June 30, 2009

Cacuk Wibisono: Walk the Talk, Wujudkan Tekadmu

Cacuk Wibisono

Cacuk Wibisono

Anda suka bingung mencari tayangan televisi yang berkualitas pada hari Minggu pagi? Cobalah sesekali mengarahkan saluran televisi Anda ke stasiun Trans 7 pada pukul 10.00 wib. Anda akan temukan sebuah program berlatih bahasa Inggris bertajuk Walk the Talk dengan host “bule gile” Jason Daniels. Inilah salah satu program berlatih bahasa asing yang kini jadi favorit pemirsa televisi, baik dari kalangan dewasa sampai remaja dan anak-anak.

Ya, mungkin Anda sudah pernah atau sesekali menonton tayangan sarat nilai edukasi sekaligus sangat menghibur tersebut. Tahukah Anda, siapa otak di balik program edutainment televisi yang belakangan mendapat apresiasi dari berbagai kalangan tersebut? Sang kreator, anak muda itu bernama Cacuk Wibisono, Direktur PT Paradigma Visi Gracia, yang pernah menjadi penulis skenario sejumlah sinetron laris seperti Jin & Jun, Tuyul & Mbak Yul, Catatan Si Boy, Istana Impian, Ada-Ada Saja, dll.

Lahir pada 20 Desember di Jakarta, dan dari keluarga seniman, Cacuk memang selalu dihantui kerinduan untuk menghasilkan karya-karya yang punya pengaruh dan berkesan di benak khalayak. Sejak kecil cacuk memang bercita-cita jadi penulis, maka tak heran pula bila kariernya cukup mulus di dunia penulisan naskah sinetron. Namun, industri televisi yang membesarkannya pun telah mengusik hatinya untuk membuat karya-karya yang tidak semata-mata mengabdi pada kepentingan modal. Ada kerinduan untuk menghasilkan program televisi yang langsung dirasakan manfaatnya oleh pemirsa. “Saya tertantang,” ujar suami dari Rugun Sibarani ini.

Berawal dari sebuah sayembara pendanaan program pendidikan bahasa melalui televisi oleh Kedubes AS di Indonesia, Cacuk dan timnya mengadu untung dengan ide kreatif mereka. Ternyata, proposal atau pilot program mereka diterima dan mengalahkan sejumlah production house besar. Lebih membanggakan lagi, program Walk the Talk—jenis program edukasi yang biasanya kurang mampu bersaing di televisi—ternyata kini disambut antusias oleh masyarakat dan mendapat apresiasi positif dari media massa. Semangat pun terpacu untuk terus mencari dukungan agar program ini berlanjut dan terus dapat mendatangkan manfaat bagi publik.

Nah, mungkin Anda adalah salah satu dari “sedikit” pemirsa kita yang masih merindukan tayangan-tayangan televisi berkualitas. Walk the Talk adalah tawaran Cacuk dan kawan-kawannya untuk menghibur, mendidik, sekaligus menekankan betapa pentingnya masyarakat kita menguasai bahasa Inggris sebagai bahasa pergaulan dunia. Dukungan bisa Anda berikan dengan menonton, mengomentari, atau memberikan usulan melalui website mereka yang beralamat di www.walkthetalk-indonesia.com. Berikut apresiasi AndaLuarBiasa.com terhadap program tersebut, yang dihadirkan dalam petikan wawancara tertulis Edy Zaqeus (Editor) dengan Cacuk belum lama berselang:

Sebenarnya, apa latar belakang pembuatan program Walk the Talk ini?

Sebuah kerinduan untuk melihat program yang terasa manfaatnya bagi pemirsa secara langsung. Saya sering mendengar bahwa pemirsa tidak suka program yang berat. Mereka ingin tertawa, mereka ingin relaks…. Nah, saya tertantang… Sekalipun tertawa dan relaks, tetapi ada value-nya. Begitulah hasrat saya. Program ini ingin menumbuhkan kerinduan untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris kepada pemirsa.

Ada idealisme tertentu?

Saya menganut prinsip berikan kepada viewers apa yang mereka perlu. Dan bukan apa yang mereka mau. Walk the Talk memberikan apa yang masyarakat perlu. Sementara, banyak acara televisi lebih memberikan apa yang masyarakat mau.

Menurut Anda, apakah benar program-program televisi yang bernuansa pendidikan saat ini sudah jauh berkurang? Atau, memang tidak pernah cukup?

Masyrakat terus berkembang…. Perubahan demi perubahan terjadi. Dalam situasi seperti ini, program pendidikan harus juga berkembang. Coba kita tengok program 2 Pendidikan yang ditayangkan di TVRI. Apa kesan pertama yang mampir di kepala kita? Terasa lampau, ya? Terutama dalam sentuhan gambar dan kreatifnya. Jadi, memang harus terus dilakukan pengembangan, baik jumlah maupun kualitasnya.

Episode Walk the Talk

Episode Walk the Talk

Bagaimana prosesnya sampai program ini lahir?

Awalnya sebuah fax berisi tawaran sayembara dari US embassy untuk membuat program pemasyarakatan bahasa Inggris kepada masyarakat. Lalu, saya mengajak dua orang staf cameraman untuk membuat sebuah pilot. Kisah pembuatan pilot ini juga lucu. Sejak semula, saya memang sudah mengenal Jason, host program ini. Dan, setelah saya tahu bahwa dia sedang di Bandung, saya bersama tim kecil ke Bandung juga untuk membuat pilot saya. Seperti biasa, saya menunda memikirkan konsep. Saya pikir, “Ah… sambil jalan ke Bandung saja, deh…!” Sampai di Bandung, saya belum juga memiliki ide, blank! Kami kemudian memutuskan makan siang saja karena hari memang sudah siang saat itu. Nah, ketika makan siang itulah saya melihat ada seorang bapak, Pak Nanang namanya, yang memiliki wajah lucu. Secara naluriah saya minta izin melakukan interview singkat. Pertanyaannya, “Apa kata dalam bahasa Inggris yang Bapak tahu…?”

Apa jawaban si Bapak itu?

Jawaban si Bapak itu salah-salah dan sangat lucu, dengan guyon khas orang Bandung. Tetapi, sorot matanya itu yang begitu menancap di benak saya. Sorot mata yang penuh kesungguhan dan senang karena diberi kesempatn “praktik” berbahasa Inggris. Dia bilang juga kalau dipenuhi penyesalan karena tidak belajar Inggris dengan serius. Daar!!! Eureka!!! Saya tertawa, namun juga terharu. Saat itulah saya menyadari, program bahasa Inggris ini harus dilakukan dengan straight talk, bicara langsung. Karena begitu segar, begitu jujur, begitu tulus….

Akhir dari perjalanan kami di Bandung menjadi mudah dan menyenangkan. Karena sudah ide yang membara di dalam pikiran. Saya bertemu Jason di Bandung siang itu dan menuju Dago untuk pembuatan pilot. Sebagai penghargaan kepada orang yang telah menyulut ide Walk the Talk, saya ajak Pak Nanang ikutan shooting sorenya, dan malam hari kamu sudah di editing room di Jakarta. Tiga hari kemudian saya sudah menyerahkan pilot ke US Embassy.

Dan, pilot Anda sukses memenangkan sayembaranya?

Ya, kira-kira seminggu US Embassy menghubugi kami dan memberitahukan bahwa kami memenangkan sayembara, dan kami mendapatkan dana produksi untuk memproduksi program ini. Kami menyisihkan 50 kontestan lainnya. Banyak di antara para kontestan adalah raksasa dalam bidang program televisi.

Lalu, dari mana ide nama program Walk the Talk?

Nama Walk the Talk sendiri berasal dari hasil pengamatan saya terhadap orang-orang yang kami temui dan interview. Kebanyakan mereka mengatakan penyesalannya karena tidak belajar bahasa Inggris dengan serius. Nah, mulai sekarang mereka akan serius belajar bahasa Inggris. Itu kan tekad? Nah, Walk the Talk berarti “mari wujudkan kata-katamu” atau tekadmu. Jadi, Walk the Talk itu bukan berarti berjalan dan berbincang, lho! itulah sebabnya kami di Paradigma, jika menegur sesama kami yang sedang lesu, kami berteriak, “KEEP WALKING THE TALK!”

Soal dana program, apakah tidak ada pesan-pesan sponsor?

Pesan sponsor dari US Embassy boleh dibilang tidak ada. Semua diserahkan kepada kami. Hanya satu yang dititipkan kepada kami, yaitu bahwa segmen dari program ini adalah adult learner. Namun, suatu ketika saya mengamati setiap episode Walk the Talk, dan menangkap sebuah pesan yang halus…. Kok ada bule mau ngomong dan ngajarin orang dengan spontan? Tiba-tiba perasaan saya menjadi hangat. Mudah-mudahan perasaan saya ini dirasakan juga oleh setiap pemirsa.

Cacuk: Kehidupan "orang kecil" selalu menginspirasi

Cacuk: Kehidupan "orang kecil" selalu menginspirasi

Ide dasar kemasan program ini sebenarnya seperti apa?

Saya ini orang yang suka bercanda dan humor. Jadi, sejak semula saya tidak ingin membuat program yang kaku dan formal. Nah, ketika membuat pilot, saya menyadari bahwa format semi reality adalah bentuk terbaik dari program ini. Jadilah Walk the Talk seperti saat ini. Namun, saya sepenuhnya menyadari bahwa program televisi adalah sebuah dialektika antara pembuat program dan pemirsa. Dari minggu ke minggu kami mencoba mengerti apa yang diinginkan oleh pemirsa. Dan, kami men-develop apa yang kami rasa “diperlukan” oleh pemirsa kedalam bentuk yang pemirsa inginkan. Sebuah usaha yang tidak pernah berhenti. Menarik namun menguras banyak energi. Terkadang air mata, dan tentu saja keringat. Namun, ini sebuah usaha yang layak.

Sasaran pemirsa program ini?

Adult learner karena segmen inilah yang biasanya melupakan bahasa Inggris, yang dulu mungkin pernah mereka perlajari. Iya, kan? Setelah kita lulus sekolah atau kuliah, begitu masuk dunia kerja, kebanyakan dari kita tidak lagi mendapatkan kesempatan mempraktikkan bahasa Inggris.

Tapi tampaknya Walk the Talk juga oke buat anak-anak?

Ya, lucunya program ini ternyata juga sangat menarik bagi anak-anak dan remaja. Sementara, penonton dari kaum wanita juga banyak sekali. Ada e-mail yang masuk kepada kami dari seorang ibu. Dia menceritakan betapa bahagianya dia karena untuk pertama kalinya bisa menyuruh anaknya nonton Walk the Talk. Biasanya, dia melarang keras anaknya nonton televisi.

Sejauh yang sudah Anda pantau, bagaimana respon masyarakat terhadap acara ini?

Respon terhadapada acara ini bagus sekali. Rata-rata share adalah 3,2, sementara rating 0.5. Saya melihat ke mana pun kami pergi dan shooting, ternyata masyarakat mengenali program ini. Kami pun mendapat banyak supprort melaui Facebook, dan dari hit di website kami juga tampak minat yang besar terhadap program ini. Kompas dan Tempo memuat program ini dalam liputan mingguan mereka. Hal ini menujukan bahwa proram ini menarik dan bagus.

Apa pengalaman-pengalaman paling menarik saat menggarap episode-episode Walk the Talk?

Saya tidak bisa mengingat pengalaman tidak menarik saat shooting. Cobalah ikut bersama Tim Paradigma saat shooting. Setiap orang akan terkesan, karena memang begitu menarik. Suatu ketika terjadi dialog seperti ini di sebuah taman di RT 07, Sawo Ujung, Cipete. Sekelompok ibu sedang menyiram tanaman, Anda bisa saksikan adegan ini di episode Farmer. Begini dialognya:

Jason, memegang jahe, “Apa ini, Bu?”

Si Ibu sambil berpikir, “Ooo…”

Jason menggigit daun jahenya, “It taste like ginger…!

Si Ibu, “Oh, no….no danger… mister…

Atau lihat contoh dialog Jason dengan penjual parcel yang terjadi di Pasar Cikini dalam episode Entrepreneur.

Jason, “Bapak bisa bicara bahasa Inggris?”

Penjual parcel, “No…little…sedikit…”

Jason tanya lagi, “Apa kalimat bahasa Inggris yang Bapak tahu?”

Penjual parcel menjawab, “Saya enggak tahu… Yang saya tahu cuma… I want to kiss you!!”

Jason sontak menjawab, “Oh, no… I don’t want to kiss you!

Sebagai seorang penulis, saya takjub dengan keindahan dialog yang begitu fresh dan tidak terduga ini. Saya seperti sedang disuguhi adegan-adegan ciptaan sang maestro penulis, setiap kali shooting. Bagi saya pribadi, proses shooting Walk the Talk adalah sebuah pertunjukan drama manusia yang indah. Ikutlah sekali-sekali….

Cacuk bersama Rugun sang istri dan Jason Daniels

Cacuk bersama Rugun sang istri dan Jason Daniels

Kalau tema-tema yang diangkat dalam program ini, ide-idenya dari mana?

Tema-tema di setiap episode memang dibuat dengan alasan strategis, yaitu bagaimana menjangkau dan memperluas segmen. Itulah sebabnya setiap topik selalu adalah topik yang dekat dengan kehidupan masyrakat. Ide-ide setiap tema datang dari saya sendiri, dan saya menyusunnya sebelum Walk the Talk dimulai. Menyenagkan karena tema-tema yang sudah disusun terasa actual di masyarakat.

Kalau tema-tema wisata dan budaya apa digarap, kan menarik juga?

Wisata dan kebudaayaan selama ini saya lekatkan dengan setiap tema. Contohnya dalam episode mingu ini. Kami bisa realisasikan, dan Jason selalu memuji keindahan setiap kota. Oh ya, kami juga mendengar berbagai masukan dari pemirsa. Misalnya, ada yang minta lebih banyak vocabulary. Kami aplikasikan dengan menempatkan stickies di pojok kiri. Atau, ada juga pemirsa yang meminta daerahnya didatangi, dan kami senang saja melayaninya. Jadi, dialektika ini sudah tercipta.

Sejauh ini, tema apa saja yang sudah digarap?

Yang sudah ditampilkan tentang transportasi, guru, extreme sport, green life style, coffee, farmer, film industry, small medium enterprise, antique, dan minggu ini globalisasi!

Profesi-profesi yang sifatnya membangkitkan semangat, kreativitas, dan inovasi masyarakat, seperti yang dijalankan para motivator dan trainer, juga menarik….?

Itu yang sedang masuk ke benak saya. Profesi-profesi yang menarik, yang kontemporer, yang tidak terpikirkan 20 tahun lalu. Mudah-mudahan di season kedua kami bisa merealisasikannya.…

Tim Paradigma dengan Merah Putih di dada mereka

Tim Paradigma dengan Merah Putih di dada mereka

Mengenai pemilihan Jason Daniels, ‘si bule’ sebagai host, bagaimana ceritanya?

Jason adalah sosok yang buat saya penuh dengan “kontradiksi”. Pertama, dia tidak cakep. Kedua, dia itu “kampungan” hahaha…. Ketiga, he is very smart. Ketiga hal ini membuatnya pas untuk membawakan karakter host Walk the Talk yang–sama seperti jiwa saya—kampungan, blusak-blusuk ke mana-mana. Saya begitu terkesan dengan kemampuan alamiah Jason dalam menghacurkan pemisah, yang biasanya tercipta antara bule dan orang Indonesia… Bukan saya saja, seluruh isi Paradigma jatuh cinta sama bule yang satu ini. Dia mengajar bahasa Inggris di Seskoad. Saya yakin, dengan Jason sesuatu bisa jadi seru, dan itulah kenyataannya.

Berdasar pantauan Anda, bagaimana tingkat penerimaan pemirsa terhadap penampilannya?

Saya mengatakan kepada Jason, untuk meninggalkan kesan “bule gile” yang menancap di pemirsa , dan menjadi seorang dengan image “educator”. Dia sangsi karena menurutnya orang sudah menyukai dia gila-gilaan. Tetapi, kini dia malah berterimakasih. Karena, belum pernah dalam kariernya di televisi, dia menerima begitu banyak respon positif. Jika kami mengajak Jason ke mal, maka banyak ibu atau bapak yang mendorong anaknya untuk berbicara bahasa Inggris ke Jason. Penerimaan masayarakat atas Jason sungguh membesarkan hati.

Target-target apa yang hendak Anda capai dari program ini?

Sungguh naïf ya bila mengatakan dengan menonton program ini orang akan bisa berbahasa Inggris. No! Program ini bertujuan menumbuhkan motivasi kepada setiap penonton, betapa pentingnya meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris, dalam segala skala. Bahkan, jika hanya passive atau patah-patah sekalipun, berbahasa Inggris bisa membuka peluang.

Inilah yang kami ingin share kepada pemirsa. Yang kedua, yang kami lihat dari shooting atau off air, betapa senangnya masyarakat berkesempatan bicara dengan Jason dalam bahasa Inggris. Jadi, kami memperbanyak street talk untuk memberikan pengalaman berbahasa Inggris kepada orang biasa. mereka mendapat kesempatan ngobrol dengan bule. Saya yakin, ini akan berkesan mendalam. Dan, suatu ketika anak mereka minta uang untuk kursus bahasa Inggris, mereka akan merestui, karena mereka menyadari kepentingannya.

Langkah-langkah apa saja yang sudah dijalankan oleh tim Anda supaya program ini terus mendapat dukungan dan apresiasi masyarakat?

Kami sudah mendatangi beberapa pihak dan juga meminta waktu untuk beraudisi dengan Departemen Pendidikan Nasional. Begini, lho… saya tuh malu, karena pihak-pihak dalam negeri sendiri enggan atau belum mau membiayai program-program semacan ini. Sejauh ini, usaha kami masih kecil sekali hasilnya. Dan, untuk season 2, jika tidak ada pihak dalam negeri yang mau mebantu, kami terpaksa baru bisa memulainya di bulan Desember 2009. Sayang sekali.

Baik, Anda punya mimpi apa dengan program ini?

Saya memimpikan program ini bisa bertahan pada skala rating dan share yang tinggi sehingga para brand mau memasang iklan di program ini. Saya juga memimpikan program pindah jam tayang ke jam sore, 18.30 wib. Ini untuk mendapatkan pemirsa yang lebih banyak. Saya berharap suatu ketika program ini tidak diperlukan lagi. Karena masyarakat sudah menyadari pentingnya meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris mereka. Impian yang terakhir inilah yang saya begitu rindu melihat perwujudannya.

Ada pesan untuk target pemirsa Anda?

Walk the Talk adalah sebuah kalimat yang berat, satu kata dengan perbuatan. Ini juga jadi masalah di kepemimpinan nasional kita, kan? Pesan saya, ayo kita terus belajar bahasa Inggris. Biar sedikit, biar enggak sempurna belajarnya, ayo kita terus bersemangat. Dan, terapkan bahasa Inggris kapan pun, di mana pun.

Kalau pesan atau harapan untuk sesama kreator program-program pertelevisian?

Waduh… berat nih pertanyaannya…! Oke, sebagai kreator program, kami diberi previledge untuk menuntun masyarakat. Sehingga, memang kita seharusnya mebuat program yang selalu bernilai positif. Pesan kedua, mari terus berkarya dan belajar, dan ciptakan program dari hati….

Ok, makasih wawancaranya dan sukses ya….

Baik, terima kasih. Saya sangat menghargai kesempatan ini. Mudah-mudahan bermanfaat dan membuka wawasan. Salam Walk the Talk! Sukses untuk Anda![ez]

Walk the Talk digemari oleh orang dewasa, remaja, hingga anak-anak

Walk the Talk digemari oleh orang dewasa, remaja, hingga anak-anak

Foto-foto: Dokumentasi Paradigma.

June 16, 2009

Wuryanano: Banyak Orang Menjadikan Tuhan Itu Seperti Budaknya!

Raden Mas Panji Wuryanano

Raden Mas Panji Wuryanano

Doa adalah sesuatu aktivitas yang paling dianjurkan dalam kehidupan berdoa versi agama apa pun. Tetapi diakui atau tidak, dalam dunia nyata doa juga merupakan ajaran agama yang paling diagungkan sekaligus yang paling sering “diprotes”. Bagi orang yang sangat meyakini bahwa doa adalah jembatan emas dalam berkomunikasi dengan Tuhan, doa sungguh-sungguh menjadi bagian tak terpisahkan dari iman, sesuatu yang diyakini kemutlakannya. Sementara bagi sebagian lainnya, doa dipersepsi tak lebih dari sekadar anjuran yang indah di teori, tetapi sulit dalam realitas. Penilaian yang belakangan ini muncul dan menjadi dilema di mata orang-orang yang merasa doa-doanya tidak pernah dikabulkan oleh Tuhan.

Seolah ingin menjawab persoalan itulah, terbit buku dengan judul yang sangat impresif, Mengapa Doa Saya Selalu Dikabulkan (GPU, 2009), karya Wuryanano. Bagi pemilik nama lengkap Raden Mas Panji Wuryanano ini, ternyata kunci terkabulnya doa-doa kita adalah justru pada penyikapan kita sendiri. Dengan kata lain, orang mesti paham betul bagaimana harus bersikap di hadapan Tuhan dalam doa-doanya. Orang harus pula tahu bagaimana meyakini sebuah doa yang dipanjatkan. Pun orang harus bagaimana menyambut terkabulnya doa itu dengan serangkaian tindakan pasti dan terarah untuk mewujudkan keinginan dalam doa tersebut.

“Kita harus ada daya upaya untuk mengambil atau meraih doa yang sudah terkabul itu. Antara lain dengan rencana dan tindakan nyata, bukan hanya secara lisan atau di dalam pikiran dan hati saja,” ungkap pria kelahiran Surabaya, 22 Mei 1964 itu. Selain itu, kita seharusnya juga menyadari bahwa Tuhan sering kali menjawab doa kita dengan “bahasa” yang berbeda dengan bahasa doa kita. Sama-sama menunjukkan bahwa Tuhan mengabulkan doa kita, tetapi mungkin kita perlu kepekaan, kearifan, kebesaran hati, serta kedalaman jiwa untuk bisa menyadarinya.

Sehari-hari, Wuryanano dikenal sebagai pengusaha di berbagai bidang, seperti peternakan, garmen, merchandising, butik, supermarket, restoran, percetakan, rumah herbal dan spa, serta lembaga pendidikan dan pelatihan profesi. Kesuksesannya sebagai pengusaha telah mendorong Wuryanano untuk terus berbagi pengalaman, keterampilan, dan semangat ke berbagai kalangan. Suami dari Christine Wuryanano serta ayah dari Riyadh Ramadhan dan Rafidh Rabbani ini sendiri aslinya adalah seorang dokter hewan. Namun, perjalanan hidup yang penjang serta sukses yang diraihnya ternyata telah menempa dia menjadi seorang motivator dan inspirator yang berperan bak seorang “dokter mental”.

Melalui karya keempatnya ini, Wuryanano hendak menguatkan semua orang akan pentingnya bertekun dalam doa dalam “sikap doa” yang benar. Karya ini juga menjadi bukti keyakinannya bahwa Tuhan selalu mengabulkan doa-doa kita. Berikut petikan wawancara Edy Zaqeus dari www.andaluarbiasa.com dengan Wuryanano yang dilakukan melalui pos-el belum lama berselang:

Sudah berapa buku yang Anda tulis?

Sudah empat buku saya tulis sejak terbit buku pertama saya pada Oktober 2006. Buku pertama saya berjudul The Touch of Super Mind yang mengetengahkan tema berdasarkan keyakinan saya. Bahwa, setiap orang pasti dianugerahi kekuatan pikiran super. Kekuatan pikiran yang dahsyat pengaruhnya bagi kehidupan kita masing-masing. Keyakinan saya, bahwa apa pun yang saya pikirkan terbukti menjadi kenyataan. Itu semakin membuktikan, bahwa pikiran manusia punya kekuatan untuk menarik apa pun yang telah mendominasi pikirannya itu.

Pikiran kita bisa mewujudkan apa saja?

Kita bisa melakukan apa pun dengan pikiran kita. Seperti, menjalani kehidupan lebih baik dan lebih bahagia. Itulah sebabnya saya menyebut Super Mind Power alias Kekuatan Pikiran Super. Karena, kekuatan super itulah yang akan menyeret kehidupan kita sesuai dengan apa yang telah mendominasi pikiran kita; baik ataupun buruk, semuanya akan menjadi kenyataan. Bergantung pada apa yang mendominasi pikiran kita.

