October 7, 2009

Agung Praptapa: Buku adalah Warisan untuk Putra-putri Terbaik Negeri Ini

Agung Praptapa: Controlling people is my area!

Agung Praptapa: Controlling people is my area!

Sebagai akademisi, menulis artikel atau makalah untuk jurnal-jurnal ilmiah adalah “kewajiban akademik” yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Nah, yang tidak kalah penting, menurut Agung Praptapa, adalah menulis buku yang kelak bisa diwariskan kepada generasi terbaik di negeri ini. Dengan semangat itulah, Agung meluncurkan buku perdananya yang berjudul The Art of Controlling People pada acara Writer Schoolen Gathering II (Sabtu, 3 Oktober 2009) di JDC, Jakarta.

Sesuai kompetensinya, Agung membedah berbagai pendekatan pengendalian manusia dalam organsisasi dengan tujuan mendapatkan hasil-hasil sesuai yang ditargetkan. Menurut Agung, sebuah organisasi akan sukses manakala perilaku anggotanya dapat dikontrol sesuai dengan tujuan-tujuan dan target organisasi. Walau begitu, bukan hal yang mudah mengontrol individu-individu dengan beragam latar belakang, sifat, karakter, tujuan, dan kepentingan.

“Mengontrol itu tidak sama dengan mengekang!” tegas Agung, alumnus University of Central Arkansas, USA, dan University of Wollongong, New South Wales, Australia. Yang terbaik menurut Agung, orang harus bisa dikontrol tanpa dia merasa dikontrol. Makannya, pengendalian orang butuh seni yang pas agar tidak terjadi konflik, namun goal organisasi maupun individu juga bisa dicapai secara efektif dan optimal.

Sehari-hari, pria kelahiran di Semarang tahun 1963 ini berprofesi sebagai dosen di Fakultas Ekonomi Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Ia juga menjabat sebagai Direktur Program Magister Manajemen universitas yang sama periode 2006-2009, dan sekarang menjadi pengelola Program Pascasarjana MM-MSi di universitas yang sama. Selain itu, ia juga mendirikan sekaligus menjabat direktur kantor konsultan AP Consulting sejak 1995. Dan, sejak menekuni dunia kepenulisan, suami dari Restu Wardhani yang sudah dikaruniai dua putri bernama Handini Audita dan Nadila Anindita ini, juga menjadi Kolomnis Tetap di situs motivasi AndaLuarBiasa.com. Berikut petikan wawancara Edy Zaqeus dari AndaLuarBiasa.com dengan Agung Praptapa melalui chating di internet.

Bagaimana perasaan Anda setelah buku pertama ini terbit?

Waduh, rasanya seperti saat kelahiran anak pertama…. Iya, menjadi penulis adalah obsesi saya sejak kecil. Dan, baru kali ini saya ada bukti bahwa saya sudah menjadi penulis. Jadi plong rasanya. Dalam setiap kesempatan, saat ditanya cita-cita Anda apa… saya kok selalu menjawab mau menjadi penulis. Tetapi, sampai umur saya kepala empat kok enggak ada produk tulisan. Nah, sekarang lahir bayi pertama. Saya akan bikin bayi-bayi berikutnya. Enak tomantep to… hehehe.…

Apa hebatnya jadi penulis itu?

Hebatnya jadi penulis? Kita seperti meninggalkan “sesuatu” seperti amal jariyah. Yang sampai mati pun akan tetap terus mendapatkan pahala selama masih dimanfaatkan orang.

Apa manfaat lainnya dari aktivitas berbagi ilmu dengan menulis?

Yang jelas, saya bisa membangun personal branding. Kebetulan pekerjaan utama saya kan dosen, yang bidang konsentrasinya adalah management control system. Maka, dengan adanya buku tersebut, saya lebih mantap menyatakan kepada publik bahwa control is my area!

Launching buku "The Art of Controlling People

Launching buku "The Art of Controlling People

Dalam proses penulisan buku pertama tadi, apa bagian tersulit dan termudahnya?

Bagian tersulit adalah memulai menulis dengan gaya bahasa yang seperti saya angankan. Saya kan sudah terlanjur biasa menulis untuk kalangan akademik. Padahal, saya pingin tulisan saya bisa dibaca orang banyak, baik dari kalangan akademisi mapun praktisi. Nah, saat memulai masih terseok-seok. Kalimat pertama bisa gauleh, lama-lama kembali lagi ke bahasa jurnal ilmiah. Bagian termudahnya adalah mengisi tulisan, terutama pada bagian-bagian yang saya ambil dari pengalaman pribadi. Terutama dalam memberikan jasa konsultasi manajemen. Di situ rasanya mengalir karena saya alami, saya resapi, dan saya yakini akan bermanfaat kalau saya sharing-kan.

Apa kiatnya sehingga Anda bisa keluar dari jerat bahasa akademik dan masuk ke bahasa popular?

Pertama, saya selalu membayangkan sedang berbicara kepada publik, yang terdiri dari berbagai kalangan. Yah, membayangkan seperti sedang memberi training atau kuliah umum. Saya bayangkan bahwa saya sedang bercanda, sedang meyakinkan, sedang memberikan contoh supaya mereka mudeng, sedang ditanya, sedang menjawab…. Pokoknya, bayangan sedang bicara yang lancar, santai, dan bermanfaat. Bukan membual, tetapi berbagi dengan ikhlas. Tentu saja, saya juga belajar dari tulisan-tulisan yang saya anggap pas dengan gaya penulisan yang saya bayangkan. Saya belajar dari tulisan orang lain. Yang jelas, dalam setiap kalimat harus ada “nada”-nya… Harus mengandung “gairah” supaya orang membacanya nyaman.

Garis besar isi buku The Art of Controlling People ini?

Pada prinsipnya tentang bagaimana kita mengendalikan diri kita dan orang lain agar kita mendapatkan apa yang kita mau, sekaligus mendapatkan apa yang dimaui oleh organisasi.

Apa manfaat yang bisa dipetik pembaca dari buku ini?

Seperti yang saya sajikan di dalam Pendahuluan. Setelah membaca buku tersebut, diharapkan pembaca memiliki perspektif baru tentang bagaimana mengajak orang-orang yang berada dalam organisasi atau perusahaan, untuk bersama-sama membawa sukses bagi perusahaan maupun orang-orang yang berada dalam perusahaan. Pembaca akan lebih memahami bagaimana peran manusia dan peran sistem pengendalian manajemen di dalam membawa sukses perusahaan.

Umumnya, bukankah setiap individu itu adalah pendamba kebebasan alias tidak suka dikontrol?

Nah, ini kuncinya. Mengontrol bukan berarti mengekang! Mengontrol adalah membawa orang menuju apa yang kita maui. Kalau saya mau menjadi penulis bestseller, kemudian Anda bisa mengendalikan semangat saya, memberikan arahan, mendorong, memberi sarana, dan kemudian saya benar-benar menjadi penulis bestseller, berarti Anda berhasil mengendalikan saya untuk bisa menjadi penulis bestseller.

Agung dalam sebuah acara musik di televisi

Agung dalam sebuah acara musik di televisi

Persepsi umum atau respon otomatis orang kebanyakan terhadap kata ‘kontrol’ adalah penghilangan kebebasan. Bagaimana menghilangkan persepsi itu, supaya pendekatan controlling people efektif?

Seperti kita mengendalikan kuda, kudanya juga senang kok kalau kita kendalikan ke sana dan kemari. Makanya, saya menggunakan istilah “the art“ supaya kata “kontrol” yang kesannya keras bisa menjadi lunak.

Apakah kontrol yang efektif terhadap orang itu bisa memberikan hasil-hasil yang tinggi presisinya dalam organisasi seperti perusahaan?

Kontrol yang efektif adalah yang memberikan jaminan tertinggi bahwa apa yang kita inginkan akan kita dapatkan. Untuk itu, di dalam buku ini disajikan berbagai strategi pengendalian, seperti result control, action control, dan people control. Kontrol yang efektif pada suatu jenis pekerjaan belum tentu efektif bila diterapkan pada jenis pekerjaan lain. Yang efektf untuk tipe-tipe orang tertentu belum tentu efektif bila diterapkan pada orang dengan tipe yang lain. Jadi, melakukan kontrol itu penuh dengan “art“. Bisa keras, bisa lembut, bisa ketat, bisa longgar….

Penerapan prinsip-prinsip dalam buku itu lebih condong untuk karakter organisasi apa saja, profit dan nonprofit?

Keunggulan konsep yang ditawarkan dalam buku ini bisa diterapkan oleh organisasi profit maupun nonprofit. Bahkan, bisa pula diterapkan bagi individu. Gampangnya, para istri yang ingin sukses mengontrol suaminya juga perlu membaca buku ini… hehehe.…

Untuk organisasi nonprofit, apa yang bisa dipakai untuk mengikat individu-individu itu dalam suatu sistem kontrol, manakala tidak ada reward material yang pasti?

Itulah apa yang disebut dengan goal congruency, yaitu kita harus menyelaraskan tujuan organisasi dengan tujuan individu. Dan sebaliknya, kita menyelaraskan tujuan individu dengan tujuan organisasi. Makanya, diperlukan suatu sistem agar keselarasan tersebut terjaga. Dengan demikian, sistem kontrol yang baik justru akan menjamin proses demokrasi di organisasi. Di samping itu, juga meritocracy, yaitu suatu sistem yang memberikan penghargaan yang tinggi bagi siapa saja yang berprestasi.

Pernah menangani kasus yang mana ada resistensi terhadap upaya-upaya controlling people dalam organisasi?

Tentu saja sudah pernah, karena itu tugas utama saya. Beberapa pengalaman berpraktik sebagai konsultan manajemen juga saya sajikan dalam buku ini. Coba baca bab yang membahas tentang pengendalian melalui kompensasi. Di situ saya berikan contoh bahwa sistem kompensasi yang tidak tepat akan menimbulkan resistensi. Setelah sistem kompensasi saya sarankan untuk diubah… wow… dukungan karyawan luar biasa. Sampai-sampai produktivitasnya meningkat 300 persen!

Agung bersama rekan-rekan kolomnis AndaLuarBiasa.com

Agung bersama rekan-rekan kolomnis AndaLuarBiasa.com

Baik, kita singgung sedikit soal birokrasi. Anda pasti setuju dengan penilaian umum bahwa birokrasi kita belum sepenuhnya efektif di era reformasi ini. Apakah Anda juga mencium aroma lemahnya hal controlling people di sini?

Iya, tetapi mohon dipahami bahwa ada bentuk kontrol negatif, dan ada pula bentuk kontrol positif. Bentuk kontrol yang negatif ada unsur mengekang dan membatasi. Sedangkan bentuk kontrol positif mengandung unsur mendorong atau encouraging, memotivasi, dan memberikan jalan atau enabling. Nah, di birokrasi kita masih tidak berimbang antara kontrol positif dan negatif. Yang lebih ditekankan adalah kontrol negatif. Sehingga, orang lebih cenderung… “dari pada salah, mendingan tidak berbuat”. Ini yang membuat birokrasi menjadi beban!

Untuk menjadi efektif, birokrasi sering berhadapan dengan sikon lemahnya resources SDM, finansial, dll. Lalu, pada titik mana bisa ditumpukan harapan supaya organisasi tetap bisa berfungsi efektif?

Sistem kontrol harus memerhatikan aspek cost and benefit. Jadi, tidak pada tempatnya kita membuat sistem kontrol yang rumit dan mahal, bila kondisi resource tidak memungkinkan. Sistem pengendalian tidak selalu harus mahal. Bisa dibentuk melalui kultur organisasi, dan juga contoh atasan. Memang, sistem kontrol akan meliputi mekanisme dan peralatan yang mendampinginya. Sesuaikan saja. Mengapa di negara maju orang patuh terhadap peraturan, yang artinya terkendali? Apakah karena mereka lebih kaya? Apakah karena mereka lebih pintar? Apakah karena sistemnya lebih canggih? Tidak, kan? Tetapi, karena mereka hidup dalam kultur taat aturan.

Gaya kepemimpinan, apakah juga menentukan result dari sebuah sistem kontrol? Termasuk, apakah itu juga bisa jadi solusi efektivitas birokrasi?

Iya, gaya kepemimpinan juga sangat berpengaruh dalam pola pengendalian. Tetapi, yang perlu ditekankan di sini adalah “pemimpin yang baik harus bisa membawa suskes organisasi maupun sukses orang-orang yang berada dalam organisasi”. Jadi, kalau organisasinya saja yang sukses tetapi orangnya gagal, kecewa, tidak sukses, itu sama saja tidak sukses.

Agung bersama para mentor dan peserta Proaktif Writer Camp

Agung bersama para mentor dan peserta Proaktif Writer Camp

Kalau begitu, kita bisa menumpukan solusi efektivitas organisasisalah satunyapada soal rekrutmen pemimpin atau pola suksesinya?

Dua-duanya. Pilih orang yang tepat untuk posisi yang tepat. Berikan posisi yang tepat untuk orang yang tepat. Right man in the right place, and right place for the right man. Tadi maksudnya right man for the right place and right place for the right man.

Mari singgung sedikit soal birokrasi di kampus, yang jelas tidak kekurangan SDM. Bagaimana Anda melihat persoalan efektivitas mereka, apakah ada potensi masalah yang sama?

Hahaha…. Mengendalikan orang kampus juga ada keunikannya sendiri, terutama dosen. Birokrasi kampus harus dirancang untuk mengelola orang pintar dan independen, jangan seperti mengelola birokrasi pemerintahan. Tidak akan klop. Maaf, kalau saya katakan bahwa jenis manusianya berbeda. Orang kampus lebih berani SAY NO dari pada orang-orang dalam birokrasi pemerintahan. Kalau menggunakan konsep strategi pengendalian yang saya tawarkan dalam buku saya tersebut, mengendalikan orang kampus sebaiknya lebih condong ke result control daripada action control. Kebetulan saya juga sedang menulis tentang managing smart people, why different? yang akan saya publikasikan melalui Andaluarbiasa.com. Maaf, bukan berarti orang kampus selalu smart, mohon jangan dipelintir kaya wartwan koran… hahaha…

Kasih bocoran dikit dong…!

Para profesional yang yakin akan kemampuan dirinya tidak akan suka dikontrol tindakannya dari langkah satu ke langkah berikutnya. Mereka lebih result oriented dari pada sekadar menjalankan tugas. Kalau dikaitkan dengan orang kampus atau dosen, mereka akan lebih bergairah kalau diberi target menulis satu buku setiap tahun, daripada misalnya dikontrol dengan cara diharuskan masuk jam delapan dan pulang jam empat.

Terakhir, sudah terpikir untuk melanjutkan buku-buku berikutnya?

Ada tiga buku yang sedang saya selesaikan hehehe…. Kok jadi nafsu begini, ya…? Yang pertama adalah Local Wisdom Global Action, yang sebagian besar sudah saya publikasikan melalui Pembelajar.com, yang ke dua adalah Managing Yourself yang sebagian sudah saya publikasikan melalui Andaluarbiasa.com, dan yang ketiga adalah The New Art of Controlling People yang merupakan pengembangan dari buku pertama saya ini. Saya bisa bergairah menulis ini juga antara lain karena dukungan dan bimbingan Edy Zaqeus, yang terbukti berhasil mengontrol saya untuk menulis… hehehe.…

Terakhir lagi, anjuran untuk rekan sesama dosen, terkait dengan kepenulisan dan buku?

Dosen ya harus menulis…. Menulis di jurnal itu sudah pasti enggak bisa ditawar. Tetapi, menulis buku tidak kalah penting. Ini warisan untuk putra-putri terbaik di negeri ini. Daripada “omong doang” mendingan “nulis doang” hehehe….[ez]

Agung bersama para mahasiswa

Agung bersama para mahasiswa

Foto-foto: Dokumentasi pribadi, koleksi Vina Tan, dan Maria Agatha Catursari.

September 11, 2009

Apakah Kita Diri yg Sama di Surga atau Neraka Nanti?

kepala syrogen invertOleh: Edy Zaqeus

Ini hasil diskusi dengan teman-teman Facebook (3-4 Sept 09) yang rasanya sangat sayang kalau dibiarkan hilang begitu saja. Barangkali, hasil diskusi ini masih bisa dimanfaatkan untuk memantik imajinasi kita, guna mencari jawaban-jawaban yang mungkin masih tersembunyi. Atau, malah sesungguhnya sudah ada jawabannya sejak dulu kala.

Awalnya adalah status saya yang berbunyi demikian:

“Coba imajinasikan, nanti kl kita ke surga atau neraka (terserah pilihannya he3x), apakah jiwa, pikiran, perasaan/emosi kita sama persis spt waktu di bumi? Maksudnya, apakah jiwa, pikiran, perasaan/emosi yg berkonteks bumi masih identik di sana? Hayo…”

Dan, komentar yang bersambungan bunyinya demikian (thanks buat teman2 yg sdh mau terlibat di diskusi ini):

Prasetya M Brata: beda dong …

Edy Zaqeus: lanjutkan penjelasannya Pak hehehe

Prasetya M Brata: supaya gampang dibedakan dengan penghuni surga yang tampan semua, saya punya wajah yang biasa2 saja, tidak seperti waktu di bumi …

Tanenji Sagma: Surga dan neraka itu dimensi yang berbeda dengan dunia. Ia bagian dari entitas tersendiri yang terbebas dari definisi ruang dan waktu…

Ikhwan Sopa: Beda. Panca indera kita sudah terbebas dari penjara fisik yang rendah, kotor, dan berdebu. Seberapa beda, gak ada yang tau, mungkin ribuan, jutaan, atau miliaran kali lipat. In both cases, ueeeannnnnaaakkkk atau ppuuuuueeedddiiih!

Rina Dewi Lina: Hayooooooooooo

Desi Anugrah: we’ll never know until we try..

Edy Zaqeus:
@ Pak Pras: Hahaha…. berarti kita masih pakai ukuran ‘bumi’?
@ Pak Tanenji: Nah, ini agak mending. Boleh ditambah lg Pak penjelasannya. Apakah di sana kita masih membawa pengetahuan kita dr bumi?
@ Pak Ikhwan: Pikiran duniawi masih menghendaki eksplanasi Pak hahaha…
@ Mbak Rina: Nah… kan?
@ Mas Deska: Takuuut….. kl belum waktunya hahaha

Saptya Revan: surga itu bisa jd tempat yg sempurna yg sangat menyenangkan yg pasti dijamin gk bakal inget sama apapun yg prnh ada di bumi,spt halny ketika menikmati surga dunia lupa antara yg bener ato salah.

Prasetya M Brata: Mas Edy .. lha iya lahhh .. wong kita nggak tau ukuran ’sono’ .. hehehe .. katanya suruh imajinasi, ya pasti imajinasi dari otak bumi kita skrg ini .. hehehe … makanya mending imajinasi yang enak2 aja .. Tapi kalo seriusnya, menurut ajaran iman saya, yang namanya ’sono’ (akhirat) itu sesuatu yang belum pernah dilihat oleh mata, didengar oleh telinga, dan dibayangkan oleh pikiran …

Edy Zaqeus:
@ Pak Sapta: Nah, itu yg menarik. Apa di surga/neraka kita msh punya alat ukur atau dapat alat ukur yg baru?
@ Pak Pras: Nah… apakah artinya no mind di sana ya?

Festie Roosma: beda kali ya….tp gmana bedanya ya belum bisa dipastikan…wong belum pernah ke dua t4 itu je…tapi yang pernah kupahami di surga itu sdh tidak ada lagi nafsu duniawi otomatis jiwa, pikiran/emosi ya ga akan sama lagi tho? krn jiwa, pikiran/emosi kita saat ini sgt dipengaruhi oleh nafsu duniawi. Itu penjelasan di surga tapi aku lom ngerti di … neraka gmana….karena yang diinformasikan dr aku kecil sampe sekarang di neraka itu adanya cuma siksaan n siksaan…ga dikasih penjelasan apakah kita akan merasakan siksaan itu sama seperti kalo di dunia…

Edy Zaqeus: Festie, menarik dn lbh detail. ok, kl jiwa, pikiran, emosi sdh tdk sama, apakah ukuran2 yg kita pakai ketika di bumi masih berlaku di sana ya? Contoh, kl skr sy sebut ‘ini baik’ lalu di sana apa masih ‘ini baik’….

Prasetya M Brata: Ya bolah-boleh saja — begin from the end in mind — karena itu memberi bisa digunakan untuk menciptakan alasan yang kuat untuk kita melakukan atau menghindari apa2 yang diperintahkan & dilarangNya di ’sini’… krn menurut ajaran iman saya juga, kehidupan ’sono’ sebagai buah itu adalah hasil ‘menanam’ di ’sini’ …

Edy Zaqeus: Nah, itu penting Pak Pras utk memperjelas imajinasi ini. Berarti apakah ada ‘kesinambungan’, ‘jejak’, ‘ruh’, atau ‘hal serupa tapi tak sama’ dr esensi di bumi dg di surga/neraka…? Saya masih pingin dapat lbh byk imajinasi…

Prasetya M Brata: ruhnya dari alam sebelum ke alam sesudah ’sini’ itu sama … alamnya yang berbeda …tentu ada ‘jejak’nya .. sambungannya … tapi kudu belajar lebih dalam lagi soal ini .. hehehe …. kalo alam di dunia ini diciptakan Tuhan setelah Vetty Vera .. karena Alam memang adiknya Vetty Vera …

Festie Roosma: rasanya di sana sudah tidak ada lagi ukuran apa-apa…baik, buruk, dosa….sudah ga ada lagi…kan seperti kata pak Pras…kehidupan di sana adlh buah kehidupan di sini… jadi ukuran2 itu hanya di pakai di sini..untuk menentukan di mana tempat kita nanti..

Edy Zaqeus
@ Pak Pras: Hihihhihi… saya suka refreshingnya. Ya, kata jejak ini bisa menjebak lho Pak. Krn walau kita bilang alam beda, artinya ada ukuran-ukuran yg terbawa juga ke sana. ini menggelisahkan saya pd akhirnya hahaha
@ Festie: Nah, kl di sana (sur or ner) sdh tdk ada ukuran, berarti kita sdh tdk tahu apakah kita ‘pernah’ berbuat baik/buruk di bumi. atau ada “pengetahuan otomatis’ yg akan menjawab pertanyaan2 ini di sana nanti?

Festie Roosma: sedikit pemahamanku dari ajaran2 yg pernah kuterima…sebelum t4 kita ditentukan (s or n) ada yg namanya hisab ato perhitungan segala yang kita lakukan di dunia (amal atau dosa) … di posisi itulah menurutku 4 the last time kta tahu apa yang ‘pernah’ kita perbuat (baik/buruk) di dunia…

Edy Zaqeus: Nah, ini statement penting. Dlm tempat ‘baru’ nanti, berarti kita tanpa pengetahuan baik & buruk ala ‘bumi’ ya. brarti sdh tdk ada lg konteks ‘nikmat surga’ or ’siksa neraka’ ala ‘bumi’…? atau khusus yg ’siksa neraka’ tetap pakai ukuran ‘bumi’… masih ingin berimajinasi…

Djatmiko Tanuwidjojo: Karena surga itu artinya kebun, maka mungkin akan sama dg kebun di bumi ini. Maka dari itu, supaya bisa masuk surga, bawalah peralatan berkebun waktu meninggal nanti, supaya ndak nganggur di sana…:)

Edy Zaqeus: Nah, ini agak beda dg arus besar Pak. Tambah kaya nih… Berarti konteks masih dibawa ke sana…? Jd msh ada korelasi ‘ini baik’ di ’sini’ dg ‘ini baik’ di ’sana’ juga sebaliknya…

Djatmiko Tanuwidjojo: Ya menurutku dilihat dari etimologinya saja kita bisa meraba konsep atau gagasan dibaliknya. Surga itu kebun, ada yg menyebut taman (kebun) eden atau firdaus. Paradise berasal dari bhs persia yg artinya taman dg saluran2 airnya. Kenapa surga dibahasakan dg makna kebun? Sementara bagi bbrp suku indian di amerika, apa yg kita namakan surga adalah …padang perburuan dg banyak bison yg merumput. Jadi masing2 kultur punya ilusinya sendiri ttg ‘alam yg serba enak’ tsb. Bagi orang cina, hidup di dunia dan di alam seberang sana, sama saja. Makanya kalau mereka mati, di dalam peti matinya dibawakan rupa2: rumah2an, uang2an, dst…:)

Festie Roosma: hmm…akhirnya semua kembali pada keyakinan masing-masing…

Edy Widjaya: Mas, kalo soal imaginasi ttg surga, boleh ditunggu film terbarunya Peter Jackson (Lord of the Rings, Kingkong) The Lovely Bones – main di bulan Desember nanti. Di situ dia akan coba gambarkan yg namanya surga seperti apa. Saya sudah lihat trailer-nya & hasilnya : luar biasa…. Btw, kalo ttg Surga, saya teringat kata2 si Robert Kiosaki : “Everyone wants to go heaven, but nobody wants to die…” He..he..he.. Udah siap, beloom, guys ???

