Blog & Page Resep Cespleng Menulis Buku Bestseller

Apa kabar? Lama sekali tidak posting tulisan di sini. Kegiatan pelatihan, editing, coaching, & menulis buku ternyata cukup menyita waktu. Ok, melalui posting ini saya hendak mengumumkan kepada kawan-kawan, telah lahir blog & page Resep Cespleng Menulis Buku Bestseller (RCMBB).

Pertama, blog RCMBB yang mulai tayang 7 September 2011 ini terutama berisi bab-bab buku RCMBB edisi pertama. Ada 17 bab yang akan ditampilkan secara berurutan, sehingga kawan-kawan yang tidak sempat baca buku tersebut serta ingin mengikuti secara berurutan, silahkan mengikuti up date blog ini.

Kedua, page RCMBB dibuat untuk menyinergikan antara blog dengan komunitas Facebook. Melalui page ini, kawan-kawan yang lebih sering membuka Facebook akan dapat melihat berita update artikel di blog RCMBB. Jadi, page RCMM menjadi semacam ‘papan iklan’ interaktif bagi blog RCMBB.

Oh ya, salah satu alasan mengapa blog & page RCMBB ini dibuat adalah karena beberapa kali saya mendapatkan email dari sejumlah mahasiswa Indonesia di luar negeri yang ingin membaca buku RCMBB. Namun karena mahalnya biaya ongkos kirim, atau sulitnya mendapatkan buku yang sudah tidak dicetak lagi tersebut (kecuali buku RCMBB Edisi Revisi yang masih tersedia), maka saya putuskan untuk membagikan isi buku tersebut supaya bisa diikuti secara berurutan. Harapannya, dengan membaca bab-bab RCMBB di blog tersebut, tentu supaya semakin banyak mahasiswa kita di luar negeri yang mau menulis buku.

Baik, terima kasih sudah membaca pengumuman ini. Selamat mengikuti blog & page RCMBB, sukses selalu, dan mari tetap semangat menulis. Salam. [ez]

 

Leave a Comment

Filed under Announcement

Filosofi Macibaku: Menjadi Pipa Penyalur Bukan Ember Penampung

macibaku.com

Senyum Macibaku... Dari kiri ke kanan: Vincent, Gina, Septi, Alvin, Otniel, & Jasmine, anak-anak di jl. Verbena Citraraya, menerima hadiah buku pengetahuan dasar dari Hanna Fransisca (Penulis buku puisi "Konde Penyair Han") yang disalurkan melalui Macibaku Verbena. Mereka anak-anak usia PAUD/TK tampak senang sekali menerima buku-buku tersebut. Mereka mengucapkan terima kasih kepada Tante Hanna untuk sumbangan bukunya... Salam macibaku..

Oleh: Edy Zaqeus

Dear macibakuers, belakangan saya sering mendapat pertanyaan begini, “Apa kalau mau bermacibaku harus membuat perpustakaan sendiri?” Jawaban saya jelas sekali, “Tidak. Walau Anda hanya punya satu buku, lalu anda pinjamkan atau hadiahkan kepada anggota keluarga, sahabat, teman, atau orang yang anda nilai membutuhkan, itu sudah bermacibaku namanya…”

Biasanya, teman penanya ini lanjut bertanya, “Hah, semudah itu…? Tidak harus ngumpulin banyak buku baru dibagikan?” Jawaban saya berikutnya, “Ya, memang semudah itu. Kalau bisa dipermudah, ngapain dipersulit? Jadi cukup dengan katakanlah komitmen untuk berbagi buku sebulan sekali dan secara konsisten mengampanyekan cinta baca buku, anda sudah bisa membentuk macibaku sendiri… Selanjutnya yang kami tunggu adalah berita-berita aktivitas macibaku anda dalam berbagi dan menggiatkan minat baca masyarakat…”

Bermacibaku memang mudah, khususnya bagi mereka yang sudah terbiasa dengan segala tetek bengek berbau membaca dan buku. Tapi tidak mudah bagi mereka yang jarang bersentuhan dengan buku. Oleh sebab itu, dalam bermacibaku, kita lebih mendorong para macibakuer untuk langsung beraksi mencari cara-cara kreatif guna meningkatkan minat baca orang di sekeliling kita.

Khusus untuk taman bacaan, memang ini ideal sekali bagi macibakuer. Tetapi ini bukan pekerjaan yang mudah atau bisa dilakukan oleh semua orang dengan beragam kesibukan masing-masing. Karena itu, Macibaku Indonesia menekankan agar kita semua lebih condong kepada aksi membagikan buku langsung ke individu-individu yang membutuhkan atau yang menjadi target seruan macibaku secara nasional (misal: Februari para guru SD, Maret para agamawan).

Ada pertimbangan mendasar mengapa aksi-aksi langsung membagikan buku lebih ditekankan dibanding menampung buku dalam sebuah perpustakaan. Pertama memang filosofi awal dari macibaku adalah menjadi “pipa penyalur”, bukannya “ember penampung”. Ini imperatif setiap macibakuer adalah pribadi-pribadi yang sejak awal kita akui hasrat dan kesanggupannya untuk membagikan sesuatu yang bermanfaat kepada masyarakat, sekecil apa pun itu. Sebab hanya dengan satu buku seharga Rp5.000 pun kita sudah bisa berbuat sesuatu, sudah bisa bermacibaku.

Bagaimana dengan sahabat-sahabat yang karena keterbatasannya sungguh-sungguh tidak mampu membagikan buku? Bagaimana mau bagi buku kalau diri sendiri tidak punya buku? Bagaimana mau bagi buku kalau buku yang dipunya cuma beberapa dan itu pun menjadi tumpuan menjalankan tugas sehari-hari?

Nah, di sinilah relevansi filosofi macibaku sebagai pipa penyalur. Kita dengan bekal waktu, tenaga, kreativitas, semangat berbagi, kemauan bekerja keras, dan jejaring yang dimiliki, bisa mencari cara-cara yang pantas, simpatik, dan bermartabat untuk mendapatkan sumbangan buku. Lalu bila buku-buku sumbangan sudah didapat, maka tugas dan tanggung jawab kita untuk segera bermacibaku atau membagikannya kepada pihak-pihak yang membutuhkan, tanpa mengambil keuntungan apa pun dari aktivitas itu.

Alasan berikutnya mengapa macibaku lebih menekankan mengalirkan buku ke individu-individu dibanding mengumpulkannya di perpustakaan adalah karena sifat perpustakaan yang umumnya menunggu pembaca. Sebagaimana yang sering kita lihat di perpustakaan-perpustakaan umum maupun pribadi, selalu proporsinya jauh lebih banyak buku yang “kesepian” daripada buku yang terbaca.

Nah, dengan menghadiahkan buku secara langsung kepada individu-individu, kita boleh sedikit lebih yakin bahwa buku tersebut akan dibaca atau menemukan pembacanya. Apakah ada jaminan? Tidak, tetapi harapan dan keyakinan itu ada. Lagi pula, kita bisa memenuhi sebuah perpustakaan dengan ribuan buku dalam seketika, tetapi boleh jadi kita perlu waktu yang sangat lama supaya buku-buku tersebut dibaca atau menemukan pembacanya. Tetapi jika seribu buku itu diberikan langsung kepada seribu orang dalam waktu yang hampir bersamaan (dengan pesan khas macibaku tentunya), maka bukan tidak mungkin separuh atau lebih dari buku itu langsung atau tidak terlalu lama dibaca juga.

Lalu bagaimana bagi macibakuers yang bermacibaku dengan taman bacaan atau perpustakaan? Nah, ini malah modal yang besar dan kokoh untuk bermacibaku. Dalam artian, taman bacaan bisa menjadi pusat kegiatan macibaku, mulai dari aktivitas membaca, berdiskusi, mendongeng, seminar, atau ajang bertukar dan berbagi buku. Taman bacaan bisa lebih mudah menerima buku dan jangan sampai lupa hanya menjadi ember penampung, tetapi juga rajin mempromosikan supaya taman bacaannya dikunjungi dan bukunya dibaca. Taman bacaan ini juga bisa membagikan sebagian koleksinya, khususnya yang merupakan sumbangan masyarakat, atau yang koleksinya dobel.

Dengan cara di atas, taman bacaan berlabel macibaku tetap bisa menjalankan spirit dan filosofi utamanya untuk selalu berbagi. Sebab macibaku memang ada bukan untuk mengambil dan memiliki, tetapi semata untuk berbagi. Dan berbagi ternyata tidak pernah membuat sesuatu yang dibagi itu berkurang, tetapi malah terus bertambah. Salam macibaku… mari membaca mari berbagi.[ez]

* Kunjungi website macibaku di www.macibaku.com atau ikuti foto-foto kegiatan macibaku di folder foto Macibaku Indonesia.

2 Comments

Filed under Macibaku Indonesia

Kode Etik Macibaku

Macibaku (masyarakat cinta baca dan bagi buku) pada prinsipnya adalah sebuah spirit dari gerakan untuk meningkatkan budaya baca masyarakat denga cara menjadikan pemberian/penghadiahan buku sebagai kebiasaan yang berkembang dan meluas di masyarakat.

Setiap pribadi atau kelompok yang bersepakat dengan visi dan misi Macibaku Indonesia dipersilakan untuk membentuk kelompok Macibaku sendiri di daerah atau komnitasnya masing-masing. Untuk menjaga agar kegiatan macibaku-macibaku ini tetap dalam semangat dan koridor Macibaku Indonesia, maka dirumuskan kode etik sebagai berikut:

1. Semua kegiatan Macibaku tidak boleh dikaitkan dengan kepentingan atau kegiatan politik.

2. Macibaku hanya menerima sumbangan dalam bentuk buku dan semua kegiatan Macibaku tidak boleh diarahkan untuk mendapatkan sumbangan dalam bentuk uang.

3. Setiap kelompok atau unit Macibaku hasil inisiatif pribadi atau kelompok harus bertanggung jawab sepenuhnya atas kegiatan yang mereka adakan.

4. Untuk kepentingan menjalankan aktivitas macibaku dan kampanye cibaku, kelompok-kelompok macibaku diperkenankan menggunakan logo macibaku atau menambahkan nama macibakunya ke logo induk Macibaku Indonesia.

5. Semua buku yang masuk dari para dermawan harus disalurkan kepada pihak-pihak yang membutuhkan serta harus dipertanggungjawabkan kepada pihak penyumbang.

6. Kelompok-kelompok macibaku di daerah diminta untuk mendaftarkan nama dan pengelolanya serta diharuskan memberi laporan kegiatan ke Macibaku Indonesia.

7. Keluarga besar Macibaku diminta untuk terus-menerus mencari cara-cara kreatif dalam menjalankan aktivitas Macibaku.

8. Keluarga besar Macibaku diminta untuk terus-menerus ikut mengampanyekan program-program Macibaku Indonesia.

9. Keluarga besar Macibaku diminta untuk terus-menerus bekerjasama dengan semua pihak demi terealisasinya visi dan misi Macibaku.

10. Keluarga besar Macibaku diminta untuk terus-menerus dan konsisten mendorong setiap pemerintahan daerah atau kepala daerahnya untuk terus berusaha keras meningkatkan minat baca masyarakatnya.

11. Bermacibaku adalah kegiatan nonprofit dan semata-mata ditujukan untuk pengabdian dan pelayanan kepada masyarakat.

12. Setiap acara atau kegiatan Macibaku harus didokumentasikan dan disebarluaskan (diekspose) melalui saluran-saluran komunikasi masyarakat seperti Facebook, Twiter, blog, website, maliling list, dll, dengan tujuan meningkatkan efek kampanye macibaku.

13. Setiap macibakuer (aktivis/pelaku macibaku) memiliki tanggung jawab moral untuk melahirkan para macibakuer baru atau kelompok-kelompok macibaku baru.

14. Dalam konteks aktivitas macibaku, para macibakuer diharapkan mampu menjadi contoh atau role model bagi masyarakat.

15. Macibaku adalah spirit dan kegiatan untuk dan oleh semua golongan masyarakat tanpa memandang perbedaan idiologi, suku, agama, dan ras. Macibaku bersemangat Bhineka Tunggal Ika.