Wuryanano: Mengapa Doa Saya Selalu Dikabulkan?

Wuryanano: Mengapa Doa Saya Selalu Dikabulkan?

Buku ini juga bukti gagasan Anda tersebut?

Ya, buku pertama saya ini juga sebagai bukti, bahwa apa yang saya pikirkan akan segera menjadi kenyataan. Nama saya sebelumnya tidak pernah dikenal sama sekali oleh penerbit mana pun di Indonesia, apalagi oleh penerbit besar. Dan, di buku pertama cetakan pertama, tidak ada nama lain selain nama saya, itu juga semacam test and measurement atas apa yang saya lakukan. Terbukti! Buku pertama saya diterbitkan oleh Elex Media Komputindo, kurang lebih dua minggu setelah naskah saya diterima penerbit.

Karya Anda selanjutnya?

Sebulan setelah buku pertama terbit, muncullah buku kedua saya berjudul Super Mind for Successful Life. Buku ini mengupas lebih dalam tentang bagaimana memanfaatkan kekuatan pikiran super yang memang dianugerahkan oleh Tuhan ke dalam diri setiap manusia. Saya tegaskan di buku kedua saya itu, bahwa jika kita ingin mengubah nasib lebih baik, lebih sukses, maka terlebih dulu kita harus mau mengubah pola pikir kita menjadi lebih baik pula. Sehingga, itu akan membentuk sikap, tindakan, dan kebiasaan lebih baik. Akhirnya, kita akan punya karakter diri yang juga lebih baik. Dan, itu dipastikan akan membuat nasib kita menjadi baik pula.

Inti gagasan yang melandasi buku kedua Anda ini apa?

Saya sangat meyakini bahwa kesuksesan itu selalu hanya tertarik kepada orang-orang yang pikirannya—dengan sengaja—sudah dipersiapkan untuk menarik sukses itu sendiri. Pikiran sukses akan bersifat seperti ‘magnet sukses’, yang hanya akan menarik segala bentuk kesuksesan.

Buku ketiga Anda judulnya apa?

Juni 2007 terbit buku ketiga saya, The 21 Principles to Build and Develop Fighting Spirit. Buku ini berisi prinsip-prinsip pribadi saya dalam menjalani kehidupan yang harmonis, sejahtera, dan selalu bersemangat setiap saat. Ada 21 prinsip yang telah saya jalankan dan terbukti menyelamatkan saya dari keterpurukan secara ekonomi maupun mental.

Apa saja di antaranya?

Berani bermimpi besar, berani bertanggung jawab, berani bertindak, dan fokus pada sasaran. Lalu prinsip kekuatan keyakinan, kekuatan ketekunan, kekuatan keuletan, kontrol emosi diri, rasa empati, komunikasi efektif, dan kebiasaan sukses. Berikutnya adalah sikap positif, disiplin pribadi, integritas diri, skala prioritas, sifat adaptif, senang humor, rasa syukur, wawasan ilmu pengetahuan, pilihan sukses, dan komitmen pribadi.

Judul buku Anda  ini sangat mengena dan indah sekali. Bagaimana sampai menjatuhkan pilihan pada judul tersebut?

Naskah saya ini awalnya berjudul The Secret of Successful Prayer, Rahasia Doa yang Terkabul. Tetapi, karena pertengahan 2008 sudah muncul buku dengan judul The Secret, maka saat akan mengirimkan naskah ke penerbit pada 2009 ini, terpaksa harus mengganti judulnya. Karena saya tidak ingin dianggap ‘mengekor’ buku The Secret. Akhirnya, secara cepat, spontanitas saja, dan tidak berpikir lama, saya menggantinya dengan judul Mengapa Doa Saya Selalu Dikabulkan. Saya kirimkan Selasa 24 Pebruari 2009, dan dua hari kemudian diterima oleh redaksi penerbit GPU. Dan, spektakuler! Tanggal 13 Maret 2009 saya dapat informasi buku saya sudah diterbitkan dan sudah diterima kantor cabang Gramedia Surabaya. Wow… luar biasa prima! Buku launching Sabtu 14 Maret 2009, saat acara Show Off UKM Jawa Timur di Royal Plaza Surabaya. Ini juga bukti lagi terkabulnya doa saya. Alhamdulillah.

Apa latar belakang Anda menulis buku ini?

Ide saya menulis buku ini karena saya sering melihat dan mendengar, betapa banyak orang yang mengeluhkan rumitnya kehidupan yang mereka jalani. Banyak orang selalu mengeluh dan merasa tidak berhasil dalam kehidupannya. Bahkan, sering juga menghujat Tuhan Yang Maha Esa, bahwa Tuhan telah pilih kasih dalam memberikan rahmat dan rezeki-Nya.

Wuryanano: Berbagi pengalaman dan semangat

Wuryanano: Berbagi pengalaman dan semangat

Apa gagasan besar atau pokok-pokok isi buku ini?

Lewat buku ini, saya ingin berbagi ke banyak orang, bahwa sesungguhnya Tuhan Yang Maha Esa itu Mahaadil kepada setiap makhluk ciptaan-Nya. Dan, Dia selalu mengabulkan setiap keinginan manusia, karena Dia itu Mahakaya-Raya, Maha-Segalanya di jagad raya ini. Orang yang merasa tidak dikabulkan doa atau keinginannya, bisa jadi karena mereka belum bisa berbaik sangka kepada Tuhannya. Dan, mereka juga tidak menyadari, bahwa Tuhan sudah berjanji kepada manusia, apa pun yang diminta oleh manusia akan selalu dikabulkan oleh-Nya. Ini pemikiran yang ingin saya bagikan kepada banyak orang lewat buku saya tersebut.

Semua orang pasti ingin doanya dikabulkan. Berkaca pada pengalaman Anda sendiri, apa sebenarnya rahasia dari doa-doa yang selalu dikabulkan itu?

Tidak ada rahasia dalam berdoa kepada Tuhan. Paling penting saya tekankan di buku ini adalah mengenai sikap kita pada saat kita berdoa kepada Tuhan. Rahasianya adalah bagaimana kita bersikap pada saat memohon kepada-Nya.

Sesungguhnya, apa ada sih doa yang bagus dan doa yang jelek itu?

Sebenarnya, inti berdoa itu untuk kebaikan bukan untuk keburukan. Doa yang bagus semestinya untuk kebaikan diri sendiri maupun untuk orang lain. Kalau berdoa untuk keburukan itu namanya bukan berdoa, tetapi mengutuk dan sumpah serapah. Jadi, semua doa itu bagus, tidak ada yang jelek.

Ada anggapan begini, bahwa sebagai si pemohon alias orang yang berdoa, kita seharusnya tidak boleh “memaksa” Tuhan untuk selalu memenuhi atau mengabulkan apa yang kita minta. Pendapat Anda?

Ya, etika berdoa kita itu seperti apa? Banyak orang bahkan menjadikan Tuhan itu seperti ‘budaknya’, meminta segala sesuatu dengan cara memaksa-Nya agar cepat mengabulkan keinginan orang itu. Tidak ada sopan-santun pada saat berdoa. Inilah sikap yang harus diubah!

Logikanya, pada saat kita mau bertemu dengan orang yang lebih tua, atau orang yang punya posisi sosial dan jabatan lebih tingi dari kita, pastilah kita akan bersikap sopan-santun kepadanya. Apalagi jika mau bertemu dengan Allah, Tuhan Yang Maha Esa, tentunya sikap kita harus sangat sopan-santun. Jauh lebih baik lagi dibandingkan jika kita bertemu dengan sesama manusia.

Ada lagi yang namanya doa “egois” yang isinya hanya permohonan-permohonan pribadi kepada Tuhan. Komentar Anda?

Sering kali manusia memang egois, maunya diri sendiri yang enak. Sehingga, jika berdoa selalu hanya keinginannya saja yang diutarakan kepada Tuhan. Oleh karena itu, di dalam agama kita, ada petunjuk bagaimana sebaiknya berdoa kepada-Nya. Ada semacam tata krama di dalam berhubungan dengan Tuhan lewat doa kita, termasuk petunjuk untuk ikut mendoakan orang lain.

Menurut Anda, apakah ada batasan waktu bagi terkabul atau tidaknya doa kita?

Batasan waktu terkabulnya doa? Hanya Tuhan yang berhak tahu. Ini sesungguhnya berkaitan dengan sopan-santun berdoa kepada Tuhan. Itu bukan hanya berdoa secara lisan saja, melainkan juga harus meyakininya di dalam lubuk hati terdalam. Sehingga, dengan demikian kita juga akan membuat rencana-rencana tindakan yang berkaitan dengan keinginan doa kita itu. Jadi, berdoa itu juga harus dilakukan dengan tindakan nyata untuk meraih apa yang menjadi doa keinginan kita tersebut.

Andil dalam menggerakkan masyarakat dengan memotivasi

Andil dalam menggerakkan masyarakat dengan memotivasi

Jadi kita sendiri juga mesti berusaha mewujudkan doa kita itu atau bagaimana?

Ini karena kita hanya manusia biasa. Meskipun memang Tuhan selalu mengabulkan doa kita, tetapi doa yang sudah dikabulkan-Nya itu masih digantungkan di atas kita. Sehingga, kita harus ada daya upaya untuk mengambil atau meraih doa yang sudah terkabul itu. Antara lain dengan rencana dan tindakan nyata, bukan hanya secara lisan atau di dalam pikiran dan hati saja.

Adakalanya Tuhan juga mengabulkan doa kita dengan cara menggantikan doa kita dengan hal yang lebih baik bagi kita nanti. Ini juga pemikiran yang saya sampaikan di buku saya itu. Kadang kala kita minta duit banyak kepada Tuhan. Dan, Tuhan mungkin menggantikannya dengan cara menyelamatkan nyawa kita dari musibah, misalnya.

Jadi, Tuhan mengabulkan doa kita melalui beragam cara dan bentuk perwujudan?

Memang, Allah bisa saja langsung mengabulkan doa sama persis seperti yang dipanjatkan kepada-NYA. Tetapi, itu menurut saya hanya fasilitas untuk para Nabi dan Rasul, atau orang-orang pilihan Tuhan sendiri. Dan, itu bukan fasilitas untuk kita manusia biasa. Ini juga penting untuk dipahami oleh kita semua. Termasuk juga mengenai kapan batasan waktu terkabulnya doa kita. Semuanya itu urusan dan hak prerogatif Tuhan. Kalau kita sudah bisa berprasangka baik kepada Tuhan, maka itulah yang akan terjadi pada diri kita. Tuhan itu sesuai dengan apa yang diprasangkakan oleh hamba-Nya kepada-Nya.

Sesungguhnya, apakah ada yang salah sih dengan meminta apa saja kepada Tuhan?

Sebagai manusia ciptaan-Nya, kita memang dianjurkan oleh Tuhan agar senantiasa berdoa memohon kepada-Nya, dan hanya kepada-Nya. Bukan berdoa kepada selain Tuhan. Jadi, boleh saja kita meminta apa pun itu kepada Tuhan Allah.

Selain menjadi seorang pengusaha, Anda juga dikenal sebagai motivator. Apa yang menarik atau apa makna dari menjadi seorang motivator itu?

Saya terjun menjadi pembicara publik sebagai motivator baru pada tahun 2004. Dalam aktivitas keseharian sebagai pengusaha, saya melihat betapa banyak orang—tidak peduli latar belakang pendidikan dan ekonomi—ternyata sering merasa kurang atau bahkan tidak merasakan kebahagiaan serta keberlimpahan hidup. Itu yang mendasari saya untuk ikut terjun di dunia motivasi ini. Saya ingin berbagi, menginspirasi, dan memotivasi banyak orang agar bisa selalu menikmati indahnya kehidupan ini.

Biasanya hal-hal pokok apa saja yang menjadi materi pelatihan atau aktivitas motivasi Anda?

Saya lebih sering membawakan materi motivasi di bidang personality development, positive attitude, dan entrepreneurship.

Kalangan mana saja yang sudah Anda motivasi?

Saya sering tampil berbicara kepada masyarakat umum, masyarakat dunia pendidikan, maupun perusahaan-perusahaan yang menginginkan peningkatan kualitas sumber daya manusianya. Juga bicara untuk perusahaan-perusahaan yang ingin mempersiapkan calon pensiunan agar bisa menjadi entrepreneur di masa pensiunnya, dan tidak terjangkit penyakit post power syndrome.

Wuryanano bersama keluarga tercinta

Wuryanano bersama keluarga tercinta

Pada masa sekarang ini, masyarakat kita sangat butuh dorongan yang kuat untuk terus bergerak maju. Menurut Anda, apa yang bisa mempercepat pergerakan ke arah kemajuan masyarakat kita?

Era globalisasi memang bisa memengaruhi mentalitas kita secara positif maupun negatif. Kita semua memang punya kewajiban untuk ikut serta memajukan negeri ini. Oleh sebab itu, menurut saya, masyarakat Indonesia ini masih memerlukan figur-figur yang bisa dijadikan sebagai contoh dan teladan dalam menjalani kehidupan yang bahagia dan sukses sejahtera. Masyarakat Indonesia tetap butuh figur-figur sukses yang bisa menginspirasi dan memotivasi untuk terus bergerak maju dalam menjalani kehidupan.

Sudah semestinya kalau setiap orang terlibat dalam upaya memajukan negeri ini. Menurut Anda, pada sisi atau aspek mana kita bisa ikut ambil bagian dalam gerakan tersebut?

Sebenarnya, jika setiap orang yang bisa dimasukkan ke dalam kategori sukses secara finasial maupun secara mental attitude, mau ikut terjun memberikan inspirasi dan motivasi kepada masyarakat negeri ini, saya yakin tidak akan ada lagi keterpurukan hidup. Tidak akan ada lagi kesengsaraan maupun kekejaman di kehidupan ini. Saya pikir di sinilah kita bisa ikut berperan. Namun, ini memang diperlukan kesadaran secara hati nurani dari para insan sukses negeri ini, untuk ikut berbagi pengalaman hidup sukses kepada masyarakat, tanpa terlalu berhitung bisnis. Ya, ikhlas berbagi tanpa tendesius pada rupiah… hahahaha…. Semoga saja segera terwujud kebahagiaan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Sebagai motivator muda, masih panjang jalan dan ladang kiprah Anda ke depan. Apa saja yang masih ingin Anda lakukan?

Memang dari sisi usia, saya masih tergolong muda. Baru 45 tahun dari total jatah usia 150 tahun, hahaha…. Ini yang saya doakan kepada Allah agar saya selalu dikaruniai kesehatan, awet muda, kebahagiaan sejati, dan keberlimpahan dalam setiap aspek kehidupan saya. Sehingga, dengan demikian saya bisa lebih lama lagi berbagi pengalaman dan pengetahuan saya untuk kebaikan umat manusia di bumi ini.

Di samping itu, saya ingin lebih banyak lagi bisa berperan menyantuni banyak anak yatim piatu, fakir miskin, maupun anak-anak terlantar di negeri ini. Serta yang juga menjadi obsesi saya adalah saya semakin banyak bisa mencetak eksekutif profesional andal dan para entrepreneur sukses. Yang mana itu sudah saya lakukan dengan mendirikan Lembaga Pendidikan Profesi Swastika Prima Entrepreneur Campus. Sejak saya dirikan pada tahun 2000 silam, lembaga itu telah melahirkan ribuan eksekutif profesional dan entrepreneur sukses.

Baik, terima kasih untuk wawancara yang luar biasa ini!

Semoga wawancara dengan Anda ini membawa berkah dan manfaat untuk menginspirasi dan memotivasi banyak orang. Juga agar orang senantiasa bergerak maju terus dan bersemangat luar biasa prima dalam menjalani kehidupan yang penuh kebahagiaan dan keberlimpahan ini. Amin.[ez]

Foto-foto: Dokumentasi pribadi.

June 2, 2009

Ibu Habibie: Mendidiklah dengan Hati, Bukan dengan Emosi dan Ambisi

Endang Setyati atau juga dikenal dengan Ibu Habibie

Endang Setyati atau juga dikenal dengan Ibu Habibie

Semua orang mengakui, bukan hal yang mudah membesarkan anak berkebutuhan khusus atau cacat. Tantangannya bukan sekadar tantangan fisik, finansial, namun juga mental dan spiritual. Itulah yang dialami oleh sebagian orang tua di dunia ini, yang mungkin tidak “seberuntung” kebanyakan orang tua lainnya yang dikaruniai anak-anak yang sehat dan tak kekurangan apa pun. Namun, di antara sedikit orang yang harus menanggung tantangan tersebut, ada nama Endang Setyati atau juga dikenal dengan sebutan Ibu Habibie, yang mampu memandirikan Habibie anaknya dan menjadi inspirasi bagi banyak orang.

Sama seperti para orang tua pada umumnya, yang merasa harus menanggung beban sangat berat karena dikaruniai anak berkebutuhan khusus. Dalam benak perempuan kelahiran Yogyakarta, 17 Desember 1951 ini, bahkan sempat pula muncul pertanyaan kepada Tuhan, “Apakah ini adil bagi kami?” Namun, berbekal hasil didikan orang tua, semangat yang pantang meredup, serta hasrat sangat besar untuk memandirikan sang anak, pensiunan Perum Perhutani ini pun sanggup menanggung semua beban tersebut. Bahkan, akhirnya ia melihat kenyataan bahwa semangatnya untuk membimbing anak dengan hati dan cinta itu pun telah menumbuhkan semangat baru di antara sekian banyak orang di negeri ini.

Tak ayal lagi, ketika orang melihat keberhasilan Habibie dengan bisnis online-nya, serta karya-karya website-nya maupun buku yang dia tulis, orang tetap tidak bisa mengabaikan peran sang ibu. Seperti kisah-kisah lainnya tentang anak penuh keterbatasan tetapi sanggup melakukan hal yang luar biasa, selalu saja figur seorang ibu juga hadir di balik itu semua. Dan ternyata, untuk kasus Ibu Habibie ini, kuncinya adalah pada sikap ikhlas, rasa bersyukur, kesanggupan untuk terus menempa dan mengembangkan diri, belajar tanpa kenal lelah, dan berpikir optimistis menghadapi masa depan.

Barangkali Anda pernah melihat penampilan Ibu Habibie dan sang anak di sejumlah seminar atau di berbagai talkshow di radio maupun televisi. Mungkin juga, ada banyak pertanyaan tentang rahasia keberhasilan perempuan tangguh ini dalam mendidik dan menjadikan anaknya pribadi yang mandiri. Untuk itulah Edy Zaqeus dari AndaLuarBiasa.com mewawancarai Ibu Habibie. Berikut petikan wawancaranya yang dilakukan melalui pos-el belum lama ini:

Sebenarnya, apa bisnis yang dijalankan Habibie itu?

Habibie mengawali bisnis online sebagai affiliate di Amazon.com, suatu perusahaan online terbesar di Amerika. Menjualnya di Amerika, pembelinya juga orang Amerika, tetapi Habibie mengelola usahanya dari Indonesia. Dari hasil penjualan produk tersebut, Habibie mendapat komisi penjualan. Besar komisinya jika terjual produk elektronik 4 persen, jika nonelektronik antara 6,5 persen. Kurang lebih selama 1,5 tahun, komisi yang terkumpul 5.986 dollar AS.

Sampai sekarang masih fokus sebagai affiliate Amazon.com?

Ya, tapi sejak awal semester tahun 2008 kan terjadi krisis ekonomi di Amerika. Dan, diprediksi akan berlangsung lama, setidaknya sampai akhir 2011. Makanya, penghasilan di Amazon.com mengalami penurunan drastis. Karena itu, Habibie mencoba mencari peluang pasar dalam negeri. Jadi, mulailah bisnis online di dalam negeri awal tahun 2008. Produknya e-book hasil penulisan pengalaman belajar dan bisnis di Amazon, bisnis properti online, memasarkan ponsel dengan konten utamanya Alquran dan handphone GSM dengan double SIM-ON. Lalu juga memasarkan dan memberikan pelayanan ibadah haji maupun umroh, dan memasarkan madu murni dari Pusbahnas Perum Perhutani.

Apakah hasil bisnis tersebut sungguh menghasilkan seperti yang diharapkan?

Alhamdulillah, hasil di bisnis online-nya sudah bisa menutupi kebutuhan atau biaya hidup sehari-hari. Penghasilan per bulan rata-rata tidak kurang dari Rp 5 juta. Dari amazon, sejak April 2007 sampai dengan Agustus 2008, selama 16 bulan itu telah mencapai  5.986 dollar AS. Penjualan e-book misalnya, sejak 27 Mei sampai 31 Juli 2008 yang dilakukan secara manual, ada 107 pembeli masing-masing seharga Rp 150.000,-. Yang pembayarannya melalui rekening BCA, terakumulasi Rp 16.050.000,-, dan yanng via PayPal sebesar 580 dollar AS. Penghasilan tadi belum termasuk dengan honor-honor yang diterima sebagai pembicara di seminar-seminar, atau undangan lain sebagai bintang tamu di stasiun TV.

Sejauh ini, di mata Anda, apa saja prestasi yang sudah dihasilkan oleh Habibie?

Sejalan dengan kemandirian Habibie, dia juga banyak membantu UMKM untuk membuat toko online untuk produk-produk mereka. Juga dengan semangat berbagi yang dimilikinya, dia banyak men-support dan memberdayakan teman-teman senasib. Mencari potensi yang dimiliki untuk dikembangkan. Itu sebagai upaya untuk memerdekaan diri dari ketergantungan pada orang tua, saudara, dan orang lain.

Dengan hasil bisnis tersebut, Anda melihat Habibie sudah berhasil meraih sisi kemandiriannya?

Tentu saja, untuk kebutuhan primer, seperti sandang, pangan, biaya belajar atau seminar, dia bisa membiayai sendiri. Untuk kebutuhan lainnya seperti sarana kerja, akses internet setiap bulannya dia bayar sendiri. Laptop dan perangkat-perangkat lain untuk menunjang bisnis online-nya, seperti beli domain, hosting, dll, sampai merawat giginya dengan bekhel yang tidak murah, juga dibiayai sendiri. Alhamdulillah, semua sudah bisa ditutup dari penghasilannya.

Habibie yang semakin lemah fisiknya, tetapi semakin menyala semangatnya

Habibie yang semakin lemah fisiknya, tetapi semakin menyala semangatnya

Mari flashback sebentar. Ketika tahu kondisi anak Anda berkebutuhan khusus, apa yang pertama kali sempat terlintas dalam benak Anda?

Awalnya, dalam hati tidak percaya dan berharap diagnosis dokter salah. Kan sering terjadi kesalahan pada diagnosis, kan? Namun demikian, masih berpikir juga mungkin dokter benar. Tidak seorang dokter pun gegabah mendiagnosis pasiennya. Pikiran saya saat itu, ya boleh dibilang tidak keruan, ya kacau, bingung, percaya dan tidak percaya bercampur jadi satu. Sekalipun dalam ketidakpastian, apa kata dan perintah dokter yang merawatnya selalu saya ikuti. Berapa pun biaya pemeriksaan dan perawatan saya bayar, saya tidak pernah hitung-hitung. Dan bahkan, saya merasa royal untuk kepentingan pemeriksaan dan tindakan demi kesehatan dan kesembuhan Habibie.

Saya bermaksud, paling tidak selama masa balita, saya harus berjuang keras dan semaksimal mungkin. Siapa tahu Habibie masih bisa tertolong? Saya tidak berani membayangkan kelak, kalau sudah besar Habibie tidak bisa berjalan. Bahkan, sampai pada kelumpuhan fisik….

Seperti ibu-ibu pada umumnya bila menghadapi situasi semacam itu, Anda diganggu bayangan-bayangan negatif?

Ya, namun pikiran-pikiran seperti itu selalu saya usir jauh-jauh. Dalam bayangan dan pikiran saya, kelak Habibie bisa jalan, entah kapan, saya masih punya harapan besar.

Pasti ada saat-saat paling menekan…?

Ya. Kadang kalau saya sedang sedih memikirkan nasib Habibie kecil, saya suka menangis sendiri. Yang sering sih menangis dalam hati. Apalagi kalau sedang salat malam, tahajud. Sering kalau Habibie sedang tidur, saya pandangi tidurnya sampi puas. Dan akhirnya, saya pun tertidur tanpa sadar. Saya sering bertanya pada Allah SWT, mengapa nasib Habibie dan nasib saya jadi begini, ya Allah? Apa yang kurang pada diri saya? Oh, mungkin saya kurang dekat pada-Nya….  Itu jawaban yang ada.