Celine Nikita Lie: mnrt keprcyaan sy, perasaan sblm kt meninggalkan dunia itulah yg akan menjadi penentu kt akan ke dunia neraka atau dunia yg lh baik drpd neraka, krn gmn pun jg sbnrnya surga atau neraka ada d dlm perasaan jiwa kt yg msh hidup ini…

Mugi Hari: Wah kebalikan lagunya dhani crisye . . . Jika surga dan neraka tak pernah ada

Dyah Apri Rohayati: Tulis komentar…waduh mas kalau surga dan neraka ndak ada berarti manusia jg ndak ada yg mengenal kebaikan kan keburukan!

Djatmiko Tanuwidjojo: neraka dan surga itu bisa saja dikatakan sebagai harapan utopia dan kekhawatiran distopia, akibat kecemasan manusia dalam menghadapi kematian. gambaran apapun tentang kedua hal tsb, semuanya berupa asumsi tentang adanya hari pemenuhan janji dan pembalasan terhadap apa yang tak terselesaikan dalam kehidupan (misalnya: masa sih, orang ‘jahat’ tidak … menerima konsekuensi atas perbuatannya, demikian pula sebaliknya). namun ada satu soal: jika orang percaya dengan monoteisme, bukankah berarti sumber kebaikan dan kejahatan itu satu dan sama?…lantas apa istimewanya kebaikan dibandingkan dengan keburukan, jika sumbernya sama?

Edy Zaqeus: Pak Djatmiko, Festie, Pak Edy, Celine, Pak Mugi, Saroh, dll: Sebenarnya pertanyaan status saya itu bersumber dr pertanyaan yg lain; kalau jiwa di bumi yg punya logika, pikiran, emosi, sdh tdk identik dg jiwa ketika di Sur or Ner, bukankah itu bisa menyebabkan putusnya hubungan kausalitas utk keberadaan di ’sono’ nanti? Semisal, para teroris itu … salah satunya ngarep masuk surga (dg cara kekerasan yg dibungkus nilai ttt) dn dijemput bidadari… apa ya bener dia nanti bisa menikmati ‘hadiahnya’ di ’sono’ sebagaimana dia persepsikan enaknya di sini (kl sdh tdk ada jiwa yg identik)?

Moga-moga diskusi berlanjut dan semua perspektif dapat memperkaya wawasan kita semua. Salam. ~ez

* Tanggapan dalam Note FB (selected):

Hanna Fransisca:

Kalau dah di Surga tak perlu apa-apa lagi, Mas. Tak usah pakai pikiran, emosi, perasaan, bla… Nikmati aja. Kalau dah di Surga tak perlu apa-apa lagi, Mas. Tak usah pakai pikiran, emosi, perasaan, bla… Nikmati aja.
Maria Agatha Catursari

mas Edy, “status” yg cerdas utk memancing diskusi. Bangsa kita sedang menghadapi bencana yg pasti melibatkan aroma “kematian”. Komenku: Aku tidak tau pasti krn belum pernah ikut “tour ke surga atau neraka”.(he3x) Setauku manusia terdiri dr body, mind, soul, spirit. (mgkn masih ada yg tau ada lg selain yg kusebut). Surga atau neraka (dan api penyucian, menurut iman kristen katolik-ku) menurutku berada di ranah spirit. Jadi apakah kita tetap sama (aku masih seperti yg dulu…) mungkin mas Edy bisa menebak kira2 apa pendapatku soal ini. Bravo, a very “smart” question!
Agung Webe

yang bisa mempunyai rasa ya pikiran, ada dualitas. ada laki ada perempuan, ada panas ada dingin, ada enak ada pahit, ada siksa ada pahala.. itu semua dualitas dari pikiran manusia.. nah kalau di surga atau neraka masih ada dualitas, ada laki ada perempuan, ada panas ada dingin, ada tinggi ada rendah, ya itu namanya surga dan neraka pikiran.. surga neraka yang di terjemahkan selama ini adalah sebuah tempat yang masih ada dualitas, masih mengandung unsur bagian2 dari pikiran..
tentu saja jiwa, pikiran, perasaan/emosi sudah tidak kita pakai lagi di alam tersebut ( …… ??? ) kita memakai bagian dari tubuh yang lebih halus dari itu semua dan lebih tinggi frekwensinya dengan itu semua..
mau dijelaskan? wah yang bisa dijelaskan itu adalah ‘ranah’ pikiran yang masih mempunyai bentuk…
Edy Zaqeus

@ Mbak Hanna: Apa di sana kita jd kehilangan karunia pikiran, logika, perasaa, emosi, imajinasi dll ya… mengingat setidaknya di bumi hal2 itulah yg mjdkan manusia lbh mulia dibanding mahluk lain… Atau ada karunia ‘baru’ di ’sana’?
@ Mbak Aga: Andai kita tinggal ranah spirit, apakah spirit kita masih berakal budi ya di sana? Saya msh blm mampu membayangkan apa jadinya diri kita tanpa akal budi (sbg premis kemuliaan manusia di ‘bumi’)…
@ Pak Agung: Bagus Pak. Itu sebabnya, pertanyaan saya jgn2 ini hanya bisa menembus angin. Artinya, mana mungkin mendeskripsikan sesuatu yg diluar domain atau dimensi pikiran…? Bgm mendefinisikan sesuatu yg tak mungkin didefinisikan krn ada problem keabsahan metode pendefinisian…
Kuntjoro Sukardi

Wah begitu beragamnya komentar, moga-moga saya masih kebagian. Hemat saya : kematian itu kan terlepasnya sukma dari wadag / fisik. Dan sukma diterima di akhirat. Di poskan di sorga atau di neraka itu hak prerogatif Allah via malaekatnya. Saya kira jiwa/sukma kita masing-masing akan merespons apa yg dihadapi berdasar referensi yg didapatnya waktu di bumi. Hanya saja jiwa harus beradaptasi dulu. Dari semula yg terkurung dalam raga, menjadi kondisi tanpa dimensi lagi. Kalau nggak percaya, silakan . . . siapa yg mau nyoba . . .
Edy Zaqeus

Menarik Pak Kun, jiwa tanpa dimensi lagi… Ini mirip penjelasan yg kmr baru saya terima dr seorang sahabat. Itulah Pak persoalannya, kl preferensi nilai mjd relatif, netral, bahkan nisbi atau nihil di alam ’sono’, jangan-jangan itu bisa membuat kita punya alasan utk mengabaikan atau merelatifkan semua ‘nilai’ di bumi hehehe… Komentar boleh dilanjut.
Witjak Widhi Cahya

tidak identik, masuk bumi dan masuk surga punya ’standar’ berbeda, sebelum dipenuhi ‘jiwa’ tidak akan kemana-mana, ini menurut salah satu hukum fisika. Pun ras manusia dari paling primitif katakan ordo ‘Phitecanthopus’ menemukan ‘dunia’-nya dan menemukan ‘kiamat’-nya sendiri, ini juga terjadi pada manusia nenek moyang manusia modern (Homo sapiens), akan-kah mahluk ‘manusia modern’ seperti kita (homo sapiens sapiens) menemukan kiamat-nya .. aku kira peluangnya besar … pertanyaan ini telah membuat aku agnostik selama 3 tahun .. buat edy ‘asem … ‘
Kuntjoro Sukardi

Kiamat??? Kita masih ingat betapa khawatirnya dunia digital menghadapi berakhirnya milenium ke2 lalu memasuki masa milenium ke3, pada saat mana akan terjadi keguncangan seolah masuk ke lorong waktu yang tidak terperi. Ternyata alam dan seisinya diatur Tuhan bagaikan ular yang nglungsungi, melepas kulit luarnya, lalu kembali jadi segar. Sistim digital mampu memasuki milenium ke 3 hanya dng sedikit masuk angin. Tentang menafikan spirit positif, sikap pasif – mas Mario Teguh mengingatkan bahwa : walau yakin Tuhan tidak akan pelit selalu mengasihi kita, kita tetap harus berdoa, selalu memohon ke padaNya.
Maria Saumi

Hahaha..sy pernah sewaktu smp or sma sy lupa berdiskusi dengan adek sy yg tentunya sama2 cetek ilmunya. Ketika lagi membahas surga n neraka itu, absolutly kami berdua yakin ada. Tetapi ketika membahas surga yg diceritakan n diberitakan semua penghuninya “hidup enak, nyaman, damai dsb”..lalu kita berdua “apa ngk bosen ya?” Hahaha kerjaannya makan, tidur,bersenang2 sama bidadari n bidadara…hehehe kesimpulan yg aneh ya..hehehe..tapi akhirnya saat dewasa ini mungkin sy berpikir seperti bbrp teman diatas. Bahwa parameter “rasa” yg standar kita rasakan didunia pastilah berbeda..maksud saya hal2 yg dianggap negatif dlm diri manusia di dunia, tentunya dengan otomatis hilang..tergantikan dengan “parameter manusia” yg asli..yaitu sewaktu nabi adam n hawa belum diturunkan di dunia..yaitu kondisi keadaan makhluk yg “belum berbuat dosa”. Begitu mas EZ sy sumbang opini..matur nuwun..wah boleh tuh dibikin artikel di web ALB.com ya..hahahaha
Edy Zaqeus

@ Witjak: Soal kiamat berseri ini memang ada beberapa versi penjelasan. Nah, soal jiwa yg tidak identik ini krn standar atau ukurannya beda, apakah kita msh punya kesadaran utk mengenali keberbedaannya? Atau kita tdk perlu apapun utk mengenali atau menyadari keberbedaan itu? Atau kita adl diri, jiwa, spirit, entitas, atau zat yg tak berkesadaran di ’sana’ nanti? Lanjutken….
@ Pak Kuntjoro: Soal kiamat ini ada yg bilang ttg teori kiamat kecil & kiamat besar Pak. Kiamat kecil konon katanya dpt dilihat dr musnahnya fase-fase kehidupan tertentu, spt punahnya era dinosaurus dn diganti dg era manusia….bla..bla..bla… Pertanyannya, era apa setelah manusia nanti hehehe…
@ Maria: Nah, soal parameter rasa yg berbeda ini yg menumbuhkan pertanyaan. Sbb, parameter yg sama juga bisa dikenakan utk kasus neraka. Apakah parameter rasa neraka ala ‘bumi’ sama dg parameter neraka ala ‘langit’? Balik ke basic, apa di neraka jg msh bisa ditemukan parameter atau kesadaran?
Aleysius Hanafiah Gondosari

Kalau pengalaman pribadi saya kontak emosi dengan yang sudah meninggal, bila orangnya baik dan pasrah, maka emosinya senang dan bahagia. Semakin baik, ia semakin bahagia. Sebaliknya, bila orangnya berniat jahat dan tidak pasrah, secara emosi ia merasa menderita.
Edy Zaqeus

Nah, ini menjawab bahwa sekalipun jiwa atau diri kita tidak identik antara alam bumi dg alam ’sana’, setidaknya ada gambaran yg masih bersambungan. artinya, mungkin emosi masih dibawa sampai ’sana’. atau, apa yg kita lihat hanya bisa kita interpretasikan sesuai konteks kita di sini (menderita atau bahagia), sementara esensi di ’sana’nya mgk … Read Moremengalami atau memiliki kesadaran yg berbeda. ttp, hasil penggambaran yg kita pahami itulah yg mungkin mjd bahan dasar pengajaran-pengakaran ttg baik dan buruk.

August 26, 2009

Hari Subagya: Siapa yang Tidak Berubah, Pasti Terpuruk!

Hari Subagya: Motivator Perubahan

Hari Subagya: Motivator Perubahan

Di Indonesia, satu-satunya motivator muda yang secara konsisten gencar menggemakan pentingnya perubahan, mungkin hanya satu nama yaitu Hari Subagya. Maklum, motivator kelahiran Boyolali, 26 Agustus 1968 ini punya serial seminar motivasi dengan banderol sama persis dengan judul bukunya, Time to Change. Tak heran bila kemudian Hari—yang juga menulis buku berjudul Success Proposal dan Time to Change in Selling ini—berhasil menancapkan personal branding-nya sebagai motivator perubahan.

Perubahan demi perbaikan dan kemajuan adalah keniscayaan di berbagai bidang. Tetapi faktanya, di segala lini atau bagian, selalu ada belahan kelompok yang mau berubah dan tidak mau berubah. Kelompok yang mau berubah memandang perubahan adalah keharusan, sementara kelompok yang tidak mau berubah memandang perubahan sebagai ancaman. Apa kata Hari Subagya? “Sungguh, perubahan itu adalah never ending story kalau kita mau bertahan. Siapa yang adaptiflah yang bertahan. Kalau tidak, dunia ini penuh dengan dinosaurus,” tegas jebolan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta ini.

Menurut Hari yang aktif di 3B Consulting dan PDP Consulting ini, treatment yang tepat bagi mereka yang tidak mau berubah harus dijalankan. Ada perubahan mindset, personal touch, ada kepemimpinan yang berwibawa dan berkarakter, bahkan jika perlu harus ada pressure atau replacement yang tepat. Semuanya juga harus disesuaikan dengan situasi dan karakter organisasi, kultur, kepemimpinan, berikut karakter jenis industrinya sendiri. Tetapi yang pasti, “kegelisahan positif” harus senantiasa diciptakan dan ditumbuhkan dalam organisasi agar kita tidak tergilas oleh persaingan dan perubahan.

Untuk mendiskusikan pentingnya perubahan secara lebih mendalam lagi, Edy Zaqeus dari AndaLuarBiasa.com mewawancarai Hari Subagya melalui chatting internet. Dan, suami dari Evie Kusumawardhani dan ayah dari Asia (12), Aussie (8), dan Diaz (2,5) ini memberikan jawaban-jawaban yang bernas serta enak untuk dicerna. Berikut petikannya:

Apa aktivitas Anda terkini?

Memberikan training motivasi Time to Change. Ini training motivasi untuk para karyawan perusahaan maupun organisasi supaya mereka bisa adaptif terhadap perubahan-perubahan yang datang begitu cepat. Persaingan bisnis begitu ketat, sehingga segala sesuatunya harus dijalankan dengan cepat, dan dengan antusiasme penuh. Kalau motivasi tim lemah, konflik internal juga semakin membesar. Apalagi tidak ada kesadaran yang baik tentang pentingnya kerjasama bagi kesuksesan bisnis maupun pribadi. Maka, kondisi organisasi akan semakin memburuk.

Mengapa perubahan penting, kan malah banyak yang enggak suka berubah?

Apakah Anda masih memakai pager hahaha…. Perubahan demi perubahan selalu terjadi. Perubahan tidak pernah secara terang-terangan memberi tahu kita. Butuh kepekaan dan bahkan butuh kesadaran akan adanya perubahan di setiap bidang. Resistent terhadap perubahan? Layaknya memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi tanpa sensitive terhadap tikungan-tikungan jalan. Siapa yang berubah, bisa sukses bisa gagal. Siapa yang tidak berubah, pasti terpuruk. Karena, selera dan ekspektasi customer kita selalu berubah, bahkan selalu meningkat. Untuk itu butuh sensitivitas untuk berubah dan memperbaiki diri.

Hari Subagya: Ciptakan kegelisahan positif!

Hari Subagya: Ciptakan kegelisahan positif!

Oke, bagaimana dengan orang yang ada dalam posisi comfort zone? Maksud saya, perusahaan lagi laba terus, penjualan meningkat terus, kinerja karyawan lagi bagus-bagusnya. Mau berubah ke mana?

Pernah naik kereta dari Jakarta Surabaya? Nah, apakah pernah tertidur? Mengapa tertidur? Karena rodanya bulat. Roda yang bulat seimbang, maka orang merasa nyaman dan tidur. Jadi, siapa pun yang berada di perusahaan, jika nyaman akan tidur. Untuk itu, selalu penting untuk membangun kegelisahan positif. Kegelisahan di mana organisasi merasa perlu memperbaiki dan bermental. Selalu ada cara yang lebih baik, produk yang lebih baik, proses yang lebih cepat.

Tolong dielaborasi lagi maksud kegelisahan positif itu dan apa contohnya…?

Customer itu selalu senang dengan hal yang baru. Jadi, walaupun sangat maju layaknya Nokia, namun munculnya Blackberry bisa membuat Nokia tergopoh-gopoh dan tergerus market share-nya. Kegelisahan positif adalah kegelisahan yang membuat siapa pun menjadi ingin memperbaiki diri. Caranya, coba lontarkan pertanyaan sepuluh ekspektasi customer Anda. Sebagai seorang ayah, apa sepuluh ekspektasi anak? Sebagai suami, apa sepuluh ekspektasi istri? Sebagai manajer, apa sepuluh ekspektasi anak buah? Sebagai anak buah, apa sepuluh ekspektasi atasan? Sebagai produsen, apa sepuluh ekspektasi konsumen? Jika kita terbiasa memiliki sepuluh keinginan customer kita di posisi mana pun, maka akan terbangun kegelisahan positif dan progres.

Bagaimana kegelisahan positif bisa menang dari kegelisahan negatif? Maksud dan versi saya, kegelisahan akan akibat-akibat negatif dari perubahan?

Layaknya setan dan malaikat berperang! Mereka sama kuat. Yang kita bantuin yang menang. Kebanyakan pribadi senang bertindak dalam batas-batas kenyamanan mereka. Sembilan puluh lima persen manusia senang dengan hal yang demikian. Sedang beberapa yang berhasil menjadi luar biasa. Mereka bisa bekerja dalam batas yang tidak nyaman, karena kesuksesan adalah sebuah keharusan. Tidak semua orang juga senang dengan perubahan. Orang tidak senang dengan perubahan karena perubahan itu memang tidak nyaman. Membutuhkan energi ekstra dan juga biaya. Menawarkan perubahan kepada mereka, biasanya akan ditolak. Kecuali bagi mereka yang sudah bisa melihat perlunya perubahan. Jadi, perubahan itu tidak akan terjadi ketika belum dipandang perlu.

Tuhan sering membuat kejadian supaya manusia memandang perlu adanya perubahan. Kecelakaan yang hampir merenggut nyawa telah membuat orang berubah menjadi lebih baik dan hati-hati. Kematian sang anak karena sakit—dan tidak mampu membiayai biaya rumah sakit yang baik—telah membuat seseorang berubah menjadi sangat semangat dan mati-matian dalam bekerja. Cercaan dan makian yang menyakitkan dari para tetangga telah mengubah seseorang menjadi lebih santun dan tidak sombong. Atau, teguran-teguran lainnya.

Kehidupan ini sebenarnya selalu disiplin memberikan sinyal. Jarang terjadi sebuah jembatan roboh sebelum ada tanda-tanda lapuk atau besi berkarat, dan juga bunyi-bunyi sekrup yang kendor atau kerusakan kerusakan kecil. Begitu juga dalam tubuh kita. Manusia pada umumnya akan mati dimulai dengan tanda-tanda memutihnya rambut, melengkungnnya tulang punggung, dan berkurangnya penglihatan maupun pendengaran. Itu semua adalah tanda-tanda. Kejelian dan kemauan kita menentukan.

Hari Subagya: What time is it? Its time to change!

Hari Subagya: What time is it? Its time to change!

Dalam perusahaan selalu ada dua kelompok yang bisa cepat melaju dan lambat melaju. Bagaimana treatment-nya manakala perusahaan sudah tergerak untuk maju lebih cepat?

Benar, setiap kelompok akan terdistribusi menjadi tiga kurva normal; ektrim kanan yang mendukung perubahan, ektrem kiri yang menolak, dan tengah yang masih bisa diajak ke kanan atau ke kiri. Tawarkan perlunya perubahan, ajari memandang perlunya perubahan. Karena, perubahan itu pasti, maka harus selalu dilakukan. Namun di sisi lain, kecenderungan manusia mencari titik-titik aman untuk tinggal. Jika seseorang menemukan alasan perlunya perubahan, mereka akan berubah. Setiap hari kehidupan dan kejadian selalu memberikan “laporan” untuk kita. Mulailah membaca laporan itu sehingga kita mampu menemukan perlunya perubahan.

Selalu ada upaya serangan balik dari kelompok yang tidak setuju berubah. Bagaimana wise treatment-nya?

Manusia… baik itu karyawan, manajer, dan direktur memiliki persepsi sendiri-sendiri. Tugas utama bagi pembawa perubahan adalah memberikan perspektif yang tepat untuk setiap individu. Ingat tidak semua sama. Dan, yang perlu digarisbawahi adalah kepentingan mereka. Show me the money dari masing masing individu. Ketika mereka menemukannya, mereka mendukungnya. Orang tidak setuju itu karena belum tahu atau karena kepentinganya terganggu. Atau, cara menyampaikanya tidak baik. Mungkin juga karena orang yang berada di lingkungan yang salah alias beda habitat. Nah, yang ini harus dipindahkan ke habitatnya hahaha….

Ini perspektif dari yang ogah berubah; perubahan mengguncang sistem, bagaimana dong? Satu simpul saja tidak selaras, ritme terganggu…?

Benar…! Perubahan itu berat, namun harus. bayangkan sebuah pabrik kompresor harus mengubah pabriknya dari kompresor dengan freon ke kompresor jenis baru. Bayangkan juga pabrik TV yang sudah lama dengan tabung harus mengubah produksi TV slim. Siapa yang berani tidak mengeluarkan TV slim dengan LCD? Siapa yang masih bertahan dengan TV tabung? Siapa yang berani membangun perusahaan tanpa harus membangun sistem IT di dalam? Tanpa e-mail? Sungguh, perubahan itu adalah never ending story kalau kita mau bertahan. Siapa yang adaptiflah yang bertahan. Kalau tidak, dunia ini penuh dengan dinosaurus.

Mari lebih menukik. Perubahan selalu berawal dari mindset. Padahal, titik ini pula yang paling susah digempur. Tawaran Anda?

Manusia yang menciptakan Tuhan. Jadi, kita menyontek Tuhan yang paling cespleng! Yaitu, menawarkan surga dan mengancam dengan neraka. Kita harus mampu menawarkan surganya dengan jelas dan menampakkan nerakanya dengan sangat jelas pula. Memahami satu per satu jenis pekerjaan dan karakter manusia. Dalam change management tentu ada tahapan-tahapannya agar bisa mulus.

Hari Subagya bersama tim menciptakan permainan-permainan baru

Hari Subagya bersama tim menciptakan permainan-permainan baru

Pintu-pintu perubahan mindset bisa melalui apa saja? Apa dari visi perusahaan, target, janji reward, atau bahkan sampai ke nilai-nilai terdalam organisasi?

Training itu sebenarnya adalah installing values, memasukkan positive values dalam diri peserta. Ketika values ini kuat, itu juga yang membentuk cooporate culture. Ada yang unsur-unsur innovative mengemuka, creative menonjol, maka perubahan akan mudah. Begitu juga jenis-jenis industri. Fashion, teknologi, dan yang lekat dengan teknologi. Maka perubahan itu akan semakin cepat. Apakah Anda mau membeli handphone tanpa kamera? Mungkin hanya sedikit yang mau. Apakah mau membeli pelembab atau penyegar dibungkus plastik? Mungkin juga tidak! Apakah mau membeli motor dua tak hahaha… polusi!