Demikian Kode Etik Macibaku yang akan dikembangkan dan disesuaikan seiring dengan perkembangan aktivitas Macibaku.[www.macibaku.com]

Leave a Comment

Filed under Macibaku Indonesia

Bagaimana Cara Berpartisipasi/Membentuk Macibaku di Daerah?

Para peserta writing camp Proaktif Writer Scholen beraksi memamerkan buku-buku sumbangan ke Macibaku

Oleh: Edy Zaqeus

Seminggu setelah dikampanyekan melalui Facebook, minat rekan-rekan di daerah untuk berpartisipasi atau membentuk cabang Macibaku bermunculan. Ini tentu sesuatu yang sangat positif dan memperlihatkan bahwa virus Macibaku sudah mulai menjalar ke mana-mana.

Terlebih kegiatan Macibaku Pelangi (macibaku pertama yang terbentuk) yang dimotori Dr. Lely Arrianie Napitupulu, Apriyanti Larenta Apri, Nuning Purnamaningsih, dan Dr. Leila Mona Ganiem. Atau lihat Macibaku Habibie yang dijalankan oleh Endang Setyati (keduanya di Jakarta) sudah langsung unjuk karya nyata. Tak kurang dari 76 buku sumbangan masuk dan 152 buku sdh disumbangkan.

Hingga tulisan ini dipublikasikan, setidaknya sudah ada tambahan lagi, yait Macibaku Verbena di Citraraya Tangerang, Macibaku Sinar Kasih di Pondok Gede Jakarta Timur, dan terbaru adalah Macibaku Saraswati di Bali.

Sejalan dengan strategi agar gerakan Macibaku ini menyebar dengan cepat, saya pikir perlu dibuka kesempatan seluas-luasnya bagi individu atau kelompok untuk aktif bermacibaku atau mendirikan macibaku di kota/komunitasnya masing-masing.

Sementara para penggagas Macibaku Indonesia cukup menyediakan pedoman, kode etik, dan materi kelembagaan lain seperti logo, slogan, desain pokok, kiat-kiat beraktivitas, sekaligus menjadi role model bagi macibaku-macibaku di daerah. Sisanya kita beri ruang seluas-luasnya bagi kreativitas para volunteer Macibaku di daerah untuk beraktivitas dan membesarkan macibakunya.

Misalnya, Anda ingin membentuk kelompok Macibaku di komunitas Anda. Apa yang bisa Anda lakukan?

Pertama, tentunya memahami dan menyetujui visi & misi Macibaku.

Kedua, mencari atau mengkreasikan nama sertaan Macibaku yang tepat untuk kelompok/komunitasnya (dalam contoh ini Macibaku Saraswati).

Ketiga, yang bersangkutan bisa langsung mengadakan kegiatan-kegiatan macibaku sesuai dengan contoh-contoh yang ditampilkan dalam dokumentasi kegiatan Macibaku Pelangi atau yang lainnya.

Keempat, menjalankan semua kegiatan dalam koridor kode etik Macibaku (yang akan segera dikeluarkan & akan terus disempurnakan sambil jalan).

Kelima, terus bekerjasama dengan berbagai pihak untuk keberhasilan macibakunya, dan sebisa mungkin melahirkan macibaku-macibaku baru.

Keenam, memberikan laporan kegiatan dan dokumentasi kegiatan macibakunya ke sekretariat pusat.

Dengan strategi ini, baik pribadi maupun kelompok yang ingin sekadar bermacibaku sebagai sebuah spirit dan visi bersama bisa dengan leluasa menjalankannya. Sementara, bagi pribadi maupun kelompok yang ingin punya identitas spesifik dalam bermacibaku, mereka bisa mengkreasikan sendiri macibakunya sesuai dengan pedoman yang ada.

Di sisi lain, para macibakuer senior (yang lebih aktif atau yang mensponsori macibaku yunior) masing-masing kelak bisa berperan sebagai pembimbing atau pembina bagi macibaku daerah. Mirip kalau dalam bisnis MLM sebagai leader bagi downliner yang menduplikasi secara kreatif aktivitas upliner-nya.

Dengan cara ini, setiap macibaku secara mandiri akan berlomba-lomba dalam menjalankan atau menyebarkan virus cibaku. Dan sangat mungkin macibaku yang muncul belakangan atau di daerah dapat lebih besar dari macibaku yang pertama sekalipun. Berlomba-lomba berkontribusi secara positif bagi negeri ini dan dengan menjalankannya berdasarkan kode etik yang disepakati pastilah sangat baik dampaknya bagi masyarakat.[ez]

* Informasi selengkapnya tentang Macibaku, silakan klik: www.macibaku.com.

5 Comments

Filed under Macibaku Indonesia

Macibaku: Sebuah Gerakan untuk Cinta Membaca & Berbagi Buku

masyarakat cinta baca & bagi buku

Macibaku: Mari Membaca Mari Berbagi

Oleh: Edy Zaqeus

Sahabat sekalian, awalnya adalah pemikiran bahwa kita semua pasti ingin berbuat sesuatu yang positif bagi masyarakat kita. Sekecil apa pun perbuatan itu, tetapi sifatnya harus positif, bermanfaat, dan membangun. Kebetulan saja ide berbuat sesuatu ini tumbuh dari mereka yang profesinya sehari-hari bersinggungan dengan aktivitas membaca dan menulis buku. Maka, muncullah gagasan untuk menggerakkan masyarakat supaya gemar atau mencintai aktivitas membaca. Dan salah satu kegiatan utamanya adalah berkampanye dan menularkan virus cinta baca dan bagi buku (cibaku).

Bagaimana konkretnya gerakan ini? Kita bisa mulai dari keluarga sendiri. Kalau selama ini kita memberi perhatian kepada anak, saudara, atau kerabat lainnya dengan bermacam hadiah, kenapa tidak mulai dari sekarang mencoba mengungkapkan kasih perhatian itu dengan memberi buku? Misalnya, anak kita sedang ulang tahun, baru naik kelas, nilai rapornya bagus, diterima di sekolah favorit, atau berprestasi dalam kegiatan ekstrakurikuler, kita berikan hadiah buku.

Demikian juga ketika ada saudara yang menikah, berulang tahun pernikahan, mendapat pekerjaan baru, promosi, pensiun, kita bisa beri hadiah buku. Lalu jika ada tetangga atau rekan di lingkungan kerja mengadakan prosesi-prosesi atau acara yang mana kita bisa menghadiahkan buku, ya kita berikan buku sebagai ungkapan persahabatan dan persaudaraan. Di sini buku tidak harus menggantikan hadiah lainnya, tetapi sementara bisa menjadi hadiah tambahan atau sisipan. Syukur-syukur kita bisa semakin percaya diri untuk menjadikan buku sebagai hadiah yang sungguh-sungguh berharga.

Hal yang perlu ditekankan dalam aktivitas berbagi buku ini adalah pesan utamanya, bahwa membaca itu bermanfaat dan bersifat membangun diri. Lalu, kita bukan sekadar menghadiahi buku, tetapi juga menyelipkan pesan jangan sampai buku itu tidak dibaca atau tidak bermanfaat. Lebih baik buku itu mengalir dan menemukan pembacanya daripada tidak dibaca. Caranya bisa dengan dihadiahkan lagi kepada yang lebih membutuhkan, atau sekadar dipinjamkan. Jadi, jangan biarkan buku-buku yang bermanfaat itu “kesepian” karena tidak menemukan pembacanya, yang mungkin saja sangat membutuhkan isi buku tersebut.

Nah, untuk mewujudkan masyarakat yang memiliki budaya membaca yang tinggi, kita berharap gerakan cinta baca dan bagi buku ini bisa ditularkan mulai dari lingkungan keluarga sampai ke lingkungan sekitar. Budaya butuh pembiasaan dan tindakan-tindakan berkelanjutan. Dan kita semua bisa memulai ambil peran secara individual atau bersama-sama. Tetapi bila tumbuh subur pribadi-pribadi yang tergerak melakukan gerakan ini, pasti kebersamaan akan tercipta dengan sendirinya.

Untuk semakin menggaungkan gerakan ini, persis tanggal 3 Februari 2011 lalu beberapa kawan (Dr. Lely Arrianie, Dr. Leila Mona Ganiem, Nuning Purnamaningsih, Apryanti Larenta Apri, Edy Zaqeus, Aleysius H. Gondosari & Janu Wibowo) membentuk forum yang dinamakan Masyarakat Cinta Baca & Bagi Buku (Macibaku). Forum yang didukung oleh AndaLuarBiasa.com ini difungsikan sebagai tempat berkumpul dalam merumuskan strategi dan program dari gerakan di atas. Dengan moto “Mari Membaca Mari Berbagi” Macibaku juga berfungsi untuk menampung semua individu atau pihak yang ingin terlibat secara mandiri maupun terorganisasi dalam menyebar dan menularkan virus Cibaku.

Saat Macibaku masih dalam tataran ide, beberapa rekan di luar daerah sudah berminat untuk bergabung dan melakukan gerakan bersama-sama. Ini pas sekali dengan visi Macibaku yang tidak berniat memusatkan gerakan di Jakarta, tetapi malah mendorong agar gerakan ini menjalar semarak mungkin di daerah-daerah. Dengan demikian, nantinya usaha menggerakkan masyarakat supaya cinta membaca dan berbagi buku itu bisa berlangsung di setiap daerah dan sifatnya lebih meluas. Para penyumbang buku dari berbagai daerah, yang karena keterbatasan, kesibukan, atau kendala teknis lainnya tidak bisa menyebarkan sendiri, mereka bisa bekerjasama dengan Macibaku-macibaku daerah. Dengan cara ini proses pengumpulan dan penyebaran buku tidak terkendala oleh biaya pengiriman yang sangat mahal.

Nah, melalui tulisan ini, kami dari Macibaku  mengundang sahabat sekalian untuk ikut berpartisipasi dalam gerakan dan penularan virus Cibaku ini. Mari mulai dengan keluarga sendiri, lalu melebar ke lingkungan sekitar dan meluas lagi masyarakat lainnya. Kita semua, setiap pribadi, bisa memulai gerakan ini. Dan apabila ada yang kesulitan menyalurkan buku secara langsung, Macibaku siap membantu menyalurkannya. Baik, terima kasih sudah membaca tulisan ini, selamat membaca dan berbagi buku.[ez]

* Edy Zaqeus adalah seorang penulis, editor, trainer, writer coach, dan pendiri AndaLuarBiasa.com.

Catatan: Macibaku sementara beralamat di Redaksi AndaLuarBiasa.com, Jl. Verbena Blok V-10/9, Graha Pratama – CitraRaya, Tangerang, 15710, Telp: 021-59400515.

 

Untuk visi & misi Macibaku baca di sini: http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150167061358294

11 Comments

Filed under Announcement

Lely Arrianie: Ani Yudhoyono Bukan Politisi, Tapi Bisa Muncul Kalau Melakukan Make Over

Dr. Lely Arrianie MSi, pakar komunikasi politik

Dr. Lely Arrianie MSi, pakar komunikasi politik

Pemilu presiden 2014 masih jauh sekali, tetapi kegenitan melempar wacana capres sudah tampak meriah. Nama tokoh-tokoh seperti Aburizal Bakrie, Megawati, Prabowo Subianto, Sri Mulyani Indrawati, dan Mahfud MD belakangan cukup sering disebut. Bahkan, nama first lady Indonesia, Kristiani Herawati Yudhoyono pun mulai diunjukcobakan dan dikomunikasikan dalam wacana pilpres 2014. Pro dan kontra pun membahana memeriahkan diskusi-diskusi politik ke depan.

Namun dalam perspektif komunikasi politik, apa saja peluang serta halang rintang yang mesti mereka hadapi? Apakah mengomunikasikan calon presiden sejak saat ini sudah tepat waktu? Apa wahana komunikasi politik yang pas untuk menyiarkan potensi mereka? Dan, bagaimana pula efektivitasnya bila dikaitkan dengan realitias bahwa mayoritas pemilih kita adalah pemilih irasional?