Anda terus berusaha mencari kesembuhan bagi Habibie?

Ya, pada tahun 1990, saat itu Habibie berusia sekitar 2 tahun, saya berangkat melaksanakan ibadah haji ke Tanah Suci. Ingin sekali rasanya saya memohon rida Allah untuk kesembuhan Habibie. Yah, tentu saja mohon mukjizat-Nya, Allah Aja wa Jalla. Selama di Tanah Suci, pikiran saya kacau karena saat saya mau berangkat, Habibie sedang sakit dan dirawat di RS St Carolus sampai dua kali dalam sebulan. Hampir saja saya memutuskan tidak jadi berangkat haji. Tidak tega rasanya meninggalkan Habibie dalam kondisi sakit dan dirawat inap.

Tidak semua orangtua bisa serta merta menerima begitu saja, atau menerima dengan ikhlas, atas kondisi tersebut. Pandangan Anda?

Saya rasa itu manusiawi. Pasti semua orang—termasuk juga saya—merasa sulit menerima hal ini. Kita semua selalu menginginkan segala sesuatu, apalagi anak, pasti ingin yang sempurna. Cantik, bagus, cakap, pandai, dam semua tangan, kaki, jari-jari utuh dan komplit. Tapi ternyata Allah tidak memberi apa yang saya harapkan. Namun, apa pun dan bagaimanapun, pemberian Allah harus kita terima, tidak mungkin saya menolak.

Saya sadar, inilah rida Allah pada saya. Saya harus ikhlas menerima amanah-Nya. Walaupun sudah lama saya ingin melahirkan dan  punya anak sendiri, saya tidak boleh kecewa atas pemberian dan amanah ini. Saya harus bisa menerima amanah ini dengan ikhlas. Saya sendiri tidak berani berharap banyak pada anak saya Habibie. Namun, apa pun dia, dan bagaimanapun dia, saya akan dan tetap mencintai, menyayangi, memerhatikan, mengasuh, merawat dia, dan juga mendidik dia sebaik-baiknya, dan semaksimal yang bisa saya lakukan.

Apakah ada perasaan semacam…. ya rendah diri atau malu, semisal pergi bersama Habibie?

Jujur ya, saya ini enjoy saja dengan Habibie. Saya tidak canggung tampil di depan umum, di mana pun saya berada. Saya tidak pernah merasa rendah diri atau pun malu kalau saya punya anak yang berkebutuhan khusus atau cacat. Belajar dari lingkungan, saya sering melihat kejadian orang tua yang tidak siap mental menerima anaknya yang berkebutuhan khusus. Saya sering kecewa melihat sikap orang tua yang tampak menolak anaknya. Dan, saya sangat sedih dan iba melihat anak yang diperlakukan tidak adil, bahkan terkesan diperlakukan semena-mena oleh orang tuanya.

Kasihan anak ini, dia akan mengalami penderitaan ganda. Di satu pihak dia sudah sangat menderita batin atas ketidaksempurnaanya, di lain pihak dia juga harus menderita terhadap ketidakberpihakan dan penolakan orang tuanya. Rasanya, saya bahagia dan bersyukur kalau melihat orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus namun mau menerima dan memperlakukan anaknya dengan baik. Jadi, anak tersebut akan tetap mendapatkan kebahagiaan yang utuh dari kedua orang tuanya. Dia juga akan terbebas dari perasaan tertekan atas ketidaksempurnaannya itu.

Bagaimana kemudian Anda bisa menerima hal tersebut dengan sepenuhnya. Bahkan, kemudian bergerak memberikan perhatian dan bimbingan konstruktif pada Habibie?

Saya ini seorang ibu yang telah ikhlas dan sabar mengasuh maupun merawat kakak-kakak Habibie, bawaan dari suami sebanyak tujuh orang. Terus, saya sendiri dengan suami dikaruniai seorang anak saja. Masak sih saya tidak urus dan tidak rawat dia baik-baik? Saya akan merasa berdosa kalau saya sampai menelantarkan anak kandung saya sendiri. Apalagi dia dalam kondisi lemah. Siapa yang akan peduli pada Habibie kalau ibunya sendiri tidak memerhatikan?

Sejak Habibie kecil, saya sudah bertekad untuk menyayangi dia dengan sepenuh hati, tanpa alasan. Dokter yang merawat dia, Profesor Teguh Asaat Ranakusuma, juga pernah mengatakan pada saya, bahwa penyakit Habibie ini tidak ada obatnya. Pesan beliau, “Limpahi kasih sayang.” Saya pikir, ya kasih sayang inilah obatnya. Berbekal kasih sayang inilah saya mendidik Habibie, layaknya anak normal. Bukan kasih sayang yang memanjakan, karena memanjakan anak bisa jadi racun dalam hidupnya. Habibie harus mendapat pendidikan yang utuh dari kedua orang tua, dalam kondisi rumah tangga yang tenteram, damai, bahagia, dan harmonis.

Apa yang Anda ajarkan pada Habibie?

Kami mengajarkan tentang penegakan iman dan Islam. Dari kecil dia telah belajar mengaji dan salat. Selama ini, dia lebih banyak belajar di lingkungan anak-anak normal. Tentu saja hal ini tidak mudah. Dia harus berani bersaing dengan anak-anak normal. Bisa dibayangkan bagaimana dengan tingkah polah yang aneh-aneh dari anak-anak sebayanya.

Anda tidak perlakuan istimewa pada Habibie?

Tidak ada perlakuan istimewa pada Habibie! Yang istimewa, sehari-hari di sekolah dia selalu didampingi pengasuh di luar kelas. Yang selalu siap kapan saja dipanggil untuk membetulkan duduknya maupun kebutuhan-kebutuhan lainnya.

Pendidikan Habibie sampai jenjang apa?

Terakhir Habibie hanya sampai SMA. Namun, saya juga tidak rela kalau dia hanya  menghabiskan waktu untuk bermain yang didak ada jluntrungan-nya. Saya ingin dia punya kegiatan yang positif dan produktif, sebagai bekal hidupnya kelak. Saya tidak rela melihat dia direndahkan atau diremehkan oleh orang lain maupun saudara-saudaranya. Biasanya, anak-anak dan orang-orang cacat itu suka dianggap sebagai “sampah masyarakat”.

Nah, saya ingin membekali Habibie dengan ilmu, bukan dengan harta. Hanya orang-orang yang berilmu yang akan mampu mengelola hartanya. Karena tanpa ilmu, berapa pun harta yang diberikan akan habis. Dengan ilmu dia akan menjadi manusia yang produktif dan mandiri. Dengan ilmu dia akan mampu memiliki harkat dan martabat dalam masyarakat. Sebenarnya, saya juga tidak banyak harta yang bisa saya berikan dan saya tinggalkan untuk Habibie.

Kompak dalam mengembangkan diri dan memacu prestasi

Kompak dalam mengembangkan diri dan memacu prestasi

Anda tampaknya lebih terfokus pada sisi-sisi kelebihan anak ketimbang pada kelemahannya. Bagaimana bisa sampai pada sikap seperti itu?

Lha, iyalah… Saya lebih fokus pada masa depan. Saya, dulu waktu Habibie masih kecil, pernah berjuang keras untuk kesembuhan dia. Saya rasa itu sudah cukup. Saya langsung mengubah pikiran saya, lebih baik saya berjuang keras dan cerdas untuk masa depannya. Selama ini, saya berharap masih ada kekuatan yang tersisa yang masih dimiliki Habibie. Karena, yang saya tahu kelemahannya lambat laun akan menggerogoti otot-ototnya, yang sudah lemah menjadi semakin lemah. Kekuatannya yang masih ada inilah yang ingin saya kembangkan untuk bekal hidupnya kelak, jika saja Allah SWT memberikan umur panjang padanya.

Benar lho, saya masih tetap berharap anak saya panjang umur dan bahagia. OK, otot-ototnya akan menggerogoti tubuhnya yang makin melemah. Tapi, semangatnya harus saya jaga agar tetap kuat. Saya berikan energi-energi positif melalui seminar-seminar pembelajaran, motivator, dan inspirator. Ya, saya selalu ke mana-mana berdua, saling menyemangati satu sama lain. Alhamdulillah, tampak ada hasilnya. Habibie makin tegar dan percaya diri menatap masa depannya yang cerah, secerah sinar matahari pagi dan senyumnya.

Apa sejak awal Anda sudah melihat semangat, bakat-bakat, serta potensi Habibie untuk bisa berkembang dengan baik?

Ya, tentu saja tidak. Semua ini hanya bagian dari upaya dan perjuangan menjadikan Habibie lebih baik saja. Prinsip saya adalah satu keharusan buat saya, ibunya, untuk berjuang keras mengatar Habibie meraih masa depan lebih baik. Itu saja…sederhana, kan? Karena, saya tidak bisa berharap pada orang lain. Sekalipun itu ayahnya maupun saudara-saudaranya. Mungkin orang lain melihat kelemahan Habibie ini suatu hal yang mustahil untuk bisa diberdayakan dan mandiri. Bahkan, eyang-eyangnya semua mencemaskan masa depannya. Tapi, tidak demikian dalam pikiran saya. Saya masih punya harapan besar dan rasa optimistis. Andai saja saya mau berjuang dan mengorbankan waktu, tenaga, dan biaya, saya yakin Habibie bisa berprestasi. Tapi, saat itu saya juga masih malu untuk mengatakan Habibie bisa sukses. Ada keraguan walau hanya sedikit.

Sejak kapan Anda mulai membina mental Habibie?

Saya menanamkan disiplin pada Habibie sejak dia masih kecil, kurang lebih usia 2 tahunan. Setiap sore saya membiasakan Habibie duduk di kursi dan meja untuk anak TK, yang sengaja saya beli untuk melatih dia. Melatih disiplin setiap sore harus selalu belajar, dan juga bermain bersama dengan saya dan kakak-kakaknya. Main lempar bola untuk melatih otot-ototnya, dan bermain plorotan di tempat tidurnya. Harapan saya, semoga kebiasaan ini akan menjadi kebiasaan dia sehari-hari. Di tahap ini saya memang sedang mencari bakatnya di mana. Saya berikan kerta-kertas folio, crayon, atau sepidol warna untuk mencari bakat menggambar. Ternyata, dia tidak punya bakat menggambar, karena dia hanya bisa membuat benang ruwet. Gambarnya tidak pernah memiliki bentuk yang spesifik, walau sudah diberikan contoh-contoh.

Pernah mengarahkan Habibie ke pendidikan agama?

Dalam hati kecil, saya pernah ingin mengarahkan Habibie ke arah agama. Barangkali suatu saat dia bisa jadi kyai atau ustaz. Caranya dengan memberi dia kesempatan belajar mengaji pada guru ngaji di sebelah rumah maupun mengundang guru ngaji ke rumah. Kita semua seisi rumah mengaji bersama supaya lebih semangat belajarnya. Sering saya diskusi dengan seluruh keluarga tentang apa sih sebetulnya yang menjadi cita-cita masing-masing anak. Saya bilang, “Kalau nanti Habibie gede, jadi kyai saja, ya?”

Dan, jawaban Habibie….?

“Dede enggak mau, Dede mau jadi pocici aja…” Waktu kecil dia memang senang kalau melihat mobil polisi patroli dengan lampu blizt dan sirine. Saya sering ngledekin dia dengan canda, “Mau jadi polisi yang berdiri di pojok jalanan—maksud saya patung polisi—atau polisi tidur?” Jawabnya, “Pocici tidung.”

Kabarnya Anda menggembleng semangat Habibie melalui game?

Ya, sejak usia 3 atau 4 tahun, Habibie telah biasa bermain game watch, kemudian Nitendo. Saya tidak pernah membatasi dia bermain. Kapan saja dia boleh bermain, pokoknya sesuka hatinya saja. Bahkan, kalau perlu saya undang teman-temannya untuk bermain bersama di rumah. Nitendo, kemudian Play Station 1 dan 2, ini adalah mainan yang cocok untuk Habibie, karena permainan ini memerlukan kerja sama yang baik antara mata, kekuatan otot tangan, pemikiran, atau olah pikir untuk saling memenangkan pertandingan. Nitendo, PlayStation, dan Internet Game ini tidak jauh beda dengan orang menyetir mobil. Semua indera bersinergi dari mulai telinga, mata, tangan, dan pikiran bekerja dalam tempo yang hampir bersamaan.

Mengapa memilih game, padahal kebanyakan orang tua justru takut membebaskan anaknya bermain game?

Dunia anak adalah bermain. Karena bermain inilah dia juga sambil belajar. Belajar bergaul dengan teman sebaya, belajar jujur, dan bisa juga curang dengan sesama teman. Dia juga bisa belajar berargumentasi dan menyampaikan pendapatnya. Bahkan, dia juga belajar berantem untuk mempertahankan pendapat dan kebenarannya.

Dari game itu pula mungkin terpupuk semangat Habibie untuk berkompetisi?

Ya, jadi sejak kecil Habibie sudah terbiasa dan terlatih untuk berkompetisi dalam hidupnya. Di sekolah pun dia sudah harus berkompetisi berat melawan teman-temannya yang sehat. Selama dia belajar bersama anak-anak sehat, dia menunjukan prestasi yang gemilang dalam belajar. Paling tidak the Best 3 selalu diraihnya. Prestasi paling jelek diraih Habibie ada diposisi the Best 5. Setelah lulus dari SMA, perjuangan Habibie malah lebih berat lagi karena dia harus berani berbaur belajar dengan kelompok yang lebih berat lagi. Mereka umumnya sudah mengantongi gelar S1, dan bahkan ada yang S2. Bahkan, untuk lulusan D3 dan SMA itu sedikit sekali, bisa dihitung dengan jari.

Terakhir, dia belajar di Asia Internet Academy awal Maret 2007 dengan peserta sebanyak 130 orang. Instrukturnya Mr. Fabian Lim dengan bahasa Inggris, sementara dia sendiri tidak pernah belajar bahasa Inggris secara khusus. Alhamdulillah, dia bisa melanjutkan ketingkat advance bersama 15 orang peserta. Prestasi yang diraih Habibie selama belajar, yaitu sering disebut sebagai The First Affiliate Amazon.com from Indonesia.

Membesarkan, membimbing, dan mendidik anak berkebutuhan khusus jelas bukan perkara yang mudah. Bisa Anda ceritakan tantangan-tantangan terberatnya?

Pastinya memang sangat berat, bahkan saya katakan sejujurnya saja berat sekali. Terutama masalah mobilitas. Habibie ini ke mana-mana harus pakai kursi roda dan seumur hidupnya mesti harus ada pendamping atau pengasuh. Kondisi kesehatan yang rapuh, mudah sakit, pokoknya perlu perwatan prima. Biaya hidupnya mahal, makannya harus cukup gizi, obat-obatan rutin untuk merangsang syaraf, juga vitamin dan mineral. Lalu, kontrol dokter, pemeriksaan laboratorium. Belum lagi masalah pendidikan, ke sekolah juga harus pakai mobil antar jemput. Terus urusan fisioteraphy, pernah beberapa kali pengaobatan alternatif, sampai jasa para normal.

Alhamdulillah, Allah kasih saya semangat yang menggebu-nggebu, tidak mudah capai, dan tidak mudah menyerah. Juga kesehatan yang prima buat saya. Subhanallah, Allah melimpahkan rezeki yang cukup, hampir tidak pernah kekurangan sampai parah seperti masa kecil saya. Hanya saja, saya harus kerja keras, pagi kerja kantoran di Perum Perhutani, di rumah juga mesti harus cari tambahan. Terus terang saja, kalau tidak ada tambahan pengahasilan, di rumah saya pernah buka warung tegal. Sampai sekarang saya masih buka warung sembako. Pokoknya, apa saja saya lakukan untuk menambah penghasilan. Sampai pernah juga kalau ke kantor sambil nenteng dagangan lontong sayur.

Ibu Habibie bersama Andi F. Noya

Ibu Habibie bersama Andi F. Noya

Apa rahasianya sehingga Anda mampu menaklukkan tantangan tersebut?

Yah, pokoknya spirit saya, saya ingin melihat Habibie bisa mandiri. Sebuah tantangan memang, tetapi tantangan ini kan harus kita hadapi, bukan malah kita hendari ya. Maka, saya lebih suka mencari solusi untuk mengatasi masa-masa sulit, barang kali suatu saat dia datang menghampiri kehidupan kami. Mungkin ini bagian dari tindakan preventif, makanya saya dan Habibie menggali potensi diri untuk dikembangkan bersama.  Alhamdulillah, saya bertemu dengan kawan, sahabat, guru, juga penerbit besar yang sangat memberi dukungan. Banyak fasilitas dan support hebat. Nah, makin bersemangatlah kami.

Anda tampaknya tipe orang tua yang pantang menyerah untuk memberikan yang terbaik bagi anak-anak Anda?

Dari kecil hidup saya sudah ditempa oleh banyak kesulitan, berkubang dalam kemiskinan. Latar belakang kehidupan yang pahit sekali ini yang membuat saya kuat menghadapi tantangan. Dan, karena itulah saya merasa pasti memliliki semangat juang lebih. Tekad pantang menyerah ini mungkin, dan hampir pasti, yang mengantarkan saya menjadi ibu yang kuat menghadapi berbagai masalah pelik. Biasanya, orang atau anak-anak yang hidup dalam zona kritis, dia akan lebih kreatif dan lebih tahan bantingan. Berbeda kalau orang dan anak-anak yang biasa hidup dalam berkecukupan. Seperti hidup selalu dalam ketenangan, tanpa pergolakan, pasti semangat tempurnya ya kurang seru. Apalagi ditambahi dengan menipisnya iman, bisa jadi putus asa itu sahabat karibnya.

Banyak orangtua seperti menyerah kalah ketika menghadapi tantangan-tantangan dan kesulitan dalam membesarkan anaknya. Padahal, keadaan anak-anak mereka barangkali jauh lebih ‘beruntung’ ketimbang Habibie misalnya. Pesan Anda untuk mereka?

Harapan saya pada ibu-ibu dan bapak-bapak, para orang tua: Jadikanlah diri kita orang tua yang pantas dan layak sebagai panutan, teladan, atau contoh nyata bagi putra-putri kita. Mendidik anak sejak dari dalam kandungan dan buaian. Orang tua adalah guru dan pendidik terbaik bagi putra-putri sendiri. Guru, ustaz, dll, adalah pendidik kedua setelah orang tuanya. Mendidiklah dengan hati, bukan dengan emosi dan ambisi. Dekatkan hati orang tua pada putra-putrinya, agar jangan sampai putra-putri kita dididik atau diambil alih oleh lingkungan yang negatif. Berikan hak-hak dasar anak seperti, anak berhak memperoleh kasih sayang, pendidikan, dan perhatian. Berikan hak hidup, berkembang, dan kembangkan diri anak dengan adil. Jangan memandang atau membedakan gender. Berikan hak yang sama kepada anak kita, baik yang sehat maupun yang cacat. Perlakukan anak sesuai dengan fase-fase usianya, dan hargai anak sesuai dengan apa yang kita harapkan darinya. Jangan lupa memberikan penghargaan apabila putra-putri kita berprestasi.

Ibu Habibie: Ketegaran dan ketekunan itu membuahkan hasil nyata

Ibu Habibie: Ketegaran dan ketekunan itu membuahkan hasil nyata

Anda bersama Habibie sangat suka mendatangi kegiatan-kegiatan seperti seminar atau pelatihan pengembangan diri, termasuk pelatihan menulis. Apa yang sesungguhnya Anda cari dari forum-forum semacam itu?

Yang pasti ada sesuatu yang saya cari dari forum-forum yang saya datangi. Terutama dalam seminar-seminar dan pelatihan pengembangan diri. Karena, saya sedang menggali potensi yang dimiliki Habibie, juga potesi yang ada pada diri saya. Saya ingin bersinergi antara ibu dan anak, untuk saling menyukseskan satu sama lain. Di samping itu, kami juga memerlukan banyak ilmu yang akan bermanfaat dalam hidup kami.

Dalam hati, saya tidak rela kalau anak saya hanya sekolah sampai tingkat SMA saja, seperti Emaknya. Sudahlah, cukup saya saja yang bodoh, tapi anak saya harus pintar. Badan Habibie saat ini makin melemah, tidak mungkin dia kuat tiap hari harus pergi kuliah. Saya ingin memberikan pendidikan yang yaman tapi enjoy buat anak saya, belajar sambil bermain, dan cari rezeki. Pendidikan atau pembelajaran ini bukan saja transfer ilmu, melainkan juga transfer energi-energi positif buat Habibie. Makanya, saya lebih senang datang ke seminar-seminar motivasi dan inspirasi.

Apa dampak riil yang dirasakan Habibie dari forum-forum inspiratif semacam itu?

Pada kenyataannya, semangat Habibie memang luar biasa! Bergabung dengan orang-orang yang berkualitas dan bersemangat tinggi yang ada di negeri ini, ternyata telah memacu andrenalinnya untuk melawan penyakit yang menggerogoti syaraf dan otot-ototnya.

Siapa tokoh-tokoh yang menginspirasi Anda dalam mendidik anak?

Ibu dan kakek saya. Kakek saya seorang tua yang moderat, impiannya tinggi, dan tercapai. Keenam putranya tidak ada yang miskin, kecuali Ibu saya satu-satunya yang termiskin. Kelima putranya semua sukses dan kaya. Sementara, Ibu saya yang lahir tahun 1922 dan meninggal tahun 2006 dalam usia 84 tahun, adalah seorang ibu yang cerdas walau sekolahnya rendah. Pemikirannya jauh ke depan. Cara mengasuh dan mendidik putra-putrinya bagus. Keras, disiplin, tapi penuh kasih sayang dan menanamkan budi-pekerti luhur pada putra-putrinya. Beliau selalu memotivasi kami semua untuk belajar dan bekerja keras. Berangkat dari cara pengasuhan dan pendidikan Ibu saya itulah, saya menyontek pola dan cara-cara pendekatan emosional  dan kasih sayang.

Tokoh lainnya?

Ada cerita True Story yang sebelumnya sering saya baca dan saya dengar diradio SmartFM, tentang Nancy Elliot Matheus, ibunda Thomas Alfa Edison yang telah berhasil mendidik puteranya menerangi dunia. Edison divonis oleh gurunya bahwa dia adalah anak yang bodoh, bahkan dikatakan berotak udang. Ibu mana yang tidak meradang jika putranya dikatakan seperti itu? Maka, sejak saat itu Nancy menarik putranya keluar dari sekolah, lalu berusaha dan berjuang mendidik putranya di rumah, karena kebetulan Nancy ini adalah seorang pendidik. Hasilnya, pola pendidikan dan pengasuhan dengan hati itu telah melahirkan seorang anak genius dan sukses besar.

Anda juga ingin menulis buku? Apa temanya kira-kira?

Ya, betul. Kira-kira dua tahun yang lalu Habibie meminta saya menuliskan pengalaman saya mendidik dia sampai sukses. Habibie meminta saya menulis sebuah buku fisik agar tulisan saya bermanfaat untuk orang lain. Dia minta judulnya “Pengalamanku Mengasuh Anak Cacat jadi Sukses.” Sampai sekarang, saya baru sempat membuat konsepnya saja. Ada misi yang lebih indah dan istimewa dari sekadar menerbitkan sebuah buku. Harapan agar umur saya dan Habibie akan panjang ya dari karya buku dan situs-situs saya.

Harapan Anda untuk masa depan Habibie?

Biarlah dia menjadi manusia yang pandai memanfaatkan sisa umurnya dengan baik, menjadikan umur yang bermanfaat untuk dirinya sendiri, dan bermanfaat untuk orang lain. Kami orang tua hanya bisa berdoa dan memberikan dukungan total lahir dan batin. Habibie sendiri menyatakan, awalnya harapan dan cita-cita dia sangatlah sederhana. Dia hanya ingin memenuhi kebutuhannya sendiri, dengan hal yang bisa dia kerjakan, ingin bisa mandiri. Itu telah tercapai, tapi dia tidak mau merasa puas. Dia harus membangun cita-cita yang lebih besar lagi, bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk orang lain, dan terutama memberikan kebanggaan kepada orang tua dan keluarga. Dia juga ingin mendirikan yayasan yang bisa memperdayakan orang-orang yang berkebutuhan khusus.[ez]

Foto-foto: Dokumentasi pribadi.