Mengapa berubah itu sulit? Karena, kita ingin berubah dengan kesadaran atau conscious kita. Tetapi, baik itu emosi, kebiasaan, keyakinan, nilai, dan pola perilaku yang ada di subconscious tidak berubah. Kenyataanya sub-conscious yang lebih beperan. Alam bawah sadar kita yang lebih dominan. Ada yang mengatakan 88 persen subconscious berbanding 12 persen conscious. Jadi, bila terjadi konflik, maka probability kemenangannya adalah dimenangkan oleh subconcious. Itu sebabnya, banyak orang mengalami perubahan atau sukses membuat perubahan besar dalam hidupnya karena dipicu oleh intensitas emosi. Juga oleh perubahan nilai-nilai dalam kehidupanya, perubahan keyakinannya yang semakin membaik dan membesar, serta behavior patern yang berubah.

Nah, di sini sering organisasi melupakan “emosi”. Apa pun dalam perubahan juga harus mengandung “adonan emosi”. Harga diri, semangat, persaingan, penghormatan, penghargaan, aktualisasi, cinta, dll.

Sepertinya soal personal touch juga menentukan. Dalam hal ini, apa Anda lihat ada kelebihan pendekatan orang-orang kita dibanding orang luar?

Wah, kalau hal ini benar-benar tergantung orangnya. Namun, tidak dimungkiri, orang luar sering mendapat apresiasi lebih sehingga sebagai endorser yang lebih kuat. Sugestinya lebih kuat hahaha…. Namun, orang kita memiliki pendekatan budaya yang tentu lebih baik karena pemahamannya. Memang, orang akan senang mendengar dari yang dia hormati, dia sukai, dia percaya, yang suka padanya, dan yang seperti dirinya. Ini PR bagi siapa pun yang menjadi agen perubahan untuk memahami, agar dalam proses perubahan—terutama dalam sebuah organisasi—tidak menghasilkan konflik yang tinggi.

Soal budaya ini, budaya organisasi-organisasi di Indonesia, apakah menghambat atau malah kondusif bagi perubahan?

Sebenarnya, dari pengalaman saya bekerja, faktornya banyak sekali. Bisa orangnya, bisa juga jenis industrinya, bahkan termasuk karakter pemilik atau pimpinanya. Beberapa restoran tradisional mengalami kegagalan karena tidak berubah. Sedang restoran “impor” selalu memiliki mainan-mainan baru, menu-menu baru, supaya mereka tetap menarik. Coba kunjungi restoran dan kafe-kafe saat ini, semua sudah lengkap dengan layout dan desain yang bagus, plus WIFI. Namun, restoran-restoran lokal tetap diam dan perlahan-lahan menutup gerainya satu per satu.

Karakter pemimpin perusahaan macam apa yang kondusif bagi perubahan dan inovasi?

Yang terbuka dengan hal-hal baru. Dengan teknologi, dengan tren, lifestyle, isu lingkungan, dll. Baru saja saya mengisi Time to Change Motivation di sebuah perusahaan makanan. Di sana kita akan menemukan produk-produk baru yang menarik. Kacang yang selama ini menjadi produk tukang keliling bisa menjadi produk yang sophisticated. Peluncuran produk baru minuman jeruk dengan merek tertentu, ini juga inovasi. Malam ini saya ke Lembang untuk memberikan motivasi bagi tim inovator sebuah perusahaan. Saya banyak menemui produk kosmetik baru yang menawan, baik dari kualitas maupun kemasan. Bahkan, cara memakainya. Pemimpin-pemimpin yang visioner dan adaptif yang akan sangat survive dan sukses. Sedang pemimpin yang kaku akan ketinggalan.

Hari Subagya: Perubahan adalah keniscayaan bila ingin survive

Hari Subagya: Perubahan adalah keniscayaan bila ingin survive

Mari kita tarik sedikit ke lingkup nasional. Menurut Anda, masyarakat kita sekarang—menatap persaingan global—harus bersikap atau berubah seperti apa?

Competitor is motivator! Ini harus menjadi mindset kita semua. Memiliki pesaing yang baik artinya kita akan semakin baik. Berbahagialah dengan keterbukaan dan kelancaran informasi di Indonesia. Maka, kita akan melihat dunia lebih terang benderang. Dan, masyarakat kita pun akan belajar sangat banyak, serta mengambil keuntungan yang banyak dari kondisi ini

Menurut Anda, masyarakat kita sudah siap untuk berubah dan bersaing dengan negara-negara maju lainnya? Atau, masih harus menunggu lebih lama lagi?

Teruslah belajar! Keep learning keep growing! Bidang apa pun, persaingan adalah hal yang hanya akan membuat kita semakin kuat! Kita siap! Sangat siap! Namun, kita harus mengetahui dengan baik kelemahan dan kekuatan sendiri. Pemerintah harus mengarahkan dan membantu dengan intensif, masyarakat Indonesia pasti jaya. Siapa yang bisa mengalahkan pariwisata Indonesia? Tentu tak tertandingi karena memang uniqueness-nya yang luar biasa. Sumber alam, sumberdaya manusia, letak geografis, dll. Sekaranglah saatnya! Now! No Opportunity Wasting. Tidak boleh menunggu. Sukses besar untuk Indonesia![ez]

Foto-foto: Dokumentasi pribadi beserta koleksi PDP Consulting.

Ctt: Hari Subagya membagikan sebuah e-book untuk pembaca. Silakan download di link berikut: http://www.harisubagya.com/hadiah.html

August 11, 2009

Mempertahankan Gairah Menulis Pascapelatihan

BTN Writers Community: Workshop Writing Skill for Executives & Managers 8-9 Agustus 2009, Menara Peninsula, Jakarta

BTN Writers Community: Workshop Writing Skill for Executives & Managers 8-9 Agustus 2009, Menara Peninsula, Jakarta

Oleh: Edy Zaqeus*

“Inti dari upaya menjaga kegairahan pascapelatihan menulis adalah berinteraksi secara langsung maupun virtual dengan para mentor dan rekan-rekan sesama peminat bidang kepenulisan.”
~ Edy Zaqeus

Dua hari ini (8-9 Agustus 2009) saya mengisi pelatihan menulis bertema Writing Skills for Executives and Managers di BTN Writer’s Community. Acara yang diikuti para staf dan manajemen Bank BTN Jakarta ini berlangung penuh gairah dan memperlihatkan ada talenta-talenta istimewa dalam komunitas ini. Hampir semua peserta sesungguhnya punya modal yang cukup untuk menjadi penulis-penulis andal. Bahkan, beberapa di antaranya memang sudah jadi penulis duluan.

Kegairahan menulis dalam setiap pelatihan menulis memang berlimpah-ruah. Masalahnya, bagaimana mempertahankan kegairahan tersebut pascapelatihan? Tema ini saya angkat mengingat berdasarkan pelatihan-pelatihan yang saya isi maupun yang saya kelola selama ini, soal pasang surut kegairahan atau mood menulis sering menjadi problema tersendiri bagi para peserta pelatihan.

Saya ada beberapa kiat praktis untuk mengatasi masalah di atas. Berikut penjelasannya dan semoga ada manfaatnya:

Pertama, ikutlah bergabung dan aktif dalam forum-forum yang dibentuk pascapelatihan. Ada beragam jenis forum pascapelatihan. Yang paling umum adalah mailing list khusus alumni atau kelompok-kelompok diskusi lanjutan. Mailling list sering dianggap lebih mudah diikuti karena tidak mengharuskan kehadiran secara fisik dalam setiap diskusi-diskusi yang diadakan. Sementara diskusi-diskusi kelompok, sekalipun memiliki efektivitas tersendiri namun membutuhkan komitmen waktu yang lebih banyak. Kadang ini mempersulit alumni pelatihan yang sehari-harinya memiliki kesibukan tinggi.

Belakangan kita dikenalkan dengan Facebook sebagai media jejaring yang sangat bermanfaat. Setiap orang yang memiliki account Facebook dapat berinteraksi langsung maupun tidak langsung secara lebih intensif dan atraktif. Ada fasilitas chating, email, termasuk forum berdiskusi/berkomentar dengan tampilan foto. Ini jelas lebih menarik sehingga Facebook bisa diandalkan untuk memelihara jaringan atau komunitas.

Kedua, aktiflah menulis untuk media-media publik seperti media massa cetak, media massa online, website kepenulisan/motivasi, media internal, blog atau website pribadi, atau minimal mem-posting tulisan dalam note Facebook. Untuk pemula, kadang memang terasa sulit sekali menembus media massa. Akan tetapi, tetaplah berusaha menulis dengan standar media massa. Kemudian bila dikirim ke media massa tetapi tidak dimuat, Anda toh masih bisa membidik media-media massa online yang memberikan ruang bagi tulisan-tulisan pembacanya (kanal citizen journalism).

Semisal Anda sulit menembus media nasional seperti Kompas, maka jangan ragu-ragu untuk mengirim ke media nasional lain atau media lokal. Kalau itu juga tidak dimuat, jangan patah arang karena tulisan Anda tetap masih bisa dibagikan ke publik melalui note Facebook atau memasukkannya ke kanal-kalan public blog seperti Kompasiana.com, blog Detik.com, atau kanal jurnalisme warga di Vivanews.com, Kompas.com, Okezone.com, Inilah.com, dll.

Anda pun juga bisa membidik sejumlah website motivasi yang kredibel seperti AndaLuarBiasa.com, Pembelajar.com, dan Andriewongso.com. Web-web ini sudah dikelola secara profesional, dikenal luas, dan tak sedikit kolomnisnya yang aktif menulis di sana telah melahirkan buku. Memang tidak ada honor pemuatan tulisan di sana. Tetapi, efek branding yang diperoleh berdasarkan penayangan tulisan rasanya cukup bermanfaat.

Ketiga, teruslah berkomunikasi dengan mentor-mentor atau trainer yang telah melatih Anda. Cara terbaik adalah dengan selalu terhubung dalam jejaring online semacam mailing list atau Facebook. Khusus untuk Facebook, setiap kali mem-posting tulisan dalam note, jangan lupa men-tag mentor/trainer Anda, juga teman-teman alumni, atau sahabat-sahabat lain yang memiliki minat membaca maupun mengapresiasi tulisan Anda.

Satu hal yang saya amati, bahwa komunikasi dengan mentor lumayan bisa menjaga kegairahan alumni pelatihan dalam melanjutkan proses belajar menulis maupun meningkatkan kemampuan kepenulisan. Sementara, forum-forum diskusi di mailing list maupun di Facebook juga sangat membantu dalam mendapatkan feedback secara on the spot. Yang menarik, segala macam komentar atas tulisan kita, baik dari mentor maupun rekan-rekan lainnya, biasanya cukup menyuntikkan semangat untuk terus menulis artikel-artikel berikutnya.

Keempat, teruslah produktif menghasilkan tulisan apa pun bentuknya. Seperti halnya keterampilan teknis lainnya, sesungguhnya keterampilan menulis juga akan meningkat sejalan dengan frekuensi aktivitas menulis itu sendiri. Semakin jarang diasah—khususnya untuk pemula—semakin sulit berkembang pula kemampuannya. Bahkan, penulis-penulis senior pun, apabila terlalu lama tidak menulis, kadang perlu re-conditioning lagi supaya mampu menulis secara cepat dan efektif.

Ada jenis penulis yang suka menulis tema apa saja karena memiliki multi-minat. Ini boleh-boleh saja. Walau begitu, saya menyarankan supaya Anda mencoba mencari fokus tema dalam setiap artikel yang Anda tulis. Semisal, apabila Anda sudah menghasilkan lima hingga sepuluh artikel tentang financial planning, maka tidak ada salahnya Anda mulai fokus menghasilkan tulisan-tulisan dengan tema yang sama tetapi dengan stressing yang lebih bervariasi.

Kelima, punyai target kepenulisan yang lebih tinggi. Produktivitas menulis perlu dibarengi dengan visi untuk membuat karya yang lebih tinggi atau lengkap sifatnya. Misalnya, dari semula hanya menulis artikel, tidak ada salahnya kemudian ditingkatkan ke arah penulisan sebuah naskah buku. Dengan tambahan visi atau target semacam itu, aktivitas berlatih atau meningkatkan kemampuan menulis mungkin bisa lebih menggairahkan lagi.

Dari pengamatan saya, ada penulis-penulis artikel produktif menuliskan artikelnya, tetapi tidak terpikir untuk menulis buku. Padahal, menulis artikel dan menulis buku bisa menjadi suatu aktivitas yang sifatnya setali tiga uang. Maksudnya, sambil menulis artikel demi artikel pun sebenarnya kita juga bisa menulis buku. Lebih jelasnya, kita bisa menempatkan artikel-artikel yang terpisah itu sebagai bakal naskah buku kita. Kiat lengkapnya bisa Anda baca di buku saya yang berjudul Resep Cespleng Menulis Buku Bestseller (2008)

Inti dari upaya menjaga kegairahan pascapelatihan menulis adalah berinteraksi secara langsung maupun virtual dengan para mentor dan rekan-rekan sesama peminat bidang kepenulisan. Semakin jauh jarak kita dengan mereka, kemungkinan semakin jauh pula energi atau motivasi kita dalam menulis. Semakin dekat jarak kita dengan mereka, kemungkinan semakin mudah pula kita teraliri motivasi yang hidup dalam diri orang-orang seminat dan seperjuangan. Jadi, berkaryalah, berinteraksilah, dan tetap semangat menulis![ez]

* Edy Zaqeus adalah penulis buku-buku bestseller, writer coach, trainer, dan konsultan penulisan dan penerbitan. Ia adalah pendiri dan editor website motivasi AndaLuarBiasa.com dan BukuKenangan.com. Tulisan-tulisan maupun wawancara-wawancara Edy tentang kepenulisan dapat dilihat di blog: http://ezonwriting.wordpress.com. Ia dapat dihubungi melalui pos-el: edzaqeus@gmail.com atau telepon: 021-59400515/Hp: 08159912074.

Note:

1) Artikel ini saya selesaikan dalam waktu 25 menit, berbarengan dengan saat peserta pelatihan penulisan sedang mengerjakan tugas menulis artikel.
2) Ikuti pelatihan “Cara Cerdas Menulis Buku Bestseller Batch XI” pada 14-15 Agustus 2009 di Hotel Menara Peninsula pkl 08.00-17.00 wib. Info selengkapnya baca di iklan workshop di blog ini.

August 4, 2009

Personal Branding Melalui Buku

RCMBBOleh: Edy Zaqeus*

“Awali branding Anda dengan tulisan.”

~ Edy Zaqeus

Suatu kali ada seorang trainer datang kepada saya untuk mendiskusikan strategi membangun personal branding dan debutnya di ranah publik Indonesia. Trainer ini lulusan luar negeri dan mengaku telah berkiprah selama bertahun-tahun di berbagai bidang bisnis. Jaringan atau fondasi internasionalnya sudah terbentuk, namun yang saat itu ingin dia bidik justru jaringan dan fondasi di Tanah Air. Alasannya sederhana, pasar di Indonesia dipandangnya masih “menyilaukan” mata, sangat prospektif, dan sangat sayang bila diabaikan.

Infrastruktur berupa tim kerja sudah dibentuk, termasuk event organizer. Sementara website berciri company profile sebagai sarana mass communication dan wadah jejaring juga sudah disiapkan. Rencana-rencana dan budgeting “penampakan” ke ranah publik juga sudah disusun dan dipersiapkan sedemikian rapinya, baik berupa sejumlah preview seminar, seminar inti, termasuk segala macam marketing tools yang dibutuhkan. Sepintas, semua persiapan tersebut bakal memudahkan si trainer ini untuk menggaet perhatian dalam belantara pelatihan dan permotivasian di Indonesia.

Tetapi, dari kacamata saya pribadi sebagai konsultan kepenulisan dan penerbitan, tampaknya ada satu alat personal branding yang tidak dia prioritaskan. Apa itu? Tak lain adalah branding melalui tulisan, dan lebih khusus lagi melalui buku (baik buku panduan, kajian profesi, atau memoar). Mudah saja bagi saya untuk menyatakan bahwa tulisan atau buku adalah alat personal branding yang luar biasa, terlebih bila dipersiapkan dengan baik dan profesional.

Mengapa saya katakan buku ini ampuh untuk mem-branding seseorang? Bahkan, mengapa bisa menjadi medium yang sungguh-sungguh mampu menjadikan ‘si bukan siapa-siapa’ menjadi ‘si seseorang’ yang diperhitungkan? Ya, jawabannya cukup sederhana, yaitu karena sudah banyak contoh membuktikan hal tersebut. Kita pasti tidak asing dengan nama-nama beken seperti Hermawan Kartajaya, Renald Khasali, Ary Ginanjar, Mario Teguh, Andrie Wongso, Andrias Harefa, Safir Senduk, dan masih banyak lagi.

Mereka ini contoh konkrit para penikmat fungsi dan manfaat buku sebagai alat personal branding. Dan saya bisa pastikan, saat ini buku menjadi pilihan terfavorit bagi para profesional untuk branding dan mengangkat reputasi dan kredibilitas profesi. Para motivator, trainer, coach, sales agent, broker, banker, termasuk para juru dakwah pun sudah memanfaatkan buku sebagai alat meraih popularitas.

Nah, apa untungnya memanfaatkan buku sebagai alat personal branding? Mengapa tidak memilih iklan atau advertorial di berbagai media massa? Mengapa tidak memakai jasa konsultan PR saja untuk itu? Saya ada beberapa alasan yang semoga bisa menjadikan preferensi awal untuk melihat potensi buku sebagai pilihan strategi branding Anda. Berikut di antaranya:

Pertama, buku memiliki citra (atau dipersepsi) sebagai “barang intelektual”. Artinya, seorang penulis buku hampir pasti dipersepsi oleh publik sebagai orang yang pandai dan ahli (expert) di bidang yang dia tulis. Sebagai barang intelektual, buku maupun penulisnya akan menuai gengsi tersendiri sebagai bagian dari komunitas terpelajar.

Nah, di belahan dunia dan sistem sosial mana pun, komunitas terpelajar begitu dihormati sehingga kadang seperti mendapatkan priveledge sosial tertentu. Sebut misalnya, kalangan pers pasti lebih menyukai narasumber yang sudah memiliki track record tertentu, yang mana informasi itu bisa mereka rujuk dari buku yang ditulis.

Kedua, persepsi sebagai ahli ini memunculkan efek berupa pengakuan awal atas kredibilitas si penulis. Kredibilitas seseorang menentukan tingkat pengaruh maupun kepercayaan publik terhadapnya. Tokoh atau figur yang memiliki kredibilitas di ranah publik seperti memiliki ‘kartu pas’ untuk masuk ke berbagai lingkungan, sasaran, atau target pengaruh. Mau bukti, simak saja menjelang pemilihan jabatan-jabatan publik, biasanya akan muncul buku-buku profil dari para kandidat.

Nah, buku memang cenderung menghasilkan persepsi automatis. Maka, panjang-pendek usia atau kuat-lemah pengaruh pun tergantung pada isi buku itu sendiri.

Ketiga, buku itu sejatinya bersifat egaliter dan demokratis. Lho, apa maksudnya? Nah, beda dengan persepsi awam selama ini yang memandang buku sebagai perwujudan olah intelektual yang eksklusif. Dalam beberapa kasus bisa jadi demikian, tetapi sesungguhnya buku merupakan salah satu instrumen mobilitas pengaruh yang paling egaliter dan demokratis. Artinya, siapa pun Anda dan dari latar belakang apa pun, tidak ada hambatan struktural untuk mewujudkan sebuah buku, termasuk menggunakannya sebagai bagian dari strategi-strategi branding Anda.

Jadi jangan heran, mulai dari yang SD saja tidak tamat, sopir taksi, pembantu rumah tangga, tukang sol sepatu, pemulung, mantan narapidana, sampai para konglomerat maupun pakar bergelar profesor doktor berhak menuliskan pikiran-pikirannya menjadi sebuah buku. Buku adalah instrumen pengaruh yang inklusif sifatnya. Setiap orang yang berhasil menerbitkan buku akan memiliki kesempatan yang sama untuk masuk dalam public discourse, dan ada efek pengaruh di situ.

Keempat, buku adalah instrumen branding yang relatif mudah untuk dikreasikan. Saya katakan begitu karena ada berbagai macam teknik praktis yang bisa digunakan untuk menyusun atau menulis buku. Ada teknik kompilasi tulisan, ada teknik menulis cepat, ada teknik interview, ada juga teknik co-writing dan ghost writing. Berdasarkan pengalaman saya, hampir semua tema maupun problem kepenulisan tetap bisa dicarikan solusinya.

Nah, dari segi waktu misalnya, penulisan buku pun bisa disesuaikan dengan rencana atau target-target tertentu. Percaya atau tidak, ada buku yang bisa ditulis dalam waktu 2,5 jam! Saya pernah mengkreasikan buku jenis ini (Mengukir Kata Menata Kalimat; Gradien, 2007) bersama Andrias Harefa, seorang trainer dan penulis buku-buku bestseller.

Kelima, dari segi efisiensi biaya, tak jarang (atau malah lebih sering) proses penggarapan buku menjadi lebih kompetitif dibanding iklan-iklan  di televisi maupun media cetak. Beberapa tokoh atau perusahaan rela menghabiskan ratusan juta rupiah untuk sekali pasang iklan di media massa cetak. Padahal, dengan budget yang sama mereka bisa menghasilkan buku-buku dengan kualitas yang sangat baik serta memiliki efek pengaruh yang relatif lebih lama.

Baik, saya sudah sampaikan beberapa alasan dasar mengapa Anda perlu melirik buku sebagai pilihan membangun personal branding Anda. Barangkali ada di antara pembaca tulisan ini yang mulai terusik perhatiannya dan ingin tahu bagaimana mempraktikkannya. Saya ada saran sederhana yang saya yakin bisa mulai dijalankan oleh siapa saja, khususnya kaum profesional. Apa itu? Mulai saja menulis. Ya, mulailah menulis apa saja, khususnya bidang yang memang menjadi keahlian atau kompetensi Anda.[ez]

* Edy Zaqeus adalah penulis buku-buku bestseller, editor profesional, writer coach, trainer, dan konsultan kepenulisan dan penerbitan. Dua karya terakhirnya (dari delapan buku yang ditulisnya) yang laris di pasaran adalah Resep Cespleng Menulis Buku Bestseller (Fivestar, 2008) dan Bob Sadino: Mereka Bilang Saya Gila (Kintamani, 2009). Edy juga menjadi pendiri sekaligus editor website motivasi AndaLuarBiasa.com dan BukuKenangan.com. Ia dapat dihubungi di nomor: 08159912074/021-59400515 atau pos-el: edzaqeus[at]gmail[dot]com.

July 28, 2009

Johanes Ariffin Wijaya: Apa pun Profesinya, Kita Bisa Menjadi Motivator

Johanes Ariffin Wijaya: Menerima Posmo Award

Johanes Ariffin Wijaya: Menerima Posmo Award

Ia dikenal sebagai seorang inspirator dan motivator muda yang suka menggabungkan permainan sulap dan hipnosis dalam setiap acara seminar dan pelatihan. Johanes juga  dikenal sangat rajin menelurkan karya berupa buku. Dalam usianya yang relatif masih muda, lelaki kelahiran Jakarta 14 Oktober 1977 ini sudah menghasilkan 15 judul buku laris. Bukan itu saja,  ia juga pernah menerima penghargaan Muri, Posmo Award, penghargaan Citra Generasi Pembangunan Indonesia, penghargaan Citra Eksekutif dan Profesional 2009, dan masih banyak lagi.

Terakhir, Johanes meluncurkan dua judul buku sekaligus, dan salah satunya yang berjudul The Secret of Hypnosis cukup mendapat perhatian dan sambutan positif dari pasar. Tampaknya, demam acara sulap dan hipnosis di televisi ikut memengaruhi kegairahan publik dalam menerima karya tersebut. Namun, sesungguhnya buku yang ditulis Johanes bareng dengan Setia I. Rusli (ahli hipnosis) itu sendiri memang berisi berbagai hal dasar dalam bidang hipnosis yang layak diketahui masyarakat luas.