Lely Arrianie, pakar komunikasi politik dari Universitas Bengkulu memberikan perspektif berdasar temuan-temuan penelitiannya yang sudah dibukukan dengan judul Komunikasi Politik-Politisi dan Pencitraan di Panggung Politik (Widya Padjajaran, 2010). Menurut Lely, contoh keberhasilan komunikasi politik di negara maju tidak serta merta bisa diaplikasikan di sini. Harus ada modifikasi dan kemas ulang, itu jika ingin mendapatkan hasil yang maksimal.

“Meski dari segi pemasaran politik istilah yang digunakan sama, positioning, targetting, dan segmentasi, menurut saya ketika hendak diterapkan dalam proses komunikasi pemasaran politik, ketiganya harus disesuaikan dengan budaya politik, etika politik, dan bahkan transformasi nilai-nilai kearifan lokal,” papar Lely, yang menyelesaikan studi doktoralnya di Universitas Padjadjaran Bandung, tahun 2006 dengan predikat cum laude ini.

Untuk mengetahui lebih jauh sisi-sisi terpenting dari komunikasi dan pemasaran politik, secara khusus Edy Zaqeus dari AndaLuarBiasa.com mewawancarai Lely Arrianie yang kelahiran Tanjung Enim, 2 April 1966 ini. Berikut petikan wawancara yang dilakukan melalui situs jejaring sosial Facebook belum lama berselang:

Sekarang wacana calon-calon presiden mulai bergulir. Dari sisi komunikasi politik, apakah ini sudah waktunya atau terlalu pagi?

Tergantung siapa yang memandangnya. Bagi rakyat, masyarakat kebanyakan, jelas ini enggak penting-penting amat. Bukan masih pagi, tapi terlalu subuh, fajar hehehe. Tapi bagi mereka yang menggagas program dan kepentingan politik partainya, jelas ini adalah lonceng, bedug, dan terompet yang harus segera dimainkan. Tapi menyedihkan jadinya, mengingat pascapemilu 2009 nyatanya pemenang prosesi pemilu pun belum menunjukkan bagaimana merealisasikan program.

Salah satu alasan mewacanakan capres lebih awal adalah untuk “testing the water”. Ibaratnya, melempar satu nama capres atau produk untuk melihat-lihat reaksi pasar. Masuk akalkah?

Enggak juga. Nyatanya yang digadang-gadang akhirnya masuk karung juga. Sekarang saya tanya balik. Antara kredibilitas dan popularitas mana yang berpeluang lebih besar untuk terus melenggang menjajal tujuan politik? Ingat kasus Amien Rais pascareformasi? Apa yang kurang dari popularitas dia? Apa yang tak pas dilihat dari kredibilitasnya? Lagi pula, dua kali kasus kenaikan ke kursi presiden nyatanya muncul karena merasa “iba” terhadap calon yang dizalimi, bukan? Pasar politik tidak sama dengan pasar ekonomi. Makanya, saya bilang politik itu komedi dilihat dari dekat, tapi tragedi dilihat dari jauh.

Dalam ranah survei politik ada pembedaan antara popularitas seseorang dengan tingkat elektabilitasnya. Dari perspektif komunikasi politik, bagaimana menyinkronkan keduanya supaya popularitas berdampak pada peningkatan elektabilitas?

Survei kadang bisa tergantung pesanan. Yang popular belum tentu elektabilitasnya tinggi, yang elektabilitasnya tinggi kadang tidak muncul dari proses meritokrasi. Tapi penyelenggara survei semacam ini pelan-pelan akan terdegradasi. Pernah dengar anekdot 3-D? Alias, duit, doa, dan dukun. Nah, di zaman gonjang-ganjing politik seperti ini, kenapa mereka berani berspekulasi dengan segala upaya pencitraan diri tadi?

Ongkos politik memang mahal, tapi tetap miskin subisatansi. Orang tiba-tiba dianggap bercitra. Pemilih seperti ditawarkan kucing dalam karung. Tapi bagi saya, orang yang popular pun tidak hanya perlu popular di media, tapi juga harus mengakar ke publilk. Jadi, kadang keduanya antara popularitas dan elektabilitas bisa dipertemukan, tetapi kadang juga tidak.

Lely: komunikasi politik kita banyak yang sifatnya manipulatif

Lely: komunikasi politik kita banyak yang sifatnya manipulatif

Para politisi belajar banyak dari kasus kekalahan Jusuf Kalla dan Wiranto pada pemilu presiden 2009 lalu. Mereka start sangat terlambat dan akhirnya gagal. Ditinjau dari perspektif komunikasi politik, apakah mewacanakan calon kandidat presiden mulai sekarang percuma saja?

Bukan masalah start , tetapi masalah mesin politik yang memang bekerja atau tidak. Menurut saya, ke depan partai politik seharusnya berfungsi untuk memanajerialkan tokoh, kader, dan aktivis partainya. Sehingga, ketika sang tokoh, kader, dan aktivis dimunculkan untuk menduduki peran presiden atau kepala daerah sekalipun, semua bergerak untuk menjelaskan ke publik. Bahwa, sang tokohlah yang memang layak menjadi pilihan. Sederhana, bukan? Tapi, karena politik adalah perang tak berdarah dan perang adalah politik berdarah, maka yang terjadi orang-orang memanfaatkan partai tidak dalam kapasitas yang sejalan dengan ideologi partai pun tampaknya dianggap tak masalah.

Menyangkut wahana komunikasi politik untuk meningkatkan popularitas dan elektabilitas. Sebenarnya mana yang paling efektif, komunikasi langsung ke konstituen ataukah melalui media massa, cetak, maupun elektronik?

Tadi kan kubilang “bersinar di media” tetapi (harus juga) mengakar ke publik. Kalau media biasanya dengan agenda setting selalu menganggap, bahwa apa yang dianggap penting oleh media maka dianggap penting oleh publik. Sehingga, dengan berbagai cara analisis framing berita tentang si tokoh, baik isi atau content-nya dengan segala literasi politik sang tokoh, dianggap bisa menjadi popular. Nyatanya, akhirnya kembali ke pemilih juga.

Ingat kasus iklan Sutrisno Bachir dan Rizal Malarangeng yang dimunculkan bertubi-tubi, hanya popular sesaat, bukan? Tapi yang jelas media dianggap mampu membenuntuk opini publik, asalkan tepat. Nah, kalau pemilihan kepala daerahnya di Papua sana, lalu pakai iklan di Jak Tv, pas enggak?

Dalam disiplin komunikasi politik, apakah ada strategi atau teknik yang memadupadankan antara karakter seorang calon presiden misalnya, dengan pilihan model kemasan komunikasi politik?

Oh, banyak… Tapi kan orang Indonesia latah? Mentang-mentang Obama menang terus gaya dan teknik pemasaran politik Obama dikira sama bisa digunakan juga di Indonesia. Meski dari segi pemasaran politik istilah yang digunakan sama, positioning, targetting, dan segmentasi, menurut saya ketika hendak diterapkan dalam proses komunikasi pemasaran politik, ketiganya harus disesuaikan dengan budaya politik, etika politik, dan bahkan transformasi nilai-nilai kearifan lokal.

Tapi, kan model komunikasi politik kita begitu acak. Sehingga, bisakah kita membedakan gaya komunikasi politik seorang calon dari partai yang berbasis agama, nasional, ataupun sebenarnya diam-diam bergaya komunikasi politik tradional? Apa yang dikatakan pemimpin partainya adalah harga yang tidak bisa ditawar, dibantah, dan diabaikan misalnya.

Untuk ketidakjelasan pola komunikasi politik yang tidak bersesuaian antara garis ideologi partai dengan gaya personal sang calon, apa ada “obat mujarabnya” di tengah bervariasinya demografi dan latar belakang calon pemilih?

Menurut saya agak susah. Kita kan sudah terpola dengan gaya komunikasi sesuai langgam masing-masing. Apa bisa Anda bedakan andaikan Ruhut Sitompul dan Anas Urbaningrum bertarung? Keduanya dari partai yang sama, ideologi, platform juga sama. Tapi lihat literasinya. Idialek, bukan dialek keduanya… Anas gayanya bahkan lebih mirip Maruarar Sirait, kan? Nah, persepsi berbasis demografi membelah personal branding calon dalam kekhasan kemasan yang sebenarnya penuh manipulasi juga. Apa boleh buat, itulah fenomenanya sekaligus dinamika politik yang kita hadapi, entah sampai kapan.

Lely saat mewawancarai narasumber aktivis dalam penelitian politiknya

Lely saat mewawancarai narasumber aktivis dalam penelitian politiknya

Mari menukik ke contoh konkret. Tiga nama perempuan disebut-sebut berpeluang maju ke pemilu presiden 2014, Ani Yudhoyono, Megawati soekarnoputri, dan Sri Mulyani Indrawati. Singkat saja, apa kelemahan dan kekuatan masing-masing dari sisi komunikasi politik?

Ani Yudhoyono, mungkin karena terlahir dari seorang Sarwo Edi yang notabene adalah tokoh militer yang disegani, ada nuansa maskulinitas yang dia tampilkan. Tapi, dia tetap tidak bisa disejajarkan dengan seorang Aisyah Amini (politisi senior PPP) yang pernah dianggap Margaret Thatcher-nya Indonesia. Ani Yudhoyono bukan politisi, tapi mendampingi pemimpin negara yang juga ketua dewan pembina partai politik. Dia juga tidak bisa disandingkan dengan Hillary Clinton yang mengembangkan naluri politknya. Tapi, dia bisa muncul kalau diterjunkan, diceburkan, dengan terlebih dahulu melakukan make over.

Megawati mungkin tidak akan tampil lagi. Meski pemilu kemarin suara pemilih masih cukup besar, diam, tapi teguh dalam sikap politik. Tetap konsisten dalam garis oposisi. Lalu Sri Mulyani, saya pikir dia perempuan pintar, tapi mabok ketika bersentuhan dengan politik. Sehingga, dia diskenariokan lari dari tanggung jawab pun dia menganggap adalah sebuah kebenaran. Separuh maskulin dan setengah femininitas.

Bagaimana dengan tiga kandidat pria yang paling sering disebut saat ini, yaitu Aburizal Bakrie, Prabowo Subianto, dan yang dari non partai Mahfud MD?

Ketiganya berpeluang sama tapi dengan kriteria dan standard error yang berbeda. Eh, ini bahasa kuantitatif ya. Tapi enggak apa apa juga, sebentar lagi akan bermunculan kalkulasi kuantitatif dari lembaga survei, yang sebagian besar justru disiapkan oleh mereka yang ingin, akan, dan “dijerumuskan”, “terjerumus”, dan “menjerumuskan” diri dalam pertarungan politik itu. Kesiapan partai yang mengusung yang berkolaborasi dengan kesiapan calon dan semua jajaran tim sukses, termasuk menyiapkan intrik politiknya, akan menempatkan mereka sebagai balon. Kemudian, mereka menjadi calon yang akan “dijual” serta bagaimana ketiganya “menjual diri politik”.

Jadi baik Ical, Prabowo, atau Mahfud punya kans untuk itu. Jika dibandingkan kemenangan Partai Demokrat yang spektakuler pada pemilu lalu, yang disisipi aroma “Century”, membuat kita bisa berasumsi bahwa “uang” bisa memenangkan sebuah prosesi setingkat pemilihan kepala desa sekalipun. Pengalaman sebagai calon, posisi incumbent dengan fasilitas politik yang dimanfaatkan calon juga menjadi pembelajaran politik yang cukup efektif untuk bertarung. Tapi, harga sebuah “idealisme” seperti Mahfud MD mungkin tidak cukup popular di mata pemilih yang “irasional”, bukan? Sebab, masalahnya rata-rata pemilih kita memang kebanyakan irasional. Kepentingan sesaat jauh lebih dominan.

Mungkin juga karena kebanyakan masyarakat “lapar” dan permisif. Sehingga, ketika mereka menyadari bahwa hampir pasti komunikasi antara pemilih dan yang dipilih selesai ketika yang dipilih “terpilih”, maka sikap irasional menjadi rasional. Simbiosis mutualis antara yang memilih dan yang dipilih. Jadi, silahkan prediksi antara Ical, Prabowo, dan Mahfud berhadapan dengan pemilih yang irasional tadi.

