbagai kepentingan semua pihak terkait dalam korporasi. “Apalagi di perusahaan, ketika enggak imbang antara kepentingan pemegang saham dengan kepentingan manajemen, maka akan terjadi kerusakan. Pada akhirnya, tidak ada check and balances. Tinggal tunggu waktunya, perusahaan atau apa pun akan hancur, KKN menggurita,” jelas alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta ini.

Namun, bukan soal GCG saja—sebagaimana akan kita kupas dalam paruh pertama wawancara ini—yang dia kuasai. Suami dari Ina Marlina dan ayah dari Fathir Filbert Fahrudin ini sudah menelurkan enam buku manajemen/marketing serta dikenal piawai sekali menulis untuk perlombaan karya tulis. Tak kurang sepuluh award atau penghargaan dia raih dari berbagai perlombaan menulis artikel maupun karya ilmiah popular untuk bidang manajemen, pemasaran, dan perbankan. Soal kiat-kiat memenangkan perlombaan menulis inilah yang akan menjadi fokus paruh kedua wawancara ini.

Wilson Arafat adalah sosok pemikir muda berbakat yang seolah muncul meneruskan tradisi intelektual dan keilmuan dari para tokoh pemikir andal dari Tanah Sriwijaya. Dia tinggal menunggu waktu saja untuk semakin bersinar dalam kiprah profesional maupun pengabdiannya kepada masyarakat. Ide-idenya terus mengalir dan semangatnya tidak pernah padam untuk senantiasa berkarya. Banyak pelajaran yang bisa kita petik dari semangat maupun gagasan-gagasan Wilson. Berikut petikan wawancara Edy Zaqeus dari AndaLuarBiasa.com dengan Wilson Arafat belum lama berselang.

Sudah berapa buku yang Anda tulis dan apa saja temanya?

Sudah enam buku, buku kesatu dan kedua bertema marketing, ketiga manajemen perbankan, keempat dan kelima tentang Good Corporate Governance atau GCG, dan keenam saya sebagai ghost writer buku tentang leadership.

Bagaimana ceritanya, selain berkarier di perbankan Anda akhirnya menekuni bidang GCG?

Kalau boleh bercerita sedikit, petualangan ‘intelektual’ saya cukup berliku hehehe… Mulanya saya berminat menjadi marketer sejati. Studi S-2 saya fokus ke marketing. Cuma dalam perjalanan karier, saya menemui banyak jenis pekerjaan. Misalnya, mengelola manajemen perbankan dan manajemen strategik. Namun, sepuluh tahun terakhir saya ber-‘asyikmasyuk’ dengan GCG. Dan, saya melihat hal ini penting untuk dibumikan di negeri ini. Ide-ide saya cukup banyak yang ingin saya tuangkan sebagai sumbangsih pemikiran saya. Artikel, makalah, dan paper saya sudah dimuat di berbagai media, diapresiasi sejumlah lembaga, dan saya tuangkan juga menjadi buku. Jadinya saya sekarang fokus menjadi corporate governance and corporate culture specialist.

Dari tema-tema buku GCG yang sudah Anda tulis, masing-masing apa bedanya?

Buku How to Implement GCG Effectively mengungkap horizon delapan langkah strategis dalam membumikan sistem dan budaya GCG. Buku ini menguraikan secara big picture bagaimana membumikan GCG secara efektif. Buku Smart Strategy for 360 Degree GCG: Simple, Clear, and Applicable. Buku ini mengupas tuntas bagaimana strategi melaksanakan GCG dengan sebaik-baiknya. Lengkap diuraikan tahapan dan langkah-langkahnya sesuai best practice. Dan, sekarang saya lagi proses memuat buku GCG ketiga berjudul How to Assess GCG Effectively: To be A trusted Company. Ini merupakan pedoman komprehensif untuk mengukur kinerja penerapan GCG.

Anda mahir membuat model-model teoritikal. Bagaimana cara mengasah dan mengembangkan keterampilan tersebut?

Kata Einstain, maestro yang sangat saya kagumi, “Belum dikatakan seseorang itu pakar kalau orang itu belum bisa membuat sesuatu yang rumit menjadi sederhana.” Ini yang saya pegang. Saya berupaya membuat sesuatu yang teoritikal, kata orang rumit, bisa jadi model. Cukup satu gambar, tidak lebih dari satu halaman. Jadi, kuncinya adalah berpikir sederhana dan membuat sesuatu yang rumit itu jadi simple.

Untuk buku-buku GCG, model apa saja yang sudah Anda ciptakan?