“Hipnosis dapat digunakan oleh orang-orang untuk menjadi lebih percaya diri, lebih luar biasa, sehingga jika dirinya menjadi percaya diri dan luar biasa, pastilah motivasinya akan tinggi,” jelas Johanes tentang buku terbarunya itu. Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa selama ini masyarakat masih suka salah paham terhadap pengertian dan pemanfaatan hipnosis itu sendiri. Masih banyak orang beranggapan hipnosis itu seperti ilmu hitam. Padahal menurut Johanes, hipnosis sesungguhnya merupakan ilmu manajemen pikiran yang bisa dimanfaatkan sepenuhnya bagi kesuksesan seseorang.

Bicara mengenai dunia permotivasian, suami dari Mimi Kurniasari ini mengaku optimis bahwa ke depannya peran motivator akan semakin dibutuhkan oleh masyarakat kita. Terlebih melihat fakta bahwa jurang antara sebagian masyarakat yang sudah ber-mindset positif dengan yang ber-mindset tidak positif masih teramat lebar. Bahkan, ia berkeyakinan bahwa apa pun profesi yang kita tekuni, di situ kita bisa menjadi motivator. Dari titik ini, sesungguhnya banyak orang bisa mengambil peran positif dalam menggerakkan dan memajukan bangsa ini.

Masih banyak hal yang bisa didiskusikan bersama motivator yang juga seorang pengusaha ini. Semua hal menyangkut penulisan buku dan permotivasian selalu menarik perhatiannya. Berikut petikan wawancara Johanes Ariffin Wijaya dengan Edy Zaqeus dari AndaLuarBiasa.com yang berlangsung akhir Juli 2009, melalui percakapan online:

Apa judul buku karya terbaru Anda?

The Secret of Hypnosis dan juga buku EO - 7 Langkah Jitu Membangun Bisnis EO karena terbitnya bersamaan.

Kabarnya judul yang pertama mendapat predikat buku terbaik. Apa isi buku tersebut?

Ya, buku tersebut mendapatkan predikat buku motivasi terbaik booth Penebar Swadaya (sebuah grup penerbitan: red), ketika Jakarta Bookfair 2009. Karena, rupanya hipnosis dapat digunakan oleh orang-orang untuk menjadi lebih percaya diri, lebih luar biasa, sehingga jika dirinya menjadi percaya diri dan luar biasa, pastilah motivasinya akan tinggi.

Apa latar belakang Anda menulis buku tersebut?

Pertama, hipnosis itu adalah ilmu tentang manajemen pikiran. Kedua, menulis untuk mempraktikkan ilmu dan bisa membagikan kepada para pembaca. Ketiga, memang lagi demam acara The Master di televisi. Keempat, memberitahukan tentang rahasia-rahasia di balik hipnosis. Mungkin anggapan sebagian orang, hipnosis itu ilmu hitam, pakai magic, mantra, dll. Tetapi nyatanya tidak. Hanya dengan kekuatan pikiran dan komunikasi saja, salah satu bentuk ilmunya adalah NLP atau Neuro Linguistic Programming. Lalu kelima, memberitahukan kepada masyarakat tentang bagaimana cara mencegah kejahatan hipnosis. Dan keenam, dengan hipnosis orang bisa memaksimalkan potensi dirinya, lho. Ini yang membuat buku ini dapat predikat terbaik, di bawah buku Hillary Clinton, lho!

Buku tersebut terbit kapan dan sejauh ini bagaimana pasar menanggapinya?

Terbit Juni 2009. Dan buku ini diterima oleh pasar karena demam The Master. Sudah cetak ulang dan dalam satu bulan penjualannya sudah mendekati angka 10.000, efektif bulan juni 2009. Sekarang Juli 2009, baru satu bulan sudah cetak ulang dan penjualannya good-good-good. Laporan dari toko-toko buku juga sangat memuaskan.

Johanes dalam sebuah acara peluncuran buku terbaru

Johanes dalam sebuah acara peluncuran buku terbaru

Ini buku yang keberapa dan berapa lama proses penulisannya?

Ini buku ke-15 saya, yang The Secret of Hypnosis ya. Menulisnya kurang lebih tiga bulan bersama dengan Setia I. Rusli, teman saya yang pakar hipnosis juga. Cuma ke penerbitnya memakan waktu sekitar satu setengah tahun. Saya harus sabar menunggu momen yang tepat. Ssaya tidak menyerah. Buku ini pun sempat ditolak oleh beberapa penerbit. Namun saya percaya, semangat, semangat, semangat, dan tetap antusias. Akhirnya buku ini berhasil terbit, malah sukses dan diterima oleh pasar. Kebetulan momenya sangat tepat, ya. Pembacanya ada dari anak kecil sampai dewasa, mereka yang suka nonton The Master. Ada juga yang mau ikut audisi hehehe….

Tampaknya Anda banyak menggunakan teknik co-writing untuk menulis buku. Apa kurang dan lebihnya cara itu?

Menurut saya, sekarang kita harus kolaborasi karena masing-masing sudah punya pangsa pasarnya. Saya tidak melihat ada kekurangannya dengan sistem kerjasama. Malah sangat bagus. Tetapi saya kerjasama selama naskah itu masih dalam lingkup pengetahuan saya saja. Memang, lebih cepat pembagian tugas lebih enak. Misalnya, rekan saya tentang A sampai H, saya selanjutnya. Kalau ide, selama bahan dasarnya untuk menulis buku sama, memang ada terjadi sedikit perbedaan. Tetapi ketika dibahas, akhirnya sama lagi tuh. Ini menggunakan teknik negosiasi yah, terhadap rekan dan penerbit hehehe….

Cara ini juga bagus untuk mem-branding penulis baru. Menurut Anda?

Buat saya ndak apa. Saya senang bisa membantu teman-teman penulis baru. Mereka terbantu dengan saya kok, saya senang-senang saja. Hidup ini indah kalau kita bisa membantu orang lain, kan? Anda sudah baca buku Motivmagic yang ada permainan sulap di sana? Ada video tentang “King Make King”. Nah, orang sukses adalah orang yang bisa membantu orang lain untuk sukses.

Kalau dari sisi penulis, bagaimana proses penulisan semacam itu, mulai dari pemunculan ide sampai eksekusi penulisannya?

Kadang-kadang saya yang munculkan ide, terus ajak kerjasama dengan teman atau rekan, yang punya visi dan misi sama, gitu lho! Kalau Motivmagic dan The Secret of Hypnosis karena kebetulan bercerita tentang dunia misteri hehehe…. Ndak tahu pas ketemu Pak Bobby langsung saja, yuk kita buat motivasi dengan magic. Dengan Pak Setia, pas ketemu yuk kita buat hipnosis. Eh, Pak Setia bilang, “Ayo, gua juga mau bikin tuh sama lu.” Begitu.

Anda dikenal sebagai motivator yang sering memasukkan hipnosis dalam seminar-seminar Anda. Mengapa demikian? Nilai tambahkah?

Yes, salah satu training saya adalah berjalan di atas api dan beling. Itu menggunakan hipnosis. Pastinya untuk menambah percaya diri, semangat, dan antusiasme. Jika seseorang pede (percaya diri: red) dan antusias, segala sesuatunya akan menjadi lebih mudah. Dan, itu pastinya nilai tambah bagi saya, termasuk permainan sulap dan hipnosis.

Hipnosis dalam seminar atau pelatihan motivasi itu sebagai jalan pintas untuk mendapat motivasi, atau ada alasan lain?

Salah satunya. Semua pembicara sebetulnya tanpa sadar menggunakan hipnosis massa. Termasuk Anda juga, kan? Hehehe.… Itu juga memasukkan pikiran-pikiran positif, itu pun menggunakan teknik hipnosis juga. Salah satunya afirmasi positif atau pembayangan jalan di atas beling atau api, bahwa jika kita mau kita pasti bisa.

Nah, ini penjelasan yang bagus tentang hipnosis. Apa semua orang yang tidak secara langsung belajar hipnosis pun bisa menghipnosis?

Begini, sejak kecil sebetulnya kita menghipnosis diri kita sendiri. Coba bayangkan, kalau kita pakai baju itu kan biasanya mulai dengan memasukkan tanggan kiri dulu atau kanan. Nah, coba diubah, sekarang kebalikannya. Nah, itu sangat sulit, gitu lho! Tetapi kalau mau diubah kebiasaan itu, lakukan selama 21 hari berturut-turut, pasti bisa. Contoh, kalau bangun tidur jam 5 ya. Kita mau bangun tidur lebih awal, misalnya jam 4.30. Kita perlu setel jam weker. Tetapi cukup selama 21 hari kita lakukan terus-menerus. Nanti setelah itu tanpa weker pun kita akan bangun jam 4.30. Itu contoh untuk menhipnosis diri sendiri. Tetapi kalau menghipnosis orang lain, memang ada cara dan teknik-teknik tersendiri.

Bersama istri tercinta Mimi Kurniasari

Bersama istri tercinta Mimi Kurniasari

Minta contoh self instant hypnosis lagi. Bagaimana menghipnosis diri sendiri supaya tidak malas?

Kata-katanya yang harus diubah hehehe…. Misalnya, “saya rajin”, “saya seorang yang rajin”, “saya rajin”. Caranya, sebelum tidur katakan seperti ini, “Saya akan tertidur dengan pulas, besok saya akan bangun pada pagi hari—sebutkan jamnya, misalnya jam 05.00—saya bangun dalam keadaan segar, sehat, berenergi positif, dan rajin.” Bangun tidur katakan pada diri sendiri, boleh sambil lihat di kaca, “Saya seorang yang rajin. Saya rajin, saya berenergi, saya bersemangat, saya pede!”

Menarik sekali. Bagaimana menghipnosis diri supaya tidak stres atau setidaknya mengurangi stres…?

Kalau yang ini harus dengan bantuan dari agama dan keyakinannya. Misalnya, afirmasinya seperti ini: “Saya selalu bersyukur kepada Tuhan atas nikmat yang Tuhan berikan. Apa pun yang Tuhan berikan kepada saya, saya sangat mensyukuri dan berterima kasih.” Tetapi, ini jangan diterima mentah-mentah seperti itu. Kalau stresnya, misalnya, ndak ada duit, ndak mau kerja ya bagaimana bisa bersyukur hehehe…. Maksudnya, ini stres kalau kita sudah kerja maksimal, tetapi hasilnya masih kurang, nah itu lho caranya. Katakan kita selalu bersyukur atas karunia yang Tuhan berikan. Ini juga ada teknik tentang pikiran positif afirmasi, hipnosis. Segala sesuatu itu diambil hikmah positifnya, begitu….

Bagaimana Anda memandang peran orang-orang seperti Anda sendiri dan juga kolega Anda yang bergerak di bidang motivasi? Apa sumbangsih profesi motivator ini bagi masyarakat kita?

Dengan menjadi motivator, kami pasti sangat senang sekali. Karena, selain kami bisa memotivasi orang lain, kami sebetulnya juga sedang memotivasi diri sendiri. Karena sebagai manusia, wajar saja bila hidup ini pasti ada yang namanya turun naik. Tetapi, bagaimana caranya supaya ketika kita turun kita bisa naik lagi, itu kan permasalahannya? Kalau ditanya apakah saya tidak pernah down, saya katakan dengan jujur, saya pernah dan sering sekali down.

Tahun 2008, saya belajar rugi sebesar ratusan juta. Tetapi buat saya, memaknai rugi itu sebagai proses belajar. Saya buat mindset saya belajar yang memang mahal. Kalau saya terus-menerus terlena, apakah saya bisa maju? Saya langsung putuskan untuk: “Ayo bangkit!” Jadi, saya tidak ada waktu untuk sedih karena pembelajaran itu karena saya langsung semangat lagi. Ketika saya mengajar di kelas, saya pun ikut semangat lagi, membakar diri sendiri.

Menurut Anda, bagaimana masyarakat kita memandang peran dan profesi motivator itu?

Menurut saya, apa pun profesinya, kita bisa menjadi motivator. Siapa saja. Saya terkesan dengan seorang office boy yang berhasil menyekolahkan anak-anaknya ke perguruan tinggi. Caranya, dia sangat rajin sekali membelikan makanan staf kantor. Lalu, uang (upah atau kembalian yang diberikan kepadanya: red)  ditabung, terus dibelikan sebuah motor. Dia kasih sewa ke temannya untuk mengojek, sementara dia sendiri naik angkot. Mengojek kan temannya setor terus-menerus? Berikutnya uang setoran ojek temannya dan juga upah di kantornya dia belikan motor kedua, motor ketiga, motor keempat. Memang sih kredit, tetapi sekarang motornya yang sudah lunas ada tiga buah dan lima buah motor kreditan. Ojeknya pun berkembang, luar biasa! Nah, itu pun sudah jadi motivasi buat saya. Terus orang tua kita adalah motivator juga. Saya lihat ayah saya yang terkenal disiplin dan ibu saya yang penuh dengan cinta kasih. Karena itu saya menulis buku I Love U dan dapat MURI.

Kisah office boy tadi merupakan bukti bahwa siapa pun dengan latar belakang apa pun dapat mengubah kehidupannya menjadi lebih baik, asal ada kemauan berbuat?

Yes!

Kalau menurut Anda, dari titik mana kita bisa mengubah kehidupan kita?

Sebetulnya, banyak sekali. Ketika di titik terendah, kita juga bisa seperti kawan kita yang menulis The Power of Kepepet. Kita juga bisa ketika kita lagi senang di posisi puncak. Ada juga ketika titik biasa-biasa saja. JK Rowling adalah orang miskin harta, pertamannya. Tetapi dia kaya ide. Akhirnya, Harry Potter luar biasa. Menurut saya, di segala titik kalau mau lebih sukses ya harus tinggalkan comfort zone. Seorang yang sudah sukses ingin sukses, harus tinggalkan zona nyamannya.

Memberikan motivasi untuk mengubah mindset masyarakat

Memberikan motivasi untuk mengubah mindset masyarakat

Untuk bisa meraih hidup yang lebih baik, mana yang harus berubah dulu; tindakan atau mindset kita?

Pastinya mindset. Mindset yang dilakukan dengan tindakan. Saya melihat seperti tukang becak yang melakukan tindakan-tindakan, kemudian bekerja keras. Tetapi, kalau mindset tidak mau sukses, tidak akan sukses. Kalau tukang becak yang mau sukses dia pasti akan punya dua sampai tiga becak. Dia bisa sewakan becak-becaknya. Jadilah suatu saat dia tukang becak yang sukses, punya puluhan becak yang disewakan. Kalau tindakan-tindakan kemudian mindset-nya ndak jalan, tidak akan pernah sukses. Memang keduanya harus sejalan ya. Kalau mindset doang, tidak ada tindakan, juga tidak bisa jalan ya.

Mindset seperti apa yang harus diubah dan diganti dengan mindset macam apa?

Mindset budaya nerimo, sudah cukup, ndak bisa, dll. Harus diubah dengan serba bisa, masih ada peluang, masih ada kesempatan, dll. Yang penting ada unsur RA, receiveable dan achieveable. Maksudnya bisa dicapai selama itu bisa dengan RA, kita lakukan terus-menerus.

Bagaimana Anda memandang peran para mahasiswa dalam kebangkitan masyarakat kita? Tentunya dikaitkan juga dengan motivasi dan semangat untuk hidup menjadi lebih baik….

Pastinya para mahasiswa ini harus memiliki mental atau mindset positif. Karena lima, sepuluh, atau dua puluh tahun ke depan mereka adalah penggerak-penggerak di berbagai bidang. Mindset untuk hidup positif, bebas dari KKN, sehingga kalau mahasiswa sudah baik atau berpikiran positif, negara akan lebih maju. Saya sudah memulainya dengan memberikan seminar training citra diri kepada anak-anak SMU dan SMK. Saya minta dukungan dan bantuan Anda untuk sosialisasi kepada teman-teman. Harus dimulai dari SMU, bahkan SD. Penanaman mental di Tiongkok sudah sejak SD. Ada buku budi pekerti namanya Di Ti Kuei. Jadi, budi pekerti ditanamkan dari kecil.

Mereka harus lebih banyak disentuh oleh para motivator kita?

Pastinya. Walaupun mereka kadang-kadang berisik pas di kelas, kita maklumin hehehe…. Namanya juga masih kecil. Tetapi, kita beri sentuhan kasih sayang, cinta kasih. Cinta kasih kepada negara, kepada Ibu Pertiwi. Mana mau dia berbuat curang kepada negara kalau ditanamkan rasa Ai Kuo, cinta negara, seperti di Tiongkok. Memang ada sih satu dua orang, tetapi akan mengurangi banyak. Bentuk curang kan bisa korupsi dan menyelundupkan barang-barang ilegal, dll. Kalau ditanya kenapa rakyat Tiongkok bisa maju seperti sekarang ini, jawabannya ini; ketika saya ke sana belajar dari Mr Yang Kwang, dia katakan satu, cinta pada negara, cinta pada orang tua, cinta pada diri sendiri, cinta pada budi pekerti. Cinta pada budi pekerti termasuk bagaimana sih caranya berhadapan dengan guru, dengan saudara, dengan atasan, dengan bawahan, dll.

Menurut Anda, motivasi masyarakat kita untuk maju bagaimana? Tinggi atau rendah?

Masih terkotak-kotak. Ada yang sudah tinggi dan sudah maju, ada yang masih rendah. Jurangnya sangat lebar sekali.

Indonesia harus belajar dari China

Indonesia harus belajar dari China

Pada posisi mana Anda akan menempatkan diri di tengah-tengah situasi demikian?

Ya, saya sebagai motivator harus bisa ke kedua sisi. Kami sering membuat kelas-kelas dengan harga yang terjangkau biar yang di posisi rendah bisa ke posisi yang lebih tinggi.

Bagaimana Anda melihat dunia permotivasian 10-20 tahun ke depan?

Pasti rame nih. Kita memang perlu banyak motivator, lho! Nah, siapa saja bisa jadi motivator, kan? Seperti di AS, kan banyak tokoh-tokoh motivasi dunia dari Indonesia. Dengan budaya-budaya daerah kita, dengan “semangat 45” kita.

Terkait dengan mindset kolektif yang tadi dan peran para motivator, bagaimana kondisi mental bangsa kita 10-20 tahun ke depan?

Pastinya akan lebih maju, ya. Makanya tugas kita untuk memberikan mindset dengan buku-buku. Karena, dengan buku kita bisa menyebarkan mindset positif sampai ke dalam-dalam daerah yang mungkin kalau kita datangi butuh waktu berjam-jam.

Baik terakhir, mimpi-mimpi Anda ke depan terkait dengan pencapaian diri maupun masyarakat kita?

Saya ingin membuat suatu seminar yang bisa dihadiri oleh 100.000 orang dengan harga tiket yang murah, misalnya Rp 5.000 atau Rp 10.000. Mengapa harus bayar? Karena kalau bayar mereka akan lebih serius dibandingkan dengan gratis. Itu agar mindset manusia Indonesia bisa lebih maju. Mimpi saya juga terus-menerus berkarya untuk bangsa dan negara Indonesia. Termasuk ide kreatif saya, membuat motivitamin; vitamin motivasi dalam bentuk buku dalam kemasan botol.[ez]

Foto-foto: Dokumentasi pribadi.

June 30, 2009

Cacuk Wibisono: Walk the Talk, Wujudkan Tekadmu

Cacuk Wibisono

Cacuk Wibisono

Anda suka bingung mencari tayangan televisi yang berkualitas pada hari Minggu pagi? Cobalah sesekali mengarahkan saluran televisi Anda ke stasiun Trans 7 pada pukul 10.00 wib. Anda akan temukan sebuah program berlatih bahasa Inggris bertajuk Walk the Talk dengan host “bule gile” Jason Daniels. Inilah salah satu program berlatih bahasa asing yang kini jadi favorit pemirsa televisi, baik dari kalangan dewasa sampai remaja dan anak-anak.

Ya, mungkin Anda sudah pernah atau sesekali menonton tayangan sarat nilai edukasi sekaligus sangat menghibur tersebut. Tahukah Anda, siapa otak di balik program edutainment televisi yang belakangan mendapat apresiasi dari berbagai kalangan tersebut? Sang kreator, anak muda itu bernama Cacuk Wibisono, Direktur PT Paradigma Visi Gracia, yang pernah menjadi penulis skenario sejumlah sinetron laris seperti Jin & Jun, Tuyul & Mbak Yul, Catatan Si Boy, Istana Impian, Ada-Ada Saja, dll.

Lahir pada 20 Desember di Jakarta, dan dari keluarga seniman, Cacuk memang selalu dihantui kerinduan untuk menghasilkan karya-karya yang punya pengaruh dan berkesan di benak khalayak. Sejak kecil cacuk memang bercita-cita jadi penulis, maka tak heran pula bila kariernya cukup mulus di dunia penulisan naskah sinetron. Namun, industri televisi yang membesarkannya pun telah mengusik hatinya untuk membuat karya-karya yang tidak semata-mata mengabdi pada kepentingan modal. Ada kerinduan untuk menghasilkan program televisi yang langsung dirasakan manfaatnya oleh pemirsa. “Saya tertantang,” ujar suami dari Rugun Sibarani ini.

Berawal dari sebuah sayembara pendanaan program pendidikan bahasa melalui televisi oleh Kedubes AS di Indonesia, Cacuk dan timnya mengadu untung dengan ide kreatif mereka. Ternyata, proposal atau pilot program mereka diterima dan mengalahkan sejumlah production house besar. Lebih membanggakan lagi, program Walk the Talk—jenis program edukasi yang biasanya kurang mampu bersaing di televisi—ternyata kini disambut antusias oleh masyarakat dan mendapat apresiasi positif dari media massa. Semangat pun terpacu untuk terus mencari dukungan agar program ini berlanjut dan terus dapat mendatangkan manfaat bagi publik.

Nah, mungkin Anda adalah salah satu dari “sedikit” pemirsa kita yang masih merindukan tayangan-tayangan televisi berkualitas. Walk the Talk adalah tawaran Cacuk dan kawan-kawannya untuk menghibur, mendidik, sekaligus menekankan betapa pentingnya masyarakat kita menguasai bahasa Inggris sebagai bahasa pergaulan dunia. Dukungan bisa Anda berikan dengan menonton, mengomentari, atau memberikan usulan melalui website mereka yang beralamat di www.walkthetalk-indonesia.com. Berikut apresiasi AndaLuarBiasa.com terhadap program tersebut, yang dihadirkan dalam petikan wawancara tertulis Edy Zaqeus (Editor) dengan Cacuk belum lama berselang:

Sebenarnya, apa latar belakang pembuatan program Walk the Talk ini?

Sebuah kerinduan untuk melihat program yang terasa manfaatnya bagi pemirsa secara langsung. Saya sering mendengar bahwa pemirsa tidak suka program yang berat. Mereka ingin tertawa, mereka ingin relaks…. Nah, saya tertantang… Sekalipun tertawa dan relaks, tetapi ada value-nya. Begitulah hasrat saya. Program ini ingin menumbuhkan kerinduan untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris kepada pemirsa.

Ada idealisme tertentu?

Saya menganut prinsip berikan kepada viewers apa yang mereka perlu. Dan bukan apa yang mereka mau. Walk the Talk memberikan apa yang masyarakat perlu. Sementara, banyak acara televisi lebih memberikan apa yang masyarakat mau.

Menurut Anda, apakah benar program-program televisi yang bernuansa pendidikan saat ini sudah jauh berkurang? Atau, memang tidak pernah cukup?

Masyrakat terus berkembang…. Perubahan demi perubahan terjadi. Dalam situasi seperti ini, program pendidikan harus juga berkembang. Coba kita tengok program 2 Pendidikan yang ditayangkan di TVRI. Apa kesan pertama yang mampir di kepala kita? Terasa lampau, ya? Terutama dalam sentuhan gambar dan kreatifnya. Jadi, memang harus terus dilakukan pengembangan, baik jumlah maupun kualitasnya.