May 12, 2009

Aleysius H. Gondosari: Untuk Sehat Tidak Perlu Biaya Besar

Aleysius H. Gondosari

Aleysius H. Gondosari

Kebanyakan orang beranggapan bahwa untuk memperoleh kehidupan yang sehat dan berkualitas itu mahal sekali biayanya. Bisa dimaklumi, mengingat setiap kali kita pergi berobat ke dokter, biayanya tidaklah murah. Terlebih kalau keluhannya adalah penyakit-penyakit “mahal”, yang artinya obatnyalah yang mahal sekali. Sementara, untuk menjaga kesehatan tubuh sehari-hari dengan mengonsumsi makanan-makanan tambahan (food supplement), biasanya juga perlu biaya tidak murah.

Namun, Aleysius Hanafiah Gondosari, yang menekuni metode Energi 5 elemen, jelas-jelas menyatakan bahwa untuk hidup sehat itu sesungguhnya tidak perlu biaya besar. “Setiap orang bisa menjadi sehat dengan mengonsumsi makanan sehat, segar, sederhana, murah. Dan, bahan makanannya juga mudah ditemukan dalam menu sehari-hari,” jelasnya. Aley, panggilan akrabnya, menyebut contoh makanan sehat seperti beras merah, tape segar, tempe segar, air kelapa tua, pepaya, semangka, mentimun, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Dari mana Aley mengetahui jenis-jenis makanan yang menyehatkan tersebut? Ternyata, pria kelahiran Padang, 12 Juli 1961 ini mengembangkan sebuah metode deteksi energi yang punya akar panjang dalam sejarah ilmu kesehatan dunia. Metode itu ia sebut Energi 5 Elemen yang berakar pada filosofi maupun praktik kesehatan sejak zaman Asia dan Eropa kuno. “Metode Energi 5 Elemen adalah ilmu pengetahuan universal yang telah dikenal di berbagai belahan dunia, sejak ribuan tahun yang lalu,” kata Aley yang beristrikan Lilyana, seorang dokter umum itu.

Sesungguhnya, background Aley yang jebolan Teknik Elektro ITB (1984) dan Magister Manajemen Internasional Sekolah Tinggi Manajemen PPM, Jakarta (1995), ini adalah dunia industri yang kental dengan berbagai praktik bidang manajerial. Bapak dari dua anak ini, Vidya Cecilia dan Angela Karina, kariernya memang dihabiskan di perusahaan manufaktur dan berulang kali berhasil mendesain rancang produk yang sukses di pasaran. Tak ayal, kepiawaiannya di bidang manajerial membuatnya sering diundang sebagai dosen tamu di almamaternya maupun perusahaan-perusahaan mitra kerjanya dulu. Belakangan setelah pensiun, Aley lebih menekuni hobinya membuat berbagai website informasi, dan terutama lagi mengembangkan metode Energi 5 Elemen yang begitu menantang itu.

Nah, kepada pembaca setia website motivasi ini, secara khusus Aley membeberkan rahasia hidup sehat secara murah dengan metode deteksi Energi 5 Elemen itu. Di Indonesia, tampaknya baru Aley yang mengembangkan, bahkan mungkin memanfaatkannya secara sistematis, untuk mendapatkan informasi akurat tentang cara hidup sehat yang alami. Berikut petikan wawancara tertulis Edy Zaqeus dari AndaLuarBiasa.com dengan Aleysius belum lama berselang:

Bagaimana ceritanya sampai Anda menemukan metode Energi 5 Elemen ini?

Sejak kecil saya sudah tertarik dengan pengobatan alami. Waktu SMP, saya pernah berlatih Yoga Asanas. Kemudian saya tertarik berlatih Tai Chi waktu SMA. Waktu kuliah, saya mulai vegetarian, berlatih meditasi, dan mulai belajar pengetahuan 5 elemen. Setelah bekerja, saya sempat berlatih prana, reiki, dan belajar pijat refleksi. Dari semua yang saya pelajari, akhirnya saya memilih mendalami Energi 5 Elemen karena cukup lengkap, alami, dapat menjelaskan sebab akibatnya, dan menyelesaikan masalah kesehatan dalam keluarga.

Kapan mulai serius mendalami metode ini?

Saya mulai serius mendalami energi kesehatan 5 Elemen ketika Ibu saya terkena stroke pertama kali tahun 2003. Selain itu, anak-anak saya hampir setiap bulan sakit flu. Istri saya juga terkena hipertiroid dan benjolan di dada. Paman saya pernah sakit mag bertahun-tahun dan tidak sembuh-sembuh. Kejadian-kejadian tersebut memicu saya mencari makanan sehat melalui analisis Energi 5 Elemen. Sejak itu, saya mulai rajin memeriksa jenis-jenis energi kesehatan 5 Elemen pada tumbuh-tumbuhan yang secara alami bisa membantu kesehatan Ibu, anak, dan istri. Ternyata, dengan mengubah pola makan dengan menu makanan yang lebih sehat, semuanya menjadi lebih sehat. Setelah itu, keluarga dan teman-teman juga mulai sering menanyakan tentang energi kesehatan mereka, juga bagaimana cara menyembuhkannya secara alami.

Akar dari metode yang Anda temukan ini dari mana atau dari ilmu apa?

Ilmu pengetahuan ini saya peroleh ketika saya mulai belajar meditasi. Energi 5 Elemen yang dikenal dengan elemen Ether, Udara, Api, Air, dan Bumi, sebenarnya telah dikenal sejak ribuan tahun yang lalu di Yunani, India, Tibet, China, dan Jepang. Di Yunani, 5 Elemen dipelajari oleh para filsuf yang sudah kita kenal seperti Empedocles, Hippocrates, yang juga dikenal sebagai Bapak Kedokteran, juga Plato, Aristoteles, dan Archimedes, yang terkenal dengan Hukum Archimedes. Kata ether berasal dari kata aether yang diperkenalkan oleh Archimedes, dan diartikan sebagai esensi.

Kalau akar metode ini di negara-negara yang Anda sebut tadi?

Di India, 5 Elemen sudah dikenal dalam filsafat Hindu, filsafat Buddha, Sistem 7 Chakra, dan dalam pengobatan kuno Ayurveda. Di Tibet, 5 Elemen dikenal dalam Bön, yaitu filsafat kuno Tibet. Di China, 5 Elemen dikenal dalam Kitab Klasik China, yaitu I Ching, dan dalam filsafat Tao di mana 5 Elemen disebut sebagai Wu Xing. Tradisi Jepang juga mengenal 5 Elemen sebagai Go Dai. Jadi sebenarnya, 5 Elemen adalah ilmu pengetahuan universal yang telah dikenal di berbagai belahan dunia sejak ribuan tahun yang lalu.

Jadi, esensi Energi 5 Elemen itu apa?

Sebenarnya, 5 Elemen adalah bentuk-bentuk materi dan energi dalam berbagai tingkatan. Dalam ilmu pengetahuan modern, Einstein telah membuat rumus persamaan materi dan energi, di mana materi dan energi sebenarnya adalah sama, hanya bentuknya berbeda. Dalam ilmu pengetahuan modern, energi dikenal dalam berbagai bentuk. Misalnya; energi potensial, energi kinetik, energi panas, energi cahaya, energi bunyi. Dan, ada juga energi elektromagnetik yang diaplikasikan dalam radio, televisi, handphone, WiFi, dan alat komunikasi lainnya.

Sementara, para ilmuwan dan filsuf zaman dahulu membuat tingkatan materi dan energi dalam istilah yang lebih spesifik, yaitu dalam bentuk Energi 5 Elemen itu tadi. Penjelasan begini: Bumi adalah energi dalam bentuk paling padat, yaitu dapat dilihat, dirasakan, dan dapat dipegang. Air adalah energi dalam bentuk cair, dapat dilihat, dirasakan, dapat dipegang, dan dapat berubah bentuk. Api adalah energi dalam bentuk yang lebih halus, dapat dilihat, dirasakan, tetapi tidak dapat dipegang, dan mudah berubah bentuk. Udara adalah bentuk energi dalam bentuk yang lebih halus lagi, dapat dirasakan, tetapi tidak dapat dilihat, dan tidak dapat dipegang. Misalnya, emosi atau perasaan yang lebih halus dan lebih tinggi. Ether adalah entuk energi dalam bentuk yang paling halus, hanya dapat disadari, tetapi tidak dapat dirasakan, tidak dapat dilihat, dan tidak dapat dipegang. Contohnya adalah imajinasi, ide, konsep, sistem, atau pemikiran.

Lalu, dari mana sumber Energi 5 Elemen itu?

Sumbernya Energi 5 Elemen yang sehat berasal dari sinar matahari pagi, udara segar, air sehat, dan makanan sehat. Selain itu, juga bisa berasal dari terapi sehat, seperti pijat refleksi, olahraga sehat, yoga asanas, kata-kata dan motivasi positif, doa, dan meditasi. Selain 5 Elemen yang bersifat fisik atau duniawi, dikenal juga elemen keenam yang bersifat spiritual, dikenal dengan nama Elemen Kesadaran dalam Sistem 7 Chakra, dan Chi atau Qi dalam Wu Xing.

Secara umum, cara kerja metode Energi 5 Elemen ini bagaimana?

Prinsipnya adalah kelancaran energi, keseimbangan energi, dan kekuatan energi 5 Elemen pada manusia. Bila energi pada seluruh elemen mengalir lancar, seimbang, dan kuat, maka berarti orang tersebut sehat. Semua benda merupakan sumber energi, termasuk manusia. Manusia memancarkan berbagai jenis energi termasuk Energi 5 Elemen itu tadi. Dengan mendeteksi Energi 5 Elemen pada manusia, maka kita dapat mengetahui kondisi kesehatan orang yang bersangkutan. Sebab, manusia mempunyai pusat-pusat energi untuk elemen Ether, elemen Udara, elemen Api, elemen Air, dan elemen Bumi.

Aley bersama tim desain di pabrik

Aley bersama tim desain di pabrik

Bisa dijelaskan lebih detail lagi?

Begini, elemen Ether terpusat pada tenggorokan dan mewakili organ kepala dan tenggorokan. Elemen Udara terpusat pada dada dan mewakili organ dada. Elemen Api terpusat pada bagian perut, mewakili organ pencernaan dan hati. Elemen Air terpusat pada bagian bawah perut, mewakili organ ginjal dan reproduksi. Sedangkan elemen Bumi terpusat pada bagian bawah tulang ekor, mewakili organ kaki dan tangan. Pada orang yang sehat, energi kesehatan akan mengalir dari elemen Ether, turun ke elemen Udara, ke elemen Api, ke elemen Air, dan terakhir ke elemen Bumi. Bila energi mengalir lancar, maka energi pada seluruh elemen ini akan kuat dan seimbang. Bila ada gangguan kesehatan, maka aliran energi akan terhenti, dan akan ada kekurangan energi pada elemen tertentu.

Misalnya, energi pada elemen Api berkurang. Akibatnya, orang tersebut mengalami gangguan pencernaan. Untuk mengobatinya, kita dapat menggunakan kencur yang mempunyai energi penyembuh untuk elemen Api. Selanjutnya, kita dapat menggunakan wortel atau bengkuang segar untuk melancarkan kembali energi yang terhenti. Selain terhenti, efek yang lebih berat adalah terbaliknya arah energi, misalnya energi mengalir dengan arah terbalik dari elemen Api ke elemen Udara. Hal ini berarti sakit akibat gangguan pencernaan naik ke jantung, sehingga fungsi jantung terganggu. Untuk itu, kita seharusnya mengobati penyebabnya, yaitu pencernaan, dengan menggunakan kencur supaya gangguan jantung otomatis berkurang.

Apa beda metode Energi 5 Elemen ini dengan misalnya tenaga prana, tenaga cakra, terawang aura, atau bahkan tenaga gaib, misalnya?

Manusia memancarkan berbagai macam energi. Ini dapat diumpamakan seperti gelombang radio atau TV yang mempunyai frekuensi berbeda-beda. Semua bisa ditangkap oleh pemancar yang melakukan tuning atau penalaan pada frekuensi tersebut. Demikian pula energi-energi ini bisa dideteksi oleh praktisi. Energi prana bisa dideteksi oleh praktisi prana. Aura bisa dideteksi oleh praktisi aura. Demikian pula, Energi 5 Elemen juga bisa dideteksi oleh praktisi 5 Elemen.

Setiap metode tentunya mempunyai kelebihannya masing-masing. Ada metode yang melakukan transfer energi secara langsung kepada penderita sakit seperti prana. Pada metode Energi 5 Elemen, tidak ada transfer energi secara langsung kepada orang yang sedang sakit. Pengobatan dilakukan secara alami. Orang yang bersangkutan dapat mengobatinya sendiri dengan mengonsumsi makanan sehat, yaitu makanan yang mengandung Energi 5 Elemen. Tetntunya makanan yang sesuai untuk meningkatkan energi pada elemen tertentu yang sedang kekurangan energi, dan melancarkan energi yang terhambat tadi.

Aley bersama partner di Jepang

Aley bersama partner di Jepang

Apa sebenarnya fungsi-fungsi utama dari metode Energi 5 Elemen?

Fungsi utamanya membantu kelancaran Energi 5 Elemen pada manusia, dan juga meningkatkan energi yang kurang pada elemen tertentu dengan mengonsumsi makanan sehat yang sesuai. Bila energi lancar dan meningkat, maka sakit pada elemen tersebut akan berkurang, dan otomatis organ-organ pada elemen tersebut juga akan sembuh.

Apakah ada dukungan data atau penelitian ilmiah yang menguatkan metode ini?

Saat ini saya belum ada kerja sama dengan badan penelitian ilmiah, khususnya di bidang kesehatan. Jadi, orang yang sakit menginformasikan langsung kepada saya, bahwa sakitnya telah berkurang atau sembuh. Misalnya, sakit kaki pada lutut sudah sembuh, gangguan pencernaan sudah tidak terjadi lagi, jantung sudah tidak berdebar-debar. Lalu, ada yang bengkak di lehernya sudah hilang, bisul di mata sudah kering, benjolan di dada sudah hilang, gangguan sakit kepala dan insomnia sudah tidak ada lagi. Seperti itu.

Persisnya, apa yang Anda lakukan untuk membantu penyembuhan mereka?

Yang saya lakukan saat ini adalah mendeteksi dan mengukur energi sehat orang tersebut dengan menggunakan Indeks Sehat. Ini adalah indeks yang saya formulasikan sebagai parameter ukur relatif untuk kesehatan manusia dan penyakit. Indeks ini saya peroleh dengan mengukur perbandingan kuat lemahnya energi yang diukur melalui metode Energi 5 Elemen. Indeks ini akan diwakili oleh angka yang menunjukkan perbandingan relatif antara energi yang diukur dengan energi yang paling sehat atau paling sakit.

Indeks Sehat mempunyai nilai relatif dari minus 100 hingga plus 100. Angka minus menunjukkan sakit atau tidak sehat. Angka nol menunjukkan kondisi tidak sehat dan tidak sakit. Sedangkan angka plus menunjukkan sehat. Walaupun demikian, dalam kasus-kasus yang luar biasa, angka indeks ini bisa saja lebih besar dari 100. Misalnya, penyakit kanker yang paling berat akan mempunyai Indeks Sehat minus 200. Saya akan membandingkan Indeks Sehat orang tersebut sebelum dan setelah mengonsumsi makanan sehat. Biasanya, Indeks Sehat akan meningkat dari minus menuju plus. Bila orang tersebut mengatakan dirinya sudah sehat, maka Indeks Sehatnya biasanya juga sudah plus.

Sebelum lebih jauh lagi, apa ada kemungkinan metode ini melanggar atau bertentangan dengan keyakinan agama, misalnya?

Menurut saya, tidak ada. Sebab konsep 5 Elemen bersifat universal, dan sudah dikenal sejak ribuan tahun yang lalu di pusat-pusat filsafat dan ilmu pengetahuan di dunia, seperti saya singgung di muka tadi. Jadi, 5 Elemen tidak mengacu pada agama tertentu. Jadi, aplikasi metode ini antara lain adalah cara sehat dengan mengonsumsi makanan tertentu. Makanya, orang yang mengonsumsi makanan sehat 5 Elemen, dia tidak perlu melakukan ritual tertentu. Dia hanya perlu lingkungan sehat, seperti sinar matahari pagi, udara segar, air sehat, serta mengonsumsi makanan sehat dan segar lainnya.

Baik, saya akan fokus pada pertanyaan tentang deteksi bahan makanan sehat. Terkait dengan hal itu, apa manfaat terbesar Metode 5 Elemen ini?

Manfaat terbesarnya adalah bahwa setiap orang bisa menjadi sehat dengan mengonsumsi makanan sehat, segar, sederhana, murah, dan mudah ditemukan dalam menu sehari-hari. Untuk sehat tidak perlu mengeluarkan biaya yang besar. Yang penting adalah kemauan untuk menjadi sehat. Sehat adalah hak semua orang, dan semua orang bisa mempelajari cara sehat melalui metode Energi 5 Elemen.

Aley bersama partner di Taiwan

Aley bersama partner di Taiwan

Menurut artikel-artikel yang Anda tulis, ternyata bahan-bahan makanan yang sederhana dan murah itu bisa menyembuhkan penyakit-penyakit yang sering diderita masyarakat kita, benarkah?

Memang benar. Saya sendiri mengonsumsi beberapa makanan tersebut secara rutin. Misalnya, beras merah, kencur, tempe segar, tape segar, wortel, bengkuang, dll. Demikian juga saudara-saudara dan teman-teman saya. Setelah mengonsumsi air tajin beras merah, sejak beberapa tahun lalu, kedua anak saya hampir tidak pernah sakit flu. Bila sakit, paling hanya flu ringan dan mereka masih bisa bersekolah. Sebelumnya, hampir tiap bulan sakit karena ketularan teman-teman sekelasnya. Demikian pula kencur. Beberapa saudara yang sakit mag berat bisa sembuh dengan mengonsumsi kencur. Sementara, dengan mengonsumsi tempe segar dan tape singkong segar, itu bisa membantu menghilangkan sakit kepala, migrain, dan orang insomnia jadi lebih mudah tidur. Mentimun pahit misalnya, itu ternyata dapat membantu menstabilkan kelenjar tiroid, sehingga tidak terjadi hipertiroid atau hipotiroid. Demikian pula, air kelapa tua atau matang, ternyata dapat menyehatkan ginjal dengan membersihkannya dari asam urat dan racun. Lalu wortel segar, itu dapat menyembuhkan sakit kaki dari asam urat.

Wah, bahan-bahan makanan sehari-hari yang mudah didapat itu punya manfaat sangat besar seperti itu, harusnya untuk jadi sehat secara murah dan alami itu tidak sulit, dong?

Logikanya memang demikian. Tetapi, biasanya kita terbentur pada kebiasaan makan. Sebab, orang akan terpaksa memilih antara makan enak atau makan sehat. Memanjakan lidah atau memelihara kesehatan otak, jantung, pencernaan, hati, ginjal, pankreas, dan kaki. Sebenarnya manusia adalah makhluk kebiasaan. Jadi, mengonsumsi makanan sehat bisa dibiasakan.

Persoalannya, bagaimana tetap bisa memanjakan lidah, sementara makanan yang dikonsumsi tetap menyehatkan?

Makanan sehat, sebetulnya juga cukup banyak yang enak-enak. Misalnya, buah-buahan,  bengkuang segar, jus wortel dan tomat, atau tape singkong segar. Lalu, sayur-sayuran yang dilalap dengan sambal, misalnya. Berikutnya, ada jagung, ubi, singkong, dan kentang yang dikukus. Tempe segar itu juga enak dimakan, kalau sudah biasa. Untuk beras merah, kalau belum biasa makan, bisa minum air tajinnya saja. Ini juga sehat. Nah, untuk mengatasi antara enak dan sehat, kita bisa mengambil jalan tengah. Misalnya, mengombinasikan antara makan enak dengan makan sehat. Selain itu, juga melalui variasi menu makan harian.

Apa makanan yang sehat dan baik untuk mengatasi stres?

Beberapa makanan sehat untuk mengatasi stres atau gangguan ketegangan psikis antara lain tape singkong segar, tempe segar, susu yoghurt, dan mentimun, terutama bagian yang pahit.

Kalau minuman seperti kopi dan teh, apa bahayanya?

Teh tanpa gula pada umumnya bersifat netral. Tetapi, bila diminum dengan air panas, teh akan memengaruhi kesehatan pencernaan pada elemen Api. Selain itu, bila diminum dengan gula secara rutin setiap hari, teh juga akan memengaruhi kesehatan pankreas pada elemen Air, dan juga memengaruhi kesehatan kaki pada elemen Bumi. Ini karena efek negatif gula. Hampir sama dengan teh, kopi tanpa gula umumnya juga bersifat netral. Tetapi, bila kopi diminum dengan air panas, itu akan memengaruhi kesehatan pencernaan pada elemen Api. Selain itu, bila diminum dengan gula secara rutin setiap hari juga akan memengaruhi kelenjar tiroid pada elemen Ether, dan juga pencernaan pada elemen Api. Jadi, kalau teh dan kopi itu tidak manis namun diminum secara rutin, sebenarnya tidak begitu bermasalah.

Kalau minuman berkarbonasi, bir, atau arak itu bagaimana?

Minuman berkarbonasi umumnya bersifat asam. Sehingga, bila diminum secara rutin setiap hari, itu akan memengaruhi kesehatan pencernaan pada elemen Api. Bila minuman berkarbonasi menggunakan gula berkalori, maka kesehatan kaki pada elemen Bumi dan pankreas pada elemen Air juga akan terganggu. Sementara kalau bir itu jelas berbahaya untuk jantung pada elemen Udara, dan ginjal pada elemen Air. Orang yang sering minum bir akan kekurangan energi pada elemen Udara dan elemen Air. Kalau arak itu berbahaya untuk kelenjar tiroid pada elemen Ether, jantung pada elemen Udara, dan kaki pada elemen Bumi. Orang yang sering minum arak akan kekurangan energi pada elemen Ether, elemen Udara, dan elemen Bumi.

Aley bersama keluarga tercinta yang semakin sehat

Aley bersama keluarga tercinta yang semakin sehat

Orang berobat ke dokter kemudian didiagnosis menderita penyakit tertentu, lalu diberi obat yang sama. Namun anehnya, mengapa pada kasus pasien tertentu obatnya manjur, pada kasus pasien lain bisa tidak manjur sama sekali? Apa yang menyebabkan hal itu?

Hal ini bisa terjadi karena kondisi tubuh mereka tidak sama. Sebagai contoh, ada pasien A yang sudah kebal dengan antibiotik, sehingga harus diberi antibiotik. Pasien B, sebaliknya mungkin sudah kebal dengan antibiotik, sehingga harus diberi antibiotik. Ada juga faktor alergi, sehingga pasien yang menderita alergi tertentu, tidak cocok dengan obat tertentu. Selain itu, ada juga pasien yang selain sakit utama yang didiagnosis, juga sebenarnya menderita sakit mag, sehingga tidak cocok dengan obat yang bisa mengganggu pencernaan. Bila hal ini diperiksa dengan metode Energi 5 Elemen, maka bisa diketahui apakah pasien tersebut cocok atau tidak dengan obat tersebut. Tentunya tetap dengan memerhatikan kecocokan energinya.

Bicara makanan sehat, mengapa Anda sama sekali tidak mengupas soal daging yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan akan protein dan lemak dalam tubuh?

Memang, ada yang menyebutkan bahwa daging dan telur juga dapat digunakan sebagai obat. Tetapi, dari analisis Energi 5 Elemen, ternyata energi daging dan telur tidak cocok dengan Energi 5 Elemen pada tubuh manusia. Yang cocok dan mempunyai Indeks Manfaat positif adalah energi tumbuh-tumbuhan, udara segar, air sehat, dan sinar matahari pagi. Energi daging binatang berkaki empat mempunyai Indeks Manfaat yang negatif terhadap kesehatan. Demikian pula energi daging binatang berkaki dua dan telur. Hanya ikan yang bersifat netral dan mempunyai indeks manfaat nol.

Jadi, dalam hal ini, sebenarnya kita perlu melihat efek jangka panjangnya. Mungkin, dalam waktu singkat kita melihat seolah-olah ada manfaat kesehatannya. Tetapi, dalam jangka panjang, akan merugikan kesehatan kita. Sementara, mengenai kebutuhan protein, Hiromi Shinya, dalam bukunya yang terkenal The Miracle of Enzyme mengatakan bahwa dengan menu 100 persen vegetarian sekalipun, orang tetap dapat memperoleh cukup protein.