Dari perspektif komunikasi politik, bagaimana cara memecah kebuntuan pemilih irasional tersebut?

Pemilih irasional akan tetap ada, terus ada, dan itu berlangsung terus sepanjang prosesi politik lebih mengedepankan untuk hanya siap mendapatkan kemenangan. Sehingga, kekalahan dianggap sebagai aib. Tetapi, menurut saya yang mengakar ke publik pemilih irasional bisa menjadi rasional. Dulu, ketika teori ethos, logos, dan pathos Aristoteles begitu diaplisasikan dalam pendekatan komunikasi massa, beberapa bagian yang ditawarkan Aristoteles relevan juga. Nyatanya ketika bungkusan atau kemasan pencitraan menyerbu dalam semua ruang hampa, pemilih yang rasional pun menjadi tidak rasional.

Ketika SBY dikemas sedemikian rupa, ia dipilih oleh ibu-ibu karena ganteng. Dipilih oleh bapak-bapak karena dizalimi. Dulu juga di negeri uwak Kennedy dia cukup lari di pantai berpasir sambil bertelanjang dada dengan postur tubuh proporsionalnya, dada bidang dan berbulu, terus para perempuan di pantai itu pada teriak histris “Kennedy… Kennedy…“, dan mereka merasa Kennedy lah yang harus dipilih.

Kasus Jabar juga. Hasil survei digugurkan semuanya karena Agum Gumelar yang popular dengan elektabilitas tertinggi di Jabar, toh tidak melenggang ke kursi gubernur. Dan ternyata, pemilih yang sebagian besar adalah perempuan dengan penuh percaya diri mengatakan memilih Dede Yusuf karena ganteng. Jadi, bukan gubernurnya yang dipilih. Jadi, konteks rasional dan irrasionan macam apa pula ini? Tapi, menurut saya komunikasi linier harus disingkirkan dalam tiap relasi yang menyangkut psikologis pemilih. Jadi, menjadi jelas di mana positioning, segmentation, dan targetting dalam komunikasi pemasaran politik.

Lely Arrianie: selangkah lagi ke profesor komunikasi politik

Lely Arrianie: selangkah lagi ke profesor komunikasi politik

Baik, Anda sudah menelurkan buku komunikasi politik. Apa ssaja yang Anda tawarkan dalam buku itu yang mungkin bisa dijadikan rujukan bagi praktisi politik?

Buku saya merupakan hasil penelusuran panjang dari fenomena panggung politik dengan segala pernak-perniknya. Pendekatan yang saya cenderung masih agak langka digunakan di panggung politik. Sebab itu, saya bisa melihat suatu yang tersirat di balik yang tersurat. Saya menemukan beberapa model yang meski tidak dapat digeneralisasikan, tapi cukup menjelaskan bagaimana ranah politik menjadi panggung para komunikator politik dalam mengemas “impression management” politiknya.

Dan, para komunikator politik, yang menurut Nimmo hanya terbagi menjadi aktivis, profesional, dan politisi, di temuan penelitian saya menyatakan, bahwa masyarakat biasa yang menyampaikan apresiasinya ke lembaga-lembaga politik adalah juga komunikator politik. Termasuk jurnalis yang meliput siaran politik. Ini artinya, meski gaya komunikasi linier yang digagas Laswell sangat popular, menurut saya tidak dapat diterapkan di panggung politik. Karena, para komunikator politik nyatanya adalah manusia dinamis, kreatif, yang gagasan dan pikiran politiknya bahkan selalu berkembang. Jadi, sulit di tebak dan selalu berubah. Karenanya dalam “mempertukarkan” pesan politiknya mereka cenderung bergerak dinamis pula dalam model yang interaksional. Sirkuler dan konvergen, bahkan transaksional.

Terkait dengan temuan Anda itu, apa saran Anda untuk para komunikator politik kita?

Dalam konteks ini, dengan yakin saya katakan bagi para komunikator politik, “bacalah” buku saya (Komunikasi Politik-Politisi dan Pencitraan di Panggung Politik, Widya Padjajaran, 2010). Dan, ketika Anda menemukan apa yang saya tulis ternyata tidak membuat Anda melek memaknai panggung politik, berarti Anda belum membacanya.

Pesan penting dari model komunikasi yang Anda paparkan tadi apa?

Yang pasti “berkomunikasi politik” dan melakukan impression manajemen politik apa pun, harusnya tetap membuat relasional antara pemilih yang telah memilih mereka dan mereka yang terpilih tidak selesai begitu saja. Atribut apa pun yang membuat para praktisi menjadi “berjarak” dengan konstituennya, jelas merupakan manipulasi subjektif yang membuat mereka akan tersingkirkan dari prosesi politik dalam setiap wilayah panggung. Front stage ataupun back stage. Dan, saya menemukan nyatanya ada juga middle stage yang diciptakan sendiri oleh para politisi. Salanjutnya dalam ketiga wilayah tadi, saya sarankan para komunikator politik khususnya profesional, aktivis, dan politisi dapat mengemas literasi politik yang relevan. Karena, ketika mereka menggagas peran di panggung depan harusnya perilaku yang tidak layak harus steril dari penonton. Sembunyikan di belakang panggung.

Dan, karena mereka dituntut tampak biasa menguasai peran, menurut saya seharusnya para politisi terutama, tidaklah menganggap parlemen sebagai kawah candradimuka yang baru akan menggodok mereka untuk berperan. Melainkan parlemen adalah tempat mereka mempraktikkan “pembelajaran” politik yang telah mereka tempuh sepanjang menjadi aktivis, kader, dan bahkan simpatisan atau pengurus partai. Jadi, istilah “learning by doing” tidak pas untuk mereka. Sekali lagi “berbuat politiklah” ketika anda terpilih.[ez]

Foto-foto: dokumen pribadi & dokumen Proaktif Schoolen.

1 Comment

Filed under Bestseller Writer Interviews

Andai Saya Pelatih Belanda, Saya Minta Nasihat Mourinho

Pelatih Tim Nas Belanda & Pelatih Real Madrid yg baru.

Sepenuh hati saya “cinta” dengan tim nasional Belanda. Lihat betapa hebatnya mereka dalam Piala Dunia 2010 ini. Rekornya sapu bersih semua lawan, tanpa pernah seri atau kalah. Tapi, melihat tayangan ramalan Paul Si Gurita yang memilih Spanyol sebagai pemenang final nanti, lemas rasanya. Juga setelah membaca semua analisis/prediksi media beberapa hari terakhir, makin ketar-ketir saja hati saya hehehe….

Ngotot masih ingin menjagokan Belanda, kemarin (10 Juli 2010) saya coba chatting dengan sahabat saya, Aleysius H. Gondosari (ahli deteksi Energi 5 Elemen dan penulis buku The Secret of Five Elements). Tetapi, lagi-lagi saya dibuat ciut oleh hasil deteksinya. Singkat kata, dari deteksi energi Belanda mengalami kelelahan dan pilihan strateginya tidak efektif untuk menghadapi Spanyol. Posisinya power dan efektivitas energinya 0% lawan 10% untuk Spanyol, dan bisa-bisa Belanda kalah dengan skor 0-2.

Tetapi, dari hasil obrolan ngalor-ngidul ini masih ada secercah harapan supaya Belanda bisa membalikkan keadaan. Menurut Aleysius, pelatih Belanda harus meminta saran pada pelatih tim yang pernah mengalahkan Spanyol dan masyarakat atau tim nasional Belanda harus berdoa dengan sebaik-baiknya. Andai saya ini pelatih Belanda, pasti saya mau mendengarkan nasihat-nasihat dari pelatih terbaik yang kenal dengan karakter permainan Spanyol.

Nah, kalau mau tahu lebih detail obrolan saya dengan Aleysius, simak petikan chatting di bawah ini:

Me: Pak, saya penasaran sama si Paul (gurita) peramal itu hehehe… Ramalan dia, Spanyol yang menang. Menurut Pak Aley?

Aleysius Hanafiah: Mungkin juga betul, Pak. Mungkin dia bisa merasakan energi Spanyol lebih kuat, hehehe….

Me: Kalau Pak Aley mendeteksi enggak?

Aleysius Hanafiah: Kalau saat ini, Indeks Energi Menang untuk Spanyol 10%, dan Belanda 0%.

Me: Wah… By the way, bagaimana seekor gurita kok bisa meramal ya, Pak? Apa benar bisa atau kebetulan saja?

Aleysius Hanafiah: Kebetulan saja Pak. Mungkin kalau energinya lebih kuat, makanan yang pakai benderanya jadi lebih menarik, hehehe…. Mungkin bisa dicoba pada binatang lain, misalnya kucing, hehehe….

Me: Oh, ya? Hehehe… Saya enggak lagi taruhan lho, Pak. Tapi penasaran banget. Dalam hati sih jagoin Belanda. Pak, itu tadi posisi 10%-0% kan saat ini. Kalau posisi pada Senin dini hari besok?

Aleysius Hanafiah: Kondisinya masih sama, Pak hehehe…. Wah, saya tidak jamin Spanyol menang, lho! Kalau ada yang berdoa untuk Belanda, bisa saja Belanda jadi menang hehehe….

Me: Itu dia Pak, hehehe… Hati saya untuk Belanda, tapi otak saya bilang Spanyol…. Bagaimana caranya supaya Belanda menang Pak…?

Aleysius Hanafiah: Wah, perlu kirim pesan via Facebook, bahwa kondisi energi mereka sedang lemah. Perlu berdoa dulu sebelum pertandingan, hehehe…. Selain itu, pelatih Belanda bisa minta advise pada pelatih kesebelasan lain yang pernah mengalahkan Spanyol. Siapa tahu strateginya berhasil.

Me:  Itu dia Pak. Aslinya playmaker Belanda kan dari Inter Milan yang kemarin mengalahkan Barcelona, rohnya tim Spanyol. Dan, belanda belum pernah kalah di Piala Dunia ini. Bisa ngalahin Brasil lagi. Masak kalah sih, Pak?

Aleysius Hanafiah: Mungkin juga pemainnya sudah kecapain. Jadi pas di final, sudah kehabisan energi. Bisa juga salah strategi. Kalau dari energi strateginya, memang strategi Belanda bisa menang 20% terhadap Brasil. Tetapi terhadap Spanyol hanya 0%. Jadi perlu cari strategi lain. Energi strategi Spanyol terhadap Jerman kemarin 5%, dan Jerman terhadap Spanyol 0%.

Me: Andai sekarang Belanda dilatih Jose Mourinho Pak hehehe…. Kali bisa milih strategi yang tepat…? Kalau energi Spanyol terhadap Belanda?

Aleysius Hanafiah: Spanyol terhadap Belanda itu tadi, 10%. Jadi bisa-bisa Belanda kalah 0-2. Kalau Belanda dilatih Mourinho, strateginya 5% terhadap Spanyol, dan Spanyol 0% terhadap Belanda.

Me: Wah… Tinggal berharap pada doa nih Pak hehehe…. Habis penduduk Spanyol 65 juta, Belanda 16 juta, jauh juga. Bagaimana kalau orang seindonsesia doain belanda, susah juga hahaha….

Aleysius Hanafiah: Jadi sebaiknya pelatih Belanda minta advis pada Mourinho, hehehe….

Me: Harusnya ganti pelatih saja hehehe….

Aleysius Hanafiah: Tidak usah Pak, tinggal ajak makan-makan Mourinho di cafe saja hehehe….

Me: Apa terdeteksi akan ada move seperti itu dari pelatih Belanda?

Aleysius Hanafiah: Kelihatannya belum, kan gengsi kalau harus minta advis segala hehehe….

Me: Dan rasa gengsinya itu kali yang malahan membenarkan ramalan-ramalan Belanda akan kalah?

Aleysius Hanafiah: Iya, Pak, hehehe….

Me: Si Paul saja juga pernah salah hehehe….