Episode Walk the Talk

Episode Walk the Talk

Bagaimana prosesnya sampai program ini lahir?

Awalnya sebuah fax berisi tawaran sayembara dari US embassy untuk membuat program pemasyarakatan bahasa Inggris kepada masyarakat. Lalu, saya mengajak dua orang staf cameraman untuk membuat sebuah pilot. Kisah pembuatan pilot ini juga lucu. Sejak semula, saya memang sudah mengenal Jason, host program ini. Dan, setelah saya tahu bahwa dia sedang di Bandung, saya bersama tim kecil ke Bandung juga untuk membuat pilot saya. Seperti biasa, saya menunda memikirkan konsep. Saya pikir, “Ah… sambil jalan ke Bandung saja, deh…!” Sampai di Bandung, saya belum juga memiliki ide, blank! Kami kemudian memutuskan makan siang saja karena hari memang sudah siang saat itu. Nah, ketika makan siang itulah saya melihat ada seorang bapak, Pak Nanang namanya, yang memiliki wajah lucu. Secara naluriah saya minta izin melakukan interview singkat. Pertanyaannya, “Apa kata dalam bahasa Inggris yang Bapak tahu…?”

Apa jawaban si Bapak itu?

Jawaban si Bapak itu salah-salah dan sangat lucu, dengan guyon khas orang Bandung. Tetapi, sorot matanya itu yang begitu menancap di benak saya. Sorot mata yang penuh kesungguhan dan senang karena diberi kesempatn “praktik” berbahasa Inggris. Dia bilang juga kalau dipenuhi penyesalan karena tidak belajar Inggris dengan serius. Daar!!! Eureka!!! Saya tertawa, namun juga terharu. Saat itulah saya menyadari, program bahasa Inggris ini harus dilakukan dengan straight talk, bicara langsung. Karena begitu segar, begitu jujur, begitu tulus….

Akhir dari perjalanan kami di Bandung menjadi mudah dan menyenangkan. Karena sudah ide yang membara di dalam pikiran. Saya bertemu Jason di Bandung siang itu dan menuju Dago untuk pembuatan pilot. Sebagai penghargaan kepada orang yang telah menyulut ide Walk the Talk, saya ajak Pak Nanang ikutan shooting sorenya, dan malam hari kamu sudah di editing room di Jakarta. Tiga hari kemudian saya sudah menyerahkan pilot ke US Embassy.

Dan, pilot Anda sukses memenangkan sayembaranya?

Ya, kira-kira seminggu US Embassy menghubugi kami dan memberitahukan bahwa kami memenangkan sayembara, dan kami mendapatkan dana produksi untuk memproduksi program ini. Kami menyisihkan 50 kontestan lainnya. Banyak di antara para kontestan adalah raksasa dalam bidang program televisi.

Lalu, dari mana ide nama program Walk the Talk?

Nama Walk the Talk sendiri berasal dari hasil pengamatan saya terhadap orang-orang yang kami temui dan interview. Kebanyakan mereka mengatakan penyesalannya karena tidak belajar bahasa Inggris dengan serius. Nah, mulai sekarang mereka akan serius belajar bahasa Inggris. Itu kan tekad? Nah, Walk the Talk berarti “mari wujudkan kata-katamu” atau tekadmu. Jadi, Walk the Talk itu bukan berarti berjalan dan berbincang, lho! itulah sebabnya kami di Paradigma, jika menegur sesama kami yang sedang lesu, kami berteriak, “KEEP WALKING THE TALK!”

Soal dana program, apakah tidak ada pesan-pesan sponsor?

Pesan sponsor dari US Embassy boleh dibilang tidak ada. Semua diserahkan kepada kami. Hanya satu yang dititipkan kepada kami, yaitu bahwa segmen dari program ini adalah adult learner. Namun, suatu ketika saya mengamati setiap episode Walk the Talk, dan menangkap sebuah pesan yang halus…. Kok ada bule mau ngomong dan ngajarin orang dengan spontan? Tiba-tiba perasaan saya menjadi hangat. Mudah-mudahan perasaan saya ini dirasakan juga oleh setiap pemirsa.

Cacuk: Kehidupan "orang kecil" selalu menginspirasi

Cacuk: Kehidupan "orang kecil" selalu menginspirasi

Ide dasar kemasan program ini sebenarnya seperti apa?

Saya ini orang yang suka bercanda dan humor. Jadi, sejak semula saya tidak ingin membuat program yang kaku dan formal. Nah, ketika membuat pilot, saya menyadari bahwa format semi reality adalah bentuk terbaik dari program ini. Jadilah Walk the Talk seperti saat ini. Namun, saya sepenuhnya menyadari bahwa program televisi adalah sebuah dialektika antara pembuat program dan pemirsa. Dari minggu ke minggu kami mencoba mengerti apa yang diinginkan oleh pemirsa. Dan, kami men-develop apa yang kami rasa “diperlukan” oleh pemirsa kedalam bentuk yang pemirsa inginkan. Sebuah usaha yang tidak pernah berhenti. Menarik namun menguras banyak energi. Terkadang air mata, dan tentu saja keringat. Namun, ini sebuah usaha yang layak.

Sasaran pemirsa program ini?

Adult learner karena segmen inilah yang biasanya melupakan bahasa Inggris, yang dulu mungkin pernah mereka perlajari. Iya, kan? Setelah kita lulus sekolah atau kuliah, begitu masuk dunia kerja, kebanyakan dari kita tidak lagi mendapatkan kesempatan mempraktikkan bahasa Inggris.

Tapi tampaknya Walk the Talk juga oke buat anak-anak?

Ya, lucunya program ini ternyata juga sangat menarik bagi anak-anak dan remaja. Sementara, penonton dari kaum wanita juga banyak sekali. Ada e-mail yang masuk kepada kami dari seorang ibu. Dia menceritakan betapa bahagianya dia karena untuk pertama kalinya bisa menyuruh anaknya nonton Walk the Talk. Biasanya, dia melarang keras anaknya nonton televisi.

Sejauh yang sudah Anda pantau, bagaimana respon masyarakat terhadap acara ini?

Respon terhadapada acara ini bagus sekali. Rata-rata share adalah 3,2, sementara rating 0.5. Saya melihat ke mana pun kami pergi dan shooting, ternyata masyarakat mengenali program ini. Kami pun mendapat banyak supprort melaui Facebook, dan dari hit di website kami juga tampak minat yang besar terhadap program ini. Kompas dan Tempo memuat program ini dalam liputan mingguan mereka. Hal ini menujukan bahwa proram ini menarik dan bagus.

Apa pengalaman-pengalaman paling menarik saat menggarap episode-episode Walk the Talk?

Saya tidak bisa mengingat pengalaman tidak menarik saat shooting. Cobalah ikut bersama Tim Paradigma saat shooting. Setiap orang akan terkesan, karena memang begitu menarik. Suatu ketika terjadi dialog seperti ini di sebuah taman di RT 07, Sawo Ujung, Cipete. Sekelompok ibu sedang menyiram tanaman, Anda bisa saksikan adegan ini di episode Farmer. Begini dialognya:

Jason, memegang jahe, “Apa ini, Bu?”

Si Ibu sambil berpikir, “Ooo…”

Jason menggigit daun jahenya, “It taste like ginger…!

Si Ibu, “Oh, no….no danger… mister…

Atau lihat contoh dialog Jason dengan penjual parcel yang terjadi di Pasar Cikini dalam episode Entrepreneur.

Jason, “Bapak bisa bicara bahasa Inggris?”

Penjual parcel, “No…little…sedikit…”

Jason tanya lagi, “Apa kalimat bahasa Inggris yang Bapak tahu?”

Penjual parcel menjawab, “Saya enggak tahu… Yang saya tahu cuma… I want to kiss you!!”

Jason sontak menjawab, “Oh, no… I don’t want to kiss you!

Sebagai seorang penulis, saya takjub dengan keindahan dialog yang begitu fresh dan tidak terduga ini. Saya seperti sedang disuguhi adegan-adegan ciptaan sang maestro penulis, setiap kali shooting. Bagi saya pribadi, proses shooting Walk the Talk adalah sebuah pertunjukan drama manusia yang indah. Ikutlah sekali-sekali….

Cacuk bersama Rugun sang istri dan Jason Daniels

Cacuk bersama Rugun sang istri dan Jason Daniels

Kalau tema-tema yang diangkat dalam program ini, ide-idenya dari mana?

Tema-tema di setiap episode memang dibuat dengan alasan strategis, yaitu bagaimana menjangkau dan memperluas segmen. Itulah sebabnya setiap topik selalu adalah topik yang dekat dengan kehidupan masyrakat. Ide-ide setiap tema datang dari saya sendiri, dan saya menyusunnya sebelum Walk the Talk dimulai. Menyenagkan karena tema-tema yang sudah disusun terasa actual di masyarakat.

Kalau tema-tema wisata dan budaya apa digarap, kan menarik juga?

Wisata dan kebudaayaan selama ini saya lekatkan dengan setiap tema. Contohnya dalam episode mingu ini. Kami bisa realisasikan, dan Jason selalu memuji keindahan setiap kota. Oh ya, kami juga mendengar berbagai masukan dari pemirsa. Misalnya, ada yang minta lebih banyak vocabulary. Kami aplikasikan dengan menempatkan stickies di pojok kiri. Atau, ada juga pemirsa yang meminta daerahnya didatangi, dan kami senang saja melayaninya. Jadi, dialektika ini sudah tercipta.

Sejauh ini, tema apa saja yang sudah digarap?

Yang sudah ditampilkan tentang transportasi, guru, extreme sport, green life style, coffee, farmer, film industry, small medium enterprise, antique, dan minggu ini globalisasi!

Profesi-profesi yang sifatnya membangkitkan semangat, kreativitas, dan inovasi masyarakat, seperti yang dijalankan para motivator dan trainer, juga menarik….?

Itu yang sedang masuk ke benak saya. Profesi-profesi yang menarik, yang kontemporer, yang tidak terpikirkan 20 tahun lalu. Mudah-mudahan di season kedua kami bisa merealisasikannya.…

Tim Paradigma dengan Merah Putih di dada mereka

Tim Paradigma dengan Merah Putih di dada mereka

Mengenai pemilihan Jason Daniels, ‘si bule’ sebagai host, bagaimana ceritanya?

Jason adalah sosok yang buat saya penuh dengan “kontradiksi”. Pertama, dia tidak cakep. Kedua, dia itu “kampungan” hahaha…. Ketiga, he is very smart. Ketiga hal ini membuatnya pas untuk membawakan karakter host Walk the Talk yang–sama seperti jiwa saya—kampungan, blusak-blusuk ke mana-mana. Saya begitu terkesan dengan kemampuan alamiah Jason dalam menghacurkan pemisah, yang biasanya tercipta antara bule dan orang Indonesia… Bukan saya saja, seluruh isi Paradigma jatuh cinta sama bule yang satu ini. Dia mengajar bahasa Inggris di Seskoad. Saya yakin, dengan Jason sesuatu bisa jadi seru, dan itulah kenyataannya.

Berdasar pantauan Anda, bagaimana tingkat penerimaan pemirsa terhadap penampilannya?

Saya mengatakan kepada Jason, untuk meninggalkan kesan “bule gile” yang menancap di pemirsa , dan menjadi seorang dengan image “educator”. Dia sangsi karena menurutnya orang sudah menyukai dia gila-gilaan. Tetapi, kini dia malah berterimakasih. Karena, belum pernah dalam kariernya di televisi, dia menerima begitu banyak respon positif. Jika kami mengajak Jason ke mal, maka banyak ibu atau bapak yang mendorong anaknya untuk berbicara bahasa Inggris ke Jason. Penerimaan masayarakat atas Jason sungguh membesarkan hati.

Target-target apa yang hendak Anda capai dari program ini?

Sungguh naïf ya bila mengatakan dengan menonton program ini orang akan bisa berbahasa Inggris. No! Program ini bertujuan menumbuhkan motivasi kepada setiap penonton, betapa pentingnya meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris, dalam segala skala. Bahkan, jika hanya passive atau patah-patah sekalipun, berbahasa Inggris bisa membuka peluang.

Inilah yang kami ingin share kepada pemirsa. Yang kedua, yang kami lihat dari shooting atau off air, betapa senangnya masyarakat berkesempatan bicara dengan Jason dalam bahasa Inggris. Jadi, kami memperbanyak street talk untuk memberikan pengalaman berbahasa Inggris kepada orang biasa. mereka mendapat kesempatan ngobrol dengan bule. Saya yakin, ini akan berkesan mendalam. Dan, suatu ketika anak mereka minta uang untuk kursus bahasa Inggris, mereka akan merestui, karena mereka menyadari kepentingannya.

Langkah-langkah apa saja yang sudah dijalankan oleh tim Anda supaya program ini terus mendapat dukungan dan apresiasi masyarakat?

Kami sudah mendatangi beberapa pihak dan juga meminta waktu untuk beraudisi dengan Departemen Pendidikan Nasional. Begini, lho… saya tuh malu, karena pihak-pihak dalam negeri sendiri enggan atau belum mau membiayai program-program semacan ini. Sejauh ini, usaha kami masih kecil sekali hasilnya. Dan, untuk season 2, jika tidak ada pihak dalam negeri yang mau mebantu, kami terpaksa baru bisa memulainya di bulan Desember 2009. Sayang sekali.

Baik, Anda punya mimpi apa dengan program ini?

Saya memimpikan program ini bisa bertahan pada skala rating dan share yang tinggi sehingga para brand mau memasang iklan di program ini. Saya juga memimpikan program pindah jam tayang ke jam sore, 18.30 wib. Ini untuk mendapatkan pemirsa yang lebih banyak. Saya berharap suatu ketika program ini tidak diperlukan lagi. Karena masyarakat sudah menyadari pentingnya meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris mereka. Impian yang terakhir inilah yang saya begitu rindu melihat perwujudannya.

Ada pesan untuk target pemirsa Anda?

Walk the Talk adalah sebuah kalimat yang berat, satu kata dengan perbuatan. Ini juga jadi masalah di kepemimpinan nasional kita, kan? Pesan saya, ayo kita terus belajar bahasa Inggris. Biar sedikit, biar enggak sempurna belajarnya, ayo kita terus bersemangat. Dan, terapkan bahasa Inggris kapan pun, di mana pun.

Kalau pesan atau harapan untuk sesama kreator program-program pertelevisian?

Waduh… berat nih pertanyaannya…! Oke, sebagai kreator program, kami diberi previledge untuk menuntun masyarakat. Sehingga, memang kita seharusnya mebuat program yang selalu bernilai positif. Pesan kedua, mari terus berkarya dan belajar, dan ciptakan program dari hati….

Ok, makasih wawancaranya dan sukses ya….

Baik, terima kasih. Saya sangat menghargai kesempatan ini. Mudah-mudahan bermanfaat dan membuka wawasan. Salam Walk the Talk! Sukses untuk Anda![ez]

Walk the Talk digemari oleh orang dewasa, remaja, hingga anak-anak

Walk the Talk digemari oleh orang dewasa, remaja, hingga anak-anak

Foto-foto: Dokumentasi Paradigma.

June 16, 2009

Wuryanano: Banyak Orang Menjadikan Tuhan Itu Seperti Budaknya!

Raden Mas Panji Wuryanano

Raden Mas Panji Wuryanano

Doa adalah sesuatu aktivitas yang paling dianjurkan dalam kehidupan berdoa versi agama apa pun. Tetapi diakui atau tidak, dalam dunia nyata doa juga merupakan ajaran agama yang paling diagungkan sekaligus yang paling sering “diprotes”. Bagi orang yang sangat meyakini bahwa doa adalah jembatan emas dalam berkomunikasi dengan Tuhan, doa sungguh-sungguh menjadi bagian tak terpisahkan dari iman, sesuatu yang diyakini kemutlakannya. Sementara bagi sebagian lainnya, doa dipersepsi tak lebih dari sekadar anjuran yang indah di teori, tetapi sulit dalam realitas. Penilaian yang belakangan ini muncul dan menjadi dilema di mata orang-orang yang merasa doa-doanya tidak pernah dikabulkan oleh Tuhan.

Seolah ingin menjawab persoalan itulah, terbit buku dengan judul yang sangat impresif, Mengapa Doa Saya Selalu Dikabulkan (GPU, 2009), karya Wuryanano. Bagi pemilik nama lengkap Raden Mas Panji Wuryanano ini, ternyata kunci terkabulnya doa-doa kita adalah justru pada penyikapan kita sendiri. Dengan kata lain, orang mesti paham betul bagaimana harus bersikap di hadapan Tuhan dalam doa-doanya. Orang harus pula tahu bagaimana meyakini sebuah doa yang dipanjatkan. Pun orang harus bagaimana menyambut terkabulnya doa itu dengan serangkaian tindakan pasti dan terarah untuk mewujudkan keinginan dalam doa tersebut.

“Kita harus ada daya upaya untuk mengambil atau meraih doa yang sudah terkabul itu. Antara lain dengan rencana dan tindakan nyata, bukan hanya secara lisan atau di dalam pikiran dan hati saja,” ungkap pria kelahiran Surabaya, 22 Mei 1964 itu. Selain itu, kita seharusnya juga menyadari bahwa Tuhan sering kali menjawab doa kita dengan “bahasa” yang berbeda dengan bahasa doa kita. Sama-sama menunjukkan bahwa Tuhan mengabulkan doa kita, tetapi mungkin kita perlu kepekaan, kearifan, kebesaran hati, serta kedalaman jiwa untuk bisa menyadarinya.

Sehari-hari, Wuryanano dikenal sebagai pengusaha di berbagai bidang, seperti peternakan, garmen, merchandising, butik, supermarket, restoran, percetakan, rumah herbal dan spa, serta lembaga pendidikan dan pelatihan profesi. Kesuksesannya sebagai pengusaha telah mendorong Wuryanano untuk terus berbagi pengalaman, keterampilan, dan semangat ke berbagai kalangan. Suami dari Christine Wuryanano serta ayah dari Riyadh Ramadhan dan Rafidh Rabbani ini sendiri aslinya adalah seorang dokter hewan. Namun, perjalanan hidup yang penjang serta sukses yang diraihnya ternyata telah menempa dia menjadi seorang motivator dan inspirator yang berperan bak seorang “dokter mental”.

Melalui karya keempatnya ini, Wuryanano hendak menguatkan semua orang akan pentingnya bertekun dalam doa dalam “sikap doa” yang benar. Karya ini juga menjadi bukti keyakinannya bahwa Tuhan selalu mengabulkan doa-doa kita. Berikut petikan wawancara Edy Zaqeus dari www.andaluarbiasa.com dengan Wuryanano yang dilakukan melalui pos-el belum lama berselang:

Sudah berapa buku yang Anda tulis?

Sudah empat buku saya tulis sejak terbit buku pertama saya pada Oktober 2006. Buku pertama saya berjudul The Touch of Super Mind yang mengetengahkan tema berdasarkan keyakinan saya. Bahwa, setiap orang pasti dianugerahi kekuatan pikiran super. Kekuatan pikiran yang dahsyat pengaruhnya bagi kehidupan kita masing-masing. Keyakinan saya, bahwa apa pun yang saya pikirkan terbukti menjadi kenyataan. Itu semakin membuktikan, bahwa pikiran manusia punya kekuatan untuk menarik apa pun yang telah mendominasi pikirannya itu.

Pikiran kita bisa mewujudkan apa saja?

Kita bisa melakukan apa pun dengan pikiran kita. Seperti, menjalani kehidupan lebih baik dan lebih bahagia. Itulah sebabnya saya menyebut Super Mind Power alias Kekuatan Pikiran Super. Karena, kekuatan super itulah yang akan menyeret kehidupan kita sesuai dengan apa yang telah mendominasi pikiran kita; baik ataupun buruk, semuanya akan menjadi kenyataan. Bergantung pada apa yang mendominasi pikiran kita.

Wuryanano: Mengapa Doa Saya Selalu Dikabulkan?

Wuryanano: Mengapa Doa Saya Selalu Dikabulkan?

Buku ini juga bukti gagasan Anda tersebut?

Ya, buku pertama saya ini juga sebagai bukti, bahwa apa yang saya pikirkan akan segera menjadi kenyataan. Nama saya sebelumnya tidak pernah dikenal sama sekali oleh penerbit mana pun di Indonesia, apalagi oleh penerbit besar. Dan, di buku pertama cetakan pertama, tidak ada nama lain selain nama saya, itu juga semacam test and measurement atas apa yang saya lakukan. Terbukti! Buku pertama saya diterbitkan oleh Elex Media Komputindo, kurang lebih dua minggu setelah naskah saya diterima penerbit.

Karya Anda selanjutnya?

Sebulan setelah buku pertama terbit, muncullah buku kedua saya berjudul Super Mind for Successful Life. Buku ini mengupas lebih dalam tentang bagaimana memanfaatkan kekuatan pikiran super yang memang dianugerahkan oleh Tuhan ke dalam diri setiap manusia. Saya tegaskan di buku kedua saya itu, bahwa jika kita ingin mengubah nasib lebih baik, lebih sukses, maka terlebih dulu kita harus mau mengubah pola pikir kita menjadi lebih baik pula. Sehingga, itu akan membentuk sikap, tindakan, dan kebiasaan lebih baik. Akhirnya, kita akan punya karakter diri yang juga lebih baik. Dan, itu dipastikan akan membuat nasib kita menjadi baik pula.

Inti gagasan yang melandasi buku kedua Anda ini apa?

Saya sangat meyakini bahwa kesuksesan itu selalu hanya tertarik kepada orang-orang yang pikirannya—dengan sengaja—sudah dipersiapkan untuk menarik sukses itu sendiri. Pikiran sukses akan bersifat seperti ‘magnet sukses’, yang hanya akan menarik segala bentuk kesuksesan.

Buku ketiga Anda judulnya apa?

Juni 2007 terbit buku ketiga saya, The 21 Principles to Build and Develop Fighting Spirit. Buku ini berisi prinsip-prinsip pribadi saya dalam menjalani kehidupan yang harmonis, sejahtera, dan selalu bersemangat setiap saat. Ada 21 prinsip yang telah saya jalankan dan terbukti menyelamatkan saya dari keterpurukan secara ekonomi maupun mental.

Apa saja di antaranya?

Berani bermimpi besar, berani bertanggung jawab, berani bertindak, dan fokus pada sasaran. Lalu prinsip kekuatan keyakinan, kekuatan ketekunan, kekuatan keuletan, kontrol emosi diri, rasa empati, komunikasi efektif, dan kebiasaan sukses. Berikutnya adalah sikap positif, disiplin pribadi, integritas diri, skala prioritas, sifat adaptif, senang humor, rasa syukur, wawasan ilmu pengetahuan, pilihan sukses, dan komitmen pribadi.

Judul buku Anda  ini sangat mengena dan indah sekali. Bagaimana sampai menjatuhkan pilihan pada judul tersebut?

Naskah saya ini awalnya berjudul The Secret of Successful Prayer, Rahasia Doa yang Terkabul. Tetapi, karena pertengahan 2008 sudah muncul buku dengan judul The Secret, maka saat akan mengirimkan naskah ke penerbit pada 2009 ini, terpaksa harus mengganti judulnya. Karena saya tidak ingin dianggap ‘mengekor’ buku The Secret. Akhirnya, secara cepat, spontanitas saja, dan tidak berpikir lama, saya menggantinya dengan judul Mengapa Doa Saya Selalu Dikabulkan. Saya kirimkan Selasa 24 Pebruari 2009, dan dua hari kemudian diterima oleh redaksi penerbit GPU. Dan, spektakuler! Tanggal 13 Maret 2009 saya dapat informasi buku saya sudah diterbitkan dan sudah diterima kantor cabang Gramedia Surabaya. Wow… luar biasa prima! Buku launching Sabtu 14 Maret 2009, saat acara Show Off UKM Jawa Timur di Royal Plaza Surabaya. Ini juga bukti lagi terkabulnya doa saya. Alhamdulillah.