Jadi, alasan Anda ini bukan semata karena Anda vegetarian?

Bukan, tetapi karena memang hasil analisis Energi 5 Elemen menunjukkan makanan daging ini tidak cocok dengan kesehatan manusia. Sebagai vegetarian, saya tentu saja boleh mengonsumsi gula, santan, mentega, dan margarin. Juga boleh minum kopi, meminum minuman berkarbonasi, atau makan goreng-gorengan. Tetapi, saya tetap memasukkan makanan-makanan ini dalam golongan makanan tidak sehat karena memang tidak cocok dengan kesehatan manusia.

Dari penjelasan Anda, saya tahu efek negatif sejumlah bahan makanan. Persoalannya, kalau saya misalnya terlampau menggemari makanan tersebut, lalu bagaimana cara menanggulangi, atau setidaknya mengurangi dampak negatifnya?

Ini hal yang umum terjadi. Anak saya juga masih senang makan daging, ikan, dan telur. Jalan keluarnya, kita bisa mencoba membuat menu makanan yang lebih seimbang. Maksudnya seimbang antara makanan sehat dengan makanan enak yang tidak begitu sehat itu. Sebagai contoh, diet makrobiotik menganjurkan adanya keseimbangan antara 20 persen makanan hewani dengan 80 persen makanan nabati yang sehat dan segar. Lagi, Hiromi Shinya, setelah meneliti kesehatan pencernaan dari ribuan orang Amerika dan orang Jepang, bahkan menganjurkan makanan ideal yang terdiri dari 15 persen hewani dan 85 persen nabati yang segar dan sehat.

Selain itu, bila makanan tersebut memang kurang baik untuk kesehatan, sebaiknya jumlahnya dikurangi atau frekuensi menunya dikurangi. Sebagai contoh, pada waktu kuliah, saya senang makan mi instan karena memang praktis. Sekarang juga tetap suka. Tetapi, ternyata bumbu mi instan kurang sehat bila dikonsumsi setiap hari. Jalan keluarnya adalah dengan mengurangi bumbu pada saat memasak mi. Saya biasa mengganti sebagian bumbunya dengan garam dan gula, lalu juga mengurangi frekuensi makan mi instannya. Atau, kadang saya mengombinasikan mi instan dengan makanan sehat seperti sayur-sayuran.

Kabarnya Anda sedang menulis buku mengenai topik yang kita bicarakan ini. Apa tujuan Anda menulis buku atau membuka masalah ini ke khalayak?

Betul. Menjadi sehat adalah hak semua orang. Sehat itu juga dapat dilakukan oleh semua orang dan tidak diperlukan biaya yang besar. Yang penting adalah keinginan untuk menjadi sehat. Di Indonesia, makanan sehat berlimpah seperti saya katakan sebelumnya. Hanya, yang perlu lebih diperhatikan adalah kesegarannya dan cara memasaknya.[ez]

Foto-foto: Dokumentasi pribadi.

April 28, 2009

Rike Amru: Presenter Harus Selalu Fresh, Fisik Maupun Mental

Rike Amru

Rike Amru

Mungkin Anda adalah sebagian dari pemirsa yang dalam satu dekade terakhir disuguhi penampilan para presenter atau penyiar berita yang cantik-cantik dan ganteng-ganteng. Dan, salah satu wajah cantik yang mungkin sering Anda saksikan di SCTV melalui program Liputan 6 dan Barometer tersebut adalah Rike Amru. Ya, perempuan kelahiran Banda Aceh pada 7 Juli 1973, ini tidak menampik sinyalemen persaingan yang sangat ketat di antara stasiun-stasiun televisi yang ada, khususnya dalam menampilkan para presenter yang rupawan.

Tak heran bila kini, pemirsa bisa melihat sejumlah presenter berita khususnya, yang sempat menjadi semacam ikon di suatu stasiun televisi dan juga berpenampilan menarik serta berwajah rupawan—tentu saja diikuti dengan kemampuan profesi yang sangat baik—seperti menjadi rebutan stasiun-stasiun televisi lain yang ingin menonjol dalam persaingan. Bagi Rike, hal seperti itu lumrah saja, sebab setiap presenter juga membutuhkan tantangan lebih. Yang penting, setiap presenter memiliki modal yang cukup untuk bersaing dan mendapatkan tantangan lebih tersebut.

Walau begitu, menurut Rike, modal penampilan saja sebenarnya tidak cukup memberikan bobot lebih kepada seorang presenter. Menurut jebolan Fakultas Ekonomi USU dan STIE Perbanas ini, kecantikan seorang presenter haruslah terpancar dari intelektualitas dan personality-nya. Nah, kombinasi intelektualitas dan kepribadian yang menawan itulah yang bisa menjadikan penampilan sang presenter memiliki roh, dan itu pula yang memikat maupun mengikta pemirsa. “Sebaliknya, jika betul-betul mengandalkan kecantikan fisik, saya kira penonton tidak bakal betah,” ujar Rike.

Sementara melihat sejumlah rekannya terjun ke dunia politik, Rike menyatakan bahwa hal itu juga wajar-wajar saja. Sebab, dunia jurnalistik memungkinkan seorang jurnalis bersentuhan dengan banyak persoalan riil masyarakat. Dan mungkin saja, itulah yang mengetuk mereka untuk kemudian terjun ke politik. Namun, Rike mengaku akan tetap fokus dan menekuni dunia jurnalisme televisinya. “Jurnalistik adalah end of mind saya,” jelasnya. Berikut petikan wawancara Edy Zaqeus dari AndaLuarBiasa.com dengan Rike Amru, perihal pernak-pernik jurnalistik televisi di Indonesia, yang dilakukan melalui komunikasi via Facebook dan pos-el:

Sekarang ini hampir semua stasiun televisi swasta berlomba-lomba untuk menghadirkan para penyiar berwajah cantik. Komentar Anda?

Wajar saja. Karena itu salah satu cara yang ditempuh oleh stasiun televisi untuk merebut dan mempertahankan atensi pemirsa.

Apakah ini berdampak baik atau buruk?

Berdampak baik, jika kecantikan si penyiar atau presenter itu juga berasal dari intelektualitas dan kepekaannya. Artinya, si presenter tidak sekadar memperlihatkan kecantikan fisik, tapi juga merepresentasikan personality-nya. Dengan begitu, citranya akan memberi roh ke layar stasiun televisinya. Dan, penonton juga merasa nyaman. Sebaliknya, jika betul-betul mengandalkan kecantikan fisik, saya kira penonton tidak bakal betah.

Perpindahan penyiar dari satu stasiun televisi ke stasiun lain juga sering terjadi. Padahal, mereka ini seringnya sudah menjadi semacam ikon bagi stasiun televisi lama. Pandangan Anda?

Banyak faktor yang menyebabkan penyiar pindah ke stasiun televisi lain. Salah satunya, kebutuhan akan tantangan baru. Saya pikir, soal tantangan ini, bisa menjadi lebih penting ketimbang ikon.

Rike Amru: Liputan kebun ganja di Aceh

Rike Amru: Liputan kebun ganja di Aceh

Sebenarnya, modal apa saja yang idealnya dimiliki oleh penyiar televisi?

Yang paling penting memiliki sensitivitas, kepekaan terhadap lingkungan sekitar, sesama, dan isu-isu di tengah masyarakat. Lalu intelektualitas, kemampuan berbahasa yang memadai, serta kepribadian yang luwes, dan low profile. Ini semua modal yang akan membuat seorang penyiar selalu menjadi bagian dalam kehidupan sehari-hari pemirsa televisi.

Di tengah persaingan penampilan para penyiar sekarang ini, menurut Anda, apa yang mesti menjadi tonjolan, hal khas, atau unggulan masing-masing?

Saya pikir…. setiap presenter berita memiliki kekhasan dan daya tarik yang spesifik. Tapi, apa pun kelebihannya, harus selalu bisa diintegrasikan pada prinsip-prinsip jurnalistik, yang direpresentasikan melalui penampilannya. Artinya, prinsip jurnalistik itu yang paling utama untuk ditonjolkan. Seperti, tidak menghakimi dan tidak beropini. Dengan begitu, saat tampil di layar televisi, presenter tidak boleh membawa diri sebagai “selebritis”.

Ada rumor bahwa sejumlah penyiar televisi memaksa diri untuk tetap hidup single untuk mempertahankan penggemarnya. Benarkah itu?

Sama sekali tidak benar! Banyak penyiar menjadi makin matang performanya setelah menikah. Dan, penggemarnya juga menjadi semakin setia.

Dalam masa pemilu seperti sekarang, apakah kalangan penyiar atau jurnalis televisi sering mendapatkan pesan-pesan sponsor, atau bahkan tekanan tertentu?

Secara langsung atau eksplisit sih tidak. Karena, bisa jadi lingkungan jurnalistik justru yang paling disegani. Dan, jangan sampai jadi blunder dan bumerang untuk mereka sendiri. Secara implisit, mungkin ada juga. Tapi, karena kami berpijak pada jurnalisme, kami menjadi tidak peka dan tidak peduli dengan hal-hal semacam itu.

Rike Amru: Bersama rekan-rekannya di SCTV

Rike Amru: Bersama rekan-rekannya di SCTV

Sejumlah penyiar, baik yang senior maupun yang masih muda, mulai merambah ke dunia politik. Pandangan Anda?

Saya rasa, pilihan dan keputusan terjun ke politik itu dilandasi oleh keterikatan dan rasa tanggung jawab rekan-rekan tersebut terhadap masyarakat. Selama menjadi jurnalis, mereka selalu bersentuhan dengan persoalan-persoalan masyarakat. Barangkali, ini menjadi langkah konkret mereka untuk bisa berperan lebih banyak. Boleh jadi, ini juga terkait kebutuhan akan tantangan baru tadi.

Dengan tingkat popularitas Anda sekarang ini, apa Anda juga tertarik untuk melebarkan sayap ke dunia politk nantinya?

Tidak…. Jurnalistik adalah end of mind saya.

Anda sering memandu program debat untuk isu-isu yang cukup panas. Pernah punya pengalaman tak terlupakan?

Salah satu pengalaman paling penting, bagi saya, adalah waktu memandu debat para jurnalis senior mengenai kebijakaan pemberitaan eksekusi Amrozi dkk.

Bagaimana cara Anda mengendalikan situasi debat yang memanas itu?

Menghadapi debat yang memanas, yang paling saya pikirkan adalah pemirsa. Informasi apa yang berhak diperoleh pemirsa? Hal ini menempatkan saya sebagai “filter” untuk tidak membiarkan suhu panas menjadi satu-satunya daya pikat program itu. Artinya, saya akan menginjak pedal rem, jika perdebatan keluar dari koridor dan tidak lagi proporsional. Tapi, saya juga memberikan ruang yang leluasa bagi masing-masing panelis, jika dalam debat banyak informasi penting yang bisa dipetik pemirsa.

Kesimpulan apa yang bisa Anda petik dari situasi-situasi debat dalam itu? Apakah masyarakat atau tokoh-tokoh kita siap dan bersedia menerima perbedaan pendapat?

Jujur saja, kadang kala ada tokoh yang tidak siap berdebat, sekaligus tidak siap menerima perbedaan. Kadang kala, ada panelis yang berpikiran sempit, yang memandang forum debat menyerupai arena gulat, dan maunya menang. Tapi, jika presenter yang memandunya melakukan tugasnya dengan baik, masyarakat tentu bisa menilai masing-masing tokoh secara fair.

Rike Amru: Presenter harus selalu tampil fres

Rike Amru: Presenter harus selalu tampil fres

Apa pengalaman paling berkesan yang pernah Anda alami selama tugas jurnalistik?

Hmm, banyak ya. Salah satu yang saya ingat, saat meliput ladang-ladang ganja di lereng pegunungan Leuser. Liputan itu untuk program investigasi Sigi-30 Menit. Anda bisa bayangkan… Saya hampir ‘pingsan’ saat mendaki dan menuruni pegunungan di hutan, untuk mencari ladang ganja bersama tim. Sama sekali tidak mudah bagi saya. Kami stay di sana hampir dua pekan.

Dalam setiap penugasan di lapangan, penampilan tetap menjadi perhatian utama penyiar. Bagaimana Anda menyiasati hal ini, semisal tetap menjaga penampilan selagi tugas di daerah yang sulilt seperti di Aceh…?

Menurut saya, yang paling penting adalah tampil sesuai dengan keadaan dan lingkungan saya berada. Di wilayah sulit, apalagi di daerah yang dilanda bencana, tentu malah tidak wajar kan jika tampil kenes? Tapi, saya selalu memberi “warning” pada diri sendiri, bahwa presenter harus selalu fresh. Fisik maupun mental. Ini penting, supaya selalu siap memberikan informasi yang komprehensif dan detail pada pemirsa. Cara menyiasatinya? Ya, sekurang-kurangnya cukup istirahat dan cukup tidur. Dan, harus bisa istirahat dan tidur di mana pun. Di tenda maupun di kandang….

Penyiar-penyiar baru yang lebih muda dan menarik nantinya pasti akan terus berdatangan. Bagaimana Anda menghadapi situasi semacam ini ke depannya?

Saya sama sekali tidak memandang rekan-rekan muda sebagai pesaing. Saya juga tidak ingin menempatkan diri saya sebagai senior, yang lebih tahu segala hal. Jadi, menghadapi mereka, saya justru mempersiapkan diri, bagaimana supaya saya bisa menjadi rekan kerja dan partner yang ideal. Yang bisa saling berbagi dan belajar satu sama lain.

Rike Amru: Sebuah aksen

Rike Amru: Sebuah aksen

Siapa penyiar televisi idola Anda?

Banyak. Semua punya spesifikasi dan keunikan masing-masing. Saya juga banyak belajar dari senior saya di Liputan6 SCTV, seperti Ira Koesno dan Rosianna Silalahi.

Selain sebagai penyiar, apa yang sehari-hari Anda lakukan, atau yang menyibukkan Anda?

Baca koran, nonton berita maupun program-program dokumenter. Dan, current affairs dari stasiun televisi nasional lain, sampai CNN. Lalu, baca buku dan diskusi dengan rekan-rekan jurnalis maupun dari lintas bidang.

Anda punya mimpi-mimpi ke depan di bidang kehidupan pribadi dan karier? Menuliskan pengalaman jurnalistik dalam sebuah buku, misalnya?

Dalam karier, semoga bisa menjadi wartawan televisi seperti Lara Logan atau Christianne Amanpour, meskipun masih sangat jauh. Menulis buku? Ya, will do.[ez]

Foto-foto: Dokumentasi Rike Amru, dan koleksi Gangsar AJ, Widhi Anthony, Kun GFX, dan Lee Kwangsung.

April 26, 2009

5 Sinyal Kejatuhan Karier Politik JK Menjelang dan Sesudah Pilpres 2009

JK: Foto Internet

JK: Foto Internet

Oleh: Edy Zaqeus*

(Sambungan artikel “Apa yang Kau Cari JK?)

Begitu saya mendengar berita bahwa Rapimnas khusus Partai Golkar (23/4) menetapkan JK sebagai calon presiden dan memberinya mandat untuk menjalin koalisi, maka semakin yakinlah saya pada apa yang saya tulis sebelumnya (Baca: Ramai-ramai Menenggelamkan JK). Bahwa, sadar atau tidak sadar, Jusuf Kalla (JK) sedang memasuki babak pasti sebuah skenario besar untuk membenamkan karier politiknya. Padahal, saat menulis artikel tersebut, saya sangat yakin bahwa JK akan mampu menggunakan rasionalitas, kepiawaian, dan pengalaman politiknya untuk meloloskan diri dari jebakan tersebut. Apa lacur…?

Memang, melihat sejarah PG sebagai partai besar—walau sekarang suaranya melorot cukup tajam—dan juga banyaknya kader-kader hebat di dalamnya, semestinya kita semua bisa melihat manuver-manuver atau pilihan-pilihan politik yang cerdas dan lebih cantik. Itu juga yang semestinya mampu mendorong JK, sebagai kader terbaiknya saat ini, sukses meraih posisi terbaiknya. Sayang sekali… Kali ini, saya hanya bisa menuliskan sejumlah sinyal, yang saya yakini justru akan semakin menjauhkan JK dari kemungkinan lolos dari skenario penenggelaman karier politiknya.

Pertama, sinyal melemahnya kepemimpinan JK dalam pengambilan keputusan-keputusan politik terpenting saat ini. Melemah? Bagi saya, ya sekali, amat sangat, dan mungkin saja publik melihat hal yang sama. Indikasinya? Keputusan Rapimnassus 23 April soal pencapresan JK, yang oleh tokoh senior PG, Muladi (Gubernur Lemhamnas) dianggap terlalu emosional. Sementara, Akbar Tanjung menilai pencapresan JK adalah sesuatu yang menyerupai mission imposible. Putusan Rapimnas itu pun mengejutkan sejumlah pinisepuh PG sehingga memaksa mereka mencoba mencari titik-temu dengan menemui SBY.

JK adalah politisi brilian, penuh perhitungan, dan pragmatis, sehingga kalkulasi politiknya pasti menjauh dari model-model politisi berlatar aktivisme-idealis. Tetapi, ketika dia diserbu oleh koleganya yang lebih menonjolkan pendekatan emosional-idealis, JK takluk dan menafikan pakemnya selama ini. JK gagal meredam arus emosional dan memajukan arus rasional yang ada dalam lingkaran PG. Itu sebabnya, kesediannya untuk mengikuti arus emosional bisa dibaca sebagai pelemahan leadership. JK kehilangan kendali atas konflik atau perbedaan sangat tajam yang tengah melanda elit PG. Jelas, ini sinyal yang sangat buruk ke depannya.

Kalau kita ingin melihat apakah sesosok pemimpin itu kuat atau lemah, caranya ya dengan melihat bagaimana pemimpin tersebut mengambil keputusan pada saat organisasinya dilanda situasi konfliktual dan dilematis. DPP PG saat ini bisa menjadi miniatur terbatas bagi kabinet pemerintahan JK, seandainya nanti ia terpilih sebagai presiden. Fenomena putusan Rapimnassus PG kali ini bisa menjadi ‘cermin terbatas’ bagi model kepemimpinan dan pengambilan keputusan JK kelak, khususnya dalam situasi krisis.

Pertanyaannya, apakah tendensi politik semacam ini akan menjadi unsur pendongkrak atau penurun elektabilitas JK? Silakan menyimpulkan sendiri.

Kedua, melamahnya posisi tawar-menawar politik JK-PG di mata calon sekutu politik utama. Ditinjau dari sisi psikologi politik, maka mudah sekali untuk melihat JK dan rombongannya saat ini sebagai “sekolompok politisi yang terluka”, yang tengah berharap banyak mendapatkan “keajaiban-keajaiban politik baru”, dalam limit waktu, sumber daya, dan effort yang dimampui. Dalam ilmu dagang sederhana—yang sudah pasti sangat dikuasai JK—pembeli yang terlalu berharap (baca: ngarep banget) atas suatu produk haruslah siap-siap membayar lebih mahal dari yang seharusnya.

Nah, “beringin yang terluka” ini hendak membeli dukungan alias mencari sekutu ke “banteng moncong putih”, yang relatif punya pilihan politik lebih “jelas” terkait persekutuan politik. Saya singgung dalam artikel-artikel sebelumnya, dalam konteks pencapres-cawapresan, posisi tawar antara Mega-PDIP dengan Prabowo-Gerindra jauh tidak sedilematis ketimbang antara Mega-PDIP dengan JK-PG.

Kalau Mega berunding dengan JK untuk posisi capres-cawapres, pastilah akan sangat alot, mengingat masing-masing pihak mendapat mandat untuk hanya jadi capres, bukan cawapres. Dan, itu sudah diakui sendiri oleh Megawati pada pertemuan 24 April lalu. Sementara, kalau menggandeng Prabowo, Mega pasti relatif lebih mulus dalam meraih posisi pencapresan. Lalu dari segi elektabilitas, Mega juga masih bisa berharap pada keajaiban-keajaiban politik yang mungkin dibawa oleh si mantan Danjen Kopassus ini.

Baik menggandeng JK ataupun Prabowo, tetap saja Megawati punya “modal survei” (baca: elektabilitas) yang lebih kuat ketimbang keduanya. Ditambah lagi dengan “modal psikologi politik” lebih baik ketimbang JK saat ini, jelas semakin susah saja memaksa Mega rela menerima posisi cawapres atau menerima konsesi-konsesi politik yang lebih sedikit. Sialnya, JK tidak diberi mandat untuk berjuang dan menerima lebih sedikit daripada kalau berpasangan dengan SBY.

Jadi, dalam konteks koalisi dengan Mega-PDIP, akankah JK memboyong sekeranjang kabar baik bagi para pemberi mandatnya? Kalau bukan kabar baik yang dibawa, apakah organisasi politik yang dipimpin JK nantinya tidak akan memberikan sanksi politik? Anda semua pasti bisa menyimpulkan dengan tingkat presisi yang sangat tinggi.

Ketiga, sinyal kebuntuan beragam alternatif koalisi karena posisi JK di pemerintahan. Suka tidak suka, keputusan JK untuk tetap duduk mendampingi SBY dan mempertahankan semua menteri dari PG di kabinet dalam sisa masa pemerintahan telah membawa konsekuensi dan komplikasi politik tersendiri. PDIP sebagai partai yang digadang-gadang bakal menjadi sekutu besarnya, sudah melemparkan sinyal itu, langsung dari pimpinannya, Megawati.

Posisi JK di pemerintahan yang jadi serba tanggung ini—walaupun mungkin tujuannya baik untuk menstabilkan sisa pemerintahan SBY-JK—tetap saja menambah rumit proyeksi koalisi PG-PDIP. Bahkan, dengan partai-partai kecil lainnya—andai PG berniat membentuk poros baru—seperti Hanura, Gerindra, PPP, dan PAN, tetap masih menyisakan kerumitan tersendiri.

Semua calon mitra koalisi JK-PG, khususnya yang mengambil posisi sebagai lawan politik pemerintah, pasti tahu betul potensi tanggungnya posisi JK. Sebab, dalam posisi tersebut, bagaimana mitra koalisi bisa berharap JK-PG akan total mengkritisi pemerintah? Kalau pakai logika sederhana, mana mungkin (bagian) pemerintah mengkritisi pemerintah? Jeruk makan jeruk? Padahal, oposisi butuh amunisi full untuk menyerang pemerintah. Karena, hanya dengan mendelegitimasi kinerja pemerintahlah, secara teori, posisi oposisi bisa naik di mata masyarakat calon pemilih.

Jadi, dengan nalar sederhana, JK-PG akan menerima lebih banyak tuntutan dari calon mitra koalisinya nanti, ketimbang mendapatkan lebih banyak konsesi politik. Bahkan, bisa saja ada desakan supaya JK mundur sekalian dari posisi sebagai wakil presiden, sebagai syarat awal koalisi, belum ke konsesi. Mungkin saja JK-PG dapat menolak tuntutan tersurat atau tersirat semacam itu. Konsekuensinya, sungguh tidak mengenakkan karena kemungkinan gagal membangun koalisi ada di depan mata. Terlebih waktu yang tersisa tinggal beberapa hari ke depan.

Coba bayangkan skenario ini. Kalau saja Mega-PDIP condong meneruskan pembicaraan koalisinya dengan Prabowo-Gerindra, Wiranto-Hanura, dan kemungkinan juga dengan Suryadharma-PPP. Pakai kalkulator sederhana, perolehan suara nasional keempat parpol tersebut sudah mencapai 27 persen, alias sudah memenuhi aturan bagi pencapresan Megawati. Dengan demikian, bisa saja Mega-PDIP menyatakan kepada JK-PG, “Itu sudah cukup!” semata demi menghindari tuntutan-tuntutan konsesi politik berlebihan. Akibatnya, JK-PG bisa kehilangan tempat berpijak karena gagal membangun koalisi, apalagi membangun blok baru. Sinyal positif buat JK-PG? Tidak, sama sekali.