Aleysius Hanafiah: Mungkin setelah diramal si Paul, ada yang berdoa sehingga ramalannya meleset hehehe…. Jadi perlu dimasukkan juga unsur-unsur lain yang bisa memengaruhi hasil akhir. Atau, pihak yang diramal kalah mencari jalan lain atau strategi lain supaya menang. Ini seperti anak saya. Kalau besok ujian, setelah belajar saya periksa nilianya. Kalau masih di bawah 8 atau 9, saya bilang, “Nilainya masih kurang. Belajar lagi supaya nilainya naik.” Kemudian mereka belajar, dan memang hasilnya mendekati. Nah, seharusnya Belanda introspeksi. Setelah dinyatakan sebagai pihak yang kalah, mereka mencoba melakukan analisis, apa yang masih kurang dan perlu diperbaiki. Siapa tahu, hasilnya malah bisa terbalik. Jadi seperti anak saya, diperiksa apa yang masih kurang dipelajari, supaya nilainya naik, hehehe…. Tapi energi bisa berubah dengan usaha dan doa hehehe….

Me: Cuman rentangnya juga jauh Pak, 10% vs 0% hehehe… Pak Aley bisa deteksi pasca-pertandingan mereka, bagaim masyarakat Belanda dan Spanyol? Mana yang lebih berkibar-kibar dan mana yang lebih lesu hehehe….

Aleysius Hanafiah: Memang perbandingan energi masyarakatnya 0% banding 10%, Pak.

Me: Nah, nah…. Makin jelas indikatornya. Spanyol lebih kuat di semua lini.[]

2 Comments

Filed under Bestseller Writer Interviews

Risfan Munir: Kita Harus Kembangkan Mindset Appreciative!

Risfan Munir

Sadar atau tidak, setiap hari kita disuguhi bahkan terpenjara oleh berbagai macam informasi dan pemberitaan yang sifatnya negatif. Karena begitu dominannya model pemberitaan dan arus informasi sejenis itu, mau tak mau persepsi dan pemikiran kita terpengaruh pula sehingga menjadi ikut negatif. Akibatnya, bisa saja kita terbawa kepada pilihan-pilihan sikap dan perilaku negatif pula. Padahal, perspektif negatif sangat sulit diandalkan untuk menyelesaikan masalah dengan baik karena memang sifatnya yang selalu “mengkritisi” atau bahkan menyabotase optimisme.

Risfan Munir adalah seorang trainer, fasilitator, dan motivator yang mengajukan gagasan tentang pentingnya pengembangan karakter dan mindset yang lebih fokus pada kemajuan dan perbaikan dengan rasa syukur, pikiran jernih, apresiasi atau penghargaan, serta optimisme. Sebab, menurut Munir, untuk menghadapi deraan pengaruh negatif dari berbagai penjuru di atas, yang harus dibangkitkan saat ini adalah rasa optimisme di segala bidang.

“Seni mengapresiasi keberhasilan, walau itu kecil, akan lebih efektif untuk mendorong perbaikan di semua bidang, daripada kritik misalnya. Karena, kebanyakan orang kalau dikritik akan mencari kambing hitam dan mereka kian apatis,” ujar Risfan Munir memberikan contoh penyikapan berdampak positif dan solutif.

Risfan Munir sehari-hari adalah seorang konsultan di bidang perencanaan, manajemen, dan pengembangan kapasitas organisasi swasta, LSM, dan pemerintah baik di pusat maupun daerah mulai dari Sabang hingga Merauke. Pria kelahiran Malang Jawa Timur tahun 1955 ini menamatkan studi Strata Satu dan Strata Dua di Institut Teknologi Bandung (ITB), dan sempat belajar Real Estate Finance pada University of Texas at Arlington, USA. Risfan Munir juga aktif sebagai di bidang pengembangan kewirausahaan, dinamika klaster ekonomi lokal, peningkatan kinerja manajemen usaha maupun pelayanan publik.

Kolomnis Tetap AndaLuarBiasa.com ini sudah menghasilkan beberapa buku, yaitu Pengembangan Ekonomi Lokal Partisipatif, Skema Tindakan Peningkatan Pelayanan Publik, Good Practices dalam Pengembangan UMKM, Good Practices dalam Peningkatan dan Pelayanan Kesehatan, dan yang terbaru berjudul Jurus Menang dalam Karier dan Hidup ala Samurai Sejati (GPU, 2009). Buku yang digali berdasarkan kombinasi nilai-nilai ala bushido samurai dengan pendekatan Neuro Linguistic Program (NLP) tersebut cukup menarik untuk didiskusikan. Berikut petikan perbincangan Edy Zaqeus dari AndaLuarBiasa.com dengan Risfan Munir pada Januari 2010 lalu:

Apa isi buku Jurus Menang dalam Karier dan Hidup ala Samurai Sejati ini?

Ya, buku saya ini mengenai bagaimana mencapai kemenangan, dalam karier, pekerjaan, ataupun dalam kehidupan sehari-hari.

RM bersama kolega

Ini buku motivasi atau buku how to?

Boleh dibilang keduanya. Motivasi, karena bicara mencapai “kemenangan” kan berarti memotivasi diri untuk selalu menuju kepada cita-cita dan tujuan dengan selalu bersemangat. Juga tentang how to. Karena, dalam tiap bab atau jurus, saya selalu memaksudkannya supaya dapat diterapkan secara langsung. Ada jurus atau langkah pada tiap akhir bab yang saya beri istilah katana atau pedang.

Bagaimana sampai Anda begitu menggemari filosofi para samurai dan membuatnya menjadi buku panduan dan motivasi?

Memang sejak masa sekolah saya suka baca kisah tentang ksatria seperti Nogososro Sabuk Inten. Juga kisah bersambung samurai Musashi. Umumnya bacaan ini mengisahkan kepahlawanan dan keteguhan dalam meraih cita-cita, atau membela apa yang diyakini. Belakangan, saya membaca lebih jauh tentang kisah samurai termasuk The Book of Five Rings yang ditulis sendiri oleh pendekar samurai Musashi. Di situ saya baca bagaimana “permainan persepsi” begitu banyak diungkapkan sebagai kunci kemenangan. Saya pikir ini sesuai dengan perkataan pakar marketing Al Ries, “We are not in the battle of product, but perception.” Kita semua sekarang merasakannya, betapa perang persepsi yang disampaikan lewat media, baik dalam pemasaran, iklan, atau debat politik telah “memusingkan” kita semua.

Menurut Anda, apa istimewanya filosofi para samurai tersebut?

Yang saya jadikan acuan adalah kisah dua tokoh. Pertama, Musashi yang dijuluki sebagai the Lone Samurai, yang merupakan pendekar yang secara mandiri unggul. Dalam buku yang ditulisnya sendiri, The Book of Five Rings, dia menegaskan pentingnya “bermain persepsi” untuk mencapai kemenangan. Ini yang menurut saya sesuai dengan situasi masa kini di mana “permainan persepsi”, terutama via media massa, telah memengaruhi pikiran kita, fokus kita dalam mencapai tujuan, dan semangat atau optimisme kita. Karena itu, saya ingin berbagi dalam “bermain persepsi” ini melalui jurus-jurus menang itu. Tokoh samurai kedua yang saya jadikan acuan ialah Hideyoshi Toyotomi. Dia tokoh nyata dalam sejarah bangsa Jepang yang kepemimpinannya telah berhasil mempersatukan Jepang setelah masa perang antarklan lebih dari seabad. Hideyoshi disebut sebagai “Samurai Tanpa Pedang”. Mengapa? Karena dia tidak mengandalkan kekerasan dalam kariernya, melainkan persuasi dan sifat kepemimpinannya. Karena itu, jurus-jurus persuasi yang dia contohkan saya pikir layak diangkat dalam situasi bangsa kita yang cenderung suka bertikai saat ini.

Balik lagi ke proposisi Al Ries, semua ini soal permainan persepsi. Apakah ini terkait dengan bidang NLP yang Anda tekuni?

Betul. NLP (Neuro Linguistic Programming: red) dalam hal ini saya gunakan sebagai alat bantu untuk lebih mudah menanamkan apa yang dipelajari pembaca ke dalam “pikiran bawah sadar.” Perubahan sikap dan perilaku akan lebih cepat dan efektif kalau apa yang kita pelajari masuk ke “pikiran bawah sadar” sehingga menjadi refleks spontan saat dibutuhkan.

RM berbagi pengalaman menulis buku

Bagaimana ceritanya sampai filosofi samurai bisa dikait-kaitkan dengan NLP? Yang satu tradisional dan berusia ratusan tahun, satunya lagi ilmu yang baru saja dikembangkan?

Di situlah menariknya. Sebetulnya tidak terlalu aneh ya karena keduanya, baik pendekatan tradisional maupun yang masa kini, kan menyangkut aspek psikologi. Kalau soal nilai-nilai kesatria, sportivitas, itu kan universal, tak mengenal waktu. Tapi menyangkut pendekatan, metode, kan mestinya kalau ada metode lebih baru juga bisa dimanfaatkan. Sekali lagi ini menyangkut aspek psikologisnya ya. Kan saya tidak bicara tentang ilmu fisik bermain pedangnya. Poin yang paling menonjol yang ditunjukkan oleh Musashi adalah “kejernihan pikiran” atau persepsinya dalam menanggapi segala sesuatu.

Soal kejernihan pikiran ini, kalau dari kacamata NLP apakah juga penting untuk pengembangan diri seseorang?

Tentu. Karena, NLP secara praktis adalah teknik memainkan pikiran. Bagaimana agar kita bisa menguasai dan mendaya gunakan pikran kita sendiri? Baik “pikiran sadar” maupun “pikiran bawah sadar”. Betapa sering kita seperti berpikir. Padahal, sesungguhnya kita hanya bereaksi atas bujukan atau provokasi pihak lain terhadap kita. Contohnya, tiap pagi kita memulai hari dengan perasaan segar karena baru bangun dari istirahat. Namun, kita awali kegiatan dengan baca koran, melihat televisi yang menampilkan berita tidak menyenangkan. Maka, suasana pikiran kita berubah seketika. Kita jadi murung, kurang optimis, atau ikut-ikutan bicara, diskusi, seolah kita ahli politik, ahli hukum. Seperti berpikir, padahal hanya bereaksi saja atas berita. Padahal semua yang kita tonton itu belum tentu berpengaruh.

NLP penting untuk membedah sistem berpikir seseorang, apakah mengarah ke efektivitas atau inefektivitas. Betul begitu?

Betul. NLP sebagai teknik psikologi praktis dapat digunakan untuk meningkatkan efektivitas berpikir. Ini supaya seseorang bisa menjadi “tuan bagi pikirannya sendiri”. NLP berguna untuk menata pikiran dan motivasi diri agar efektif. NLP juga penting untuk berkomunikasi dengan orang lain, baik individu maupun audiens. Bagusnya, selain mengungkap aspek verbal, NLP juga mempelajari perasaan dan tingkah laku yang “tak disadari” seseorang. Misalnya, untuk memvisualisasi visi atau sasaran yang ingin dicapai seseorang. Dengan metode NLP, kita tidak cukup hanya membayangkan rupa mobil dan jumlah uang yang ingin kita raih. Tetapi, kita juga harus tahu “bagaimana perasaan waktu itu, apa warna-warna yang muncul, bagaimana wajah orang yang kita cintai saat memberi selamat”. Ini penting agar pikiran bawah sadar kita juga merasakan “sukses” yang kita idamkan itu. Mengapa? Ini supaya setiap saat—tanpa kita sadari—gambaran tersebut akan senantiasa mengingatkan dan “memandu” kita menuju sasaran.

RM sebagaii fasilitator pengembangan daerah

Menggabungkan perspektif NLP dengan filosofi samurai jelas bukan perkara mudah. Anda menemui kendala dalam penulisan buku ini?

Ada seninya dalam hal ini. Yaitu, bagaimana menangkap pesan atau pengalaman psikologis samurai. Terutama Musashi yang menulis sendiri pengalaman psikologis dan pemikirannya dalam bukunya. Kemudian, saya coba mengaitkannya dengan beberapa jurus atau program NLP yang biasa saya gunakan sebagai praktisi. “Berpikir tanpa persepsi” atau “Jadilah lawanmu”, memahami pikiran lawan bicara misalnya. Ini pesan Musashi. Ini justru akan lebih efektif dan mudah kalau menggunakan jurus NLP, seperti yang saya tulis dalam buku ini.

Menurut Anda, siapa saja yang paling membutuhkan buku ini sekarang dan mengapa demikian?

