Tags

,

Edy Zaqeus

EDY ZAQEUS, pria kelahiran 24 Maret 1971. Pernikahannya dengan Francisca Sukeisih telah dianugerahi seorang putra bernama Vincent Dyas. Aktivitas Edy boleh dibilang seabrek, di bidang penulisan, pengeditan, penerbitan, pelatihan kepenulisan, dan lain-lain. Ia sangat tertarik terhadap ide-de inovatif, kreatif, dan semua hal yang positif.

Di sela-sela aktivitasnya, editor sejumlah buku bestseller dan pendamping puluhan penulis buku dalam melahirkan buku-buku terbaik ini tak lupa mendengarkan musik, seperti lagu-lagu dari Peterpan, D’Masiv, dan Kla Project. Sementara itu, acara televisi favoritnya antara lain Bukan 4 Mata, Si Bolang, Mancing Mania, dan Laptop Si Unyil.

Sebagai penulis buku, ia tentu rajin membaca dan buku-buku bernapaskan motivasi, entrepreneur, leadership, dan cerita sukses tidak pernah absen dibacanya. Sedangkan buku yang ditulis Edy Zaqeus, antara lain Kalau Mau Kaya Ngapain Sekolah (Gradien, 2004), Resep Cespleng Menulis Buku Best Seller (Gradien, 2005), dan Bob Sadino: Mereka Bilang Saya Gila! (Kintamani, 2009).

Mas Edy yang selalu kreatif ini bersedia meluangkan waktunya untuk buahaticerdas, berbincang tentang banyak hal. Berikut ini hasil wawancaranya untuk para pembaca.

Apa arti keluarga bagi Mas Edy?
Ini pertanyaan sederhana yang susah dijawab secara singkat. Keluarga bagi saya adalah orientasi, motivasi, dan penjuru hidup saya. Saya merasa berarti kalau bisa mempersembahkan sesuatu yang terbaik buat keluarga. Dan, saya akan terus berjuang untuk bisa melakukan idealisme tersebut. Mudah diucapkan ya, tapi sulit sekali pelaksanaannya.

Banyak orang selalu menyorot peran perempuan dalam keluarga, nah menurut Mas, bagaimana peran prianya?
Saya bersama istri sudah berkomitmen, kami berdua adalah tiang keluarga, yang keduanya harus sama kokohnya dalam menopang kehidupan keluarga. Kami ada pembagian tugas, tetapi kami juga nyaris harus sama mampunya untuk saling menggantikan. Contoh untuk membimbing anak, kami selalu seimbang dalam berbagi masukan dan cara. Jadi dengan begini rasanya asyik dan kompak banget hehehe…

Di antara kesibukan Mas Edy, seberapa besar inspirasi yang muncul dari kehidupan keluarga?
Karena arti keluarga yang sedemikian dalam di benak saya, otomatis keluarga selalu menjadi sumber inspirasi. Bahkan, mungkin tidak ada aktivitas saya yang tidak di-drive oleh kecintaan saya kepada keluarga. Saya kira kebanyakan orang seperti ini juga, dikatakan atau tidak… disadari atau tidak.

Gimana cara mengatasi persoalan “ketika waktu nggak terasa cukup” untuk dibagi antara kegiatan/karier dengan kehidupan keluarga?
Untungnya sebagai penulis dan writer coach saya punya waktu berlimpah untuk keluarga. Saya juga punya kesempatan yang sangat jarang dimiliki oleh orang bekerja pada umumnya. Saya hampir setiap hari bersama keluarga saya, anak dan istri saya… menikmati waktu bersama mereka.

Apa saja kiat Mas Edy dalam meningkatkan kecerdasan karena sebagai penulis kan harus cerdas?
Waktu SMA dulu saya pernah disebut murid “pupuk bawang” alias tidak masuk perhitungan anak yang serius sekolahnya. Ranking 4 dari bawah, dari 48 siswa, juga pernah saya alami. Jadi aslinya saya tidak berani mengklaim diri cerdas hehehe… Kalau sudah begitu, mana berani saya kasih tip-tip untuk meningkatkan kecerdasan hehehe….