Keempat, kemungkinan besar JK-PG gagal membangun poros koalisi baru. Jangan sampai hilang dari catatan Anda, bahwa pecahnya kongsi JK-PG dengan SBY-PD memunculkan mandat pencapresan JK. Sementara melihat perolehan suara PG yang hanya 14 persen, maka pencapresan itu hanya mungkin terjadi apabila PG bisa membangun koalisi dan memenuhi syarat konstitusi, yaitu perolehan suara koalisi minimal 25 persen. Melihat tanda-tanda rumitnya bangunan koalisi antara JK-PG dengan Mega-PDIP sebagaimana terurai di atas, kepada siapa lagi JK-PG berharap?

Andai saja, JK-PG berhasil merangkul partai-partai seperti PAN, PPP, Gerindra, dan Hanura, maka perolehan suara yang bisa ditambahkan adalah 19,4 persen, sehingga dengan demikian JK bisa melaju ke pencapresan dengan modal suara nasional 34 persen. Persoalannya, apa betul JK-PG cukup menarik bagi partai-partai kecil tersebut? Apa konsesi-konsesi politik yang bisa diberikan JK-PG kepada mereka? Hal menarik apa yang bisa disodorkan JK-PG sehingga membuat partai-partai kecil itu yakin, bahwa suara mereka tidak akan sia-sia dalam pilpres nanti?

Ingat sekali lagi, koalisi dalam konteks menyongsong pencapresan tidak akan pernah lepas dari “modal survei”, dan justru di sini letak kelemahan utama JK dibanding capres-capres lainnya. Tak heran bila ujung-ujungnya, Hanura dan Gerindra, bahkan mungkin PPP akan condong merapat ke Mega-PDIP. Anda bisa bayangkan, dalam posisi sangat terjepit dan tidak menguntungkan seperti itu, apa yang bisa ditawarkan oleh JK-PG?

Ya, mungkin “modal parlemen” masih bisa dijadikan alat tawar dalam mendapatkan konsesi politik. Justru di sinilah kekuatan JK-PG, sekaligus menegaskan bahwa konteks koalisi yang sedang dibangun JK-PG sejatinya tidak lagi bersangkut-paut dengan pilpres 2009. Dengan kata lain, apa pun yang sedang dilakukan JK-PG saat ini, semuanya tidak lagi mengarah kepada pencapresan JK. Apakah ini sinyal hijau? Sama sekali tidak. Ini sinyal merah atas kepemimpinan JK di DPP PG.

Kelima, kinerja JK dalam sorotan tajam internal PG, khususnya DPD I maupun DPD II. Akbar Tanjung, mantan Ketua Umum PG yang sukses melambungkan perolehan suara PG di pemilu 2004, setidaknya menjadi tempat berkeluh kesah bagi sejumlah pengurus DPD PG. Mungkin aktivitas Akbar Tanjung dianggap sebelah mata oleh DPP PG saat ini. Tetapi, dengan bekal sekian banyak kegagalan dan potensi kegagalan JK berikutnya, boleh jadi kelompok tidak puas ini akan semakin membesar. Mungkin saja, kelompok ini sedang menyusun “Rapor Merah JK”.

Apa itu kegagalan PG di bawah kepemimpinan JK? Jelas, suara PG melorot cukup tajam. Lalu, JK juga gagal membawa PG mendapatkan potensi konsesi politik optimal karena meninggalkan SBY-PD. Sementara dari prediksi di atas, ada kemungkinan JK gagal membangun koalisi dengan hasil maksimal, plus hampir pasti gagal maju sebagai capres, terlebih memenangkan pilpres 2009. Apa akibatnya bagi karier politik JK ke depan? Ini dia sinyalnya…

“Sebaiknya JK legowo mundur,” itu pernyataan Siswono Yudho Husodo, salah satu tokoh senior PG juga. Apakah ini pernyataan biasa? Menurut saya, ini sebuah sinyal politik yang kemungkinan bisa merangsang munculnya semacam manuver-manuver politik, yang semakin membesar dari hari ke hari, sejalan dengan beragam kesulitan yang bakal mengungkung PG ke depan. Apa yang dibidik? Apalagi kalau bukan pengakhiran karier politik JK pascapemilu presiden 2009.

Satu hal yang sangat mengherankan saya, sebenarnya risiko-risiko politik yang akan dihadapi oleh JK-PG pascapencapresannya itu begitu mudah diketahui. Bahkan, awam pun bisa membacanya, dan untuk mendeteksi hal-hal tersebu sejatinya tidak perlu analisis dari para konsultan politik yang hebat-hebat. Anehnya, mengapa JK yang begitu berpengalaman dan brilian dalam berpolitik, seperti tidak memanfaatkan rasionalitas politiknya? Mengapa JK mendadak berubah seperti, maaf sebelumnya, seorang politisi yang naif? Misteri besar…

Saya hanya bisa menduga, JK memang sedang berada dalam tekanan politik terbesar dalam sejarah kepemimpinannya di PG, dan itu datang dari internal PG sendiri. Dalam posisi seperti itu, politisi andal sekalipun bisa kehilangan determinasinya. Apa pun perkembangan ke depan nanti, semoga saja JK tetap mendapatkan yang terbaik bagi karier politiknya.[ez] (Bersambung)

* Edy Zaqeus adalah pendiri dan editor website motivasi www.andaluarbiasa.com dan www.bukukenangan.com, mantan wartawan, dan penulis delapan buku laris, di antaranya adalah Bob Sadino: Mereka Bilang Saya Gila! (2009) dan Resep Cespleng Menulis Buku Bestseller Edisi Revisi (2008). Edy Zaqeus adalah nama pena dari Sutopo Sasmito Edy, alumnus terbaik Jurusan Ilmu Pemerintahan, Fisipol, UGM, Yogyakarta, periode kelulusan Agustus 1997. Ikuti tulisan-tulisannya yang menarik di http://ezonwriting.wordpress.com.

Ctt: Baca juga analisis terkait sebelumnya, Ramai-ramai Menenggelamkan JK?, Antiklimaks Pencapresan JK, Kembalinya Duet SBY-JK (dan Munculnya Duet Mega-Prabowo), Apa yang kau Cari JK?, semua di Ezonwriting.

April 23, 2009

Apa yang Kau Cari JK?

INDONESIA-ECONOMY/KALLA

Jusuf Kalla: Foto www.daylife.com

“Akankah JK-PG mempersatukan kembali Prabowo-Gerindra dan Wiranto-Hanura

ke pangkuan Golkar? Atau, siapkah PG menjadi partai oposisi sepenuhnya?

Hari ini Anda akan dibombardir oleh hebohnya berita hancurnya upaya koalisi Partai Golkar (PG) dengan Partai Demokrat (PD), alias pecahnya rencana kongsi SBY-JK yang kedua. Hari ini pula Anda akan mendapatkan banyak analisis dan juga spekulasi-spekulasi tentang berbagai skenario langkah PG berikutnya. Namun, pada hari ini juga, Kamis, 23 April 2009, mungkin Anda akan dikejutkan oleh apa yang akan diputuskan oleh Rapimnassus PG di Hotel Borobudur, Jakarta.

Saya akan coba analisis beragam proyeksi langkah PG beserta segala konsekuensinya berikut ini. Sekali lagi, yang saya pakai hanya kacamata awam, common sense, dibumbui “ilmu kira-kira” dan “ilmu sok tahu”. Singkat saja…

Pertama, sudah ada media yang menyatakan JK-PG akan merapat ke Mega-PDIP atau blok Teuku Umar. Apakah mungkin? Mungkin sekali. Pertanyaannya, apakah akan menguntungkan JK-PG? Belum tentu. Alasannya? Jelas, kecil kemungkinan JK-PG mendapatkan “kue politik” yang maksimal. Seperti saya singgung sebelumnya, sulit menurunkan Mega dari pencapresannya oleh PDIP, dan posisi sebagai kandidat cawapres bukan sesuatu yang memikat bagi JK-PG.

Selain itu, dalam konteks koalisi dengan Mega-PDIP, modal politik JK-PG saat ini bukan pada tataran elektabilitas kandidat capres, atau sesuatu yang bisa menjulangkan seorang capres, tapi lebih pada potensi kekuatan di parlemen untuk menstabilkan sebuah pemerintahan. Sementara, yang “digadang-gadang” Megawati-PDIP adalah figur atau kekuatan politik yang bisa mendongkrak elektabilitas pencapresan Megawati.

Pada titik pencapresan ini pula, Mega-PDIP tetap akan lebih condong menggandeng Prabowo-Gerindra, yang sekalipun suaranya kecil, tetapi berdasarkan survei elektabilitas figur Prabowo naik dengan cepat. Mega sangat butuh Prabowo, terutama karena Prabowo menjanjikan dukungan finansial dalam kampanye serta potensi elektabilitasnya yang memang masih terus menanjak.

Jadi, soal siapa akan mendapat apa—sebuah pangkal soal kenapa PG urung bergandengan dengan PD—menjadi persoalan pelik. Secara teori koalisi, jauh lebih sulit melakukan kompromi dengan partai yang suaranya sepantar ketimbang dengan partai-partai bersuara lebih kecil atau lebih besar. Sangat sulit menemukan formula imbangan kekuasaan dalam posisi suara hasil pemilu hampir sama. Siapa sih yang mau jadi nomor dua dalam posisi sama besarnya?

Belum lagi, ide koalisi ini akan ditawarkan jutsru pada saat-saat terakhir Mega-PDIP nyaris menemukan solusi jitu dalam koalisinya dengan Prabowo-Gerindra. Maka bagi JK-PG, masuk ke blok Teuku Umar seperti memasuki dunia antah berantah, yang pastinya akan menyambut mereka dengan senyum penuh sindiran… “Tuh, apa gue bilang! Ngapain enggak kemarin-kemarin…?”

Kedua, sejumlah petinggi PG menyatakan bahwa tidak menutup kemungkinan akan membuat blok baru dengan mengajak partai-partai bersuara kecil yang belum menentukan sikapnya secara tegas. Siapa saja mereka? Bisa saja Gerindra, Hanura, atau PPP dan PAN yang masih saja belum jelas alias bingung men-tradeoff-kan suaranya ke blok mana. Mungkin? Mungkin saja. Menguntungkan? Tunggu dulu!

Idealnya, inilah saatnya PG kembali menyatukan pecahan-pecahannya, seperti Gerindra dan Hanura, atau mungkin juga partai-partai non-electoral treshold lain yang berinduk semang sama, Golkar. Wiranto dan Prabowo adalah anak kandung Golkar. Ketika mereka seperti kehilangan induknya—tetapi bertarung sendirian tidak kuat, atau berkoalisi dengan pihak lain juga belum tentu memberikan hasil maksimal—bukankah lebih beralasan untuk bersatu dengan induk yang masih cukup signifikan kekuatannya?

Dalam kalkulasi Wiranto maupun Prabowo, bergabung ke PG sejatinya nyaris sama nilai politiknya, kecuali kalau soal pencapresan, elektabilitas Mega jelas lebih kuat dibanding JK. Tapi, lain soal kalau—atas dasar induk semang yang sama—kemudian justru PG menjadi pendukung Prabowo misalnya, untuk berkompetisi dalam pilpres 2009 (ingat, elektabilitas Prabowo sudah menyalip JK dan calon-calon PG lainnya). Lalu, siapa yang akan ditempatkan sebagai cawapres Prabowo? Apakah JK mau atau kader lain?

Hanya saja, bukankah ini solusi yang sama dilematisnya dengan kondisi skenario SBY-JK pascapecah kongsi? Sementara, apabila PG memaksakan diri menggandeng Prabowo, PG tetap harus bisa menawarkan posisi yang tidak kalah menariknya dengan kemungkinan tawaran Mega-PDIP. Tetapi ingat pula, kalau skenarionya duet JK-Prabowo dimajukan dalam pilres 2009, sekalipun cukup menantang, jelas banyak orang di kelompok ini yang sungguh berharap supaya hasil survei “mau” memberikan bacaan elekatbilitas yang lebih ramah kepada mereka.

Oh ya, bagaimana dengan PPP dan PAN? Melihat dinamikan internal kedua partai ini, rasanya sulit untuk mengajak mereka bergabung dalam blok baru kalau yang dijual adalah kemengangan dalam pilpres 2009. Sekali lagi, kalau urusan pencapresan sebagai modal poltiknya, semua partai sudah melihat, porosnya mengerucut pada Mega atau SBY. Poros lain hanya menarik dalam analisis, tapi susah diraba potensi kemenangannya, karena banyak survei sudah membaca kecenderungan pilihan masyarakat.

Ketiga, ketok palu Rapimnassus PG menyatakan, tetap berkoalisi dengan PD sekalipun harus mengajukan lebih dari satu kandidat cawapres ke SBY-PD. Apa perhitungannya? Sekali lagi soal potensi kemenangan koalisi dalam pilpres 2009. Sementara, masalah-masalah ketersinggungan politik, egoisme atau bahkan waham besar sekalipun, mungkin bisa disingkirkan kalau pertimbangannya adalah demi PG juga.

Dari berbagai statement petinggi PG maupun PD, sebenarnya tidak ada pernyataan bahwa SBY menolak JK. Yang ada hanya interpretasi atas penolakan tersebut akibat kubu SBY-PD menyampaikan kriteria cawapres ideal dan menghendaki kubu PG mengajukan lebih dari satu nama cawapres. Ini bisa saja dibaca sebagai kritik membangun atas pola hubungan SBY-JK selama ini dan bagaimana mengoreksinya ke depan, tapi bisa juga dibaca secara negatif bahwa itu merupakan sinyal penolakan untuk JK.

Sementara, sekalipun PG menyatakan “cerai”, kubu PD jelas-jelas masih tetap membuka diri untuk melanjutkan pembicaraan koalisi. Apakah PG kelewat menginterpretasikan sinyal politik SBY? Mungkin saja, dan syukurnya ada sejumlah pinisepuh PG yang bisa membaca hal tersebut secara lebih arif. Saya rasa, akan ada arus seperti ini dalam Rapimnassus PG hari ini.

Sampai pada titik ini, saya akan ajak Anda untuk menengok hasil survei exit poll (membaca preferensi pemilih usai memilih langsung dalam pileg) Lembaga Survei Indonesia (LSI) pada pemilu legislatif lalu tentang kecenderungan pilihan dalam pilpres 2009 (selengkapnya, klik di www.lsi.or.id). Hasil survei ini—sekalipun didemo oleh pendukung Wiranto—saya anggap cukup kredibel dan komprehensif, serta besar kemungkinan menjadi acuan hampir semua partai dalam melangkah ke arah pilpres 2009.

Survei LSI menemukan bahwa apabila calon presidennya hanya tiga, yaitu SBY, Mega, dan JK, maka persentase pilihannya adalah SBY 59,8 persen, Mega 18,9 persen, sementara JK 7,7 persen. Sementara jika capresnya ada enam, yaitu SBY, Mega, JK, Prabowo, Wiranto, dan Sultan, maka tiga besarnya adalah SBY 53 persen, Mega 16,5 persen, Prabowo 9,8 persen. Pesannya, potensi perolehan suara SBY jauh melampaui calon mana pun yang sudah muncul dalam diskusi publik. Potensi SBY menang dalam satu putaran sudah menjadi asumsi hampir semua analis politik yang berbasis data dan survei.

Selanjutnya, LSI juga menemukan bahwa tingkat soliditas pemilih PD untuk memilih SBY mencapai 86 persen, sementara soliditas pemilih PDIP ke Megawati 64,9 persen, pemilih PG ke JK hanya 22,2 persen. Berarti, ada 35 persen dan 77,8 persen pemilih PDIP dan PG yang menjatuhkan pilihannya ke capres partai lain. Dan ternyata, bagian terbesar dari pilihan mereka itu jatuh ke pangkuan SBY dari PD. Tren partai boleh apa saja, tapi capresnya SBY ini ternyata juga diikuti oleh para pemilih dari partai-partai lain, seperti PKS, PKB, PAN, dan Hanura.

Itulah sebabnya, hitung-hitungan koalisi saat ini—sekalipun arah dan acuannya adalah pilpres 2009—sesungguhnya nyaris menafikan signifikansi posisi partai politik, terutama dalam melatari preferensi pilihan masyarakat dalam pilpres 2009. Jika hitung-hitungannya seperti ini, maka pilihan bagi PG dan partai-partai lainnya sudah sangat jelas; ikut SBY-PD berarti terlibat dalam pemerintahan, sementara ikut blok lain berarti harus bersiap kalah dan menjadi oposisi.

Kembali kepada JK dan Golkar, akankah mereka sudah yakin dan bersiap sepenuhnya untuk menjadi partai oposisi, baik bergandengan dengan PDIP atau jadi oposisi tersendiri? Apakah mereka yakin, posisi sebagai oposisi benar-benar seseksi yang digambarkan oleh para anlis politik? Atau, apakah mereka tetap akan memaksakan diri untuk maju ke pencapresan, tanpa memperhitungkan public message soal keberlanjutan pemerintahan SBY? Kita lihat saja drama berikutnya.[ez]

* Edy Zaqeus adalah pendiri dan editor website motivasi www.andaluarbiasa.com dan www.bukukenangan.com, mantan wartawan, dan penulis delapan buku laris, di antaranya adalah Bob Sadino: Mereka Bilang Saya Gila! (2009) dan Resep Cespleng Menulis Buku Bestseller Edisi Revisi (2008). Edy Zaqeus adalah nama pena dari Sutopo Sasmito Edy, alumnus terbaik Jurusan Ilmu Pemerintahan, Fisipol, UGM, Yogyakarta, periode kelulusan Agustus 1997. Ikuti tulisan-tulisannya yang menarik di http://ezonwriting.wordpress.com.

Ctt: Baca juga analisis terkait sebelumnya: Ramai-ramai Menenggelamkan JK?, Antiklimaks Pencapresan JK, Kembalinya Duet SBY-JK, atau di Ezonwriting.

April 13, 2009

Alexandra Dewi: Pernikahan yang Bahagia Butuh Proses dan Kerja Keras

Alexandra Dewi

Alexandra Dewi

Awalnya, Alexandra Dewi Aryani Hermanus, begitu nama lengkapnya, tidak cukup percaya diri untuk menganggap coretan-coretannya sebagai tulisan. Maklum, semula ia merasa tulisan-tulisan itu hanya curhatan perempuan pada umumnya. Semata merupakan tulisan-tulisan lepas hasil olah perasaan di sela-sela kesibukan bisnisnya. Tetapi, seorang rekan kerja memperlihatkan karyanya tersebut ke sejumlah rekan. Ternyata, tidak seorang dua orang yang menganggap tulisan Dewi punya “isi”, ada yang khas, merekam realitas masyarakat, dan tentu saja ada nilai jualnya.

Tidak meleset. Debutnya diawali dengan menerbitkan buku nonfiksi bersama Cynthia Agustina berjudul I Beg Your Prada (GPU, 2006) cukup mendapat sambutan publik, sehingga buku itu sempat cetak ulang. Tak lama berselang, Dewi meluncurkan buku kedua yang ditulisnya sendiri berjudul Queen of Heart (GPU, 2007). Ini buku kiat-kiat bagi para lajang untuk mendapatkan pasangan idaman, sekaligus sambil tetap mempertahankan jati diri sebagai perempuan yang elegan, berkelas, dan bermartabat. Kini, Dewi segera hadir dengan karya ketiga berjudul The Heart inside the Heart (GPU, 2009), yang akan diluncurkan pada 23 April 2009 ini di Jakarta.

Apa pesan yang dibawa perempuan kelahiran Jakarta, 11 Mei 1974, dalam buku terbarunya ini? Ternyata, isinya merupakan “kelanjutan” dari buku sebelumnya, Queen of Heart. Kalau di buku sebelumnya banyak bercerita tentang bagaimana cara menemukan pasangan sejati, maka buku terbaru ini berkutat pada masalah menjaga keutuhan rumah tangga. Pesannya sangat jelas, kehidupan perkawinan ternyata tidak selalu seindah yang dibayangkan. “Banyak masalah muncul, dan mungkin kita tidak memikirkan itu sama sekali, dulu waktu memutuskan menikah,” tutur Dewi yang menikah sepuluh tahun yang lalu dengan Peter Chen.

Singkat kata, membangun, merawat, dan mempertahankan biduk rumah tangga itu sungguh-sungguh perlu kerja keras suami-istri. “Seperti berdansa, masing-masing harus tahu kapan maju dan kapan mundur, supaya tidak saling injak,” kata alumnus American College for the Applied Arts, Los Angeles, California, USA, yang kini menjadi Managing Director PT Sun Hope Indonesia itu. Dewi seperti hendak mengingatkan para pasangan muda yang hendak menikah, supaya sejak awal mau memberi porsi lebih banyak memikirkan berbagai kemungkinan problem rumah tangga ke depannya. Harapannya, mereka bisa menjadi lebih realistis dalam mengarungi perkawinan atau menghadapi terpaan beragam persoalan nantinya.

Tetap sibuk mengurus perusahaan bersama sang suami, mengurus kedua putra-putrinya Elizabeth Jessie Chen dan Joseph Mason Chen, dan mengembangkan sebuah butik, Dewi masih sempat aktif menulis untuk sejumlah website, seperti website motivasi www.andaluarbiasa.com, www.curhat.com, dan www.kabarindo.com. Berikut adalah petikan wawancara Edy Zaqeus dari AndaLuarBiasa.com dengan Alexandra Dewi melalui pos-el belum lama ini:

AD: Menjalin persahabatan di mana saja

AD: Menjalin persahabatan di mana saja

Apa judul buku terbaru Anda dan secara garis besar apa isinya?

Judulnya The Heart inside the Heart. Isinya apa saja yang perlu diketahui wanita sebelum menikah. Soal selingkuh, soal bercerai. Secara garis besar tentang kehidupan pernikahan yang realistis, dan berbagai macam dinamika atau liku-liku kehidupan berumah tangga.

Mengapa tertarik menggunakan judul tersebut?

Buku saya sebelumnya, Queen of Heart, garis besarnya berisi dinamika wanita ketika masih single serta tahap mencari pacar atau calon suami. Sedangkan The Heart inside the Heart ini soal dinamika yang lebih dalam. Karena masa kencan atau pacaran jauh berbeda dengan kehidupan berumah tangga. Banyak orang menghabiskan waktunya untuk memikirkan pesta pernikahannya. Tapi, tidak banyak yang berpikir soal kematangan dan kesiapan mental untuk menjalankan kehidupan rumah tangga, yang idealnya untuk seumur hidup. Sementara, pesta pernikahan hanya satu hari saja, kan?

Banyak juga yang menikah karena alasan alasan lain, di luar sebab saling mencintai. Mungkin menikah karena tekanan sosial. Mungkin juga terlalu terbuai fantasi soal indahnya kehidupan berumah tangga, seperti yang ada di film-film itu. Realitasnya, pernikahan yang bahagia butuh proses dan kerja keras.

Dari buku tentang gaya hidup kelas menengah-atas, lalu ke kiat-kiat untuk para lajang. Sekarang, terjun ke buku perkawinan. Ada kaitannya satu sama lain?

Secara tema buku, kaitannya memang tidak ada. Ini cuma hasil pengamatan saya terhadap kehidupan di sekitar kita. Gaya hidup kelas menengah atas, perjuangan para lajang untuk menemukan “soul mate”, yang mana menurut saya pribadi tidak ada itu yang namanya soul mate. Semua pasangan, terutama yang baru saja jatuh cinta, rasanya pasti seperti menemukan soul mate. Tapi, setelah beberapa tahun, kok malah memilih bercerai?

Buat saya, lebih realistis kalau kita jatuh cinta lalu kalau memutuskan menikah dan meraih bahagia. Sementara, awetnya pernikahan itu tidak segampang mengetik kata soul mate. Tapi, benar-benar butuh proses. Ya, proses belajar kompromi, proses mengerti artinya pernikahan, dan yaitu tadi, lagi-lagi kerja keras.

Dapat dorongan dari mana sehingga Anda mau menulis buku ini?

Teman-teman saya di sekitar saya. Bahkan, yang jauh lebih muda, rata-rata pada sudah menikah. Dan, ketika kami saling tukar pikiran secara jujur, menikah itu ternyata ada enak dan tidaknya. Ada suka dukanya. Dan, banyak hal harus dihadapi, yang mana tidak pernah terlintas di benak kami sebelum memutuskan menikah dulu. Kalau waktu masih single dulu sih, kami sama-sama mengakui kok. Walaupun kami sudah mencoba realistis, sudah pacaran bertahun-tahun sebelum menikah, di tengah-tengah pernikahan, ada saja ‘kejutan’-nya. Itu baru kami alami ketika sudah menjadi suami istri. Dan, di zaman sekarang ini, cerai sudah merupakan hal yang lumrah. Begitu juga soal penyebabnya. Yang tidak mengherankan lagi, ya soal pihak ketiga itu. Atau, sebab-sebab lainnya yang saya tuangkan di buku ini.

