Para peserta writing camp Proaktif Writer Scholen beraksi memamerkan buku-buku sumbangan ke Macibaku

Oleh: Edy Zaqeus

Seminggu setelah dikampanyekan melalui Facebook, minat rekan-rekan di daerah untuk berpartisipasi atau membentuk cabang Macibaku bermunculan. Ini tentu sesuatu yang sangat positif dan memperlihatkan bahwa virus Macibaku sudah mulai menjalar ke mana-mana.

Terlebih kegiatan Macibaku Pelangi (macibaku pertama yang terbentuk) yang dimotori Dr. Lely Arrianie Napitupulu, Apriyanti Larenta Apri, Nuning Purnamaningsih, dan Dr. Leila Mona Ganiem. Atau lihat Macibaku Habibie yang dijalankan oleh Endang Setyati (keduanya di Jakarta) sudah langsung unjuk karya nyata. Tak kurang dari 76 buku sumbangan masuk dan 152 buku sdh disumbangkan.

Hingga tulisan ini dipublikasikan, setidaknya sudah ada tambahan lagi, yait Macibaku Verbena di Citraraya Tangerang, Macibaku Sinar Kasih di Pondok Gede Jakarta Timur, dan terbaru adalah Macibaku Saraswati di Bali.

Sejalan dengan strategi agar gerakan Macibaku ini menyebar dengan cepat, saya pikir perlu dibuka kesempatan seluas-luasnya bagi individu atau kelompok untuk aktif bermacibaku atau mendirikan macibaku di kota/komunitasnya masing-masing.

Sementara para penggagas Macibaku Indonesia cukup menyediakan pedoman, kode etik, dan materi kelembagaan lain seperti logo, slogan, desain pokok, kiat-kiat beraktivitas, sekaligus menjadi role model bagi macibaku-macibaku di daerah. Sisanya kita beri ruang seluas-luasnya bagi kreativitas para volunteer Macibaku di daerah untuk beraktivitas dan membesarkan macibakunya.

Misalnya, Anda ingin membentuk kelompok Macibaku di komunitas Anda. Apa yang bisa Anda lakukan?

Pertama, tentunya memahami dan menyetujui visi & misi Macibaku.

Kedua, mencari atau mengkreasikan nama sertaan Macibaku yang tepat untuk kelompok/komunitasnya (dalam contoh ini Macibaku Saraswati).

Ketiga, yang bersangkutan bisa langsung mengadakan kegiatan-kegiatan macibaku sesuai dengan contoh-contoh yang ditampilkan dalam dokumentasi kegiatan Macibaku Pelangi atau yang lainnya.

Keempat, menjalankan semua kegiatan dalam koridor kode etik Macibaku (yang akan segera dikeluarkan & akan terus disempurnakan sambil jalan).

Kelima, terus bekerjasama dengan berbagai pihak untuk keberhasilan macibakunya, dan sebisa mungkin melahirkan macibaku-macibaku baru.

Keenam, memberikan laporan kegiatan dan dokumentasi kegiatan macibakunya ke sekretariat pusat.

Dengan strategi ini, baik pribadi maupun kelompok yang ingin sekadar bermacibaku sebagai sebuah spirit dan visi bersama bisa dengan leluasa menjalankannya. Sementara, bagi pribadi maupun kelompok yang ingin punya identitas spesifik dalam bermacibaku, mereka bisa mengkreasikan sendiri macibakunya sesuai dengan pedoman yang ada.

Di sisi lain, para macibakuer senior (yang lebih aktif atau yang mensponsori macibaku yunior) masing-masing kelak bisa berperan sebagai pembimbing atau pembina bagi macibaku daerah. Mirip kalau dalam bisnis MLM sebagai leader bagi downliner yang menduplikasi secara kreatif aktivitas upliner-nya.

Dengan cara ini, setiap macibaku secara mandiri akan berlomba-lomba dalam menjalankan atau menyebarkan virus cibaku. Dan sangat mungkin macibaku yang muncul belakangan atau di daerah dapat lebih besar dari macibaku yang pertama sekalipun. Berlomba-lomba berkontribusi secara positif bagi negeri ini dan dengan menjalankannya berdasarkan kode etik yang disepakati pastilah sangat baik dampaknya bagi masyarakat.[ez]

* Informasi selengkapnya tentang Macibaku, silakan klik: www.macibaku.com.