Buku ini bisa bermanfaat bagi siapa pun. Baik wirausahawan, eksekutif, karyawan, mahasiswa, pelajar, maupun orang tua. Tiap orang bisa membaca dan menerapkan jurus-jurus atau metode yang disarankan dalam buku ini sesuai kebutuhannya. Membacanya pun tidak harus urut dari awal sampai akhir. Karena, pada intinya buku ini didasarkan pada asumsi bahwa setiap orang, apa pun perannya di keluarga dan masyarakat, dia punya cita-cita dan keinginan tetapi juga punya “hambatan internal” dalam dirinya. Apa saja? Takut, ragu, malu, merasa tak pantas, dan seterusnya. Juga ada “hambatan lingkungan” seperti tekanan atasan, orang tua, dan olok-olok teman. Jurus-jurus dalam buku ini dimaksudkan untuk menepis hambatan internal, menembus hambatan lingkungan, bahkan mendapatkan dukungan dari teman atau orang yang kita anggap lawan.

Baik, apa yang Anda dapat dari menulis buku ini?

Banyak nilai yang saya peroleh dari menulis buku ini. Pertama, perjuangan menulis hingga diterbitkannya buku ini oleh Gramedia merupakan bukti “kemenangan” atas diri sendiri, tentunya dengan menggunakan jurus-jurus yang saya sarankan dalam buku ini. Kedua, proses menulis di tengah kesibukan kerja rutin sungguh merupakan perjuangan tersendiri. Penerapan jurus dalam berkomunikasi menghasilkan dukungan dari teman, terutama dari Proaktif Writer Schoolen (lembaga pelatihan menulis untuk profesional: red), dan sesama Kolomnis Tetap AndaLuarBiasa.com. Ini sungguh merupakan nilai tinggi yang tak saya duga sebelumnya. Ketiga, undangan untuk berbicara, untuk men-training-kan jurus-jurus dalam buku ini di perusahaan swasta, kelompok swadaya masyarakat, dan komunitas sosial. Ini merupakan kebahagiaan yang juga tak saya duga sebelumnya. Keempat, datangnya syukur saat orang menyampaikan bahwa jurus tertentu telah membantu dia untuk mengatasi persoalan yang dia hadapi, membantu gugus kerjanya menyusun resolusi tahun baru, atau membantu kelompok UKM yang dia bina, dan lain sebagainya.

Mengembangkan mindset appreciative

Apa profesi Anda dan sebenarnya apa yang sehari-hari Anda lakukan?

Profesi saya sehari-hari adalah konsultan perencanaan kota atau daerah, manajemen pelayanan publik dan pengembangan ekonomi atau kelompok UMKM setempat. Dalam hal ini saya sering berkunjung ke berbagai daerah di Tanah Air dan melakukan perbandingan dengan yang terjadi di beberapa negara. Dari pengalaman tersebut saya belajar bahwa “seni mengapresiasi” keberhasilan, walau itu kecil, akan lebih efektif untuk mendorong perbaikan di semua bidang, daripada kritik misalnya. Karena, kebanyakan orang kalau dikritik akan mencari kambing hitam dan mereka kian apatis. Saat ini, masyarakat kita perlu dibangkitkan optimismenya sehingga persepsi apresiatiflah yang sebaiknya kita sebarkan.

Kalau untuk profesi tersebut, hal teknis apa yang biasa Anda lakukan?

Pada saat ini, sebagai konsultan perencanaan ataupun menajemen, kita tidak bisa bekerja di belakang meja. Kita harus bertindak sebagai fasilitator, moderator, dan mau tak mau jadi motivator juga dalam memfasilitasi stakeholders. Mereka adalah pemerintah daerah, swasta, dan masyarakat. Kita memfasilitasi dalam merumuskan masalah dan secara partisipatif merumuskan solusi, menyusun rencana, baik rencana pembangunan, peningkatan pelayanan publik serta pemberdayaan kelompok UMKM.

Persoalan-persoalan paling krusial seperti apa yang Anda temui di kota-kota atau daerah yang Anda tangani?

Masalah paling krusial saat ini terutama karena terjadinya perubahan yang cepat, akibat pertumbuhan penduduk perkotaan yang tinggi, namun tidak diimbangi kesempatan kerja. Akibatnya adalah besarnya angka kemiskinan perkotaan dan masalah sosial ikutannya. Sementara, pemerintah daerah masih “kaget” dengan otonimi daerah. Kebanyakan sumber dayanya terbatas sehingga banyak yang kebingungan akan melakukan apa. Akhirnya, yang dibuat malah yang bukan kebutuhan warganya. Sementara itu, mengingat potensi sumber daya yang dimiliki masyarakat dan swasta, mestinya mereka diajak berpartisipasi dalam pembangunan kota atau daerah. Tetapi karena sikap mental atau persepsi yang masih belum bisa berubah, potensi tersebut tak bisa dilibatkan kontribusinya secara optimal. Masalah lain terkait sikap psikologis yang cenderung tidak positif.

Bersama para Kolomnis Tetap AndaLuarBiasa.com

Apa yang kira-kira bisa disinergikan antara permasalahan-permasalahn tersebut dengan “ilmu tambahan” yang Anda tulis dalam buku samurai ini?

Yang pokok ya itu tadi, ada jurus-jurus yang menyarankan kita untuk menginventarisir “keberhasilan”. Walau masih kecil, sedikit, daripada berfokus pada identifikasi atau menggali “persoalan”. Persepsi atau cara pandang inilah yang banyak saya ambil dari buku yang saya tulis ini. Ini pula yang saya terapkan dalam memfasilitasi stakeholders pemerintah daerah ataupun klaster UMKM di daerah.

Apa mereka tahu prinsip-prinsip tersebut diambil dari filosofi samurai dan NLP?

Kepada audiens atau konsumen akhir tidak saya sampaikan. Karena, bagi mereka yang penting masalah mereka terpecahkan, rencana tersusun. Tapi kepada para jaringan fasilitator, baik dari perguruan tingi, LSM atau individual, metode termasuk jurus-jurus dalam buku ini saya sampaikan. Dan, para fasilitator itulah pembaca dan pengguna buku ini. Namun, banyak juga audiens yang akhirnya tertarik membaca buku ini karena sudah merasakan manfaatnya. Kepada mereka saya jelaskan nilai hiburan dan manfaat praktis buku ini.

Ada pengalaman menarik pascapenerbitan buku Anda ini?

Ya, undangan untuk men-training-kan buku ini. Padahal, tadinya saya pikir hanya hanya untuk dibaca. Pengalaman menarik yang masih datang hingga hari ini ialah apresiasi pembaca via Facebook, email, dan SMS. Ini di luar dugaan saya. Saya pikir setelah menulis, buku terbit, ya selesai. Tadinya saya ragu apakah saya bisa dan berani menulis di luar bidang profesional konsultan. Ternyata, dengan sambutan dari kalangan akademisi pula, membuat penulisan bidang baru ini menjadi “bagian dari diri saya” juga. Apalagi setelah banyak kenalan “minta advice” untuk masalah-masalah motivasi, komunikasi, dan psikologi praktis lainnya. “Bagaimana pendapat Samurai Sejati?” tanya mereka misalnya. Pertanyaan seperti main-main tapi jadi pengalaman menarik pula…

Apa rencana Anda ke depan terkait dengan profesi maupun dunia kepenulisan yang sudah Anda masuki?

Ke depan yang saya pikir adalah bagaimana terus mendorong meningkatkan kualitas manajemen pelayanan publik, good governance, pemberdayaan klaster UMKM, dengan menanamkan persepsi yang lebih “appreciative”, menghargai apa yang sudah dicapai walau masih kecil. Untuk penulisan buku, target saya ialah menulis buku tentang Manajemen Apresiatif  untuk menyebarkan “virus” apresiasi dan mempertajam kemampuan “bersyukur”. Harapan saya, buku ini akan meraih predikat bestseller. Sebuah buku yang punya pengaruh besar dalam meningkatkan nilai kemenangan dan kesejahteraan pembaca serta lingkungannya.[ez]

Foto-foto: Dokumentasi Risfan Munir

5 Comments

Filed under Bestseller Writer Interviews

Berbincang dengan Edy Zaqeus: Keluarga Sumber Inspirasi

Edy Zaqeus

EDY ZAQEUS, pria kelahiran 24 Maret 1971. Pernikahannya dengan Francisca Sukeisih telah dianugerahi seorang putra bernama Vincent Dyas. Aktivitas Edy boleh dibilang seabrek, di bidang penulisan, pengeditan, penerbitan, pelatihan kepenulisan, dan lain-lain. Ia sangat tertarik terhadap ide-de inovatif, kreatif, dan semua hal yang positif.

Di sela-sela aktivitasnya, editor sejumlah buku bestseller dan pendamping puluhan penulis buku dalam melahirkan buku-buku terbaik ini tak lupa mendengarkan musik, seperti lagu-lagu dari Peterpan, D’Masiv, dan Kla Project. Sementara itu, acara televisi favoritnya antara lain Bukan 4 Mata, Si Bolang, Mancing Mania, dan Laptop Si Unyil.

Sebagai penulis buku, ia tentu rajin membaca dan buku-buku bernapaskan motivasi, entrepreneur, leadership, dan cerita sukses tidak pernah absen dibacanya. Sedangkan buku yang ditulis Edy Zaqeus, antara lain Kalau Mau Kaya Ngapain Sekolah (Gradien, 2004), Resep Cespleng Menulis Buku Best Seller (Gradien, 2005), dan Bob Sadino: Mereka Bilang Saya Gila! (Kintamani, 2009).

Mas Edy yang selalu kreatif ini bersedia meluangkan waktunya untuk buahaticerdas, berbincang tentang banyak hal. Berikut ini hasil wawancaranya untuk para pembaca.

Apa arti keluarga bagi Mas Edy?
Ini pertanyaan sederhana yang susah dijawab secara singkat. Keluarga bagi saya adalah orientasi, motivasi, dan penjuru hidup saya. Saya merasa berarti kalau bisa mempersembahkan sesuatu yang terbaik buat keluarga. Dan, saya akan terus berjuang untuk bisa melakukan idealisme tersebut. Mudah diucapkan ya, tapi sulit sekali pelaksanaannya.

Banyak orang selalu menyorot peran perempuan dalam keluarga, nah menurut Mas, bagaimana peran prianya?
Saya bersama istri sudah berkomitmen, kami berdua adalah tiang keluarga, yang keduanya harus sama kokohnya dalam menopang kehidupan keluarga. Kami ada pembagian tugas, tetapi kami juga nyaris harus sama mampunya untuk saling menggantikan. Contoh untuk membimbing anak, kami selalu seimbang dalam berbagi masukan dan cara. Jadi dengan begini rasanya asyik dan kompak banget hehehe…

Di antara kesibukan Mas Edy, seberapa besar inspirasi yang muncul dari kehidupan keluarga?
Karena arti keluarga yang sedemikian dalam di benak saya, otomatis keluarga selalu menjadi sumber inspirasi. Bahkan, mungkin tidak ada aktivitas saya yang tidak di-drive oleh kecintaan saya kepada keluarga. Saya kira kebanyakan orang seperti ini juga, dikatakan atau tidak… disadari atau tidak.

Gimana cara mengatasi persoalan “ketika waktu nggak terasa cukup” untuk dibagi antara kegiatan/karier dengan kehidupan keluarga?
Untungnya sebagai penulis dan writer coach saya punya waktu berlimpah untuk keluarga. Saya juga punya kesempatan yang sangat jarang dimiliki oleh orang bekerja pada umumnya. Saya hampir setiap hari bersama keluarga saya, anak dan istri saya… menikmati waktu bersama mereka.

Apa saja kiat Mas Edy dalam meningkatkan kecerdasan karena sebagai penulis kan harus cerdas?
Waktu SMA dulu saya pernah disebut murid “pupuk bawang” alias tidak masuk perhitungan anak yang serius sekolahnya. Ranking 4 dari bawah, dari 48 siswa, juga pernah saya alami. Jadi aslinya saya tidak berani mengklaim diri cerdas hehehe… Kalau sudah begitu, mana berani saya kasih tip-tip untuk meningkatkan kecerdasan hehehe….