Apa latar belakang Anda menulis buku ini?

Ide saya menulis buku ini karena saya sering melihat dan mendengar, betapa banyak orang yang mengeluhkan rumitnya kehidupan yang mereka jalani. Banyak orang selalu mengeluh dan merasa tidak berhasil dalam kehidupannya. Bahkan, sering juga menghujat Tuhan Yang Maha Esa, bahwa Tuhan telah pilih kasih dalam memberikan rahmat dan rezeki-Nya.

Wuryanano: Berbagi pengalaman dan semangat

Wuryanano: Berbagi pengalaman dan semangat

Apa gagasan besar atau pokok-pokok isi buku ini?

Lewat buku ini, saya ingin berbagi ke banyak orang, bahwa sesungguhnya Tuhan Yang Maha Esa itu Mahaadil kepada setiap makhluk ciptaan-Nya. Dan, Dia selalu mengabulkan setiap keinginan manusia, karena Dia itu Mahakaya-Raya, Maha-Segalanya di jagad raya ini. Orang yang merasa tidak dikabulkan doa atau keinginannya, bisa jadi karena mereka belum bisa berbaik sangka kepada Tuhannya. Dan, mereka juga tidak menyadari, bahwa Tuhan sudah berjanji kepada manusia, apa pun yang diminta oleh manusia akan selalu dikabulkan oleh-Nya. Ini pemikiran yang ingin saya bagikan kepada banyak orang lewat buku saya tersebut.

Semua orang pasti ingin doanya dikabulkan. Berkaca pada pengalaman Anda sendiri, apa sebenarnya rahasia dari doa-doa yang selalu dikabulkan itu?

Tidak ada rahasia dalam berdoa kepada Tuhan. Paling penting saya tekankan di buku ini adalah mengenai sikap kita pada saat kita berdoa kepada Tuhan. Rahasianya adalah bagaimana kita bersikap pada saat memohon kepada-Nya.

Sesungguhnya, apa ada sih doa yang bagus dan doa yang jelek itu?

Sebenarnya, inti berdoa itu untuk kebaikan bukan untuk keburukan. Doa yang bagus semestinya untuk kebaikan diri sendiri maupun untuk orang lain. Kalau berdoa untuk keburukan itu namanya bukan berdoa, tetapi mengutuk dan sumpah serapah. Jadi, semua doa itu bagus, tidak ada yang jelek.

Ada anggapan begini, bahwa sebagai si pemohon alias orang yang berdoa, kita seharusnya tidak boleh “memaksa” Tuhan untuk selalu memenuhi atau mengabulkan apa yang kita minta. Pendapat Anda?

Ya, etika berdoa kita itu seperti apa? Banyak orang bahkan menjadikan Tuhan itu seperti ‘budaknya’, meminta segala sesuatu dengan cara memaksa-Nya agar cepat mengabulkan keinginan orang itu. Tidak ada sopan-santun pada saat berdoa. Inilah sikap yang harus diubah!

Logikanya, pada saat kita mau bertemu dengan orang yang lebih tua, atau orang yang punya posisi sosial dan jabatan lebih tingi dari kita, pastilah kita akan bersikap sopan-santun kepadanya. Apalagi jika mau bertemu dengan Allah, Tuhan Yang Maha Esa, tentunya sikap kita harus sangat sopan-santun. Jauh lebih baik lagi dibandingkan jika kita bertemu dengan sesama manusia.

Ada lagi yang namanya doa “egois” yang isinya hanya permohonan-permohonan pribadi kepada Tuhan. Komentar Anda?

Sering kali manusia memang egois, maunya diri sendiri yang enak. Sehingga, jika berdoa selalu hanya keinginannya saja yang diutarakan kepada Tuhan. Oleh karena itu, di dalam agama kita, ada petunjuk bagaimana sebaiknya berdoa kepada-Nya. Ada semacam tata krama di dalam berhubungan dengan Tuhan lewat doa kita, termasuk petunjuk untuk ikut mendoakan orang lain.

Menurut Anda, apakah ada batasan waktu bagi terkabul atau tidaknya doa kita?

Batasan waktu terkabulnya doa? Hanya Tuhan yang berhak tahu. Ini sesungguhnya berkaitan dengan sopan-santun berdoa kepada Tuhan. Itu bukan hanya berdoa secara lisan saja, melainkan juga harus meyakininya di dalam lubuk hati terdalam. Sehingga, dengan demikian kita juga akan membuat rencana-rencana tindakan yang berkaitan dengan keinginan doa kita itu. Jadi, berdoa itu juga harus dilakukan dengan tindakan nyata untuk meraih apa yang menjadi doa keinginan kita tersebut.

Andil dalam menggerakkan masyarakat dengan memotivasi

Andil dalam menggerakkan masyarakat dengan memotivasi

Jadi kita sendiri juga mesti berusaha mewujudkan doa kita itu atau bagaimana?

Ini karena kita hanya manusia biasa. Meskipun memang Tuhan selalu mengabulkan doa kita, tetapi doa yang sudah dikabulkan-Nya itu masih digantungkan di atas kita. Sehingga, kita harus ada daya upaya untuk mengambil atau meraih doa yang sudah terkabul itu. Antara lain dengan rencana dan tindakan nyata, bukan hanya secara lisan atau di dalam pikiran dan hati saja.

Adakalanya Tuhan juga mengabulkan doa kita dengan cara menggantikan doa kita dengan hal yang lebih baik bagi kita nanti. Ini juga pemikiran yang saya sampaikan di buku saya itu. Kadang kala kita minta duit banyak kepada Tuhan. Dan, Tuhan mungkin menggantikannya dengan cara menyelamatkan nyawa kita dari musibah, misalnya.

Jadi, Tuhan mengabulkan doa kita melalui beragam cara dan bentuk perwujudan?

Memang, Allah bisa saja langsung mengabulkan doa sama persis seperti yang dipanjatkan kepada-NYA. Tetapi, itu menurut saya hanya fasilitas untuk para Nabi dan Rasul, atau orang-orang pilihan Tuhan sendiri. Dan, itu bukan fasilitas untuk kita manusia biasa. Ini juga penting untuk dipahami oleh kita semua. Termasuk juga mengenai kapan batasan waktu terkabulnya doa kita. Semuanya itu urusan dan hak prerogatif Tuhan. Kalau kita sudah bisa berprasangka baik kepada Tuhan, maka itulah yang akan terjadi pada diri kita. Tuhan itu sesuai dengan apa yang diprasangkakan oleh hamba-Nya kepada-Nya.

Sesungguhnya, apakah ada yang salah sih dengan meminta apa saja kepada Tuhan?

Sebagai manusia ciptaan-Nya, kita memang dianjurkan oleh Tuhan agar senantiasa berdoa memohon kepada-Nya, dan hanya kepada-Nya. Bukan berdoa kepada selain Tuhan. Jadi, boleh saja kita meminta apa pun itu kepada Tuhan Allah.

Selain menjadi seorang pengusaha, Anda juga dikenal sebagai motivator. Apa yang menarik atau apa makna dari menjadi seorang motivator itu?

Saya terjun menjadi pembicara publik sebagai motivator baru pada tahun 2004. Dalam aktivitas keseharian sebagai pengusaha, saya melihat betapa banyak orang—tidak peduli latar belakang pendidikan dan ekonomi—ternyata sering merasa kurang atau bahkan tidak merasakan kebahagiaan serta keberlimpahan hidup. Itu yang mendasari saya untuk ikut terjun di dunia motivasi ini. Saya ingin berbagi, menginspirasi, dan memotivasi banyak orang agar bisa selalu menikmati indahnya kehidupan ini.

Biasanya hal-hal pokok apa saja yang menjadi materi pelatihan atau aktivitas motivasi Anda?

Saya lebih sering membawakan materi motivasi di bidang personality development, positive attitude, dan entrepreneurship.

Kalangan mana saja yang sudah Anda motivasi?

Saya sering tampil berbicara kepada masyarakat umum, masyarakat dunia pendidikan, maupun perusahaan-perusahaan yang menginginkan peningkatan kualitas sumber daya manusianya. Juga bicara untuk perusahaan-perusahaan yang ingin mempersiapkan calon pensiunan agar bisa menjadi entrepreneur di masa pensiunnya, dan tidak terjangkit penyakit post power syndrome.

Wuryanano bersama keluarga tercinta

Wuryanano bersama keluarga tercinta

Pada masa sekarang ini, masyarakat kita sangat butuh dorongan yang kuat untuk terus bergerak maju. Menurut Anda, apa yang bisa mempercepat pergerakan ke arah kemajuan masyarakat kita?

Era globalisasi memang bisa memengaruhi mentalitas kita secara positif maupun negatif. Kita semua memang punya kewajiban untuk ikut serta memajukan negeri ini. Oleh sebab itu, menurut saya, masyarakat Indonesia ini masih memerlukan figur-figur yang bisa dijadikan sebagai contoh dan teladan dalam menjalani kehidupan yang bahagia dan sukses sejahtera. Masyarakat Indonesia tetap butuh figur-figur sukses yang bisa menginspirasi dan memotivasi untuk terus bergerak maju dalam menjalani kehidupan.

Sudah semestinya kalau setiap orang terlibat dalam upaya memajukan negeri ini. Menurut Anda, pada sisi atau aspek mana kita bisa ikut ambil bagian dalam gerakan tersebut?

Sebenarnya, jika setiap orang yang bisa dimasukkan ke dalam kategori sukses secara finasial maupun secara mental attitude, mau ikut terjun memberikan inspirasi dan motivasi kepada masyarakat negeri ini, saya yakin tidak akan ada lagi keterpurukan hidup. Tidak akan ada lagi kesengsaraan maupun kekejaman di kehidupan ini. Saya pikir di sinilah kita bisa ikut berperan. Namun, ini memang diperlukan kesadaran secara hati nurani dari para insan sukses negeri ini, untuk ikut berbagi pengalaman hidup sukses kepada masyarakat, tanpa terlalu berhitung bisnis. Ya, ikhlas berbagi tanpa tendesius pada rupiah… hahahaha…. Semoga saja segera terwujud kebahagiaan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Sebagai motivator muda, masih panjang jalan dan ladang kiprah Anda ke depan. Apa saja yang masih ingin Anda lakukan?

Memang dari sisi usia, saya masih tergolong muda. Baru 45 tahun dari total jatah usia 150 tahun, hahaha…. Ini yang saya doakan kepada Allah agar saya selalu dikaruniai kesehatan, awet muda, kebahagiaan sejati, dan keberlimpahan dalam setiap aspek kehidupan saya. Sehingga, dengan demikian saya bisa lebih lama lagi berbagi pengalaman dan pengetahuan saya untuk kebaikan umat manusia di bumi ini.

Di samping itu, saya ingin lebih banyak lagi bisa berperan menyantuni banyak anak yatim piatu, fakir miskin, maupun anak-anak terlantar di negeri ini. Serta yang juga menjadi obsesi saya adalah saya semakin banyak bisa mencetak eksekutif profesional andal dan para entrepreneur sukses. Yang mana itu sudah saya lakukan dengan mendirikan Lembaga Pendidikan Profesi Swastika Prima Entrepreneur Campus. Sejak saya dirikan pada tahun 2000 silam, lembaga itu telah melahirkan ribuan eksekutif profesional dan entrepreneur sukses.

Baik, terima kasih untuk wawancara yang luar biasa ini!

Semoga wawancara dengan Anda ini membawa berkah dan manfaat untuk menginspirasi dan memotivasi banyak orang. Juga agar orang senantiasa bergerak maju terus dan bersemangat luar biasa prima dalam menjalani kehidupan yang penuh kebahagiaan dan keberlimpahan ini. Amin.[ez]

Foto-foto: Dokumentasi pribadi.

June 2, 2009

Ibu Habibie: Mendidiklah dengan Hati, Bukan dengan Emosi dan Ambisi

Endang Setyati atau juga dikenal dengan Ibu Habibie

Endang Setyati atau juga dikenal dengan Ibu Habibie

Semua orang mengakui, bukan hal yang mudah membesarkan anak berkebutuhan khusus atau cacat. Tantangannya bukan sekadar tantangan fisik, finansial, namun juga mental dan spiritual. Itulah yang dialami oleh sebagian orang tua di dunia ini, yang mungkin tidak “seberuntung” kebanyakan orang tua lainnya yang dikaruniai anak-anak yang sehat dan tak kekurangan apa pun. Namun, di antara sedikit orang yang harus menanggung tantangan tersebut, ada nama Endang Setyati atau juga dikenal dengan sebutan Ibu Habibie, yang mampu memandirikan Habibie anaknya dan menjadi inspirasi bagi banyak orang.

Sama seperti para orang tua pada umumnya, yang merasa harus menanggung beban sangat berat karena dikaruniai anak berkebutuhan khusus. Dalam benak perempuan kelahiran Yogyakarta, 17 Desember 1951 ini, bahkan sempat pula muncul pertanyaan kepada Tuhan, “Apakah ini adil bagi kami?” Namun, berbekal hasil didikan orang tua, semangat yang pantang meredup, serta hasrat sangat besar untuk memandirikan sang anak, pensiunan Perum Perhutani ini pun sanggup menanggung semua beban tersebut. Bahkan, akhirnya ia melihat kenyataan bahwa semangatnya untuk membimbing anak dengan hati dan cinta itu pun telah menumbuhkan semangat baru di antara sekian banyak orang di negeri ini.

Tak ayal lagi, ketika orang melihat keberhasilan Habibie dengan bisnis online-nya, serta karya-karya website-nya maupun buku yang dia tulis, orang tetap tidak bisa mengabaikan peran sang ibu. Seperti kisah-kisah lainnya tentang anak penuh keterbatasan tetapi sanggup melakukan hal yang luar biasa, selalu saja figur seorang ibu juga hadir di balik itu semua. Dan ternyata, untuk kasus Ibu Habibie ini, kuncinya adalah pada sikap ikhlas, rasa bersyukur, kesanggupan untuk terus menempa dan mengembangkan diri, belajar tanpa kenal lelah, dan berpikir optimistis menghadapi masa depan.

Barangkali Anda pernah melihat penampilan Ibu Habibie dan sang anak di sejumlah seminar atau di berbagai talkshow di radio maupun televisi. Mungkin juga, ada banyak pertanyaan tentang rahasia keberhasilan perempuan tangguh ini dalam mendidik dan menjadikan anaknya pribadi yang mandiri. Untuk itulah Edy Zaqeus dari AndaLuarBiasa.com mewawancarai Ibu Habibie. Berikut petikan wawancaranya yang dilakukan melalui pos-el belum lama ini:

Sebenarnya, apa bisnis yang dijalankan Habibie itu?

Habibie mengawali bisnis online sebagai affiliate di Amazon.com, suatu perusahaan online terbesar di Amerika. Menjualnya di Amerika, pembelinya juga orang Amerika, tetapi Habibie mengelola usahanya dari Indonesia. Dari hasil penjualan produk tersebut, Habibie mendapat komisi penjualan. Besar komisinya jika terjual produk elektronik 4 persen, jika nonelektronik antara 6,5 persen. Kurang lebih selama 1,5 tahun, komisi yang terkumpul 5.986 dollar AS.

Sampai sekarang masih fokus sebagai affiliate Amazon.com?

Ya, tapi sejak awal semester tahun 2008 kan terjadi krisis ekonomi di Amerika. Dan, diprediksi akan berlangsung lama, setidaknya sampai akhir 2011. Makanya, penghasilan di Amazon.com mengalami penurunan drastis. Karena itu, Habibie mencoba mencari peluang pasar dalam negeri. Jadi, mulailah bisnis online di dalam negeri awal tahun 2008. Produknya e-book hasil penulisan pengalaman belajar dan bisnis di Amazon, bisnis properti online, memasarkan ponsel dengan konten utamanya Alquran dan handphone GSM dengan double SIM-ON. Lalu juga memasarkan dan memberikan pelayanan ibadah haji maupun umroh, dan memasarkan madu murni dari Pusbahnas Perum Perhutani.

Apakah hasil bisnis tersebut sungguh menghasilkan seperti yang diharapkan?

Alhamdulillah, hasil di bisnis online-nya sudah bisa menutupi kebutuhan atau biaya hidup sehari-hari. Penghasilan per bulan rata-rata tidak kurang dari Rp 5 juta. Dari amazon, sejak April 2007 sampai dengan Agustus 2008, selama 16 bulan itu telah mencapai  5.986 dollar AS. Penjualan e-book misalnya, sejak 27 Mei sampai 31 Juli 2008 yang dilakukan secara manual, ada 107 pembeli masing-masing seharga Rp 150.000,-. Yang pembayarannya melalui rekening BCA, terakumulasi Rp 16.050.000,-, dan yanng via PayPal sebesar 580 dollar AS. Penghasilan tadi belum termasuk dengan honor-honor yang diterima sebagai pembicara di seminar-seminar, atau undangan lain sebagai bintang tamu di stasiun TV.

Sejauh ini, di mata Anda, apa saja prestasi yang sudah dihasilkan oleh Habibie?

Sejalan dengan kemandirian Habibie, dia juga banyak membantu UMKM untuk membuat toko online untuk produk-produk mereka. Juga dengan semangat berbagi yang dimilikinya, dia banyak men-support dan memberdayakan teman-teman senasib. Mencari potensi yang dimiliki untuk dikembangkan. Itu sebagai upaya untuk memerdekaan diri dari ketergantungan pada orang tua, saudara, dan orang lain.

Dengan hasil bisnis tersebut, Anda melihat Habibie sudah berhasil meraih sisi kemandiriannya?

Tentu saja, untuk kebutuhan primer, seperti sandang, pangan, biaya belajar atau seminar, dia bisa membiayai sendiri. Untuk kebutuhan lainnya seperti sarana kerja, akses internet setiap bulannya dia bayar sendiri. Laptop dan perangkat-perangkat lain untuk menunjang bisnis online-nya, seperti beli domain, hosting, dll, sampai merawat giginya dengan bekhel yang tidak murah, juga dibiayai sendiri. Alhamdulillah, semua sudah bisa ditutup dari penghasilannya.

Habibie yang semakin lemah fisiknya, tetapi semakin menyala semangatnya

Habibie yang semakin lemah fisiknya, tetapi semakin menyala semangatnya

Mari flashback sebentar. Ketika tahu kondisi anak Anda berkebutuhan khusus, apa yang pertama kali sempat terlintas dalam benak Anda?

Awalnya, dalam hati tidak percaya dan berharap diagnosis dokter salah. Kan sering terjadi kesalahan pada diagnosis, kan? Namun demikian, masih berpikir juga mungkin dokter benar. Tidak seorang dokter pun gegabah mendiagnosis pasiennya. Pikiran saya saat itu, ya boleh dibilang tidak keruan, ya kacau, bingung, percaya dan tidak percaya bercampur jadi satu. Sekalipun dalam ketidakpastian, apa kata dan perintah dokter yang merawatnya selalu saya ikuti. Berapa pun biaya pemeriksaan dan perawatan saya bayar, saya tidak pernah hitung-hitung. Dan bahkan, saya merasa royal untuk kepentingan pemeriksaan dan tindakan demi kesehatan dan kesembuhan Habibie.

Saya bermaksud, paling tidak selama masa balita, saya harus berjuang keras dan semaksimal mungkin. Siapa tahu Habibie masih bisa tertolong? Saya tidak berani membayangkan kelak, kalau sudah besar Habibie tidak bisa berjalan. Bahkan, sampai pada kelumpuhan fisik….

Seperti ibu-ibu pada umumnya bila menghadapi situasi semacam itu, Anda diganggu bayangan-bayangan negatif?

Ya, namun pikiran-pikiran seperti itu selalu saya usir jauh-jauh. Dalam bayangan dan pikiran saya, kelak Habibie bisa jalan, entah kapan, saya masih punya harapan besar.

Pasti ada saat-saat paling menekan…?

Ya. Kadang kalau saya sedang sedih memikirkan nasib Habibie kecil, saya suka menangis sendiri. Yang sering sih menangis dalam hati. Apalagi kalau sedang salat malam, tahajud. Sering kalau Habibie sedang tidur, saya pandangi tidurnya sampi puas. Dan akhirnya, saya pun tertidur tanpa sadar. Saya sering bertanya pada Allah SWT, mengapa nasib Habibie dan nasib saya jadi begini, ya Allah? Apa yang kurang pada diri saya? Oh, mungkin saya kurang dekat pada-Nya….  Itu jawaban yang ada.

Anda terus berusaha mencari kesembuhan bagi Habibie?

Ya, pada tahun 1990, saat itu Habibie berusia sekitar 2 tahun, saya berangkat melaksanakan ibadah haji ke Tanah Suci. Ingin sekali rasanya saya memohon rida Allah untuk kesembuhan Habibie. Yah, tentu saja mohon mukjizat-Nya, Allah Aja wa Jalla. Selama di Tanah Suci, pikiran saya kacau karena saat saya mau berangkat, Habibie sedang sakit dan dirawat di RS St Carolus sampai dua kali dalam sebulan. Hampir saja saya memutuskan tidak jadi berangkat haji. Tidak tega rasanya meninggalkan Habibie dalam kondisi sakit dan dirawat inap.

Tidak semua orangtua bisa serta merta menerima begitu saja, atau menerima dengan ikhlas, atas kondisi tersebut. Pandangan Anda?

Saya rasa itu manusiawi. Pasti semua orang—termasuk juga saya—merasa sulit menerima hal ini. Kita semua selalu menginginkan segala sesuatu, apalagi anak, pasti ingin yang sempurna. Cantik, bagus, cakap, pandai, dam semua tangan, kaki, jari-jari utuh dan komplit. Tapi ternyata Allah tidak memberi apa yang saya harapkan. Namun, apa pun dan bagaimanapun, pemberian Allah harus kita terima, tidak mungkin saya menolak.

Saya sadar, inilah rida Allah pada saya. Saya harus ikhlas menerima amanah-Nya. Walaupun sudah lama saya ingin melahirkan dan  punya anak sendiri, saya tidak boleh kecewa atas pemberian dan amanah ini. Saya harus bisa menerima amanah ini dengan ikhlas. Saya sendiri tidak berani berharap banyak pada anak saya Habibie. Namun, apa pun dia, dan bagaimanapun dia, saya akan dan tetap mencintai, menyayangi, memerhatikan, mengasuh, merawat dia, dan juga mendidik dia sebaik-baiknya, dan semaksimal yang bisa saya lakukan.

Apakah ada perasaan semacam…. ya rendah diri atau malu, semisal pergi bersama Habibie?

Jujur ya, saya ini enjoy saja dengan Habibie. Saya tidak canggung tampil di depan umum, di mana pun saya berada. Saya tidak pernah merasa rendah diri atau pun malu kalau saya punya anak yang berkebutuhan khusus atau cacat. Belajar dari lingkungan, saya sering melihat kejadian orang tua yang tidak siap mental menerima anaknya yang berkebutuhan khusus. Saya sering kecewa melihat sikap orang tua yang tampak menolak anaknya. Dan, saya sangat sedih dan iba melihat anak yang diperlakukan tidak adil, bahkan terkesan diperlakukan semena-mena oleh orang tuanya.

Kasihan anak ini, dia akan mengalami penderitaan ganda. Di satu pihak dia sudah sangat menderita batin atas ketidaksempurnaanya, di lain pihak dia juga harus menderita terhadap ketidakberpihakan dan penolakan orang tuanya. Rasanya, saya bahagia dan bersyukur kalau melihat orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus namun mau menerima dan memperlakukan anaknya dengan baik. Jadi, anak tersebut akan tetap mendapatkan kebahagiaan yang utuh dari kedua orang tuanya. Dia juga akan terbebas dari perasaan tertekan atas ketidaksempurnaannya itu.

Bagaimana kemudian Anda bisa menerima hal tersebut dengan sepenuhnya. Bahkan, kemudian bergerak memberikan perhatian dan bimbingan konstruktif pada Habibie?

