macibaku.com

Senyum Macibaku... Dari kiri ke kanan: Vincent, Gina, Septi, Alvin, Otniel, & Jasmine, anak-anak di jl. Verbena Citraraya, menerima hadiah buku pengetahuan dasar dari Hanna Fransisca (Penulis buku puisi "Konde Penyair Han") yang disalurkan melalui Macibaku Verbena. Mereka anak-anak usia PAUD/TK tampak senang sekali menerima buku-buku tersebut. Mereka mengucapkan terima kasih kepada Tante Hanna untuk sumbangan bukunya... Salam macibaku..

Oleh: Edy Zaqeus

Dear macibakuers, belakangan saya sering mendapat pertanyaan begini, “Apa kalau mau bermacibaku harus membuat perpustakaan sendiri?” Jawaban saya jelas sekali, “Tidak. Walau Anda hanya punya satu buku, lalu anda pinjamkan atau hadiahkan kepada anggota keluarga, sahabat, teman, atau orang yang anda nilai membutuhkan, itu sudah bermacibaku namanya…”

Biasanya, teman penanya ini lanjut bertanya, “Hah, semudah itu…? Tidak harus ngumpulin banyak buku baru dibagikan?” Jawaban saya berikutnya, “Ya, memang semudah itu. Kalau bisa dipermudah, ngapain dipersulit? Jadi cukup dengan katakanlah komitmen untuk berbagi buku sebulan sekali dan secara konsisten mengampanyekan cinta baca buku, anda sudah bisa membentuk macibaku sendiri… Selanjutnya yang kami tunggu adalah berita-berita aktivitas macibaku anda dalam berbagi dan menggiatkan minat baca masyarakat…”

Bermacibaku memang mudah, khususnya bagi mereka yang sudah terbiasa dengan segala tetek bengek berbau membaca dan buku. Tapi tidak mudah bagi mereka yang jarang bersentuhan dengan buku. Oleh sebab itu, dalam bermacibaku, kita lebih mendorong para macibakuer untuk langsung beraksi mencari cara-cara kreatif guna meningkatkan minat baca orang di sekeliling kita.

Khusus untuk taman bacaan, memang ini ideal sekali bagi macibakuer. Tetapi ini bukan pekerjaan yang mudah atau bisa dilakukan oleh semua orang dengan beragam kesibukan masing-masing. Karena itu, Macibaku Indonesia menekankan agar kita semua lebih condong kepada aksi membagikan buku langsung ke individu-individu yang membutuhkan atau yang menjadi target seruan macibaku secara nasional (misal: Februari para guru SD, Maret para agamawan).

Ada pertimbangan mendasar mengapa aksi-aksi langsung membagikan buku lebih ditekankan dibanding menampung buku dalam sebuah perpustakaan. Pertama memang filosofi awal dari macibaku adalah menjadi “pipa penyalur”, bukannya “ember penampung”. Ini imperatif setiap macibakuer adalah pribadi-pribadi yang sejak awal kita akui hasrat dan kesanggupannya untuk membagikan sesuatu yang bermanfaat kepada masyarakat, sekecil apa pun itu. Sebab hanya dengan satu buku seharga Rp5.000 pun kita sudah bisa berbuat sesuatu, sudah bisa bermacibaku.

Bagaimana dengan sahabat-sahabat yang karena keterbatasannya sungguh-sungguh tidak mampu membagikan buku? Bagaimana mau bagi buku kalau diri sendiri tidak punya buku? Bagaimana mau bagi buku kalau buku yang dipunya cuma beberapa dan itu pun menjadi tumpuan menjalankan tugas sehari-hari?

Nah, di sinilah relevansi filosofi macibaku sebagai pipa penyalur. Kita dengan bekal waktu, tenaga, kreativitas, semangat berbagi, kemauan bekerja keras, dan jejaring yang dimiliki, bisa mencari cara-cara yang pantas, simpatik, dan bermartabat untuk mendapatkan sumbangan buku. Lalu bila buku-buku sumbangan sudah didapat, maka tugas dan tanggung jawab kita untuk segera bermacibaku atau membagikannya kepada pihak-pihak yang membutuhkan, tanpa mengambil keuntungan apa pun dari aktivitas itu.

Alasan berikutnya mengapa macibaku lebih menekankan mengalirkan buku ke individu-individu dibanding mengumpulkannya di perpustakaan adalah karena sifat perpustakaan yang umumnya menunggu pembaca. Sebagaimana yang sering kita lihat di perpustakaan-perpustakaan umum maupun pribadi, selalu proporsinya jauh lebih banyak buku yang “kesepian” daripada buku yang terbaca.

Nah, dengan menghadiahkan buku secara langsung kepada individu-individu, kita boleh sedikit lebih yakin bahwa buku tersebut akan dibaca atau menemukan pembacanya. Apakah ada jaminan? Tidak, tetapi harapan dan keyakinan itu ada. Lagi pula, kita bisa memenuhi sebuah perpustakaan dengan ribuan buku dalam seketika, tetapi boleh jadi kita perlu waktu yang sangat lama supaya buku-buku tersebut dibaca atau menemukan pembacanya. Tetapi jika seribu buku itu diberikan langsung kepada seribu orang dalam waktu yang hampir bersamaan (dengan pesan khas macibaku tentunya), maka bukan tidak mungkin separuh atau lebih dari buku itu langsung atau tidak terlalu lama dibaca juga.

Lalu bagaimana bagi macibakuers yang bermacibaku dengan taman bacaan atau perpustakaan? Nah, ini malah modal yang besar dan kokoh untuk bermacibaku. Dalam artian, taman bacaan bisa menjadi pusat kegiatan macibaku, mulai dari aktivitas membaca, berdiskusi, mendongeng, seminar, atau ajang bertukar dan berbagi buku. Taman bacaan bisa lebih mudah menerima buku dan jangan sampai lupa hanya menjadi ember penampung, tetapi juga rajin mempromosikan supaya taman bacaannya dikunjungi dan bukunya dibaca. Taman bacaan ini juga bisa membagikan sebagian koleksinya, khususnya yang merupakan sumbangan masyarakat, atau yang koleksinya dobel.

Dengan cara di atas, taman bacaan berlabel macibaku tetap bisa menjalankan spirit dan filosofi utamanya untuk selalu berbagi. Sebab macibaku memang ada bukan untuk mengambil dan memiliki, tetapi semata untuk berbagi. Dan berbagi ternyata tidak pernah membuat sesuatu yang dibagi itu berkurang, tetapi malah terus bertambah. Salam macibaku… mari membaca mari berbagi.[ez]

* Kunjungi website macibaku di www.macibaku.com atau ikuti foto-foto kegiatan macibaku di folder foto Macibaku Indonesia.