Dari jawaban Mas Edy, itu sudah terasa kok kecerdasannya. Kalau ukuran sukses menurut Mas seperti apa?
Sukses itu bagi saya sederhana. Kalau saya bisa melakukan apa atau mendapatkan apa yang saya inginkan dengan cara yang saya mau, ya itu sudah sukses. Misalnya, dulu waktu masih menjadi wartawan, saya merasa apa yang saya dapatkan dibanding dengan apa yang saya lakukan tidak klop. Saya ingin punya waktu lebih banyak dan mendapatkan hasil yang cukup atau memadai saja. Ketika saya berhasil keluar dari “belenggu” profesi tadi, dan menemukan bidang baru yang lebih memberikan kepuasan batin maupun finansial, itu sudah sukses menurut saya. Bisa menikmati hidup sebagaimana yang saya mau itu sukses namanya.

Vincent sedang "membaca" buku bapaknya

Gimana Mas Edy menularkan kreativitas kepada anak?
Saya tidak tahu apakah yang saya lakukan itu cara menularkan kreativitas. Yang pasti, saya suka sekali bermain dengan Vincent, anak saya yang sekarang usianya 2 tahun 4 bulan. Suka menemani dia melakukan aktivitas apa saja. Lalu ngobrol terus setiap saat dengan dia, menganggap dia sebagai ‘orang’ yang sudah punya pikiran sendiri.

Memberi semangat dia kalau lagi demo joget Jacko…. Anak saya demen sekali joget ala Michael Jackson. Sampai-sampai mengidentifikasikan dirinya dengan Jacko.

Kalau untuk ayah yang memang kerja kantoran, saran Mas biar sang ayah tetap “di hati” anaknya?
Kebetulan pas saya sudah punya anak, saya sudah bekerja di rumah, jadi mungkin saran saya tidak valid hehehe… Sediakan saja waktu-waktu khusus untuk anak. Tidak melulu soal kuantitas waktu dan frekuensi yang harus berlebih. Yang penting adalah soal kualitasnya.

Rasanya anak punya hak eksklusif kalau soal waktu khusus ini ya… Yang lain, penuhi saja komitmen waktu khusus tersebut karena ini akan menumbuhkan pengertian bahwa anak dihargai, diperhatikan, dan dipentingkan.

Menumbuhkan kemauan menulis sejak kecil, gimana caranya, Mas?
Nah, ini yang saya belum bisa jawab kalau merujuk anak saya yang masih balita hehehe… Tetapi kalau adik-adik saya, dulu sejak mereka SD atau SMP, saya sudah dorong mereka untuk rajin menulis surat ke saya. Kami kan tinggal beda kota. Juga rajin menulis diari. Yang lain, saya support mereka dengan memberi bacaan-bacaan yang memperluas pengetahuan maupun wawasan mereka. Hasilnya, salah satu adik saya yang masih mahasiswa, sekarang sudah menjadi kolomnis tetap website andaluarbiasa.com. Dia juga sedang merampungkan buku pertamanya. Sementara adik saya yang juga masih mahasiswa tingkat pertama, yang dulunya malas sekali menulis, sekarang pun mulai berlatih menulis. Jadi, tidak sia-sia juga dorongan saya kepada mereka sejak kecil…

Edy memberikan pelatihan menulis untuk kalangan eksekutif & profesional

Soal buku, Mas, bagaimana kiat memilih buku yang baik?
Ini saran yang sangat subjektif karena berdasar kebiasaan saya pribadi. Dulu saya membeli buku apa saja yang saya asumsikan akan sangat menopang bahan penulisan saya. Belakangan, setelah buku ribuan jumlahnya, saya lebih memilih buku yang unik, yang aneh-aneh, atau yang paling menarik perhatian saya. Jadi, content minded hehehe…

Kalau orang tua ingin mengabadikan kenangan bersama anak lewat tulisan, apa yang pertama kali dilakukan?
Tulisan saja, bentuknya macam-macam. Bisa mulai dengan diari anak atau diari bersama. Istri saya pun melakukannya dengan membuat blog yang isinya khusus perkembangan Vincent dari hari ke hari. Dan ternyata, kami justru banyak belajar lagi dari aktivitas sederhana tersebut. Lihat saja blognya di http://sukeisih.wordpress.com.

Sudah berapa penulis yang lahir dari bimbingan Mas Edy?
Aduh, berapa ya… sudah di atas 30-an deh… Itu untuk klien ya, dalam artian saya sebagai writer coach, professional editor, dan konsultan.

Bagaimana Mas Edy mendefinisikan diri sendiri?
Ini juga pertanyaan yang susah dijawab hahaha…. Ya, saya penulis yang happy aja deh dengan dunia saya, dan saya sungguh menikmati apa yang saya capai di situ.[Oleh: Herry Prasetyo]

Sumber: http://www.buahaticerdas.com/

8 Comments

Filed under Bestseller Writer Interviews

Wilson Arafat: Satu Menit Kita Tidur, Satu Tahun Negara Lain Sudah Berlari

Wilson Arafat: Meraih lebih dari 10 penghargaan menulis

Wilson Arafat adalah seorang Corporate Governance and Corporate Culture Specialist, penulis buku-buku manajemen, dan professional writer. Sekarang, pria kelahiran Palembang, 21 Maret 1972, yang sehari-hari bekerja di BTN ini semakin sering memberikan pelatihan-pelatihan tentang GCG di berbagai perusahaan, termasuk birokrasi pemerintahan. Belakangan ini, selain sedang bersemangat memberikan seminar-seminar dan pelatihan mengenai pentingnya penerapan GCG, Wilson juga terus menelurkan konsep-konsep dan model-model aplikasi GCG, baik dalam format ratusan artikel, paper atau makalah ilmiah, dan buku popular.

“Sepuluh tahun terakhir saya ber-‘asyikmasyuk’ dengan GCG. Dan, saya melihat hal ini penting untuk dibumikan di negeri ini,” jelas Wilson dalam sebuah wawancara online. Selain demi menyongsong ketatnya persaingan global, Wilson melihat urgensi penerapan GCG adalah untuk menciptakan keseimbangan di antara berbagai kepentingan semua pihak terkait dalam korporasi. “Apalagi di perusahaan, ketika enggak imbang antara kepentingan pemegang saham dengan kepentingan manajemen, maka akan terjadi kerusakan. Pada akhirnya, tidak ada check and balances. Tinggal tunggu waktunya, perusahaan atau apa pun akan hancur, KKN menggurita,” jelas alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta ini.

Namun, bukan soal GCG saja—sebagaimana akan kita kupas dalam paruh pertama wawancara ini—yang dia kuasai. Suami dari Ina Marlina dan ayah dari Fathir Filbert Fahrudin ini sudah menelurkan enam buku manajemen/marketing serta dikenal piawai sekali menulis untuk perlombaan karya tulis. Tak kurang sepuluh award atau penghargaan dia raih dari berbagai perlombaan menulis artikel maupun karya ilmiah popular untuk bidang manajemen, pemasaran, dan perbankan. Soal kiat-kiat memenangkan perlombaan menulis inilah yang akan menjadi fokus paruh kedua wawancara ini.

Wilson Arafat adalah sosok pemikir muda berbakat yang seolah muncul meneruskan tradisi intelektual dan keilmuan dari para tokoh pemikir andal dari Tanah Sriwijaya. Dia tinggal menunggu waktu saja untuk semakin bersinar dalam kiprah profesional maupun pengabdiannya kepada masyarakat. Ide-idenya terus mengalir dan semangatnya tidak pernah padam untuk senantiasa berkarya. Banyak pelajaran yang bisa kita petik dari semangat maupun gagasan-gagasan Wilson. Berikut petikan wawancara Edy Zaqeus dari AndaLuarBiasa.com dengan Wilson Arafat belum lama berselang.

Sudah berapa buku yang Anda tulis dan apa saja temanya?

Sudah enam buku, buku kesatu dan kedua bertema marketing, ketiga manajemen perbankan, keempat dan kelima tentang Good Corporate Governance atau GCG, dan keenam saya sebagai ghost writer buku tentang leadership.

Bagaimana ceritanya, selain berkarier di perbankan Anda akhirnya menekuni bidang GCG?

Kalau boleh bercerita sedikit, petualangan ‘intelektual’ saya cukup berliku hehehe… Mulanya saya berminat menjadi marketer sejati. Studi S-2 saya fokus ke marketing. Cuma dalam perjalanan karier, saya menemui banyak jenis pekerjaan. Misalnya, mengelola manajemen perbankan dan manajemen strategik. Namun, sepuluh tahun terakhir saya ber-‘asyikmasyuk’ dengan GCG. Dan, saya melihat hal ini penting untuk dibumikan di negeri ini. Ide-ide saya cukup banyak yang ingin saya tuangkan sebagai sumbangsih pemikiran saya. Artikel, makalah, dan paper saya sudah dimuat di berbagai media, diapresiasi sejumlah lembaga, dan saya tuangkan juga menjadi buku. Jadinya saya sekarang fokus menjadi corporate governance and corporate culture specialist.

Dari tema-tema buku GCG yang sudah Anda tulis, masing-masing apa bedanya?

Buku How to Implement GCG Effectively mengungkap horizon delapan langkah strategis dalam membumikan sistem dan budaya GCG. Buku ini menguraikan secara big picture bagaimana membumikan GCG secara efektif. Buku Smart Strategy for 360 Degree GCG: Simple, Clear, and Applicable. Buku ini mengupas tuntas bagaimana strategi melaksanakan GCG dengan sebaik-baiknya. Lengkap diuraikan tahapan dan langkah-langkahnya sesuai best practice. Dan, sekarang saya lagi proses memuat buku GCG ketiga berjudul How to Assess GCG Effectively: To be A trusted Company. Ini merupakan pedoman komprehensif untuk mengukur kinerja penerapan GCG.

Anda mahir membuat model-model teoritikal. Bagaimana cara mengasah dan mengembangkan keterampilan tersebut?

Kata Einstain, maestro yang sangat saya kagumi, “Belum dikatakan seseorang itu pakar kalau orang itu belum bisa membuat sesuatu yang rumit menjadi sederhana.” Ini yang saya pegang. Saya berupaya membuat sesuatu yang teoritikal, kata orang rumit, bisa jadi model. Cukup satu gambar, tidak lebih dari satu halaman. Jadi, kuncinya adalah berpikir sederhana dan membuat sesuatu yang rumit itu jadi simple.

Untuk buku-buku GCG, model apa saja yang sudah Anda ciptakan?

Ada Model Indeks/Peratingan GCG, ada model implementasi strategi yang saya namakan GCG Strategy Map 3, Road Map Implementasi GCG, Model Peta Sukses Meraih Tata Kelola yang Baik, Model Transformasi Budaya GCG, dan ada beberapa yang lain.

Selain sebagai penulis profesional, Wilson juga dikenal sebagai tariner dan GCG Specialist

Sebagai awam, pertanyaan saya apa urgensi GCG bagi perusahaan/organisasi yang baru berkembang maupun yang mapan?

Urgensinya terletak pada esensi dari penerapan GCG itu. Yaitu menciptakan keseimbangan antara kepentingan sosial versus ekonomi. Imbang antara kepentingan internal versus eksternal. Imbang antara kepentingan stakeholders versus shareholders. Imbang kepentingan jangka pendek versus jangka panjang. Imbang antara tujuan komunal versus individual. Menurut saya, semua kehancuran di Republik ini adalah karena ketidakseimbangan di berbagai bidang. Contohnya, banjir itu karena kesimbangan terganggu, habitat alam sudah rusak. Apalagi di perusahaan, ketika enggak imbang antara kepentingan pemegang saham dengan kepentingan manajemen, maka akan terjadi kerusakan. Pada akhirnya, tidak ada check and balances. Tinggal tunggu waktunya, perusahaan atau apa pun akan hancur, KKN menggurita. Nah, GCG akan memberikan keseimbangan, itulah urgensinya.

Apakah aplikasi GCG masuk juga ke ranah organisasi birokrasi pemerintahan?