Saya ini seorang ibu yang telah ikhlas dan sabar mengasuh maupun merawat kakak-kakak Habibie, bawaan dari suami sebanyak tujuh orang. Terus, saya sendiri dengan suami dikaruniai seorang anak saja. Masak sih saya tidak urus dan tidak rawat dia baik-baik? Saya akan merasa berdosa kalau saya sampai menelantarkan anak kandung saya sendiri. Apalagi dia dalam kondisi lemah. Siapa yang akan peduli pada Habibie kalau ibunya sendiri tidak memerhatikan?

Sejak Habibie kecil, saya sudah bertekad untuk menyayangi dia dengan sepenuh hati, tanpa alasan. Dokter yang merawat dia, Profesor Teguh Asaat Ranakusuma, juga pernah mengatakan pada saya, bahwa penyakit Habibie ini tidak ada obatnya. Pesan beliau, “Limpahi kasih sayang.” Saya pikir, ya kasih sayang inilah obatnya. Berbekal kasih sayang inilah saya mendidik Habibie, layaknya anak normal. Bukan kasih sayang yang memanjakan, karena memanjakan anak bisa jadi racun dalam hidupnya. Habibie harus mendapat pendidikan yang utuh dari kedua orang tua, dalam kondisi rumah tangga yang tenteram, damai, bahagia, dan harmonis.

Apa yang Anda ajarkan pada Habibie?

Kami mengajarkan tentang penegakan iman dan Islam. Dari kecil dia telah belajar mengaji dan salat. Selama ini, dia lebih banyak belajar di lingkungan anak-anak normal. Tentu saja hal ini tidak mudah. Dia harus berani bersaing dengan anak-anak normal. Bisa dibayangkan bagaimana dengan tingkah polah yang aneh-aneh dari anak-anak sebayanya.

Anda tidak perlakuan istimewa pada Habibie?

Tidak ada perlakuan istimewa pada Habibie! Yang istimewa, sehari-hari di sekolah dia selalu didampingi pengasuh di luar kelas. Yang selalu siap kapan saja dipanggil untuk membetulkan duduknya maupun kebutuhan-kebutuhan lainnya.

Pendidikan Habibie sampai jenjang apa?

Terakhir Habibie hanya sampai SMA. Namun, saya juga tidak rela kalau dia hanya  menghabiskan waktu untuk bermain yang didak ada jluntrungan-nya. Saya ingin dia punya kegiatan yang positif dan produktif, sebagai bekal hidupnya kelak. Saya tidak rela melihat dia direndahkan atau diremehkan oleh orang lain maupun saudara-saudaranya. Biasanya, anak-anak dan orang-orang cacat itu suka dianggap sebagai “sampah masyarakat”.

Nah, saya ingin membekali Habibie dengan ilmu, bukan dengan harta. Hanya orang-orang yang berilmu yang akan mampu mengelola hartanya. Karena tanpa ilmu, berapa pun harta yang diberikan akan habis. Dengan ilmu dia akan menjadi manusia yang produktif dan mandiri. Dengan ilmu dia akan mampu memiliki harkat dan martabat dalam masyarakat. Sebenarnya, saya juga tidak banyak harta yang bisa saya berikan dan saya tinggalkan untuk Habibie.

Kompak dalam mengembangkan diri dan memacu prestasi

Kompak dalam mengembangkan diri dan memacu prestasi

Anda tampaknya lebih terfokus pada sisi-sisi kelebihan anak ketimbang pada kelemahannya. Bagaimana bisa sampai pada sikap seperti itu?

Lha, iyalah… Saya lebih fokus pada masa depan. Saya, dulu waktu Habibie masih kecil, pernah berjuang keras untuk kesembuhan dia. Saya rasa itu sudah cukup. Saya langsung mengubah pikiran saya, lebih baik saya berjuang keras dan cerdas untuk masa depannya. Selama ini, saya berharap masih ada kekuatan yang tersisa yang masih dimiliki Habibie. Karena, yang saya tahu kelemahannya lambat laun akan menggerogoti otot-ototnya, yang sudah lemah menjadi semakin lemah. Kekuatannya yang masih ada inilah yang ingin saya kembangkan untuk bekal hidupnya kelak, jika saja Allah SWT memberikan umur panjang padanya.

Benar lho, saya masih tetap berharap anak saya panjang umur dan bahagia. OK, otot-ototnya akan menggerogoti tubuhnya yang makin melemah. Tapi, semangatnya harus saya jaga agar tetap kuat. Saya berikan energi-energi positif melalui seminar-seminar pembelajaran, motivator, dan inspirator. Ya, saya selalu ke mana-mana berdua, saling menyemangati satu sama lain. Alhamdulillah, tampak ada hasilnya. Habibie makin tegar dan percaya diri menatap masa depannya yang cerah, secerah sinar matahari pagi dan senyumnya.

Apa sejak awal Anda sudah melihat semangat, bakat-bakat, serta potensi Habibie untuk bisa berkembang dengan baik?

Ya, tentu saja tidak. Semua ini hanya bagian dari upaya dan perjuangan menjadikan Habibie lebih baik saja. Prinsip saya adalah satu keharusan buat saya, ibunya, untuk berjuang keras mengatar Habibie meraih masa depan lebih baik. Itu saja…sederhana, kan? Karena, saya tidak bisa berharap pada orang lain. Sekalipun itu ayahnya maupun saudara-saudaranya. Mungkin orang lain melihat kelemahan Habibie ini suatu hal yang mustahil untuk bisa diberdayakan dan mandiri. Bahkan, eyang-eyangnya semua mencemaskan masa depannya. Tapi, tidak demikian dalam pikiran saya. Saya masih punya harapan besar dan rasa optimistis. Andai saja saya mau berjuang dan mengorbankan waktu, tenaga, dan biaya, saya yakin Habibie bisa berprestasi. Tapi, saat itu saya juga masih malu untuk mengatakan Habibie bisa sukses. Ada keraguan walau hanya sedikit.

Sejak kapan Anda mulai membina mental Habibie?

Saya menanamkan disiplin pada Habibie sejak dia masih kecil, kurang lebih usia 2 tahunan. Setiap sore saya membiasakan Habibie duduk di kursi dan meja untuk anak TK, yang sengaja saya beli untuk melatih dia. Melatih disiplin setiap sore harus selalu belajar, dan juga bermain bersama dengan saya dan kakak-kakaknya. Main lempar bola untuk melatih otot-ototnya, dan bermain plorotan di tempat tidurnya. Harapan saya, semoga kebiasaan ini akan menjadi kebiasaan dia sehari-hari. Di tahap ini saya memang sedang mencari bakatnya di mana. Saya berikan kerta-kertas folio, crayon, atau sepidol warna untuk mencari bakat menggambar. Ternyata, dia tidak punya bakat menggambar, karena dia hanya bisa membuat benang ruwet. Gambarnya tidak pernah memiliki bentuk yang spesifik, walau sudah diberikan contoh-contoh.

Pernah mengarahkan Habibie ke pendidikan agama?

Dalam hati kecil, saya pernah ingin mengarahkan Habibie ke arah agama. Barangkali suatu saat dia bisa jadi kyai atau ustaz. Caranya dengan memberi dia kesempatan belajar mengaji pada guru ngaji di sebelah rumah maupun mengundang guru ngaji ke rumah. Kita semua seisi rumah mengaji bersama supaya lebih semangat belajarnya. Sering saya diskusi dengan seluruh keluarga tentang apa sih sebetulnya yang menjadi cita-cita masing-masing anak. Saya bilang, “Kalau nanti Habibie gede, jadi kyai saja, ya?”

Dan, jawaban Habibie….?

“Dede enggak mau, Dede mau jadi pocici aja…” Waktu kecil dia memang senang kalau melihat mobil polisi patroli dengan lampu blizt dan sirine. Saya sering ngledekin dia dengan canda, “Mau jadi polisi yang berdiri di pojok jalanan—maksud saya patung polisi—atau polisi tidur?” Jawabnya, “Pocici tidung.”

Kabarnya Anda menggembleng semangat Habibie melalui game?

Ya, sejak usia 3 atau 4 tahun, Habibie telah biasa bermain game watch, kemudian Nitendo. Saya tidak pernah membatasi dia bermain. Kapan saja dia boleh bermain, pokoknya sesuka hatinya saja. Bahkan, kalau perlu saya undang teman-temannya untuk bermain bersama di rumah. Nitendo, kemudian Play Station 1 dan 2, ini adalah mainan yang cocok untuk Habibie, karena permainan ini memerlukan kerja sama yang baik antara mata, kekuatan otot tangan, pemikiran, atau olah pikir untuk saling memenangkan pertandingan. Nitendo, PlayStation, dan Internet Game ini tidak jauh beda dengan orang menyetir mobil. Semua indera bersinergi dari mulai telinga, mata, tangan, dan pikiran bekerja dalam tempo yang hampir bersamaan.

Mengapa memilih game, padahal kebanyakan orang tua justru takut membebaskan anaknya bermain game?

Dunia anak adalah bermain. Karena bermain inilah dia juga sambil belajar. Belajar bergaul dengan teman sebaya, belajar jujur, dan bisa juga curang dengan sesama teman. Dia juga bisa belajar berargumentasi dan menyampaikan pendapatnya. Bahkan, dia juga belajar berantem untuk mempertahankan pendapat dan kebenarannya.

Dari game itu pula mungkin terpupuk semangat Habibie untuk berkompetisi?

Ya, jadi sejak kecil Habibie sudah terbiasa dan terlatih untuk berkompetisi dalam hidupnya. Di sekolah pun dia sudah harus berkompetisi berat melawan teman-temannya yang sehat. Selama dia belajar bersama anak-anak sehat, dia menunjukan prestasi yang gemilang dalam belajar. Paling tidak the Best 3 selalu diraihnya. Prestasi paling jelek diraih Habibie ada diposisi the Best 5. Setelah lulus dari SMA, perjuangan Habibie malah lebih berat lagi karena dia harus berani berbaur belajar dengan kelompok yang lebih berat lagi. Mereka umumnya sudah mengantongi gelar S1, dan bahkan ada yang S2. Bahkan, untuk lulusan D3 dan SMA itu sedikit sekali, bisa dihitung dengan jari.

Terakhir, dia belajar di Asia Internet Academy awal Maret 2007 dengan peserta sebanyak 130 orang. Instrukturnya Mr. Fabian Lim dengan bahasa Inggris, sementara dia sendiri tidak pernah belajar bahasa Inggris secara khusus. Alhamdulillah, dia bisa melanjutkan ketingkat advance bersama 15 orang peserta. Prestasi yang diraih Habibie selama belajar, yaitu sering disebut sebagai The First Affiliate Amazon.com from Indonesia.

Membesarkan, membimbing, dan mendidik anak berkebutuhan khusus jelas bukan perkara yang mudah. Bisa Anda ceritakan tantangan-tantangan terberatnya?

Pastinya memang sangat berat, bahkan saya katakan sejujurnya saja berat sekali. Terutama masalah mobilitas. Habibie ini ke mana-mana harus pakai kursi roda dan seumur hidupnya mesti harus ada pendamping atau pengasuh. Kondisi kesehatan yang rapuh, mudah sakit, pokoknya perlu perwatan prima. Biaya hidupnya mahal, makannya harus cukup gizi, obat-obatan rutin untuk merangsang syaraf, juga vitamin dan mineral. Lalu, kontrol dokter, pemeriksaan laboratorium. Belum lagi masalah pendidikan, ke sekolah juga harus pakai mobil antar jemput. Terus urusan fisioteraphy, pernah beberapa kali pengaobatan alternatif, sampai jasa para normal.

Alhamdulillah, Allah kasih saya semangat yang menggebu-nggebu, tidak mudah capai, dan tidak mudah menyerah. Juga kesehatan yang prima buat saya. Subhanallah, Allah melimpahkan rezeki yang cukup, hampir tidak pernah kekurangan sampai parah seperti masa kecil saya. Hanya saja, saya harus kerja keras, pagi kerja kantoran di Perum Perhutani, di rumah juga mesti harus cari tambahan. Terus terang saja, kalau tidak ada tambahan pengahasilan, di rumah saya pernah buka warung tegal. Sampai sekarang saya masih buka warung sembako. Pokoknya, apa saja saya lakukan untuk menambah penghasilan. Sampai pernah juga kalau ke kantor sambil nenteng dagangan lontong sayur.

Ibu Habibie bersama Andi F. Noya

Ibu Habibie bersama Andi F. Noya

Apa rahasianya sehingga Anda mampu menaklukkan tantangan tersebut?

Yah, pokoknya spirit saya, saya ingin melihat Habibie bisa mandiri. Sebuah tantangan memang, tetapi tantangan ini kan harus kita hadapi, bukan malah kita hendari ya. Maka, saya lebih suka mencari solusi untuk mengatasi masa-masa sulit, barang kali suatu saat dia datang menghampiri kehidupan kami. Mungkin ini bagian dari tindakan preventif, makanya saya dan Habibie menggali potensi diri untuk dikembangkan bersama.  Alhamdulillah, saya bertemu dengan kawan, sahabat, guru, juga penerbit besar yang sangat memberi dukungan. Banyak fasilitas dan support hebat. Nah, makin bersemangatlah kami.

Anda tampaknya tipe orang tua yang pantang menyerah untuk memberikan yang terbaik bagi anak-anak Anda?

Dari kecil hidup saya sudah ditempa oleh banyak kesulitan, berkubang dalam kemiskinan. Latar belakang kehidupan yang pahit sekali ini yang membuat saya kuat menghadapi tantangan. Dan, karena itulah saya merasa pasti memliliki semangat juang lebih. Tekad pantang menyerah ini mungkin, dan hampir pasti, yang mengantarkan saya menjadi ibu yang kuat menghadapi berbagai masalah pelik. Biasanya, orang atau anak-anak yang hidup dalam zona kritis, dia akan lebih kreatif dan lebih tahan bantingan. Berbeda kalau orang dan anak-anak yang biasa hidup dalam berkecukupan. Seperti hidup selalu dalam ketenangan, tanpa pergolakan, pasti semangat tempurnya ya kurang seru. Apalagi ditambahi dengan menipisnya iman, bisa jadi putus asa itu sahabat karibnya.

Banyak orangtua seperti menyerah kalah ketika menghadapi tantangan-tantangan dan kesulitan dalam membesarkan anaknya. Padahal, keadaan anak-anak mereka barangkali jauh lebih ‘beruntung’ ketimbang Habibie misalnya. Pesan Anda untuk mereka?

Harapan saya pada ibu-ibu dan bapak-bapak, para orang tua: Jadikanlah diri kita orang tua yang pantas dan layak sebagai panutan, teladan, atau contoh nyata bagi putra-putri kita. Mendidik anak sejak dari dalam kandungan dan buaian. Orang tua adalah guru dan pendidik terbaik bagi putra-putri sendiri. Guru, ustaz, dll, adalah pendidik kedua setelah orang tuanya. Mendidiklah dengan hati, bukan dengan emosi dan ambisi. Dekatkan hati orang tua pada putra-putrinya, agar jangan sampai putra-putri kita dididik atau diambil alih oleh lingkungan yang negatif. Berikan hak-hak dasar anak seperti, anak berhak memperoleh kasih sayang, pendidikan, dan perhatian. Berikan hak hidup, berkembang, dan kembangkan diri anak dengan adil. Jangan memandang atau membedakan gender. Berikan hak yang sama kepada anak kita, baik yang sehat maupun yang cacat. Perlakukan anak sesuai dengan fase-fase usianya, dan hargai anak sesuai dengan apa yang kita harapkan darinya. Jangan lupa memberikan penghargaan apabila putra-putri kita berprestasi.

Ibu Habibie: Ketegaran dan ketekunan itu membuahkan hasil nyata

Ibu Habibie: Ketegaran dan ketekunan itu membuahkan hasil nyata

Anda bersama Habibie sangat suka mendatangi kegiatan-kegiatan seperti seminar atau pelatihan pengembangan diri, termasuk pelatihan menulis. Apa yang sesungguhnya Anda cari dari forum-forum semacam itu?

Yang pasti ada sesuatu yang saya cari dari forum-forum yang saya datangi. Terutama dalam seminar-seminar dan pelatihan pengembangan diri. Karena, saya sedang menggali potensi yang dimiliki Habibie, juga potesi yang ada pada diri saya. Saya ingin bersinergi antara ibu dan anak, untuk saling menyukseskan satu sama lain. Di samping itu, kami juga memerlukan banyak ilmu yang akan bermanfaat dalam hidup kami.

Dalam hati, saya tidak rela kalau anak saya hanya sekolah sampai tingkat SMA saja, seperti Emaknya. Sudahlah, cukup saya saja yang bodoh, tapi anak saya harus pintar. Badan Habibie saat ini makin melemah, tidak mungkin dia kuat tiap hari harus pergi kuliah. Saya ingin memberikan pendidikan yang yaman tapi enjoy buat anak saya, belajar sambil bermain, dan cari rezeki. Pendidikan atau pembelajaran ini bukan saja transfer ilmu, melainkan juga transfer energi-energi positif buat Habibie. Makanya, saya lebih senang datang ke seminar-seminar motivasi dan inspirasi.

Apa dampak riil yang dirasakan Habibie dari forum-forum inspiratif semacam itu?

Pada kenyataannya, semangat Habibie memang luar biasa! Bergabung dengan orang-orang yang berkualitas dan bersemangat tinggi yang ada di negeri ini, ternyata telah memacu andrenalinnya untuk melawan penyakit yang menggerogoti syaraf dan otot-ototnya.

Siapa tokoh-tokoh yang menginspirasi Anda dalam mendidik anak?

Ibu dan kakek saya. Kakek saya seorang tua yang moderat, impiannya tinggi, dan tercapai. Keenam putranya tidak ada yang miskin, kecuali Ibu saya satu-satunya yang termiskin. Kelima putranya semua sukses dan kaya. Sementara, Ibu saya yang lahir tahun 1922 dan meninggal tahun 2006 dalam usia 84 tahun, adalah seorang ibu yang cerdas walau sekolahnya rendah. Pemikirannya jauh ke depan. Cara mengasuh dan mendidik putra-putrinya bagus. Keras, disiplin, tapi penuh kasih sayang dan menanamkan budi-pekerti luhur pada putra-putrinya. Beliau selalu memotivasi kami semua untuk belajar dan bekerja keras. Berangkat dari cara pengasuhan dan pendidikan Ibu saya itulah, saya menyontek pola dan cara-cara pendekatan emosional  dan kasih sayang.

Tokoh lainnya?

Ada cerita True Story yang sebelumnya sering saya baca dan saya dengar diradio SmartFM, tentang Nancy Elliot Matheus, ibunda Thomas Alfa Edison yang telah berhasil mendidik puteranya menerangi dunia. Edison divonis oleh gurunya bahwa dia adalah anak yang bodoh, bahkan dikatakan berotak udang. Ibu mana yang tidak meradang jika putranya dikatakan seperti itu? Maka, sejak saat itu Nancy menarik putranya keluar dari sekolah, lalu berusaha dan berjuang mendidik putranya di rumah, karena kebetulan Nancy ini adalah seorang pendidik. Hasilnya, pola pendidikan dan pengasuhan dengan hati itu telah melahirkan seorang anak genius dan sukses besar.

Anda juga ingin menulis buku? Apa temanya kira-kira?

Ya, betul. Kira-kira dua tahun yang lalu Habibie meminta saya menuliskan pengalaman saya mendidik dia sampai sukses. Habibie meminta saya menulis sebuah buku fisik agar tulisan saya bermanfaat untuk orang lain. Dia minta judulnya “Pengalamanku Mengasuh Anak Cacat jadi Sukses.” Sampai sekarang, saya baru sempat membuat konsepnya saja. Ada misi yang lebih indah dan istimewa dari sekadar menerbitkan sebuah buku. Harapan agar umur saya dan Habibie akan panjang ya dari karya buku dan situs-situs saya.

Harapan Anda untuk masa depan Habibie?

Biarlah dia menjadi manusia yang pandai memanfaatkan sisa umurnya dengan baik, menjadikan umur yang bermanfaat untuk dirinya sendiri, dan bermanfaat untuk orang lain. Kami orang tua hanya bisa berdoa dan memberikan dukungan total lahir dan batin. Habibie sendiri menyatakan, awalnya harapan dan cita-cita dia sangatlah sederhana. Dia hanya ingin memenuhi kebutuhannya sendiri, dengan hal yang bisa dia kerjakan, ingin bisa mandiri. Itu telah tercapai, tapi dia tidak mau merasa puas. Dia harus membangun cita-cita yang lebih besar lagi, bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk orang lain, dan terutama memberikan kebanggaan kepada orang tua dan keluarga. Dia juga ingin mendirikan yayasan yang bisa memperdayakan orang-orang yang berkebutuhan khusus.[ez]

Foto-foto: Dokumentasi pribadi.

May 12, 2009

Aleysius H. Gondosari: Untuk Sehat Tidak Perlu Biaya Besar

Aleysius H. Gondosari

Aleysius H. Gondosari

Kebanyakan orang beranggapan bahwa untuk memperoleh kehidupan yang sehat dan berkualitas itu mahal sekali biayanya. Bisa dimaklumi, mengingat setiap kali kita pergi berobat ke dokter, biayanya tidaklah murah. Terlebih kalau keluhannya adalah penyakit-penyakit “mahal”, yang artinya obatnyalah yang mahal sekali. Sementara, untuk menjaga kesehatan tubuh sehari-hari dengan mengonsumsi makanan-makanan tambahan (food supplement), biasanya juga perlu biaya tidak murah.

Namun, Aleysius Hanafiah Gondosari, yang menekuni metode Energi 5 elemen, jelas-jelas menyatakan bahwa untuk hidup sehat itu sesungguhnya tidak perlu biaya besar. “Setiap orang bisa menjadi sehat dengan mengonsumsi makanan sehat, segar, sederhana, murah. Dan, bahan makanannya juga mudah ditemukan dalam menu sehari-hari,” jelasnya. Aley, panggilan akrabnya, menyebut contoh makanan sehat seperti beras merah, tape segar, tempe segar, air kelapa tua, pepaya, semangka, mentimun, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Dari mana Aley mengetahui jenis-jenis makanan yang menyehatkan tersebut? Ternyata, pria kelahiran Padang, 12 Juli 1961 ini mengembangkan sebuah metode deteksi energi yang punya akar panjang dalam sejarah ilmu kesehatan dunia. Metode itu ia sebut Energi 5 Elemen yang berakar pada filosofi maupun praktik kesehatan sejak zaman Asia dan Eropa kuno. “Metode Energi 5 Elemen adalah ilmu pengetahuan universal yang telah dikenal di berbagai belahan dunia, sejak ribuan tahun yang lalu,” kata Aley yang beristrikan Lilyana, seorang dokter umum itu.

Sesungguhnya, background Aley yang jebolan Teknik Elektro ITB (1984) dan Magister Manajemen Internasional Sekolah Tinggi Manajemen PPM, Jakarta (1995), ini adalah dunia industri yang kental dengan berbagai praktik bidang manajerial. Bapak dari dua anak ini, Vidya Cecilia dan Angela Karina, kariernya memang dihabiskan di perusahaan manufaktur dan berulang kali berhasil mendesain rancang produk yang sukses di pasaran. Tak ayal, kepiawaiannya di bidang manajerial membuatnya sering diundang sebagai dosen tamu di almamaternya maupun perusahaan-perusahaan mitra kerjanya dulu. Belakangan setelah pensiun, Aley lebih menekuni hobinya membuat berbagai website informasi, dan terutama lagi mengembangkan metode Energi 5 Elemen yang begitu menantang itu.

Nah, kepada pembaca setia website motivasi ini, secara khusus Aley membeberkan rahasia hidup sehat secara murah dengan metode deteksi Energi 5 Elemen itu. Di Indonesia, tampaknya baru Aley yang mengembangkan, bahkan mungkin memanfaatkannya secara sistematis, untuk mendapatkan informasi akurat tentang cara hidup sehat yang alami. Berikut petikan wawancara tertulis Edy Zaqeus dari AndaLuarBiasa.com dengan Aleysius belum lama berselang:

Bagaimana ceritanya sampai Anda menemukan metode Energi 5 Elemen ini?