Dari jawaban Mas Edy, itu sudah terasa kok kecerdasannya. Kalau ukuran sukses menurut Mas seperti apa?
Sukses itu bagi saya sederhana. Kalau saya bisa melakukan apa atau mendapatkan apa yang saya inginkan dengan cara yang saya mau, ya itu sudah sukses. Misalnya, dulu waktu masih menjadi wartawan, saya merasa apa yang saya dapatkan dibanding dengan apa yang saya lakukan tidak klop. Saya ingin punya waktu lebih banyak dan mendapatkan hasil yang cukup atau memadai saja. Ketika saya berhasil keluar dari “belenggu” profesi tadi, dan menemukan bidang baru yang lebih memberikan kepuasan batin maupun finansial, itu sudah sukses menurut saya. Bisa menikmati hidup sebagaimana yang saya mau itu sukses namanya.

Vincent sedang "membaca" buku bapaknya

Gimana Mas Edy menularkan kreativitas kepada anak?
Saya tidak tahu apakah yang saya lakukan itu cara menularkan kreativitas. Yang pasti, saya suka sekali bermain dengan Vincent, anak saya yang sekarang usianya 2 tahun 4 bulan. Suka menemani dia melakukan aktivitas apa saja. Lalu ngobrol terus setiap saat dengan dia, menganggap dia sebagai ‘orang’ yang sudah punya pikiran sendiri.

Memberi semangat dia kalau lagi demo joget Jacko…. Anak saya demen sekali joget ala Michael Jackson. Sampai-sampai mengidentifikasikan dirinya dengan Jacko.

Kalau untuk ayah yang memang kerja kantoran, saran Mas biar sang ayah tetap “di hati” anaknya?
Kebetulan pas saya sudah punya anak, saya sudah bekerja di rumah, jadi mungkin saran saya tidak valid hehehe… Sediakan saja waktu-waktu khusus untuk anak. Tidak melulu soal kuantitas waktu dan frekuensi yang harus berlebih. Yang penting adalah soal kualitasnya.

Rasanya anak punya hak eksklusif kalau soal waktu khusus ini ya… Yang lain, penuhi saja komitmen waktu khusus tersebut karena ini akan menumbuhkan pengertian bahwa anak dihargai, diperhatikan, dan dipentingkan.

Menumbuhkan kemauan menulis sejak kecil, gimana caranya, Mas?
Nah, ini yang saya belum bisa jawab kalau merujuk anak saya yang masih balita hehehe… Tetapi kalau adik-adik saya, dulu sejak mereka SD atau SMP, saya sudah dorong mereka untuk rajin menulis surat ke saya. Kami kan tinggal beda kota. Juga rajin menulis diari. Yang lain, saya support mereka dengan memberi bacaan-bacaan yang memperluas pengetahuan maupun wawasan mereka. Hasilnya, salah satu adik saya yang masih mahasiswa, sekarang sudah menjadi kolomnis tetap website andaluarbiasa.com. Dia juga sedang merampungkan buku pertamanya. Sementara adik saya yang juga masih mahasiswa tingkat pertama, yang dulunya malas sekali menulis, sekarang pun mulai berlatih menulis. Jadi, tidak sia-sia juga dorongan saya kepada mereka sejak kecil…

Edy memberikan pelatihan menulis untuk kalangan eksekutif & profesional

Soal buku, Mas, bagaimana kiat memilih buku yang baik?
Ini saran yang sangat subjektif karena berdasar kebiasaan saya pribadi. Dulu saya membeli buku apa saja yang saya asumsikan akan sangat menopang bahan penulisan saya. Belakangan, setelah buku ribuan jumlahnya, saya lebih memilih buku yang unik, yang aneh-aneh, atau yang paling menarik perhatian saya. Jadi, content minded hehehe…

Kalau orang tua ingin mengabadikan kenangan bersama anak lewat tulisan, apa yang pertama kali dilakukan?
Tulisan saja, bentuknya macam-macam. Bisa mulai dengan diari anak atau diari bersama. Istri saya pun melakukannya dengan membuat blog yang isinya khusus perkembangan Vincent dari hari ke hari. Dan ternyata, kami justru banyak belajar lagi dari aktivitas sederhana tersebut. Lihat saja blognya di http://sukeisih.wordpress.com.

Sudah berapa penulis yang lahir dari bimbingan Mas Edy?
Aduh, berapa ya… sudah di atas 30-an deh… Itu untuk klien ya, dalam artian saya sebagai writer coach, professional editor, dan konsultan.

Bagaimana Mas Edy mendefinisikan diri sendiri?
Ini juga pertanyaan yang susah dijawab hahaha…. Ya, saya penulis yang happy aja deh dengan dunia saya, dan saya sungguh menikmati apa yang saya capai di situ.[Oleh: Herry Prasetyo]

Sumber: http://www.buahaticerdas.com/