Ada Model Indeks/Peratingan GCG, ada model implementasi strategi yang saya namakan GCG Strategy Map 3, Road Map Implementasi GCG, Model Peta Sukses Meraih Tata Kelola yang Baik, Model Transformasi Budaya GCG, dan ada beberapa yang lain.

Selain sebagai penulis profesional, Wilson juga dikenal sebagai tariner dan GCG Specialist

Sebagai awam, pertanyaan saya apa urgensi GCG bagi perusahaan/organisasi yang baru berkembang maupun yang mapan?

Urgensinya terletak pada esensi dari penerapan GCG itu. Yaitu menciptakan keseimbangan antara kepentingan sosial versus ekonomi. Imbang antara kepentingan internal versus eksternal. Imbang antara kepentingan stakeholders versus shareholders. Imbang kepentingan jangka pendek versus jangka panjang. Imbang antara tujuan komunal versus individual. Menurut saya, semua kehancuran di Republik ini adalah karena ketidakseimbangan di berbagai bidang. Contohnya, banjir itu karena kesimbangan terganggu, habitat alam sudah rusak. Apalagi di perusahaan, ketika enggak imbang antara kepentingan pemegang saham dengan kepentingan manajemen, maka akan terjadi kerusakan. Pada akhirnya, tidak ada check and balances. Tinggal tunggu waktunya, perusahaan atau apa pun akan hancur, KKN menggurita. Nah, GCG akan memberikan keseimbangan, itulah urgensinya.

Apakah aplikasi GCG masuk juga ke ranah organisasi birokrasi pemerintahan?

Kalau ranah organisasi pemerintah namanya Good Public Governance. Prinsipnya sama, variabelnya yang beda, scope-nya juga lebih luas karena melibatkan tiga pilar; pemerintah itu sendiri, dunia usaha, dan masyarakat luas. Ketiga pilar itulah yang nantinya akan menentukan terciptanya Good Public Governance. Semua memainkan peranannya masing-masing. Jadi, pada organisasi pemerintahan juga menjadi keniscayaan.

Birokrasi pemerintahan selalu dipersepsi sebagai organisasi lamban dan tidak inovatif. Apakah bisa ditransformasikan ke birokrasi modern yang punya sikap setanggap korporasi-korporasi modern misalnya?

Wah, pertanyaan yang sungguh luar biasa panjang jawabannya hehehe…. Namun untuk Indonesia, kata kunci sangat signifikan—kalau mau berhasil mentransformasi birokrasi mendekati ketanggapan korporasi—menurut saya itu di sisi leadership. Penting sekali di Indonesia. Beberapa gubernur di Tanah Air, karena punya visi entrepreneurship, mereka bisa melaksanakannya. Sayangnya, mereka sangat kecil jumlahnya. Yang ada adalah leadership yang kental dengan ‘darah politik’. Menurut saya, perlu birokrat-birokrat yang berjiwa entrepreneur sehingga leadership-nya kental juga ke visi inovasi. Jangan habiskan waktu kita hanya untuk politik yang menguras tenaga, pikiran, dan biaya yang luar biasa. Ini era informasi dan abad globalisasi, Bung hehehe…. Satu menit kita “tidur”, satu tahun negara lain sudah berlari. Jadi menurut saya, pada saat ini leadership-lah yang menentukan “hitam-putih” organisasi pemerintahan.

Apakah model GCG mampu mengakomodasi pandangan Anda tersebut. Atau, Anda berminat mengembangkan model-model baru untuk modernisasi birokrasi?

Saya ada ‘mimpi” ke sana. Mudah-mudahan juga bisa memberi sumbangsih yang signifikan untuk masyarakat kita. Model GCG tentu mampu mengakomodirnya. Tentunya diperlukan political will untuk itu. Dengan kata lain, prinsip GCG adalah meletakkan ‘kamar’ masing-masing organ organisasi sesuai pada tempatnya. Jadi, prinsip-prinsip GCG sangat diperlukan untuk modernisasi organisasi pemerintah. Doakan kerja saya itu ya….

Ok, kalau ada permintaan pelatihan-pelatihan untuk birokrasi pemerintahan daerah misalnya, apakah tertarik dan siap meladeni?

Itu sudah saya jalani itu. Misalnya, di Permerintahan Daerah Sabang. Sangat menarik itu. Menata Good Governance di daerah istimewa, di wilayah yang istimewa juga. Saya sangat siap.

Untuk menyelesaikan setiap buku yang Anda tulis, rata-rata butuh berapa lama?

Lebih kurang satu bulan, itu sudah draf final. Jadi minus layout, editing, advice konsultan, cover, minta endorsement, dsb.

Buku-buku Anda padat dengan referensi teori. Bagaimana teknik menulis buku semi ilmiah seperti itu dalam waktu singkat?