AD berlibur ke Eropa

AD berlibur ke Eropa

Dari mana Anda gali sumber-sumber penulisannya?

Tentunya dan utamanya adalah pengalaman pribadi. Karena, kebetulan saya sudah menikah sepuluh tahun lamanya. Sisanya, ya dari bertanya kepada siapa saja yang rela menjawab. Atau tanya sama siapa saja yang mau cerita, ya dari teman-teman, juga segala persoalan teman-teman mereka juga. Kadang bahan juga saya dapat dari pertanyaan-pertanyaan yang masuk ke saya melalui www.curhat.com. Jadi ya, semua ditulis berdasarkan bahan atau cerita nyata.

Sejauh yang Anda amati, sebenarnya persoalan-persoalan pokok apa saja yang siap menghadang setiap perkawinan?

Tergantung di usia ke berapa pernikahannya? Juga berapa lama pacarannya? Dan, tentu ke individu masing-masing, persoalannya akan berbeda-beda. Ada yang masalah utamanya mertua, ada yang susah menyatukan dua hati, dua pikiran, dan dua keinginan menjadi satu. Dan, tidak sedikit yang ribut karena masalah uang atau rasa saling percaya soal ini. Yang lain soal kejenuhan terhadap pasangan, atau harapan terhadap pasangan yang tidak terpenuhi.

Padahal, kalau kita terlalu berharap dapat kebahagiaan dari sarana eksternal, walaupun itu suami atau istri sendiri, mood kita akan menjadi sangat tidak stabil. Karena, kita itu hampir tidak mungkin mempunyai remote control terhadap apa yang orang lain lakukan atau rasakan.

Masalah orang ketiga sering jadi faktor pengganggu yang paling menakutkan. Anda sendiri memandangnya bagaimana?

Yah, menikah itu mudah, kalau hanya untuk mencari status menikah. Tapi lagi-lagi, membangun pernikahan yang bahagia itu justru tantangan sesungguhnya. Nah, namanya saja tantangan, tentu kedua belah pihak, baik suami dan istri, harus fokus seratus persen untuk mendapatkannya. Itu saja, sudah tantangan tersendiri, kan? Kalau ditambah dengan kehadiran orang ketiga, kita semua bisa bayangkan…. Tingkat kesuksesannya akan bagaimana? Apalagi kalau salah satu pihak, atau bahkan dua-duanya hanya ada separuh di dalam pernikahan hitu. Ya, karena separuh hatinya sudah ada di hati orang lain, misalnya.

Karier seorang istri, yang misalnya jauh lebih melejit ketimbang sang suami, juga bisa jadi biang keretakan rumah tangga. Menurut Anda?

Pastinya akan jadi masalah. Itu kalau keduanya tidak tahu artinya bersyukur. Si Istri akan merasa lebih superior, dan si suami akan merasa tertekan, atau harga dirinya turun. Sedangkan si istri, tanpa disadari akan lupa bagaimana rasanya dilindungi. Rasanya menjadi seorang wanita. Tanpa dia sadari, bisa saja wanita itu yang membuat rasa itu datang. Caranya, dengan merendahkan suaminya. Jadi, seperti lingkaran setan. Istri dominan, suami tertekan dan kehilangan wibawa. Dari situ istri merasa tidak ada yang melindungi. Dan, dari situ pula sudah ada suatu hubungan yang disfungsional. Si istri merasa jadi suami, dan suami merasa terpaksa jadi istri.

Saya kenal seorang teman, yang juga seorang istri yang kariernya jauh lebih baik dari suaminya. Tapi, dia tetap hormat kepada suaminya. Karena, si istri merasa bahwa tidak penting siapa yang bawa income. Yang penting mereka berdua bisa bersyukur ada income yang baik untuk rumah tangga mereka. Tetap saja, si suami dalam hatinya masih tidak bisa make a peace dengan kenyataan itu. Bukan karena tingkah laku si istri, tapi karena tekanan sosial, yang standarnya menuntut seorang suami harusnya lebih sukses kariernya dibanding si istri.

AD bersama keluarga

AD bersama keluarga

Masalah lain, kalau karier kedua pihak sama-sama bagusnya, tapi sayang waktu untuk keluarga jadi minim. Itu juga bisa merusak keharmonisan rumah tangga, kan?

Betul! Kalau keduanya sama-sama super sibuk. Apalagi tidak ada dorongan untuk memelihara connection antara suami istri. Tentu, akhirnya bisa seperti room mate belaka. Tinggal satu atap, tapi kok sudah tidak menemukan rasa kebersamaan. Orang yang saling mencintai itu, bukan berarti seharian bermesra-mesraan melulu, lalu melihat satu sama lain seperti masa honey moon stage. Tapi, saling mencintai itu kalau mereka melihat ke arah yang sama terhadap masa depan keluarga.

Saya berpendapat, salah satu sumber masalah utama rumah tangga, yang mungkin jarang terdeteksi, adalah sulitnya menekan ego. Akibatnya, muncul perilaku mau menang sendiri dan tidak peka terhadap pandangan pasangan. Menurut Anda?

Kalau kita sudah menikah dan ingin bahagia , mau tidak mau kita harus belajar mengontrol ego. Saya setuju, kalau istri atau suami masih tidak bisa saling kompromi dan belajar “berdansa di pernikahan, tentu akan saling menyakiti. “Berdansa maksudnya adalah, kadang istri mundur, suami maju. Dan sebaliknya, ketika istri maju, suami belajar melangkah mundur, seperti pasangan berdansa. Mana ada yang bisa dansa kalau dua-duanya melangkah maju? Yang ada saling menginjak kaki lawan dansanya, kan? Jadi, kalau sudah saling kenal, irama dan ritme dansa pernikahansama seperti dansa yang kita lihat di televisi itu, akan terlihat kompak dan berasa sekali indahnya.

Ada yang berpendapat, masa kritis perkawinan suka muncul pada dua atau tiga tahun pertama perkawinan. Menurut pengalaman Anda, atau apa yang Anda tulis di buku ini?

Setiap pasangan berbeda situasinya. Tidak bisa disamakan. Ada yang baru pacaran enam bulan kemudian menikah. Ini beda dengan yang sudah pacaran enam tahun, lalu baru menikah. Begitu juga faktor usia ketika menikah. Kalau untuk saya pribadi, masa kritis perkawinan itu terjadi kalau salah satu sudah mulai mempersiapkan surat cerai, atau pisah ranjang, atau pisah rumah. Karena itulah, saya tulis di buku ini, saya pantang bilang mau cerai sebelum saya yakin sekali. Mudah-mudahan saja saya tidak harus mengalami masa kritis itu. Kebetulan suami saya orangnya santai , kalau perlu mundur 3 langkah dia akan lakukan itu karena dia tahu saya tidak akan mendorong nya mundur mundur terus sampai namanya bukan dansa lagi tapi jajahan.

Anda membuat buku ini supaya pasangan-pasangan muda siap dengan segala konsekuensi perkawinan mereka. Bagaimana kalau karena buku ini, malah banyak pasangan yang justru enggan menikah?

Buat saya, menikah itu harus dilandasi oleh rasa saling mencintai. Hari gini… menemukan orang yang kita cintai, dan yang balik mencintai kita, itu lebih susah dari cari uang, lho hahaha…. Jadi, kalau sudah menemukan pasangannya, yang bisa membuat mereka merasa menemukan soul mate, walau ditakut-takuti seperti apa pun, tetap saja mau menikah. Apalagi kalau proses menemukan pasangannya ditempuh dengan segala macam rintangan. Pasti, mereka akan tetap mau menikah. Yang takut menikah itu, justru kemungkinan besar pada dasarnya memang belum ketemu dengan yang pas hahaha… Atau, sederhana saja, mungkin mereka memang belum siap menikah, atau malah sudah nyaman hidup single.

AD bergaya di sebuah gereja di Eropa

AD bergaya di sebuah gereja di Eropa

Berapa lama Anda menyelesaikan penulisan buku ini?

Proses menulisnya kira-kira dua bulan saja. Tapi, banyak tambahan pikiran dan cerita, sehingga makan waktu keseluruhan sekitar enam bulan, termasuk editing-nya, membuat cover, persiapan cetak, dan juga launching.

Anda sudah disibukkan dengan berbagai aktivitas bisnis. Ternyata Anda sudah menghasilkan tiga buku dan menulis kolom di berbagai website secara rutin. Bagaimana cara Anda membagi waktu?

Saya baru mulai menulis ketika perusahaan yang saya kelola bersama suami sudah melewati masa 10 tahun. Saya juga beruntung, di kantor saya mendapatkan tim kerja yang sudah tahu apa tanggung jawab mereka. Tahu apa yang harus dilakukan, walau misalnya saya harus sering bepergian keluar negeri. Jadi, kalau hanya meluangkan waktu menulis hari minggu, atau malam hari ketika belum mengantuk, rasanya tidak akan banyak menggangu kegiatan lainnya.

Ini juga yang kadang membuat saya heran sendiri. Biasanya, kok malah ibu-ibu atau wanita yang bekerja itu yang suka ditanya soal bagaimana membagi waktu. Kaum pria yang berkarier, sepertinya jarang ditanyakan bagi waktu ini. Kalau wanita, mungkin selain berkarier dia juga harus memandori rumah tangga, kan? Hahaha….

Kalau soal variasi tema yang Anda tuliskan. Dari mana Anda memanen ide-ide sehingga sepertinya Anda selalu bisa menulis tanpa kehabisan tema?

Dalam kehidupan ini, kalau kita mau mendengar, mau memerhatikan, coba mengerti perasaan orang lain, dan juga belajar mengerti diri sendiri, saya rasa kita tidak akan kehabisan tema. Kita manusia ini, sebenarnya kompleks. Karena, dari kecil sampai sekarang, kita hidup bersosialisasi dengan orang lain. Bergaul, bermasyarakat, pastinya otak kita akan menyerap berbagai informasi. Dan, itu semua menerbitkan emosi. Dari sana pula bisa ada ide. Masalahnya, tinggal apakah kita mau menuangkannya ke dalam tulisan atau tidak.

Pandangan Anda terhadap pengusaha atau pebisnis perempuan yang juga menulis buku. Apa sih kenikmatannya menulis buku itu?

Menulis buku pastinya soal kepuasan batin. Dari sana saya belajar dari orang lain. Karena, informasinya kan kumpulan pengalaman orang lain juga? Tapi, ketika kita berbagi lewat tulisan, kita seperti berbagi kepada diri kita sendiri juga. Mau percaya atau tidak, jawaban dari masalah kita banyak ditemukan dari dalam diri kita sendiri. Bukan dari di luar sana. Walaupun, punya sahabat dekat, di mana kita bisa menjadi diri sendiri, itu juga merupakan anugerah yang tidak bisa dinilai dengan uang.

Baik, buku-buku berikutnya apa sudah Anda siapkan?

Buku yang berikutnya adalah tentang fashion. Sama seperti buku pertama, buku berikut saya tulis bersama seorang teman. Judul sementaranya “Little Pink Book of Fashion”. Dan, isinya soal dunia belanja dan tip-tip mengenai fashion. Seperti buku kuning”, tapi dengan twist dan tips. Setelah buku itu diterbitkan, kalau Tuhan mengizinkan, saya mau coba menulis sebuah novel, yang buat saya adalah tantangan yang luar biasa. Karena, sampai saat ini saya adalah penulis nonfiksi. Tapi, saya tidak mau terlalu banyak rencana. Lebih baik saya mengucapkan syukur dulu saat ini, detik ini, buku ini sudah selesai.[ez]

Foto-foto: Dokumentasi pribadi.

April 8, 2009

Kembalinya Duet SBY-JK (dan Muncullah Duet Mega-Prabowo)

wwwbangakbarcom2

Foto SBY-JK: www.bangakbar.com

“Kembalinya duet SBY-JK yang tinggi elektabilitasnya kemungkinan besar akan memaksa dua pesaing potensial mereka, yaitu Megawati-PDIP dan “si kuda hitam” Prabowo Subianto-Gerindra berkoalisi.”

(Sambungan artikel Antiklimaks Pencapresan JK)

Rupanya, sahabat lama saya—yang saya ceritakan dalam artikel “Antiklimaks Pencapresan JK”—tetap saja tidak yakin kalau pencapresan JK bakal dihentikan pada saat yang tepat, nantinya. “JK itu politisi yang berpengalaman. Dia pasti tidak sembarangan menyatakan mau maju sebagai capres. JK orang Bugis, pantang mundur…,” kata sahabat saya ini.

“Bukan soal berpengalaman atau tidak, orang Bugis atau orang Jawa. Coba lihat hasil-hasil survei terakhir, atau apa isi kampanye JK sampai hari terakhir kemarin,” goda saya.

“Kok, kamu yakin sekali JK tidak akan mencapreskan diri?” tanya sahabat saya, mulai terpikat.

“Yakin sekali sih tidak. Tapi, faktor JK ini bisa-bisa membuat pilpres nanti cuma satu putaran, lho! Karena, ada arah JK akan kembali berduet dengan SBY…,” godaan berlanjut.

“Ah, dari mana hitung-hitungannya?”

***

Saya akan coba tuntaskan analisis pencapresan JK ini untuk melihat betapa—dalam benak dan pikiran rasional sebagian elit Partai Golkar—duet SBY-JK tetaplah merupakan pilihan politik yang paling reasonable dan paling potensial memberikan benefit politik. Analisis ini sekaligus akan menguatkan pandangan, bahwa pencapresan JK semata difungsikan untuk menjaga kohesivitas internal PG menjelang pemilu legislatif, dan segera bisa diutak-atik lagi setelah diketahui hasil pastinya.

Benarkah JK akan kembali berduet dengan SBY dan melupakan pernyataan kesiapannya maju sebagai capres? Saya coba beberkan hasil pengamatan dan analisis saya, utamanya atas hasil survei dan berita-berita politik yang bisa kita simak bersama. Kali ini, saya masih menggunakan ‘ilmu kira-kira’ plus ilmu baru, yaitu ‘ilmu sok tahu’ khusus untuk memperkirakan apa saja gejolak yang ada di benak sejumlah elit Golkar (PG).

Pertama, mari putar ulang rekaman berita kampanye, pernyataan-pernyataan politik serta iklan-iklan politik PG yang baru berakhir Minggu, 5 April 2009 kemarin. Bagi Anda yang sangat jeli mengamati kampanye PG atau JK, hingga akhir masa kampanye pemilu legislatif, pasti terheran-heran. Ke mana menguapnya isu pencapresan JK? Mengapa yang kerap muncul hanya slogan-slogan, “Dukung Golkar, lebih cepat lebih baik…!” Sama sekali tidak terdengar, “Ini JK capres Golkar… Pilih Golkar supaya capres kita terpilih…!”

Mungkin karena ini pemilu legislatif, dan pencapresan JK belum final, promosi politik pencapresan JK sejak dini pun terpaksa harus dilewatkan. Untuk target super ambisius—menang pemilu legislatif 30 persen dan pencapresan JK—rasanya aneh saja kalau gaung kampanye pencapresan JK dinihilkan. Bandingkan dengan SBY, yang menjadikan kampanye legislatif sepaket dengan kampanye pencapresannya.

Lebih aneh lagi, Anda pemirsa televisi dan pembaca koran nasional, pasti sempat mendapati di awal-awalnya bermunculan iklan-iklan politik yang justru menonjolkan sosok Surya Paloh. Baru di sisa hari terakhir kampanye saja, sosok JK ditampilkan bersama dengan Surya paloh. Ganjil? Ya, dan sangat! Jadi kesimpulannya, pencapresan JK masih setengah hati, belum layak jual, sehingga belum perlu dikampanyekan. Semakin aneh saja, kan?

Kedua, masih soal kampanye, semakin terlihat pula betapa serba salahnya JK dan PG dalam memosisikan diri. Sebagian elit PG yang menghendaki pencapresan JK, dan juga “calon-calon” mitra koalisi PG, mungkin sangat menghendaki bentuk-bentuk kampanye JK yang kritis terhadap pemerintah. Bila perlu, berani kritis dan keras seperti Megawati, yang menghantam pemerintah atau SBY dengan berbagai isu.

Tetapi persis seperti yang saya duga, JK tidak akan pernah bergaya seperti Megawati. JK tetap tampil cool dan sungguh-sungguh menikmati gayanya sendiri. Lagi-lagi, untuk sebuah tantangan kepada SBY di pilpres nantinya, dan strategi menggenjot dukungan dari pemilih kritis demi meningkatkan elektabilitas saat ini, gaya JK menjadi tampak aneh dan serba tanggung. JK tampak tetap lebih “nyaman” berada di bloknya pemerintah alias SBY.

Ketiga, mari tengok hasil survei LSI yang diumumkan Minggu, 5 April kemarin, yang semakin menegaskan hasil-hasil survei lain, bahwa tren perolehan suara PG justru menjauh dari target optimistis para fungsionarisnya. Perlu dicatat, dalam survei LSI yang diumumkan Februari 2009 lalu, prediksi perolehan suara PG mencapai 16 persen, sementara Partai Demokrat (PD) 24 persen dan PDIP 17 persen.

Sementara, hasil survei LSI yang dilakukan tanggal 31 Maret hingga 1 April 2009 terhadap 2.486 responden menyatakan, 26,6 persen responden akan PD, 14,5 persen responden akan memilih PDIP, dan 13 persen responden akan memilih PG.

Dalam artikel sebelumnya, saya sudah jelaskan berbagai permasalahan pencapresan JK, sekalipun dengan asumsi perolehan suara PG mencapai 25 persen. Bayangkan, kalau prediksi LSI dengan margin error 2,3 persen itu valid, maka perolehan suara PG nantinya hanya di kisaran 10,7-15,3 persen. Maka, akan semakin rumit pula skenario pencapresan JK karena pilihannya menjadi sangat terbatas.

Keempat, tengok lagi survei elektabilitas JK terkini, baik dari LSI maupun Reform Institute dan LSN. Menurut survei terakhir LSI, jika pilpres digelar April ini, maka 60,3 persen responden akan memilih SBY, 21,9 persen akan memilih Megawati, 6,4 persen akan memilih JK, dan 5,6 persen akan memilih Prabowo Subianto.

Reform Institute pada 19 Maret lalu juga merilis hasil survei capres yang menyodorkan hasil 46,5 persen responden akan memilih SBY, 13 persen responden akan memilih Megawati, 6,8 responden akan memilih Prabowo Subianto, 4,5 persen akan memilih Sri Sultan HB X, dan hanya 4 persen yang akan memilih JK.

Sementara, survei LSN Maret 2009 lalu menyuguhkan angka 45,1 persen responden akan memilih SBY, 15,3 persen akan memilih Megawati, 10,2 persen akan memilih Prabowo Subianto, 5,8 persen akan memilih Sri Sultan HB X, dan JK justru hanya kebagian 3,3 persen.

Tren kampanye JK-PG dan semua hasil survei tersebut mengirimkan sinyal sejelas-jelasnya, bahwa skenario menandingkan Chris Jhon (JK) dengan Mike Tyson (SBY) sungguh-sungguh perlu ditimbang ulang. Semua fakta dan analisis semacam ini akan memaksa para elit PG berpikir ulang untuk mendukung pencapresan JK dalam Rapimnas yang kemungkinan “memanas” usai pemilu legislatif nanti.

Namun, jika Anda bosan dengan semua prediksi survei tersebut, saya masih bisa tambahkan sejumlah analisis berikut. Sebagian argumentasi didasarkan pada pengamatan duet SBY-JK selama ini, sebagian lagi murni analisis dengan ‘ilmu sok tahu’.

Pertama, fakta bahwa kerjasama SBY-JK di pemerintahan memang tidak sempurna, kadang ada “riak-riak” politiknya juga, ada ketidakpuasan, sesekali tampak saling mendahului, dan tak jarang “koalisi rapuh” di DPR jadi memanas. Walau begitu, para petinggi PG pasti juga tidak bisa menafikan, bahwa duet SBY-JK adalah sebuah “koalisi” yang paling kompak yang pernah dihasilkan oleh PG dengan partai lain. Nyaris tidak ada ketegangan yang cukup berarti antara SBY-JK selama lima tahun terakhir. Kalaupun ada ketegangan, biasanya itu timbul bukan karena dua pribadi ini yang berselisih, tetapi semata karena perbedaan di antara politisi PD atau PG di DPR.

Kedua, kerjasama SBY-JK selama lima tahun ini sesungguhnya telah menciptakan semacam platform politik yang hampir sama antara PD dengan PG. Kerjasama para kader PD dan PG—kalau boleh dikatakan begitu—di pemerintahan relatif bisa seiring sejalan. Di parlemen memang lebih sering terjadi gesekan, tetapi jelas jauh berbeda bila dibandingkan dengan sikap PDIP misalnya.

Fakta ini memberikan sinyal positif, bahwa SBY-PD dengan JK-PG sudah berpengalaman bekerjasama. Juga diasumsikan, mereka relatif lebih mudah menjalin koalisi yang lebih kuat dan permanen ke depannya. Bandingkan situasi ini dengan, misalnya, PG harus berkoalisi dengan PDIP, Gerindra, atau PPP sekalipun. Di luar koalisi PG-PD, sepertinya akan ada terlalu banyak kemungkinan yang tak terprediksikan dengan baik.

Ketiga, bahwasannya kesediaan Fraksi Partai Golkar di DPR menjadi pendukung pemerintahan SBY selama lima tahun ini, jelas tidak bisa diabaikan sebegitu saja. Orang umumnya memandang, kesediaan itu merupakan konsekuensi dan kompensasi atas terpasangnya sejumlah kader PG di kabinet SBY-JK. Tetapi, saya lebih memandang bahwa “pengorbanan” PG di parlemen selama ini, semestinya dipandang sebagai sebuah “investasi politik” yang mahal dan strategis, untuk membangun koalisi yang lebih baik dengan SBY-PD ke depannya.

Nah, para politisi PG yang berpengalaman pasti menyadari hal ini. Mereka juga tahu persis gaya berpolitik SBY, dan pasti sangat yakin bahwa SBY tidak akan pernah menafikan “pengorbanan” JK-PG ini. Sebaliknya, investasi politik ini kemungkinan akan hangus—atau bisa juga dinikmati tokoh PG lainnya—manakala JK ngotot pisah dengan SBY dan mencapreskan diri.

Keempat, sekalipun isu pencapresan JK kemarin diduga sedikit merenggangkan hubungan SBY-JK, namun saya tetap yakin bahwa keduanya mempunyai waktu dan kesempatan jauh berlimpah untuk terus berkomunikasi dan berstrategi, dibanding misalnya JK dengan tokoh-tokoh lain seperti Megawati, Prabowo Subianto, Wiranto, bahkan Sri Sultan HB X sekalipun. Jadi, ini memperbesar kemungkinan akan ada “rekonsiliasi” antara SBY-JK pasca-pemilu legislatif esok hari.

Kelima, potensi nyata adanya banyak benefit politis bila JK tetap berduet dengan SBY, dan menang dalam pilpres nantinya. Apalagi kalau bukan kesempatan bagi PG untuk tetap menjadi partai yang memerintah, melanggengkan tradisi atau mungkin nilai-nilai dasar PG yang sesungguhnya. Kader-kader terbaik PG pun mendapat tempat di kabinet, sementara JK tetap bisa mempertahankan pengaruhnya di PG, bisa terus menjalankan visi-misinya dalam pemerintahan bersama SBY, sekaligus mempersiapkan diri sebagai sang suksesor sepanjang lima tahun ke depan.

Nah, pertimbangkan survei LSI terakhir yang menunjukkan elektabilitas SBY (60,3%) semakin jauh meninggalkan Megawati (21,9%), pun belum cukup terkejar oleh Prabowo (5,6%), dus tingkat kepuasan atas pasangan SBY-JK. Maka, kans JK untuk mewujudkan atau mempersembahkan segala benefit politis bagi PG jelas lebih terbuka.

Di sisi lain, kembalinya duet SBY-JK yang tinggi elektabilitasnya kemungkinan besar akan memaksa dua pesaing potensial mereka, yaitu Megawati-PDIP dan “si kuda hitam” Prabowo Subianto-Gerindra berkoalisi. Apabila pilihan capres nantinya terpolarisasi hanya pada kandidat SBY-JK lawan Mega-Prabowo, sangat mungkin pemilu presiden 2009 hanya perlu satu putaran saja.