Kalau ranah organisasi pemerintah namanya Good Public Governance. Prinsipnya sama, variabelnya yang beda, scope-nya juga lebih luas karena melibatkan tiga pilar; pemerintah itu sendiri, dunia usaha, dan masyarakat luas. Ketiga pilar itulah yang nantinya akan menentukan terciptanya Good Public Governance. Semua memainkan peranannya masing-masing. Jadi, pada organisasi pemerintahan juga menjadi keniscayaan.

Birokrasi pemerintahan selalu dipersepsi sebagai organisasi lamban dan tidak inovatif. Apakah bisa ditransformasikan ke birokrasi modern yang punya sikap setanggap korporasi-korporasi modern misalnya?

Wah, pertanyaan yang sungguh luar biasa panjang jawabannya hehehe…. Namun untuk Indonesia, kata kunci sangat signifikan—kalau mau berhasil mentransformasi birokrasi mendekati ketanggapan korporasi—menurut saya itu di sisi leadership. Penting sekali di Indonesia. Beberapa gubernur di Tanah Air, karena punya visi entrepreneurship, mereka bisa melaksanakannya. Sayangnya, mereka sangat kecil jumlahnya. Yang ada adalah leadership yang kental dengan ‘darah politik’. Menurut saya, perlu birokrat-birokrat yang berjiwa entrepreneur sehingga leadership-nya kental juga ke visi inovasi. Jangan habiskan waktu kita hanya untuk politik yang menguras tenaga, pikiran, dan biaya yang luar biasa. Ini era informasi dan abad globalisasi, Bung hehehe…. Satu menit kita “tidur”, satu tahun negara lain sudah berlari. Jadi menurut saya, pada saat ini leadership-lah yang menentukan “hitam-putih” organisasi pemerintahan.

Apakah model GCG mampu mengakomodasi pandangan Anda tersebut. Atau, Anda berminat mengembangkan model-model baru untuk modernisasi birokrasi?

Saya ada ‘mimpi” ke sana. Mudah-mudahan juga bisa memberi sumbangsih yang signifikan untuk masyarakat kita. Model GCG tentu mampu mengakomodirnya. Tentunya diperlukan political will untuk itu. Dengan kata lain, prinsip GCG adalah meletakkan ‘kamar’ masing-masing organ organisasi sesuai pada tempatnya. Jadi, prinsip-prinsip GCG sangat diperlukan untuk modernisasi organisasi pemerintah. Doakan kerja saya itu ya….

Ok, kalau ada permintaan pelatihan-pelatihan untuk birokrasi pemerintahan daerah misalnya, apakah tertarik dan siap meladeni?

Itu sudah saya jalani itu. Misalnya, di Permerintahan Daerah Sabang. Sangat menarik itu. Menata Good Governance di daerah istimewa, di wilayah yang istimewa juga. Saya sangat siap.

Untuk menyelesaikan setiap buku yang Anda tulis, rata-rata butuh berapa lama?

Lebih kurang satu bulan, itu sudah draf final. Jadi minus layout, editing, advice konsultan, cover, minta endorsement, dsb.

Buku-buku Anda padat dengan referensi teori. Bagaimana teknik menulis buku semi ilmiah seperti itu dalam waktu singkat?

Pertama, jadikan menulis sebagai ‘darah daging’ kita, denyut jantung kita. Itu untuk menorehkan sejarah emas selama kita masih bisa berkarya di dunia ini. Dengan demikian, kita akan mencintai pekerjaan kita sebagai penulis. Akan ada sejumlah energi yang sungguh dahsyat yang membuat kita dibimbing dari Langit untuk menulis dengan lancar. Kayak air mengalir hehehe… Dengan demikian kita tidak pernah merasa lelah menulis. Dan, apa yang kita dengar, apa yang kita lihat, apa yang kita baca, semuanya bisa jadi referensi untuk menulis. Alam semesta adalah guru, bertemu kolega adalah guru. Bahkan, bertemu pengemis dan minta tolong sama pembantu adalah guru juga. Mereka juga profesor-profesor saya, selain buku-buku yang saya baca.

Wilson Arafat bersama koleganya Prof. Dr. Roy Sembel

Dan, kata Anda menulis juga perlu berdoa?

Ya, jangan pernah lupa berdoa ketika menulis. Mohon kepada-Nya supaya dibimbing untuk menulis dan hanya memberikan hal yang berharga kepada ‘dunia’. Percaya atau tidak, ini adalah kekuatan yang paling dahsyat. Menurut saya, itu soft side kita dalam menulis. Selain itu, kita perlu hardside-nya. Kita harus piawai dengan ilmu menulis dan harus menguasai ilmu yang kita tulis. Belajar ilmu menulis di antaranya ikut workshop menulis, bergaul dengan komunitas dan penulis andal seperti Edy Zaqeus hehehe….

Kalau cara menguasai bidang kepenulisan kita, ada kiatnya?

Kiat menguasai ilmu yang ditulis, saya juga punya. Kita harus paralel dengan apa yang kita kerjakan sehari-hari. Sepuluh tahun terakhir saya bergelut dengan GCG. Menjadi narasumber workshop, seminar, dan juga langsung terjun ke lapangan. Saya merasakan ‘denyut nadi’ berbagai persoalan yang terjadi di lapangan. Selain itu, kita harus membaca banyak literatur. Dengan demikian, pekerjaaan sukses dan bisa pula berkarya lewat goresan pena, malah bertambah lancar. Intinya adalah bekerja dan menulis dengan smart, itu orang-orang sukses yang bilang.

Satu-satu saja, ya. Penghargaan untuk tema GCG antara lain; pertama, dari Center for Good Corporate Governance, FE UGM. Kedua, dari Bank Indonesia. Ketiga, dari BPKP. Keempat, dari Bank BNI dapat dua kali penghargaan. Kelima dari Universitas Trisakti. Sedang untuk tema marketing; pertama, dari Nokia Marketing Award saya menang dua kali penghargaan. Kedua, dari Bank BTN. Sementara untuk tema perbankan; pertama, dari LP3ES dan Yayasan Damandiri, dan kedua dari Universitas Indonesia.

Apa rahasianya bisa menang kompetisi penulisan begitu seringnya?

Rahasianya ada empat. Pertama, tulisannya harus sistematis, mengalir, dan pilihan katanya ada “kekuatan” besar. Kedua, tulisan harus original. Hal ini dapat kita tuangkan melaui model, inovasi, dan tak lupa harus applicable serta cost effective. Ketiga, tulisan harus memberikan value yang berharga, misalnya mengandung usulan yang bermanfaat bagi perusahaan yang menerapkkannya. Keempat, jangan lupa berdoa sebelum enter atau mengirim ke panitia lomba hehehe….

Wilson juga aktif membagikan ilmunya melalui sejumlah talkshow

Dalam karya-karya seperti itu, bagaimana peran dan proporsi referensi teori, analisis, kasus, dan opini pribadi?

Semua memainkan peranan yang sungguh besar, seperti mobil ada stir, ban, velg, rem, dashboard, dll. Semua memainkan peranan penting. Bagaimana mobil BMW yang mahal itu kalau tanpa ban tanpa stir? Teori membentuk kerangka berpikir kita, framework yang terarah. Kasus akan melihat best practice atau benchmarking yang sangat penting untuk aplikasi konsep atau teori yang ada. Analisis dan opini adalah ‘value‘ yang kita tawarkan berdasarkan teori dan kasus yang kita kuasai tadi. Di sinilah letaknya nilai tulisan kita. Kita bicara teori dan konsep yang diselaraskan dengan data dan fakta. Lalu kita lontarkan value yang menurut kita bermanfaat.

Setiap lomba penulisan pasti punya persyaratan tema dan teknis penulisan. Bagaimana Anda mencermati itu sehingga Anda selalu berhasil memenangkan penjurian?

Cermati dengan sangat saksama persyatannya. Prediksikan apa yang diinginkan oleh lembaga penyelenggaranya. Itu harus kita pahami benar. Setelah itu, baru kita kumpulkan segenap informasi yang akan memenuhi persyaratan dan keinginan lembaga penyelenggara. Baru kemudian menulis dengan bahasa yang punya power, mengalir. Dan, buatlah sesuatu value yang berharga sebagai saran yang kita lontarkan sehingga karya kita dihargai oleh penyelenggara. Jangan lupa, itu harus beda dengan yang sudah ada, harus orisinal, ada inovasi dari penulis. Kalau kita berhasil membuat tulisan seperti itu, biasanya juara hehehe….

Dengan kata lain, harus ada riset untuk setiap tulisan?

Iya, bisa dikatakan begitu. Terutama untuk karya ilmiah. Kalau berbentuk tulisan atau artikel pendek, kita cukup menjalin riset ‘kecil-kecilan’ berdasarkan apa yang dilihat, didengar, dibaca, dan ditulis dengan bahasa yang padat.

Apakah harus selalu ada ide-ide inovatif dan kreatif dalam setiap karya tulis untuk perlombaan?

Penyelenggara mau memberi hadiah yang besar tentu untuk ‘membeli’ ide, bukan? Menurut saya, itu keharusan kalau mau juara hehehe…. Ide yang kreatif dan inovatiflah yang dicari.

Bagaimana cara menyemaikan ide-ide kreatif dan inovatif itu? Susah dipaksa muncul kalau memang tidak ada?

Menurut saya, ide itu seluas langit dan bumi. Terlalu banyak, di Indonesia ini, yang harus diinovasikan dan dikreatifkan. Berpikir saja bagaimana supaya lebih mudah, lebih murah, lebih cepat, lebih reliable, lebih… lebih… dan lebih, itu ‘pasti’ akan inovatif dan kreatif. Kita paparkan teori, fakta, kita tawarkan ide dan value, kita tunjukkan caranya, lalu kita buktikan itu bisa lebih murah, lebih cepat, lebih, lebih, dan lebih…. Begitu kalau dari pengalaman saya.

Apakah dalam menulis karya untuk lomba Anda juga sudah mengantisipasi tulisan-tulisan kontestan lain akan seperti apa, sehingga mungkin dari situ Anda bisa menyajikan nilai lebih tersendiri?

Kalau peserta lain saya ‘tidak peduli’ hehehe…. Tanda petik, ya. Cuma saya mencari artikel di luar yang terbaik, kata Tung Desem (motivator: red) bergurulah pada orang nomor 1. Makanya, saya cari yang terbaik di bidang yang saya tulis. Kalau GCG namanya Sir Adrian Cadbury, dialah yang dianggap sebagai salah satu suhunya. Kalau menulis, ya berguru pada Edy Zaqeus hehehe…. Jadi, saya berusaha ‘menyaingi’ penulis terbaik di bidang yang ditulis. Kalau bisa saya harus lebih. Soal peserta lain, biarin saja mereka mau menulis apa hehehe….

Wilson Arafat: keluarga tetaplah nomor satu dan sumber inspirasi

Sejauh ini, apa manfaat yang bisa Anda petik dari proses penulisan buku maupun karya-karya ilmiah?

Sangat sinergis, saling mendukung. Menulis adalah salah satu bagian dari ‘menorehkan’ track record penulisanya. Menulis akan membentuk image yang baik. Terlebih lagi, kata Publilius Cyrus, “Good reputable is more valuable than money.” Lebih berharga dari tumpukan pundi-pundi, lho…. Jadi, manfaatnya banyak sekali. Dari segi ilmu kita bertambah, dari image itu menopang kita, dari penghasilan cukuplah hehehe…. Dari sisi teman, tambah banyak network. Kata orang, high risk high return. Maka, menulis itu high return no risk. Bahkan, pekerjaan saya sebagai pembicara publik dan konsultan jadi mudah dipercaya orang. Intinya, menulis sangat menopang karier kita.

Kalau menulis buku seperti George Aditjondro itu high risk, enggak?

Hahaha…. Itu bukan ranah saya. Apa lagi saya belum baca….

Iya, bercanda. Ok, terima kasih wawancaranya. Sukses untuk Anda!

Baik, mudah-mudahan bisa mengispirasi dan bermanfaat bagi teman-teman semua. Terima kasih. Salam bestseller![ez]

* Foto-foto: dokumentasi pribadi.

** Wawancara ini sebelumnya dimuat di AndaLuarBiasa.com.

1 Comment

Filed under Bestseller Writer Interviews