Pertama, jadikan menulis sebagai ‘darah daging’ kita, denyut jantung kita. Itu untuk menorehkan sejarah emas selama kita masih bisa berkarya di dunia ini. Dengan demikian, kita akan mencintai pekerjaan kita sebagai penulis. Akan ada sejumlah energi yang sungguh dahsyat yang membuat kita dibimbing dari Langit untuk menulis dengan lancar. Kayak air mengalir hehehe… Dengan demikian kita tidak pernah merasa lelah menulis. Dan, apa yang kita dengar, apa yang kita lihat, apa yang kita baca, semuanya bisa jadi referensi untuk menulis. Alam semesta adalah guru, bertemu kolega adalah guru. Bahkan, bertemu pengemis dan minta tolong sama pembantu adalah guru juga. Mereka juga profesor-profesor saya, selain buku-buku yang saya baca.

Wilson Arafat bersama koleganya Prof. Dr. Roy Sembel

Dan, kata Anda menulis juga perlu berdoa?

Ya, jangan pernah lupa berdoa ketika menulis. Mohon kepada-Nya supaya dibimbing untuk menulis dan hanya memberikan hal yang berharga kepada ‘dunia’. Percaya atau tidak, ini adalah kekuatan yang paling dahsyat. Menurut saya, itu soft side kita dalam menulis. Selain itu, kita perlu hardside-nya. Kita harus piawai dengan ilmu menulis dan harus menguasai ilmu yang kita tulis. Belajar ilmu menulis di antaranya ikut workshop menulis, bergaul dengan komunitas dan penulis andal seperti Edy Zaqeus hehehe….

Kalau cara menguasai bidang kepenulisan kita, ada kiatnya?

Kiat menguasai ilmu yang ditulis, saya juga punya. Kita harus paralel dengan apa yang kita kerjakan sehari-hari. Sepuluh tahun terakhir saya bergelut dengan GCG. Menjadi narasumber workshop, seminar, dan juga langsung terjun ke lapangan. Saya merasakan ‘denyut nadi’ berbagai persoalan yang terjadi di lapangan. Selain itu, kita harus membaca banyak literatur. Dengan demikian, pekerjaaan sukses dan bisa pula berkarya lewat goresan pena, malah bertambah lancar. Intinya adalah bekerja dan menulis dengan smart, itu orang-orang sukses yang bilang.

Satu-satu saja, ya. Penghargaan untuk tema GCG antara lain; pertama, dari Center for Good Corporate Governance, FE UGM. Kedua, dari Bank Indonesia. Ketiga, dari BPKP. Keempat, dari Bank BNI dapat dua kali penghargaan. Kelima dari Universitas Trisakti. Sedang untuk tema marketing; pertama, dari Nokia Marketing Award saya menang dua kali penghargaan. Kedua, dari Bank BTN. Sementara untuk tema perbankan; pertama, dari LP3ES dan Yayasan Damandiri, dan kedua dari Universitas Indonesia.

Apa rahasianya bisa menang kompetisi penulisan begitu seringnya?

Rahasianya ada empat. Pertama, tulisannya harus sistematis, mengalir, dan pilihan katanya ada “kekuatan” besar. Kedua, tulisan harus original. Hal ini dapat kita tuangkan melaui model, inovasi, dan tak lupa harus applicable serta cost effective. Ketiga, tulisan harus memberikan value yang berharga, misalnya mengandung usulan yang bermanfaat bagi perusahaan yang menerapkkannya. Keempat, jangan lupa berdoa sebelum enter atau mengirim ke panitia lomba hehehe….

Wilson juga aktif membagikan ilmunya melalui sejumlah talkshow

Dalam karya-karya seperti itu, bagaimana peran dan proporsi referensi teori, analisis, kasus, dan opini pribadi?

Semua memainkan peranan yang sungguh besar, seperti mobil ada stir, ban, velg, rem, dashboard, dll. Semua memainkan peranan penting. Bagaimana mobil BMW yang mahal itu kalau tanpa ban tanpa stir? Teori membentuk kerangka berpikir kita, framework yang terarah. Kasus akan melihat best practice atau benchmarking yang sangat penting untuk aplikasi konsep atau teori yang ada. Analisis dan opini adalah ‘value‘ yang kita tawarkan berdasarkan teori dan kasus yang kita kuasai tadi. Di sinilah letaknya nilai tulisan kita. Kita bicara teori dan konsep yang diselaraskan dengan data dan fakta. Lalu kita lontarkan value yang menurut kita bermanfaat.

Setiap lomba penulisan pasti punya persyaratan tema dan teknis penulisan. Bagaimana Anda mencermati itu sehingga Anda selalu berhasil memenangkan penjurian?