Besok sore tanggal 9 April 2009, mungkin kita sudah mendapatkan hasil quick count pemilu legislatif, dan semua prediksi survei bisa dibandingkan. Saya rasa, hasil pemilu kemungkinan juga tidak akan jauh berbeda dari prediksi lembaga-lembaga survei yang kredibel dan berpengalaman. Dan, mari kita lihat apakah duet SBY-JK akan kembali terbentuk, dan kemudian memaksa munculnya duet Mega-Prabowo.[ez] (Bersambung)

* Edy Zaqeus adalah pendiri dan editor website motivasi www.andaluarbiasa.com dan www.bukukenangan.com, mantan wartawan, dan penulis delapan buku laris, di antaranya adalah Bob Sadino: Mereka Bilang Saya Gila! (2009) dan Resep Cespleng Menulis Buku Bestseller Edisi Revisi (2008). Edy Zaqeus adalah nama pena dari Sutopo Sasmito Edy, alumnus terbaik Jurusan Ilmu Pemerintahan, Fisipol, UGM, Yogyakarta, periode kelulusan Agustus 1997. Ikuti tulisan-tulisannya yang menarik di http://ezonwriting.wordpress.com.

Ctt: Baca juga analisis terkait sebelumnya: Ramai-ramai Menenggelamkan JK?, Antiklimaks Pencapresan JK, atau di Ezonwriting.

March 30, 2009

Naomi Susan: Ambisi Itu Penting, Seperti Mesin yang Harus Tetap Menyala

Naomi Susan

Naomi Susan

Namanya mudah diingat, Naomi Susan atau suka disingkat NS. Usianya, pada 15 Januari 2009 lalu, baru juga menginjak 34 tahun. Namun, investor sekaligus pemilik Ovis Group dan direktur pada tujuh perusahaan ini sudah menorehkan berbagai prestasi, yang mencatatkan namanya di jajaran para pengusaha muda paling sukses di negeri ini. Ia menguasai bisnis kartu diskon, merchant network berbasis Short Message Service (SMS), biro perjalanan dan penerbangan, properti, restoran dan kafe, hingga ke bisnis salon kecantikan.

Tak heran, bila kemudian media massa tampak memanjakan Naomi dengan publisitas yang melambungkan namanya, serta beragam apresiasi atas prestasinya. Tahun 2002, ia masuk dalam daftar 50 Tokoh Wanita Paling Berpengaruh di Indonesia versi majalah SWA. Tahun yang sama, masuk dalam deretan 18 Pengusaha Sukses di Bawah 35 tahun di Indonesia versi majalah Warta Ekonomi.

Lalu, pada tahun 2003, Naomi kembali masuk deretan 100 Tokoh Sukses Menurut Diagram Robert T. Kiyosaki versi SWA. Majalah DEWI juga memajang namanya ke dalam daftar 10 Wanita Sukses Profesi dan Prestasi. Berlanjut tahun 2004, kembali majalah Warta Ekonomi memasukkan namanya dalam daftar 20 Pengusaha Sukses di Bawah Usia 35 Tahun di Indonesia. Terus-menerus, Naomi mendapatkan aneka predikat penyandang prestasi dari majalah ekonomi bisnis; Srikandi Tangguh, Bukan Wanita Biasa, Entrepreneur Muda, Simbol Prestasi Disiplin 2005, dan sebagainya.

Muda, cantik, terpelajar, smart, energik, bergaya, dan sukses dalam bisnis, itulah gambaran sosok ideal seorang perempuan masa kini. Dan, itu semua dimiliki oleh Naomi, lulusan University of Portland, Oregon, USA, ini. Sukses Naomi menjadi semakin lengkap, setelah belum lama berselang ia menemukan pasangan hidupnya, seorang obstetrician bernama Yusfa Rasyid, seorang dokter spesialis Obgyn. “Saya kan senang dengan pria berseragam, tuh! Tetapi, seragam putih, tukas Naomi.

Akhir 2007, Naomi dibantu Agoeng Widyatmoko, seorang penulis buku wirausaha bestseller, merilis buku laris berjudul Be Negative (iNSpired Books). Buku yang sepintas menentang arus dan dikemas secara populer itu, ternyata penuh dengan gagasan-gagasan bernas nan unik a la Naomi Susan. Tak heran jika, selain menarik, buku yang sudah dicetak ulang tersebut juga mendapat pujian di mana-mana, termasuk dalam salah satu episode talkshow Kick Andy di Metro TV. Berikut petikan obrolan Edy Zaqeus dari AndaLuarBiasa.com dengan Naomi Susan mengenai Be Negative, yang berlangsung melalui medium Facebook:

Anda sangat sibuk dengan segala aktivitas bisnis. Bagaimana cara Anda mengatur waktu sampai bisa menulis buku Be Negative?

Sebenarnya, tidak ada waktu khusus untuk menulis ya. Semua hanya diambil dari ingatan saja. Karena, mayoritas isi buku tersebut adalah pengalaman sendiri maupun pengalaman teman-teman. Jadi, saya hanya merekam suara saya dengan menggunakan recording mobile, yang saya bawa ke mana saja. Pas teringat, saya rekam. Kemudian, ada teamwork saya yang mengetiknya. Yah, saya baca kemudian dipersingkat, dijadikan bahasanya sedikit lebih rapi, walaupun tatanannya tetap saja bukan dari seorang penulis hahaha.... Then, Mas Agoeng membantu mengompilasikan.

Naomi Susan: Gambaran ideal perempuan masa kini

Naomi Susan: Gambaran ideal perempuan masa kini

Buku perdana Anda itu langsung memancang label session 2. Apa maksudnya, atau ada apa di balik pengemasan seperti itu?

Tadinya sih saya pikir, saya mau mengisahkan perjalanan saya, yang mana saya ada di tengah-tengah. Sehingga, edisi ketiga merupakan pencapaian-pencapaian yang sudah saya ciptakan. Nah, baru yang kesatu, cerita negative saat awal-awal saya memulai berbisnis. Di samping itu, juga dari sisi marketing sendiri. Hal itu sangat membantu bagi pasar. Mereka membeli dan mencari yang awal atau menunggu yang akhirnya. Jadi, ide awal tersebut, tentunya dengan harapan yang optimis, buku diminati oleh pembaca.

Kapan Be Negative berlabel session 1 akan diluncurkan?

Sebenarnya kapan saja bisa diluncurkan hahaha.Semua materi, bahan, sangat banyak dan jelas. Tapi masih di kepala saya. Tinggal direkam saja. Sebenarnya, justru sesi tiga yang sudah selesai. Cuma masih belum sempurna. Saya sudah mencoba menyelesaikannya semua. Tetapi, tetap saja kan saya bukan penulis… Saya hanya ‘kambing percobaan’ hahahaha…. Yang siap cuap-cuap dengan gaya nyeleneh, yang bisa saya pergunakan dalam berbicara sesuatu yang berbau negative.

Buku Anda penuh dengan ide-ide yang tampak kontroversial. Sepertinya sungguh-sungguh mengajak orang supaya berpikir negatif, walau sejatinya tetap mendorong orang untuk berpikir positif, tapi melalui cara pandang yang berbeda. Ada strategi apa di balik ini semua?

Hmmmm…. Saya pribadi sudah cukup sesak dengan semua motivasi-motivasi untuk menjadi berhasil, menjadi positif, dll. Yang seperti itu, akhirnya malah membelenggu orang, jadi jenuh. Keberhasilan atau kesuksesan yang mereka raih itu adalah milik mereka. Sedangkan saya, saya memiliki kapasitas, kualitas, kekuatan, daya dan upaya yang berbeda dengan mereka. Istilahnya,Don’t push anybody to wear your dress! Nah, saya seperti berbicara kepada diri saya sendiri kok, saat menulis buku itu. Apa yang sama mau dengar dari seseorang, bukan lagi mendorong dan memotivasi dengan cara yang umum. Misalnya,Ayo, bangkitlah, kamu pasti bisa kok!Yang kayak begitu sudah tidak mempan buat saya hehehe.... Sudah kebal.

Maunya yang bagaimana?

Saya justru mau diperlakukan seperti Mike Tyson, pada saat dia jatuh di ring. Pelatihnya bukan memotivasi supaya bangkit, tapi justru memaki-maki. “Hey, kamu adalah niger, sampah masyarakat! Kalau kamu tidak mampu, jangan pernah bangkit, dan jangan memenangkan pertandingan. Karena kamu adalah anjing yang mengambil makanan dari tong sampah!” Then, what happen? Mike marah, bangkit dengan penuh kemarahan, memukul lawannya sampai KO, menang, deh hehehe.

Saya juga begitu. Saat orang bilang,Ah, you cant make it, you just a woman bla…bla...bla Then, saya sangat marah. Saya ambil semua strategi, dan lakukan sesuatu. Di Indonesia, sesuatu yang negative lebih bisa dijual daripada yang positive. Contohnya saja lagu-lagu yang populer, melejit di pasaran. Mayoritas kan yang negatif, misalnya Si Jablai, Kamu Ketahuan, SMS Siapa, dan lain-lain.

Coba jelaskan maksud dari rumusan di buku Anda, bahwa “Negative + Positive = Negative” dan “Negative + Negative = Positive”!

Gampang, kok! Misalnya, dari kata-kata saja sudah dapat merumuskannya. Misalnya,
ragu, malas, takut itu negatif. Kemudian, mencoba, memulai, bertindak itu positif. Kalau digabungkan menjadi sesuatu yang negatif. Ragu mencoba, malas memulai, takut bertindak…. Hal ini bisa dijabarkan dengan mental seseorang, digabung dengan kondisi dan keadaan, atau orang-orang di sekitarnya, yang memiliki macam-macam sosok. Ada yang negatif, ada juga yang positif.

Kebalikannya adalah, saya sendiri mengalami bagaimana mentalitas saya yang negatif. Karena, orang-orang di sekitar saya keadaannya juga semua serba negatif. Dan, kami terbiasa menggabungkannya. Misalnya, saat saya marah, kesal, tidak punya daya upaya, dikecilkan karena ketidakmampuan saya. Kata-kata seperti takut, gagal, malas, pesimis, marah, tidak mampu, dll semua negatif. Gabungkan saja, maka justru akan menjadi positif. Tapi harus dilakukan, bukan hanya dibaca hehehe

Sekarang ke soal bisnis dan gaya hidup. Anda dipandang sebagai salah satu pengusaha sukses yang mampu mengemas atau memasukkan unsur gaya hidup dalam bisnis Anda. Menurut Anda sendiri?

Sebenarnya sih, saya selalu mau mengemas bisnis saya supaya to make everybody happy”. Misalnya, waktu saya chartered pesawat memprakarsai liburan ke Bali dengan fasilitas maksimal, namun hanya dengan membayar minimal. Pastinya people will be happy with that. Dan, kerenanya, market menerima product atau services dari tiap bisnis saya dengan welcome. Salon misalnya. I want to make all women looks beautiful hehehe…. Jadi, buatkan beberapa paket kecantikan.

Poinnya adalah, saya mau being treated and being serve as I am the only one customer. Dan, hal tersebut saya terapkan di setiap bisnis saya. Bila kebetulan setiap bisnis saya terkesan memasukkan gaya hidup, mungkin lebih tepatnya adalah, saya selalu melihat peluangnya. Bila kuenya masih besar, saya akan ambil bagian.

Apa inovasi-inovasi terbaru yang telah, sedang, dan akan Anda luncurkan untuk mendorong perkembangan semua bisnis Anda ke depan?

At the end of the day, ya hanya ada tiga elemen penting supaya saya survive. Yaitu, pertama, database, connection, dan network. Kedua, branding position, image, atau reputation. Ketiga, advance in technology, follow the trend. Jadi, dari dulu sampai sekarang, untuk mempertahankan perkembangan bisnis, saya mengarah ke ketiga element tadi. Dan, mengarah ke masa depan yang jelas. Masa inovasi untuk menjadi yang pertama, terbaik, dan berbeda sudah bukan zamannya saya lagi hehehe.

Saya sudah pernah di sana. Sekarang justru oposite dari itu, menjadi yang kedua atau ketiga, atau sepuluh besar terbaiklah. Terus, tidak perlu yang berbeda. Saya happy sekarang, bila harus menjadi follower. Bukan the breakthrough. So, apa pun itu, yang dapat mendorong perkembangan semua bisnis saya adalah CRM. Maintain... maintain… maintain….

Bagaimana Anda memandang marketing communication sebagai bagian penting dalam sukses bisnis Anda?

Wooow! Marcomm bagi saya sih, senjata utama untuk membangun persepsi, citra, dan merek yang harus diedukasikan, disampaikan, dan dikomunikasikan kepada market. Dengan perkembangan teknologi saat ini, media komunikasi menjadi banyak pilihannya. Kalau dulu, kan kita berharap kepada iklan di televisi, media cetak, radio, pokoknya outdoor and indoor. Sekarang, sudah further, ya… Internet, SMS, video, call center, events, semua bisa dijadikan alternatif pola marcomm.

Hebatnya, dan yang saya suka, globalisasi telah membuka komunikasi tanpa batas, tanpa terhalang oleh geografis. Coba saja, komunikasi yang ditempatkan di YouTube, mampu menjangkau konsumen di semua negara. Marcomm diperlukan, bukan hanya untuk mendapatkan new customer, tetapi juga untuk maintaining the existing one.

Oh ya, marcomm bagi saya akan mengarahkan ke sebuah integrasi dan sinergi. Maka, saya harus bisa membuat satu ditambah satu menjadi sama dengan tiga atau empat. Bayangkan, kalau tidak ada sinergi, maka satu ditambah satu menjadi lebih kecil dari dua, atau bahkan lebih kecil dari satu.

Naomi Susan bersama Hermawan Kartajaya

Naomi Susan bersama Hermawan Kartajaya

Anda masih muda, tetapi sudah menangguk kesuksesan dalam kehidupan dan bisnis. Bagaimana Anda memandang nilai penting dari masa-masa produktif seseorang?

Pada dasarnya, masa produktif buat saya sih tidak terlekang masa. Walaupun nanti sudah tua, saya tetap mau produktif. Saya tidak mau membiarkan otak dan tubuh merasa tua. Umur dan kualitas pasti akan tersesuaikan. Namun, saya tidak mau menanamkan kesan tersrbut untuk menajadikan diri saya lemah. Ya, tidak bisa dinihilkan. Banyak yang beranggapan, memasuki usia lansia, let say 50 tahun, dianggap tidak lagi produktif. Karena, sudah sakit-sakitan, demensia alias pikun, depresi, dan penyakit-penyakit degeneratif lainnya. Saya enggak mau kayak begitu. Lihat saja Om Bob, beliau 75 tahun. Dan, bagi saya beliau sangat produktif sampai hari ini.

Makanya, mumpung saya masih muda hahaha.... Saya memiliki kebiasaan baik dalam menjaga kesehatan. Misalnya, banyak mengonsumsi makanan, sayuran, dan buah-buahan yang mengandung vitamin, kalsium, karbohidrat, dan lainnya. Dan rutin berolahraga. Juga banyak melakukan aktivitas olah pikir dan olah tubuh. Supaya apa? Nanti, masa tuanya tentu akan lebih baik, dan bisa tetap produktif, kan?

Bagaimana Anda memaknai peran ambisi dalam menggapai kesuksesan?

Ambisi, buat saya sangat penting. Seperti mesin yang harus tetap menyala untuk menghasilkan sesuatu. Sesuatu itu adalah mimpi-mimpi yang selalu mau saya capai. Itu untuk menambah semangat dalam mencapai tujuan hidup. Saya tidak mau kehilangan ambisi, karena jalan saya mencapai tujuan bisa tersendat-sendat. Tidak memiliki motivasi mencapai apa yang saya inginkan. Akhirnya, karena terlalu pelan, saya akan ter-ninabobo-kan dalam arus yang lamban.

Di buku Anda tertera pernyataan “Bunuhlah Kreativitas”. Bagaimana Anda menjelaskan pernyataan itu di tengah tren ekonomi kreatif, yang dipandang oleh sejumlah pakar menjadi kunci kemenangan dalam persaingan di masa krisis ini?

Hihihi… Ampuunnn, deh. Pengalaman pribadi, tuh! Banyak kreativitas yang jadi stock dan tidak terlaksana. Karena hanya ada ide dan cukup kreatif, tapi tidak executed. Jadi, saya tidak lagi menanggapi kreativitas tersebut, tapi menghilangkannya. Kembali ke rencana awal, merapikan satu per satu. Kemudian, beberapa tim yang menjadi ‘kerikil’ di sepatu saya, yang membuat saya sulit berjalan bahkan berlari, saya berikan kondisi terminasi. Poinnya, sih… banyak buanget orang briliant dengan banyaknya ide, kreativitas, inovasi, luar biasa banyaknya! Namun, hanya sedikit yang bisa menjadikannya nyata. So, better compete with the real creativities.

Naomi, Anda baru saja melepas masa lajang. Coba jelaskan, bagaimana Anda akan mempertahankan ide-ide gila seperti “Boroslah”, “Perbanyak Masalah”, “Berontaklah”, “Paranoidlah”, “Langgarlah Janji”, di hadapan pasangan Anda?

Hahaha…. Asli, lhopertanyaan ini membuat saya tertawa terbahak-bahak hahaha.Ini wawancara atau mau mengajak berantem, toh? Backfire-nya tajam amat… hahaha. Gini deh, yang saya alami saja saat ini, deh! Saya mau boros untuk membuat suasana rumah tidak membosankan. Saya membuat diri senyaman mungkin dengan membuat kantor pribadi di lantai dua. Beberapa gadget sudah saya incar untuk membuat mobilitas saya terpenuhi. Hmmm boros itu boleh, apalagi untuk me-maintain pasangan, agar tidak monoton, toh? Dinamis gitu, walaupun renovasi sana sini memang boros hahaha.

Kalau “Perbanyak Masalah!” …?

Tanpa mau memperbanyak masalah, tapi justru saya me-listed semua masalah yang ada, yang belum terjadi, yang sudah terlanjur, wuiihhh pokoknya buanyak masalah yang ter-provideI don’t want to create it nor make it gone, but I want to handle it and solve it also inticipate itMemang, agak berbenturan juga, sih. Tetapi, konteks yang diambil adalah mau saling mengenal dan mengantisipasi masalah apa pun. Membiasakan untuk berkomunikasi dengan terbuka, separah apa pun masalah tersebut hihihhi….

Kalau “Berontaklah!” …?

Saya jadi geli hahaha. Saya memang berontak waktu saya harus diubah menjadi sosok ‘orang lain’ hehehe Saya tetap mau berkarier, berbisnis, beredar. Tapi, beberapa hal bisa dinegosiasikan. Pemberontakkan terjadi apabila saya harus dijadikan sebagai pantulan symbol dari apa yang tidak saya miliki. Karena saya mau diterima apa adanya, bukan ada apanya… Thanks God… pasangan saya cukup liberal, domokratis gitu hehehe.Komunikasi adalah kunci yang paling baik. Tapi, ada banyak kesadaran, kok bahwa ternyata si NS itu bagus di bidang ini, tapi yang lain masih jauh dari kata baik hehehe….

Sekarang kalau menganjurkan supaya paranoid, maksudnya?

Saya paranoid untuk sesuatu yang tidak berjalan dengan baik. Apalagi pasangan saya cukup banyak penggemarnya hahaha…. Nah, untuk menjadikan diri saya sebagai wanita tepat yang telah dipilihnya, maka paranoid ya supaya bisa menjadi yang ‘tepat’ itulah. Itu yang memicu saya untuk mengoreksi, instrospeksi diri, menjadi ‘wanita’ yang tidak tomboy lagi. Memberi kenyamanan, bahwa pasangan saya adalah leader, walaupun saya cukup tegas di keseharian saya dalam memimpin bisnis.

Apalagi, pasangan saya ini dunianya kan perempuan hehehe…. Semuanya wanita cantik, pintar, sempurna sebagai wanita, naaaahhhh… paranoid dong hahaha.... Nanti pasangan saya diambil orang, piye?! hahaha…. Saya sendiri masih harus banyak belajar, bagaimana mengagumi dan menghargai betapa hebatnya pasangan saya, yang selama ini tdk pernah saya perhatikan detailnya. Karena memang saya memilih dia hanya sebagai sosok seorang ‘Yos’, si lelakiku hehehe…. bukan aksesorisnya dia siapa, apa, dan bagaimana….

Nah, kalau melanggar janji, bagaimana ini?

Nah, konteks…. Ini sebenarnya soal jangan obral janji bila tidak mampu menepati. Langgarlah bila mau dikategorikan sebagai OPUD. Dalam aplikasi ke pasangan saya, maka tidak ada yang banyak berubah di diri saya dalam hal ‘janji’. Saya jarang dan hampir tidak mau membuat janji. Cause, for me DO is better than PROMISSES. Untung pasangan saya tahu dari dulu, tuh.Makanya, if I already saidyes”, pasangan saya akan tenang. Karena saya sangat menjujung tinggi tiap kata dari mulut saya hehehe.

Naomi Susan: Penulis buku laris "Be Negative"

Naomi Susan: Penulis buku laris "Be Negative"

Ok, sebagai perempuan muda dengan beragam bisnis dan sukses yang sudah Anda raih, pada sisi mana Anda meletakkan posisi pasangan hidup Anda?

Pertanyaan tricky, ya…… Seperti quotes yang famous itu, lho! Don’t walk in front of me, I might not follow, don’t walk behind, I might left you, but please walk beside me… bla…bla… kalau tidak salah, ya kayak begitu bunyinya. Memang, tidak bisa totally seperti itu. Tetapi, saya juga agak perang batin, nih hahaha…. Tetap masih banyak belajar supaya bisa lebih baik dalam menempatkan posisi kepala rumah tangga, as a leader adalah pasangan saya, bukannya saya hahaha.So far so good… pasangan saya lumayan sabar.

Jadi, tidak ada semacam… yang satu memerintah yang lain?

Hubungan saya dengan pasangan bukanlah hubungan antara atasan dan bawahan. Tetapi, kami ingin menjadi pasangan yang saling melengkapi, seperti tangan kanan dan tangan kiri. Saya sangat menghargai pasangan saya. Oh ya, saya kan senang dengan pria berseragam, tuh! Tetapi, seragam putih, jadi saya sering bermimpi bisa menjadi istrinya seorang dokter, pilot, atau kapten kapal hahaha…. Kesamaannya, selain seragam, mereka cukup tough dalam menghadapi hidup. Tingkat adrenalin terhadap nyawa orang lain sangat erat. Sehingga, semoga tingkat kesadaran hidupnya akan lebih peka lagi.

Sebenarnya, apa yang Anda inginkan dari seorang pasangan?

Saya tidak ingin memiliki pasangan yang pintar, tetapi juga tidak yang tidak pintar. Saya berharap dapat pasangan yang sabar…. Dari dia itulah, saya mau punya ketenteraman batin. Mau hidup nyaman, mau di setiap gusar dan resah saya, ada yang bisa menjadi tempat menitipkan batin. Saya menginginkan deposito di surga. Dan, tangga menuju ke sana adalah jalan yang akan terpimpin dengan baik oleh pasangan saya. Jadi, jelas sudah bahwa posisi pasangan saya, adalah sebagai belahan dan ketenangan jiwa. Yang memiliki kepekaan terhadap kehidupan ini. Yang menjadi pemimpin dengan tujuan yang sama, yaitu menabung di surga hehehe….

Mimpi-mimpi yang sedang Anda kejar dalam 5-10 tahun ke depan?

Mimpi yang sangat dekat… Saya mau punya anak hehehe…. Yang lainnya sih, hanya menjaga kualitas dan stabilitas dalam mengikuti perkembangan teknologi. Mau menjadi bagian dalam perkembangan bisnis di Indonesia. Sama seperti sekarang, tidak berubah, lima tahun yang lalu dan lima tahun yang akan datang…. Naomi Susan seperti ini saja, kok! Berharap akan lebih baik, dan baik lagi dalam pencapaian-pencapaian berikutnya.

Terakhir, masih akan menulis buku lagi?

Mauuuuuuu…. Tapi, tetap tidak mau nulisnya hehehhe… Inspirasi dan dikompilasikan saja oleh teman-teman, yang mau membantu menjadikan buku tersebut layak dibaca.[ez]

Foto-foto: Dokumentasi pribadi Naomi Susan.

Artikel yang sama juga dimuat di www.andaluarbiasa.com.