Sejak kecil saya sudah tertarik dengan pengobatan alami. Waktu SMP, saya pernah berlatih Yoga Asanas. Kemudian saya tertarik berlatih Tai Chi waktu SMA. Waktu kuliah, saya mulai vegetarian, berlatih meditasi, dan mulai belajar pengetahuan 5 elemen. Setelah bekerja, saya sempat berlatih prana, reiki, dan belajar pijat refleksi. Dari semua yang saya pelajari, akhirnya saya memilih mendalami Energi 5 Elemen karena cukup lengkap, alami, dapat menjelaskan sebab akibatnya, dan menyelesaikan masalah kesehatan dalam keluarga.

Kapan mulai serius mendalami metode ini?

Saya mulai serius mendalami energi kesehatan 5 Elemen ketika Ibu saya terkena stroke pertama kali tahun 2003. Selain itu, anak-anak saya hampir setiap bulan sakit flu. Istri saya juga terkena hipertiroid dan benjolan di dada. Paman saya pernah sakit mag bertahun-tahun dan tidak sembuh-sembuh. Kejadian-kejadian tersebut memicu saya mencari makanan sehat melalui analisis Energi 5 Elemen. Sejak itu, saya mulai rajin memeriksa jenis-jenis energi kesehatan 5 Elemen pada tumbuh-tumbuhan yang secara alami bisa membantu kesehatan Ibu, anak, dan istri. Ternyata, dengan mengubah pola makan dengan menu makanan yang lebih sehat, semuanya menjadi lebih sehat. Setelah itu, keluarga dan teman-teman juga mulai sering menanyakan tentang energi kesehatan mereka, juga bagaimana cara menyembuhkannya secara alami.

Akar dari metode yang Anda temukan ini dari mana atau dari ilmu apa?

Ilmu pengetahuan ini saya peroleh ketika saya mulai belajar meditasi. Energi 5 Elemen yang dikenal dengan elemen Ether, Udara, Api, Air, dan Bumi, sebenarnya telah dikenal sejak ribuan tahun yang lalu di Yunani, India, Tibet, China, dan Jepang. Di Yunani, 5 Elemen dipelajari oleh para filsuf yang sudah kita kenal seperti Empedocles, Hippocrates, yang juga dikenal sebagai Bapak Kedokteran, juga Plato, Aristoteles, dan Archimedes, yang terkenal dengan Hukum Archimedes. Kata ether berasal dari kata aether yang diperkenalkan oleh Archimedes, dan diartikan sebagai esensi.

Kalau akar metode ini di negara-negara yang Anda sebut tadi?

Di India, 5 Elemen sudah dikenal dalam filsafat Hindu, filsafat Buddha, Sistem 7 Chakra, dan dalam pengobatan kuno Ayurveda. Di Tibet, 5 Elemen dikenal dalam Bön, yaitu filsafat kuno Tibet. Di China, 5 Elemen dikenal dalam Kitab Klasik China, yaitu I Ching, dan dalam filsafat Tao di mana 5 Elemen disebut sebagai Wu Xing. Tradisi Jepang juga mengenal 5 Elemen sebagai Go Dai. Jadi sebenarnya, 5 Elemen adalah ilmu pengetahuan universal yang telah dikenal di berbagai belahan dunia sejak ribuan tahun yang lalu.

Jadi, esensi Energi 5 Elemen itu apa?

Sebenarnya, 5 Elemen adalah bentuk-bentuk materi dan energi dalam berbagai tingkatan. Dalam ilmu pengetahuan modern, Einstein telah membuat rumus persamaan materi dan energi, di mana materi dan energi sebenarnya adalah sama, hanya bentuknya berbeda. Dalam ilmu pengetahuan modern, energi dikenal dalam berbagai bentuk. Misalnya; energi potensial, energi kinetik, energi panas, energi cahaya, energi bunyi. Dan, ada juga energi elektromagnetik yang diaplikasikan dalam radio, televisi, handphone, WiFi, dan alat komunikasi lainnya.

Sementara, para ilmuwan dan filsuf zaman dahulu membuat tingkatan materi dan energi dalam istilah yang lebih spesifik, yaitu dalam bentuk Energi 5 Elemen itu tadi. Penjelasan begini: Bumi adalah energi dalam bentuk paling padat, yaitu dapat dilihat, dirasakan, dan dapat dipegang. Air adalah energi dalam bentuk cair, dapat dilihat, dirasakan, dapat dipegang, dan dapat berubah bentuk. Api adalah energi dalam bentuk yang lebih halus, dapat dilihat, dirasakan, tetapi tidak dapat dipegang, dan mudah berubah bentuk. Udara adalah bentuk energi dalam bentuk yang lebih halus lagi, dapat dirasakan, tetapi tidak dapat dilihat, dan tidak dapat dipegang. Misalnya, emosi atau perasaan yang lebih halus dan lebih tinggi. Ether adalah entuk energi dalam bentuk yang paling halus, hanya dapat disadari, tetapi tidak dapat dirasakan, tidak dapat dilihat, dan tidak dapat dipegang. Contohnya adalah imajinasi, ide, konsep, sistem, atau pemikiran.

Lalu, dari mana sumber Energi 5 Elemen itu?

Sumbernya Energi 5 Elemen yang sehat berasal dari sinar matahari pagi, udara segar, air sehat, dan makanan sehat. Selain itu, juga bisa berasal dari terapi sehat, seperti pijat refleksi, olahraga sehat, yoga asanas, kata-kata dan motivasi positif, doa, dan meditasi. Selain 5 Elemen yang bersifat fisik atau duniawi, dikenal juga elemen keenam yang bersifat spiritual, dikenal dengan nama Elemen Kesadaran dalam Sistem 7 Chakra, dan Chi atau Qi dalam Wu Xing.

Secara umum, cara kerja metode Energi 5 Elemen ini bagaimana?

Prinsipnya adalah kelancaran energi, keseimbangan energi, dan kekuatan energi 5 Elemen pada manusia. Bila energi pada seluruh elemen mengalir lancar, seimbang, dan kuat, maka berarti orang tersebut sehat. Semua benda merupakan sumber energi, termasuk manusia. Manusia memancarkan berbagai jenis energi termasuk Energi 5 Elemen itu tadi. Dengan mendeteksi Energi 5 Elemen pada manusia, maka kita dapat mengetahui kondisi kesehatan orang yang bersangkutan. Sebab, manusia mempunyai pusat-pusat energi untuk elemen Ether, elemen Udara, elemen Api, elemen Air, dan elemen Bumi.

Aley bersama tim desain di pabrik

Aley bersama tim desain di pabrik

Bisa dijelaskan lebih detail lagi?

Begini, elemen Ether terpusat pada tenggorokan dan mewakili organ kepala dan tenggorokan. Elemen Udara terpusat pada dada dan mewakili organ dada. Elemen Api terpusat pada bagian perut, mewakili organ pencernaan dan hati. Elemen Air terpusat pada bagian bawah perut, mewakili organ ginjal dan reproduksi. Sedangkan elemen Bumi terpusat pada bagian bawah tulang ekor, mewakili organ kaki dan tangan. Pada orang yang sehat, energi kesehatan akan mengalir dari elemen Ether, turun ke elemen Udara, ke elemen Api, ke elemen Air, dan terakhir ke elemen Bumi. Bila energi mengalir lancar, maka energi pada seluruh elemen ini akan kuat dan seimbang. Bila ada gangguan kesehatan, maka aliran energi akan terhenti, dan akan ada kekurangan energi pada elemen tertentu.

Misalnya, energi pada elemen Api berkurang. Akibatnya, orang tersebut mengalami gangguan pencernaan. Untuk mengobatinya, kita dapat menggunakan kencur yang mempunyai energi penyembuh untuk elemen Api. Selanjutnya, kita dapat menggunakan wortel atau bengkuang segar untuk melancarkan kembali energi yang terhenti. Selain terhenti, efek yang lebih berat adalah terbaliknya arah energi, misalnya energi mengalir dengan arah terbalik dari elemen Api ke elemen Udara. Hal ini berarti sakit akibat gangguan pencernaan naik ke jantung, sehingga fungsi jantung terganggu. Untuk itu, kita seharusnya mengobati penyebabnya, yaitu pencernaan, dengan menggunakan kencur supaya gangguan jantung otomatis berkurang.

Apa beda metode Energi 5 Elemen ini dengan misalnya tenaga prana, tenaga cakra, terawang aura, atau bahkan tenaga gaib, misalnya?

Manusia memancarkan berbagai macam energi. Ini dapat diumpamakan seperti gelombang radio atau TV yang mempunyai frekuensi berbeda-beda. Semua bisa ditangkap oleh pemancar yang melakukan tuning atau penalaan pada frekuensi tersebut. Demikian pula energi-energi ini bisa dideteksi oleh praktisi. Energi prana bisa dideteksi oleh praktisi prana. Aura bisa dideteksi oleh praktisi aura. Demikian pula, Energi 5 Elemen juga bisa dideteksi oleh praktisi 5 Elemen.

Setiap metode tentunya mempunyai kelebihannya masing-masing. Ada metode yang melakukan transfer energi secara langsung kepada penderita sakit seperti prana. Pada metode Energi 5 Elemen, tidak ada transfer energi secara langsung kepada orang yang sedang sakit. Pengobatan dilakukan secara alami. Orang yang bersangkutan dapat mengobatinya sendiri dengan mengonsumsi makanan sehat, yaitu makanan yang mengandung Energi 5 Elemen. Tetntunya makanan yang sesuai untuk meningkatkan energi pada elemen tertentu yang sedang kekurangan energi, dan melancarkan energi yang terhambat tadi.

Aley bersama partner di Jepang

Aley bersama partner di Jepang

Apa sebenarnya fungsi-fungsi utama dari metode Energi 5 Elemen?

Fungsi utamanya membantu kelancaran Energi 5 Elemen pada manusia, dan juga meningkatkan energi yang kurang pada elemen tertentu dengan mengonsumsi makanan sehat yang sesuai. Bila energi lancar dan meningkat, maka sakit pada elemen tersebut akan berkurang, dan otomatis organ-organ pada elemen tersebut juga akan sembuh.

Apakah ada dukungan data atau penelitian ilmiah yang menguatkan metode ini?

Saat ini saya belum ada kerja sama dengan badan penelitian ilmiah, khususnya di bidang kesehatan. Jadi, orang yang sakit menginformasikan langsung kepada saya, bahwa sakitnya telah berkurang atau sembuh. Misalnya, sakit kaki pada lutut sudah sembuh, gangguan pencernaan sudah tidak terjadi lagi, jantung sudah tidak berdebar-debar. Lalu, ada yang bengkak di lehernya sudah hilang, bisul di mata sudah kering, benjolan di dada sudah hilang, gangguan sakit kepala dan insomnia sudah tidak ada lagi. Seperti itu.

Persisnya, apa yang Anda lakukan untuk membantu penyembuhan mereka?

Yang saya lakukan saat ini adalah mendeteksi dan mengukur energi sehat orang tersebut dengan menggunakan Indeks Sehat. Ini adalah indeks yang saya formulasikan sebagai parameter ukur relatif untuk kesehatan manusia dan penyakit. Indeks ini saya peroleh dengan mengukur perbandingan kuat lemahnya energi yang diukur melalui metode Energi 5 Elemen. Indeks ini akan diwakili oleh angka yang menunjukkan perbandingan relatif antara energi yang diukur dengan energi yang paling sehat atau paling sakit.

Indeks Sehat mempunyai nilai relatif dari minus 100 hingga plus 100. Angka minus menunjukkan sakit atau tidak sehat. Angka nol menunjukkan kondisi tidak sehat dan tidak sakit. Sedangkan angka plus menunjukkan sehat. Walaupun demikian, dalam kasus-kasus yang luar biasa, angka indeks ini bisa saja lebih besar dari 100. Misalnya, penyakit kanker yang paling berat akan mempunyai Indeks Sehat minus 200. Saya akan membandingkan Indeks Sehat orang tersebut sebelum dan setelah mengonsumsi makanan sehat. Biasanya, Indeks Sehat akan meningkat dari minus menuju plus. Bila orang tersebut mengatakan dirinya sudah sehat, maka Indeks Sehatnya biasanya juga sudah plus.

Sebelum lebih jauh lagi, apa ada kemungkinan metode ini melanggar atau bertentangan dengan keyakinan agama, misalnya?

Menurut saya, tidak ada. Sebab konsep 5 Elemen bersifat universal, dan sudah dikenal sejak ribuan tahun yang lalu di pusat-pusat filsafat dan ilmu pengetahuan di dunia, seperti saya singgung di muka tadi. Jadi, 5 Elemen tidak mengacu pada agama tertentu. Jadi, aplikasi metode ini antara lain adalah cara sehat dengan mengonsumsi makanan tertentu. Makanya, orang yang mengonsumsi makanan sehat 5 Elemen, dia tidak perlu melakukan ritual tertentu. Dia hanya perlu lingkungan sehat, seperti sinar matahari pagi, udara segar, air sehat, serta mengonsumsi makanan sehat dan segar lainnya.

Baik, saya akan fokus pada pertanyaan tentang deteksi bahan makanan sehat. Terkait dengan hal itu, apa manfaat terbesar Metode 5 Elemen ini?

Manfaat terbesarnya adalah bahwa setiap orang bisa menjadi sehat dengan mengonsumsi makanan sehat, segar, sederhana, murah, dan mudah ditemukan dalam menu sehari-hari. Untuk sehat tidak perlu mengeluarkan biaya yang besar. Yang penting adalah kemauan untuk menjadi sehat. Sehat adalah hak semua orang, dan semua orang bisa mempelajari cara sehat melalui metode Energi 5 Elemen.

Aley bersama partner di Taiwan

Aley bersama partner di Taiwan

Menurut artikel-artikel yang Anda tulis, ternyata bahan-bahan makanan yang sederhana dan murah itu bisa menyembuhkan penyakit-penyakit yang sering diderita masyarakat kita, benarkah?

Memang benar. Saya sendiri mengonsumsi beberapa makanan tersebut secara rutin. Misalnya, beras merah, kencur, tempe segar, tape segar, wortel, bengkuang, dll. Demikian juga saudara-saudara dan teman-teman saya. Setelah mengonsumsi air tajin beras merah, sejak beberapa tahun lalu, kedua anak saya hampir tidak pernah sakit flu. Bila sakit, paling hanya flu ringan dan mereka masih bisa bersekolah. Sebelumnya, hampir tiap bulan sakit karena ketularan teman-teman sekelasnya. Demikian pula kencur. Beberapa saudara yang sakit mag berat bisa sembuh dengan mengonsumsi kencur. Sementara, dengan mengonsumsi tempe segar dan tape singkong segar, itu bisa membantu menghilangkan sakit kepala, migrain, dan orang insomnia jadi lebih mudah tidur. Mentimun pahit misalnya, itu ternyata dapat membantu menstabilkan kelenjar tiroid, sehingga tidak terjadi hipertiroid atau hipotiroid. Demikian pula, air kelapa tua atau matang, ternyata dapat menyehatkan ginjal dengan membersihkannya dari asam urat dan racun. Lalu wortel segar, itu dapat menyembuhkan sakit kaki dari asam urat.

Wah, bahan-bahan makanan sehari-hari yang mudah didapat itu punya manfaat sangat besar seperti itu, harusnya untuk jadi sehat secara murah dan alami itu tidak sulit, dong?

Logikanya memang demikian. Tetapi, biasanya kita terbentur pada kebiasaan makan. Sebab, orang akan terpaksa memilih antara makan enak atau makan sehat. Memanjakan lidah atau memelihara kesehatan otak, jantung, pencernaan, hati, ginjal, pankreas, dan kaki. Sebenarnya manusia adalah makhluk kebiasaan. Jadi, mengonsumsi makanan sehat bisa dibiasakan.

Persoalannya, bagaimana tetap bisa memanjakan lidah, sementara makanan yang dikonsumsi tetap menyehatkan?

Makanan sehat, sebetulnya juga cukup banyak yang enak-enak. Misalnya, buah-buahan,  bengkuang segar, jus wortel dan tomat, atau tape singkong segar. Lalu, sayur-sayuran yang dilalap dengan sambal, misalnya. Berikutnya, ada jagung, ubi, singkong, dan kentang yang dikukus. Tempe segar itu juga enak dimakan, kalau sudah biasa. Untuk beras merah, kalau belum biasa makan, bisa minum air tajinnya saja. Ini juga sehat. Nah, untuk mengatasi antara enak dan sehat, kita bisa mengambil jalan tengah. Misalnya, mengombinasikan antara makan enak dengan makan sehat. Selain itu, juga melalui variasi menu makan harian.

Apa makanan yang sehat dan baik untuk mengatasi stres?

Beberapa makanan sehat untuk mengatasi stres atau gangguan ketegangan psikis antara lain tape singkong segar, tempe segar, susu yoghurt, dan mentimun, terutama bagian yang pahit.

Kalau minuman seperti kopi dan teh, apa bahayanya?

Teh tanpa gula pada umumnya bersifat netral. Tetapi, bila diminum dengan air panas, teh akan memengaruhi kesehatan pencernaan pada elemen Api. Selain itu, bila diminum dengan gula secara rutin setiap hari, teh juga akan memengaruhi kesehatan pankreas pada elemen Air, dan juga memengaruhi kesehatan kaki pada elemen Bumi. Ini karena efek negatif gula. Hampir sama dengan teh, kopi tanpa gula umumnya juga bersifat netral. Tetapi, bila kopi diminum dengan air panas, itu akan memengaruhi kesehatan pencernaan pada elemen Api. Selain itu, bila diminum dengan gula secara rutin setiap hari juga akan memengaruhi kelenjar tiroid pada elemen Ether, dan juga pencernaan pada elemen Api. Jadi, kalau teh dan kopi itu tidak manis namun diminum secara rutin, sebenarnya tidak begitu bermasalah.

Kalau minuman berkarbonasi, bir, atau arak itu bagaimana?

Minuman berkarbonasi umumnya bersifat asam. Sehingga, bila diminum secara rutin setiap hari, itu akan memengaruhi kesehatan pencernaan pada elemen Api. Bila minuman berkarbonasi menggunakan gula berkalori, maka kesehatan kaki pada elemen Bumi dan pankreas pada elemen Air juga akan terganggu. Sementara kalau bir itu jelas berbahaya untuk jantung pada elemen Udara, dan ginjal pada elemen Air. Orang yang sering minum bir akan kekurangan energi pada elemen Udara dan elemen Air. Kalau arak itu berbahaya untuk kelenjar tiroid pada elemen Ether, jantung pada elemen Udara, dan kaki pada elemen Bumi. Orang yang sering minum arak akan kekurangan energi pada elemen Ether, elemen Udara, dan elemen Bumi.

Aley bersama keluarga tercinta yang semakin sehat

Aley bersama keluarga tercinta yang semakin sehat

Orang berobat ke dokter kemudian didiagnosis menderita penyakit tertentu, lalu diberi obat yang sama. Namun anehnya, mengapa pada kasus pasien tertentu obatnya manjur, pada kasus pasien lain bisa tidak manjur sama sekali? Apa yang menyebabkan hal itu?

Hal ini bisa terjadi karena kondisi tubuh mereka tidak sama. Sebagai contoh, ada pasien A yang sudah kebal dengan antibiotik, sehingga harus diberi antibiotik. Pasien B, sebaliknya mungkin sudah kebal dengan antibiotik, sehingga harus diberi antibiotik. Ada juga faktor alergi, sehingga pasien yang menderita alergi tertentu, tidak cocok dengan obat tertentu. Selain itu, ada juga pasien yang selain sakit utama yang didiagnosis, juga sebenarnya menderita sakit mag, sehingga tidak cocok dengan obat yang bisa mengganggu pencernaan. Bila hal ini diperiksa dengan metode Energi 5 Elemen, maka bisa diketahui apakah pasien tersebut cocok atau tidak dengan obat tersebut. Tentunya tetap dengan memerhatikan kecocokan energinya.

Bicara makanan sehat, mengapa Anda sama sekali tidak mengupas soal daging yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan akan protein dan lemak dalam tubuh?

Memang, ada yang menyebutkan bahwa daging dan telur juga dapat digunakan sebagai obat. Tetapi, dari analisis Energi 5 Elemen, ternyata energi daging dan telur tidak cocok dengan Energi 5 Elemen pada tubuh manusia. Yang cocok dan mempunyai Indeks Manfaat positif adalah energi tumbuh-tumbuhan, udara segar, air sehat, dan sinar matahari pagi. Energi daging binatang berkaki empat mempunyai Indeks Manfaat yang negatif terhadap kesehatan. Demikian pula energi daging binatang berkaki dua dan telur. Hanya ikan yang bersifat netral dan mempunyai indeks manfaat nol.

Jadi, dalam hal ini, sebenarnya kita perlu melihat efek jangka panjangnya. Mungkin, dalam waktu singkat kita melihat seolah-olah ada manfaat kesehatannya. Tetapi, dalam jangka panjang, akan merugikan kesehatan kita. Sementara, mengenai kebutuhan protein, Hiromi Shinya, dalam bukunya yang terkenal The Miracle of Enzyme mengatakan bahwa dengan menu 100 persen vegetarian sekalipun, orang tetap dapat memperoleh cukup protein.

Jadi, alasan Anda ini bukan semata karena Anda vegetarian?

Bukan, tetapi karena memang hasil analisis Energi 5 Elemen menunjukkan makanan daging ini tidak cocok dengan kesehatan manusia. Sebagai vegetarian, saya tentu saja boleh mengonsumsi gula, santan, mentega, dan margarin. Juga boleh minum kopi, meminum minuman berkarbonasi, atau makan goreng-gorengan. Tetapi, saya tetap memasukkan makanan-makanan ini dalam golongan makanan tidak sehat karena memang tidak cocok dengan kesehatan manusia.

Dari penjelasan Anda, saya tahu efek negatif sejumlah bahan makanan. Persoalannya, kalau saya misalnya terlampau menggemari makanan tersebut, lalu bagaimana cara menanggulangi, atau setidaknya mengurangi dampak negatifnya?

Ini hal yang umum terjadi. Anak saya juga masih senang makan daging, ikan, dan telur. Jalan keluarnya, kita bisa mencoba membuat menu makanan yang lebih seimbang. Maksudnya seimbang antara makanan sehat dengan makanan enak yang tidak begitu sehat itu. Sebagai contoh, diet makrobiotik menganjurkan adanya keseimbangan antara 20 persen makanan hewani dengan 80 persen makanan nabati yang sehat dan segar. Lagi, Hiromi Shinya, setelah meneliti kesehatan pencernaan dari ribuan orang Amerika dan orang Jepang, bahkan menganjurkan makanan ideal yang terdiri dari 15 persen hewani dan 85 persen nabati yang segar dan sehat.

Selain itu, bila makanan tersebut memang kurang baik untuk kesehatan, sebaiknya jumlahnya dikurangi atau frekuensi menunya dikurangi. Sebagai contoh, pada waktu kuliah, saya senang makan mi instan karena memang praktis. Sekarang juga tetap suka. Tetapi, ternyata bumbu mi instan kurang sehat bila dikonsumsi setiap hari. Jalan keluarnya adalah dengan mengurangi bumbu pada saat memasak mi. Saya biasa mengganti sebagian bumbunya dengan garam dan gula, lalu juga mengurangi frekuensi makan mi instannya. Atau, kadang saya mengombinasikan mi instan dengan makanan sehat seperti sayur-sayuran.

Kabarnya Anda sedang menulis buku mengenai topik yang kita bicarakan ini. Apa tujuan Anda menulis buku atau membuka masalah ini ke khalayak?

Betul. Menjadi sehat adalah hak semua orang. Sehat itu juga dapat dilakukan oleh semua orang dan tidak diperlukan biaya yang besar. Yang penting adalah keinginan untuk menjadi sehat. Di Indonesia, makanan sehat berlimpah seperti saya katakan sebelumnya. Hanya, yang perlu lebih diperhatikan adalah kesegarannya dan cara memasaknya.[ez]

Foto-foto: Dokumentasi pribadi.