Cermati dengan sangat saksama persyatannya. Prediksikan apa yang diinginkan oleh lembaga penyelenggaranya. Itu harus kita pahami benar. Setelah itu, baru kita kumpulkan segenap informasi yang akan memenuhi persyaratan dan keinginan lembaga penyelenggara. Baru kemudian menulis dengan bahasa yang punya power, mengalir. Dan, buatlah sesuatu value yang berharga sebagai saran yang kita lontarkan sehingga karya kita dihargai oleh penyelenggara. Jangan lupa, itu harus beda dengan yang sudah ada, harus orisinal, ada inovasi dari penulis. Kalau kita berhasil membuat tulisan seperti itu, biasanya juara hehehe….

Dengan kata lain, harus ada riset untuk setiap tulisan?

Iya, bisa dikatakan begitu. Terutama untuk karya ilmiah. Kalau berbentuk tulisan atau artikel pendek, kita cukup menjalin riset ‘kecil-kecilan’ berdasarkan apa yang dilihat, didengar, dibaca, dan ditulis dengan bahasa yang padat.

Apakah harus selalu ada ide-ide inovatif dan kreatif dalam setiap karya tulis untuk perlombaan?

Penyelenggara mau memberi hadiah yang besar tentu untuk ‘membeli’ ide, bukan? Menurut saya, itu keharusan kalau mau juara hehehe…. Ide yang kreatif dan inovatiflah yang dicari.

Bagaimana cara menyemaikan ide-ide kreatif dan inovatif itu? Susah dipaksa muncul kalau memang tidak ada?

Menurut saya, ide itu seluas langit dan bumi. Terlalu banyak, di Indonesia ini, yang harus diinovasikan dan dikreatifkan. Berpikir saja bagaimana supaya lebih mudah, lebih murah, lebih cepat, lebih reliable, lebih… lebih… dan lebih, itu ‘pasti’ akan inovatif dan kreatif. Kita paparkan teori, fakta, kita tawarkan ide dan value, kita tunjukkan caranya, lalu kita buktikan itu bisa lebih murah, lebih cepat, lebih, lebih, dan lebih…. Begitu kalau dari pengalaman saya.

Apakah dalam menulis karya untuk lomba Anda juga sudah mengantisipasi tulisan-tulisan kontestan lain akan seperti apa, sehingga mungkin dari situ Anda bisa menyajikan nilai lebih tersendiri?

Kalau peserta lain saya ‘tidak peduli’ hehehe…. Tanda petik, ya. Cuma saya mencari artikel di luar yang terbaik, kata Tung Desem (motivator: red) bergurulah pada orang nomor 1. Makanya, saya cari yang terbaik di bidang yang saya tulis. Kalau GCG namanya Sir Adrian Cadbury, dialah yang dianggap sebagai salah satu suhunya. Kalau menulis, ya berguru pada Edy Zaqeus hehehe…. Jadi, saya berusaha ‘menyaingi’ penulis terbaik di bidang yang ditulis. Kalau bisa saya harus lebih. Soal peserta lain, biarin saja mereka mau menulis apa hehehe….

Wilson Arafat: keluarga tetaplah nomor satu dan sumber inspirasi

Sejauh ini, apa manfaat yang bisa Anda petik dari proses penulisan buku maupun karya-karya ilmiah?

Sangat sinergis, saling mendukung. Menulis adalah salah satu bagian dari ‘menorehkan’ track record penulisanya. Menulis akan membentuk image yang baik. Terlebih lagi, kata Publilius Cyrus, “Good reputable is more valuable than money.” Lebih berharga dari tumpukan pundi-pundi, lho…. Jadi, manfaatnya banyak sekali. Dari segi ilmu kita bertambah, dari image itu menopang kita, dari penghasilan cukuplah hehehe…. Dari sisi teman, tambah banyak network. Kata orang, high risk high return. Maka, menulis itu high return no risk. Bahkan, pekerjaan saya sebagai pembicara publik dan konsultan jadi mudah dipercaya orang. Intinya, menulis sangat menopang karier kita.

Kalau menulis buku seperti George Aditjondro itu high risk, enggak?

Hahaha…. Itu bukan ranah saya. Apa lagi saya belum baca….

Iya, bercanda. Ok, terima kasih wawancaranya. Sukses untuk Anda!

Baik, mudah-mudahan bisa mengispirasi dan bermanfaat bagi teman-teman semua. Terima kasih. Salam bestseller![ez]

* Foto-foto: dokumentasi pribadi.

** Wawancara ini sebelumnya dimuat di AndaLuarBiasa.com.